Image Contributor:
Masjid Raya Baiturrahman merupakan masjid bersejarah yang terletak di pusat Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat ibadah, pusat kegiatan keagamaan, situs sejarah, serta salah satu penanda utama identitas kota.
Pemerintah Aceh juga menempatkan masjid ini sebagai bagian penting dari wisata religi dan warisan budaya daerah.
Masjid Raya Baiturrahman dikenal melalui kubah berwarna hitam, fasad putih, menara, serta pelataran luas dengan payung elektrik. Bentuk arsitekturnya merupakan hasil perubahan yang berlangsung sejak era Kesultanan Aceh, masa kolonial, hingga pembangunan dan renovasi modern.
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman
Sejarah awal Masjid Raya Baiturrahman memiliki beberapa versi. Tradisi yang banyak digunakan mengaitkan pembangunannya dengan Sultan Iskandar Muda pada sekitar 1612.
Sumber lain menyebut bangunan masjid telah ada sebelum masa tersebut, bahkan sejumlah dokumentasi pemerintah menghubungkannya dengan masa Sultan Alauddin Mahmud Syah. Karena itu, tahun pendirian awal tidak dapat dinyatakan sebagai satu fakta tunggal tanpa catatan.
Pada masa Kesultanan Aceh, kawasan masjid berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan. Pemerintah Kota Banda Aceh mencatat bahwa Masjid Raya Baiturrahman juga memiliki peran penting dalam perkembangan pembelajaran Islam di Aceh.
1. Pembakaran pada Perang Aceh
Pada 1873, Masjid Raya Baiturrahman terbakar ketika pasukan kolonial Hindia Belanda menyerang Aceh. Bangunan tersebut pada saat itu juga digunakan sebagai bagian dari pertahanan masyarakat Aceh dalam menghadapi serangan.
Pemerintah kolonial kemudian memutuskan membangun kembali masjid. Peletakan batu pertama dilakukan pada 9 Oktober 1879, sedangkan pembangunan selesai pada 27 Desember 1881. Bangunan hasil rekonstruksi inilah yang menjadi dasar bentuk arsitektur Masjid Raya Baiturrahman yang berkembang hingga sekarang.
2. Masjid Raya Baiturrahman dan Tsunami 2004
Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 menghancurkan sebagian besar wilayah Banda Aceh. Masjid Raya Baiturrahman termasuk salah satu bangunan besar di pusat kota yang tetap berdiri setelah bencana tersebut.
Peristiwa itu membuat masjid kemudian dipahami sebagai simbol ketahanan masyarakat Aceh. Dalam konteks sejarah, narasi tersebut berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk bangkit setelah bencana, bukan klaim ilmiah mengenai alasan khusus mengapa struktur masjid dapat bertahan.
Masjid juga terus digunakan sebagai lokasi kegiatan peringatan tsunami. Pemerintah Aceh, misalnya, menggunakan halaman Masjid Raya Baiturrahman untuk kegiatan refleksi dan doa memperingati 20 tahun tsunami pada Desember 2024.
3. Perluasan dan Renovasi
Masjid mengalami beberapa tahap perluasan pada abad ke-20. Penambahan kubah, ruang salat, dan fasilitas dilakukan secara bertahap agar dapat menampung kebutuhan jemaah yang semakin besar.
Pada 2015–2017, Pemerintah Aceh melakukan pengembangan kawasan dan lanskap masjid. Salah satu hasilnya adalah pemasangan 12 payung elektrik di pelataran yang mengadaptasi konsep payung Masjid Nabawi di Madinah.
Baca Juga: 10 Hal Seru yang Bisa Dilakukan di Aceh: Wisata & Budaya
Arsitektur dan Daya Tarik Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman memiliki arsitektur hasil perpaduan gaya Indo-Islam yang menjadi ikon Kota Banda Aceh. Keindahan bangunannya menjadikannya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga daya tarik wisata religi yang terkenal di Indonesia.
1. Kubah dan Fasad
Arsitektur Masjid Raya Baiturrahman yang terlihat saat ini berbeda dari bentuk masjid tradisional Aceh awal yang menggunakan atap bertingkat. Rekonstruksi masa kolonial memperkenalkan bentuk kubah dan elemen Indo-Persia yang mendapat pengaruh arsitektur India dan Persia.
Fasad putih, kubah hitam, lengkungan, menara, serta ornamen geometris dan kaligrafi menjadi karakter visual utama bangunan. Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan arsitektur masjid di Aceh menuju bentuk yang lebih monumental.
2. Payung Elektrik dan Pelataran
Dua belas payung elektrik ditempatkan di halaman masjid sebagai bagian dari proyek pengembangan lanskap. Selain memiliki fungsi visual, payung digunakan untuk memberikan keteduhan kepada jemaah yang berada di pelataran.
Pemerintah Aceh masih melakukan pemeliharaan fasilitas tersebut. Pada 2024, rehabilitasi payung dan lantai kawasan Masjid Raya Baiturrahman dilakukan sebagai bagian dari perawatan fasilitas publik.
Lokasi Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman beralamat di Jalan Muhammad Jam No. 1, Gampong Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh.
Posisinya berada di pusat kota dan berdekatan dengan berbagai kawasan bersejarah dan fasilitas publik. Museum Tsunami Aceh, misalnya, dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar 10–15 menit dari kawasan masjid.
Dari Bandara Sultan Iskandar Muda, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan taksi, transportasi daring, kendaraan sewa, atau kendaraan pribadi. Waktu tempuh bergantung pada kondisi lalu lintas sehingga estimasi navigasi aktual lebih tepat digunakan daripada angka waktu tetap.
Makna dan Filosofi Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menyimpan makna historis dan simbolis yang kuat bagi masyarakat Aceh.
1. Simbol Keislaman dan Identitas Aceh
Masjid Raya Baiturrahman memiliki kedudukan penting dalam sejarah keagamaan masyarakat Aceh. Selain sebagai masjid raya, bangunan ini menjadi simbol perkembangan Islam, pusat pendidikan, dan ruang sosial masyarakat sejak masa kesultanan.
Keterkaitannya dengan sejarah peperangan, pembangunan kembali, dan bencana membuat masjid juga berfungsi sebagai simbol ketahanan serta ingatan kolektif masyarakat Aceh.
2. Perpaduan Sejarah dan Arsitektur
Perubahan bentuk dari arsitektur tradisional Aceh menuju struktur berkubah menunjukkan bahwa masjid tidak mewakili satu periode budaya saja. Bangunan ini merekam lapisan sejarah Kesultanan Aceh, kolonialisme, pembangunan nasional, dan renovasi modern.
Karena itu, nilai Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya terletak pada estetika bangunan, tetapi juga pada kontinuitas fungsi keagamaan dan sosialnya.
Baca Juga: Pulau Rubiah, Surga Snorkeling di Sabang, Aceh
Etika Berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman
Pengunjung perlu mengenakan pakaian sopan, menjaga ketenangan, serta mengikuti aturan pengelola. Area salat harus diprioritaskan untuk kegiatan ibadah dan pengunjung tidak disarankan mengambil foto secara berlebihan ketika jemaah sedang melaksanakan salat.
Pengunjung juga perlu mengikuti ketentuan syariat Islam yang berlaku di Aceh dan menghormati kegiatan keagamaan yang sedang berlangsung.
Susun itinerary untuk mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami Aceh, PLTD Apung, dan destinasi sejarah lain di Banda Aceh berdasarkan durasi serta minat perjalanan melalui AI Plan Your Trip di Indonesia.travel.
Untuk mengetahui akses menuju masjid, aturan kunjungan, kondisi cuaca, atau rekomendasi destinasi religi dan sejarah di Banda Aceh, manfaatkan fitur MaiA sebagai sumber informasi sebelum melakukan perjalanan.
Referensi:
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh – Masjid Raya Baiturrahman
- Majelis Adat Aceh – Meuseujid Bayturrahman Koeta Radja
- Pemerintah Kota Banda Aceh – Objek Wisata Masjid Raya Baiturrahman
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – Masjid-Masjid Kuno di Aceh
- Kementerian Agama RI – Profil Masjid Raya Baiturrahman
- Pemerintah Aceh – Pengembangan Infrastruktur Masjid Raya Baiturrahman
- Museum Tsunami Aceh – Sejarah Museum dan Lokasi