Gaharu merupakan nama umum untuk kayu aromatik yang terbentuk pada sejumlah pohon dari kelompok Aquilaria dan Gyrinops dalam famili Thymelaeaceae. Nilai gaharu terutama berasal dari bagian kayu yang mengandung resin aromatik. Resin tersebut terbentuk sebagai respons pohon terhadap infeksi atau gangguan jaringan, sehingga tidak semua pohon gaharu secara alami menghasilkan kayu beraroma dalam jumlah dan kualitas yang sama.
Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk wilayah Indonesia yang memiliki tanaman penghasil gaharu. Salah satu jenis yang tercatat di wilayah ini adalah Gyrinops versteegii, yang dikenal secara lokal sebagai salah satu sumber gaharu. Penelitian di Flores menunjukkan bahwa tanaman tersebut telah dikembangkan oleh masyarakat pada sejumlah wilayah, antara lain Manggarai Barat, Manggarai Timur, Sikka, dan Flores Timur.
Dengan demikian, penyebutan gaharu sebagai tanaman yang "tumbuh subur di NTT" perlu dipahami dalam konteks keberadaan beberapa jenis penghasil gaharu dan kegiatan budidayanya. Sebaran setiap spesies berbeda dan tidak seluruh wilayah NTT merupakan habitat yang sama.
Baca Juga: 3 Destinasi Wisata di NTT yang Wajib Masuk Bucket List
Sejarah dan Daya Tarik Gaharu di NTT
Keberadaan gaharu di Indonesia
Gaharu telah lama menjadi salah satu hasil hutan bernilai ekonomi tinggi di Indonesia. Genus Aquilaria dan Gyrinops merupakan sumber utama agarwood yang diperdagangkan secara internasional. Studi mengenai konservasi Aquilaria di Indonesia menunjukkan bahwa populasi pohon penghasil gaharu di alam umumnya memiliki kepadatan rendah sehingga eksploitasi berlebihan dapat memberikan tekanan terhadap populasi alami.
Di NTT, pengembangan tanaman penghasil gaharu juga telah dikaji sebagai bagian dari kegiatan kehutanan dan agroforestri. Penelitian di Flores mencatat bahwa masyarakat menanam Gyrinops versteegii secara tradisional di lahan milik, termasuk melalui sistem tumpang sari dengan tanaman seperti kakao, pisang, salak, nanas, dan kelapa.
Karakteristik Gyrinops versteegii
Gyrinops versteegii merupakan salah satu jenis pohon penghasil gaharu yang ditemukan di Nusa Tenggara. Penelitian di kawasan Gunung Timau, NTT, antara lain mengkaji adaptasi permudaan jenis ini terhadap kondisi cahaya di habitat alaminya. Informasi tersebut menunjukkan bahwa faktor lingkungan, termasuk intensitas cahaya, berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Karakteristik ekologis tersebut penting dalam pengembangan budidaya karena penanaman gaharu tidak hanya bergantung pada ketersediaan bibit, tetapi juga kesesuaian kondisi tapak, naungan, kelembapan, dan teknik silvikultur.
Manfaat dan Nilai Ekonomi Gaharu
Bahan aromatik
Produk gaharu terutama dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan aromatik. Kayu beresin dapat digunakan sebagai bahan dupa, parfum, minyak atsiri, kosmetik, dan produk aromaterapi. Gaharu juga memiliki sejarah penggunaan dalam berbagai praktik pengobatan tradisional.
Dalam industri wewangian, karakter aroma menjadi salah satu faktor yang menentukan nilai produk. Kandungan resin, kualitas bahan, asal geografis, dan proses pengolahan dapat memengaruhi karakteristik serta harga gaharu.
Komoditas hasil hutan
Tingginya permintaan internasional menjadikan gaharu sebagai salah satu hasil hutan nonkayu yang bernilai ekonomi. Namun, nilai tersebut juga menjadi faktor yang mendorong pengambilan dari populasi alami secara berlebihan. International Tropical Timber Organization (ITTO) dan CITES mencatat bahwa eksploitasi akibat tingginya permintaan telah menjadi perhatian dalam konservasi pohon penghasil gaharu.
