MaiA ai-icon

Informasi

Upacara Petik Laut: Tradisi Masyarakat Pesisir Jawa Timur

Image contributor: Mang Kelin/Shutterstock

Upacara Petik Laut merupakan salah satu tradisi adat paling penting bagi masyarakat pesisir di Jawa Timur. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki laut yang melimpah sekaligus permohonan keselamatan para nelayan selama melaut. Rangkaiannya terdiri atas persiapan sesaji, kirab budaya, larung sesaji, hingga pesta rakyat.

Apa itu Upacara Petik Laut?

Upacara Petik Laut adalah ritual sedekah laut yang digelar masyarakat nelayan sebagai ungkapan syukur atas hasil tangkapan sepanjang tahun sekaligus doa keselamatan saat melaut. Ini kerap terjadi di pesisir Provinsi Jawa Timur yang menghadap Samudra Hindia khususnya di daerah seperti Banyuwangi, Jember, Situbondo, Malang Selatan, hingga Pacitan.

Di Jember, misalnya, tradisi ini dikenal sebagai Petik Laut Puger Kulon, digelar setiap bulan Muharram atau Suro dengan puncak berupa larung sesaji di tengah laut sebagai simbol harapan keselamatan dan keberkahan sepanjang tahun. Sementara di Banyuwangi, Petik Laut biasanya dilaksanakan pada 1 atau 15 Suro dan diwarnai doa bersama, pengajian, hingga pelarungan sesaji sebagai wujud penghormatan terhadap alam.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun dan tetap hidup sebagai identitas budaya masyarakat pesisir Jawa Timur. Petik Laut tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga menjadi festival budaya yang menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.

Makna dan Filosofi Upacara Petik Laut

Bagi masyarakat nelayan, laut adalah sumber kehidupan. Laut menyediakan ikan, menjadi jalur transportasi, dan memegang peranan penting dalam ekonomi pesisir. Karena itu, penghormatan kepada laut dilakukan melalui ritual Petik Laut sebagai simbol-simbol atas:

  • Rasa syukur atas rezeki
  • Harapan akan keselamatan
  • Doa agar terhindar dari badai dan bahaya
  • Permohonan agar hasil tangkapan semakin melimpah

Petik Laut juga mencerminkan harmoni antara manusia dan alam, sesuai falsafah budaya Jawa bahwa kehidupan harus selalu selaras dengan alam semesta. Di beberapa daerah, nilai spiritual ini kini berpadu dengan nuansa religius, misalnya lewat pembacaan doa dan ayat suci Al-Qur'an sebelum sesaji dilarung ke laut.

Rangkaian Prosesi Upacara

Tradisi Petik Laut memiliki rangkaian prosesi yang unik dan sakral. Walaupun tiap daerah memiliki variasi, beberapa tahapan umumnya meliputi di bawah ini. 

1. Persiapan Sesaji

Sebelum acara dimulai, masyarakat menyiapkan sesaji berupa, kepala sapi atau kambing (di beberapa daerah), tumpeng dan makanan tradisional, hingga bunga, kemenyan, dan kelengkapan ritual lainnya. Sesaji ini melambangkan ucapan terima kasih dan doa keselamatan.

2. Kirab Budaya

Prosesi dimulai dengan arak-arakan sesaji dari balai desa menuju pantai. Kirab ini biasanya diiringi seni tradisional seperti musik patrol, tari gandrung, atau kesenian jaranan atau reog. Kirab budaya menjadi daya tarik yang memperlihatkan kekayaan tradisi lokal.

3. Larung Sesaji ke Laut

Inilah puncak upacara Petik Laut. Sesaji diletakkan di perahu hias dan dibawa ke tengah laut untuk dilarung. Perahu utama biasanya diikuti puluhan perahu nelayan lainnya. Saat sesaji dilarung, doa bersama dipanjatkan untuk memohon keselamatan dan berkah.

4. Pesta Rakyat

Setelah prosesi larung selesai, masyarakat menikmati aneka hiburan rakyat seperti pasar kuliner, lomba perahu, pementasan seni tradisional, hingga musik dangdut atau campursari. Momen ini menjadi ajang kebersamaan seluruh warga desa.

