Baju adat Muna merupakan busana tradisional masyarakat Suku Muna, salah satu kelompok etnis di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Busana ini terdiri atas kelengkapan berbeda untuk pria dan wanita, dengan elemen utama berupa baju (bhadu atau bhatu), sarung (bheta), serta sejumlah aksesori yang menandai status sosial pemakainya.
Busana adat ini secara historis berkaitan dengan struktur Kerajaan Muna yang pernah berdiri di Pulau Muna, sebelum terintegrasi ke dalam sistem administrasi Kesultanan Buton dan kemudian Republik Indonesia.
Latar Belakang Sejarah
Kerajaan Muna
Menurut catatan sejarah lokal, Kerajaan Muna, yang juga dikenal dengan nama Wuna, berdiri sejak sekitar abad ke-14 dan bertahan hingga penghapusan sistem kerajaan tradisional pada pertengahan abad ke-20. Kerajaan ini menurut tradisi lisan setempat terbentuk dari penyatuan delapan kampung awal di bawah kepemimpinan seorang raja tertinggi.
Salah satu raja Muna yang tercatat dalam sejarah adalah Lakilaponto, raja Muna ke-7 yang memerintah sekitar 1517–1520, dan kemudian juga dilantik sebagai Sultan Buton pertama dengan gelar Sultan Murhum setelah memeluk agama Islam.
Hubungan historis antara Kerajaan Muna dan Kesultanan Buton ini turut mempengaruhi perkembangan budaya material masyarakat Muna, termasuk busana adatnya, meski identitas dan struktur adat Muna tetap dipertahankan secara terpisah dari Buton, termasuk dalam penolakan raja-raja Muna berikutnya terhadap campur tangan pihak luar dalam urusan internal kerajaan.
Perkembangan Administratif
Pulau Muna sempat berada dalam lingkup pengaruh Kesultanan Buton pada masa kolonial, sebelum akhirnya menjadi wilayah administratif tersendiri. Kabupaten Muna resmi terbentuk sebagai bagian dari Provinsi Sulawesi Tenggara pascakemerdekaan Indonesia, dengan Kota Raha sebagai pusat pemerintahan.
Lokasi dan Persebaran
Masyarakat Suku Muna mendiami Pulau Muna beserta pulau-pulau kecil di sekitarnya, serta sebagian wilayah Pulau Buton, khususnya bagian utara, tenggara, selatan, dan barat daya, yang kini termasuk wilayah administratif Kabupaten Buton Selatan dan Buton Tengah. Secara administratif, wilayah inti masyarakat Muna saat ini terbagi dalam Kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat.
Baju adat ini digunakan oleh masyarakat Muna baik yang menetap di kawasan asal, maupun yang bermigrasi ke wilayah lain di Sulawesi Tenggara dan Indonesia secara umum. Masyarakat Muna sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan petani ladang, dan bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Muna, tergolong dalam rumpun bahasa Muna-Buton yang memiliki beberapa dialek, termasuk dialek Tiworo, Mawasangka, dan Kadatua.
Bentuk dan Kelengkapan Busana
Busana Pria
Kelengkapan busana adat pria Muna terdiri atas baju berlengan pendek (bhadu atau bhatu) berwarna putih, celana (sala), sarung (bheta), serta penutup kepala berupa kopiah (songko) atau ikat kepala kain bermotif batik yang disebut kampurui. Ikat pinggang berbahan logam berwarna kuning turut dikenakan, yang selain berfungsi mengencangkan sarung, juga digunakan untuk menyelipkan senjata tradisional. Sarung yang dikenakan pria umumnya berwarna merah dengan corak geometris horizontal.
Busana Perempuan
Busana adat perempuan Muna terdiri atas baju (bhadu), sarung (bheta), dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. Bentuk baju dapat berlengan pendek maupun panjang, dengan model tertentu memiliki lubang di bagian atas untuk memasukkan kepala.
Perempuan muda pada acara tertentu mengenakan busana yang disebut kuta kutango, yaitu baju berlengan pendek dipadukan sarung bermotif geometris berwarna gelap, seperti hitam, biru, cokelat, atau merah tua. Busana perempuan dilengkapi aksesori berbahan emas, termasuk perhiasan dan ikat kepala berumbai emas, sebagai penanda status maupun kelengkapan estetika busana.
Pada beberapa varian busana, kain sarung dikenakan berlapis, dengan lapisan dalam dan luar yang menutup tubuh dari dada hingga di atas lutut, mengikuti tata cara berpakaian adat yang berlaku di kalangan masyarakat Muna.
