MaiA ai-icon

Information

Aliyawo

Aliyawo adalah istilah yang merujuk pada tradisi mengiringi pengantin perempuan menuju rumah mempelai laki-laki dalam upacara perkawinan adat masyarakat Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Prosesi ini berlangsung dengan iringan nyanyian khas dan tabuhan gendang, serta melibatkan partisipasi warga sekitar sebagai bentuk dukungan sosial terhadap keluarga pengantin.

Deskripsi dan Daya Tarik

Definisi dan Prosesi

Secara harfiah, Aliyawo digambarkan sebagai prosesi pengantaran pengantin wanita dari kediamannya menuju rumah pengantin pria. Prosesi ini merupakan salah satu tahapan dalam rangkaian upacara perkawinan adat Buton yang lebih besar, yang secara tradisional dikenal dengan sebutan pobaisa.

Berdasarkan kajian akademik mengenai tradisi perkawinan adat Buton, rangkaian pobaisa terdiri atas beberapa tahapan berurutan, meliputi lukuti (penjajakan atau taaruf), pesoloi (penyampaian keinginan untuk mengenal lebih jauh), losa (lamaran), tauraka (pertunangan), kawia (akad nikah), karia (walimatul ursy atau pesta pernikahan), jagani (masa bimbingan dan penantian), pobongkasia (persetubuhan pertama), dingkana umane (penyatuan barang-barang rumah tangga), hingga landakiana banua (kunjungan mempererat hubungan kekeluargaan).

Prosesi pengantaran pengantin, sebagaimana yang digambarkan dalam Aliyawo, merupakan bagian dari tahapan yang berkaitan dengan perpindahan pengantin wanita menuju kediaman baru bersama suaminya.

Peran Musik dan Nyanyian Pengiring

Salah satu unsur yang menonjol dalam prosesi Aliyawo adalah kehadiran nyanyian dan tabuhan gendang yang mengiringi perjalanan pengantin. Dalam konteks budaya Buton secara umum, tradisi menyanyikan syair atau pantun pada berbagai upacara adat dikenal luas melalui bentuk sastra lisan yang disebut kabhanti atau kabanti, yakni syair berbahasa Wolio yang sejak masa Kesultanan Buton ditulis dalam aksara Arab, Arab-Melayu, dan aksara Wolio (Buri Wolio).

Selain nyanyian, penggunaan gendang sebagai instrumen pengiring juga lazim ditemukan pada berbagai upacara adat Buton lainnya, termasuk tarian tradisional seperti Mangaru yang turut menggunakan tabuhan gendang sebagai pengiring gerakan.

Partisipasi Komunitas dan Fungsi Sosial

Prosesi Aliyawo melibatkan keikutsertaan warga di sekitar lingkungan pengantin, yang turut serta dalam iring-iringan sebagai bentuk dukungan sosial kepada keluarga yang menyelenggarakan pernikahan. Pola keterlibatan komunitas semacam ini sejalan dengan karakter umum upacara adat masyarakat Buton, yang lazimnya melibatkan gotong royong warga, baik dalam persiapan, pelaksanaan, maupun rangkaian acara adat lainnya, seperti yang juga tampak pada tradisi Pakande-Kandea (tradisi makan bersama) yang berkembang di kalangan masyarakat Buton di Kota Baubau.

Lokasi

Tradisi Aliyawo dipraktikkan oleh masyarakat Buton yang mendiami Pulau Buton dan kepulauan sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Secara historis, wilayah ini merupakan pusat Kesultanan Buton, kerajaan yang menurut catatan sejarah telah berdiri sejak tahun 1332, dan menjadi bagian resmi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1960, saat wilayah kesultanan diintegrasikan menjadi Kabupaten Buton dan Kabupaten Muna.

Pusat pemerintahan dan kebudayaan Kesultanan Buton berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Kota Baubau, tempat bahasa dan budaya Wolio berkembang sebagai bahasa istana, serta bahasa perdagangan pada masanya. Wilayah administratif yang kini menaungi masyarakat Buton meliputi Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Selatan, Kabupaten Buton Tengah, dan Kabupaten Buton Utara, yang seluruhnya berada di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Secara kependudukan, kelompok etnis yang secara kolektif disebut sebagai masyarakat Buton (Butonese) tercatat berjumlah sekitar 233.000 jiwa, dengan wilayah persebaran utama meliputi Kepulauan Tukangbesi dan daratan Sulawesi Tenggara, serta sebagian bermukim di Maluku, Papua Barat, hingga ke Sabah, Malaysia, sebagai bagian dari sejarah migrasi dan perantauan masyarakat Buton yang dikenal sebagai pelaut dan pedagang. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Buton tergolong ke dalam rumpun bahasa Muna-Buton, meliputi bahasa Wolio, Cia-Cia, Lasalimu, dan Kumbewaha, dengan mayoritas penduduknya menganut agama Islam.

