MaiA ai-icon

Informasi

4 Spot Bersejarah di Bandung yang Bisa Dijelajahi dalam Waktu 1 Hari

Image Contributor: Zainzoan Zone/imageBROKER/Shutterstock

Kota Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, memiliki sejumlah bangunan dan kawasan bersejarah peninggalan masa kolonial Hindia Belanda, maupun era awal kemerdekaan Indonesia. Empat di antaranya yang paling dikenal dan dapat dikunjungi dalam waktu satu hari adalah Gedung Sate, Jalan Braga, Jalan Asia-Afrika, dan Alun-Alun Bandung. Keempat lokasi ini saling berdekatan di kawasan pusat kota, sehingga memungkinkan kunjungan berurutan dalam satu rangkaian perjalanan wisata sejarah.

Gedung Sate

Sejarah dan Arsitektur

Gedung Sate mulai dibangun pada 27 Juli 1920 dengan peletakan batu pertama oleh Johanna Catherina Coops, dan pembangunannya berlangsung sekitar empat tahun hingga selesai pada September 1924. Gedung ini dirancang oleh arsitek asal Belanda, Ir. J. Gerber, dengan gaya arsitektur yang memadukan sejumlah unsur, di antaranya desain jendela bergaya Moor Spanyol, model atap yang mengadopsi unsur arsitektur Asia seperti pura di Bali dan pagoda di Thailand, gaya Renaisans Italia, serta ornamen batu yang dikaitkan dengan arsitektur Candi Borobudur.

Nama "Gedung Sate" berasal dari bentuk ornamen enam tusuk pada puncak menara yang menyerupai sate. Bangunan ini semula bernama Gouvernements Bedrijven dan berdiri di atas lahan seluas sekitar 27.000 meter persegi.

Peristiwa 3 Desember 1945

Gedung Sate memiliki nilai sejarah penting pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Pada 3 Desember 1945, terjadi pertempuran selama sekitar dua jam antara pemuda pegawai Departemen Pekerjaan Umum dengan pasukan Gurkha yang dibantu tentara Sekutu dan Belanda, yang berupaya merebut kembali gedung tersebut.

Pertempuran ini menewaskan tujuh pemuda, yaitu Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu, dan Soerjono. Untuk mengenang jasa mereka, dibangun tugu peringatan di halaman belakang Gedung Sate, yang kemudian dipindahkan ke halaman depan gedung oleh Menteri Pekerjaan Umum pada 1970. Peristiwa ini diperingati sebagai Hari Kebaktian Pekerjaan Umum.

Lokasi, Harga Tiket, dan Fasilitas

Gedung Sate berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 22, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung, dan saat ini masih berfungsi sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat. Museum Gedung Sate, yang menempati sayap timur basement gedung, diresmikan pada 8 Desember 2017 dan menyajikan informasi sejarah, serta arsitektur gedung melalui media interaktif, seperti layar sentuh, auditorium pemutaran film, dan visualisasi digital.

Museum ini buka setiap Selasa hingga Minggu pukul 09.30–16.00 WIB, dengan harga tiket masuk sekitar Rp 5.000 per orang. Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir, toilet, dan musala.

Jalan Braga

Sejarah dan Asal-usul Nama

Jalan Braga berkembang sejak awal abad ke-19 dan menjadi pusat perbelanjaan paling bergengsi di Hindia Belanda pada masa kolonial, dengan julukan "jalan perbelanjaan paling Eropa di Hindia Belanda". Mengenai asal-usul namanya, terdapat sejumlah versi yang berbeda. Salah satu versi mengaitkannya dengan Toneelvereeniging Braga, perkumpulan drama Belanda yang didirikan pada 1881, yang sebagian orang menghubungkannya dengan nama penulis naskah drama asal Portugal, Theofilo Braga.

Versi lain menyebut nama tersebut berasal dari kata Sunda "ngabaraga" yang berarti bergaya, atau "baraga" yang berarti berjalan di tepi sungai, merujuk pada posisi jalan ini di tepi Sungai Cikapundung. Menurut catatan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat, asal-usul pasti nama Braga hingga kini belum dapat dipastikan secara definitif.

Bangunan Bersejarah dan Fasilitas

Sepanjang Jalan Braga terdapat sejumlah bangunan peninggalan kolonial, di antaranya Gedung Merdeka (bekas Societeit Concordia, lokasi Konferensi Asia-Afrika 1955), Gedung Majestic yang dahulu berfungsi sebagai bioskop, serta sejumlah bangunan pertokoan bergaya art deco. Jalan Braga berlokasi di Kota Bandung dan terhubung langsung dengan Jalan Asia-Afrika.

Pada akhir pekan, ruas jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor dan dijadikan kawasan pejalan kaki yang dikenal dengan nama Braga Beken, sekaligus difungsikan sebagai lokasi kegiatan seni dan kuliner.