Bahan dan Teknik Pembuatan
Sarung (bheta) yang menjadi salah satu elemen utama busana adat Muna secara tradisional dibuat melalui proses tenun menggunakan alat tenun tradisional, dengan corak geometris yang dihasilkan melalui pengaturan pola benang secara manual.
Adapun keterampilan menenun diwariskan secara turun-temurun di kalangan perempuan Muna dan tetap dipertahankan hingga saat ini, sebagai bagian dari kerajinan tekstil khas daerah tersebut, meski produksi massal menggunakan bahan pabrikan juga telah berkembang seiring waktu.
Sedangkan ikat pinggang logam berwarna kuning pada busana pria umumnya dibuat oleh pengrajin logam setempat, sementara ikat kepala kampurui menggunakan kain bercorak batik yang dililitkan mengikuti pola tertentu sesuai kebiasaan adat setempat.
Makna dan Filosofi
Makna Warna
Warna putih yang mendominasi baju atasan pada busana adat Muna diasosiasikan dengan kesucian, sementara warna merah pada sarung, menurut kepercayaan masyarakat setempat, melambangkan kesucian masyarakat dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran agama. Penafsiran makna warna ini merupakan bagian dari kepercayaan budaya yang berkembang secara lisan di kalangan masyarakat Muna dan dapat bervariasi antarsumber maupun antargenerasi penutur, sehingga perlu dibedakan dari fakta historis yang dapat diverifikasi secara independen.
Aksesori dan Status Sosial
Ikat pinggang logam pada busana pria, selain berfungsi praktis untuk mengencangkan sarung dan menyelipkan senjata tradisional, juga menjadi penanda kelengkapan busana formal. Pada busana perempuan, jenis dan jumlah perhiasan emas yang dikenakan, termasuk pada ikat kepala berumbai, secara tradisional turut mencerminkan status sosial ekonomi keluarga pemakainya, sebagaimana umum ditemukan pada busana adat berbagai suku di Sulawesi Tenggara.
Seni dan Kerajinan Tenun
Motif geometris horizontal pada sarung bheta merupakan hasil kerajinan tenun tradisional yang menjadi identitas visual busana adat Muna, membedakannya dari busana adat suku lain di Sulawesi Tenggara, seperti Tolaki dan Buton, yang memiliki motif dan tata warna berbeda. Corak tenun ini menjadi bagian dari kekayaan tekstil tradisional Sulawesi Tenggara secara keseluruhan.
Fungsi dalam Upacara Adat
Busana adat Muna dikenakan dalam berbagai upacara adat, termasuk pernikahan dan perayaan budaya lainnya. Pada masa lalu, busana ini juga digunakan sebagai penanda status sosial dan kedudukan adat pemakainya dalam struktur masyarakat Muna, sebelum kemudian penggunaannya berkembang menjadi lebih terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pelestarian dan Perkembangan Kontemporer
Pemerintah daerah di Kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat turut berperan dalam pelestarian busana adat ini melalui penyelenggaraan festival budaya, serta berbagai acara seremonial daerah. Busana adat Muna saat ini juga dikenakan dalam sejumlah acara resmi sebagai bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya lokal, baik dalam konteks lokal Sulawesi Tenggara, maupun pada acara budaya berskala nasional.
Selain digunakan dalam konteks seremonial pemerintahan, busana ini turut ditampilkan dalam kegiatan pendidikan budaya di lingkungan sekolah dan komunitas adat setempat, sebagai bagian dari pengenalan identitas Muna kepada generasi muda.
Baju adat Muna merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Muna yang mencerminkan identitas, tradisi, dan nilai-nilai lokal Sulawesi Tenggara. Jika Anda ingin mengenal lebih jauh keberagaman budaya Muna dan Sulawesi Tenggara, manfaatkan AI Plan Your Trip untuk menyusun itinerary sesuai durasi dan preferensi Anda. Informasi mengenai destinasi, akses, waktu kunjungan, serta berbagai daya tarik budaya di Sulawesi Tenggara juga dapat ditanyakan kepada Maia, sehingga perjalanan dapat direncanakan dengan lebih mudah.
Baca juga: Museum Sulawesi Tenggara
Referensi:
- https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/terbentuknya-kerajaan-muna-di-sulawesi-tenggara/
- https://budaya-indonesia.org/Pakaian-Adat-Suku-Muna
- https://perpustakaan.id/pakaian-adat/sulawesi-tenggara/
- https://www.detik.com/sulsel/budaya/d-6976836/pakaian-adat-sulawesi-tenggara-dari-suku-tolaki-buton-dan-manu