Image Contributor: Hestamma Jagadhita/imageBROKER/Shutterstock
Banua Tada adalah rumah tradisional masyarakat Suku Wolio, kelompok etnis yang mendiami Pulau Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara, dan merupakan penduduk asli sekaligus etnis terbesar di Kota Baubau. Nama "Banua Tada" berasal dari bahasa Wolio, yaitu "banua" yang berarti rumah dan "tada" yang berarti siku, sehingga secara harfiah diartikan sebagai "rumah siku". Penamaan ini merujuk pada struktur rangka bangunan yang tersusun dari sambungan-sambungan berbentuk siku.
Sejarah dan Asal Usul
Rumah adat Banua Tada pertama kali dikenal pada masa kepemimpinan raja pertama Kerajaan Buton, Ratu Wa Kaa Kaa, yang juga dikenal dengan gelar Rajaputri. Pembangunan rumah ini pada masa itu merupakan wujud penghormatan warga adat kepada rajanya. Pada periode awal tersebut, Banua Tada masih dibangun menggunakan bahan-bahan sederhana tanpa dihiasi ornamen khusus. Setelah sistem pemerintahan Kerajaan Buton berganti menjadi Kesultanan Buton, dengan Sultan pertamanya bernama Murhum, masyarakat setempat mulai menghias Banua Tada dengan berbagai ornamen, termasuk yang mencerminkan pengaruh ajaran Islam yang dianut Kesultanan Buton.
Berdasarkan beberapa sumber, Banua Tada secara konsisten diidentifikasi sebagai rumah adat suku Wolio (Buton), bukan suku Tolaki. Suku Tolaki, yang mendiami wilayah Kabupaten Kendari dan Konawe di Sulawesi Tenggara, memiliki rumah adat tersendiri bernama Laika, yang meski memiliki sejumlah kesamaan struktural sebagai rumah panggung, berbeda dari Banua Tada, baik dari segi asal usul suku, penamaan, maupun sejumlah detail arsitekturnya.
Rumah adat Laika umumnya berbentuk persegi panjang dengan bangunan berukuran luas dan besar, dapat mencapai tiga hingga empat lantai, ditopang tiang-tiang besar setinggi sekitar enam meter dari permukaan tanah, dan bagian bawahnya kerap dimanfaatkan sebagai kandang ternak, seperti ayam dan babi.
Lokasi
Banua Tada berasal dari dan berkembang di Pulau Buton, khususnya di kawasan yang kini menjadi wilayah Kota Baubau, Kabupaten Buton, dan sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tenggara. Salah satu kawasan yang masih mempertahankan tradisi Banua Tada sebagai rumah tinggal hingga saat ini adalah wilayah Kelurahan Sulaa, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau. Masyarakat pesisir tetap mempertahankan bentuk rumah panggung ini, karena mempertimbangkan kondisi iklim dan gelombang laut yang cukup tinggi pada musim-musim tertentu.
Kawasan lain yang turut menampilkan deretan Banua Tada di tengah pemukiman lama adalah Desa Topa di Baubau, serta Desa Wisata Liya Togo di Kabupaten Wakatobi, yang menampilkan rumah-rumah Banua Tada dikelilingi benteng batu karang.
Kawasan Baubau juga dikenal dengan julukan "Negeri Seribu Benteng" dan menjadi rumah bagi Benteng Keraton Buton, kompleks benteng yang tercatat sebagai salah satu benteng terluas di dunia dan mencakup situs peninggalan Kesultanan Buton, termasuk istana Malige.
Baca juga: Keindahan Baju Adat Buton dan Filosofi di Balik Setiap Busananya
Ciri Khas dan Struktur
Banua Tada berbentuk rumah panggung yang dibangun tanpa menggunakan satu pun paku, dengan bagian-bagian bangunan disatukan melalui teknik penyambungan kayu khusus yang saling mengunci, sehingga menghasilkan struktur yang kokoh. Material utama bangunan ini adalah kayu, dengan kayu jati sebagai salah satu bahan yang umum digunakan karena kadar minyak alaminya yang membuatnya tahan terhadap rayap dan cuaca ekstrem.
Berdasarkan peruntukan dan status sosial penghuninya, Banua Tada terbagi menjadi tiga jenis utama. Pertama, Kamali atau Malige, yaitu istana tempat tinggal raja atau sultan beserta keluarganya, dengan struktur bangunan yang jauh lebih besar, umumnya terdiri atas empat lantai dan atap bersusun dua.
