Rumah adat Bubungan Tinggi adalah rumah tradisional khas suku Banjar dari Provinsi Kalimantan Selatan.
Bangunan khas suku Banjar ini dikenal karena arsitekturnya yang unik serta merepresentasikan kehidupan suku tersebut.
Apa Itu Rumah Adat Bubungan Tinggi?
Nama “Bubungan Tinggi” mengacu pada bentuk atap rumah yang menjulang tinggi dan curam sehingga menjadi ciri pembeda bangunan ini dari jenis rumah adat lainnya.
Dalam sejarahnya, rumah adat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja.
Rumah adat ini juga turut menjadi simbol status sosial pemilik rumah, pusat kegiatan adat, hingga lambang kekuasaan kesultanan Banjar saat itu.
Dahulu, tipe rumah ini umumnya dihuni oleh keluarga bangsawan, pejabat kesultanan, atau kalangan elit di masyarakat suku Banjar.
Sejarah Rumah Adat Bubungan Tinggi
Dari segi sejarah, rumah adat Bubungan Tinggi berkembang beriringan dengan berdirinya Kesultanan Banjar pada abad ke-16.
Bentuk bangunannya yang tidak menapak langsung pada tanah dipengaruhi oleh kondisi geografis Kalimantan Selatan yang didominasi sungai, rawa, dan dataran rendah.
Oleh karena itu, rumah adat ini dibangun dengan konsep panggung untuk mengurangi risiko banjir, mencegah masuknya binatang liar ke dalam bangunan, menjaga lantai tetap lembap, serta meningkatkan sirkulasi udara.
Ciri Khas Rumah Bubungan Tinggi
Salah satu ciri khas yang paling mencolok dari rumah adat ini adalah bentuk atapnya yang berbentuk segitiga dengan sudut curam.
Desain sudut atap yang tinggi curam ini berfungsi untuk memperlancar aliran air hujan karena tingginya curah hujan di daerah Kalimantan Selatan.
Konsepnya yang berbentuk rumah panggung membuat bangunan ini berdiri di atas tiang kayu setinggi 1,5 hingga 2 meter.
Adapun kayunya dibuat dari kayu lokal khas Kalimantan, yaitu kayu ulin, yang terkenal awet karena memiliki ketahanan tinggi terhadap rayap dan cuaca ekstrem.
Biasanya, tata ruang di rumah Bubungan Tinggi adalah sebagai berikut:
- Palidangan: Ruang utama yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari keluarga.
- Pamedangan: Ruang depan yang berfungsi untuk menerima tamu.
- Panampik: Ruang di bagian belakang rumah yang berfungsi sebagai dapur atau tempat penyimpanan barang.
- Tajau: Kolong rumah yang digunakan untuk menyimpan hasil pertanian atau barang-barang rumah tangga lainnya.
Baca Juga: Rumah Palimasan
Motif dan ornamen rumah
Biasanya, rumah adat Bubungan Tinggi dihias ukiran kayu dengan motif flora, sulur tanaman, dan pola geometris yang menjadi ciri khas seni ukir suku Banjar.
Ornamen tersebut biasanya ditempatkan pada dinding, tiang, pintu, ventilasi, hingga atap.
Warna yang digunakan juga biasanya menggunakan warna alami kayu, meski beberapa rumah akan menambahkan warna putih, kuning, atau hijau.
Adapun warna-warna tersebut memiliki kaitan erat dengan tradisi Kesultanan Banjar dan budaya Islam di daerah Kalimantan Selatan.
Lokasi rumah adat Bubungan Tinggi
Rumah adat Bubungan Tinggi berasal dari Provinsi Kalimantan Selatan dan berkembang di kawasan pemukiman masyarakat Banjar yang berada di sepanjang aliran sungai.
Contoh rumah Bubungan Tinggi yang masih berdiri hingga sekarang berada di Desa Teluk Selong Ulu, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.
Bangunan tersebut saat ini menjadi cagar budaya dan diperkirakan dibangun pada abad ke-19.
