MaiA ai-icon

Информация

Tari Campak Khas Kepulauan Bangka: Sejarah, Filosofi Gerakan, Pengiring, dan Cara Melestarikan Tari Campak

Tari Campak merupakan salah satu kesenian tradisional yang berkembang di Kepulauan Bangka Belitung. Tari ini dikenal sebagai kesenian yang menggambarkan keceriaan bujang dan dayang atau pergaulan muda-mudi masyarakat Bangka. Dalam penyajiannya, unsur tari, musik, nyanyian, dan pantun saling berkaitan.

Tari Campak juga menunjukkan adanya pertemuan budaya Melayu dengan pengaruh Eropa. Pengaruh tersebut antara lain terlihat pada penggunaan akordeon dan biola dalam musik pengiring serta perkembangan busana penari. Sementara itu, pantun, gendang, gong, dan pola pergaulan dalam pertunjukan tetap memperlihatkan unsur budaya Melayu Bangka.

Selain sebagai seni pertunjukan, Campak memiliki keterkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat. Pada masa sebelumnya, kesenian ini digunakan sebagai hiburan setelah panen padi atau ketika masyarakat pulang dari ume, yaitu kebun. Dalam perkembangannya, Tari Campak juga dipentaskan pada acara adat, penyambutan tamu, dan pesta pernikahan.

Sejarah Tari Campak

Sejarah Tari Campak memiliki beberapa versi dalam sumber kebudayaan dan penelitian. Salah satu keterangan yang banyak digunakan menyebutkan bahwa kesenian ini dibawa ke Bangka Belitung oleh seorang perempuan bernama Nek Campak yang berasal dari Riau. Penelitian mengenai Tari Campak di Sanggar Dharma Habangka, Bangka Selatan, menyebutkan bahwa Nek Campak membawa kesenian tersebut ke wilayah Bangka Belitung pada abad ke-18 melalui Pulau Seliu di Kabupaten Belitung. Dari nama tokoh tersebut kemudian muncul penyebutan Campak pada kesenian yang berkembang di wilayah tersebut.

Dalam perkembangannya di Bangka Belitung, Tari Campak mengalami proses akulturasi antara kebudayaan Melayu dan pengaruh Eropa. Penelitian akademik mencatat bahwa perkembangan Campak berkaitan dengan masa pendudukan Portugis di wilayah Bangka Belitung. Pengaruh tersebut kemudian terlihat dalam unsur musik dan busana pertunjukan.

Namun, unsur lokal tetap menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Pantun bersahut, penggunaan gendang dan gong, serta pola interaksi antara penari laki-laki dan perempuan memperlihatkan karakter budaya Melayu. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka juga menjelaskan bahwa bentuk becampak pada awalnya merupakan kegiatan bernyanyi dan berpantun yang diiringi musik. Dalam pertunjukan tersebut terdapat figur yang disebut “Nduk Campak” sebagai pemantun atau penari inti.

Fungsi kesenian ini kemudian berkembang dari hiburan yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat menjadi bagian dari berbagai acara sosial dan adat. Perubahan fungsi tersebut membuat bentuk Tari Campak yang dikenal saat ini memiliki variasi penyajian sesuai kebutuhan pertunjukan.

Filosofi dari Gerakan Tari Campak

Secara umum, gerakan Tari Campak menggambarkan keceriaan, pergaulan, dan interaksi antara bujang dan dayang. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka menyebutkan bahwa gerak tari Campak dibuat bervariasi dan menggambarkan kegembiraan serta keceriaan muda-mudi Bangka dalam pergaulan sehari-hari.

Penelitian terhadap Tari Campak di Sanggar Dharma Habangka mengidentifikasi sejumlah ragam gerak, antara lain Dincak Napak, Dincak Luncat, Dincak Serong Hamping, Zapin, Dincak Beradep, Dincak Dayung, Dincak Tepuk, Dincak Begandeng, Dincak Bepigang, Dincak Bepigang Maju, Kacep, Bepangkuk, dan Salam Dayang. Penelitian tersebut membagi struktur koreografinya ke dalam gerak pokok, gerak khusus, gerak peralihan, dan gerak unsur.

Dalam kajian tersebut, penyajian Tari Campak terdiri atas beberapa bagian. Salah satunya adalah bedincak, yaitu bagian ketika penari mengekspresikan kegembiraan melalui gerakan tari bersama. Bagian lainnya berkaitan dengan kebersamaan dan keharmonisan hubungan antara bujang dan dayang.

Properti seperti sapu tangan juga menjadi bagian dari identitas pertunjukan. Dalam konteks sosial budaya Melayu Bangka, penggunaan sapu tangan dapat menjadi media interaksi antarpasangan penari tanpa kontak langsung. Kajian mengenai masyarakat Melayu Bangka mencatat bahwa pola gerak maju-mundur dan perpindahan posisi pasangan menggambarkan interaksi sosial, sedangkan penggunaan sapu tangan menunjukkan nilai kesopanan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Dengan demikian, filosofi gerakan Tari Campak dapat dipahami melalui beberapa unsur utama, yaitu keceriaan, pergaulan, kebersamaan, keharmonisan, dan kesopanan. Makna tersebut tidak hanya disampaikan melalui gerakan tubuh, tetapi juga melalui pantun dan pola interaksi selama pertunjukan.

