MaiA ai-icon

Informasi

Huma Betang: Rumah Adat Dayak Kalimantan Tengah dan Filosofinya

Image Contributor: Nuri yanto nugroho/Shutterstock

Huma Betang merupakan salah satu bentuk rumah tradisional masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, terutama dikenal dalam kebudayaan Dayak Ngaju. Huma Betang berbentuk rumah panggung memanjang dan secara tradisional dapat dihuni oleh sejumlah keluarga dalam satu komunitas. Dalam konteks kebudayaan, bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sosial, musyawarah, kegiatan adat, dan hubungan kekerabatan.

Sumber Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat bahwa Huma Betang khas Dayak Ngaju dapat memiliki panjang sekitar 30–150 meter, lebar 10–30 meter, dan lantai yang berada sekitar 3–5 meter di atas permukaan tanah. Kapasitas hunian pada bentuk tradisional tertentu dapat mencapai sekitar 100–150 orang. Ukuran dan konstruksi tersebut tidak dapat diterapkan secara seragam pada seluruh rumah betang karena terdapat variasi berdasarkan wilayah, komunitas, dan periode pembangunannya.

Huma Betang merupakan bagian dari tradisi rumah panjang yang terdapat di berbagai kelompok Dayak di Kalimantan. Istilah dan bentuk rumah panjang berbeda-beda menurut wilayah. Di Kalimantan Tengah, istilah betang atau huma betang banyak digunakan, sementara kelompok Dayak di wilayah lain memiliki istilah lokal yang berbeda.

Baca Juga: 6 Resto yang Tawarkan Kekhasan Menu di Kalimantan Tengah

Sejarah dan Perkembangan Huma Betang

Rumah komunal masyarakat Dayak

Rumah betang berkembang sebagai bentuk permukiman komunal masyarakat Dayak pada masa ketika kehidupan masyarakat banyak berpusat pada komunitas dan hubungan kekerabatan. Rumah panjang memungkinkan sejumlah keluarga tinggal dalam satu bangunan dengan ruang privat dan ruang bersama.

Konstruksi panggung juga berkaitan dengan kondisi lingkungan Kalimantan. Bangunan yang ditinggikan dari permukaan tanah memberikan ruang antara lantai dan tanah serta membantu menyesuaikan hunian dengan kondisi lingkungan setempat. Namun, fungsi teknis rumah panggung dapat berbeda pada setiap lokasi sehingga tidak tepat jika seluruh Huma Betang hanya dijelaskan sebagai bangunan untuk mencegah banjir atau gangguan satwa.

Dalam perkembangannya, pola hunian masyarakat mengalami perubahan. Rumah tunggal dan permukiman modern semakin banyak digunakan, sementara sebagian rumah betang lama dipertahankan sebagai situs budaya, tempat kegiatan masyarakat, atau objek pendidikan dan pariwisata.

Salah satu contoh penting adalah Rumah Betang Tumbang Gagu di Kabupaten Kotawaringin Timur. Data resmi kebudayaan mencatat bangunan tersebut mulai dibangun pada 1870 dan selesai serta ditempati pada 1878. Rumah Betang Tumbang Gagu kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten/kota pada 2019.

Daya Tarik dan Ciri Khas Huma Betang

Arsitektur rumah panggung memanjang

Ciri utama Huma Betang adalah bentuk bangunan yang memanjang dengan struktur panggung. Kayu menjadi material penting dalam konstruksi tradisional. Sumber Badan Bahasa mencatat penggunaan kayu ulin pada Huma Betang Dayak Ngaju karena karakter materialnya yang kuat dan tahan lama. Atap tradisionalnya menggunakan bentuk pelana memanjang dan pada beberapa bentuk terdapat konstruksi atap tambahan di bagian tengah.

Ketinggian bangunan, panjang, lebar, jumlah ruangan, serta bentuk tangga dapat berbeda antara satu betang dan lainnya. Karena itu, karakteristik arsitektur sebaiknya dipahami berdasarkan contoh bangunan dan komunitas yang bersangkutan.

Tata ruang dan kehidupan komunal

Salah satu karakter penting Huma Betang adalah pembagian antara ruang yang digunakan keluarga secara individual dan ruang yang digunakan bersama. Rumah panjang memungkinkan kehidupan domestik berlangsung berdampingan dengan aktivitas sosial komunitas.

Dalam konteks tradisional, ruang bersama dapat digunakan untuk pertemuan, pembahasan persoalan masyarakat, kegiatan adat, maupun interaksi antarkeluarga. Dengan demikian, arsitektur Huma Betang memiliki hubungan erat dengan pola kehidupan komunal.

Ornamen dan identitas budaya

Ornamen pada rumah betang dapat memperlihatkan unsur simbolik yang berkaitan dengan kebudayaan Dayak. Bentuk dan penggunaannya berbeda berdasarkan kelompok masyarakat dan konteks bangunan. Karena itu, interpretasi setiap motif tidak dapat digeneralisasi sebagai simbol universal seluruh masyarakat Dayak.

