Image Contributor: yohanes_setiyanto/Shutterstock
Coto Makassar merupakan salah satu kuliner tradisional paling terkenal dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Hidangan ini dikenal sebagai sajian berkuah kental yang dibuat dari daging sapi dan berbagai bagian jeroan, kemudian dimasak menggunakan puluhan jenis rempah hingga menghasilkan cita rasa gurih, kaya, dan khas.
Lebih dari sekadar makanan, Coto Makassar memiliki nilai sejarah yang panjang. Kuliner ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Bugis-Makassar sejak masa Kerajaan Gowa dan terus diwariskan hingga sekarang. Perpaduan teknik memasak tradisional, penggunaan rempah Nusantara, serta pengaruh budaya perdagangan menjadikan Coto Makassar sebagai salah satu ikon kuliner Indonesia yang memiliki identitas kuat.
Saat ini, Coto Makassar tidak hanya dapat ditemukan di Sulawesi Selatan, tetapi juga telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Meski demikian, menikmati semangkuk Coto Makassar langsung di kota asalnya tetap menjadi pengalaman kuliner yang banyak dicari wisatawan karena cita rasa autentiknya masih dipertahankan oleh banyak rumah makan legendaris.
Sejarah dan Filosofi dari Semangkuk Coto Makassar
Sejarah Coto Makassar diperkirakan telah dimulai sejak masa Kerajaan Gowa-Tallo yang berpusat di Somba Opu sekitar abad ke-16, tepatnya sekitar tahun 1538 Masehi. Pada masa itu, hidangan ini merupakan sajian khusus yang disiapkan bagi kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan.
Sebagai makanan istana, Coto Makassar menjadi simbol kemewahan karena menggunakan berbagai jenis rempah yang pada masa itu memiliki nilai ekonomi tinggi. Makassar sendiri dikenal sebagai salah satu pelabuhan perdagangan terbesar di Nusantara sehingga menjadi tempat bertemunya pedagang dari Arab, India, Tiongkok, Portugis, dan berbagai wilayah lainnya. Aktivitas perdagangan tersebut turut memengaruhi perkembangan kuliner lokal, termasuk penggunaan rempah-rempah dan tauco dalam Coto Makassar.
Selain dihidangkan untuk kalangan kerajaan, masyarakat juga mengolah bagian jeroan sapi menjadi hidangan bergizi. Pemanfaatan seluruh bagian sapi menunjukkan kearifan lokal dalam mengolah bahan pangan agar tidak ada bagian yang terbuang. Jeroan seperti hati, babat, paru, usus, limpa, dan jantung dimasak hingga empuk bersama kuah rempah sehingga menghasilkan cita rasa yang khas.
Dalam perkembangannya, Coto Makassar kemudian menjadi makanan yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Warung-warung coto mulai bermunculan dan resepnya diwariskan secara turun-temurun hingga menjadi bagian penting dari identitas kuliner Sulawesi Selatan.
Di balik kelezatannya, Coto Makassar juga memiliki filosofi yang menarik. Masyarakat Makassar mengenal istilah rampa patang pulo, yaitu penggunaan sekitar 40 jenis rempah dalam satu masakan. Banyak yang memaknai keberagaman rempah tersebut sebagai simbol persatuan masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang budaya.
Setiap rempah memberikan karakter rasa yang berbeda. Ketika dipadukan dalam satu kuah, seluruh bumbu tersebut menghasilkan keseimbangan rasa yang harmonis. Filosofi ini menggambarkan pentingnya kerja sama dan keberagaman dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.
Baca juga: 14 Cemilan Khas Makassar yang Cocok untuk Buah Tangan
Kekayaan Rempah Kunci Otentik Coto Makassar
Cita rasa Coto Makassar sangat bergantung pada penggunaan rempah yang melimpah. Proses memasaknya membutuhkan waktu cukup lama agar seluruh bumbu meresap sempurna ke dalam daging dan kuah.
Selain rempah, penggunaan kacang tanah sangrai sebagai pengental menjadi pembeda utama antara Coto Makassar dengan berbagai hidangan berkuah khas Nusantara lainnya.
Bahan Utama
Bahan utama Coto Makassar terdiri atas daging sapi serta berbagai bagian jeroan seperti:
- Daging sapi
- Babat
- Paru
- Hati
- Jantung
- Usus
- Limpa
Semua bahan tersebut direbus hingga empuk sebelum dipotong-potong menjadi ukuran kecil. Beberapa rumah makan menyediakan pilihan hanya menggunakan daging sapi bagi pengunjung yang tidak menyukai jeroan.
Secara tradisional, proses perebusan dilakukan dalam kuali tanah liat yang dikenal sebagai korong butta atau uring butta. Peralatan memasak tradisional ini dipercaya membantu mempertahankan aroma rempah sekaligus menghasilkan rasa yang lebih khas.
Rempah Khas Coto Makassar
Rahasia utama kelezatan Coto Makassar terletak pada perpaduan sekitar 40 jenis rempah atau rampa patang pulo. Meski komposisinya dapat berbeda pada setiap rumah makan, beberapa rempah yang hampir selalu digunakan antara lain:
- Bawang merah
- Bawang putih
- Ketumbar
- Jintan
- Merica
- Jahe
- Lengkuas
- Serai
- Daun salam
- Daun jeruk
- Kemiri
- Pala
- Cengkeh
- Kayu manis
- Kapulaga
Salah satu bahan yang menjadi ciri khas Coto Makassar adalah tauco, yaitu fermentasi kedelai yang memberikan aroma umami dan rasa gurih yang berbeda dibandingkan hidangan berkuah lainnya. Kehadiran tauco juga menjadi bukti adanya pengaruh budaya Tionghoa dalam perkembangan kuliner Makassar sejak masa perdagangan internasional.
Untuk menghasilkan kuah yang kental, biasanya digunakan kacang tanah sangrai yang dihaluskan. Beberapa resep tradisional juga menambahkan beras sangrai yang ditumbuk halus sehingga tekstur kuah menjadi lebih pekat sekaligus menambah aroma gurih.
Seluruh bumbu kemudian dimasak perlahan bersama rebusan daging selama beberapa jam. Proses ini membuat rempah menyatu sempurna dengan kaldu sehingga menghasilkan kuah berwarna cokelat yang kaya rasa.
Pada beberapa resep tradisional, pepaya muda juga digunakan saat perebusan untuk membantu melunakkan tekstur daging. Sementara itu, proses pembersihan jeroan dilakukan secara menyeluruh agar menghasilkan aroma yang lebih bersih saat dimasak.
Bahan Pelengkap
Coto Makassar hampir selalu disajikan bersama beberapa pelengkap yang berfungsi menambah cita rasa maupun tekstur.
Pelengkap yang paling umum meliputi:
- Ketupat
- Buras atau burasa
- Daun bawang iris
- Bawang goreng
- Jeruk nipis
- Sambal tauco
- Cabai tumis
- Kecap manis sesuai selera
Ketupat merupakan nasi yang dimasak dalam anyaman daun kelapa. Sementara itu, buras dibuat dari beras yang dimasak bersama santan kemudian dibungkus menggunakan daun pisang sehingga memiliki rasa yang lebih gurih.
Kombinasi kuah coto dengan buras menjadi salah satu penyajian yang paling banyak dijumpai di berbagai rumah makan tradisional di Makassar.
Cara Penyajian Coto Makassar
Secara tradisional, Coto Makassar disajikan dalam mangkuk berukuran relatif kecil agar kuah tetap hangat saat disantap. Potongan daging dan jeroan dimasukkan ke dalam mangkuk, kemudian disiram kuah rempah yang kental.
Sebelum disantap, sebagian orang menambahkan perasan jeruk nipis untuk memberikan rasa segar sekaligus mengurangi aroma jeroan. Taburan daun bawang dan bawang goreng juga menjadi pelengkap yang hampir selalu tersedia di setiap meja makan.
Sebagai pendamping utama, ketupat atau buras biasanya disajikan terpisah. Cara menikmatinya adalah dengan memotong ketupat atau buras menjadi ukuran kecil, kemudian mencelupkannya ke dalam kuah coto sebelum disantap bersama potongan daging.
Beberapa rumah makan juga menyediakan sambal tauco yang dapat ditambahkan sesuai selera. Tauco memberikan rasa gurih sekaligus sedikit asin yang semakin memperkaya karakter kuah.
