Rumah Adat Rejang merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Suku Rejang di Provinsi Bengkulu. Dalam berbagai literatur, rumah adat ini juga dikenal sebagai Rumah Bubungan Lima, yaitu rumah tradisional yang berkembang di wilayah Bengkulu dan banyak digunakan oleh masyarakat Rejang. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya, status sosial, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Arsitektur Rumah Adat Rejang dirancang dengan mempertimbangkan kondisi geografis Bengkulu yang berada di pesisir barat Pulau Sumatra. Wilayah ini termasuk kawasan yang rawan gempa bumi dan banjir sehingga rumah dibangun dalam bentuk rumah panggung dengan struktur yang kokoh. Selain itu, penggunaan material alami seperti kayu dan bambu menunjukkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Tidak hanya dari segi konstruksi, setiap bagian Rumah Adat Rejang juga memiliki fungsi dan makna tertentu. Tata ruang, jumlah anak tangga, arah bangunan, hingga ragam hias yang digunakan mencerminkan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sekitarnya. Nilai-nilai tersebut menjadikan Rumah Adat Rejang sebagai salah satu contoh kearifan lokal yang masih dipelajari hingga saat ini.
Sejarah Rumah Adat Rejang dari Bengkulu
Rumah Adat Rejang berasal dari masyarakat Suku Rejang yang mendiami wilayah Kabupaten Rejang Lebong dan beberapa daerah lain di Provinsi Bengkulu. Rumah ini berkembang sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi alam sekaligus kebutuhan hidup masyarakat pada masa lalu.
Secara geografis, Bengkulu berada di kawasan yang memiliki tingkat aktivitas tektonik cukup tinggi. Gempa bumi dan banjir menjadi bencana yang kerap terjadi sehingga masyarakat membangun rumah panggung dengan tiang-tiang penyangga yang tinggi. Konstruksi tersebut membuat lantai rumah terhindar dari genangan air sekaligus membantu meredam dampak guncangan ketika terjadi gempa.
Rumah Adat Rejang memanfaatkan material yang mudah ditemukan di sekitar wilayah Bengkulu, terutama kayu dan bambu. Daerah Rejang Lebong dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki sumber daya bambu dan kayu yang melimpah sehingga bahan bangunan dapat diperoleh secara lokal. Salah satu jenis kayu yang banyak digunakan adalah kayu kemuning yang dikenal lentur, kuat, dan mampu bertahan hingga ratusan tahun.
Pada masa lalu, Rumah Bubungan Lima umumnya dihuni oleh kalangan bangsawan atau masyarakat dengan status sosial yang tinggi. Hal ini terlihat dari ukuran bangunan, ragam ukiran, serta ornamen yang menghiasi setiap bagian rumah. Selain sebagai tempat tinggal, rumah adat ini juga digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan adat, seperti musyawarah keluarga, upacara adat, dan prosesi pernikahan.
Seiring perkembangan zaman, material atap yang semula menggunakan ijuk mulai banyak digantikan oleh seng. Meskipun demikian, bentuk dasar bangunan serta karakteristik arsitekturnya tetap dipertahankan sebagai bagian dari pelestarian budaya masyarakat Bengkulu.
Baca juga: Kerambit, Senjata Tradisional Bengkulu yang Mematikan
Makna dan Filosofi dari Rumah Adat Rejang
Rumah Adat Rejang tidak hanya memiliki fungsi sebagai hunian, tetapi juga mengandung berbagai nilai filosofis yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Bengkulu.
Salah satu filosofi utama rumah ini adalah keseimbangan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam. Nilai tersebut tercermin dalam tata ruang, orientasi bangunan, hingga penggunaan material alami yang berasal dari lingkungan sekitar.
Bagian atap rumah umumnya dirancang menghadap ke arah timur. Arah tersebut melambangkan sumber cahaya, harapan, serta bentuk penghormatan kepada Tuhan sebagai pemberi kehidupan. Sementara itu, bentuk rumah panggung menunjukkan kemampuan masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan kondisi alam tanpa merusak lingkungan.
Rumah Adat Rejang juga memiliki berbagai motif ukiran yang mengandung makna simbolis. Motif bunga seroja melambangkan rasa syukur dan kebahagiaan. Motif selembayung menggambarkan keperkasaan dan keteguhan, sedangkan motif kembang empat menjadi simbol keberuntungan.
Keunikan lain terdapat pada jumlah anak tangga yang dibuat ganjil. Dalam kepercayaan masyarakat Bengkulu, jumlah anak tangga ganjil melambangkan martabat, kehormatan, dan kebesaran keluarga yang menempati rumah tersebut.
Selain itu, pola ruang yang terbuka mencerminkan nilai kebersamaan dan keramahan masyarakat. Pintu dan jendela berukuran besar memungkinkan sirkulasi udara berlangsung dengan baik sekaligus menciptakan ruang yang nyaman untuk aktivitas bersama anggota keluarga maupun tamu.
Melalui berbagai unsur tersebut, Rumah Adat Rejang menjadi representasi nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi dan tetap dipertahankan sebagai identitas masyarakat Bengkulu.