Untuk memperoleh informasi mengenai destinasi budaya, transportasi, rekomendasi aktivitas, maupun tips perjalanan di Jawa Timur, MaiA siap membantu menjawab berbagai kebutuhan perjalanan Anda.

Petik Laut sebagai Daya Tarik Wisata Budaya

Saat ini, Petik Laut menjadi salah satu agenda wisata budaya yang dipromosikan pemerintah daerah. Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk menyaksikan prosesi ini, terutama di Banyuwangi yang mengemasnya sebagai bagian dari kalender wisata nasional.

Waktu penyelenggaraan Petik Laut umumnya mengikuti penanggalan Jawa, yakni sekitar 1 hingga 15 Suro atau bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Islam. Sebagai contoh, Petik Laut Lampon di Pesanggaran digelar tepat pada 1 Suro, sementara Petik Laut Muncar berlangsung pada 15 Suro dengan diikuti ratusan perahu hias. Karena tanggalnya mengikuti kalender Jawa, wisatawan disarankan mengecek jadwal resmi dari dinas pariwisata setempat menjelang bulan Suro setiap tahunnya.

Bagi wisatawan yang tertarik menyaksikan langsung, prosesi larung sesaji di pesisir seperti Pantai Cemoro Sewu, Pantai Lampon, dan pelabuhan Muncar bisa menjadi titik pengamatan terbaik karena berada di pusat kegiatan. Selain menyaksikan ritual, wisatawan juga dapat menikmati pesta rakyat, kuliner khas pesisir, dan pertunjukan seni tradisional yang biasanya digelar berdekatan dengan lokasi larung sesaji.

Upacara atau Pagelaran Populer Lain di Jawa Timur

Selain Petik Laut, Jawa Timur memiliki sejumlah upacara adat dan pagelaran budaya lain yang tak kalah populer dan layak disaksikan wisatawan.

1. Gandrung Sewu

Gandrung Sewu adalah pagelaran tari kolosal khas Banyuwangi yang telah digelar sejak 2012 di Pantai Boom, dengan latar Selat Bali. Festival ini melibatkan ribuan penari dan sarat filosofi tentang rasa syukur, ketekunan, serta harmoni manusia, alam, dan spiritualitas (Kemenpar). Acara ini rutin digelar setiap Oktober dan kini menjadi ikon pariwisata budaya Banyuwangi.

2. Yadnya Kasada

Yadnya Kasada adalah upacara persembahan masyarakat Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi. Suku Tengger tersebar di empat kabupaten sekitar Bromo, yaitu Pasuruan, Malang, Probolinggo, dan Lumajang. Dalam ritual ini, warga melemparkan hasil pertanian dan ternak ke kawah Bromo sebagai wujud persembahan.

3. Gerebeg Suro Ponorogo

Gerebeg Suro digelar di Ponorogo setiap 1 Muharram atau 1 Suro menurut kalender Jawa. Rangkaian acara dimulai dengan penyerahan pusaka, dilanjutkan arak-arakan warga menunggang kuda dan bendi hias, serta identik dengan kesenian Reog Ponorogo yang menjadi kebanggaan daerah ini.

4. Kebo-keboan

Kebo-keboan adalah tradisi masyarakat Suku Osing di Banyuwangi, digelar setiap awal bulan Suro sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Dalam ritual ini, warga merias diri menyerupai kerbau dan melakukan pertunjukan layaknya membajak sawah. Tradisi ini masih lestari di dua desa, yakni Aliyan dan Alasmalang.

Upacara Petik Laut menjadi simbol hidup masyarakat pesisir Jawa Timur, sebuah tradisi yang memadukan spiritualitas, budaya, dan penghormatan terhadap alam. Melalui ritual ini, masyarakat menegaskan bahwa laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga sahabat yang harus dijaga dan dihormati.

Apabila berencana mengunjungi Jawa Timur dalam waktu dekat, Rencanakan Perjalanan Anda di Indonesia.travel untuk menyusun itinerary yang dipersonalisasi berdasarkan durasi, minat, dan preferensi perjalanan.

 

Sumber: