MaiA ai-icon

Informasi

10 Minuman Khas Indonesia: Asal, Bahan, dan Makna Budayanya

Image Contributor: Shutterstock/DANIEL SUPRIYONO

Minuman khas Indonesia berkembang dari penggunaan rempah, tanaman herbal, gula aren, santan, teh, dan bahan pangan lokal. Sebagian berfungsi sebagai minuman sehari-hari, sementara lainnya berkaitan dengan tradisi keluarga, kegiatan sosial, atau pengetahuan pengobatan tradisional.

Karakter setiap minuman berbeda menurut daerah dan resep pembuatnya. Jahe banyak digunakan untuk menghasilkan sensasi hangat, sedangkan secang, santan, telur, dan berbagai rempah membentuk warna, aroma, serta tekstur yang khas.

10 Minuman Khas Indonesia dari Berbagai Daerah

Berikut beberapa minuman tradisional yang merepresentasikan keragaman bahan dan budaya kuliner Indonesia:

1. Jamu, Jawa dan Berbagai Daerah di Indonesia

Jamu merupakan tradisi ramuan berbahan tumbuhan dan rempah yang telah dipraktikkan di Indonesia selama berabad-abad. Bahan yang digunakan berbeda menurut jenisnya, antara lain kunyit, asam, temulawak, jahe, kencur, dan berbagai tanaman obat.

UNESCO memasukkan Jamu Wellness Culture ke Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2023. UNESCO mencatat bahwa pengetahuan jamu diwariskan melalui keluarga dan komunitas serta berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan dan hubungan sosial.

2. Bir Pletok, Jakarta

Bir pletok merupakan minuman tradisional Betawi yang tidak mengandung alkohol. Racikannya umumnya menggunakan jahe, serai, secang, kayu manis, cengkih, kapulaga, pala, pandan, dan gula.

Bir pletok telah ditetapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai salah satu Ikon Budaya Betawi. Warna merahnya berasal dari kayu secang, sementara asal nama “pletok” memiliki beberapa versi dalam tradisi masyarakat dan belum dapat dipastikan secara tunggal.

3. Teh Talua, Sumatra Barat

Teh talua merupakan minuman Minangkabau yang dibuat dengan mengocok kuning telur bersama gula, kemudian mencampurnya dengan teh panas. Beberapa resep menggunakan susu kental manis dan jeruk nipis.

Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mencatat teh talua sebagai salah satu kuliner daerah yang banyak ditemukan di kedai-kedai Sumatra Barat. Minuman ini secara tradisional dikenal terutama dalam budaya lapau atau kedai masyarakat Minangkabau.

4. Wedang Uwuh, Yogyakarta

Wedang uwuh berasal dari kawasan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahan yang lazim digunakan mencakup jahe, secang, cengkih, daun pala, kayu manis, dan gula.

Nama uwuh berarti sampah dalam bahasa Jawa, merujuk pada tampilan campuran daun dan rempah setelah diseduh. Wedang Uwuh ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari DIY pada 2017.

Baca Juga: 12 Makanan Khas Batam Paling Ikonik yang Wajib Dicoba!

5. Bajigur, Jawa Barat

Bajigur merupakan minuman tradisional masyarakat Sunda. Bahan dasarnya adalah santan dan gula aren, dengan tambahan seperti jahe, garam, serta vanili menurut resep yang digunakan.

Secara tradisional, bajigur dijual menggunakan gerobak dan disajikan hangat bersama makanan seperti ubi, pisang, atau kacang rebus. Kebiasaan tersebut menjadikan bajigur bagian dari budaya kuliner jalanan Jawa Barat.

6. Sarabba, Sulawesi Selatan

Sarabba merupakan minuman tradisional Sulawesi Selatan, khususnya dikenal di Makassar. Racikan dasarnya terdiri atas jahe, gula aren, santan, dan rempah seperti merica; sejumlah resep juga menggunakan kuning telur.

Badan Pelestarian Kebudayaan mencatat sarabba sebagai bagian dari kekayaan kuliner berbasis rempah Sulawesi Selatan. Minuman ini lazim disajikan hangat, terutama pada malam hari.

7. Sekoteng, Beberapa Daerah di Pulau Jawa

Sekoteng merupakan minuman berbasis air jahe yang disajikan bersama berbagai isian. Komposisinya dapat mencakup kacang hijau atau kacang tanah, pacar cina, potongan roti, dan bahan tambahan lainnya.

