MaiA ai-icon

Informasi

4 Destinasi Wisata di Danau Toba yang Sarat Sejarah dan Budaya Batak

Image Contributor: Paul Harding 00/imageBROKER/Shutterstock

Danau Toba merupakan salah satu destinasi wisata populer di Sumatera Utara yang banyak menjadi tujuan wisatawan. Danau kaldera vulkanik ini bahkan menjadi salah satu dari lima destinasi super prioritas Indonesia. 

Danau ini terbentuk dari letusan supervulkan Gunung Toba yang berkekuatan Volcanic Explosivity Index (VEI) 8 sekitar 74.000 tahun lalu. Peristiwa ini menjadikan Danau Toba sebagai danau vulkanik terbesar di dunia dengan panjang sekitar 100 kilometer, dan kedalaman maksimum sekitar 508 meter.

Di tengah danau terdapat Pulau Samosir, yang menjadi pusat permukiman masyarakat Batak Toba. Sejak Juli 2020, kawasan ini ditetapkan sebagai Toba Caldera UNESCO Global Geopark yang mencakup keragaman geologi, hayati, dan budaya dari empat kelompok etnis, yaitu Batak Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak.

Berikut adalah empat lokasi di sekitar Danau Toba yang memiliki nilai sejarah, ekologi, dan budaya yang tercatat secara administratif maupun ilmiah.

1. Paropo

Paropo adalah sebuah desa nelayan di tepi utara Danau Toba yang berbatasan dengan wilayah Tao Silalahi, bagian danau dengan kedalaman perairan mencapai sekitar 905 meter, salah satu titik terdalam di Danau Toba. Kawasan tepian danau di sekitar Paropo membentang di sepanjang garis pantai Desa Silalahi I, Silalahi II, Silalahi III, dan Paropo.

Secara administratif, Paropo termasuk dalam Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara. Desa ini berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Dairi dan Kabupaten Karo, di sisi utara kawasan Danau Toba.

Paropo merupakan salah satu dari tiga desa di pesisir barat laut Danau Toba, bersama Tongging dan Silalahi, yang masih mempertahankan tradisi menenun kain ulos menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Dalam kepercayaan tradisional masyarakat Batak, ulos memiliki fungsi sebagai salah satu dari tiga sumber kehangatan hidup, selain matahari dan api, serta dimaknai sebagai simbol kasih sayang, restu, dan persatuan dalam berbagai upacara adat.

Proses menenun ulos secara tradisional dikerjakan oleh perempuan, dan diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat Batak.

2. Air Terjun Situmurun

Air Terjun Situmurun memiliki ketinggian sekitar 70 meter yang terbagi dalam tujuh tingkatan. Alirannya jatuh langsung ke permukaan Danau Toba tanpa melalui aliran sungai di daratan terlebih dahulu. Karakteristik ini membedakannya dari kebanyakan air terjun lain di kawasan Danau Toba.

Air terjun ini juga dikenal dengan nama lokal Binangalom, yang dalam bahasa setempat berarti "sungai penyejuk", merujuk pada asal airnya dari mata air pegunungan di sekitarnya.

Penamaan lokal Binangalom mencerminkan cara masyarakat Batak memaknai sumber air alami sebagai unsur yang menyejukkan dan memberi kehidupan, sejalan dengan kedudukan penting mata air (aek) dalam berbagai tradisi dan kepercayaan masyarakat Batak di kawasan Danau Toba. Air terjun ini juga menjadi salah satu geosite yang tercatat dalam kawasan Situmurun-Blok Uluan di dalam Toba Caldera UNESCO Global Geopark.

Untuk menuju Air Terjun Situmurun yang terletak di Desa Situmurun, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara, Anda harus menggunakan kapal atau speedboat. Sebab, posisinya yang berada di tebing tepi danau membuat lokasi ini hanya dapat dicapai melalui jalur air menggunakan kapal atau speedboat, yang umumnya berangkat dari Pelabuhan Ajibata atau Balige.

Baca juga: 5 Museum Batak di Sekitar Danau Toba yang Unik

3. Lembah Bakkara

Lembah Bakkara adalah kawasan lembah yang diapit oleh perbukitan kaldera di Kabupaten Humbang Hasundutan. Lembah ini merupakan tempat kelahiran dan pusat pemerintahan Dinasti Sisingamangaraja, dinasti Raja Batak yang menurut catatan sejarah lokal memerintah sejak sekitar tahun 1530 hingga 1907, dari Sisingamangaraja I hingga Sisingamangaraja XII.

