MaiA ai-icon

Informasi

Tenun Troso Khas Jepara

Image Contributor: Shutterstock/Fitria Nuraini

Tenun Troso merupakan salah satu kerajinan khas Jepara yang dikenal melalui teknik tenun ikat dan ragam motifnya yang beragam. 

Berpusat di Desa Troso, kain ini berkembang dari keterampilan menenun yang diwariskan antargenerasi hingga menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat setempat.

Sejarah Tenun Troso

Tradisi lisan masyarakat Troso menghubungkan awal kegiatan menenun dengan Ki Senu dan Nyi Senu, tokoh yang dianggap sebagai cikal bakal masyarakat Desa Troso dan dikaitkan dengan penyebaran Islam pada masa Mataram Islam. 

Dalam cerita yang berkembang, keterampilan menenun kemudian diwariskan secara turun-temurun, meski kisah tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari cerita asal-usul masyarakat, bukan fakta sejarah yang sepenuhnya terbukti.

Tenun justru berkembang sebagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhan sandang sekaligus menjadi sumber penghasilan masyarakat, dengan perkembangan yang lebih jelas tercatat sejak sekitar 1935.

Pada awalnya, masyarakat menggunakan alat tenun sederhana yang kemudian berkembang menjadi tenun pancal dan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). 

Seiring meningkatnya permintaan, kegiatan menenun pun berkembang dari produksi untuk kebutuhan keluarga menjadi industri kerajinan yang semakin penting bagi perekonomian Desa Troso.

Ciri Khas Tenun Troso

Tenun Troso memiliki beberapa karakter yang membuatnya mudah dibedakan sebagai kain tenun khas dari Desa Troso, Jepara. Ciri tersebut tidak hanya terlihat dari motifnya, tetapi juga dari teknik pembuatan dan alat yang digunakan.

Menggunakan Teknik Tenun Ikat

Tenun Troso dikenal sebagai kain tenun ikat karena motifnya dibentuk melalui pengaturan dan pengikatan benang sebelum proses penenunan. Pada motif khas Troso, teknik yang digunakan antara lain ikat pakan, sehingga pola kain sudah dirancang sejak benang dipersiapkan, bukan dicetak setelah kain selesai ditenun. 

Memiliki Motif yang Beragam

Motif menjadi salah satu karakter yang menonjol dari Tenun Troso. Bentuknya berkembang dari pola geometris hingga inspirasi flora, fauna, dan berbagai motif dari daerah lain yang kemudian diadaptasi dan dikembangkan oleh perajin Troso. 

Dibuat Menggunakan ATBM

Produksi Tenun Troso masih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Benang pakan dimasukkan secara melintang melewati benang lungsi hingga membentuk kain secara bertahap, sementara perajin harus menjaga susunan benang agar tetap sesuai dengan rancangan motif.

Motifnya Terus Berkembang

Tenun Troso tidak berhenti pada motif-motif lama. Perajin juga mengembangkan desain berdasarkan kreativitas dan permintaan pasar, termasuk mengadaptasi inspirasi dari Bali, Sumatra, Kalimantan, dan daerah lainnya sehingga ragam kain yang dihasilkan sangat beragam. 

Motif Khas Kain Tenun Troso

Motif menjadi salah satu ciri yang membuat Tenun Troso mudah dikenali. Ragam hiasnya cukup beragam, mulai dari bentuk geometris, flora, hingga fauna, dengan sebagian motif mengambil inspirasi dari lingkungan dan kehidupan masyarakat Desa Troso. 

Empat di antaranya, yaitu Ampel, Kedawung, Mbelik Boyolali, dan Sicengkir, disepakati sebagai motif khas Desa Troso dalam Troso Festival 2019. 

Motif Ampel

Motif Ampel terinspirasi dari lingkungan Kamitua Ampel yang dikenal sebagai kawasan pertanian di Desa Troso. Motif ini memadukan bentuk tanaman padi, kubah masjid, garis lurus, zig-zag, dan lengkung, yang menggambarkan perpaduan kehidupan agraris dengan unsur keagamaan yang berkembang di wilayah tersebut.

