Image Contributor: Jan Wehnert/imageBROKER/Shutterstock
Bali tidak hanya dikenal melalui pura, pantai, dan seni tradisionalnya. Di balik hamparan sawah dan terasering yang menjadi bagian dari lanskap pulau ini, terdapat subak, sistem pengelolaan air yang mengatur hubungan antara petani, sumber air, lahan pertanian, dan kehidupan keagamaan.
Sistem tersebut telah berkembang selama berabad-abad dan menjadi bagian penting dari lanskap budaya Bali. Melihat keunikan subak secara langsung bisa menjadi salah satu pilihan aktivitas selama berkunjung ke Bali.
Sejarah Subak Bali
Masyarakat Bali telah mengenal pertanian sawah dan pengelolaan air sejak abad ke-9. Prasasti Sukawana A1 bertahun 882 M menyebut istilah huma yang berarti sawah, sementara Prasasti Bebetin A1 dari akhir abad ke-9 mencatat keberadaan pekerja yang memiliki keahlian membuat terowongan air.
Istilah subak sendiri baru ditemukan dalam sumber tertulis pada abad ke-11. Prasasti Pandak Badung bertahun 1071 M menyebut istilah kasuwakan, sedangkan Prasasti Klungkung A tahun 1072 M mencatat kasuwakan Rawas, yang merujuk pada wilayah pengelolaan sawah dan air.
Dalam perkembangannya, subak menjadi sistem pertanian yang mengatur pembagian air irigasi dalam suatu kawasan persawahan. Sistem ini tidak hanya mencakup saluran dan bangunan pengairan, tetapi juga aturan bersama, pembagian tanggung jawab, serta kegiatan keagamaan yang berkaitan dengan air dan pertanian.
Jaringan pura air kemudian menjadi bagian penting dalam pengelolaan tersebut dan membantu menghubungkan berbagai kelompok subak dalam satu sistem pengelolaan sumber air. UNESCO mencatat bahwa jaringan pura air telah mengelola ekologi sawah berteras pada skala daerah aliran sungai setidaknya sejak abad ke-11.
Makna Filosofis Subak
Subak berkaitan erat dengan filosofi Tri Hita Karana, yaitu prinsip keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Dalam sistem subak, hubungan tersebut terlihat melalui kegiatan keagamaan, kerja sama antarpetani, serta pengelolaan air dan lingkungan pertanian.
Ketiga unsur tersebut dikenal sebagai Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan. Parhyangan berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan yang diwujudkan melalui ritual, Pawongan mencerminkan hubungan sosial dan kerja sama antaranggota subak, sedangkan Palemahan berkaitan dengan hubungan manusia dengan lingkungan.
Baca Juga: 11 Ide Menarik untuk Liburan di Bali
Keunikan Subak
Keunikan subak terletak pada cara pengelolaan air yang menggabungkan teknologi irigasi, kerja sama masyarakat, dan nilai keagamaan dalam satu sistem.
Air dari sumber yang sama dibagikan kepada kelompok petani melalui jaringan saluran dan bangunan irigasi, sementara aturan bersama mengatur hak serta kewajiban anggota.
Sistem ini memungkinkan petani mengelola kebutuhan air secara kolektif, termasuk menentukan waktu tanam agar penggunaan air dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan ketersediaannya.
Keunikan lainnya adalah subak tidak berdiri sendiri sebagai kelompok petani. Sistem ini terhubung dengan jaringan pura air yang mengatur kehidupan ritual dan berkaitan dengan siklus pertanian.
Aturan tradisional ini dikenal sebagai awig-awig, yang membantu mengatur pengelolaan subak dan hubungan antaranggota.
Pembagian air ini dilakukan melalui kesepakatan bersama sehingga kebutuhan masing-masing petani dapat diperhitungkan.
Daya Tarik Lanskap Subak Bali
Lanskap Sawah dan Terasering
Salah satu daya tarik yang paling mudah dilihat adalah lanskap sawah terasering. Sistem pengairan subak memungkinkan air dialirkan melalui berbagai tingkat lahan, termasuk sawah yang berada di lereng perbukitan.
Pola tersebut menciptakan lanskap pertanian berundak yang menjadi salah satu ciri khas pedesaan Bali.
Namun, terasering bukan sekadar pemandangan. Lanskap tersebut merupakan bagian dari sistem pertanian yang masih dikelola masyarakat.
Warisan Dunia ini mencakup lima lanskap utama yang memperlihatkan hubungan antara sawah, hutan, jaringan irigasi, desa, dan pura.
Pura dan Sistem Subak
Pura merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari lanskap subak. Jaringan pura air (water temples) berkaitan dengan sumber air, pembagian irigasi, dan siklus pertanian.
