Selain terkenal dengan keindahan alamnya, Maluku juga terkenal dengan wisata sejarahnya yang tak kalah menarik, salah satunya adalah Benteng Duurstede di Maluku Tengah. Benteng Duurstede merupakan bangunan pertahanan peninggalan masa kolonial yang terletak di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Indonesia.
Benteng ini merupakan salah satu situs bersejarah dari era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan dikenal luas sebagai lokasi peristiwa perlawanan rakyat Saparua yang dipimpin oleh Thomas Matulessy, atau lebih dikenal dengan sebutan Kapitan Pattimura, pada tahun 1817. Benteng Duurstede telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Masa Pembangunan Awal
Berdasarkan catatan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku, struktur pertahanan di lokasi ini pertama kali dibangun oleh bangsa Portugis pada abad ke-17, sebelum kawasan Maluku sepenuhnya jatuh ke tangan VOC. Sejumlah sumber menyebut tahun 1676 sebagai masa pembangunan awal tersebut, dengan Arnold de Vlaming van Oudshoorn disebut sebagai pihak yang memulai pembangunannya. Bangunan awal ini kemudian direbut dan dimanfaatkan oleh pihak Belanda.
Pembangunan oleh VOC
Benteng dalam yang bentuknya lebih permanen dibangun oleh Gubernur Ambon, Nicolaas Schaghen (menjabat 1691–1696), dengan konstruksi dimulai sekitar tahun 1690 dan rampung pada tahun 1691. Benteng ini menggantikan Benteng Hollandia yang dibangun pada 1671, yang dinilai berada di lokasi kurang strategis.
Perpindahan fungsi pertahanan dari Benteng Hollandia ke Benteng Duurstede berlangsung pada tahun 1692. Benteng ini kemudian berfungsi sebagai pusat pertahanan, sekaligus pusat pemerintahan VOC di wilayah Saparua, yang saat itu merupakan salah satu daerah penghasil cengkih utama di Maluku.
Selama masa kolonial, penguasaan atas benteng ini beberapa kali berpindah tangan. Pada tahun 1796, Inggris mengambil alih Pulau Saparua beserta Benteng Duurstede.
Selanjutnya, Benteng Duurstede dikembalikan kepada Belanda pada 1803, namun kembali direbut Inggris pada 1810 akibat peperangan yang kembali pecah antara kedua kekuatan Eropa tersebut. Barulah pada 1817, melalui perjanjian, seluruh wilayah Maluku termasuk Saparua diserahkan kembali kepada pemerintah Belanda.
Perlawanan Pattimura (1817)
Peristiwa paling penting dalam sejarah benteng ini terjadi pada 16 Mei 1817, ketika benteng diserang oleh rakyat Saparua di bawah pimpinan Thomas Matulessy (Pattimura). Serangan tersebut dipicu antara lain oleh rencana pemindahan pasukan lokal yang sebelumnya bekerja untuk Inggris ke Batavia.
Dalam penyerbuan itu, hampir seluruh penghuni benteng, termasuk Residen Johannes Rudolph van den Berg beserta keluarganya, tewas, kecuali salah seorang putranya yang selamat. Jatuhnya Benteng Duurstede ke tangan rakyat Maluku mengguncang kedudukan VOC di Ambon dan Batavia, sehingga pemerintah kolonial mengerahkan bala bantuan militer, termasuk dari Sultan Ternate, untuk merebut kembali benteng tersebut.
Perlawanan ini kemudian meluas hingga ke Pulau Haruku dan Pulau Hitu, tetapi akhirnya berhasil dipadamkan oleh Belanda. Pattimura ditangkap dan dihukum gantung di Benteng Nieuw Victoria, Ambon, pada Desember 1817.
Masa Kini
Setelah kemerdekaan Indonesia, Thomas Matulessy diakui sebagai Pahlawan Nasional dengan gelar Kapitan Pattimura. Benteng Duurstede saat ini berstatus sebagai cagar budaya nasional yang dikelola dan dilestarikan oleh instansi terkait.
Pada periode 2023, tim dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX melakukan kegiatan ekskavasi untuk melacak struktur lama benteng berdasarkan denah yang dibuat oleh surveyor VOC pada tahun 1700. Selanjutnya, mereka berhasil menemukan struktur yang selaras dengan denah tersebut di sisi utara, tengah, dan selatan benteng. Kegiatan pemugaran lanjutan juga dilaporkan dilakukan pada periode 2024-2025, dengan metode yang mempertahankan struktur aslinya.