Motif Kedawung

Motif Kedawung mengambil inspirasi dari lingkungan Kamitua Kedawung dengan menampilkan tanaman kapas, pohon bambu, dan gedheg atau anyaman bambu. 

Unsur-unsur tersebut menggambarkan lingkungan sekaligus aktivitas kerajinan masyarakat setempat, dengan warna hijau sebagai warna dominan yang dipadukan dengan cokelat, putih, dan ungu.

Motif Mbelik Boyolali

Motif Mbelik Boyolali terinspirasi dari wilayah yang memiliki sumber air cukup melimpah. Karakter tersebut dituangkan melalui warna biru sebagai simbol air dan bentuk daun sirih yang menjalar. Warna biru itu kemudian dipadukan dengan warna kuning, cokelat, putih, hijau muda, dan merah, sehingga menghasilkan motif yang terinspirasi dari kondisi alam sekitar. 

Motif Sicengkir

Motif Sicengkir menggambarkan lingkungan Kamitua Sicengkir yang memiliki area perkebunan, perbukitan, dan bebatuan. 

Unsur tersebut divisualisasikan melalui bentuk pohon kelapa dan batu-batuan, dengan warna merah sebagai dasar yang dipadukan dengan kuning, biru, cokelat, putih, hijau, ungu, dan oranye. 

Baca Juga: Kerajinan Ukir Jepara: Warisan Seni yang Mendunia

Proses Pembuatan Kain Troso

Membuat Tenun Troso membutuhkan beberapa tahapan sebelum benang berubah menjadi kain bermotif. Prosesnya dimulai dari persiapan benang, pembentukan motif melalui teknik ikat, pewarnaan, hingga penenunan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). 

1. Menyiapkan Benang

Benang menjadi bahan utama yang dipersiapkan sebelum proses pembuatan motif dan penenunan dimulai. Pada Tenun Troso, benang yang digunakan adalah benang katun. Benang tersebut kemudian disiapkan dan ditata sesuai kebutuhan kain yang akan dibuat.

2. Menentukan dan Mengikat Motif

Tahap berikutnya adalah membuat pola pada benang yang akan menjadi dasar motif kain. 

Bagian tertentu dari benang diikat menggunakan tali untuk menentukan area yang terlindungi ketika proses pewarnaan dilakukan. Teknik inilah yang membuat Tenun Troso termasuk dalam kelompok tenun ikat. 

Posisi ikatan akan memengaruhi bentuk motif yang muncul setelah benang diberi warna dan ditenun. Pada motif khas Troso, teknik yang digunakan adalah ikat pakan, sehingga pola motif terutama dibentuk pada benang pakan sebelum proses penenunan. 

3. Mewarnai Benang

Benang yang telah diikat kemudian melalui proses pewarnaan. Bagian yang terlindungi oleh ikatan tidak menyerap warna dengan cara yang sama seperti bagian benang yang terbuka. 

Setelah ikatan dibuka, perbedaan warna tersebut menjadi bagian dari pola yang nantinya membentuk motif kain. 

Tenun Troso masa kini banyak menggunakan pewarna sintetis. Warna yang digunakan dapat berupa cokelat, biru, hijau, merah, kuning, hingga merah muda, tergantung pada motif dan rancangan kain yang dibuat. 

4. Menata Benang pada Alat Tenun

Setelah proses pewarnaan selesai, benang dipersiapkan untuk masuk ke tahap penenunan. Benang harus ditata dan dipasang pada alat tenun dengan susunan yang sesuai agar bagian motif dapat bertemu pada posisi yang tepat.

Tahap ini penting karena Tenun Troso menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Berbeda dengan mesin tenun otomatis, ATBM masih mengandalkan keterampilan perajin untuk mengatur dan menjalankan proses penenunan. 

