MaiA ai-icon

Informasi

Tari Saman: Sejarah, Keunikan, dan Maknanya

Tari Saman merupakan tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Suku Gayo di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Tarian ini dikenal melalui gerakan yang cepat, serempak, dan ritmis, dengan iringan tepukan tangan, pukulan dada, serta lantunan syair tanpa menggunakan alat musik.

Fakta Singkat Tari Saman

  • Berasal dari: Suku Gayo, Kabupaten Gayo Lues, Aceh
  • Jenis: Tari tradisional berkelompok
  • Pengakuan UNESCO: Warisan Budaya Takbenda sejak 2011
  • Iringan: Tepukan tangan, pukulan dada, hentakan tubuh, dan syair
  • Busana: Pakaian adat Kerawang Gayo
  • Jumlah penari: Umumnya berjumlah ganjil, seperti 11, 13, 15, atau lebih, tergantung kebutuhan pertunjukan
  • Fungsi: Media ekspresi budaya, pendidikan, upacara adat, dan penyambutan tamu

Pada tahun 2011, Tari Saman ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak (Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding). Pengakuan tersebut menegaskan nilai budaya Tari Saman sekaligus pentingnya upaya pelestarian tradisi ini bagi generasi mendatang.

Tari Saman Berasal dari Mana?

Tari Saman berasal dari masyarakat Suku Gayo yang mendiami wilayah dataran tinggi Aceh, khususnya Kabupaten Gayo Lues. Dalam tradisi masyarakat Gayo, tarian ini telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Tari Saman dipentaskan pada berbagai kesempatan, seperti perayaan adat, penyambutan tamu kehormatan, peringatan hari besar, hingga festival budaya. 

Selain sebagai pertunjukan seni, Tari Saman juga menjadi media untuk menyampaikan nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap tradisi.

Sejarah Tari Saman

Berdasarkan berbagai kajian sejarah dan dokumen nominasi UNESCO, Tari Saman telah berkembang sebagai tradisi masyarakat Gayo sebelum masa kolonial dan diwariskan secara turun-temurun.

Dalam perkembangannya, syair-syair yang dilantunkan dalam Tari Saman banyak mengandung pesan moral, nasihat, serta ajaran Islam. 

Oleh karena itu, sebagian masyarakat mengaitkan penyebaran Tari Saman dengan peran Syekh Saman, seorang ulama yang dikenal menyebarkan nilai-nilai Islam melalui pendekatan budaya.

Namun, tidak terdapat kesepakatan bahwa beliau merupakan pencipta tunggal Tari Saman. Saat ini, Tari Saman tetap dipertahankan sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Gayo dan terus dipelajari melalui sanggar seni, sekolah, serta berbagai kegiatan budaya di Aceh.

Baca Juga: Mengenal Tari Seudati: Sejarah, Makna dan Karakteristiknya

Keunikan Tari Saman

Keunikan Tari Saman terletak pada perpaduan gerakan, irama, dan kekompakan para penarinya. Seluruh unsur pertunjukan dilakukan secara serempak sehingga membutuhkan koordinasi dan konsentrasi yang tinggi.

1. Gerakan yang Cepat dan Serempak

Gerakan Tari Saman didominasi oleh tepukan tangan, pukulan dada, gerakan kepala, serta ayunan tubuh yang dilakukan dengan tempo yang dapat berubah dari lambat menjadi sangat cepat.

Seluruh penari bergerak secara sinkron tanpa meninggalkan posisi duduk. Kekompakan tersebut menjadi salah satu ciri yang membedakan Tari Saman dari tarian tradisional lainnya di Indonesia.

2. Menggunakan Busana Kerawang Gayo

Nama kostum Tari Saman adalah busana adat Kerawang Gayo. Kostum ini didominasi warna hitam dengan hiasan motif bordir berwarna merah, kuning, hijau, dan putih yang memiliki makna simbolis dalam budaya Gayo.

Penari juga mengenakan penutup kepala khas yang menjadi bagian dari identitas busana tradisional masyarakat Gayo.

3. Diiringi Syair Tanpa Alat Musik

Berbeda dengan banyak tarian tradisional lainnya, Tari Saman tidak menggunakan alat musik sebagai pengiring.

Irama pertunjukan dibangun melalui:

  • Tepukan tangan.
  • Pukulan pada dada dan paha.
  • Gerakan tubuh yang ritmis.
  • Lantunan syair atau nyanyian yang dibawakan oleh para penari.

Syair yang dinyanyikan umumnya berisi doa, nasihat, pujian kepada Tuhan, maupun pesan tentang kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga: Mengenal Rapai, Alat Musik Tradisional Aceh yang Bersejarah

4. Jumlah Penari Tari Saman

Jumlah penari Tari Saman umumnya menggunakan angka ganjil, seperti 11, 13, 15, atau lebih, tergantung kebutuhan pertunjukan dan formasi yang digunakan.

Setiap penari memiliki peran tertentu, termasuk seorang pemimpin di tengah bernama penangkat atau syekh yang mengatur tempo, perubahan gerakan, serta irama syair agar pertunjukan tetap berjalan selaras.

