Image Contributor: Shutterstock/Aji Mael
Lemang adalah makanan tradisional berbahan beras ketan yang dimasak bersama santan dan garam di dalam batang bambu.
Di Indonesia, lemang dikenal di berbagai wilayah Sumatra, Kalimantan, dan beberapa daerah lainnya. Makanan ini juga ditemukan dalam tradisi masyarakat Melayu di negara-negara Asia Tenggara.
Karena persebarannya yang luas, lemang lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi pangan masyarakat Melayu dan Asia Tenggara daripada sebagai makanan yang secara eksklusif berasal dari satu daerah.
Sejarah dan Asal-usul Lemang
Sejatinya, teknik memasak beras atau beras ketan di dalam bambu pada sajian lemang diperkirakan telah dikenal oleh masyarakat di kawasan Asia Tenggara sejak masa awal perkembangan masyarakat Austronesia.
Teknik tersebut memanfaatkan bambu sebagai wadah memasak dan api terbuka sebagai sumber panas, sehingga sangat bergantung pada bahan alam yang tersedia di lingkungan tempat masyarakat tinggal.
Lemang kemudian berkembang sebagai bagian dari tradisi pangan masyarakat Melayu. Di Indonesia, keberadaannya ditemukan di berbagai wilayah, terutama Sumatra dan Kalimantan, serta beberapa daerah lain.
Bentuknya dapat berbeda menurut kelompok masyarakat, tetapi prinsip pembuatannya tetap serupa, yaitu beras ketan dimasak di dalam bambu yang dilapisi daun pisang.
Jejak Tradisi Pangan Melayu di Nusantara
Persebaran lemang berkaitan dengan luasnya perkembangan budaya Melayu di kawasan Nusantara. Masyarakat Melayu secara historis berkembang di wilayah pesisir dan jalur sungai Sumatra, Kalimantan, serta Semenanjung Malaya.
Bersamaan dengan perpindahan penduduk dan hubungan perdagangan antardaerah, berbagai unsur kebudayaan, termasuk makanan, ikut menyebar dan mengalami penyesuaian dengan tradisi lokal.
Lemang dalam Tradisi Minangkabau
Di Sumatra Barat terdapat cerita turun-temurun mengenai awal dikenalnya teknik memasak lamang di kalangan masyarakat Minangkabau.
Menurut kepercayaan masyarakat Minang, khususnya di wilayah Pariaman, teknik tersebut diperkenalkan oleh Syekh Burhanuddin, ulama yang berperan dalam penyebaran Islam di Minangkabau.
Dalam kisah tersebut, Syekh Burhanuddin mengajarkan cara memasak beras menggunakan bambu yang bagian dalamnya dilapisi daun pisang.
Beras ketan dan santan dimasukkan ke dalam bambu, kemudian bambu diletakkan di dekat api hingga matang. Cara tersebut kemudian ditiru masyarakat dan berkembang menjadi kegiatan malamang, yaitu membuat lamang secara bersama-sama.
Dari Makanan Tradisional Menjadi Tradisi Komunal
Perkembangan lemang di Indonesia juga melahirkan tradisi sosial. Proses memasak lemang secara tradisional membutuhkan beberapa orang untuk menyiapkan bambu, beras ketan, santan, dan kayu bakar, kemudian mengawasi bambu selama proses pemasakan.
Di sejumlah daerah, kegiatan tersebut dilakukan bersama keluarga atau masyarakat. Tradisi malamang di Minangkabau, misalnya, berkembang sebagai kegiatan yang dilakukan menjelang perayaan keagamaan dan berbagai acara adat. Di daerah lain, lemang juga kerap disajikan dalam kegiatan sosial dan upacara tradisional.
Karakteristik dan Cara Membuat Lemang
Bahan dasar lemang umumnya terdiri atas beras ketan, santan, dan garam. Bambu yang digunakan perlu memiliki rongga yang sesuai untuk menampung bahan makanan.
Bagian dalam bambu dilapisi daun pisang sebelum beras ketan dan santan dimasukkan.