5. Menenun dengan ATBM

Benang yang telah disiapkan kemudian ditenun menggunakan ATBM. Benang lungsi dipasang memanjang, sementara benang pakan dimasukkan melintang secara berulang hingga membentuk lembaran kain. 

Pada Tenun Troso, susunan ikat pakan menjadi bagian penting dalam pembentukan motif. Karena prosesnya masih dilakukan dengan alat nonmesin, perajin perlu menjaga susunan dan ketegangan benang selama kain dibuat. 

6. Menyelesaikan dan Memeriksa Kain

Setelah seluruh bagian kain selesai ditenun, hasilnya diperiksa untuk memastikan pola dan susunan kain telah terbentuk dengan baik. Kain kemudian dapat diproses lebih lanjut sebelum dipasarkan atau diolah menjadi berbagai produk seperti pakaian dan perlengkapan rumah.

Baca Juga: Batik Solo: Kain Penuh Filosofi yang Menjadi Warisan Turun Temurun

Mengunjungi Sentra Tenun Troso

Desa Troso di Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, dapat menjadi tujuan wisata budaya untuk melihat langsung sentra pembuatan Tenun Troso sekaligus membeli kain dan produk kerajinan dari para perajin lokal. 

Sentra ini tersebar di kawasan Desa Troso, sehingga Anda sebaiknya mengecek jam operasional perajin atau galeri yang ingin didatangi terlebih dahulu karena setiap tempat dapat memiliki waktu buka dan tutup yang berbeda.

Tertarik melihat langsung proses pembuatan Tenun Troso? 

Manfaatkan fitur Maia untuk mendapatkan tips dan rekomendasi destinasi yang bisa melengkapi kunjungan Anda ke Jepara. 

Setelah menentukan destinasi yang ingin dikunjungi, gunakan fitur Rencanakan Perjalanan Anda untuk menyusun semuanya menjadi satu rencana perjalanan yang lebih praktis.

 

Referensi

  • Keberadaan dan Perkembangan Tenun Troso Jepara — Ratri Dewi Ramadhani & Subandi, Ornamen: Jurnal Kriya
    https://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/ornamen/article/view/1623
  • Motif Khas Tenun Ikat Troso sebagai Sumber Pembelajaran Muatan Lokal Seni Rupa SMP di Kabupaten Jepara — Nur Lailatul Maulidiyah & Syafii, Eduarts: Jurnal Pendidikan Seni
    https://journal.unnes.ac.id/sju/eduart/article/view/67024
  • The Experiment of Jepara Troso Woven in Local Wisdom — Sarwono dkk., Harmonia: Journal of Arts Research and Education
    https://journal.unnes.ac.id/nju/harmonia/article/view/37661
  • Penamaan Motif Tenun Troso di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara (Kajian Etnolinguistik) — Zuliati & Ermi Dyah Kurnia, Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa
    https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sutasoma/article/download/29086/15212/
  • Tenun Troso Jepara Mendapat Pengakuan Sertifikat Indikasi Geografis dari Kemenkum — Bappeda Kabupaten Jepara, 2026. https://bappeda.jepara.go.id/tenun-troso-jepara-mendapat-pengakuan-sertifikat-indikasi-geografis-dari-kemenkum/

INSIGHT

Ide Perjalanan

Kepulauan Karimunjawa, Jepara: Daya Tarik, Informasi Biaya, Akses, dan Objek Wisata Sekitar

Kepulauan Karimunjawa, Jepara: Daya Tarik, Informasi Biaya, Akses, dan Objek Wisata Sekitar

Ikuti Kemeriahan Festival Lampion pada Perayaan Waisak di Candi Borobudur!

Ikuti Kemeriahan Festival Lampion pada Perayaan Waisak di Candi Borobudur!

Kerajinan Ukir Jepara: Warisan Seni yang Mendunia

Kerajinan Ukir Jepara: Warisan Seni yang Mendunia