Jalan Asia-Afrika

Sejarah sebagai Groote Postweg

Jalan Asia-Afrika dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, dengan nama Groote Postweg atau Jalan Raya Pos, jalan yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan di Pulau Jawa. Jalan ini menjadi salah satu titik nol kilometer Kota Bandung.

Konferensi Asia-Afrika 1955

Nama "Asia-Afrika" disematkan setelah penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada 18–24 April 1955, yang diselenggarakan di Gedung Merdeka. Konferensi ini dihadiri oleh perwakilan negara-negara Asia dan Afrika untuk membahas isu dekolonisasi dan solidaritas antarbangsa. Gedung Merdeka kini berfungsi sebagai Museum Konferensi Asia-Afrika.

Lokasi dan Daya Tarik

Jalan Asia-Afrika berlokasi di pusat Kota Bandung dan berdekatan langsung dengan Jalan Braga, serta Alun-Alun Bandung. Sejarah Jalan Asia-Afrika diabadikan Pemerintah Kota Bandung pada dinding tiang beton jembatan penyeberangan orang di kawasan tersebut. Di dekat Tugu Asia-Afrika, terdapat pula dinding bertuliskan kutipan karya M.A.W. Brouwer, "Bumi Pasundan Lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum", yang menjadi salah satu titik yang sering dikunjungi wisatawan.

Alun-Alun Bandung

Sejarah dan Fungsi Awal

Alun-Alun Bandung dibangun sekitar September 1810, bersamaan dengan penetapan Bandung sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Bandung pada masa kolonial. Pada masa awal, alun-alun berfungsi sebagai ruang terbuka yang dikelilingi pohon beringin di keempat sudutnya, dengan nilai simbolis sebagai batas antara kawasan sakral (pendopo) dan kawasan permukiman.

Di tengah alun-alun terdapat sepasang pohon beringin yang oleh pemerintah Hindia Belanda dikaitkan dengan nama Ratu Wilhelmina dan Putri Juliana; kedua pohon tersebut kemudian mati pada 1942.

Renovasi dan Perkembangan

Alun-Alun Bandung mengalami sejumlah renovasi sepanjang sejarahnya, termasuk penataan dengan berbagai jenis bunga pada periode 1950–1960-an, dan penambahan kolam air mancur pada 1973. Renovasi besar terakhir dilakukan pada 2014, mengubah kawasan ini menjadi taman kota modern dengan rumput sintetis, area bermain anak, serta microlibrary yang menyediakan sekitar 7.000 koleksi buku.

Lokasi dan Fasilitas

Alun-Alun Bandung berlokasi di Jalan Asia-Afrika, berdekatan dengan Masjid Raya Bandung. Kawasan ini terbuka untuk umum selama 24 jam tanpa biaya masuk, meski area rumput sintetis dan taman bunga biasanya ditutup pada sore hari. Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir bawah tanah, pusat kuliner, toilet umum, serta playground anak.

Tips Berkunjung

Bagi wisatawan yang memiliki waktu satu hari di Bandung, keempat lokasi ini dapat dikunjungi secara berurutan mengingat jaraknya yang berdekatan di kawasan pusat kota. Kunjungan ke Museum Gedung Sate memerlukan reservasi terlebih dahulu mengingat gedung ini masih berfungsi sebagai kantor pemerintahan aktif.

Alun-Alun Bandung dan Jalan Braga dapat dikunjungi tanpa biaya masuk, sehingga cocok dipadukan dengan kunjungan berbayar ke Museum Gedung Sate, maupun Museum Konferensi Asia-Afrika di Jalan Asia-Afrika.

Keberadaan berbagai bangunan dan kawasan bersejarah menjadikan Bandung memiliki banyak tempat menarik untuk mengenal perjalanan sejarah dan perkembangan kotanya. Jika Anda ingin mengunjungi empat spot bersejarah tersebut sekaligus menjelajahi destinasi lain di Bandung, manfaatkan AI Plan Your Trip untuk menyusun itinerary sesuai durasi dan preferensi Anda. Informasi mengenai lokasi, akses, waktu terbaik berkunjung, serta berbagai destinasi wisata di Bandung juga dapat ditanyakan melalui Maia, sehingga perjalanan Anda dapat dipersiapkan dengan lebih mudah.

Baca juga: 3 Spot di Ciumbuleuit Bandung untuk Quality Time yang Nyaman


Referensi:

INSIGHT

Ide Perjalanan

Degung

Degung

Saung Angklung Udjo: Jadwal Pertunjukan, Harga Tiket, Jam Buka

Saung Angklung Udjo: Jadwal Pertunjukan, Harga Tiket, Jam Buka

Mengulik Tempat Bersejarah di Semarang yang Kaya Akan Cerita

Mengulik Tempat Bersejarah di Semarang yang Kaya Akan Cerita