Image Contributor: https://www.shutterstock.com/g/Edi+Hartlim
Tugu Khatulistiwa merupakan salah satu penanda geografis sekaligus cagar budaya yang berada di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Monumen ini terletak di Jalan Khatulistiwa, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara, dan menjadi penanda bahwa wilayah Pontianak dilintasi garis khatulistiwa atau garis lintang 0 derajat. Pemerintah Kota Pontianak juga menetapkan kawasan Tugu Khatulistiwa sebagai salah satu kawasan pariwisata budaya.
Keberadaan tugu memiliki nilai sejarah karena pembangunannya berkaitan dengan kegiatan pengukuran geografis pada masa Hindia Belanda. Bentuknya kemudian mengalami beberapa tahap penyempurnaan hingga menjadi bangunan yang dikenal saat ini. Pada 2024, Tugu Khatulistiwa ditetapkan sebagai Benda dan Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Kalimantan Barat melalui Keputusan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 936/DIKBUD/2024.
Selain nilai sejarah, kawasan ini juga berkaitan dengan fenomena astronomi berupa kulminasi matahari. Fenomena tersebut menjadi salah satu aspek edukasi yang dapat diamati pengunjung di sekitar Tugu Khatulistiwa.
Sejarah Tentang Tugu Khatulistiwa
Sejarah Tugu Khatulistiwa berawal pada 31 Maret 1928. Berdasarkan catatan sejarah yang tersimpan di kawasan monumen, sebuah ekspedisi internasional yang dipimpin ahli geografi berkebangsaan Belanda datang ke Pontianak untuk menentukan posisi garis khatulistiwa. Penanda awalnya masih berupa tonggak sederhana dengan tanda panah.
Pada 1930, bentuk tugu disempurnakan dengan penambahan lingkaran dan tanda panah. Perubahan berikutnya terjadi pada 1938 ketika struktur tugu kembali dikembangkan. Penyempurnaan tersebut dikaitkan dengan arsitek Friedrich Silaban dan menggunakan empat tonggak kayu belian atau ulin, material yang dikenal kuat dan banyak digunakan di Kalimantan.
Struktur asli yang dibangun pada periode tersebut terdiri atas empat tonggak. Dua tonggak bagian depan memiliki tinggi sekitar 3,05 meter, sedangkan dua tonggak bagian belakang yang menopang lingkaran dan penunjuk arah memiliki tinggi sekitar 4,40 meter.
Perkembangan berikutnya terjadi pada 1990–1991. Pemerintah melakukan pembangunan kubah untuk melindungi tugu asli sekaligus membuat duplikat dengan ukuran sekitar lima kali lebih besar. Bangunan pelindung dan duplikat tersebut kemudian diresmikan pada 21 September 1991. Tugu asli tetap dipertahankan dan dapat dilihat di bagian dalam bangunan.
Dengan demikian, bentuk yang terlihat oleh pengunjung saat ini sebenarnya merupakan bagian dari perkembangan panjang sebuah penanda geografis yang pada awalnya berukuran sederhana. Perubahan tersebut juga memperlihatkan bagaimana fungsi penanda geografis kemudian berkembang menjadi situs sejarah, edukasi, dan pariwisata.
Filosofi Bangunan Tugu: Dari Tonggak Kayu ke Monumen Nasional
Secara mendasar, Tugu Khatulistiwa memiliki fungsi sebagai penanda garis khatulistiwa. Bentuk lingkaran pada bagian atas dan anak panah merupakan elemen utama yang menegaskan fungsi tersebut. Tulisan Evenaar, istilah bahasa Belanda untuk ekuator, juga menjadi bagian dari konstruksi tugu.
Empat tonggak kayu belian merupakan ciri penting dari tugu asli. Perbedaan ketinggian empat tonggak tersebut memiliki penafsiran yang berkaitan dengan posisi terbit dan terbenamnya matahari. Dua tonggak yang lebih rendah dikaitkan dengan arah terbenam matahari, sementara dua tonggak yang lebih tinggi dikaitkan dengan arah terbit matahari.
Namun, penafsiran tersebut sebaiknya dipahami sebagai penjelasan filosofis yang berkembang dalam pemaknaan bangunan, bukan sebagai satu-satunya fakta historis mengenai maksud desain awal. Secara historis, fungsi utama tugu adalah menandai lokasi garis ekuator.
Pemilihan kayu belian juga berkaitan dengan material lokal Kalimantan yang memiliki karakter kuat dan tahan terhadap perubahan cuaca. Kementerian Kebudayaan menyebut penggunaan kayu belian atau kayu ulin sebagai salah satu karakter penting dari tugu bersejarah tersebut.
Nilai Tugu Khatulistiwa kemudian berkembang dari sekadar penanda geografis menjadi bagian dari identitas Kota Pontianak. Pemerintah Kota Pontianak memasukkannya sebagai kawasan pariwisata budaya, sedangkan pada 2024 statusnya meningkat sebagai cagar budaya peringkat provinsi.