Bambu kemudian ditempatkan secara miring di dekat sumber api. Selama proses pemasakan, bambu diputar secara berkala agar panas tidak hanya mengenai satu sisi.
Penggunaan bambu dan api terbuka memberikan karakter tersendiri pada proses pengolahan lemang. Setelah matang, lemang dikeluarkan dari bambu dan dipotong menjadi beberapa bagian sebelum disajikan.
Baca Juga: Makanan Khas Suku Minangkabau, Ada Rendang sampai Dadiah
Lokasi dan Persebaran Lemang
Lemang ditemukan di berbagai wilayah Indonesia dan memiliki nama maupun variasi yang berbeda sesuai lingkungan budaya masyarakatnya.
Sumatra Barat
Sumatra Barat merupakan salah satu wilayah yang memiliki tradisi lamang paling kuat. Lamang tapai menjadi salah satu bentuk kuliner tradisional yang digunakan dalam berbagai kegiatan sosial dan upacara.
Sumatra Selatan
Di Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, tradisi melemang berkembang sebagai kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan bulan Muharam. Tradisi tersebut melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan dan pembagian makanan.
Wilayah Indonesia Lainnya
Lemang juga tersebar di sejumlah wilayah lainnya di Indonesia, seperti Jambi, Bengkulu, Sumatra Utara, Kalimantan, dan Sulawesi. Perbedaan bahan tambahan dan cara penyajian menunjukkan adanya adaptasi lemang terhadap tradisi kuliner lokal.
Penyajian Lemang di Berbagai Daerah
Sumatra Barat: Lamang Tapai dan Kudapan Ramadan
Di Sumatra Barat, lemang dikenal sebagai lamang, dengan salah satu penyajian paling khas berupa lamang tapai, yaitu irisan lamang yang disantap bersama tapai ketan hitam.
Lamang dapat dipotong lalu dicampurkan langsung dengan tapai atau irisan lamang dicelupkan ke dalam tapai. Selain tapai, beberapa jenis lamang juga disajikan dengan pelengkap manis seperti gula merah, kelapa, durian, atau sarikaya.
Lamang tapai banyak dikonsumsi sebagai hidangan berbuka selama Ramadan, tetapi juga hadir dalam Idulfitri, Iduladha, Maulid Nabi, acara kematian, dan baralek atau pesta perkawinan.
Jambi: Lemang sebagai Hidangan Pelengkap
Di Jambi, lemang memiliki fungsi yang berbeda dari tradisi lamang di Sumatra Barat. Dalam masyarakat Batin, lemang menjadi salah satu hidangan yang dapat disajikan dalam Nulak Padang Balik, yaitu upacara yang dilakukan sekitar satu minggu setelah kelahiran bayi sebagai bentuk syukur serta penghargaan kepada dukun atau bidan yang membantu proses persalinan.
Dalam acara tersebut, lemang bukan hidangan utama, melainkan makanan tambahan yang disajikan setelah hidangan utama berupa nasi dan gulai.
Dahulu, lemang dan wajik lebih umum disantap sebagai kudapan atau makanan penutup, sedangkan perkembangannya membuat keduanya juga dikonsumsi sebagai makanan pendamping ketika masyarakat berkumpul dan berbincang.
Bengkulu: Lemang untuk Makanan dan Perayaan Keagamaan
Di Bengkulu, lemang merupakan makanan tradisional yang dapat dikonsumsi sebagai pangan sehari-hari dan dijual sebagai panganan lokal.
Lemang juga dikenal dalam hidangan Ramadan, Lebaran, dan Iduladha, serta dapat disajikan bersama tapai ketan hitam.
Selain itu, padai masyarakat Besemah di Kabupaten Kaur, Bengkulu, lemang juga disajikan dalam upacara perkawinan.
Muara Enim, Sumatra Selatan: Lemang dalam Tradisi Muharam
Di Kabupaten Muara Enim, khususnya Desa Karang Raja dan Desa Kepur, terdapat tradisi melemang yang dilaksanakan pada bulan Muharam.
