Image Contributor: Hestamma Jagaditha/imageBROKER/Shutterstock
Rumah Bubungan Lima merupakan rumah adat yang berasal dari Provinsi Bengkulu, dan menjadi rumah tradisional utama masyarakat Melayu Bengkulu. Rumah ini bergaya rumah panggung dengan ciri khas berupa atap yang tersusun dari lima bentuk limas bertumpuk, yang menjadi asal penamaannya.
Pada masa lalu, rumah ini digunakan sebagai tempat tinggal para raja dan kaum bangsawan Bengkulu. Namun, sekarang bangunan bertipe ini lebih banyak difungsikan sebagai lokasi pelaksanaan upacara adat, serta sebagai objek edukasi budaya.
Asal Usul dan Penamaan
Nama "Bubungan Lima" merujuk pada bentuk atap rumah yang tersusun dari lima limas segi lima yang ditumpuk sedemikian rupa, sehingga membentuk profil atap yang khas. Berdasarkan referensi buku Mengenal Seni & Budaya Indonesia (2012) karya R. Rizky dan T. Wibisono, rumah adat Bengkulu ini tergolong dalam tipe rumah panggung.
Selain bentuk bubungan lima, dikenal pula variasi bentuk atap lain pada rumah adat Bengkulu, seperti bubungan panjang, bubungan melintang, bubungan sembilan, bubungan haji, bubungan jembatan, serta kombinasi dari beberapa bentuk tersebut.
Sejarah dan Perkembangan
Rumah Bubungan Lima berkembang seiring kehidupan masyarakat Bengkulu yang bermukim di pesisir barat Pulau Sumatera, sebuah kawasan yang secara geografis rawan terhadap bencana alam, seperti gempa bumi dan banjir. Kondisi ini menjadi salah satu alasan utama di balik desain rumah panggung yang tinggi dan kokoh.
Pada masa lampau, rumah bertipe ini dihuni oleh kalangan raja dan bangsawan sebagai tempat tinggal utama. Seiring waktu, fungsi hunian rumah Bubungan Lima berkurang, dan bangunan jenis ini kini semakin jarang ditemukan sebagai tempat tinggal permanen, meskipun tetap dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
Daya Tarik dan Fungsi Masa Kini
Rumah Bubungan Lima berfungsi sebagai lokasi pelaksanaan berbagai upacara adat masyarakat Bengkulu, seperti pernikahan, kelahiran, penyambutan tamu, hingga upacara kematian. Rumah ini juga menjadi objek wisata budaya yang menarik minat wisatawan maupun peneliti, untuk mengenal arsitektur dan tradisi masyarakat Bengkulu. Replika serta bangunan bergaya Bubungan Lima banyak dijumpai pada bangunan publik di Provinsi Bengkulu, termasuk pada bangunan Museum Negeri Bengkulu, yang desainnya mengadopsi bentuk rumah adat ini.
Lokasi
Rumah Bubungan Lima merupakan rumah adat khas Provinsi Bengkulu, yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan yang rawan gempa bumi, karena berada di dekat jalur pertemuan lempeng tektonik, sehingga desain bangunan tradisionalnya disesuaikan dengan kondisi geografis tersebut.
Bengkulu juga dikenal sebagai daerah penghasil kayu dan bambu, khususnya di wilayah Rejang Lebong, yang menjadi salah satu sumber material pembangunan rumah adat ini. Contoh bangunan bergaya Rumah Bubungan Lima yang masih dapat disaksikan hingga kini antara lain terdapat di kompleks Museum Negeri Bengkulu di Jalan Pembangunan, Kelurahan Jembatan Kecil, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, serta di kawasan sekitar Benteng Marlborough yang kerap digunakan sebagai lokasi kegiatan budaya dan pameran seni.
Baca juga: Songket Bengkulu, Keindahan Tenun Tradisional yang Abadi
Struktur dan Material Bangunan
Secara struktural, Rumah Bubungan Lima ditopang oleh sekitar 15 tiang penyangga dengan ketinggian sekitar 1,8 meter, yang membuat rumah ini bergaya panggung. Tiang-tiang tersebut ditumpangkan di atas batu datar yang berfungsi meredam getaran gempa, sekaligus mencegah kayu lapuk akibat kontak langsung dengan tanah.
Bagian atap yang menjulang, dengan kemiringan yang cukup tinggi, umumnya terbuat dari bahan ijuk enau atau sirap kayu surian, meskipun pada masa kini sebagian rumah menggunakan seng maupun genteng sebagai pengganti. Material kayu utama yang digunakan adalah kayu medang kemuning, jenis kayu yang dikenal kuat, elastis, dan tahan hingga ratusan tahun.