5. Aturan Tari Saman

Dalam tradisi masyarakat Gayo, Tari Saman memiliki aturan yang dijaga hingga kini, di antaranya:

  • Tarian dilakukan secara berkelompok dalam satu barisan.
  • Seluruh gerakan harus dilakukan secara serempak.
  • Penari mengenakan busana adat Gayo.
  • Syair mengikuti tradisi lisan masyarakat Gayo.

Secara tradisi dan adat aslinya, Tari Saman ditarikan oleh laki-laki. Tarian khas Suku Gayo ini tidak dicampur antara laki-laki dan perempuan. Ketentuan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan dalam masyarakat Gayo.

Makna dan Fungsi Tari Saman

Bagi masyarakat Gayo, Tari Saman bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang mengandung berbagai nilai kehidupan. Gerakan, syair, dan kekompakan para penari merepresentasikan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun.

Beberapa makna yang terkandung dalam Tari Saman meliputi:

  • Kebersamaan, yang tercermin melalui gerakan serempak dan koordinasi antarpenari.
  • Kedisiplinan, karena setiap penari harus mengikuti tempo, ritme, dan formasi secara tepat.
  • Nilai keagamaan, yang disampaikan melalui syair berisi doa, nasihat, serta ajaran Islam.
  • Musyawarah dan persatuan, sebagai cerminan kehidupan masyarakat Gayo yang mengutamakan kerja sama.

Selain memiliki makna filosofis, Tari Saman juga menjalankan berbagai fungsi dalam kehidupan masyarakat, antara lain:

  • Sebagai bagian dari upacara adat dan perayaan budaya.
  • Sebagai pertunjukan untuk menyambut tamu kehormatan.
  • Sebagai media pendidikan untuk mewariskan nilai budaya kepada generasi muda.
  • Sebagai representasi identitas budaya masyarakat Gayo di tingkat nasional maupun internasional.

Perbedaan Tari Saman dan Tari Ratoh Jaroe

Tari Saman sering disamakan dengan Tari Ratoh Jaroe, padahal keduanya merupakan tarian yang berbeda dari segi asal-usul, penari, maupun karakteristik pertunjukannya.

Tari Saman

Tari Ratoh Jaroe

Berasal dari masyarakat Suku Gayo, Kabupaten Gayo Lues

Berkembang di wilayah pesisir Aceh, terutama Banda Aceh

Secara tradisi ditarikan oleh laki-laki dan tidak dicampur dengan perempuan

Umumnya dibawakan oleh penari perempuan

Menggunakan syair dalam bahasa Gayo

Menggunakan syair dalam bahasa Aceh

Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak pada tahun 2011

Belum terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO

Meskipun sama-sama menampilkan gerakan yang kompak dan ritmis, Tari Saman dan Tari Ratoh Jaroe memiliki latar budaya yang berbeda sehingga keduanya tidak dapat disamakan.

Di Mana Anda Dapat Menyaksikan Tari Saman?

Tari Saman masih dipentaskan dalam berbagai kegiatan adat dan budaya di Aceh, khususnya di wilayah Kabupaten Gayo Lues, yang menjadi daerah asal masyarakat Gayo.

Selain di Gayo Lues, Anda juga dapat menyaksikan pertunjukan Tari Saman pada berbagai acara berikut:

  • Festival budaya di Provinsi Aceh.
  • Perayaan hari besar dan kegiatan adat masyarakat Gayo.
  • Pekan Kebudayaan Aceh (PKA).
  • Festival budaya nasional maupun internasional yang menampilkan kesenian tradisional Indonesia.

Apabila ingin memahami Tari Saman dalam konteks budaya aslinya, pertunjukan di wilayah Gayo memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana tradisi ini tetap dipraktikkan dan diwariskan oleh masyarakat setempat.

Segera rencanakan Perjalanan Anda di website indonesia.travel untuk menyusun itinerary perjalanan ke Aceh berdasarkan preferensi dan waktu yang Anda miliki.

Pelestarian Tari Saman

Sejak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2011, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah, lembaga pendidikan, sanggar seni, dan masyarakat Gayo.

Beberapa bentuk pelestarian meliputi:

  • Dokumentasi gerakan, syair, dan tradisi lisan.
  • Pendidikan Tari Saman di sekolah dan sanggar seni.
  • Penyelenggaraan festival budaya secara berkala.
  • Pembinaan komunitas seni di daerah asal.
  • Promosi budaya melalui pertunjukan di tingkat nasional dan internasional.

Upaya tersebut bertujuan menjaga keberlanjutan Tari Saman sebagai warisan budaya yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Jika memerlukan rekomendasi destinasi, aktivitas budaya, atau informasi perjalanan, MaiA siap membantu Anda merencanakan perjalanan ke Aceh dengan lebih mudah.

referensi

HAL-HAL TERBAIK YANG BISA DILAKUKAN

JELAJAHI DESTINASI LAIN

INSIGHT

Ide Perjalanan

Kuah Sie Itek

Kuah Sie Itek

Agama di Nanggroe Aceh Darussalam

Agama di Nanggroe Aceh Darussalam

Kelezatan Kuah Beulangong

Kelezatan Kuah Beulangong