MaiA ai-icon

Informasi

Surjan, Busana Tradisional Pria dari Yogyakarta

Image Contributor: Miku_photo/Shutterstock

Surjan adalah pakaian tradisional pria yang berkembang dalam budaya Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pakaian ini menjadi bagian dari identitas budaya Yogyakarta dan umumnya digunakan saat melaksanakan upacara adat. 

Surjan umumnya dibuat dari kain lurik dan memiliki karakteristik berupa kerah tegak, lengan panjang, serta deretan kancing pada bagian depan. Selain digunakan dalam lingkungan keraton dan kegiatan adat, surjan juga dikenakan dalam berbagai kegiatan budaya dan telah mengalami perkembangan desain untuk menyesuaikan penggunaannya pada masa kini.

Sejarah Surjan

Surjan berkembang dalam tradisi busana Jawa yang awalnya dirancang oleh Sunan Kalijaga. Nama surjan kerap dikaitkan dengan kata dalam bahasa Arab, yaitu “sirajan munira”, yang artinya pelita atau cahaya yang menerangi. Dalam pemaknaan bahasa Jawa, kata tersebut serupa dengan kata “pepadhang”, yaitu sesuatu yang memberikan penerangan dan “munira” yang berarti menyinari.

Dalam perkembangannya, surjan menjadi bagian dari busana tradisional Jawa dan memiliki keterkaitan dengan tata busana Keraton Yogyakarta. Surjan memiliki beberapa jenis, antara lain Surjan Lurik dan Surjan Ontrokusuma. Keduanya memiliki karakteristik bahan dan motif yang berbeda serta digunakan dalam konteks tertentu.

Pakaian ini dapat dijumpai dalam kegiatan adat, acara budaya, lingkungan keraton, hingga berbagai kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan pelestarian budaya Jawa.

Baca Juga: 8 Kuliner Kaki Lima Yogyakarta Terbaik yang Wajib Anda Coba

Ciri Khas Surjan

Surjan memiliki bentuk menyerupai kemeja berlengan panjang dengan kerah tegak. Bagian depan dilengkapi deretan kancing tertutup, sedangkan potongannya cenderung sederhana dan tidak banyak menggunakan ornamen.

Beberapa karakteristik yang umum ditemukan pada surjan meliputi:

  • Bagian leher depan: terdapat tiga pasang atau enam kancing yang tersusun vertikal.
  • Bagian dada hingga dekat perut: terdapat tiga kancing tambahan yang posisinya tersembunyi di balik bagian depan pakaian.
  • Bagian lengan: masing-masing lengan memiliki lima kancing pada bagian ujung atau sekitar pergelangan tangan.
  • Bahan dan motif: Surjan umumnya dibuat menggunakan kain lurik dengan motif lurik maupun bunga tergantung jenisnya.
  • Kerah tegak: bagian kerah menjadi salah satu elemen visual yang khas.
  • Potongan berlengan panjang: desainnya relatif tertutup dan rapi sesuai dengan karakter tata busana tradisional Jawa.

Penggunaan surjan biasanya dipadukan dengan kain jarik sebagai bawahan dan blangkon untuk bagian kepala.

Jenis-Jenis Surjan

Ada dua jenis surjan yang umumnya bisa Anda temui, yaitu:

1. Surjan Lurik

Surjan Lurik adalah jenis pakaian yang menggunakan kain lurik sebagai bahan utamanya. Lurik merupakan kain tradisional Jawa dengan motif garis-garis.

Dalam tradisi Jawa, ukuran garis-garis atau lurik melambangkan jabatan pemakainya. Semakin besar ukuran garis-garis tersebut, maka semakin besar pula jabatan pemakainya. Seiring perkembangannya, motif lurik juga berkembang menjadi kotak-kotak yang merupakan hasil kombinasi antara garis vertikal dan horizontal.

2. Surjan Ontrokusuma

Surjan Ontrokusuma merupakan jenis surjan dengan motif bunga. Jenis surjan ini dibuat dari kain sutra bermotif hiasan macam-macam bunga. Berbeda dengan surjan lurik, ontrokusuma biasanya dipakai oleh pejabat atau kalangan bangsawan keraton. 

Jadi, jenis, motif, dan penggunaannya tidak selalu dapat disamakan dengan surjan yang dikenakan masyarakat umum.

3. Surjan Motif Jaguad

Surjan motif Jaguad menggunakan kain dengan pola bunga yang cenderung lembut dan tidak terlalu tegas. 

