Singkawang merupakan salah satu kota di Kalimantan Barat yang dikenal karena keragaman budaya, termasuk perpaduan tradisi Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Kota ini berada di pesisir barat Kalimantan dan memiliki karakter geografis berupa dataran, perbukitan, serta kawasan pantai yang menghadap Laut Natuna.
Mengenal Singkawang
Secara administratif, Singkawang merupakan kota di Provinsi Kalimantan Barat yang terdiri atas lima kecamatan dan 26 kelurahan. Luas wilayahnya sekitar 504 km² dengan batas Kabupaten Sambas di utara, Kabupaten Bengkayang di selatan dan timur, serta Laut Natuna di barat.
Nama Singkawang berasal dari bahasa Salako yang merujuk pada kawasan rawa luas. Sementara itu, dalam dialek Hakka, kota ini disebut San-Khew-Jong yang berarti "gunung, mulut sungai, laut" yang menggambarkan letak geografisnya
Secara historis, pada mulanya Singkawang adalah bagian dari Kabupaten Sambas. Statusnya berubah menjadi kota administratif pada tahun 1981, kemudian ditetapkan sebagai daerah otonom melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2001 dan diresmikan pada 17 Oktober 2001.
Dulunya, Singkawang merupakan daerah persinggahan penambang serta pedagang asal Tiongkok. Interaksi antara etnis Tionghoa (khususnya suku Hakka dan Teochew), Melayu, dan Dayak selama berabad-abad membentuk Singkawang sebagai kota multietnis dengan populasi lebih dari 250 ribu jiwa.
Tempat Wisata Populer di Singkawang
Kota ini menawarkan ragam destinasi wisata yang mencakup pantai, perbukitan, situs budaya, hingga bangunan bersejarah peninggalan Tionghoa. Sebagian besar objek wisata ini berada di kawasan pesisir selatan serta pusat kota.
Pantai Batu Burung
Kawasan pantai ini terletak di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan dan dikenal karena formasi batu granit besar yang tersebar di sepanjang garis pantainya.
Penamaannya berasal dari bentuk tumpukan batu yang menyerupai burung. Jembatan penghubung antarbatu menjadi spot foto populer di Pantai Batu Burung.
Rumah Marga Tjhia
Bangunan yang dikenal sebagai Thai Buk atau rumah besar ini merupakan rumah tua milik keluarga Tjhia yang dibangun pada tahun 1902 dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Lokasinya berada di kawasan Condong, Singkawang Tengah.
Kisah rumah ini bermula dari Chia Siu Xi, seorang perantau dari Fujian, China yang bekerja keras menggarap lahan mati menjadi bernilai tinggi. Sampai saat ini, bangunan masih digunakan sebagai tempat tinggal keturunan keluarga Tjhia sekaligus destinasi wisata.
Baca Juga: Cap Go Meh Singkawang
Vihara Tri Dharma Bumi Raya
Vihara Tri Dharma Bumi Raya merupakan salah satu kelenteng tertua di Singkawang yang diperkirakan telah berdiri sejak akhir abad ke-19. Terletak di Kelurahan Melayu, bangunan ini menjadi tempat ibadah tiga ajaran sekaligus, yaitu Buddha, Tao, dan Konghucu.
Salah satu hal yang membedakan Vihara Tri Dharma Bumi Raya dengan yang lain adalah keberadaan Ru Yi di tangan kanan patung Tua Peh Kong. Vihara ini sempat ludes terbakar pada tahun 1930-an dan dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda.
Pantai Pasir Panjang
Berada di kawasan Sedau, Pantai Pasir Panjang telah dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu bernama Taman Pasir Panjang Indah. Garis pantainya memanjang dan melengkung mengikuti bibir laut dengan hamparan pasir cukup luas.
Kawasan ini dilengkapi berbagai fasilitas rekreasi sehingga menjadi salah satu destinasi andalan pariwisata Kalimantan Barat.
Danau Biru Singkawang
Bermula dari area penambangan, Danau Biru Singkawang kini jadi salah satu destinasi wisata di Singkawang Tengah. Perubahan warna air ini disebabkan oleh kandungan mineral pada bekas galian tambang.
Kawasan ini dimanfaatkan sebagai lokasi wisata alam dan fotografi oleh masyarakat. Anda bisa mencapai Danau Biru Singkawang usai berkendara kurang lebih 20 menit dari pusat kota.
Kawasan Mangrove Setapuk
Ekosistem mangrove Setapuk berada di Singkawang Utara dan menjadi bagian dari kawasan wisata berbasis lingkungan. Keberadaan mangrove berfungsi sebagai perlindungan pesisir sekaligus habitat bagi berbagai organisme.
