MaiA ai-icon

Informasi

Pakaian Adat Sumatera Selatan: Keindahan, Sejarah, dan Makna Filosofis

Pakaian adat Sumatera Selatan merupakan salah satu warisan budaya yang mencerminkan identitas masyarakat Melayu Palembang. Perkembangan pakaian tradisional Palembang berlangsung dalam lingkungan budaya yang terbentuk dari sejarah Kesultanan Palembang Darussalam serta interaksi masyarakat Palembang dengan berbagai wilayah di Nusantara dan kawasan perdagangan Asia.

Sejarah dan Daya Tarik Pakaian Adat Sumatera Selatan

Pakaian adat Sumatera Selatan, khususnya busana tradisional Palembang, merupakan bagian dari warisan budaya yang berkembang di lingkungan Kesultanan Palembang Darussalam. 

Salah satu bentuk yang paling dikenal adalah busana pengantin Aesan Gede dan Aesan Paksangko, yang hingga kini masih digunakan dalam upacara pernikahan dan berbagai kegiatan budaya Palembang. Koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan juga mencatat keduanya sebagai dua gaya utama pakaian adat pengantin Palembang.

Kedua busana tersebut memiliki karakter visual yang khas melalui penggunaan kain songket, aksesori kepala, perhiasan, serta warna-warna yang mencolok. Dalam perkembangannya, busana yang dahulu berkaitan dengan lingkungan kerajaan dan bangsawan tersebut kini lebih banyak digunakan sebagai busana pengantin dan dalam berbagai kegiatan adat.

Salah satu unsur penting dalam busana tradisional Palembang adalah Songket Palembang. Kain ini merupakan tenun tradisional yang menggunakan teknik penyisipan benang tambahan untuk membentuk motif dekoratif, termasuk penggunaan benang emas atau perak. Songket Palembang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 238/M/2013.

Baca Juga: UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan

Ragam Pakaian Adat Sumatera Selatan

1. Aesan Gede 

Aesan Gede merupakan salah satu busana pengantin tradisional Palembang yang paling dikenal. Nama dan bentuk busana ini berkaitan dengan konsep kebesaran dalam tradisi busana Palembang. Pada masa lalu, pakaian Aesan Gede digunakan oleh lingkungan kerajaan dan bangsawan, sedangkan saat ini penggunaannya lebih umum ditemukan dalam upacara pernikahan dan kegiatan budaya.

Aesan Gede memiliki tampilan yang kaya akan aksesori, termasuk mahkota, kelapo standan, kembang goyang, bungo cempako, serta kain songket. Warna merah muda dan emas menjadi bagian yang menonjol dalam sejumlah bentuk Aesan Gede dan memberikan kesan megah pada keseluruhan busana.

Keterkaitan Aesan Gede dengan kebesaran masa lalu juga sering dijelaskan melalui simbolisme yang menghubungkannya dengan kejayaan Sriwijaya. Namun, hubungan tersebut lebih tepat dipahami sebagai representasi budaya dan simbolik, bukan sebagai bukti bahwa bentuk Aesan Gede yang dikenal sekarang merupakan busana yang secara langsung berasal dari masa Sriwijaya.

2. Aesan Paksangko

Aesan Paksangko (sering pula ditulis Aesan Pasangko) merupakan gaya busana pengantin Palembang lainnya yang memiliki karakter berbeda dari Aesan Gede. Busana ini tetap menggunakan kain songket dan berbagai aksesori khas Palembang, termasuk hiasan kepala serta perhiasan berwarna keemasan.

Dalam perkembangannya, Aesan Paksangko mengalami perubahan warna dan desain mengikuti perkembangan busana pengantin. Meski demikian, unsur seperti kain songket, hiasan kepala, serta aksesori tradisional tetap menjadi bagian penting dari identitas busana tersebut. 

Pada 2025, Aesan Paksangko juga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

3. Songket Palembang

Songket merupakan salah satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari busana tradisional Palembang. 

Menurut Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Songket Palembang telah dikenal sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam. Namun, waktu pasti kemunculan songket di Palembang masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti.

Pada masa Kesultanan Palembang, songket digunakan sebagai bagian dari pakaian kebesaran sultan dan keluarga kerajaan. Dalam perkembangannya, penggunaannya meluas dan kini menjadi bagian penting dari pakaian adat serta identitas budaya Palembang.

Songket Palembang juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional. Penetapan tersebut tercatat melalui SK Nomor 238/M/2013.

