MaiA ai-icon

Informasi

Sagu Lempeng: Makanan Pokok Tradisional Masyarakat Papua dan Maluku

Image Contributor: HMBI adris toronge/imageBROKER/Shutterstock 

Bicara soalnya kuliner Indonesia memang tak ada habisnya, seperti makanan khas Papua ini, yaitu Sagu Lempeng. Makanan tradisional ini terbuat dari tepung sagu yang dicetak tipis, kemudian dipanggang hingga kering dan renyah.

Sagu lempeng dikenal luas di wilayah Indonesia timur yang kaya akan pohon sagu, khususnya Papua dan Maluku, serta sebagian wilayah Sulawesi. Sagu lempeng termasuk salah satu bentuk olahan tepung sagu yang paling umum, selain papeda, bubur kental berbahan dasar sagu yang juga dikonsumsi luas di kawasan yang sama.

Bahan Dasar Sagu Lempeng

Sagu lempeng dibuat dari tepung sagu yang diekstraksi dari inti batang pohon sagu (Metroxylon sagu), tumbuhan asli hutan rawa Kepulauan Maluku dan Papua, yang kemudian menyebar dan dibudidayakan di berbagai wilayah Asia Tenggara. Selain Metroxylon sagu, dikenal pula spesies Metroxylon rumphii yang tumbuh di sejumlah wilayah Indonesia.

Proses pengolahan tradisional meliputi penebangan batang pohon, pemarutan atau penokokan bagian empulur menggunakan alat batu, pencucian, penyaringan, dan pengendapan untuk memisahkan pati dari serat kasar. Pati yang mengendap kemudian dikeringkan menjadi tepung sagu, bahan dasar berbagai olahan pangan di Indonesia timur, termasuk papeda dan sagu lempeng.

Adonan tepung sagu untuk membuat lempeng umumnya dicampur dengan air dan sedikit garam, kemudian dicetak tipis menggunakan cetakan tanah liat atau besi sebelum dipanggang.

Sejarah dan Bukti Arkeologis

Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa praktik pengolahan sagu di Papua telah berlangsung sejak masa prasejarah, dengan sejumlah kajian menyebutkan bukti konsumsi sagu di Papua telah ada sejak puluhan ribu tahun lalu. Temuan gerabah di sejumlah situs hunian prasejarah pesisir Papua, termasuk kawasan Danau Sentani, Situs Mosandurei di Nabire, Situs Gua Andarewa di Fakfak, Situs Gua Karas di Kaimana, serta Kepulauan Raja Ampat, mengindikasikan aktivitas pengolahan sagu yang telah berlangsung lama.

Salah satu artefak penting adalah forna, yaitu tungku tanah liat berbilik enam hingga delapan yang digunakan untuk memanggang tepung sagu menjadi lempengan. Forna dibuat dari campuran tanah liat dan pasir kuarsa kasar, menggunakan teknik lempeng yang dipadukan dengan teknik pijat. Terdapat juga jejak pembuatan berupa permukaan tidak rata dan bekas jari tangan pengrajin.

Artefak forna yang ditemukan di Situs Mosandurei menunjukkan bahwa pengolahan sagu menjadi bentuk panggang, bukan sekadar bubur, telah dikenal sejak masa lampau. Selain forna, artefak gerabah lain yang berkaitan dengan pengolahan sagu meliputi tempayan untuk menyimpan air dan pati sagu, serta periuk berdinding tipis untuk merebus air dalam pembuatan papeda.

Ketahanan dan Fungsi Pangan

Sagu lempeng memiliki kadar air rendah akibat proses pemanggangan, sehingga dapat disimpan dalam waktu lama tanpa mengalami kerusakan atau pertumbuhan mikroba. Karakteristik ini menjadikan sagu lempeng sebagai bahan pangan cadangan, serta bekal perjalanan bagi masyarakat di wilayah pesisir dan pedalaman Papua. Secara nutrisi, sagu lempeng mengandung karbohidrat dan serat sebagai sumber energi.

Baca juga: Rumah Makan di Papua yang Istimewa

Lokasi dan Persebaran

Sagu lempeng ditemukan di berbagai wilayah Papua serta Kepulauan Maluku, dengan variasi pengolahan yang berbeda antarkelompok etnis. Sagu tersebar luas di kawasan pesisir selatan Papua hingga area hutan bakau dan pedalaman sungai.

Di kalangan etnis Asmat, sagu menjadi makanan pokok utama, mengingat pohonnya tumbuh lebat di wilayah hulu sungai tempat mereka bermukim. Etnis Sentani di sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, juga mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok bersama umbi keladi.

Di Sorong Selatan, khususnya wilayah Inanwatan, masyarakat mengolah sagu menjadi papeda, sagu lempeng, dan sagu gula. Data arkeologis menunjukkan gerabah pengolah sagu ditemukan di situs-situs pesisir Papua, seperti Fakfak, Nabire, Kaimana, dan Raja Ampat, namun tidak ditemukan di kawasan pegunungan tengah maupun pesisir selatan Papua, yang mengindikasikan perbedaan pola pengolahan pangan antarwilayah geografis.

