Image Contributor: Dolop/imageBROKER/Shutterstock
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) merupakan museum kota yang terletak di Palembang, Sumatera Selatan. Museum ini dinamai dari Sultan Mahmud Badaruddin II, penguasa Kesultanan Palembang Darussalam yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia, atas perannya memimpin perlawanan terhadap pendudukan Inggris dan Belanda pada awal abad ke-19.
Nama tokoh yang sama juga diabadikan sebagai nama Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Saat ini, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi salah satu destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan saat Anda berkunjung ke Palembang. Lantas, apa yang membuatnya istimewa? Berikut penjelasannya.
Sejarah dan Latar Belakang Bangunan
Lokasi museum saat ini merupakan bekas situs Keraton Kuto Lamo (juga disebut Kuto Besak Lamo atau Kuto Tengkuruk), istana Kesultanan Palembang Darussalam yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I pada 1737. Keraton ini dihancurkan oleh pemerintah kolonial pada 1821 sebagai bentuk hukuman atas serangan yang dipimpin Sultan Mahmud Badaruddin II, terhadap pos dagang Belanda di Sungai Aur pada 1811.
Di atas bekas reruntuhan keraton tersebut, pemerintah kolonial Belanda membangun gedung baru yang dikenal dengan nama Gedung Siput, dan selesai sekitar 1824-1825. Bangunan ini kemudian difungsikan sebagai kantor Residen Belanda untuk wilayah Sumatera Selatan.
Bangunan ini mengalami sejumlah renovasi dan perubahan fungsi sepanjang sejarahnya, termasuk sebagai pusat pemerintahan kolonial pada 1920, markas militer pada masa pendudukan Jepang, serta markas besar Komando Daerah Militer (Kodam) II Sriwijaya setelah kemerdekaan Indonesia. Kemudian, bangunan ini secara resmi dialihfungsikan menjadi museum oleh Pemerintah Kota Palembang pada 1984 dan pengukuhan status sebagai museum kota pada 2006.
Adapun pengumpulan koleksi untuk museum ini dilaporkan telah dimulai sejak 1984, ketika sebuah rumah bari (rumah limas otentik) dipindahkan ke lokasi baru yang kini menjadi Museum Balaputradewa. Selanjutnya, sebagian koleksi yang sebelumnya tersimpan di rumah tersebut kemudian dipindahkan ke Museum SMB II.
Baca juga: Jembatan Ampera, Ikon Sejarah dan Wisata Palembang
Arsitektur Bangunan
Museum SMB II menempati bangunan bergaya arsitektur kolonial dengan atap rumah limas, rumah tradisional khas Palembang, sebagai adaptasi lokal dari desain Eropa yang dibawa pemerintah kolonial Belanda. Bangunan ini terdiri atas dua lantai dengan dimensi yang dilaporkan berukuran panjang sekitar 32 meter, lebar sekitar 22 meter, dan tinggi sekitar 17 meter. Lantai pertama berfungsi sebagai area pembelian tiket dan pusat informasi, sementara ruang pamer utama tersebar di kedua lantai bangunan.
Koleksi dan Daya Tarik
Museum ini menyimpan koleksi yang mencerminkan sejarah dan budaya Palembang lintas periode, mulai dari era Kerajaan Sriwijaya, masa Kesultanan Palembang Darussalam, hingga periode kolonial. Koleksi utama mencakup tekstil khas Sumatera Selatan, seperti kain songket, senjata tradisional, pakaian adat, kerajinan tangan, koin kuno, serta prasasti, termasuk replika Prasasti Talang Tuo yang merupakan peninggalan era Sriwijaya.
Terdapat pula ruang khusus yang menampilkan silsilah para sultan, potret raja-raja terdahulu, serta benda-benda peninggalan istana Kesultanan Palembang. Di area taman museum, tersimpan sejumlah artefak dari era Sriwijaya, seperti arca Ganesha dan Buddha.
Lokasi dan Akses
Museum SMB II beralamat di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin, Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Lokasinya berada di tepi Sungai Musi, berdekatan dengan Benteng Kuto Besak dan menghadap ke Jembatan Ampera, salah satu ikon utama Kota Palembang.