Budidaya Gaharu di NTT
Pengembangan Gyrinops versteegii di Flores telah dilakukan menggunakan sistem agroforestri. Penelitian mencatat penggunaan jarak tanam yang bervariasi, termasuk 2 × 3 meter dan 3 × 4 meter, dengan tanaman gaharu dikombinasikan dengan komoditas pertanian lainnya.
Budidaya juga berkaitan dengan kebutuhan cahaya dan kondisi mikroklimat. Studi di NTT menunjukkan bahwa tanaman gaharu memerlukan pengelolaan lingkungan yang sesuai, terutama pada tahap pertumbuhan awal. Sistem dengan tanaman penaung dapat digunakan untuk menciptakan kondisi yang lebih sesuai bagi pertumbuhan pada wilayah tertentu.
Hal penting dalam budidaya adalah membedakan pohon penghasil gaharu dengan kayu gaharu beresin. Keberadaan pohonnya tidak otomatis berarti batang tersebut memiliki kandungan resin aromatik bernilai tinggi.
Ancaman dan Konservasi
Eksploitasi populasi alami
Permintaan pasar yang tinggi secara historis menyebabkan tekanan terhadap pohon penghasil gaharu di alam. ITTO mencatat bahwa eksploitasi dan pengambilan dari hutan alam menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terhadap populasi Aquilaria dan Gyrinops.
Konservasi karena itu tidak hanya dilakukan melalui perlindungan hutan, tetapi juga melalui pengembangan budidaya, penelitian teknik produksi gaharu, pemantauan perdagangan, dan pengaturan pemanfaatan.
Perdagangan internasional
Sejumlah jenis penghasil gaharu tercantum dalam CITES Appendix II, termasuk Aquilaria malaccensis. Indonesia sebagai negara anggota CITES menerapkan mekanisme pengaturan perdagangan internasional untuk komoditas yang tercantum dalam daftar tersebut.
Dokumen pemerintah Indonesia juga mencatat perdagangan gaharu dari beberapa jenis, termasuk Aquilaria filaria, Aquilaria malaccensis, dan Gyrinops versteegii.
Makna dan Peran Gaharu bagi Masyarakat
Gaharu memiliki hubungan dengan kegiatan ekonomi masyarakat, khususnya melalui pengembangan tanaman pada lahan milik dan sistem agroforestri. Di Flores, budidaya gaharu dapat dikombinasikan dengan tanaman pertanian sehingga berpotensi menjadi bagian dari diversifikasi hasil lahan.
Dari perspektif konservasi, budidaya juga memiliki fungsi penting karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap pengambilan bahan dari hutan alam. Namun, budidaya tidak menggantikan kebutuhan perlindungan populasi dan habitat alami.
Informasi bagi Wisatawan dan Pengunjung
Gaharu bukan destinasi wisata khusus, tetapi keberadaannya dapat ditemui dalam konteks wisata alam, edukasi kehutanan, agroforestri, dan produk kerajinan lokal di wilayah NTT. Pengunjung sebaiknya tidak mengambil tanaman, bagian pohon, atau produk gaharu dari kawasan hutan tanpa izin.
Untuk membeli produk gaharu sebagai oleh-oleh, penting memastikan asal-usul dan legalitas produk, terutama apabila produk akan dibawa melintasi batas negara karena komoditas tertentu terkait dengan ketentuan CITES.
AI Plan Your Trip dan MaiA
AI Plan Your Trip dapat membantu menyusun itinerary yang dipersonalisasi berdasarkan durasi, minat, dan preferensi perjalanan, termasuk perjalanan yang menggabungkan wisata alam, budaya, dan edukasi lingkungan di Nusa Tenggara Timur.
Sementara itu, MaiA dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan, memberikan rekomendasi destinasi, serta menyediakan tips dan informasi perjalanan selama menjelajahi NTT.
Referensi
- https://cites.org/sites/default/files/ndf_material/240711%20NDF_Aquilaria%20malaccesis.pdf
- https://cites.org/sites/default/files/ndf_material/Promoting%20conservation%20of%20plant%20genetic%20resources%20of%20Aquilaria%20and%20Gyrinops%20Completion%20report.pdf
- https://bpdasbarito.or.id/gaharu/
- https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/52778
- https://www.researchgate.net/publication/329525844_Pengembangan_Tanaman_Penghasil_Gaharu_Gyrinops_versteegii_Gilg_Domke_Oleh_Masyarakat_di_Flores_Nusa_Tenggara_Timur