MaiA ai-icon

Informasi

Menelusuri Tradisi Pemakaman Unik di Desa Trunyan Bali

Image Contributor: Fakhri Anindita/Shutterstock

Desa Trunyan adalah desa adat di Bali yang dikenal karena sistem pemakamannya yang berbeda dari masyarakat Bali pada umumnya. Berada di tepi Danau Batur, Desa Trunyan dihuni masyarakat Bali Aga yang masih mempertahankan berbagai warisan leluhur, termasuk tradisi mepasah dan keberadaan pohon Taru Menyan. Selain mengenal kehidupan adat masyarakat setempat, Anda juga dapat mempelajari sejarah dan legenda yang melatarbelakangi terbentuknya Desa Trunyan.

Mengenal Desa Trunyan

Desa Trunyan adalah salah satu desa adat tertua di Bali yang masih mempertahankan tradisi leluhur masyarakat Bali Aga. Desa ini berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, di sisi timur Danau Batur dan dapat dicapai dengan perahu dari Dermaga Kedisan. 

Kehidupan masyarakat Trunyan memiliki karakteristik tersendiri, mulai dari sistem adat, struktur sosial, hingga tradisi pemakaman.

Nama Trunyan dikaitkan dengan Taru Menyan, yaitu pohon yang tumbuh di area pemakaman dan dipercaya mengeluarkan aroma khas. 

Keberadaan pohon ini juga berkaitan dengan tradisi mepasah, salah satu praktik pemakaman yang menjadi ciri khas Desa Trunyan.

Prosesi Mepasah di Desa Trunyan

Mepasah atau kubur angin merupakan tradisi pemakaman dengan cara meletakkan jenazah di atas tanah tanpa dikremasi maupun dikuburkan. 

Tradisi ini umumnya diperuntukkan bagi warga yang meninggal secara wajar, seperti karena sakit atau usia lanjut, dengan kategori tertentu seperti orang yang telah menikah, pemuda, pemudi, dan anak yang telah meketus (tanggal gigi susu).

Jenazah diletakkan di area khusus dan dilindungi ancak saji, yaitu rangkaian bambu berbentuk kerucut. Area mepasah memiliki kapasitas terbatas hingga 11 jenazah. Jika sudah penuh, jenazah yang paling lama akan dipindahkan dan tulang-belulangnya ditempatkan di area khusus setelah melalui prosesi adat.

Sementara itu, jenazah yang meninggal secara tidak wajar, seperti akibat kecelakaan atau bunuh diri, dimakamkan dengan cara dikubur di area berbeda. 

Masyarakat setempat meyakini keberadaan pohon Taru Menyan membantu menetralisir aroma jenazah di area pemakaman.

Baca Juga: 10 Destinasi Wisata Budaya Bali yang Harus Dikunjungi

Area Pemakaman di Desa Trunyan

Desa Trunyan memiliki tiga area pemakaman dengan fungsi yang berbeda sesuai kondisi dan status orang yang meninggal. Masing-masing area menerapkan tata cara pemakaman yang telah menjadi bagian dari adat masyarakat setempat, yaitu:

1. Sema Wayah

Berada di sebelah utara desa induk Trunyan dan menjadi tempat pemakaman bagi warga yang meninggal secara wajar. 

Jenazah dimakamkan dengan prosesi mepasah, yaitu diletakkan di atas tanah dan dilindungi menggunakan sangkar berbentuk segitiga dari rangkaian bambu. 

Area ini memiliki tujuh sangkar. Jika seluruhnya telah terisi, jenazah yang paling lama akan dipindahkan setelah dilakukan ritual untuk meminta izin. 

Tulang-belulangnya kemudian ditempatkan di bawah pohon suci bersama kerangka lainnya.

2. Sema Nguda

Terletak di antara Sema Wayah dan desa induk Trunyan. Area ini diperuntukkan bagi warga yang belum menikah, anak-anak yang telah melalui tahap meketus atau tanggal gigi susu, serta bayi. 

Jenazah orang yang belum menikah dan anak yang telah meketus menjalani prosesi mepasah, sedangkan bayi yang belum memasuki tahap meketus dimakamkan dengan cara dikubur.

3. Sema Bantas

Berada di sebelah tenggara desa induk Trunyan. Area ini digunakan untuk memakamkan warga yang meninggal secara tidak wajar, seperti akibat kecelakaan atau bunuh diri.

Berbeda dengan Sema Wayah dan Sema Nguda yang menerapkan mepasah untuk kategori tertentu, jenazah di Sema Bantas dimakamkan dengan cara dikubur.