Variasinya berkembang di sejumlah daerah di Jawa. Pemerintah juga mencatat keberadaan sekoteng dalam tradisi kuliner lokal, termasuk varian yang berkembang di Sukabumi.

8. STMJ, Jawa Timur

STMJ merupakan singkatan dari susu, telur, madu, dan jahe. Minuman ini berkembang sebagai salah satu racikan yang umum ditemukan di warung malam, terutama di Jawa Timur.

Bahan-bahan dicampurkan ke dalam minuman hangat sehingga menghasilkan tekstur relatif kental. Karena resep tradisional dapat menggunakan telur mentah atau setengah matang, aspek keamanan pangan perlu diperhatikan dalam penyajiannya.

9. Wedang Ronde, Jawa Tengah dan Yogyakarta

Wedang ronde terdiri atas kuah jahe manis dan bola-bola tepung ketan, biasanya berisi kacang tumbuk. Pelengkap lain dapat berupa kolang-kaling dan kacang.

Dinas Pariwisata Jawa Tengah mendokumentasikan wedang ronde sebagai bagian dari kuliner daerah, termasuk di Salatiga dan Surakarta. Bentuknya juga menunjukkan perkembangan kuliner berbahan ketan dan jahe dalam masyarakat Jawa.

10. Bandrek, Jawa Barat

Bandrek merupakan minuman tradisional Sunda dengan jahe sebagai bahan utama. Gula aren, serai, kayu manis, pandan, dan cengkih dapat ditambahkan sesuai variasi resep.

Bandrek umumnya disajikan dalam keadaan hangat dan memiliki karakter rasa pedas dari jahe. Saat ini, minuman tersebut juga tersedia dalam bentuk serbuk instan sebagai pengembangan dari penyajian tradisional.

Makna Budaya Minuman Tradisional Indonesia

Minuman tradisional menunjukkan hubungan antara kuliner dengan lingkungan setempat. Jahe, kunyit, secang, kelapa, aren, dan berbagai rempah merupakan bahan yang telah lama digunakan dalam pangan dan pengetahuan tradisional masyarakat Indonesia.

Beberapa tradisi memiliki nilai budaya yang diakui secara resmi. Jamu telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, sedangkan Wedang Uwuh ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Bir pletok juga menjadi salah satu ikon budaya Betawi yang ditetapkan pemerintah Jakarta.

Baca Juga: 8 Kuliner Kaki Lima Yogyakarta Terbaik yang Wajib Anda Coba

Apakah Minuman Tradisional Indonesia Menyehatkan?

Tidak semua minuman tradisional dapat langsung dikategorikan sebagai minuman sehat. Kandungan dan efeknya bergantung pada bahan, jumlah gula, santan, telur, porsi, serta kondisi kesehatan orang yang mengonsumsinya.

Untuk produk jamu dan obat bahan alam, BPOM mengatur bahwa klaim manfaat harus objektif, tidak menyesatkan, dan didukung tingkat pembuktian yang sesuai. Klaim tradisional juga berbeda dari khasiat yang telah dibuktikan melalui uji praklinik atau klinik.

Perhatian khusus diperlukan untuk minuman yang menggunakan telur mentah, seperti beberapa resep teh talua, sarabba, atau STMJ. Kementerian Kesehatan mencatat telur mentah atau setengah matang sebagai salah satu sumber risiko infeksi Salmonella.

Untuk jamu kemasan, konsumen juga disarankan memilih produk berizin edar karena BPOM pada 2026 masih menemukan sejumlah obat bahan alam ilegal yang mengandung bahan kimia obat, sehingga label dan legalitas produk perlu diperiksa sebelum dikonsumsi.

Susun perjalanan untuk mengenal berbagai minuman khas Indonesia menggunakan AI Plan Your Trip di Indonesia.travel agar itinerary dapat disesuaikan dengan destinasi dan minat kuliner Anda.

Untuk mengetahui lokasi pasar tradisional, sentra kuliner, rekomendasi minuman khas, atau informasi perjalanan di daerah tujuan, gunakan MaiA sebagai sumber informasi sebelum menjelajahi kuliner Nusantara.

 

Referensi:

INSIGHT

Ide Perjalanan

Sehat dan Hemat Rekreasi di Ruang Terbuka Hijau di Jakarta

Sehat dan Hemat Rekreasi di Ruang Terbuka Hijau di Jakarta