Akses Melalui Jalur Udara
Wisatawan dari luar kota atau luar negeri dapat menggunakan penerbangan menuju Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Dari bandara, museum dapat dijangkau menggunakan taksi atau transportasi daring dengan jarak tempuh sekitar 10 kilometer, dan memakan waktu sekitar 20 menit.
Akses Melalui Jalur Darat
Museum dapat diakses dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum, seperti bus kota, angkutan kota, atau ojek. Area parkir tersedia di sekitar lokasi museum, meskipun pada jam-jam ramai atau saat berlangsung acara besar, ketersediaan tempat parkir dapat terbatas.
Fasilitas
Museum SMB II dilengkapi dengan sejumlah fasilitas penunjang kunjungan, di antaranya ruang pameran yang menampilkan artefak bersejarah dan benda peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, ruang audio-visual untuk pemutaran film dokumenter mengenai sejarah Palembang, serta toko suvenir yang menjual produk khas Palembang seperti kain songket dan cendera mata. Ada pula kafe untuk bersantai sambil menikmati hidangan ringan, serta ruang edukasi yang digunakan untuk kegiatan, seperti lokakarya, seminar, dan diskusi.
Harga Tiket Masuk
Saat ini, tarif tiket masuk Museum SMB II tergolong terjangkau, yaitu sekitar Rp 1.000 untuk pelajar, Rp 2.000 untuk mahasiswa, Rp 5.000 untuk pengunjung umum, dan Rp20.000 untuk wisatawan mancanegara. Namun, mengingat kemungkinan perubahan kebijakan tarif oleh pengelola, calon pengunjung disarankan mengonfirmasi harga tiket terbaru langsung ke pihak pengelola museum sebelum berkunjung.
Jam Operasional
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II beroperasi setiap hari Selasa hingga Minggu, dengan jam operasional pukul 08.00-15.30 WIB saat weekdays, dan pukul 09.00-14.30 WIB saat weekend atau libur nasional. Museum ini tutup pada hari Senin, sehingga pengunjung diharapkan memperhatikan waktu kunjungan mereka.
Sementara itu, Museum SMB II berada dalam satu kawasan dengan sejumlah destinasi bersejarah lain di Palembang, termasuk Benteng Kuto Besak, Jembatan Ampera, dan Pasar 16 Ilir, sehingga sering dikunjungi bersamaan dalam satu rangkaian wisata sejarah kota. Sultan Mahmud Badaruddin II sendiri, tokoh yang menjadi nama museum ini, lahir di Palembang pada 23 November 1767 dengan nama kecil Raden Hasan Pangeran Ratu, dan naik takhta sebagai Sultan Palembang pada 12 April 1804 menggantikan ayahnya, Sultan Muhammad Bahauddin.
Selama masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin perlawanan terhadap Inggris dan Belanda, salah satunya dikenal sebagai Perang Menteng pada 1819. Sultan Mahmud Badaruddin II wafat dalam pengasingan di Ternate pada 26 September 1852, setelah ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda pascajatuhnya Kesultanan Palembang pada 1821.
Gambar Sultan Mahmud Badaruddin II juga pernah dicetak pada uang kertas pecahan Rp 10.000 keluaran Bank Indonesia tahun 2005, yang beredar sebelum digantikan oleh edisi bergambar Frans Kaisiepo pada 2022.
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi salah satu destinasi wisata edukasi di Palembang yang menarik untuk mengenal lebih dekat sejarah dan budaya Sumatera Selatan. Setelah mengunjungi museum, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menjelajahi berbagai destinasi wisata dan kuliner khas Palembang. Manfaatkan AI Plan Your Trip untuk menyusun itinerary sesuai durasi dan preferensi perjalanan. Informasi mengenai lokasi, akses, waktu terbaik berkunjung, hingga rekomendasi destinasi menarik di Palembang juga dapat ditanyakan kepada Maia, sehingga perjalanan Anda semakin mudah, nyaman, dan berkesan.
Referensi:
- https://regional.kompas.com/read/2022/03/08/180000478/biografi-sultan-mahmud-badaruddin-ii-dan-perjuangannya-cegah-penjajah?page=all
- https://budaya-indonesia.org/Museum-Sultan-Mahmud-Badaruddin-II-Palembang
- https://www.detiksumsel.com/kuliner-wisata/9749067587/mengulik-sejarah-bangunan-museum-sultan-mahmud-badaruddin-ii-pernah-menjadi-markas-militer