Informasi Penggunaan Pakaian Adat Sumatera Selatan

Saat ini, Aesan Gede dan Aesan Paksangko paling mudah ditemukan dalam upacara pernikahan adat Palembang. 

Keduanya digunakan sebagai busana pengantin dengan berbagai aksesori yang membentuk tampilan khas Palembang. Museum Negeri Sumatera Selatan mencatat bahwa busana yang dahulu diperuntukkan bagi sultan dan permaisuri kini telah digunakan secara lebih luas dalam upacara perkawinan dan kegiatan tradisional. 

Selain dalam upacara pernikahan, pakaian tradisional Palembang juga dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Penggunaan busana adat dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mempertahankan pengetahuan mengenai tata busana, aksesori, serta penggunaan songket sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

Makna dan Nilai Budaya

Pakaian adat Palembang tidak hanya memiliki fungsi sebagai busana upacara, tetapi juga merepresentasikan sejarah dan identitas budaya masyarakat setempat. Aesan Gede, misalnya, memiliki konsep kebesaran yang tercermin melalui penggunaan songket, perhiasan, dan aksesori kepala yang mewah. Sementara Aesan Paksangko memiliki karakter tersendiri dalam bentuk dan kelengkapan busananya.

Songket juga memiliki posisi penting dalam sistem budaya Palembang. Pada masa Kesultanan Palembang, kain tersebut berkaitan dengan pakaian kebesaran kerajaan dan penggunaannya menunjukkan kedudukan tertentu. Seiring perubahan sosial, fungsi tersebut berkembang menjadi bagian dari identitas budaya dan kerajinan masyarakat Palembang.

Karena itu, makna pakaian adat Palembang sebaiknya tidak hanya dilihat dari warna atau ornamen individual, tetapi juga dari hubungannya dengan sejarah kerajaan, tradisi pernikahan, keterampilan menenun, dan identitas budaya masyarakat Palembang.

Pelestarian Pakaian Adat Sumatera Selatan

Pelestarian pakaian adat Sumatera Selatan dilakukan melalui dokumentasi, penelitian, museum, kegiatan kebudayaan, serta keberlanjutan kerajinan tradisional. Museum Negeri Sumatera Selatan, misalnya, mendokumentasikan Aesan Gede dan Aesan Paksangko sebagai bagian dari koleksi dan pengetahuan mengenai busana tradisional Palembang.

Pelestarian juga berlangsung melalui pengakuan Warisan Budaya Takbenda. Songket Palembang telah ditetapkan sejak 2013, sedangkan Aesan Paksangko memperoleh penetapan WBTb pada 2025. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian tidak hanya berfokus pada bentuk fisik busana, tetapi juga pada keterampilan, pengetahuan, dan praktik budaya yang menyertainya.

Jika ingin mengenal lebih banyak destinasi budaya di Sumatera Selatan atau menyusun perjalanan bertema sejarah dan budaya? Rencanakan Perjalanan Anda segera di Indonesia Travel untuk menyusun itinerary liburan sesuai dengan destinasi dan durasi yang Anda mau. 

Jika ingin mengetahui informasi lebih lanjut seputar kuliner, destinasi budaya, festival, maupun atraksi wisata menarik lainnya, manfaatkan MaiA untuk memperoleh rekomendasi perjalanan, tips wisata, serta informasi yang sesuai dengan rencana perjalanan Anda.

 

Referensi

  1. Museum Negeri Sumatera Selatan – Buku Koleksi Museum Sumatera Selatan https://repository.unsri.ac.id/91572/2/A4_Buku%20Koleksi%20Museum%20Negeri%20Sumatera%20Selatan%20%28revisi%29.pdf
  2. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya https://referensi.data.kemendikdasmen.go.id/budayakita/wbtb/objek/AA000222
  3. Repositori Kemendikbud – Songket Palembang https://repositori.kemendikdasmen.go.id/27617/
  4. Jurnal Sejarah Peradaban Islam https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/juspi/article/view/4079

INSIGHT

Ide Perjalanan

Ada Berapa Suku di Indonesia? Kenali Keberagaman Budaya Nusantara

Ada Berapa Suku di Indonesia? Kenali Keberagaman Budaya Nusantara

Baju Adat Bangka Belitung, Warisan Budaya Sarat Filosofi

Baju Adat Bangka Belitung, Warisan Budaya Sarat Filosofi

Mengenal Makna Tari Topeng Warisan Budaya Jawa Barat

Mengenal Makna Tari Topeng Warisan Budaya Jawa Barat