Fakta Unik Tentang Tugu Khatulistiwa
1. Tugu Asli Berada di Dalam Bangunan Pelindung
Salah satu fakta penting mengenai Tugu Khatulistiwa adalah bahwa bangunan besar yang terlihat dari luar bukanlah tugu asli. Struktur tersebut merupakan duplikat yang dibuat untuk melindungi tugu asli.
Tugu asli yang berasal dari tahap pembangunan sebelumnya berada di dalam bangunan pelindung. Duplikatnya dibuat dengan ukuran sekitar lima kali lebih besar sehingga lebih mudah terlihat dari kawasan sekitar. Pengembangan tersebut dilakukan pada 1990 dan diresmikan pada 21 September 1991.
2. Memiliki Hubungan dengan Fenomena Hari Tanpa Bayangan
Tugu Khatulistiwa berkaitan erat dengan fenomena kulminasi matahari. Kulminasi utama terjadi ketika Matahari berada tepat di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Dalam kondisi tersebut, bayangan benda tegak dapat terlihat sangat pendek atau seolah-olah menghilang.
BMKG mencatat bahwa pada 2026 Matahari berada tepat di atas Kota Pontianak pada 20 Maret pukul 11.50 WIB dan 23 September pukul 11.35 WIB. Waktu tersebut dapat berbeda setiap tahun sehingga pengunjung yang ingin mengamati fenomena ini sebaiknya memeriksa informasi BMKG terbaru.
3. Statusnya sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi
Tugu Khatulistiwa tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata. Pemerintah Kota Pontianak mencatat bahwa monumen ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kota dan kemudian memperoleh pemeringkatan sebagai cagar budaya tingkat Provinsi Kalimantan Barat pada 17 Desember 2024.
Status tersebut memperkuat kedudukannya sebagai aset warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, geografis, dan edukatif.
Baca juga: Jembatan Kapuas, Landmark Kota Pontianak yang Memukau
Tips Berwisata dan Cara Menuju Tugu Khatulistiwa
Tugu Khatulistiwa berada di Jalan Khatulistiwa, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara. Dari pusat Kota Pontianak, perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh melalui jalur darat ke arah Mempawah. Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Pontianak memperkirakan perjalanan dari pusat kota memerlukan waktu sekitar 30 menit, meskipun durasi aktual dapat berubah mengikuti kondisi lalu lintas.
Bagi pengunjung yang ingin memahami sejarah monumen, luangkan waktu untuk melihat tugu asli yang berada di dalam bangunan pelindung. Informasi mengenai sejarah pembangunan juga tersedia di kawasan monumen.
Jika ingin mengamati fenomena kulminasi, perhatikan jadwal astronomi yang dikeluarkan BMKG karena waktu terjadinya fenomena dapat berubah setiap tahun. Pada periode tersebut, kondisi cuaca juga menjadi faktor yang memengaruhi pengamatan.
Pengunjung juga perlu memperhatikan ketentuan kunjungan. Berdasarkan informasi Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Pontianak, mulai 1 Februari 2024 kunjungan ke Monumen Tugu Khatulistiwa dikenakan retribusi sesuai Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 10 Tahun 2023 tentang Pajak dan Retribusi Daerah.
Karena kawasan ini merupakan cagar budaya, pengunjung sebaiknya menjaga kebersihan, tidak merusak bagian bangunan, dan mengikuti ketentuan yang berlaku di lokasi. Pemerintah Kota Pontianak juga terus melakukan penataan kawasan Tugu Khatulistiwa sebagai bagian dari pengembangan destinasi wisata dan pelestarian aset sejarah.
Baca juga: Istana Kadriah Kesultanan Pontianak yang Bersejarah
Bagi wisatawan yang ingin menyusun perjalanan ke Pontianak, gunakan fitur AI Plan Your Trip di situs indonesia.travel untuk membantu merencanakan perjalanan berdasarkan destinasi dan kebutuhan perjalanan. Sementara itu, fitur Maia dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan bantuan informasi terkait perjalanan di Indonesia. Dengan memanfaatkan kedua fitur tersebut, rencana kunjungan dapat disusun lebih terarah sebelum berangkat.
Referensi:
- https://www.bmkg.go.id/tanda-waktu/hari-tanpa-bayangan/hari-tanpa-bayangan-di-indonesia-kulminasi-utama-2-tahun-2026
- https://pontianak.go.id/pontianak-hari-ini/berita/Pemkot-Revitalisasi-Kawasan-Tugu-Khatulistiwa
- https://disporapar.pontianak.go.id/pariwisata/6
- https://www.detik.com/kalimantan/wisata/d-7925401/mengenal-tugu-khatulistiwa-dan-sederet-daya-tariknya
- https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/tugu-khatulistiwa-ikon-sejarah-kota-pontianak/
- https://repositori.kemendikdasmen.go.id/11221/1/Tugu%20Khatulistiwa%20%28Husnul%20Khotimah%29.pdf