Di Karang Raja, kegiatan tersebut dilakukan pada 9 Muharam dan lemang disiapkan sejak pagi untuk kemudian disantap bersama serta dibawa ke langgar dalam rangkaian kegiatan ritual dan doa bersama.
Tradisi tersebut mengenal beberapa jenis lemang, yaitu lemang gemuk, lemang manis, dan lemang sempaloh, yang disajikan bersama hidangan lain untuk keperluan sedekah dusun.
Baca Juga: Kenali Cita Rasa 3 Jenis Sate Padang dari Tanah Minang
Batak: Lomang untuk Lebaran dan Perayaan
Dalam masyarakat Batak, lemang dikenal sebagai lomang, sedangkan kegiatan memasaknya disebut mangalomang. Salah satu tradisinya dilakukan sehari sebelum Idulfitri. Lomang kemudian disantap setelah salat Id pada pagi hari sebagai bagian dari perayaan Lebaran.
Seiring perkembangan tradisi, mangalomang juga dilakukan menjelang perayaan besar lainnya, termasuk peringatan Hari Kemerdekaan di sejumlah wilayah seperti Hutatonga, Sigalangan, dan Padangbolak.
Lomang biasa disajikan bersama rendang, gulai, atau tapai ketan, sehingga tidak selalu berfungsi sebagai kudapan manis.
Karo, Sumatra Utara: Rires Sebagai Makanan Pendamping
Di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, lemang dikenal dengan nama rires. Rires bukan makanan utama, melainkan makanan tambahan yang biasanya disantap bersama rendang atau tapai ketan hitam. Makanan ini juga dapat dinikmati bersama kopi atau bandrek pada sore hari.
Selain itu, rires memiliki fungsi khusus dalam sejumlah upacara masyarakat Karo, yakni sebagai bagian dari hidangan persembahan dan disajikan ke peserta upacara adat.
Kalimantan Selatan: Lamang sebagai Kudapan dan Hidangan Ramadan
Di Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin, lemang dikenal sebagai lamang dan termasuk makanan yang pembuatannya relatif kompleks karena menggunakan berbagai bahan serta melalui proses pengolahan yang cukup panjang.
Lamang dapat berfungsi sebagai makanan penutup atau papuluran dan dikonsumsi bersama telur asin. Lamang juga biasa disantap bersama teh atau kopi pada sore, malam, hingga menjelang malam hari.
Bagaimana, tertarik menjajal lemang dan kuliner tradisional Sumatra lainnya secara langsung?
Gunakan fitur MaiA untuk mencari informasi dan rekomendasi kuliner khas di berbagai daerah Sumatra, mulai dari tempat menikmati lemang hingga hidangan tradisional lain yang bisa dimasukkan ke dalam rencana perjalanan Anda.
Supaya rute eksplorasi kuliner di Sumatra bisa ditempuh dengan efisien, gunakan fitur Rencanakan Perjalanan Anda untuk mendapatkan itinerary yang dipersonalisasi sesuai durasi, preferensi, dan minat Anda.
Referensi:
- Lemang (Rice bamboo) as a representative of typical Malay food in Indonesia
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2352618116301354 - Nilai-Nilai Budaya dan Agama dalam Tradisi Melemang di Desa Karang Raja dan Desa Kepur, Muara Enim, Sumatera Selatan
https://jurnalharmoni.kemenag.go.id/index.php/harmoni/article/view/372 - Fungsi Lemang dalam Upacara Perkawinan Suku Besemah di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu
https://www.researchgate.net/publication/340506020_FUNGSI_LEMANG_DALAM_UPACARA_PERKAWINAN_SUKU_BESEMAH_DI_KABUPATEN_KAUR_PROVINSI_BENGKULU - Mengenal Lemang, Makanan Masyarakat Melayu yang Gurih dan Legit
https://www.detik.com/sumbagsel/kuliner/d-7139918/mengenal-lemang-makanan-masyarakat-melayu-yang-gurih-dan-legit