Agar kunjungan Anda lebih terencana, cari tahu berbagai tips dan informasi perjalanan ke Desa Trunyan melalui fitur MaiA. 

Sejarah Desa Trunyan

Sejarah Desa Trunyan berkaitan erat dengan keberadaan pohon Taru Menyan yang dipercaya menjadi asal-usul nama sekaligus bagian penting dari tradisi desa. 

Salah satu legenda menyebutkan bahwa seorang dewi turun dari langit karena tertarik dengan aroma harum pohon tersebut. Ia kemudian menemukan sumber aroma itu dan dipercaya menjadi penguasa Danau Batur dengan gelar Ratu Pingit Dalam Dasar.

Legenda lain mengisahkan empat anak Raja Dalem Solo dari Jawa yang juga tertarik mencari sumber aroma Taru Menyan. 

Tiga putra dan satu putri tersebut melakukan perjalanan hingga tiba di Bali. Sang putri kemudian menetap di kaki Gunung Batur, sementara ketiga saudaranya melanjutkan perjalanan menyusuri Danau Batur.

Dalam perjalanan, terjadi perselisihan antara ketiga putra tersebut hingga dua adiknya meninggalkan perjalanan. Putra tertua kemudian bertemu dengan seorang dewi di bawah pohon Taru Menyan dan menikahinya. Keduanya kemudian menetap di kawasan tersebut dan membangun sebuah kerajaan.

Menurut legenda, aroma Taru Menyan yang terlalu kuat membuat sang permaisuri khawatir keberadaannya diketahui oleh orang luar dan mengundang ancaman. 

Ia kemudian menetapkan aturan agar jenazah masyarakat tidak dikuburkan, tapi diletakkan di tempat terbuka. 

Tradisi tersebut diyakini membuat aroma Taru Menyan hanya tercium di sekitar area pemakaman sekaligus dipercaya membantu menetralisir bau jenazah.

Baca Juga: Mengenal Upacara Ngaben Sebagai Tradisi Penghormatan Roh

Aturan dan Tips Berkunjung ke Desa Trunyan

Karena Desa Trunyan memiliki kawasan adat dan pemakaman yang bersifat sakral, Anda perlu memperhatikan etika selama berkunjung. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Kenakan pakaian yang sopan dan tertutup untuk menghormati adat setempat.
  • Gunakan jasa pemandu lokal agar informasi mengenai tradisi dan aturan desa dapat dipahami dengan tepat.
  • Jaga suara dan sikap, terutama saat berada di area pemakaman.
  • Minta izin sebelum mengambil foto, khususnya di kawasan yang dianggap sakral.
  • Jangan menyentuh, memindahkan, atau mengambil benda apa pun dari area pemakaman.
  • Patuhi arahan masyarakat atau pemandu selama berada di kawasan desa.

Cara Menuju Desa Trunyan

Desa Trunyan dapat dicapai melalui kawasan Kintamani dari arah Denpasar dengan perjalanan darat sekitar 2–3 jam. 

Setelah tiba di Dermaga Kedisan, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu motor untuk menyeberangi Danau Batur menuju Desa Trunyan atau area pemakamannya.

Penyeberangan umumnya membutuhkan waktu sekitar 15–30 menit, bergantung pada kondisi cuaca dan danau. 

Anda disarankan melakukan perjalanan pada pagi hingga siang hari ketika kondisi cuaca cenderung lebih mendukung untuk penyeberangan.

Desa Trunyan memberikan pengalaman mengenai kehidupan masyarakat Bali Aga melalui sejarah, tradisi, hingga tata cara pemakaman yang masih dipertahankan hingga kini. 

Susun rencana perjalanan Anda di Bali sesuai kebutuhan melalui Rencanakan Perjalanan Anda di Indonesia Travel!

 

Referensi:

  • Kompas. https://denpasar.kompas.com/read/2021/03/14/091442078/menilik-desa-trunyan-harumnya-pohon-taru-menyan-di-antara-jenazah-yang-tak?page=all
  • detikTravel. https://travel.detik.com/travel-news/d-5556489/desa-trunyan-dan-tradisi-sakral-kematian-yang-masih-lestari
  • Bali Government Tourism Office. https://disparda.baliprov.go.id/trunyan-village-2/2021/10/

INSIGHT

Ide Perjalanan

Gamelan Bali

Gamelan Bali

Sycro BASE

Sycro BASE

Wisata Kintamani 1 Hari: Itinerary Kintamani untuk Pecinta Alam hingga Slow Travel

Wisata Kintamani 1 Hari: Itinerary Kintamani untuk Pecinta Alam hingga Slow Travel