Image Contributor: Aneejpg/Shutterstock
Tiga genre tari tradisional Bali (Wali, Bebali, dan Balih-balihan) adalah bagian dari tradisi tari Bali yang ditetapkan sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity dari UNESCO pada 2015.
Pengakuan tersebut diberikan kepada keseluruhan sistem tradisi tari Bali yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat.
Deskripsi dan Sejarah
Tradisi tari Bali berkembang seiring perkembangan agama Hindu di Bali serta sistem desa adat yang menjadi pusat kehidupan masyarakat.
Dalam tradisi Bali, tari tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan. Berbagai jenis tari menjadi bagian dari upacara keagamaan, ritual adat, pendidikan seni, penyampaian kisah epik, hingga hiburan masyarakat.
Setiap genre memiliki fungsi, konteks pertunjukan, tata busana, iringan gamelan, dan aturan penyajian yang berbeda.
UNESCO mengelompokkan tari tradisional Bali ke dalam tiga genre berdasarkan fungsi dan konteks pertunjukannya, yaitu Wali (sakral), Bebali (semi-sakral), dan Balih-balihan (hiburan).
Ketiga genre tersebut dipandang sebagai satu kesatuan tradisi yang terus diwariskan melalui keluarga, sanggar seni, banjar, dan lembaga pendidikan seni di Bali.
Tiga Genre Tari Tradisional Bali
Tiga genre tari tradisional Bali mencerminkan pembagian fungsi seni tari dalam kehidupan masyarakat Bali, mulai dari yang bersifat sakral hingga hiburan. Klasifikasi ini menjadi dasar penting dalam memahami peran tari dalam upacara, budaya, dan pertunjukan di Bali.
1. Tari Wali (Tari Sakral)
Tari Wali merupakan tarian yang dipersembahkan sebagai bagian dari upacara keagamaan Hindu di pura. Pertunjukan hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu sesuai kalender upacara dan umumnya tidak ditujukan sebagai tontonan umum.
Beberapa contoh Tari Wali antara lain Rejang, Sanghyang Dedari, Baris Gede, dan Pendet Wali. Dalam tradisi Bali, tarian ini dipandang sebagai media persembahan sekaligus penghormatan kepada manifestasi Tuhan dan leluhur.
2. Tari Bebali (Tari Semi-Sakral)
Tari Bebali berfungsi sebagai pelengkap upacara sekaligus sarana penyampaian cerita dan ajaran moral. Berbeda dengan Tari Wali, genre ini dapat disaksikan oleh masyarakat meskipun tetap berkaitan dengan pelaksanaan ritual adat.
Contoh Tari Bebali meliputi Topeng Sidhakarya, Wayang Wong, dan Gambuh. Pertunjukan memadukan tari, musik, dialog, dan drama yang mengangkat kisah-kisah dari epos Ramayana, Mahabharata, maupun cerita sejarah Bali.
3. Tari Balih-balihan (Tari Hiburan)
Balih-balihan merupakan tari yang berkembang sebagai seni pertunjukan dan hiburan masyarakat. Jenis tari ini sering dipentaskan dalam festival budaya, pertunjukan wisata, maupun acara kesenian tanpa menghilangkan nilai estetika tradisional Bali.
Beberapa contoh yang paling dikenal adalah Legong Keraton, Joged Bumbung, Barong, Oleg Tamulilingan, dan Kebyar Duduk. Meskipun bersifat hiburan, sebagian tari tetap mengandung nilai sejarah, filosofi, dan simbol budaya Bali.
Baca Juga: 10 Destinasi Wisata Budaya Bali yang Harus Dikunjungi
Contoh Tari Tradisional Bali yang Populer
Berbagai tari tradisional Bali yang populer adalah bagian dari upacara adat dan dikenal luas sebagai pertunjukan budaya yang menarik wisatawan.
Setiap tarian memiliki ciri khas gerak, makna, dan fungsi yang mencerminkan kekayaan seni serta filosofi masyarakat Bali.
1. Tari Kecak
Tari Kecak berkembang pada awal abad ke-20 melalui adaptasi tradisi Sanghyang dengan kisah Ramayana. Pertunjukan melibatkan puluhan hingga ratusan penari laki-laki yang mengiringi tarian menggunakan vokal "cak" tanpa alat musik gamelan.