Ritual yang dilakukan masyarakat mengikuti tahapan pertumbuhan padi dan pengelolaan air, sehingga pura berfungsi sebagai bagian dari sistem sosial dan spiritual yang mendukung kegiatan pertanian.
Salah satu contoh yang dapat ditemui adalah Pura Ulun Danu Batur, yang berkaitan dengan Danau Batur sebagai salah satu sumber air penting bagi pertanian Bali.
Bagi wisatawan, pemahaman ini membuat lanskap persawahan Bali dapat dilihat bukan hanya sebagai pemandangan, tetapi sebagai bagian dari sistem budaya yang masih dijalankan masyarakat.
Kehidupan Pertanian
Subak juga memberikan kesempatan untuk melihat sisi Bali yang berbeda dari kawasan wisata perkotaan. Aktivitas pertanian, pengelolaan air, dan kehidupan masyarakat di sekitar sawah memperlihatkan bahwa lanskap pedesaan masih memiliki fungsi ekonomi dan sosial.
Baca Juga: 7 Upacara Keagamaan Bali yang Unik dan Kaya Nilai Spiritual
Aktivitas yang Wajib Dilakukan
- Menikmati lanskap sawah terasering untuk melihat langsung hubungan antara kondisi geografis dan sistem pertanian Bali.
- Berjalan menyusuri kawasan persawahan melalui jalur yang tersedia dengan tetap memperhatikan lahan pertanian dan aktivitas petani.
- Mengunjungi pura yang berkaitan dengan lanskap subak untuk memahami hubungan antara pengelolaan air dan kehidupan spiritual masyarakat.
- Mengamati aktivitas pertanian seperti pengolahan sawah atau kegiatan lain apabila sedang berlangsung.
- Mengenal filosofi Tri Hita Karana agar pemandangan sawah tidak hanya dipahami sebagai lanskap alam, tetapi juga sebagai bagian dari kebudayaan Bali.
- Mengabadikan lanskap pedesaan dengan tetap menghormati masyarakat dan tidak mengganggu kegiatan pertanian.
Cara Menuju Kawasan Subak Bali
Lanskap subak tersebar di beberapa wilayah Bali sehingga aksesnya bergantung pada kawasan yang ingin dikunjungi.
Jatiluwih dapat menjadi pilihan bagi Anda yang ingin melihat lanskap sawah terasering secara langsung, sedangkan kawasan Pura Taman Ayun, Pura Ulun Danu Batur, dan DAS Pakerisan menawarkan konteks berbeda mengenai hubungan antara pura, sumber air, dan pertanian.
Untuk perjalanan ke kawasan pedesaan, kendaraan pribadi, kendaraan sewaan, atau jasa pemandu lokal dapat memberikan fleksibilitas lebih besar dibandingkan mengandalkan transportasi umum.
Waktu perjalanan juga perlu disesuaikan dengan lokasi karena setiap kawasan berada di kabupaten yang berbeda.
Tips Berkunjung
- Datang pada pagi atau sore hari jika ingin menikmati suasana persawahan dengan lebih nyaman.
- Gunakan jalur yang telah disediakan dan jangan memasuki lahan pertanian tanpa izin.
- Hormati aktivitas petani, terutama ketika sawah sedang ditanami atau dipanen.
- Berpakaian sopan ketika mengunjungi pura atau kawasan yang memiliki aturan adat.
- Jangan mengambil atau merusak tanaman hanya untuk keperluan fotografi.
- Pertimbangkan menggunakan pemandu lokal untuk mendapatkan penjelasan mengenai subak, pura, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
- Dukung wisata yang bertanggung jawab, karena keberlangsungan lanskap subak bergantung pada keberadaan lahan pertanian dan komunitas yang mengelolanya.
Kawasan subak tersebar di beberapa bagian Bali dengan karakter lanskap dan atraksi yang berbeda. Gunakan fitur Maia untuk mencari ide aktivitas dan menyusun itinerary sesuai durasi perjalanan Anda.
Manfaatkan juga fitur Rencanakan Perjalanan Anda untuk mengatur kunjungan ke kawasan subak bersama destinasi lain di Bali agar rutenya lebih efisien.
Referensi
- Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy – UNESCO World Heritage Centre.
https://whc.unesco.org/en/list/1194/ - Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy – UNESCO Nomination Document.
https://whc.unesco.org/uploads/nominations/1194rev.pdf - Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan di Bali Bagian Selatan – AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi.
https://ejournal.brin.go.id/amerta/article/view/18 - Kajian Arkeologi terhadap Sistem Irigasi Subak di Bali – Jurnal Panalungtik.
https://ejournal.brin.go.id/panalungtik/article/download/2558/2017/9057 - Aspek Ritual pada Sistem Irigasi Subak – Jurnal Kajian Bali.
https://ejournal1.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/download/5611/3192 - Subak: Sistem Irigasi Tradisional Bali – Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/