Musik Pengiring Tari Campak

Musik menjadi bagian penting dalam pertunjukan Tari Campak karena berfungsi mengiringi gerakan sekaligus mendukung penyampaian pantun. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka mencatat beberapa instrumen yang digunakan, yaitu akordeon, viul atau biola, gendang anak, gendang induk, gendang nek, tetawak atau gong, tamborin, dan instrumen pendukung lainnya.

Keberadaan akordeon dan biola menunjukkan pengaruh musik Eropa dalam perkembangan kesenian Campak. Di sisi lain, gendang dan gong merupakan bagian dari instrumen tradisional yang digunakan dalam kesenian lokal. Perpaduan tersebut menjadi salah satu karakteristik musik pengiring Tari Campak.

Kajian akademik mengenai musik pengiring kesenian Campak di Pangkalpinang menunjukkan bahwa musik yang digunakan memiliki karakter musik Melayu. Struktur musiknya menggunakan bentuk satu bagian dengan pengulangan yang menjadi salah satu cirinya. Penelitian tersebut juga menjelaskan adanya keterkaitan antara musik dan pantun dalam pertunjukan.

Dalam penyajiannya, permainan musik dapat dimulai secara bersama-sama menggunakan instrumen pengiring. Setelah itu, pemantun mulai menyampaikan pantun. Akordeon dapat memberikan filler pada pergantian bait pantun sehingga membantu memberikan tanda perubahan dalam penyajian.

Pantun sendiri menjadi unsur penting karena pertunjukan Campak tidak hanya mengandalkan koreografi. Interaksi melalui pantun membuat kesenian ini memiliki fungsi komunikasi sekaligus hiburan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka menjelaskan bahwa dalam bentuk becampak, penonton yang ingin ikut serta dapat membalas pantun yang disampaikan oleh Nduk Campak.

Cara Melestarikan Tari Campak

Pelestarian Tari Campak membutuhkan keterlibatan pelaku budaya, lembaga pendidikan, pemerintah daerah, komunitas seni, dan masyarakat. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui beberapa langkah.

Pertama, mengajarkan Tari Campak kepada generasi muda melalui sanggar, sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan program kebudayaan. Kegiatan pembelajaran tidak hanya perlu mengajarkan gerakan, tetapi juga pantun, musik pengiring, sejarah, serta konteks sosial budayanya.

Kedua, mendokumentasikan bentuk pertunjukan. Dokumentasi berupa video, foto, catatan koreografi, notasi musik, dan wawancara dengan pelaku budaya dapat menjadi arsip yang membantu menjaga pengetahuan mengenai Tari Campak.

Ketiga, mempertahankan unsur budaya utama ketika melakukan pengembangan pertunjukan. Kreativitas dalam koreografi dan tata panggung dapat dilakukan, tetapi unsur penting seperti pantun, karakter gerak, musik, properti, dan nilai kesopanan perlu tetap dipahami sebagai bagian dari identitas kesenian.

Keempat, memperluas ruang pertunjukan melalui kegiatan kebudayaan dan agenda daerah. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri mencantumkan Tari Campak sebagai bagian dari seni tari tradisional yang dapat dikembangkan dalam interpretasi wisata budaya.

Pelestarian juga dapat dilakukan melalui pengenalan budaya dalam skala besar. Pada 2019, sebanyak 1.854 pelajar SMA/SMK/SLB se-Bangka Belitung mengikuti pagelaran Tari Campak kolosal yang kemudian tercatat sebagai rekor MURI. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pelajar dapat dilibatkan secara langsung dalam proses pewarisan kesenian daerah.

Dari sisi pengakuan budaya, pemerintah juga telah menetapkan Campak Dalung sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada 2014 dalam domain seni pertunjukan. Data tersebut tercatat dalam basis data resmi kebudayaan Kemendikbud.

Pelestarian Tari Campak pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan sebuah tarian, tetapi juga menjaga pengetahuan mengenai pantun, musik, koreografi, tata pergaulan, dan sejarah budaya masyarakat Bangka Belitung. Pewarisan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membantu memastikan kesenian tersebut tetap dikenal dan dipraktikkan oleh generasi berikutnya.

Rencanakan perjalanan sekaligus kenali kekayaan budaya Indonesia melalui fitur AI Plan Your Trip dan MaiA di situs resmi Indonesia Travel. Kedua fitur tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari proses mencari informasi dan menyusun rencana perjalanan sesuai kebutuhan.

 

Referensi: 

INSIGHT

Travel Ideas

Топ-9 уникальных мест для отдыха на острове Белитунг

Топ-9 уникальных мест для отдыха на острове Белитунг

Spectacular Lake Toba Carnival 2016: Don't Miss This Rare Celebration!

Spectacular Lake Toba Carnival 2016: Don't Miss This Rare Celebration!

6 Instagrammable Landmarks in Medan

6 Instagrammable Landmarks in Medan