Makna dan Filosofi

Budaya dan Kepercayaan

Aliyawo dimaknai bukan sekadar rangkaian teknis pernikahan, melainkan juga simbol ikatan sosial dan budaya antara keluarga pengantin dan masyarakat sekitarnya. Nilai kebersamaan semacam ini sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Buton yang dikenal dengan istilah Pobhinci-bhinciki Kuli, yang secara harfiah berarti "saling mencubit", yakni nilai untuk saling merasakan penderitaan maupun kebahagiaan sesama anggota masyarakat.

Nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas sosial ini juga tecermin dalam berbagai upacara adat siklus hidup masyarakat Buton lainnya, termasuk upacara posuo, yakni ritual peralihan usia remaja perempuan menuju kedewasaan yang turut berfungsi memperkuat hubungan solidaritas antarwarga.

Struktur sosial masyarakat Buton pada masa lampau juga turut memengaruhi pelaksanaan upacara adat, termasuk perkawinan. Masyarakat Buton secara tradisional terbagi ke dalam golongan sosial, yaitu Kaomu (golongan bangsawan), Walaka (golongan pejabat kerajaan), dan Papara (golongan masyarakat biasa), yang pada masa lalu turut menentukan tata cara dan kelengkapan tertentu dalam prosesi perkawinan adat.

Seni dan Kerajinan

Dari sisi kesenian, prosesi perkawinan adat Buton, termasuk unsur pengiring seperti Aliyawo, berkaitan erat dengan busana adat pengantin yang sarat makna simbolis. Busana pengantin perempuan Buton, misalnya, meliputi baju kombo yang melambangkan kesucian dan kepolosan serta harapan baik bagi perempuan Buton, dan kain sarung yang disebut bia ogena atau lonjo.

Rangkaian warna pada kain lonjo dimaknai sebagai representasi tiga golongan sosial masyarakat Buton (Kaomu, Walaka, dan Papara), sekaligus melambangkan tiga jenis hubungan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antarsesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Adapun busana pengantin pria dilengkapi dengan atasan babu kandiu berhiaskan detail emas, celana saluaro ala, ikat pinggang logam sulepe, penutup kepala pabele, serta leko atau keris yang diselipkan di pinggang sebagai simbol perlindungan.

Selain busana, tradisi sastra lisan kabhanti turut menjadi wujud kesenian khas Buton yang sering hadir dalam berbagai upacara adat, termasuk pernikahan. Syair-syair dalam kabhanti umumnya memuat nasihat, ajaran keagamaan, maupun nilai-nilai tasawuf yang disampaikan turun-temurun melalui tradisi lisan maupun naskah tertulis beraksara Wolio.

Pelestarian dan Perkembangan Terkini

Upacara adat perkawinan Buton secara keseluruhan, termasuk unsur-unsur di dalamnya seperti prosesi pengantaran pengantin, hingga kini masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Buton, meskipun sejumlah kajian mencatat adanya penyederhanaan pada beberapa tahapan adat akibat perubahan gaya hidup dan tuntutan praktis masyarakat modern.

Tradisi Aliyawo merupakan salah satu warisan budaya yang memperlihatkan kekayaan adat dan kehidupan masyarakat di Buton. Jika ingin mengenal lebih jauh berbagai tradisi Buton sekaligus menjelajahi destinasi budayanya, manfaatkan AI Plan Your Trip untuk menyusun itinerary berdasarkan durasi dan preferensi Anda. Informasi mengenai destinasi, akses, waktu terbaik berkunjung, serta berbagai atraksi budaya di Buton juga dapat ditanyakan melalui Maia, sehingga perjalanan untuk mengenal kekayaan budaya Buton dapat direncanakan dengan lebih mudah.

Baca juga: Keindahan Baju Adat Buton dan Filosofi di Balik Setiap Busananya


Referensi:

INSIGHT

Travel Ideas

Radakng Traditioneel Huis

Radakng Traditioneel Huis