MaiA ai-icon

Informasi

Batik Kawung, Motif Kuno Jawa yang Penuh Makna Filosofis

Image Contributor: Shutterstock/Kayasni

Batik Kawung merupakan salah satu motif batik tradisional Jawa yang mudah dikenali dari susunan bentuk oval yang teratur dan simetris. Motif ini memiliki sejarah panjang dan berkembang dalam lingkungan budaya Jawa, khususnya dalam tradisi batik keraton. 

Seiring waktu, Kawung tidak hanya dikenal melalui kedudukannya dalam tata busana keraton, tetapi juga berkembang menjadi berbagai varian dan digunakan dalam beragam konteks kehidupan masyarakat.

Sejarah Batik Kawung

Motif Kawung Sebagai Motif Batik Kuno

Kawung merupakan salah satu motif batik tradisional yang sudah lama dikenal dalam budaya Jawa. Bentuknya termasuk motif geometris dan menjadi bagian dari kelompok ceplok, yaitu pola yang tersusun dari bentuk-bentuk geometris yang diulang secara teratur.

Asal-usul motif Kawung memiliki beberapa versi. Salah satu cerita yang berkembang dalam tradisi batik mengaitkan motif ini dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja Mataram.

Motif Kawung disebut terinspirasi dari bentuk buah aren atau kolang-kaling yang berbentuk lonjong dan tersusun dalam kelompok.

Sejarah Kawung ternyata memiliki jejak yang lebih panjang. Bentuk yang menyerupai Kawung juga dapat ditemukan dalam sejarah kain yang diperdagangkan di Asia, termasuk kain dari India dan Cina yang telah masuk ke Jawa sejak sekitar abad ke-7 hingga abad ke-15.

Beberapa pola menyerupai koin pada kain-kain tersebut kemudian berkembang dan muncul dalam berbagai bentuk hiasan, termasuk pada candi dan kain di Jawa.

Istilah “kawung” sendiri sudah ditemukan dalam naskah kesusastraan Jawa sejak abad ke-12 untuk menyebut motif pada kain.

Kawung dalam Tradisi Mataram dan Keraton Yogyakarta

Perkembangan batik keraton Yogyakarta berkaitan erat dengan sejarah Kesultanan Mataram. Setelah Perjanjian Giyanti pada 1755. Mataram terbagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, yang kemudian mengembangkan tradisi batik masing-masing. 

Di Yogyakarta, kegiatan membatik awalnya berkembang di lingkungan keluarga keraton dan kemudian menyebar ke masyarakat yang memiliki hubungan dengan keraton. 

Kawung kemudian menjadi bagian dari kelompok motif yang memiliki kedudukan khusus dalam tata busana keraton. Keraton Yogyakarta memasukkan Kawung ke dalam batik larangan atau Awisan Dalem, yaitu motif yang penggunaannya terikat aturan tertentu dan tidak bebas dikenakan oleh semua orang.

Kawung Sebagai Batik Larangan

Kedudukan Kawung sebagai batik larangan perlu ditempatkan dalam konteks sejarah aturan busana keraton. Batik larangan bukan merupakan daftar motif yang selalu sama sepanjang sejarah. 

Setiap Sultan memiliki kewenangan untuk menetapkan motif tertentu sebagai motif yang penggunaannya dibatasi. Aturan ini senantiasa berubah pada setiap masa pemerintahan Sultan. 

Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II, aturan tersebut mencantumkan beberapa motif, termasuk Kawungsari. 

Sementara pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII, Kawung kembali ditetapkan sebagai batik larangan bersama motif Huk dan diperbolehkan dikenakan oleh Sentana Dalem.

Kini, aturan tersebut hanya berlaku di lingkungan Keraton Yogyakarta dan tidak melarang masyarakat umum mengenakan Kawung. Motif ini telah digunakan secara luas sebagai kain dan busana, sementara statusnya sebagai Awisan Dalem tetap berlaku dalam konteks tata busana keraton.

Baca Juga: Pakaian Adat Yogyakarta

Makna dan Filosofi Motif Kawung

Motif Kawung memiliki simbolisme yang berkaitan dengan filsafat Jawa, konsep kekuasaan, serta tata pemerintahan tradisional. Maknanya dapat dilihat dari susunan geometris dan bentuk yang digunakan dalam motif tersebut.

  • Pusat kekuasaan

Susunan Kawung terdiri atas empat bentuk yang mengelilingi satu pusat. Pusat tersebut dapat dimaknai sebagai raja, pusat pemerintahan, atau pusat kekuasaan, sedangkan bentuk-bentuk di sekelilingnya menggambarkan unsur yang berada di sekitar pusat tersebut.

  • Empat penjuru dan satu pusat

Susunan empat bentuk yang mengelilingi pusat berkaitan dengan konsep moncopat, yaitu gagasan tentang empat penjuru yang mengitari satu pusat. 

Dalam pemaknaan ini, empat penjuru dikaitkan dengan sumber tenaga alam semesta: timur sebagai arah terbitnya matahari dan sumber kehidupan, barat sebagai arah terbenamnya matahari, selatan sebagai puncak, dan utara sebagai arah yang berkaitan dengan kematian.

  • Kesuburan

Bentuk bulatan pada Kawung menyerupai buah kawung, sedangkan biji menjadi salah satu unsur penting dalam pemaknaan motif. Dalam filsafat Jawa, biji memiliki makna simbolik sebagai lambang kesuburan.

  • Kesucian

Pola Kawung juga ditafsirkan sebagai stilisasi bunga lotus atau teratai dengan empat kelopak yang sedang merekah. Bunga teratai dikaitkan dengan kesucian karena dapat tumbuh di air yang keruh, tetapi tetap menghasilkan bunga yang bersih.