Makna dan Filosofi

Budaya dan Kepercayaan

Bagi masyarakat Papua, sagu bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga bagian dari sistem pengetahuan dan kepercayaan lokal. Tanaman sagu berfungsi sebagai penanda identitas kelompok etnis, penentu batas wilayah adat, serta memiliki peran dalam berbagai aktivitas adat.

Pada masyarakat etnis Marori di Merauke, sagu dijadikan totem atau simbol leluhur kelompok. Etnis Sentani mengenal sagu jenis phara sebagai bagian dari hantaran adat pernikahan, yaitu sagu yang dibawa oleh pihak keluarga perempuan sebagai pasangan dari mas kawin berupa hewan ternak yang dibawa pihak laki-laki.

Sejumlah kelompok etnis di Papua juga meyakini aturan adat mengenai pemanfaatan hutan sagu, seperti larangan menebang pohon sagu secara berlebihan, sebagaimana dianut etnis Sentani yang mewariskan pesan leluhur untuk menebang sagu secukupnya.

Peran dalam Ritual dan Upacara Adat

Sagu, termasuk olahan sagu lempeng, digunakan dalam berbagai upacara adat di Papua. Pada masyarakat Kamoro, terdapat ritual makanan yang disiapkan untuk upacara inisiasi anak laki-laki, terdiri atas kerang atau ulat sagu yang dicampur dengan sagu dan dipanggang dalam bungkusan daun sagu berukuran panjang.

Di Maluku, sagu lempeng turut disajikan dalam acara adat, perayaan, maupun sebagai bekal perjalanan, mengingat sifatnya yang tahan lama dan mudah dibawa.

Seni dan Kerajinan

Aktivitas pengolahan sagu turut mempengaruhi perkembangan kerajinan gerabah tradisional di Papua, khususnya di kawasan Danau Sentani. Tradisi gerabah Abar, yang diproduksi oleh pengrajin di kampung Abar, Sentani, mencakup pembuatan forna atau tungku panggang sagu sebagai salah satu produk kerajinan tanah liat yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain forna, masyarakat pesisir Papua pada masa lampau juga membuat tempayan dan periuk tanah liat untuk menyimpan dan mengolah pati sagu, yang menjadi bagian dari tradisi kerajinan gerabah lokal.

Karakteristik Rasa dan Tekstur

Sagu lempeng memiliki rasa netral dengan tekstur yang bervariasi tergantung metode pengolahan, mulai dari kenyal hingga keras dan renyah setelah dipanggang kering. Karena rasanya yang tidak dominan, sagu lempeng umumnya dikonsumsi bersama bahan pelengkap, seperti ikan bakar, sambal, kelapa parut, gula merah, atau kacang. Di beberapa daerah, sagu lempeng yang keras direndam dalam air, atau dicelupkan ke dalam teh maupun kopi hangat sebelum dikonsumsi agar teksturnya melunak.

Variasi Penyebutan dan Bentuk Olahan Sagu

Selain disebut sagu lempeng, olahan ini juga dikenal dengan sebutan berbeda di sejumlah daerah, seperti "papeda lempeng" atau "sagu lempeng bakar" di wilayah Maluku. Warna kecokelatan hingga kemerahan pada sagu lempeng, yang dihasilkan dari proses pemanggangan, disebut sebagai porna dalam sejumlah komunitas di Papua.

Selain diolah menjadi lempengan panggang, tepung sagu di Indonesia juga dimanfaatkan dalam berbagai produk pangan lain, seperti bagea, mutiara sagu, biskuit, kerupuk, dan bihun.

Sebagai salah satu kuliner tradisional khas Papua, sagu lempeng mencerminkan kekayaan pangan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik tampilannya yang sederhana, makanan ini menyimpan cerita tentang budaya, kearifan masyarakat, serta pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan utama yang tetap lestari hingga kini.

Tertarik mengenal lebih dekat keunikan sagu lempeng dan beragam hidangan khas dari berbagai penjuru Indonesia? Manfaatkan fitur AI Plan Your Trip untuk menyusun perjalanan sesuai minat Anda, lalu temukan rekomendasi tempat wisata, kuliner, hingga makanan khas melalui fitur MaiA. Dengan begitu, menjelajahi kekayaan cita rasa Nusantara bisa menjadi pengalaman yang lebih mudah, menyenangkan, dan penuh inspirasi.

 

Referensi:

https://mongabay.co.id/2023/07/11/jadi-bagian-budaya-orang-papua-konsumsi-sagu-sejak-50-ribu-tahun-lalu/

https://budaya-indonesia.org/Sagu-Lempeng

https://sentani-airport.co.id/en/culinary/index/sagu-lempeng

https://borobudurwriters.id/catatan-arkeolog-hari-suroto-tentang-papua/budaya-sagu-papua/

INSIGHT

Ide Perjalanan

Triton: Alat Musik dan Sarana Komunikasi Khas Papua Pegunungan, Kenali Bahan dan Cara Memainkannya

Triton: Alat Musik dan Sarana Komunikasi Khas Papua Pegunungan, Kenali Bahan dan Cara Memainkannya

Masjid Agung Al Aqsha Sentani: Pusat Keagamaan di Kabupaten Jayapura

Masjid Agung Al Aqsha Sentani: Pusat Keagamaan di Kabupaten Jayapura

Kue Bagea Sagu

Kue Bagea Sagu