MaiA ai-icon

Informasi

Masjid Istiqlal: Sejarah, Daya Tarik, dan Fungsinya

Image Contributor: Fatur Rm/Shutterstock

Masjid Istiqlal merupakan masjid nasional Republik Indonesia sekaligus masjid terbesar di Asia Tenggara. Berlokasi di Jakarta Pusat, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi juga menjadi simbol kemerdekaan, persatuan bangsa, dan toleransi antarumat beragama. Keberadaannya menjadikan Masjid Istiqlal sebagai salah satu ikon budaya serta wisata religi di Indonesia. 

Deskripsi Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal terletak di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Bangunan ini berdiri di atas lahan seluas sekitar 9,5 hektare dengan kapasitas lebih dari 200.000 jamaah, sehingga menjadi salah satu masjid terbesar di dunia berdasarkan daya tampung.

Sebagai masjid nasional, Istiqlal menjadi pusat penyelenggaraan ibadah dan berbagai kegiatan keagamaan berskala nasional, seperti Salat Idulfitri, Iduladha, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, hingga peringatan Tahun Baru Islam. Selain itu, masjid ini juga menjadi tujuan wisata religi, edukasi, dan kunjungan kenegaraan.

Baca Juga: 5 Spot Wisata Kekinian yang Bisa Jadi Destinasi Wisata Liburan di Jakarta

Sejarah Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal memiliki sejarah pembangunan yang berlangsung cukup panjang dan melibatkan dua era pemerintahan di Indonesia, yaitu Orde Lama hingga Orde Baru. Pembangunannya didukung melalui anggaran negara (APBN) untuk mewujudkan masjid nasional yang berlokasi di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Pada tahun 1953 dibentuk Yayasan Masjid Istiqlal yang dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim. Pemerintah kemudian menyelenggarakan sayembara desain yang dimenangkan oleh arsitek Friedrich Silaban. Rancangan Silaban dinilai mampu memadukan unsur-unsur Islam dan semangat nasionalisme dalam desain Masjid Istiqlal. 

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 24 Agustus 1961. Setelah melalui proses pembangunan yang berlangsung selama hampir dua dekade, Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.

Sejak diresmikan, Masjid Istiqlal tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol nasional yang mencerminkan semangat kemerdekaan dan persatuan Indonesia.

Arsitektur dan Daya Tarik Masjid Istiqlal

Selain menjadi salah satu ikon arsitektur Indonesia, bangunan ini juga memiliki sejumlah karakteristik dan daya tarik seperti berikut: 

Karya Friedrich Silaban

Masjid Istiqlal dirancang oleh Friedrich Silaban, seorang arsitek Indonesia berdarah Batak yang beragama Kristen Protestan. Terpilihnya Silaban melalui sayembara nasional menunjukkan semangat inklusivitas dan kebersamaan dalam pembangunan salah satu ikon nasional Indonesia.

Desain masjid mengusung gaya arsitektur modern dengan dominasi bentuk geometris sederhana, penggunaan struktur beton bertulang, serta dinding dan lantai yang dilapisi marmer. Pada sejumlah bagian bangunan, terdapat ornamen geometris dari baja nirkarat (stainless steel) yang menjadi salah satu ciri khas arsitektur Masjid Istiqlal. 

Bangunan Monumental

Arsitektur Masjid Istiqlal dirancang dengan berbagai elemen yang memiliki makna simbolis. Kubah utama berdiameter 45 meter melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia, yaitu 1945. Bangunan utama terdiri atas lima lantai yang dimaknai sebagai simbol Rukun Islam, sekaligus dikaitkan dengan lima waktu salat wajib dan lima sila Pancasila. 

Sementara itu, menara setinggi sekitar 96,66 meter sering dihubungkan dengan angka 6.666, yang secara tradisional dikenal sebagai jumlah ayat dalam Al-Qur'an. Di dalam kompleks masjid terdapat bedug raksasa serta berbagai fasilitas pendukung seperti ruang serbaguna, perpustakaan, area pendidikan, dan ruang pertemuan.

Simbol Toleransi Beragama

Salah satu daya tarik Masjid Istiqlal adalah lokasinya yang berhadapan langsung dengan Gereja Katedral Jakarta. Kedua bangunan dihubungkan oleh Terowongan Silaturahmi, yang diresmikan pada tahun 2021 sebagai simbol kerukunan dan dialog antarumat beragama di Indonesia.

Baca Juga: 10 Masjid Unik di Indonesia dengan Arsitektur Memukau

Makna dan Filosofi Arsitektur Masjid Istiqlal

Arsitektur Masjid Istiqlal dirancang dengan sejumlah unsur simbolis yang berkaitan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia maupun nilai-nilai Islam.