  • Kekuasaan dan tata pemerintahan

Konsep pusat yang dikelilingi empat unsur tidak hanya berkaitan dengan alam, tetapi juga digunakan dalam tata politik dan pemerintahan Jawa. 

Dalam gambaran kerajaan Jawa, Keraton yang dipimpin Sultan menjadi pusat, kemudian dikelilingi oleh wilayah-wilayah kekuasaan yang tersusun secara bertingkat.

  • Hubungan raja dan kawula

Susunan pusat dan empat unsur di sekelilingnya juga berkaitan dengan hubungan antara raja dan kawula. Raja ditempatkan sebagai pusat kekuasaan, sementara masyarakat berada dalam hubungan dengan pusat tersebut dan menerima perlindungan serta berkah dari penguasa.

Ingin mengenal lebih jauh tentang batik, budaya, dan berbagai destinasi di Yogyakarta? Gunakan fitur MaiA yang dapat membantu Anda menemukan informasi dan inspirasi perjalanan saat berkunjung ke Yogyakarta,

Jenis dan Motif Turunan Batik Kawung

Seiring perkembangannya, motif Kawung memiliki berbagai varian yang dibedakan berdasarkan ukuran, desain, dan kombinasi ornamen.

Berdasarkan Ukuran

Perbedaan jenis ini terutama terlihat dari besar-kecilnya bentuk utama Kawung.

  • Kawung Picis: Memiliki ukuran motif yang relatif kecil.
  • Kawung Bribil: Ukurannya lebih besar dibandingkan Kawung Picis.
  • Kawung Sen: Memiliki ukuran lebih besar dibandingkan Kawung Bribil.
  • Kawung Kemplong: Merupakan varian dengan ukuran motif paling besar dalam kelompok berdasarkan ukuran.

Berdasarkan desain

Pada kelompok ini, bentuk dasar Kawung tetap dipertahankan tetapi mendapatkan perubahan pada rancangan dan isen-isen, tanpa menambahkan ornamen lain sebagai unsur utama. Variannya meliputi:

  • Kawung Beton
  • Kawung Cacah Gori
  • Kawung Geger
  • Kawung Kopi/Sari
  • Kawung Sekar Ageng
  • Kawung Semar

Beberapa nama menggambarkan karakter visualnya. Misalnya, Kawung Sekar Ageng memiliki bentuk utama yang lebih menyerupai bunga, sedangkan Kawung Semar memiliki bentuk oval yang lebih kecil di dalam bentuk Kawung utamanya.

Berdasarkan kombinasi ornamen

Kelompok ini mempertahankan pola dasar Kawung tetapi menggabungkannya dengan ornamen lain. Varian yang dicatat adalah:

  • Kawung Buntal
  • Kawung Kembang
  • Kawung Seling

Kawung Buntal, misalnya, menggabungkan pola Kawung dengan ornamen bunga, sedangkan Kawung Kembang mengubah susunan bentuk oval sehingga tampak menyerupai bunga.

Seiring kreativitas para perajin dan seniman, muncul pula berbagai pengembangan baru yang tetap menggunakan Kawung sebagai motif dasarnya, seperti Kawung Sawo Beludru, Kawung Ukel, dan Kawung Winarno.

Baca Juga: Museum Batik Yogyakarta

Tradisi Penggunaan Batik Kawung

Kawung digunakan sebagai bagian dari busana tradisional Jawa, termasuk dalam bentuk jarik atau sinjang. Dalam tradisi tertentu, jarik bermotif Kawung juga digunakan sebagai lurub, yaitu kain untuk menutupi jenazah.

Di lingkungan Keraton Yogyakarta, Kawung masih digunakan dalam busana pertunjukan tari. Sementara di luar lingkungan keraton, Kawung digunakan dalam berbagai konteks.

Kawung Seling Manggaran digunakan sebagai busana sehari-hari, sedangkan Kawung Picis digunakan dalam sejumlah tradisi seperti tedak siten, tarapan, ruwatan, labuhan, dan upacara kematian.

Mengenal Batik Kawung juga dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk memahami budaya Yogyakarta secara lebih luas. Anda dapat mengunjungi keraton, sentra batik, museum, dan berbagai tempat budaya di Yogyakarta untuk melihat warisan budaya ini secara langsung.

Gunakan fitur Rencanakan Perjalanan Anda untuk mendapatkan itinerary yang disesuaikan dengan durasi, preferensi, dan minat Anda, sehingga pengalaman berkunjung ke Yogyakarta bisa lebih maksimal.

 

Referensi

  1. Keraton Yogyakarta — “Sejarah Batik Yogyakarta”
    Keraton Yogyakarta — Sejarah Batik Yogyakarta

  2. Keraton Yogyakarta — “Motif Batik Larangan Keraton Yogyakarta”
    Keraton Yogyakarta — Motif Batik Larangan Keraton Yogyakarta

  3. Proceeding Simposium Internasional Busana dan Peradaban di Keraton Yogyakarta (2020)
    Proceeding Simposium Internasional Busana dan Peradaban di Keraton Yogyakarta

  4. Keraton Yogyakarta — “Bedhaya Tunjung Anom”
    Keraton Yogyakarta — Bedhaya Tunjung Anom

  5. Keraton Yogyakarta — “Bedhaya Babarlayar”
    Keraton Yogyakarta — Bedhaya Babarlayar

  6. Jogja Budaya — Kawung Picis
    Jogja Budaya — Kawung Picis

  7. Jogja Budaya — Kawung Seling Manggaran
    Jogja Budaya — Kawung Seling Manggaran