Jembatan Ampera merupakan salah satu landmark paling dikenal di Palembang yang membentang di atas Sungai Musi.
Ketika selesai dibangun pada 1965, jembatan ini bahkan tercatat sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara pada masanya, menjadikannya salah satu proyek infrastruktur penting Indonesia pada dekade tersebut.
Ciri khas Jembatan Ampera yang didominasi warna merah membuatnya mudah dikenali di antara lanskap Kota Palembang.
Saat malam hari, pencahayaan pada struktur jembatan membuatnya tampak menonjol dari kawasan tepian Sungai Musi dan kerap menjadi bagian dari pemandangan malam Kota Palembang.
Sejarah Jembatan Ampera
Pembangunan Jembatan Musi
Gagasan untuk menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir dengan jembatan telah muncul sebelum pembangunan Jembatan Ampera pada 1960-an.
Sebelum jembatan berdiri, penyeberangan kedua kawasan yang dipisahkan oleh Sungai Musi tersebut hanya mengandalkan transportasi sungai, termasuk layanan feri.
Pembangunan jembatan kemudian menjadi bagian dari kebutuhan untuk memperbaiki konektivitas darat dan mengurangi ketergantungan terhadap penyeberangan Sungai Musi. Pembangunan jembatan pun dimulai pada April 1962.
Proyek tersebut menggunakan dana pampasan perang Jepang dan pada awalnya dikenal sebagai Jembatan Bung Karno atau Jembatan Musi. Hal ini karena besarnya peran Presiden Soekarno dalam persetujuan pembangunan jembatan yang telah lama dibutuhkan masyarakat Palembang.
Jembatan tersebut selesai dan mulai diresmikan pada 1965. Sejak awal keberadaannya, fungsi jembatan tidak hanya berkaitan dengan mobilitas kendaraan, tetapi juga dengan perubahan hubungan ekonomi dan sosial antara kawasan Ulu dan Ilir.
Perubahan Nama Menjadi Jembatan Ampera
Jembatan yang kemudian dikenal sebagai Jembatan Ampera INI pada awalnya diberi nama Jembatan Bung Karno.
Penamaan tersebut merupakan bentuk penghargaan masyarakat Palembang kepada Presiden Soekarno atas pembangunan jembatan yang menghubungkan kawasan Seberang Ulu dan Seberang Ilir.
Pada masa Orde Baru, nama tersebut kemudian diubah menjadi Jembatan Ampera. Kedua sisi jembatan kerap menjadi tempat berkumpul mahasiswa yang menyuarakan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera).
Perubahan nama jembatan menjadi Jembatan Ampera mencerminkan semangat perjuangan rakyat Indonesia pada masa itu.
Baca Juga: Masjid Cheng Ho Palembang, Simbol Akulturasi Budaya
Lokasi Jembatan Ampera
Jembatan Ampera berada di pusat Kota Palembang dan membentang dari kawasan Seberang Ilir menuju Seberang Ulu di atas Sungai Musi. Sungai tersebut secara historis membagi perkembangan Kota Palembang menjadi kawasan Ulu dan Ilir sekaligus berperan sebagai jalur transportasi dan perdagangan.
Posisinya juga berkaitan dengan sejumlah kawasan bersejarah dan pusat aktivitas kota, termasuk Benteng Kuto Besak dan kawasan perdagangan Pasar 16 Ilir.
Cara Menuju Jembatan Ampera
Menggunakan LRT Sumatera Selatan
Apabila Anda berangkat dari Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, bisa menggunakan LRT Palembang jurusan Bandara – DJKA/OPI. Cukup turun di Stasiun Dishub Kominfo, yang jaraknya hanya sekitar 18 menit berjalan kaki menuju Jembatan Ampera.
Naik Trans Musi
Bus Trans Musi melayani 6 koridor atau rute dengan sekitar 150 unit bus dan 109 halte, salah satunya melewati rute Jembatan Ampera. Layanan bus ini juga sudah terintegrasi dengan LRT, sehingga Anda dapat langsung turun di halte yang berdekatan dengan stasiun LRT.
Anda dapat mengecek rute dan jam kedatangan bis secara akurat melalui aplikasi “Teman Bus”.
Menggunakan kendaraan pribadi atau taksi
Jembatan Ampera berada di tengah Kota Palembang dan menghubungkan Seberang Ilir dengan Seberang Ulu melalui Sungai Musi. Karena berfungsi sebagai bagian dari jaringan jalan kota, jembatan dapat dicapai menggunakan kendaraan pribadi, taksi, maupun transportasi daring dari berbagai kawasan di Palembang.
Naik Angkot
Hampir semua rute angkot di Palembang melewati Jembatan Ampera dan menghubungkan ke beberapa titik. Anda bisa menggunakan angkot yang memlliki kode merah, coklat muda, kuning, biru, dan hijau. Pastikan membawa uang tunai dan pas untuk membayar ongkos angkot.
Datang dengan berjalan kaki dari kawasan wisata di sekitarnya
Jika sudah berada di pusat kota, Jembatan Ampera dapat dikunjungi bersamaan dengan sejumlah destinasi di sekitarnya, seperti Benteng Kuto Besak dan kawasan Pasar 16 Ilir. Kedekatan berbagai lokasi tersebut memungkinkan wisatawan menyusun kunjungan dalam satu kawasan tanpa harus selalu berpindah menggunakan kendaraan.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Sekitar Jembatan Ampera
Naik perahu atau kapal wisata menyusuri Sungai Musi
Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan di sekitar Jembatan Ampera adalah menyusuri Sungai Musi menggunakan perahu atau kapal wisata. Anda dapat menggunakan perahu atau kapal wisata dari kawasan sekitar 16 Ilir dan Benteng Kuto Besak.
Dari atas perairan, Anda dapat melihat struktur Jembatan Ampera dari sudut yang berbeda sekaligus mengamati aktivitas transportasi sungai dan kawasan tepian Palembang.
Perjalanan pada sore hingga malam hari juga memberikan kesempatan untuk melihat Jembatan Ampera saat pencahayaannya menyala.
Ketersediaan kapal, rute, durasi, dan tarif dapat berubah sehingga perlu dikonfirmasi langsung kepada operator di dermaga.
Baca Juga: Apa yang Bisa Dilakukan di Palembang: Panduan Wisata 2 Hari
Menikmati pemandangan Sungai Musi
Tepian Sungai Musi di sekitar Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera dapat digunakan untuk mengamati aktivitas perahu serta lalu lintas sungai. Kawasan ini juga menjadi ruang publik yang ramai digunakan masyarakat, khususnya pada sore hingga malam hari.
Mencicipi Kuliner khas Palembang
Kawasan sekitar Jembatan Ampera dan Pasar 16 Ilir menawarkan berbagai pilihan makanan khas Palembang. Pempek menjadi salah satu yang paling dikenal, berupa olahan ikan dan tepung sagu yang disajikan bersama kuah cuko bercita rasa asam dan pedas.
Terdapat pilihan lainnya, antara lain tekwan, mi celor, martabak Palembang, hingga es kacang merah.
Berbelanja Oleh-Oleh Khas Palembang
Pasar 16 Ilir merupakan salah satu kawasan yang dapat dikunjungi untuk mencari oleh-oleh khas Palembang. Berbagai produk lokal tersedia di kawasan perdagangan ini, mulai dari kain songket dan kerajinan tangan hingga makanan khas Palembang yang dapat dibawa pulang.
Lokasinya yang berada tidak jauh dari Jembatan Ampera membuat Pasar 16 Ilir mudah dipadukan dalam satu kunjungan.
Mengunjungi Benteng Kuto Besak
Benteng Kuto Besak dapat dikunjungi bersamaan dengan Jembatan Ampera karena keduanya berada dalam kawasan yang berdekatan. Selain melihat bangunan bersejarah, Anda juga dapat mengambil foto dengan latar belakang Jembatan Ampera yang ikonik.
Jika ingin mengeksplorasi Palembang lebih jauh setelah mengunjungi Jembatan Ampera, Anda bisa menggunakan fitur MaiA untuk menemukan referensi tempat wisata, kuliner, hingga aktivitas lain yang dapat melengkapi kunjungan Anda di Palembang.
Rekomendasi Spot Foto dengan Latar Jembatan Ampera
Berkunjung ke kawasan Jembatan Ampera tentu tak lengkap tanpa mengabadikan momen lewat foto. Berikut ini rekomendasi spot foto dengan latar Jembatan Ampera yang bisa Anda kunjungi:
- Benteng Kuto Besak
Area tepian Sungai Musi di sekitar Benteng Kuto Besak menawarkan sudut pandang langsung ke Jembatan Ampera. Dari kawasan ini, pengunjung dapat memperoleh latar jembatan sekaligus Sungai Musi, terutama ketika pencahayaan jembatan mulai menyala pada malam hari. - Dermaga Point
Dermaga di kawasan Benteng Kuto Besak dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan perspektif Jembatan Ampera dari tepian sungai. Posisi yang mengarah ke Sungai Musi memungkinkan struktur jembatan terlihat bersama aktivitas perairan di sekitarnya. - Pasar 16 Ilir
Kawasan Pasar 16 Ilir memberikan perspektif Jembatan Ampera dari sisi pusat perdagangan lama Palembang. Selain area sekitar pasar, beberapa titik di kawasan bangunan pasar dapat digunakan untuk memperoleh latar jembatan dengan lanskap Sungai Musi dan aktivitas perkotaan.
Tertarik melihat kemegahan Jembatan Ampera secara langsung?
Manfaatkan fitur Rencanakan Perjalanan Anda untuk menyusun perjalanan ke Palembang dengan lebih praktis, mulai dari menentukan destinasi yang ingin dikunjungi hingga menyusun itinerary sesuai waktu dan kebutuhan Anda.
Referensi:
- Sholeh, K. & Nindiati, D. S. (2018). “Eksistensi Jembatan Ampera terhadap Perkembangan Sosial, Budaya, dan Ekonomi Masyarakat Ulu Palembang Tahun 1950–2010.” Jurnal HISTORIA, 6(2), 273–294.
https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/historia/article/view/18548 - Putri, Z., Aryanti, N., Syarifuddin & Irwanto, D. (2022). “Sejarah Jembatan Ampera sebagai Ikon Kota Palembang.” Historia Madania: Jurnal Ilmu Sejarah, 6(2), 139–146.
https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/historia/article/view/18548 - Melisa. (2012). “Ampera dan Perubahan Orientasi Ruang Perdagangan Kota Palembang 1920an–1970an.” Lembaran Sejarah, 9(1), 51–68.
https://journal.ugm.ac.id/lembaran-sejarah/article/view/23768 - Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. “Evaluasi Struktur Jembatan Ampera sebagai Upaya Awal Pelestarian Aset Heritage Kota Palembang.”
https://binamarga.pu.go.id/index.php/article/evaluasi-struktur-jembatan-ampera-sebagai-upaya-awal-pelestarian-aset-heritage-kota-palembang - ANTARA. “Sejarah Jembatan Ampera yang Menjadi Ikon Kota Palembang.”
https://www.antaranews.com/berita/4740865/sejarah-jembatan-ampera-yang-menjadi-ikon-kota-palembang - detikSumbagsel. “5 Transportasi Umum di Palembang, Permudah Akomodasi Saat Liburan.” https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-8245354/5-transportasi-umum-di-palembang-permudah-akomodasi-saat-liburan?page=3