Baca juga: Baileo: Rumah Adat Masyarakat Maluku
Letak Geografis Benteng Duurstede
Benteng Duurstede terletak di Kelurahan/Desa Saparua, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Benteng ini berdiri di atas sebuah bukit karang di tepi pantai, menghadap ke Teluk Saparua dan berjarak sekitar 50 mil laut dari Kota Ambon, ibu kota Provinsi Maluku. Pulau Saparua sendiri dapat dijangkau melalui jalur laut dari Ambon.
Karakteristik Arsitektur
Berdasarkan data Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya, Benteng Duurstede dibangun di puncak bukit karang setinggi sekitar 7 meter di atas permukaan laut. Benteng ini menempati lahan seluas 3.970 m², dengan luas total benteng yang sama dan luas bangunan di dalamnya sekitar 1.429 m².
Ciri khas utama Benteng Duurstede adalah denahnya yang berbentuk oval dan menghadap ke arah timur, bentuk yang menjadikannya satu-satunya desain benteng kolonial berdenah oval yang tercatat di Indonesia, berbeda dari mayoritas benteng kolonial lain yang umumnya berbentuk persegi atau bastion bersudut.
Tembok benteng memiliki tinggi rata-rata 5 meter dengan ketebalan 1,25 meter, dilengkapi celah-celah untuk penempatan meriam. Di sisi barat dan timur terdapat pos pengintai (turret).
Di dalam kompleks benteng terdapat sedikitnya sembilan bangunan, tiga di antaranya masih berdiri utuh, sementara sisanya hanya menyisakan fondasi. Di sisi selatan bangunan terdapat lima meriam, serta sebuah sumur tua di bagian luar depan benteng, yang oleh masyarakat setempat kerap disebut sebagai "sumur maut".
Asal-usul Nama Benteng Duurstede
Nama "Duurstede" mengandung dua penjelasan yang beredar dari berbagai sumber. Menurut catatan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku, nama tersebut secara harfiah berarti "kota mahal" dalam bahasa Belanda. Sumber lain menyebutkan bahwa nama tersebut diambil dari nama kampung halaman Gubernur Nicolaas Schaghen di Belanda, merujuk pada Wijk bij Duurstede, sebuah kota tua di Provinsi Utrecht yang bersejarah sejak masa perdagangan Frankia kuno (Dorestad). Kedua penjelasan ini kerap muncul bersamaan dalam literatur populer tanpa rujukan arsip primer yang secara eksplisit menegaskan salah satunya.
Nilai Budaya dan Kebangsaan
Bagi masyarakat Maluku dan Indonesia secara umum, Benteng Duurstede memiliki makna sebagai penanda peristiwa perlawanan Pattimura terhadap kolonialisme Belanda pada 1817, sebuah peristiwa yang kemudian menjadi bagian penting dari narasi sejarah perjuangan nasional Indonesia. Peristiwa ini turut memperkuat identitas Pattimura sebagai simbol perlawanan rakyat Maluku dan diperingati dalam berbagai konteks pendidikan sejarah nasional.
Seni dan Kerajinan Terkait
Di sekitar kawasan Benteng Duurstede, terdapat Museum Pattimura yang menyimpan artefak dan dokumen terkait perjuangan Kapitan Pattimura dan rakyat Maluku. Desa-desa di sekitarnya, seperti Desa Porto dan Haria, dikenal memiliki tradisi budaya lokal Maluku, termasuk rumah-rumah tradisional dan kerajinan khas setempat, meskipun dokumentasi rinci mengenai jenis kerajinan spesifik yang berkaitan langsung dengan benteng masih terbatas dalam sumber-sumber terpercaya.
Jadi Objek Wisata Sejarah
Selain nilai historisnya, Benteng Duurstede kini berfungsi sebagai objek wisata sejarah dan edukasi. Fasilitas dasar seperti area parkir, pemandu lokal, dan toilet umum tersedia di lokasi untuk menunjang kunjungan publik.
Menarik untuk dikunjungi, bukan? Bagi Anda yang ingin wisata sejarah di Maluku, Benteng Duurstede dapat menjadi salah satu destinasi yang patut dipertimbangkan. Agar perjalanan lebih terencana, manfaatkan AI Plan Your Trip untuk menyusun itinerary berdasarkan durasi dan preferensi Anda. Informasi mengenai lokasi, akses, waktu terbaik untuk berkunjung, serta berbagai hal menarik tentang Maluku juga bisa ditanyakan kepada MaiA, sehingga aktivitas wisata Anda semakin nyaman dan menyenangkan.
Referensi:
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbmaluku/sejarah-singkat-benteng-duurstede-saparua/
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbmaluku/sejarah-benteng-duurstede/
https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/public/objek/detailcb/PO2016011100012/benteng-duurstede
https://dispar.malukuprov.go.id/destinasi/jejak-sejarah-benteng-duurstede-di-pulau-saparua