Image Contributor: Shutterstock/Toto Santiko Budi
Upacara Ruwatan merupakan tradisi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta untuk memohon keselamatan dan membebaskan seseorang dari keadaan yang dipercaya membawa gangguan atau kesialan.
Beberapa masyarakat masih menjalankannya sebagai ritual, sementara yang lain memaknainya sebagai bagian dari pelestarian budaya Jawa.
Sejarah dan Perkembangan Ruwatan
Jejak Ruwatan dalam Kebudayaan Jawa
Jejak Ruwatan dalam budaya Jawa dapat dilihat dari peninggalan candi dan naskah lama yang membahas tentang penyucian atau pembebasan dari hal-hal buruk.
Salah satunya terdapat di Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu, yang berkembang sebagai tempat keagamaan pada abad ke-15.
Relief di Candi Sukuh memuat beberapa kisah yang berkaitan dengan penyucian, salah satunya Sudamala. Kisah ini menceritakan pembebasan dan pemulihan Dewi Durga.
Di sekitar tradisi Candi Sukuh juga ditemukan naskah seperti Aji Saraswati dan Bhīma Swarga yang memuat doa, mantra, dan berbagai praktik penyucian.
Naskah-naskah dari masa berikutnya, seperti Serat Hong Ilaheng dan Serat Centhini, menunjukkan bahwa bentuk dan pemaknaan Ruwatan terus berubah.
Dalam perkembangannya, Ruwatan semakin dikenal melalui Ruwatan Murwakala, yaitu upacara yang menggunakan pertunjukan wayang dengan kisah Batara Kala dan manusia sukerta.
Arti dan Tujuan Ruwatan
Dalam tradisi Jawa, Ruwatan berarti upaya membebaskan atau membersihkan seseorang dari keadaan yang dianggap dapat membawa gangguan atau kesialan.
Istilah ruwat berkaitan dengan gagasan pembebasan, sedangkan pelaksanaannya diwujudkan melalui rangkaian ritual yang bertujuan memohon keselamatan dan ketenteraman.
Ruwatan terutama dilakukan kepada orang yang dianggap sukerta, yaitu mereka yang menurut kepercayaan berada dalam kondisi yang perlu diruwat.
Melalui ritual tersebut, peserta diharapkan terbebas dari sengkala atau gangguan yang dipercaya menyertainya.
Ruwatan juga kerap dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan, perlindungan, dan keseimbangan hidup.
Anak Sukerta dalam Tradisi Ruwatan
Anak sukerta adalah anak yang sejak lahir berada dalam kondisi tertentu yang dipercaya membawa sengkala atau keadaan yang perlu dibersihkan melalui Upacara Ruwatan.
Kepercayaan ini berkaitan erat dengan kisah Batara Kala dalam lakon Murwakala. Dalam cerita tersebut, manusia sukerta dianggap sebagai kelompok yang menjadi incaran atau santapan Batara Kala sehingga perlu diruwat untuk memperoleh keselamatan.
Beberapa yang paling sering disebut sebagai kategori sukerta antara lain:
- Ontang-anting: Anak tunggal, baik laki-laki maupun perempuan.
- Uger-uger lawang: Dua bersaudara yang keduanya laki-laki.
- Kembang sepasang: Dua bersaudara yang keduanya perempuan.
- Kedhana-kedhini: Dua bersaudara yang terdiri atas satu laki-laki dan satu perempuan.
- Sendhang kapit pancuran: Tiga bersaudara dengan susunan laki-laki, perempuan, laki-laki.
- Pancuran kapit sendhang: Tiga bersaudara dengan susunan perempuan, laki-laki, perempuan.
- Pandawa: Lima bersaudara yang semuanya laki-laki.
- Kembar: Anak yang lahir kembar, baik sesama jenis maupun berbeda jenis kelamin.
Beberapa tradisi juga memasukkan kondisi kelahiran tertentu ke dalam kategori sukerta, misalnya anak bungkus, yaitu bayi yang lahir masih terbungkus selaput ketuban, serta beberapa kategori berdasarkan waktu atau keadaan saat kelahiran.