Kini, variasi penyajian Coto Makassar semakin beragam. Selain pilihan campuran daging dan jeroan, tersedia pula menu khusus daging sapi tanpa jeroan yang lebih sesuai dengan preferensi sebagian pengunjung. Meski demikian, komposisi kuah rempah tetap menjadi elemen utama yang dipertahankan.
Rekomendasi Resto Coto Makassar Langsung di Kota Makassar
Bagi wisatawan yang ingin menikmati cita rasa autentik, terdapat sejumlah rumah makan legendaris yang telah beroperasi selama puluhan tahun di Kota Makassar.
1. Coto Nusantara
Coto Nusantara berada di Jalan Nusantara No. 32, tidak jauh dari Pelabuhan Soekarno-Hatta. Lokasinya yang strategis menjadikannya salah satu tujuan kuliner favorit wisatawan.
Rumah makan ini dikenal dengan kuah yang kaya rempah, tekstur cukup kental, serta pilihan potongan daging maupun jeroan yang lengkap. Sambal tauco dan burasa menjadi pelengkap yang banyak dipilih pengunjung.
2. Coto Gagak
Berada di Jalan Gagak No. 27, Coto Gagak telah menjadi salah satu rumah makan favorit masyarakat Makassar selama bertahun-tahun.
Kuahnya memiliki rasa gurih dengan karakter rempah yang lebih ringan sehingga cocok bagi pengunjung yang menginginkan rasa tidak terlalu kuat. Tempat makan ini juga sering menjadi pilihan menu sarapan masyarakat setempat.
3. Coto Paraikatte
Coto Paraikatte berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan Km. 9, Tamalanrea. Nama "Paraikatte" dalam bahasa Makassar berarti "coto kita bersama".
Rumah makan ini dikenal dengan porsi yang cukup besar, pilihan bagian daging yang beragam, serta area makan yang luas sehingga cocok untuk keluarga maupun rombongan.
4. Coto Daeng Sirua
Berlokasi di Jalan A.P. Pettarani No. 105, Coto Daeng Sirua menawarkan suasana makan yang lebih modern dibandingkan sebagian rumah makan tradisional.
Selain mempertahankan cita rasa kuah rempah yang gurih, tempat ini dikenal memiliki pelayanan cepat dan fasilitas yang nyaman sehingga sering dipilih oleh wisatawan maupun pekerja kantoran.
5. Coto Ranggong
Coto Ranggong merupakan salah satu rumah makan legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1960-an. Lokasinya berada di Jalan Ranggong No. 13B, tidak jauh dari kawasan Pantai Losari.
Rumah makan ini mempertahankan resep tradisional yang diwariskan turun-temurun. Kuahnya memiliki aroma rempah yang kuat dengan rasa gurih yang menjadi ciri khas Coto Makassar autentik.
Jika berkunjung ke Kota Makassar, sempatkan mencicipi Coto Makassar di rumah makan legendaris untuk merasakan cita rasa autentiknya. Agar perjalanan lebih terencana, Anda dapat memanfaatkan fitur AI Plan Your Trip di Indonesia.travel untuk menyusun rencana perjalanan sesuai destinasi, durasi, anggaran, dan minat wisata. Selain itu, tersedia fitur MaiA yang dapat membantu menyusun itinerary liburan secara personal, memberikan rekomendasi destinasi, aktivitas, hingga informasi perjalanan dalam satu platform. Dengan perencanaan yang lebih praktis, Anda dapat menikmati wisata kuliner sekaligus menjelajahi berbagai daya tarik Kota Makassar secara lebih efisien.
Baca juga: Rekomendasi RM Seafood di Makassar
Referensi:
- https://sumbar.disway.id/lifestyle/read/1415/resep-coto-makassar-kuliner-khas-sulawesi-selatan-yang-gurih-dan-kaya-rempah/30
- https://mhadplhsulsel.brwa.or.id/articles/read/18
- https://budaya-indonesia.org/Coto-Makassar-Khas-Kota-Makassar
- https://sumsel.akurat.co/news/12602/resep-coto-makassar-kuliner-khas-sulawesi-selatan-yang-kaya-rempah-dan-sejarah
- https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/coto-makassar-hidangan-bangsawan-kerajaan-gowa/
- https://budaya-indonesia.org/COTO-MAKASAR