Tanah Lot adalah kawasan pura dan daya tarik budaya di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali. Pusat kawasan ini adalah Pura Luhur Tanah Lot, pura Hindu yang berdiri di atas formasi batu karang di pesisir selatan Bali.
Ketika air laut pasang, batu karang tersebut dikelilingi air laut, sedangkan saat surut sebagian akses dari daratan terbuka. Selain berfungsi sebagai tempat suci umat Hindu Bali, Tanah Lot dikenal karena lanskap pesisirnya, tradisi keagamaan, serta kompleks pura di sekitarnya.
Kawasan Wisata Tanah Lot memiliki luas sekitar 28,58 hektare yang mencakup area pura, ruang terbuka, fasilitas wisata, persawahan, dan infrastruktur pendukung.
Sejarah Pura Tanah Lot
Sejarah Pura Tanah Lot berkaitan dengan perjalanan keagamaan Dang Hyang Nirartha, pendeta Hindu yang memiliki pengaruh penting terhadap perkembangan kehidupan keagamaan di Bali.
1. Perjalanan Dang Hyang Nirartha
Sumber pengelola Tanah Lot mengaitkan pendirian pura dengan dharma yatra Dang Hyang Nirartha pada sekitar abad ke-15. Dalam perjalanannya menyusuri pesisir selatan Bali, ia tiba di kawasan Beraban dan melakukan meditasi di batu karang yang dikenal sebagai Gili Beo.
Kajian yang diterbitkan melalui repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut Pura Tanah Lot diperkirakan didirikan sekitar abad ke-15 hingga ke-16.
Riwayat pendiriannya juga disebut dalam Lontar Dwijendra Tattwa, meskipun beberapa unsur dalam kisah Tanah Lot berkembang melalui tradisi dan mitologi setempat sehingga perlu dibedakan dari fakta sejarah yang terdokumentasi.
2. Legenda Pemindahan Batu Karang
Menurut legenda masyarakat setempat, pemimpin Beraban awalnya menentang ajaran Dang Hyang Nirartha. Sang pendeta kemudian dipercaya menggunakan kekuatan spiritual untuk memindahkan bagian batu karang ke laut.
Formasi tersebut selanjutnya dikenal sebagai Tanah Lot. Kisah ini merupakan bagian dari tradisi mitologis, bukan peristiwa yang dapat diverifikasi secara historis.
3. Lokasi dan Karakter Geografis Tanah Lot
Tanah Lot terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, di pesisir barat daya Bali. Kawasan ini berada sekitar 30 kilometer dari Denpasar.
Pura utamanya dibangun di atas batu karang yang terpisah dari garis pantai ketika air pasang. Kondisi pasang-surut menjadi karakter penting kawasan karena memengaruhi akses ke bagian dasar batu karang.
Pengunjung tetap perlu mengikuti pembatasan yang diberlakukan pengelola dan pengempon pura karena bagian tertentu merupakan ruang sakral untuk kegiatan keagamaan.
Baca Juga: 11 Pura Bali yang Wajib Dikunjungi dan Cara Menuju Lokasinya
Kompleks Pura di Sekitar Tanah Lot
Selain Pura Luhur Tanah Lot, kawasan ini memiliki sejumlah pura yang mempunyai fungsi ritual berbeda, di antaranya:
1. Pura Batu Bolong
Pura Batu Bolong berada di atas tebing yang menjorok ke laut dan memiliki lubang alami berbentuk menyerupai bulan sabit. Kawasan ini digunakan dalam sejumlah upacara Hindu, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan laut.
2. Pura Luhur Pakendungan
Pura Luhur Pakendungan terletak di sebelah barat laut Pura Tanah Lot. Pura ini berkedudukan sebagai Dang Kahyangan sekaligus Pura Pengulun Subak di wilayah Kecamatan Kediri.
Tradisinya juga berkaitan dengan keris suci Ki Baru Gajah, yang menurut cerita setempat diberikan Dang Hyang Nirartha kepada Bendesa Beraban.
3. Pura Jro Kandang dan Pura Batu Mejan
Pura Jro Kandang berkaitan dengan permohonan perlindungan terhadap tanaman dan ternak dari penyakit serta hama. Fungsi tersebut menunjukkan hubungan antara praktik keagamaan dan kehidupan agraris masyarakat Bali.
Sementara itu, Pura Batu Mejan atau Pura Beji memiliki sumber air yang dipandang sebagai tirta panglukatan, yakni air suci yang digunakan dalam konteks penyucian menurut kepercayaan Hindu Bali.
Makna dan Filosofi Pura Tanah Lot
Fungsi Pura Tanah Lot tidak dapat dipisahkan dari hubungan masyarakat Hindu Bali dengan laut, alam, dan sistem ritual keagamaan.
