Kompleks Candi Muara Jambi adalah kawasan arkeologi yang berada di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Kawasan ini terdiri atas berbagai peninggalan arkeologi berupa struktur bata, bangunan candi, menapo (gundukan tanah), sisa permukiman kuno, kanal, dan kolam.
Kawasan tersebut berada di sekitar Sungai Batanghari dan mencakup area seluas sekitar 3.981 hektare yang tersebar di dua kecamatan dan delapan desa. Kompleks ini memiliki keterkaitan dengan sejarah Melayu Kuno dan Sriwijaya serta perkembangan agama dan pendidikan Buddha di kawasan Asia.
Sejarah Kompleks Candi Muaro Jambi
Kompleks Candi Muaro Jambi merupakan kawasan arkeologi yang berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Kawasan ini berkembang sebagai pusat keagamaan Buddha pada sekitar abad ke-7 hingga ke-14.
Terletak di di sekitar Sungai Batanghari juga mendukung hubungan kawasan Candi Muaro Jambi dengan aktivitas perdagangan dan pertukaran budaya di berbagai wilayah Asia. Kawasan candi ini juga disebut sebagai salah satu pusat keagamaan dan pembelajaran Buddha yang penting di Asia.
Pembelajaran yang berlangsung tidak hanya berkaitan dengan agama Buddha, tetapi juga mencakup ilmu pengobatan, filsafat, dan arsitektur. Muara Jambi juga disebut memiliki hubungan dengan pusat pendidikan Buddha di Nalanda, India.
Hubungan tersebut merupakan bagian dari jaringan pertukaran pengetahuan dan keagamaan antara Sumatera, India, Tiongkok, Tibet, dan wilayah Asia lainnya. Salah satu tokoh yang disebut dalam catatan sejarah terkait jaringan tersebut adalah I-Tsing, biksu Buddha dari Tiongkok yang melakukan perjalanan di Asia pada abad ke-7.
Dalam catatan perjalanannya, I-Tsing menggambarkan keberadaan pusat pembelajaran Buddha di Sumatera sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Hubungan antara Sriwijaya dan pusat pembelajaran Buddha di India juga tercatat dalam Prasasti Nalanda dari abad ke-9.
Prasasti tersebut menyebut pembangunan asrama bagi para biksu dari Swarnadwipa, yang dalam dokumen pengajuan UNESCO dikaitkan dengan Sriwijaya. Bukti tersebut digunakan untuk menggambarkan hubungan pendidikan dan keagamaan antara Sriwijaya dan India pada masa itu.
Struktur dan Arsitektur Kompleks Candi
Kompleks Candi Muaro Jambi memiliki struktur yang berbeda dari kompleks candi yang hanya terdiri atas bangunan utama. Setiap kelompok bangunan dapat memiliki sejumlah elemen pendukung, seperti candi utama, bangunan perwara, pagar, gerbang, parit, dan struktur bata lainnya.
Sebagian besar struktur yang ditemukan menggunakan bata sebagai material bangunan. Salah satu contohnya adalah Kompleks Candi Kedaton. Kompleks tersebut terdiri atas satu candi utama, satu bangunan perwara, beberapa struktur bata, pagar utama, pagar pembatas, dan parit yang mengelilinginya. Tata ruang tersebut menunjukkan adanya pembagian ruang yang berkaitan dengan fungsi sakral, profan, dan privat.
Selain bangunan candi, kawasan ini memiliki kanal dan kolam yang menjadi bagian dari sistem lingkungan situs. UNESCO mencatat bahwa kanal-kanal tersebut berkaitan dengan pengelolaan air, transportasi, dan pemanfaatan sumber daya lingkungan oleh masyarakat pada masa lalu.
Keberadaan kanal juga menunjukkan penyesuaian tata ruang kawasan dengan kondisi geografis Muaro Jambi yang berada di sekitar Sungai Batanghari dan memiliki lingkungan yang rawan genangan.
Baca Juga: 11 Tempat Bersejarah di Indonesia, Destinasi Wisata Edukatif
Situs Arkeologi di Kompleks Candi Muaro Jambi
Kompleks Candi Muaro Jambi memiliki berbagai peninggalan arkeologi berupa struktur bata, bangunan candi, menapo, sisa permukiman, kanal, dan kolam. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2024, sebanyak 88 struktur bata telah diinventarisasi di kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi. Dari jumlah tersebut, sembilan struktur telah dipugar, yaitu Candi Astano, Candi Kembar Batu, Candi Tinggi, Candi Tinggi I, Candi Gumpung, Candi Gumpung I, Candi Gedong I, Candi Gedong II, dan Candi Kedaton.
Pada 2024, kegiatan revitalisasi kawasan juga mencakup rencana pemugaran Candi Kotomahligai dan Candi Parit Duku serta perencanaan pemugaran Candi Sialang dan Candi Alun-Alun. Selain itu, dilakukan penataan lingkungan pada sejumlah kawasan candi dan normalisasi parit serta kolam sebagai bagian dari upaya pelestarian kawasan.
Upaya pelestarian Kompleks Candi Muaro Jambi masih berlangsung dan mencakup tidak hanya pemugaran bangunan, tetapi juga penataan lingkungan serta pengelolaan elemen pendukung kawasan. Dengan luas kawasan mencapai 3.981 hektare, tinggalan arkeologi di Muaro Jambi mencakup area yang luas dan terdiri atas berbagai jenis struktur serta fitur lingkungan.
Temuan Arkeologi di Kompleks Candi Muaro Jambi
Berbagai artefak ditemukan di kawasan Kompleks Candi Muaro Jambi, termasuk patung Buddha, peralatan ritual, dan benda-benda yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Temuan tersebut menjadi bagian dari sumber informasi mengenai aktivitas keagamaan dan kehidupan masyarakat di kawasan Muaro Jambi pada masa lalu. Berikut adalah beberapa jenis artefak yang tercatat ada di kawasan Candi Muaro Jambi:
- Patung Prajnaparamita: Patung yang menggambarkan Prajnaparamita, tokoh yang berkaitan dengan konsep kebijaksanaan dalam ajaran Buddha. Keberadaan arca ini menjadi bagian dari tinggalan seni dan keagamaan di kawasan Muara Jambi.
- Prasasti dan inskripsi: Temuan berupa prasasti dan inskripsi dapat digunakan sebagai sumber informasi untuk mempelajari sejarah serta fungsi kawasan percandian.
- Peralatan ritual: Artefak yang berkaitan dengan kegiatan ritual antara lain patung-patung berukuran kecil, wadah berbahan perunggu, dan peralatan lainnya yang digunakan dalam aktivitas keagamaan.
- Benda sehari-hari: Selain artefak keagamaan, ditemukan pula benda-benda yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Temuan tersebut memberikan informasi mengenai kehidupan masyarakat yang pernah beraktivitas di kawasan Muara Jambi.
Berbagai temuan tersebut dipelajari bersama dengan struktur candi dan tinggalan arkeologi lainnya untuk memahami perkembangan keagamaan, kehidupan masyarakat, serta penggunaan kawasan Muaro Jambi pada masa lalu.
Upaya Pelestarian Kompleks Candi Muaro Jambi
Kegiatan pelestarian dan pemugaran di kawasan Muaro Jambi telah dilakukan sejak 1975 dan masih berlangsung. UNESCO mencatat bahwa pemerintah melakukan pemugaran dan konservasi terhadap sejumlah struktur di kawasan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga menjalankan program revitalisasi Kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi. Kementerian Kebudayaan menyebut kegiatan tersebut mencakup pemugaran, perencanaan pemugaran, normalisasi parit keliling, serta penataan lingkungan. Program tersebut juga mencakup pembangunan museum dan pekerjaan pemugaran serta perencanaan pada sejumlah candi.
Pelestarian kawasan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan keaslian struktur cagar budaya. Hal ini penting karena kawasan Candi Muaro Jambi memiliki bentang arkeologi yang luas dan terdiri atas banyak struktur serta fitur lingkungan yang saling berkaitan.
Lokasi dan Akses Menuju Kompleks Candi Muaro Jambi
Kompleks Candi Muara Jambi berada di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Kawasan ini tersebar di dua kecamatan, yaitu Maro Sebo dan Taman Rajo, dengan delapan desa yang termasuk dalam batas kawasan cagar budaya.
Dari Kota Jambi, perjalanan menuju kawasan dapat dilakukan melalui jalur darat. Akses menuju kawasan dapat melalui Jembatan Aur Duri II dan kemudian menuju Kecamatan Maro Sebo. Jarak dari Kota Jambi sekitar 21-23 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 40 menit hingga satu jam, tergantung kondisi perjalanan.
Selain kendaraan pribadi, tersedia akses menggunakan transportasi umum. Pemerintah Provinsi Jambi pernah meresmikan operasional Bus Wisata Trans Siginjai dengan rute dari Bandara Sultan Thaha Jambi menuju Candi Muaro Jambi.
Karena kawasan percandian memiliki area yang luas, Anda dapat menggunakan kendaraan untuk berkeliling di dalam kawasan. Informasi pariwisata mencatat adanya pilihan seperti sepeda, becak motor, dan kendaraan listrik.
Baca Juga: Candi Borobudur: Daya Tarik Utama Pariwisata Indonesia
Informasi Kunjungan ke Kawasan Candi Muaro Jambi
Sebelum berkunjung, Anda dapat memperkirakan biaya masuk sekaligus kebutuhan transportasi selama berada di kawasan Kompleks Candi Muaro Jambi.
- Tiket masuk: Sekitar Rp9.000 per orang untuk wisatawan dewasa dan Rp6.000 per orang untuk anak-anak.
- Becak motor: sekitar Rp10.000-Rp20.000.
- Sepeda: sekitar Rp20.000.
- Motor listrik: sekitar Rp50.000.
Hal yang harus diperhatikan ketika berkunjung adalah Kompleks Candi Muara Jambi merupakan kawasan cagar budaya yang luas dan masih menjalani kegiatan pelestarian, karena itu Anda perlu mengikuti ketentuan yang berlaku di area situs, termasuk menjaga struktur cagar budaya dan lingkungan sekitarnya.
Setelah mengetahui lokasi dan informasi kunjungan Kompleks Candi Muara Jambi, Anda dapat melanjutkan perencanaan perjalanan dengan menentukan destinasi lain yang ingin dikunjungi di Jambi.
Untuk membantu menyusun rencana perjalanan, gunakan AI Plan Your Trip di Indonesia Travel. Anda dapat memasukkan Kompleks Candi Muara Jambi sebagai salah satu destinasi, menentukan durasi perjalanan, serta menambahkan destinasi dan aktivitas lain untuk mendapatkan rancangan itinerary yang sesuai.
Selama perjalanan, MaiA juga dapat membantu memberikan informasi mengenai destinasi wisata di sekitar Kompleks Candi Muara Jambi, pilihan transportasi, aktivitas, serta informasi perjalanan lainnya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda.
Sumber/Referensi:
- Museum Muara Jambi - Muarajambi.com
- Sisparnas Kemenpar - Sisparnas.kemenpar.go.id
- Official Pemerintah Provinsi Jambi - https://jambiprov.go.id/profil-muaro-jambi.html
- UNESCO - https://whc.unesco.org/en/tentativelists/6827