Beberapa elemen tersebut antara lain:

  • Kubah utama berdiameter 45 meter yang melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia (1945).
  • Terdapat 12 pilar utama di ruang salat sebagai simbol tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu 12 Rabiul Awal.
  • Menara tunggal setinggi sekitar 96,66 meter, yang melambangkan kebesaran Islam dan menjadi penanda visual masjid.
  • Tata ruang yang terbuka mencerminkan nilai kebersamaan, persatuan, dan keterbukaan.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Istiqlal juga merepresentasikan hubungan antara nilai keagamaan, identitas nasional, dan keberagaman masyarakat Indonesia.

Fungsi Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal memiliki fungsi yang melampaui kegiatan ibadah. Hingga saat ini, masjid ini digunakan sebagai:

  • Tempat penyelenggaraan ibadah harian dan ibadah besar umat Islam.
  • Pusat kegiatan keagamaan tingkat nasional.
  • Sarana pendidikan dan dakwah Islam.
  • Lokasi dialog lintas agama dan kunjungan kenegaraan.
  • Destinasi wisata religi dan edukasi.

Melalui berbagai fungsi tersebut, Masjid Istiqlal menjadi salah satu pusat aktivitas keagamaan sekaligus kebudayaan di Indonesia.

Baca Juga: Masjid Agung Jawa Tengah: Keindahan Arsitektur Islam Modern

Informasi Operasional

Masjid Istiqlal terbuka bagi masyarakat umum, baik untuk beribadah maupun berkunjung sebagai wisatawan.

Lokasi:
Jalan Taman Wijaya Kusuma, Pasar Baru, Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Jakarta 10710

Jam operasional:
Masjid buka setiap hari. Namun, jam kunjungan wisata dapat berbeda dengan waktu pelaksanaan ibadah dan kegiatan keagamaan.

Fasilitas yang tersedia:

  • Area parkir
  • Toilet dan tempat wudu
  • Perpustakaan
  • Pusat informasi
  • Tur edukasi dengan pemandu (sesuai jadwal)
  • Akses ramah disabilitas
  • Terowongan Silaturahmi menuju Gereja Katedral Jakarta

Pengunjung diimbau mengenakan pakaian yang sopan serta mengikuti ketentuan yang berlaku selama berada di area masjid.

Cara Menuju Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum karena berada di pusat Kota Jakarta.

Beberapa pilihan transportasi meliputi:

  • KRL Commuter Line, turun di Stasiun Juanda, kemudian berjalan kaki menuju masjid.
  • TransJakarta, turun di Halte Juanda atau Halte Istiqlal.
  • MRT Jakarta, dilanjutkan dengan TransJakarta atau moda transportasi lanjutan menuju kawasan Pasar Baru.
  • Kendaraan pribadi melalui Jalan Lapangan Banteng Barat atau Jalan Veteran.

Mengunjungi Masjid Istiqlal dapat menjadi bagian dari wisata sejarah dan budaya di Jakarta, terutama karena lokasinya berdekatan dengan berbagai bangunan bersejarah lainnya. 

Temukan inspirasi itinerary wisata sejarah Jakarta melalui fitur Rencanakan Perjalanan Anda di Indonesia Travel. Untuk rekomendasi perjalanan yang lebih personal, MaiA dapat membantu memilih destinasi, aktivitas, dan itinerary sesuai preferensi Anda. 

 

Referensi:

Kemenkeu Learning Center. https://klc2.kemenkeu.go.id/kms/knowledge/aset-bersejarah-tempat-ibadah-masjid-istiqlal-0301e495/detail/

Info Muslim Tour. https://infomuslimtours.com/masjid-istiqlal/

NU Online. https://www.nu.or.id/fragmen/sejarah-berdirinya-masjid-istiqlal-Ae86E

Indonesia Kaya. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/masjid-istiqlal-simbol-kemerdekaan-bangsa-indonesia/

Sekretariat Kabinet RI. https://setkab.go.id/resmikan-renovasi-masjid-istiqlal-presiden-semakin-megah-kebanggaan-bangsa-indonesia/

Istiqlal. https://www.istiqlal.or.id/artikel/detail/masjid-istiqlal-gagas-perpustakaan-islam-modern-berbasis-digital.html

INSIGHT

Ide Perjalanan

Makam Sunan Ampel: Menelusuri Jejak Wali Songo di Surabaya

Makam Sunan Ampel: Menelusuri Jejak Wali Songo di Surabaya

Masjid Raya Baiturrahman: Sejarah Hingga Makna Budaya Aceh

Masjid Raya Baiturrahman: Sejarah Hingga Makna Budaya Aceh

Museum Tsunami Aceh: Mengedukasi Masyarakat, Lewat Jejak Tragedi, dan Arsitektur Museum

Museum Tsunami Aceh: Mengedukasi Masyarakat, Lewat Jejak Tragedi, dan Arsitektur Museum