Konstruksi bangunan tidak menggunakan paku, melainkan pasak kayu, sementara lantainya berlapis papan dan pelupuh. Untuk memasuki rumah, digunakan tangga kayu dengan jumlah anak tangga ganjil, sesuai kepercayaan masyarakat setempat.
Ruang di bawah rumah panggung, yang disebut kolong, dimanfaatkan untuk menyimpan gerobak, hasil panen, peralatan pertanian, kayu bakar, serta sebagai kandang hewan ternak. Bagian dalam rumah terbagi menjadi beberapa ruang dengan fungsi khusus, di antaranya penigo (ruang menerima tamu), penduhuak atau panduhuak (ruang penyimpanan barang dan pakaian), serta dapur dan gang yang digunakan untuk memasak dan aktivitas keluarga lain.
Rumah ini juga memiliki kamar-kamar khusus, yakni kamar tua, kamar gadis (bilik gadis), dan kamar bujang, yang masing-masing memiliki fungsi dan aturan penggunaan tersendiri sesuai adat setempat.
Budaya dan Kepercayaan
Angka lima pada penamaan dan bentuk atap rumah ini dipercaya melambangkan sejumlah prinsip kehidupan masyarakat Bengkulu, seperti nilai adat, agama, sosial, budaya, dan keluarga, yang bersama-sama membentuk gagasan keseimbangan hidup. Rumah Bubungan Lima secara filosofis terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu bagian atas (atap), bagian tengah (badan rumah), dan bagian bawah (kolong serta tiang penyangga), yang masing-masing memiliki makna simbolis berbeda.
Bagian atas rumah melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, bagian tengah melambangkan hubungan harmonis antarsesama manusia, sedangkan bagian bawah melambangkan hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya.
Penggunaan tangga dengan jumlah anak tangga ganjil pun didasarkan pada kepercayaan masyarakat setempat, yang masih dipertahankan hingga kini. Rumah ini juga berfungsi sebagai penanda identitas keluarga dan status sosial pemiliknya, karena rumah yang terawat dan berukuran besar dahulu mencerminkan kedudukan tertentu dalam masyarakat.
Seni dan Kerajinan
Nilai seni pada Rumah Bubungan Lima tampak pada ukiran dan pahatan kayu yang menghiasi beberapa bagian bangunan, seperti anak tangga, ujung dinding, bingkai jendela dan pintu, kasau atau rangka atap, lubang ventilasi, dan tebeng layar pada bagian depan rumah. Salah satu elemen dekoratif yang dikenal pada arsitektur rumah adat Bengkulu adalah ukiran bermotif selembayung pada bagian atap, yang dimaknai sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan. Ragam ukiran ini umumnya mengambil motif flora, garis geometris, dan bentuk simbolis lain yang dikerjakan menggunakan teknik pertukangan kayu tradisional, tanpa penggunaan paku logam pada rangka utamanya.
Sementara itu, Rumah Bubungan Lima ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya takbenda dan kebendaan yang dilestarikan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Bangunan bergaya rumah adat ini turut diadopsi sebagai desain arsitektur sejumlah bangunan publik di Kota Bengkulu, salah satunya Museum Negeri Bengkulu, yang didirikan pada 1 April 1978 dan mulai difungsikan sebagai museum pada 3 Mei 1980.
Selain sebagai objek wisata budaya, Rumah Bubungan Lima juga kerap dijadikan latar kegiatan promosi budaya, seperti pameran seni dan rangkaian acara adat yang diselenggarakan di kawasan cagar budaya, termasuk area sekitar Benteng Marlborough.
Rumah Bubungan Lima tidak hanya menjadi tempat tinggal tradisional, tetapi juga merupakan bagian dari warisan budaya Bengkulu yang mencerminkan nilai dan karakter masyarakat setempat. Jika Anda ingin mengenal lebih dekat kekayaan budaya Bengkulu, manfaatkan AI Plan Your Trip untuk menyusun itinerary sesuai durasi dan preferensi perjalanan. Berbagai informasi mengenai destinasi, akses, waktu terbaik berkunjung, serta atraksi wisata di Bengkulu juga dapat ditanyakan melalui Maia untuk membantu merencanakan perjalanan dengan lebih praktis.
Referensi:
- https://www.kompas.com/skola/read/2021/01/17/144500069/rumah-bubungan-lima-rumah-adat-provinsi-bengkulu?page=all
- https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/16/rumah-bubungan-lima-rumah-adat-bengkulu-beratap-khas-yang-unik
- https://www.detik.com/sumbagsel/budaya/d-8145090/rumah-adat-bengkulu-sejarah-ciri-khas-dan-makna-filosofisnya
- https://www.traveloka.com/id-id/explore/tips/rumah-adat-bengkulu/1003860