Kawasan ini dikembangkan untuk memperkenalkan lingkungan pesisir kepada masyarakat dan sudah mulai ditanami mangrove sejak tahun 2007 oleh sekelompok nelayan.
Pasar Hongkong
Pasar Hongkong terletak di Jalan Setia Budi dan Jalan Budi Utomo, tidak jauh dari Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Nama Pasar Hongkong diambil dari nuansa Tionghoa yang begitu kental di tiap sudutnya.
Kawasan ini baru akan dipadati pengunjung usai matahari terbenam. Anda bisa mencoba berbagai makanan khas Tiongkok, seperti choi pan dan kue keranjang. Pasar Hongkong juga menawarkan beragam produk lokal untuk buah tangan.
Waktu kunjungan ke Singkawang relatif singkat dan kebingungan menentukan itinerary? Gunakan fitur Rencanakan Perjalanan Anda di website indonesia.travel untuk membuat rencana perjalanan sesuai preferensi Anda.
Makanan Khas Singkawang
Warisan kuliner di Singkawang banyak dipengaruhi oleh budaya masakan Tionghoa, khususnya dari komunitas Hakka dan Teochew yang berpadu dengan bahan dan cita rasa lokal Kalimantan Barat.
Bakmi Aloi
Berdiri sejak tahun 1993, Bakmi Aloi dikenal dengan ragam topping olahan babinya, seperti babi kecap dan kerupuk kulit babi. Tempat makan ini memiliki lima menu utama, yaitu jam mian (mi kering), mie kuah, pangsit kuah, jam pan (kwetiau khas Hakka), dan kwetiau kuah.
Bakso Sapi & Bakmi Ayam 68
Kedai yang berlokasi di Jalan Pangeran Diponegoro No. 68 ini telah melayani pelanggan sejak tahun 1977. Menu andalannya adalah bakso sapi bertekstur lembut dengan kuah gurih, serta bakmi ayam dengan topping pangsit, tauge, dan irisan telur. Harga bakso di sini mulai dari Rp33.000 tergantung porsi dan topping
Baca Juga: Mie Tiaw Asu Singkawang
San Kheu Jong Kopitiam
Mengusung konsep warung kopi klasik bernuansa peranakan, San Kheu Jong Kopitiam menyajikan ragam menu dimsum dan olahan mi. Berlokasi di Jalan Budi Utomo, Kelurahan Condong, San Kheu Jong Kopitiam buka sampai jam setengah 1 pagi dan menyediakan live music di hari tertentu.
Bubur Pekong
Ciri khas bubur khas Singkawang ini adalah penggunaan kaldu daging sapi, lengkap dengan topping irisan daging sapi, ikan teri goreng, emping, kacang goreng, dan daun bawang. Anda bisa mencoba hidangan ini sekitar belakang Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Harga satu porsi bubur pekong biasanya berkisar pada Rp15.000–Rp25.000.
Choi Pan
Choi pan atau chai kwe merupakan kudapan berbahan dasar tepung beras yang diisi bengkuang, ubi jalar, atau kucai dan disajikan bersama saus cabai. Jajanan ini biasa dijual seharga Rp1.500–Rp3.000 per biji. Anda bisa mencicipi choi pan di kawasan Rumah Marga Tjhia.
Ho Pao Cu Kiok
Hidangan tradisional ini menggunakan kaki babi utuh sebagai bahan utama dan dikenal sebagai salah satu makanan khas Tionghoa Singkawang. Ho Pao Cu Kiok umumnya dikaitkan dengan jamuan keluarga, termasuk pada perayaan Imlek dan keagamaan. Resto yang menjual Ho Pao Cu Kiok umumnya menggunakan resep turun temurun dari keluarga.
Demikian informasi lengkap mengenai Singkawang yang dikenal sebagai kawasan yang kental akan budaya Tionghoa. Jika Anda masih bingung menentukan destinasi wisata atau memiliki pertanyaan terkait Singkawang, gunakan fitur MaiA untuk mendapatkan jawabannya.
REFERENSI
- https://pustaka-bpkxii.org/slims/index.php
- https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-singkawang/baca-artikel/15040/Wisata-ke-Cagar-Budaya-Rumah-Marga-Tjhia.html
- https://pastikesingkawang.id/culinary/bakso-sapi-bakmi-ayam-68-singkawang
- https://portal.singkawangkota.go.id/sejarah/
- https://sibudaya.disdikbud.singkawangkota.go.id/
- https://sisparnas.kemenpar.go.id/p/22845
- https://portal.singkawangkota.go.id/demografi/