Ciri Khas Rumah Adat Rejang
Rumah Adat Rejang memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari rumah adat di daerah lain di Indonesia. Keunikan tersebut terlihat pada bentuk bangunan, material yang digunakan, konstruksi, hingga pembagian ruang di dalam rumah.
Bangunan ini berbentuk rumah panggung dengan atap menyerupai limas yang tinggi. Struktur rumah disangga oleh tiang-tiang kayu yang berdiri di atas batu sebagai pondasi. Penggunaan batu pada bagian bawah tiang berfungsi membantu mengurangi dampak guncangan saat terjadi gempa bumi.
Material utama rumah terdiri atas kayu dan bambu. Dinding biasanya menggunakan papan atau pelupuh bambu, sedangkan plafon dibuat dari papan atau anyaman bambu. Di bagian tengah dinding terdapat jendela dengan lubang angin di atasnya untuk menjaga sirkulasi udara tetap optimal.
Selain memperhatikan ketahanan bangunan, Rumah Adat Rejang juga dirancang sesuai dengan iklim tropis Bengkulu. Bukaan berupa pintu dan jendela berukuran besar membuat udara dapat mengalir dengan baik sehingga suhu di dalam rumah tetap nyaman.
Baca juga: Songket Bengkulu, Keindahan Tenun Tradisional yang Abadi
Bagian Depan Rumah Adat Rejang
Bagian depan rumah terdiri atas berendo, yaitu serambi atau ruang terbuka yang digunakan sebagai tempat bersantai. Area ini juga dimanfaatkan untuk menerima tamu serta menjadi tempat bermain anak-anak.
Di belakang berendo terdapat hall, yaitu ruang penerima tamu yang memiliki hubungan lebih dekat dengan pemilik rumah. Selain menerima tamu, hall juga menjadi tempat berkumpul bersama keluarga besar ketika ada kegiatan atau acara tertentu.
Keberadaan ruang depan menunjukkan bahwa masyarakat Rejang memberikan perhatian terhadap fungsi sosial rumah sebagai tempat berinteraksi dengan kerabat dan tamu.
Bagian Tengah Rumah Adat Rejang
Ruang tengah merupakan salah satu area utama dalam Rumah Adat Rejang. Ruangan ini digunakan untuk menyimpan berbagai perabot rumah tangga sekaligus menjadi tempat menerima tamu, terutama tamu perempuan atau kalangan ibu rumah tangga.
Pada malam hari, ruang tengah memiliki fungsi tambahan sebagai tempat tidur bagi anak laki-laki. Penggunaan ruang yang dapat berubah sesuai kebutuhan mencerminkan efisiensi dalam pemanfaatan area rumah.
Bagian tengah juga memiliki jendela serta lubang ventilasi yang membantu menjaga sirkulasi udara sehingga ruangan tetap sejuk meskipun berada di daerah beriklim panas dan lembap.
Ruang Penting Lainnya di Rumah Adat Rejang
Selain ruang depan dan ruang tengah, Rumah Adat Rejang memiliki beberapa ruangan lain yang mendukung aktivitas sehari-hari penghuninya.
Salah satu ruangan utama adalah bilik gedang, yaitu kamar tidur yang digunakan oleh pasangan suami istri. Jika pasangan tersebut masih memiliki anak yang berusia kecil, anak diperbolehkan tidur bersama orang tuanya di ruangan ini.
Di bawah bangunan rumah terdapat ruang kosong yang terlindungi oleh papan. Bagian ini berfungsi melindungi penghuni dari gangguan hewan liar sekaligus menjaga struktur bangunan tetap aman.
Struktur rumah juga diperkuat oleh balok-balok penghubung antartiang yang membantu mendistribusikan beban bangunan secara merata. Kombinasi antara pondasi batu, tiang kayu, dan konstruksi panggung membuat Rumah Adat Rejang lebih mampu menghadapi kondisi alam Bengkulu yang rawan gempa dan banjir.
Jika ingin melihat langsung arsitektur Rumah Adat Rejang serta berbagai rumah adat dari daerah lain di Indonesia, Anda dapat mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta yang memiliki anjungan rumah adat dari berbagai provinsi. Manfaatkan fitur Rencanakan Perjalanan Anda di website indonesia.travel untuk menyusun itinerary sesuai destinasi dan minat perjalanan Anda.
Apabila ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Rumah Adat Rejang, rumah adat lainnya, maupun budaya Indonesia, gunakan fitur MAiA untuk mendapatkan informasi, rekomendasi, dan jawaban yang mudah dipahami sesuai kebutuhan Anda.
Referensi:
- https://rbtv.disway.id/serba-serbi/read/101159/mengulik-sejarah-rumah-adat-bengkulu-kaya-kearifan-lokal
- https://rri.co.id/bengkulu/features/1012346/mengenal-lebih-dekat-dengan-suku-rejang-di-bengkulu
- https://budaya-indonesia.org/Tenun-Rejang
- https://siberbengkulu.co/fakta-unik-suku-rejang-asal-bengkulu
- https://tamanmini.com/taman_jelajah_indonesia/anjungan/anjungan-bengkulu/