Baca Juga: Wayang Wong Sriwedari, Seni Pertunjukan Klasik dari Kota Solo
Unsur-Unsur dalam Upacara Ruwatan
Upacara Ruwatan memiliki beberapa unsur utama yang saling berkaitan. Bentuk dan kelengkapannya sendiri dapat berbeda menurut daerah, tradisi, dan perkembangan zaman.
- Orang yang diruwat
Dalam tradisi Jawa, orang tersebut biasanya termasuk sukerta, yaitu orang yang menurut kepercayaan tertentu dianggap perlu menjalani Ruwatan untuk menghindari gangguan atau marabahaya.
- Dalang ruwat
Dalang menjadi tokoh penting dalam pelaksanaan Ruwatan, terutama dalam tradisi yang menggunakan pertunjukan wayang. Dalang memimpin jalannya upacara sekaligus membawakan ritual dan mantra tertentu.
- Pertunjukan wayang dengan lakon Murwakala
Ruwatan tradisional umumnya menggunakan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Murwakala. Cerita ini berkaitan dengan Batara Kala dan menjadi bagian penting dalam pemaknaan Ruwatan.
Pertunjukan biasanya diiringi gamelan dan menggunakan perlengkapan seperti wayang kulit, kelir, dan blencong.
- Sesajen atau sesaji
Sesaji menjadi salah satu unsur penting dalam Ruwatan. Bentuknya dapat berupa tumbuhan, bunga, makanan, hasil pertanian, serta berbagai benda lain.
Dalam kepercayaan tradisional, sesaji digunakan sebagai bagian dari hubungan simbolis antara manusia dan alam gaib. Jenis dan jumlah sesaji dapat berbeda sesuai tradisi yang digunakan.
- Mantra dan doa
Pembacaan mantra merupakan bagian dari ritual Ruwatan. Dalam pelaksanaannya, mantra dibacakan oleh dalang atau pemimpin upacara sebagai bagian dari permohonan keselamatan dan penolak bala.
Pada masyarakat Jawa masa kini, bentuk doa dalam Ruwatan juga dapat menyesuaikan dengan keyakinan agama yang dianut masyarakat setempat.
- Perlengkapan dan benda simbolis
Ruwatan dapat menggunakan berbagai perlengkapan yang memiliki makna simbolis, seperti tuwuhan, kembar mayang, kain, kendi berisi air, serta perlengkapan rumah tangga dan pertanian.
- Rangkaian ritual penyucian
Selain pertunjukan wayang dan pembacaan mantra, Ruwatan dapat dilanjutkan dengan ritual tertentu, salah satunya siraman, yaitu memandikan orang yang diruwat dengan air bunga. Tahapan ini menjadi bagian dari simbol penyucian dan pelepasan dari hal-hal buruk.
Baca Juga: Ziarah Wali Songo: Saat Tradisi Bertemu dengan Spiritualitas
Tahapan Upacara Ruwatan
Rangkaian Ruwatan dapat berbeda menurut daerah dan tradisi yang dijalankan. Namun, dalam Ruwatan Jawa yang menggunakan wayang kulit dengan lakon Murwakala, terdapat beberapa tahapan yang umum dilakukan, yaitu:
- Persiapan upacara
Sebelum Ruwatan dimulai, keluarga atau penyelenggara menyiapkan tempat, perlengkapan ritual, sesaji, serta menentukan dalang yang akan memimpin upacara. Orang yang akan diruwat juga dipersiapkan untuk mengikuti seluruh rangkaian ritual.
- Sungkeman
Peserta Ruwatan melakukan sungkeman kepada orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua. Tahap ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus permohonan doa dan restu sebelum mengikuti ritual. Dalam beberapa pelaksanaan Ruwatan, sungkeman dilakukan sebelum pertunjukan wayang dimulai.
- Siraman atau penyucian diri
Peserta kemudian menjalani siraman menggunakan air yang telah disiapkan secara khusus, biasanya dicampur bunga. Siraman menjadi simbol membersihkan diri dari hal-hal buruk sebelum memasuki tahap utama Ruwatan.