1. Pemujaan terhadap Kekuatan Laut
Pura Tanah Lot berkaitan dengan pemujaan terhadap kekuatan suci laut. Pengelola Tanah Lot menjelaskan bahwa tradisi setempat menghubungkan Dang Hyang Nirartha dengan konsep Nyegara Gunung, yang menempatkan gunung dan laut sebagai dua unsur penting dalam kosmologi Hindu Bali.
Konteks tersebut menjadikan lokasi pura di tepi laut bukan sekadar unsur arsitektur. Bentang alam merupakan bagian dari ruang sakral tempat hubungan manusia, alam, dan ketuhanan diwujudkan melalui ritual.
2. Ular Suci dalam Tradisi Lokal
Tradisi lokal juga mengenal keberadaan ular laut di sekitar gua batu karang sebagai penjaga Pura Tanah Lot.
Cerita yang berkembang menghubungkannya dengan selendang Dang Hyang Nirartha. Unsur tersebut termasuk dalam kepercayaan dan folklor lokal sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah.
Pujawali dan Tradisi Keagamaan Tanah Lot
Upacara di Pura Tanah Lot menunjukkan bahwa kawasan ini tetap menjadi ruang keagamaan aktif, bukan semata-mata objek wisata.
Pujawali Setiap 210 Hari
Pujawali atau piodalan Pura Luhur Tanah Lot dilaksanakan setiap 210 hari menurut kalender Pawukon Bali, tepatnya pada Budha Wage Langkir. Pada periode tersebut, umat Hindu dari berbagai daerah datang untuk melakukan persembahyangan.
Pujawali juga berlangsung di sejumlah pura lain di kawasan tersebut menurut hari sucinya masing-masing. Oleh karena itu, wisatawan perlu memberikan prioritas kepada kegiatan persembahyangan serta mematuhi ketentuan mengenai pakaian, dokumentasi, dan akses ke ruang suci.
Daya Tarik Alam Tanah Lot
Formasi batu karang dan posisi pura di pesisir merupakan karakter visual utama Tanah Lot. Pura tampak terpisah dari daratan ketika pasang dan lebih mudah diamati dari dekat ketika laut surut.
Kawasan Pura Batu Bolong dan Enjung Galuh juga menyediakan sudut pandang terhadap Samudra Hindia. Kondisi laut dapat berubah sehingga pengunjung perlu memperhatikan pasang-surut, gelombang, serta petunjuk keselamatan dari pengelola.
Alamat, Jam Operasional, dan Harga Tiket Tanah Lot
Berikut adalah informasi mengenai alamat, jam operasional, hingga harga tiket Tanah Lot. Tarif berikut merupakan harga yang dicantumkan situs resmi Tanah Lot dan dapat berubah sewaktu-waktu:
- Alamat: Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali.
- Jam operasional: Jam kunjungan kawasan dapat berubah; periksa informasi terbaru dari pengelola Tanah Lot sebelum berangkat.
- Tiket wisatawan domestik: Rp30.000 (dewasa) dan Rp20.000 (anak usia 5–10 tahun).
- Tiket wisatawan mancanegara: Rp75.000 (dewasa) dan Rp40.000 (anak-anak).
- Biaya Parkir: sepeda motor Rp3.000, mobil Rp5.000, dan kendaraan roda empat ke atas Rp10.000.
Baca Juga: 7 Upacara Keagamaan Bali yang Unik dan Kaya Nilai Spiritual
Cara Menuju Tanah Lot
Tanah Lot dapat dicapai melalui perjalanan darat dari Denpasar dan berbagai kawasan wisata di Bali selatan. Indonesia.travel mencatat jaraknya sekitar 30 kilometer dari Denpasar. Waktu perjalanan bergantung pada titik keberangkatan dan kondisi lalu lintas.
Pengunjung yang membawa kendaraan dapat mengikuti rute menuju Desa Beraban, Kecamatan Kediri. Area parkir tersedia di kompleks wisata, kemudian perjalanan menuju kawasan pura dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati area komersial.
Tanah Lot merupakan contoh kawasan budaya Bali yang menggabungkan bentang pesisir, arsitektur pura, mitologi, praktik keagamaan, dan kehidupan masyarakat dalam satu lanskap. Karena Pura Tanah Lot masih aktif digunakan untuk persembahyangan, kegiatan wisata perlu tetap memperhatikan kesakralan ruang dan pelaksanaan upacara Hindu.
Ingin menggabungkan Tanah Lot dengan pura, desa budaya, dan destinasi pesisir lain di Tabanan dalam satu rute? Gunakan AI Plan Your Trip untuk menyusun perjalanan di Bali berdasarkan durasi kunjungan, lokasi, dan jenis aktivitas yang ingin dilakukan.
Untuk mengetahui akses menuju Tanah Lot, pilihan destinasi di sekitarnya, atau informasi budaya yang perlu diperhatikan sebelum mengunjungi pura, gunakan MaiA untuk mendapatkan referensi perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan.
Referensi: