MaiA ai-icon

Informasi

Grebeg Sekaten, Tradisi Keraton Memperingati Maulid Nabi

Image Contributor: Tito Susatyo Nugroho/imageBROKER/Shutterstock

Grebeg Sekaten adalah rangkaian tradisi Sekaten dan Garebeg Mulud di Keraton Yogyakarta. Keduanya berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Mulud atau Rabiulawal, tetapi merupakan bagian prosesi yang berbeda.

Sekaten berlangsung selama beberapa hari dengan penggunaan gamelan pusaka Keraton sebagai salah satu unsur utamanya. Sementara itu, Garebeg Mulud dilaksanakan pada 12 Mulud dan menjadi puncak rangkaian, ditandai dengan keluarnya gunungan atau pareden dari Keraton untuk dibagikan kepada masyarakat.

Sejarah Grebeg Sekaten

Tradisi Sekaten memiliki keterkaitan dengan perkembangan Islam di Jawa. Dalam perkembangannya, tradisi ini digunakan sebagai salah satu sarana penyebaran ajaran Islam melalui pendekatan kebudayaan yang telah dikenal masyarakat Jawa. Tradisi tersebut kemudian diteruskan oleh kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.

Di Kesultanan Yogyakarta, pelaksanaan Garebeg telah berlangsung sejak pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Tradisi ini memiliki unsur keagamaan sekaligus menjadi bagian dari tata upacara kerajaan. Salah satu bentuknya adalah Garebeg Mulud yang berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pelaksanaan Garebeg mengalami sejumlah perubahan mengikuti perkembangan sosial dan politik. Pada masa pendudukan Jepang, beberapa bagian upacara ditiadakan atau disederhanakan. Setelah Indonesia merdeka, tradisi tersebut tetap dipertahankan meskipun beberapa unsur, termasuk sistem upeti yang sebelumnya menyertai Garebeg, tidak lagi dilaksanakan.

Sejak dekade 1970-an, sejumlah unsur prosesi kembali dihidupkan, termasuk keterlibatan bregada prajurit Keraton dalam mengawal gunungan. Hingga kini, Keraton Yogyakarta menyelenggarakan tiga Garebeg dalam satu tahun Jawa, yaitu Garebeg Sawal, Garebeg Besar, dan Garebeg Mulud.

Rangkaian dan Daya Tarik Grebeg Sekaten

Sekaten dan Garebeg Mulud terdiri atas sejumlah prosesi yang memiliki fungsi dan tata cara berbeda. Gamelan pusaka, Masjid Gedhe Kauman, bregada prajurit, serta gunungan menjadi unsur penting dalam rangkaian tradisi tersebut.

1. Gamelan Sekaten

Salah satu unsur utama Sekaten adalah dua perangkat gamelan pusaka Keraton Yogyakarta, yaitu Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga.

Menjelang tanggal 5 Mulud, kedua gamelan dipersiapkan dan kemudian dimainkan di lingkungan Keraton sebagai tanda dimulainya Sekaten. Gamelan selanjutnya dibawa melalui prosesi Miyos Gangsa menuju kompleks Masjid Gedhe Kauman dan ditempatkan di bangsal pagongan.

Kanjeng Kyai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan Kidul atau selatan, sedangkan Kanjeng Kyai Nagawilaga berada di Pagongan Lor atau utara. Keduanya dimainkan selama rangkaian Sekaten sebelum dikembalikan ke Keraton menjelang Garebeg Mulud.

2. Garebeg Mulud dan Gunungan

Garebeg Mulud dilaksanakan pada tanggal 12 Mulud dalam kalender Jawa, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satu bagian utama prosesi adalah keluarnya gunungan dari dalam Keraton.

Gunungan merupakan susunan berbagai bahan pangan dan hasil bumi yang dibentuk menyerupai gunung. Dalam tradisi Garebeg, gunungan merupakan simbol sedekah Sultan kepada rakyat.

Dalam tata Garebeg yang berlaku setelah Undang-Undang Keistimewaan DIY tahun 2012, terdapat lima jenis gunungan yang dikeluarkan, yaitu Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan. Pada Garebeg Mulud tahun Dal terdapat gunungan khusus yang disebut Gunungan Bromo atau Kutug.

3. Prosesi Gunungan

Gunungan dibawa keluar dari Keraton dalam prosesi yang melibatkan abdi dalem dan bregada prajurit. Sebagian gunungan diarahkan menuju Masjid Gedhe Kauman, sementara gunungan lainnya dapat dibawa menuju Kepatihan dan Pura Pakualaman sesuai tata pelaksanaan Garebeg.