Letak siraman dalam urutan acara dapat berbeda; dalam beberapa tradisi dilakukan di awal, sementara tradisi lain menempatkannya setelah pertunjukan wayang.
- Pertunjukan wayang Ruwatan
Tahap utama Ruwatan biasanya berupa pertunjukan wayang kulit dengan lakon Murwakala. Dalang tidak hanya memainkan wayang, tetapi juga menjalankan bagian-bagian ritual dan membacakan mantra atau doa yang berkaitan dengan Ruwatan.
- Ritual pelepasan atau penyucian
Setelah atau pada bagian tertentu dalam pertunjukan, dilakukan ritual yang menandai pelepasan peserta dari kondisi sukerta.
Dalam beberapa bentuk Ruwatan, dalang memberikan air yang telah didoakan kepada peserta dan melakukan tindakan simbolis lainnya.
- Pemotongan rambut
Dalam sejumlah pelaksanaan Ruwatan, rambut peserta dipotong sebagai bagian dari ritual penyucian. Pemotongan ini menjadi simbol pelepasan dari keadaan sebelumnya dan memasuki keadaan yang dianggap lebih bersih.
Namun, tahap ini tidak selalu menjadi bagian dari setiap Ruwatan.
- Doa dan selamatan
Setelah rangkaian utama selesai, upacara ditutup dengan doa dan selamatan.
Tahap ini menjadi bentuk ungkapan syukur serta permohonan agar orang yang telah diruwat memperoleh keselamatan dan dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Ingin memahami lebih banyak tentang tradisi dan budaya Jawa? MaiA dapat membantu Anda menemukan informasi seputar sejarah, tradisi, hingga destinasi budaya yang menarik untuk Anda jelajahi.
Penerapan Tradisi Ruwatan Saat Ini
Tradisi Ruwatan masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Jawa hingga sekarang, meskipun bentuk pelaksanaannya telah mengalami perubahan.
Rangkaian ritual tidak selalu dilakukan selengkap dahulu dan dapat disederhanakan sesuai kondisi sosial, ekonomi, serta kebutuhan masyarakat.
Makna Ruwatan juga semakin beragam. Selain dikaitkan dengan kepercayaan tentang sukerta dan sengkala, kini ia dapat dimaknai sebagai doa untuk memohon keselamatan.
Di beberapa daerah, pelaksanaannya juga disesuaikan dengan nilai-nilai agama yang dianut masyarakat.
Upacara Ruwatan saat ini tidak hanya dilakukan secara individu atau dalam keluarga, tetapi juga dapat diselenggarakan secara massal dan terbuka untuk masyarakat sebagai bagian dari pelestarian tradisi.
Tertarik mengunjungi berbagai destinasi budaya Jawa dalam satu perjalanan?
Gunakan fitur Rencanakan Perjalanan Anda untuk menyusun itinerary sesuai destinasi, durasi, dan aktivitas yang ingin dilakukan, sehingga perjalanan mengenal warisan budaya Jawa bisa lebih terarah.
Referensi
- Rukiyah, “Ruwatan dalam Masyarakat Jawa” — Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan
https://ejournal.undip.ac.id/index.php/sabda/article/view/13233 - Muhammad Heno Wijayanto, I Made Suparta, dan Turita Indah Setyani, “Tracing the Transformation of the ‘Ruwatan’ Rituals in Java from the Fifteenth to the Twenty-First Century” — Wacana: Journal of the Humanities of Indonesia
https://scholarhub.ui.ac.id/wacana/vol26/iss3/10/ - Meris Setyaningsri, “Perubahan Tradisi Ruwatan Anak Tunggal di Desa Kedungharjo Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban Tahun 2000–2015” — Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/17589 - “Ruwatan dalam Masyarakat Jawa” — Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan (PDF)
https://ejournal.undip.ac.id/index.php/sabda/article/viewFile/13233/10018 - “Menangkal Sial dengan Ruwatan: Kajian Fenomenologis Tradisi Ruwatan Massal Pendopo Notobraton Kadilangu Demak” — Sosiolium: Jurnal Pembelajaran IPS
https://journal.unnes.ac.id/journals/sosiolium/article/view/4967