Rumah ini juga menjadi salah satu objek pelestarian arsitektur tradisional Banjar.
Makna dan Filosofi Rumah Bubungan Tinggi
Rekat dengan Budaya dan Kepercayaan
Rumah adat Bubungan Tinggi mencerminkan sistem sosial masyarakat Banjar yang membagi ruang berdasarkan fungsi dan tata krama.
Ruang depan atau Pamedangan memiliki fungsi untuk menerima tamu. Sedangkan, ruang utama atau Palidangan digunakan untuk keluarga dan kegiatan adat.
Pembagian ruang ini menunjukkan sikap masyarakat Banjar yang menghargai privasi, hubungan kekerabatan, serta etika sosial.
Banyaknya rumah yang menghadap sungai juga mencerminkan pentingnya peran sungai bagi masyarakat Banjar sejak masa lampau, baik untuk transportasi, perdagangan, dan sebagainya.
Baca Juga: Bahasa Banjar
Menghargai Estetika dan Keahlian
Salah satu hal penting dalam pembangunan rumah Bubungan Tinggi adalah keahlian pertukangan kayu.
Proses pembuatan rumah ini membutuhkan keterampilan tinggi, terutama dalam penyambungan konstruksi kayu tanpa banyak menggunakan paku logam.
Rumah ini juga banyak dihias oleh ukiran kayu yang berfungsi sebagai dekorasi serta bentuk ekspresi nilai estetika, identitas budaya, serta keahlian perajin lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Beberapa ukiran kayu yang umumnya ditemukan di bangunan ini adalah dalam bentuk burung enggang dan naga.
Arsitektur dan Bahan Bangunan yang Dekat dengan Alam
Atap rumah yang menjulang tinggi dimaknai sebagai simbol kehormatan, kewibawaan, dan kedudukan pemilik rumah dalam struktur masyarakat Banjar di masa lalu.
Konsep rumah panggung juga menggambarkan kemampuan masyarakat Banjar untuk beradaptasi dengan lingkungan rawa dan sungai.
Di sisi lain, penggunaan kayu sebagai bahan utama bangunan juga menggambarkan kemampuan masyarakat Banjar dalam memanfaatkan sumber daya alam di Kalimantan Selatan untuk mendulang kehidupan mereka.
Rumah Bubungan Tinggi juga merepresentasikan keseimbangan antara fungsi praktis, nilai budaya, serta identitas masyarakat suku Banjar yang berkembang berabad-abad.
Pelestarian Rumah Adat Bubungan Tinggi
Rumah Bubungan Tinggi kini telah menjadi salah satu ikon budaya Kalimantan Selatan.
Ikon budaya ini juga turut ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dan didokumentasikan sebagai arsitektur tradisional.
Tidak hanya itu, rumah adat ini pun diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia per tahun 2015.
Rumah adat ini kini telah menjadi objek penelitian dan edukasi serta representasi identitas budaya suku Banjar dalam berbagai kegiatan kebudayaan serta pariwisata.
Jika Anda tertarik berkunjung ke Kalimantan Selatan untuk melihat rumah adat Bubungan Tinggi secara langsung, Rencanakan Perjalanan Anda di Indonesia Travel untuk menyusun itinerary sesuai dengan destinasi dan durasi liburan yang Anda mau.
Jika Anda membutuhkan rekomendasi tempat wisata, aktivitas, hingga tips perjalanan ke Kalimantan Selatan, manfaatkan juga MaiA, asisten perjalanan dari Indonesia Travel, yang siap membantu membuat pengalaman menjelajahi Indonesia menjadi lebih mudah dan berkesan.
Referensi
- https://simdapokbud.banjarkab.go.id/objek-budaya/cagar-budaya/66
- https://repositori.kemendikdasmen.go.id/28066/
- https://banhub.kalselprov.go.id/page/wg/anjungan-kalimantan-selatan/322/732_Rumah-Adat-Bubungan-Tinggi