Pilihan warnanya juga relatif kalem dan tidak mencolok, sehingga memiliki tampilan yang berbeda dari Surjan Ontrokusuma yang umumnya menampilkan motif lebih beragam dengan warna yang lebih tegas.

Baca Juga: Lagi di Yogyakarta? Borong Oleh-Oleh dari 7 Jenama Lokal Ini!

Makna dan Filosofi Surjan

Surjan tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan nilai dan simbol dalam budaya Jawa. Makna tersebut dapat terlihat dari bentuk pakaian, motif kain, warna, hingga detail kancing.

Filosofi Motif Lurik

Motif lurik berupa susunan garis yang teratur kerap dikaitkan dengan nilai kesederhanaan, keteguhan, dan keteraturan dalam tradisi Jawa. Beberapa motif lurik juga memiliki makna simbolis yang berbeda sesuai dengan nama dan pola yang digunakan.

Karena memiliki banyak variasi, makna lurik tidak dapat disamaratakan untuk seluruh motif. Filosofinya perlu dilihat berdasarkan jenis atau pola lurik yang digunakan.

Makna Warna Sogan

Warna sogan merupakan salah satu warna yang banyak ditemukan dalam tradisi busana dan kain Jawa. Warna cokelat atau cokelat keemasan ini berkaitan dengan tradisi pewarnaan kain Jawa dan dapat ditemukan pada berbagai jenis busana tradisional.

Makna Kancing Surjan

Dalam pemaknaan tradisional yang berkembang, setiap bagian Surjan memiliki filosofi tersendiri. Ada 6 kancing pada bagian leher dikaitkan dengan enam rukun iman dalam Islam, serta 2 kancing pada bagian dada dimaknai sebagai representasi dua kalimat syahadat. 

Sementara 3 kancing yang ditempatkan di bagian dalam dada dan tidak terlihat dari luar melambangkan tiga jenis nafsu manusia yang perlu dikendalikan, yaitu nafsu hewani, nafsu makan dan minum, serta nafsu setan. 

Namun, makna simbolis kancing dapat berbeda menurut sumber dan tradisi yang digunakan sebagai rujukan.

Penggunaan Surjan pada Masa Kini

Surjan masih digunakan dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan tradisi dan budaya Yogyakarta. Pakaian ini dapat dikenakan dalam kegiatan adat, acara tertentu di lingkungan keraton, upacara tradisional, pertunjukan seni, serta kegiatan kebudayaan.

Di lingkungan Keraton Yogyakarta, penggunaan surjan juga berkaitan dengan tata busana abdi dalem. Jenis pakaian, warna, dan kelengkapan busana dapat mengikuti ketentuan yang berlaku dalam lingkungan keraton.

Di luar lingkungan adat, surjan juga mengalami perkembangan sebagai pakaian yang dapat digunakan dalam kegiatan budaya maupun acara semi-formal. Sejumlah produsen dan perajin mengadaptasi bentuk surjan dengan bahan, potongan, dan motif yang lebih beragam, tetapi tetap mempertahankan ciri dasarnya.

Baca Juga: Batik Kawung, Motif Kuno Jawa yang Penuh Makna Filosofis

Surjan dalam Budaya Yogyakarta

Surjan merupakan bagian dari warisan tata busana tradisional Jawa yang masih digunakan dan dikenali di Yogyakarta. Keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan pakaian, tetapi juga dengan sistem nilai, tata krama, dan identitas budaya yang berkembang dalam masyarakat Jawa.

Penggunaan surjan dalam kegiatan budaya membantu mempertahankan pengetahuan mengenai bentuk, motif, tata cara penggunaan, serta konteks sosial dari busana tradisional tersebut. Perkembangannya pada masa kini menunjukkan bahwa busana tradisional dapat tetap digunakan dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat, selama karakter dan konteks budayanya tetap diperhatikan.

Masih ingin mengenal lebih banyak budaya dan tradisi Yogyakarta? Temukan berbagai destinasi dan warisan budaya Indonesia melalui fitur Rencanakan Perjalanan Anda di Indonesia Travel. Gunakan MaiA untuk menemukan rekomendasi destinasi dan aktivitas yang sesuai kebutuhan Anda.

 

Referensi

https://sibakuljogja.jogjaprov.go.id/blog/pasarkotagedeyia/surjan-satu-dari-beragam-baju-adat-jogja-yang-populer/

https://febi.uinsalatiga.ac.id/mengenal-surjan-baju-adat-yogyakarta-baju-takwa-dengan-kearifan-lokal/

https://jogjabudaya.jogjaprov.go.id/pencarian/hasil/35/257