Setelah didoakan, bagian-bagian gunungan dibagikan kepada masyarakat. Dalam tradisi masyarakat Jawa, terdapat pula kepercayaan mengenai keberkahan dari bagian gunungan. Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat dan berbeda dari fungsi formal gunungan sebagai sedekah Sultan.

4. Bregada Prajurit Keraton

Bregada prajurit merupakan bagian yang dapat ditemukan dalam prosesi Garebeg. Setiap bregada memiliki identitas yang dibedakan melalui seragam, atribut, musik, dan formasi.

Prajurit Keraton mengawal perjalanan gunungan dari kompleks Keraton menuju lokasi pembagian. Keterlibatan bregada dalam Garebeg saat ini merupakan bagian dari pelestarian tata upacara dan tradisi Kesultanan Yogyakarta.

Baca Juga: 5 Seni Pertunjukan di Yogyakarta, dari Wayang Hingga Kuda Lumping

Perbedaan Sekaten dan Garebeg Mulud

Sekaten dan Garebeg Mulud merupakan dua bagian yang saling berkaitan tetapi memiliki bentuk pelaksanaan berbeda. Sekaten merujuk pada rangkaian kegiatan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang antara lain ditandai dengan keluarnya gamelan pusaka menuju Masjid Gedhe.

Sementara itu, Garebeg Mulud berlangsung pada 12 Mulud sebagai puncak rangkaian tersebut. Ciri utamanya adalah prosesi gunungan sebagai sedekah Sultan kepada masyarakat. Pasar malam yang pernah diselenggarakan bersamaan dengan Sekaten juga bukan bagian pokok dari upacara tradisional Sekaten.

Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Grebeg Sekaten

Rangkaian Sekaten dilaksanakan pada bulan Mulud dalam kalender Jawa atau Rabiulawal dalam kalender Hijriah. Karena mengikuti kalender tersebut, tanggalnya dalam kalender Masehi berubah setiap tahun.

Rangkaian kegiatan berpusat di Keraton Yogyakarta dan Masjid Gedhe Kauman, dengan beberapa prosesi melewati kawasan di sekitarnya. Garebeg Mulud berlangsung pada 12 Mulud.

Jadwal, jalur prosesi, akses kawasan, dan ketentuan bagi masyarakat dapat disesuaikan pada setiap penyelenggaraan. Informasi pelaksanaan terbaru sebaiknya diperiksa melalui kanal resmi Keraton Yogyakarta atau Pemerintah Daerah DIY.

Cara Melihat Grebeg Sekaten

Masyarakat dapat menyaksikan rangkaian Sekaten dan Garebeg Mulud di kawasan Keraton Yogyakarta, Alun-Alun Utara, dan Masjid Gedhe Kauman. Waktu dan lokasi pengamatan bergantung pada tahapan prosesi yang berlangsung, mulai dari keluarnya gamelan pusaka hingga prosesi gunungan pada Garebeg Mulud.

Karena jadwal mengikuti kalender Jawa, tanggal pelaksanaannya dalam kalender Masehi berubah setiap tahun. Informasi mengenai jadwal, jalur prosesi, serta ketentuan bagi pengunjung sebaiknya diperiksa melalui kanal resmi Keraton Yogyakarta atau Pemerintah Daerah DIY menjelang pelaksanaan.

Pada hari Garebeg Mulud, beberapa ruas jalan di sekitar Keraton dan Kauman dapat mengalami pengaturan lalu lintas atau pembatasan akses selama prosesi berlangsung. Pengunjung perlu mengikuti arahan petugas dan menjaga jarak dari jalur yang digunakan bregada serta gunungan.

Untuk menyusun perjalanan yang mencakup rangkaian Grebeg Sekaten dan destinasi lain di Yogyakarta, Anda dapat menggunakan fitur AI Plan Your Trip di Indonesia Travel untuk membuat rencana perjalanan berdasarkan durasi dan destinasi yang ingin dikunjungi.

Selama perjalanan, MaiA juga dapat membantu memberikan informasi mengenai destinasi, aktivitas, dan pilihan transportasi yang dapat dipertimbangkan selama berada di Yogyakarta.

 

Sumber/Referensi:

  • Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Garebeg: Sedekah Sultan untuk Rakyat
    https://budaya.jogjaprov.go.id/berita/detail/1675-grebeg
  • Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara Sekaten
    https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/177-upacara-sekaten
  • Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Garebeg Mulud
    https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/36-garebeg-mulud
  • Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara Garebeg di Kraton Yogyakarta
    https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/178-upacara-garebeg-di-kraton-yogyakarta
  • Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Hajad Dalem Sekaten dan Garebeg Mulud
    https://visitingjogja.jogjaprov.go.id/39781/hajad-dalem-sekaten-dan-garebeg-mulud-202GAnj3-jimawal-1957-21-28-september-2023/