Ubi Jalar Papua, yang dikenal secara lokal dengan sebutan Petatas (Ipomoea batatas), adalah tanaman umbi-umbian yang menjadi makanan pokok utama masyarakat di kawasan Pegunungan Tengah Papua. Selain di wilayah Provinsi Papua Tengah yang meliputi Kabupaten Mimika, Nabire, Paniai, Intan Jaya, Deiyai, dan Dogiyai, tanaman ini juga menjadi makanan pokok masyarakat di wilayah adat Lapago (termasuk Lembah Baliem) dan Meepago di Provinsi Papua Pegunungan.
Di dataran tinggi tersebut, ubi jalar menggantikan peran padi dan jagung yang sulit dibudidayakan pada ketinggian di atas 1.500 meter di atas permukaan laut.
Nama dan Sebutan Lokal Ubi Jalar
Penyebutan ubi jalar di Papua bervariasi antarwilayah adat. Sebagian masyarakat menyebutnya "petatas", suku Mee di wilayah adat Meepago menyebutnya "nota", dan masyarakat di wilayah adat Lapago menyebutnya "mbe" atau "hipere". Nama "petatas" diduga berasal dari kata Spanyol "batata", yang diadopsi dari bahasa Suku Indian di Amerika.
Asal-usul dan Introduksi ke Papua
Secara botani, ubi jalar (Ipomoea batatas) diyakini berasal dari kawasan Amerika, dengan pusat asal primer di Amerika Tengah, meskipun sejumlah kalangan akademik juga memperdebatkan kemungkinan Papua sebagai salah satu daerah asal tanaman ini.
Ubi jalar diperkirakan diperkenalkan ke pesisir utara Papua oleh pelayar Spanyol pada abad ke-16, antara lain melalui ekspedisi Kapten Ynigo Ortiz de Retes pada 1545 dan pelayaran Luis Vaz de Torres pada 1606. Mereka membawa ubi jalar dalam pelayaran, karena umbi ini tahan lama disimpan di dalam palka kapal.
Dari kawasan pesisir, ubi jalar diintroduksi ke wilayah pegunungan tengah, termasuk Lembah Baliem, melalui rangkaian pertukaran komoditas antara penduduk pesisir dan pegunungan, dengan alat tukar tradisional berupa kerang kauri (mege). Di Lembah Baliem yang terletak pada ketinggian sekitar 1.650 meter di atas permukaan laut, ubi jalar tergolong tanaman introduksi yang relatif baru, menggantikan sebagian tanaman umbi endemik yang sebelumnya dibudidayakan penduduk setempat, seperti keladi (Colocasia esculenta) dan ubi rambat jenis lain (Dioscorea alata). Introduksi dan pembudidayaan ubi jalar secara luas turut mendorong peningkatan populasi penduduk di dataran tinggi Papua pada masa lampau.
Lokasi Persebaran
Ubi jalar dibudidayakan secara luas di kawasan Pegunungan Tengah Papua, yang secara administratif kini terbagi ke dalam beberapa provinsi hasil pemekaran, yaitu Provinsi Papua Tengah (meliputi Kabupaten Mimika, Nabire, Paniai, Intan Jaya, Deiyai, dan Dogiyai), serta Provinsi Papua Pegunungan (meliputi wilayah adat Lapago, termasuk Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya).
Kawasan ini umumnya berada pada ketinggian di atas 1.500 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara relatif dingin, kondisi yang tidak mendukung budi daya padi maupun jagung secara optimal, namun sesuai untuk pertumbuhan ubi jalar.
Keragaman Genetik
Papua dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keragaman genetik ubi jalar terbesar di dunia. Berbeda dari ubi jalar di sejumlah wilayah lain yang relatif homogen, di kawasan Papua Tengah ditemukan ratusan varietas petatas dengan ciri khas berbeda-beda dari segi warna, tekstur, dan kandungan gizi.
Beberapa kelompok varietas yang dikenal antara lain varietas berwarna ungu atau merah yang kaya kandungan antioksidan jenis antosianin dan umumnya diolah dengan cara dibakar; varietas berwarna kuning atau oranye yang memiliki kandungan beta-karoten tinggi; serta varietas berwarna putih atau krem yang cenderung memiliki rasa lebih netral dan tekstur lebih bertepung, yang sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak babi, sekaligus bahan konsumsi manusia.
Keragaman varietas ini mencerminkan pengetahuan tradisional masyarakat lokal dalam mengembangkan dan melestarikan tanaman pangan yang disesuaikan dengan kondisi tanah pegunungan selama beberapa generasi.
Baca juga: Papeda, Sajian Lezat Khas Papua yang Telah Mendunia
Kandungan Gizi
Berdasarkan penelitian mengenai nilai nutrisi ubi jalar yang dikonsumsi bayi dan anak-anak Suku Dani di Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, ubi jalar merupakan sumber karbohidrat yang juga kaya vitamin A dan C, serta mineral, terutama zat besi, fosfor, dan kalsium. Umbinya mengandung protein dan lemak dalam konsentrasi rendah, sementara daunnya kaya protein, vitamin, dan mineral.
Peran Ubi Jalar dalam Sistem Barter Tradisional
Di kawasan Pegunungan Tengah Papua, petatas berfungsi sebagai salah satu komoditas utama dalam sistem barter tradisional. Hasil panen yang melimpah dapat ditukarkan dengan barang lain atau digunakan sebagai persembahan dalam upacara adat.
Dalam praktiknya di masa kini, sejumlah kampung di Kabupaten Jayawijaya mengembangkan sistem pengumpulan petatas, tempat penduduk menyetorkan hasil panen kepada pengepul yang kemudian menjualnya ke kota, sebagai solusi atas mahalnya biaya transportasi di wilayah pegunungan.
Ritual Adat Bakar Batu
Petatas merupakan komponen wajib dalam upacara adat Bakar Batu, yaitu ritual memasak komunal menggunakan batu yang dipanaskan. Dalam upacara ini, sejumlah besar ubi jalar dimasak bersama daging babi sebagai simbol rasa syukur, perdamaian, dan solidaritas antarwarga. Ubi jalar dan umbi-umbian lain juga secara tradisional dihidangkan sebagai jamuan kepada tamu dalam berbagai upacara adat di kawasan Melanesia, termasuk Papua.
Peran Perempuan dalam Budi Daya
Pengelolaan kebun petatas di kawasan Pegunungan Tengah Papua umumnya dilakukan oleh perempuan, mulai dari penanaman hingga panen. Bagi perempuan di wilayah ini, kegiatan berkebun petatas tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas produksi pangan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sosial dalam struktur masyarakat adat setempat.
Sistem Budi Daya dan Ketahanan Pangan
Sistem perkebunan ubi jalar di Papua umumnya menerapkan pola tumpang sari dengan keragaman jenis tanaman yang tinggi, menyerupai susunan vegetasi hutan tropis alami. Pola ini dinilai mendukung stabilitas populasi manusia lebih baik dibandingkan sistem pertanian berbasis biji-bijian tunggal.
Budi daya petatas umumnya tidak memerlukan banyak input pestisida atau pupuk kimia, relatif adaptif terhadap suhu dingin pegunungan, dan dapat dipanen sepanjang tahun, sehingga mendukung ketersediaan pangan yang relatif stabil bagi masyarakat pegunungan tengah.
Pergeseran Pola Konsumsi
Dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi ubi jalar di sejumlah kawasan perkotaan pegunungan, seperti Kota Wamena, menurun seiring meningkatnya konsumsi beras, dipicu tingginya biaya transportasi yang menyulitkan penduduk kampung membawa hasil panen petatas ke kota.
Ancaman Hama dan Perubahan Iklim
Sementara itu, budi daya petatas di Papua juga menghadapi sejumlah tantangan modern, termasuk hama kumbang perusak ubi (Cylas spp.) yang dapat menurunkan hasil panen, serta perubahan iklim berupa peningkatan suhu dan pergeseran pola curah hujan yang berpotensi mempengaruhi stabilitas produksi di sejumlah wilayah.
Upaya Pelestarian dan Pengembangan
Untuk itu, sejumlah pihak kini mendorong diversifikasi produk berbahan dasar petatas, misalnya dalam bentuk tepung, kue, dan keripik. Hal ini sebagai strategi peningkatan nilai ekonomi ubi jalar, sekaligus pelestarian keragaman genetik dan tradisi budaya yang melekat pada tanaman ini di Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
Ubi jalar Papua bukan hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga menjadi salah satu pangan lokal yang menarik untuk dikenali lebih jauh. Jika Anda ingin menjelajahi Papua dan mencicipi kekayaan kulinernya, manfaatkan AI Plan Your Trip untuk menyusun itinerary berdasarkan durasi dan preferensi Anda. Informasi mengenai lokasi, akses, waktu terbaik untuk berkunjung, serta berbagai hal menarik tentang Papua juga bisa ditanyakan kepada MaiA, sehingga aktivitas wisata Anda semakin nyaman dan menyenangkan.
Referensi:
https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20171016110033-445-248639/asal-usul-ubi-jalar-di-papua
https://sari-mutiara.ac.id/2017/10/asal-usul-ubi-jalar-di-papua/