Kedua, Banua Tada Tare Pata Pale, yang secara harfiah berarti "rumah siku bertiang empat", merupakan tempat tinggal para pejabat atau pegawai istana, dengan ciri atap bersusun, serta dua jendela di sisi kiri dan kanan rumah. Ketiga, Banua Tada Tare Talu Pale, atau "rumah bertiang tiga", merupakan tempat tinggal masyarakat biasa, dengan tiga tiang penyangga dan bentuk atap yang simetris, menggunakan bahan papan kayu, bambu, dan rotan, dengan satu jendela pada setiap ruangan.
Secara umum, tata ruang Banua Tada terbagi menjadi tiga bagian utama pada setiap lantainya, yaitu bagian depan, tengah, dan belakang, dengan kolong rumah yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk sebagai tempat menenun bagi kaum perempuan pada saat kaum laki-laki melaut, sebagaimana tercatat pada tradisi masyarakat di Desa Topa, Baubau.
Makna dan Filosofi Budaya
Budaya dan Kepercayaan
Suku Wolio menganalogikan struktur Banua Tada dengan bagian-bagian tubuh manusia, yang secara garis besar terbagi menjadi bagian kepala (atap), tubuh (badan rumah), dan kaki (pondasi atau tiang penyangga). Konsep ini mencerminkan pandangan kosmologis masyarakat Wolio mengenai keselarasan antara struktur bangunan dengan tatanan kehidupan manusia.
Setelah masuknya pengaruh Islam melalui Kesultanan Buton, konsep arsitektur ini turut berpadu dengan ajaran tasawuf, sehingga sejumlah simbol dan ornamen pada Banua Tada, khususnya pada bangunan Kamali/Malige, merepresentasikan perpaduan antara adat lokal dan nilai-nilai keislaman.
Seni dan Kerajinan
Ornamen pada Banua Tada umumnya mengandung ukiran bermotif yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Buton, termasuk elemen yang dipengaruhi oleh kaligrafi maupun simbol-simbol bernuansa Islami, sebagai penanda eksistensi sejarah panjang Islam di wilayah Buton. Pada perkembangan kontemporer, sejumlah komunitas turut memperkaya nilai estetika Banua Tada, seperti yang terlihat pada Banua Tada di Desa Topa yang dicat warna-warni dan dilukis dengan motif menyerupai corak kain tenun khas kampung tersebut, menjadikan kerajinan tenun lokal sebagai identitas visual yang menyatu dengan arsitektur bangunan.
Sementara itu, Kesultanan Buton, tempat asal tradisi Banua Tada berkembang, meninggalkan sejumlah warisan arsitektur dan situs budaya lain di Kota Baubau, termasuk Benteng Keraton Buton yang tercatat sebagai situs warisan budaya. Ada pula Museum Daerah Buton yang menyimpan koleksi artefak terkait sejarah dan kebudayaan masyarakat Buton.
Sejumlah kawasan yang masih mempertahankan Banua Tada sebagai bangunan hunian aktif kini turut berfungsi sebagai destinasi wisata budaya, memperkenalkan arsitektur vernakular khas Sulawesi Tenggara kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Provinsi Sulawesi Tenggara sendiri turut memiliki sejumlah rumah adat lain yang merepresentasikan kelompok etnis berbeda, di antaranya rumah adat Laika dari Suku Tolaki dan rumah adat Mekongga yang dikenal dengan struktur bangunan yang tinggi menjulang.
Saat ini, Rumah Adat Banua Tada merupakan salah satu warisan budaya yang mencerminkan kekayaan arsitektur tradisional dan kehidupan masyarakat Buton di Sulawesi Tenggara. Mengenal rumah adat ini dapat menjadi cara untuk memahami lebih jauh sejarah, budaya, dan tradisi masyarakat Buton. Jika Anda ingin menjelajahi berbagai destinasi budaya di Sulawesi Tenggara, manfaatkan AI Plan Your Trip untuk menyusun itinerary sesuai durasi dan preferensi perjalanan. Informasi mengenai lokasi, akses, waktu terbaik berkunjung, hingga rekomendasi destinasi lainnya juga dapat ditanyakan kepada Maia, sehingga perjalanan Anda semakin mudah, nyaman, dan berkesan.
Referensi:
- https://regional.kompas.com/read/2022/03/20/200023178/mengenal-rumah-banua-tada-di-sulawesi-tenggara-keunikan-bentuk-dan-bahan?page=all
- https://tirto.id/ciri-khas-dan-keunikan-banua-tada-rumah-adat-sulawesi-tenggara-gqfK
- https://www.detik.com/sulsel/budaya/d-6529041/4-rumah-adat-sulawesi-tenggara-dan-keunikan-arsitekturnya
- https://budaya-indonesia.org/Rumah-Adat-Banua-Tada-Rumah-Siku
- https://www.gramedia.com/best-seller/rumah-adat-sulawesi-tenggara/