Makna dan Filosofi Huma Betang

Kebersamaan dan kesetaraan

Huma Betang sering dipahami sebagai representasi kehidupan bersama. Sejumlah penelitian mengenai Huma Betang Dayak di Kalimantan Tengah mengidentifikasi nilai kebersamaan, kejujuran, kesetaraan, dan toleransi sebagai unsur penting dalam falsafah kehidupan yang diasosiasikan dengan budaya betang.

Nilai tersebut berkaitan dengan pola hidup masyarakat yang menempatkan kepentingan komunitas dan hubungan antarmanusia sebagai bagian penting kehidupan sosial.

Belom Bahadat

Dalam konteks Kalimantan Tengah, konsep Huma Betang juga berkaitan dengan falsafah Belom Bahadat. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 16 Tahun 2008 menjelaskan budaya Huma Betang atau Belom Bahadat sebagai perilaku hidup yang menjunjung kejujuran, kesetaraan, kebersamaan, toleransi, serta kepatuhan terhadap hukum negara, hukum adat, dan hukum alam.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan Belom Penyang Hinje Simpei, yang menggambarkan kehidupan yang berdampingan secara rukun dan damai untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian, makna Huma Betang dalam konteks modern tidak hanya berkaitan dengan bentuk arsitektur, tetapi juga dengan seperangkat nilai sosial.

Fungsi Huma Betang

Secara tradisional, Huma Betang memiliki beberapa fungsi yang saling berkaitan.

Tempat tinggal

Fungsi utamanya adalah sebagai tempat tinggal bersama sejumlah keluarga atau kelompok kekerabatan. Pola tersebut membentuk lingkungan hunian dengan interaksi sosial yang intensif.

Pusat kegiatan masyarakat

Ruang bersama dapat digunakan untuk musyawarah, kegiatan sosial, dan aktivitas adat. Fungsi ini menunjukkan bahwa rumah betang memiliki kedudukan yang lebih luas daripada hunian individual.

Simbol identitas budaya

Saat ini, Huma Betang juga berfungsi sebagai simbol identitas budaya Dayak di Kalimantan Tengah. Pemerintah daerah menggunakan konsep Huma Betang dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan pelestarian identitas lokal. Pada Juli 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bahkan memulai pembangunan Huma Betang di Palangka Raya yang dirancang sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Dayak.

Huma Betang sebagai Warisan Budaya

Pelestarian Huma Betang dilakukan melalui pemeliharaan bangunan lama, dokumentasi, penelitian, pendidikan budaya, dan pengembangan kawasan budaya. Beberapa bangunan betang telah menjadi objek cagar budaya, termasuk Rumah Betang Tumbang Gagu.

Bagi pengunjung, rumah betang dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai arsitektur tradisional, struktur sosial, sejarah komunitas, dan nilai budaya masyarakat Dayak. Namun, kunjungan ke rumah betang yang masih digunakan masyarakat perlu memperhatikan aturan lokal dan menghormati fungsi sosial maupun adat bangunan tersebut.

Tips Mengunjungi Rumah Betang

Pengunjung yang ingin melihat Huma Betang sebaiknya mencari informasi mengenai status bangunan terlebih dahulu, karena tidak semua rumah betang merupakan objek wisata dengan fasilitas dan jam operasional seperti destinasi komersial.

Apabila rumah betang berada di lingkungan masyarakat, pengunjung perlu menjaga etika dengan tidak memasuki ruang tertentu tanpa izin, tidak menyentuh benda adat sembarangan, serta mengikuti arahan pengelola atau masyarakat setempat. Dokumentasi foto dan video juga sebaiknya dilakukan setelah memperoleh izin jika terdapat aturan khusus.

AI Plan Your Trip dan MaiA

Perjalanan untuk mengenal Huma Betang dapat direncanakan melalui fitur AI Plan Your Trip, yang membantu menyusun itinerary berdasarkan durasi perjalanan, minat, dan preferensi wisata.

Sementara itu, Maia dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai perjalanan, memberikan rekomendasi destinasi di Kalimantan Tengah, serta membantu memperoleh tips dan informasi perjalanan yang relevan.

 

Referensi

  1. https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/resource/doc/files/50._Isi_dan_Sampul_Mengenal_Rumah_Tradisonal_Kalimantan.pdf
  2. https://www.diskominfo.kalteng.go.id/berita/read/41424/gubernur-kalteng-resmikan-pembangunan-huma-betang-sebagai-pusat-pelestarian-budaya-dayak 
  3. https://stakpnsentani.ac.id/2021/05/11/huma-betang-falsafah-suku-dayak-di-kalimantan-tengah/
  4. hipwee.com/narasi/rumah-betang-rumah-adat-suku-dayak-bernilai-filosofis/

INSIGHT

Ide Perjalanan

10 Peninggalan Kesultanan Banten dan Sejarah di Baliknya

10 Peninggalan Kesultanan Banten dan Sejarah di Baliknya

11 Peninggalan Kerajaan Kediri, Ada Candi hingga Prasasti

11 Peninggalan Kerajaan Kediri, Ada Candi hingga Prasasti

Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Hindu Budha di Indonesia

Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Hindu Budha di Indonesia