Sisingamangaraja XII, yang memerintah pada 1875-1907, memimpin perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda selama sekitar 30 tahun, sebelum gugur dalam pertempuran di Si Ono Hudon, Parlilitan, pada 1907, dan kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Lembah Bakkara berada di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Kompleks Istana Raja Sisingamangaraja terletak di Desa Simamora dengan luas area sekitar satu hektare, sementara situs Tombak Sulu-sulu terdapat di lokasi yang diyakini sebagai tempat kelahiran Sisingamangaraja I. Kawasan ini termasuk salah satu geosite bernama Bakkara-Tipang dalam Toba Caldera UNESCO Global Geopark.

Sementara itu, situs Tombak Sulu-sulu diyakini sebagai lokasi ibunda Sisingamangaraja I bersembahyang (martonggo) kepada Ompu Mulajadi Na Bolon, yang dalam kepercayaan tradisional Batak dipahami sebagai Sang Pencipta. Kompleks istana menyimpan warisan budaya berupa naskah beraksara Batak, serta arsip yang dikenal sebagai Bundel Bakkara.

Wisatawan yang berkunjung ke situs-situs bersejarah ini secara adat diharuskan melepas alas kaki dan mengenakan ulos jenis Sibolang, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai historis dan spiritual tempat tersebut.

4. Bukit Simarjarunjung

Bukit Simarjarunjung, dalam bahasa Batak Simalungun disebut Dolog Simarjarunjung, dan dalam bahasa Batak Toba disebut Dolok Simarjarunjung, merupakan bukit dengan ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Bukit ini menjadi salah satu titik pandang untuk melihat Danau Toba dan Pulau Samosir. Kawasan bukit ini termasuk kategori hutan lindung, dan merupakan bagian dari gugusan Pegunungan Bukit Barisan.

Bukit Simarjarunjung berada di Nagori (desa) Parik Sabungan, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, dengan jarak tempuh sekitar 50 kilometer dari Kota Medan.

Nama Simarjarunjung berasal dari bahasa daerah Batak Simalungun dan Batak Toba, yang mencerminkan identitas kewilayahan dua sub-etnis Batak yang bermukim di sekitar kawasan tersebut. Sebagai bagian dari Toba Caldera UNESCO Global Geopark, kawasan hutan lindung di bukit ini turut dilestarikan sebagai bagian dari keragaman hayati (biodiversitas) geopark, termasuk konservasi vegetasi khas dataran tinggi Batak seperti pohon pinus.

Keempat destinasi tersebut merepresentasikan tiga pilar utama Toba Caldera UNESCO Global Geopark, yaitu keragaman geologi, keragaman hayati, dan keragaman budaya. Paropo dan Lembah Bakkara menunjukkan keterkaitan lanskap Danau Toba dengan tradisi seni tenun ulos dan sejarah Dinasti Sisingamangaraja, sementara Air Terjun Situmurun dan Bukit Simarjarunjung mencerminkan formasi geologi khas kaldera vulkanik yang membentuk cekungan Danau Toba.

Empat destinasi di sekitar Danau Toba tersebut menawarkan pengalaman wisata yang beragam, mulai dari menikmati keindahan alam hingga mengenal budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Agar perjalanan menjelajahi Danau Toba lebih terarah, manfaatkan AI Plan Your Trip untuk menyusun itinerary sesuai durasi dan preferensi Anda. Anda juga dapat bertanya kepada MaiA mengenai lokasi, akses, waktu terbaik berkunjung, serta berbagai informasi menarik tentang Danau Toba agar liburan semakin nyaman dan berkesan.

 

Referensi:

https://konservasiinalum.com/sejarah-danau-toba/

https://www.mongabay.co.id/2021/08/15/bakkara-desa-kaya-sejarah-dengan-pesona-alam-memukau/

https://bpodt.kemenpar.go.id/napak-tilas-perjuangan-sisingamangaraja-di-bakkara/

https://calderatobageopark.org/culturaldiversity/

https://bpodt.kemenpar.go.id/geopark-kaldera-toba-istimewa-dengan-16-warisan-dunia/

INSIGHT

Ide Perjalanan

Jalan-jalan Eksplorasi Indonesia Bisa Lho Sambil Bantu Lestarikan Lingkungan!

Jalan-jalan Eksplorasi Indonesia Bisa Lho Sambil Bantu Lestarikan Lingkungan!

Keseruan Menikmati Wisata Balon Udara di Indonesia

Keseruan Menikmati Wisata Balon Udara di Indonesia

#DiIndonesiaAja-Sepenggal Kisah di Selatan Kota Bandung Situ Patenggang, Ciwidey, Bandung Selatan

#DiIndonesiaAja-Sepenggal Kisah di Selatan Kota Bandung Situ Patenggang, Ciwidey, Bandung Selatan