Saat ini Tari Kecak dipentaskan di berbagai lokasi, seperti Uluwatu, Ubud, dan sejumlah desa adat di Bali. Tari ini menjadi salah satu ikon seni pertunjukan Bali yang dikenal secara internasional.
2. Tari Pendet
Tari Pendet awalnya merupakan tari sakral yang digunakan sebagai bagian dari persembahan di pura. Dalam perkembangannya, muncul bentuk Tari Pendet penyambutan yang digunakan untuk menyambut tamu pada acara resmi maupun kegiatan budaya.
Ciri khas Tari Pendet adalah gerakan lembut dengan properti bokor berisi bunga yang ditaburkan sebagai simbol penghormatan dan penyambutan.
3. Tari Barong
Tari Barong menampilkan relasi antara Barong dan Rangda yang sering dipahami melalui konsep pertentangan sekaligus keseimbangan dua kekuatan dalam kehidupan masyarakat Bali.
Barong memiliki berbagai bentuk sesuai tradisi daerah, seperti Barong Ket, Barong Bangkal, dan Barong Macan. Hingga kini, pertunjukan Barong masih rutin diselenggarakan di desa-desa adat maupun pusat pertunjukan budaya di Bali.
Lokasi untuk Menyaksikan Tari Tradisional Bali
Pertunjukan tari tradisional dapat ditemukan di berbagai wilayah Bali, terutama di Denpasar, Gianyar, Ubud, Klungkung, Bangli, dan Karangasem.
Selain dipentaskan dalam upacara adat di pura, pertunjukan juga diselenggarakan secara berkala di sanggar seni, pusat kebudayaan, museum, dan panggung pertunjukan.
Beberapa festival budaya, seperti Pesta Kesenian Bali (PKB), menjadi ajang penting untuk menampilkan berbagai genre tari tradisional yang berasal dari seluruh kabupaten dan kota di Bali.
Baca Juga: Pura Uluwatu, Surga di Ujung Tebing dengan Pemandangan Laut
Makna Filosofis Tari Tradisional Bali
Nilai-nilai filosofis dalam tari tradisional Bali adalah cerminan dari hubungan manusia, alam, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Bali. Pahami beberapa makna filosofis berikut:
1. Seni Pertunjukan sebagai Warisan Budaya
Dalam kebudayaan Bali, tari merupakan perpaduan antara gerak, musik, tata busana, tata rias, sastra, dan ritual. Setiap unsur memiliki aturan yang diwariskan melalui proses belajar di lingkungan keluarga, banjar, maupun sanggar seni.
UNESCO menilai ketiga genre tari tersebut menjadi ekspresi identitas budaya dan kesinambungan komunitas praktisinya.
Genre Wali dan Bebali khusunya menunjukkan hubungan erat antara seni tari dan pelaksanaan ritual keagamaan di Bali.
2. Hubungan dengan Kerajinan Tradisional
Pertunjukan tari Bali didukung oleh berbagai hasil kerajinan tradisional, seperti mahkota, kipas, topeng, kain songket, prada, ukiran kayu, hingga instrumen gamelan. Kehadiran para perajin menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi tari Bali.
3. Pelestarian Melalui Pendidikan
Anak-anak Bali umumnya mulai belajar tari sejak usia dini melalui sanggar maupun kegiatan ekstrakurikuler. Proses regenerasi inilah yang menjadi salah satu alasan tradisi tari Bali tetap hidup dan diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Laporan UNESCO yang lebih baru juga menyebut transmisi melalui guru tari dan sanggar di desa atau banjar masih berlangsung.
Ingin menyaksikan pertunjukan tari tradisional Bali secara langsung? Rencanakan Perjalanan Anda di Indonesia.travel uyntuk menusun itinerary sesuai durasi perjalanan dan minat wisata Anda .
Jika membutuhkan rekomendasi jadwal pertunjukan, lokasi sanggar seni, festival budaya, atau informasi mengenai tata cara berkunjung ke pura dan desa adat di Bali, tanyakan kepada MaiA. Asisten perjalanan ini dapat membantu Anda memperoleh informasi praktis sehingga pengalaman menikmati warisan budaya Bali menjadi lebih bermakna.
Referensi:
UNESCO – The Three Genres of Traditional Dance in Bali
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia