Menjadi negara kepulauan membuat Indonesia memiliki banyak budaya dan tradisi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, salah satunya adalah Poya khas Provinsi Maluku. Poya merupakan istilah dalam bahasa masyarakat Desa Ibalatmumtah, Kepulauan Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku, yang merujuk pada seni pahat perahu tradisional.
Dalam konteks masyarakat adat setempat, poya adalah sebutan lain untuk perahu kayu yang dibuat secara manual melalui teknik pahat turun-temurun. Tradisi ini tercatat sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam kategori Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.
Definisi Poya
Berbeda dari seni pahat dekoratif yang lazim ditemukan pada rumah adat atau benda ritual di berbagai daerah di Indonesia, poya secara spesifik merujuk pada praktik pembuatan perahu kayu melalui teknik pahat. Perahu ini berfungsi sebagai alat transportasi utama, sekaligus sarana yang menghubungkan relasi kekerabatan antarwarga di wilayah kepulauan. Pencatatan resmi mengenai poya terdapat dalam Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2014 yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Berasal dari Desa di Kepulauan Babar
Desa Ibalatmumtah dan Kepulauan Babar
Poya berasal dari Desa Ibalatmumtah, salah satu desa yang terletak di gugus Kepulauan Babar. Kepulauan Babar merupakan salah satu dari tiga gugus kepulauan yang membentuk wilayah administratif Kabupaten Maluku Barat Daya, bersama Gugus Pulau Terselatan (termasuk Pulau Wetar, Kisar, dan Romang), serta Gugus Pulau Leti dan Moa Lakor.
Kepulauan Babar mencakup Pulau Babar, Babar Timur, Pulau Mesela, Dawelor-Dawera, Damer, dan Mdona Hyera.
Kabupaten Maluku Barat Daya
Kabupaten Maluku Barat Daya dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2008 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat, dengan ibu kota di Kota Tiakur, Kecamatan Moa Lakor. Kabupaten ini merupakan wilayah kepulauan yang terdiri atas sedikitnya 48 pulau, dengan luas wilayah perairan mencapai sekitar 88 persen dari total luas wilayah sebesar 72.427,2 kilometer persegi, sementara luas daratannya hanya sekitar 8.648 kilometer persegi. Secara geografis, gugusan pulau di bagian barat daya Maluku ini termasuk dalam kawasan Kepulauan Sunda Kecil dan berbatasan dengan Timor Leste di sisi timur.
Karena kondisi geografis yang didominasi laut, transportasi laut menjadi moda transportasi utama bagi penduduk kabupaten ini. Adapun jarak tempuh dari ibu kota kabupaten menuju Kota Ambon memerlukan waktu perjalanan laut selama sekitar satu hari satu malam.
Bahan dan Proses Pembuatan
Poya dibuat dari kayu okna, jenis kayu lokal yang diolah oleh masyarakat setempat menjadi bahan baku perahu. Proses pembuatannya dilakukan secara manual, dan diwariskan secara turun-temurun di dalam komunitas. Karakteristik kayu okna sebagai bahan olahan khas masyarakat setempat menjadikan poya memiliki ciri material yang berbeda dari perahu tradisional di wilayah lain di Maluku.
Baca juga: Floit, Instrumen Musik Tiup Tradisional Maluku yang Merdu
Fungsi dalam Kehidupan Masyarakat
Sarana Transportasi
Sebagai wilayah kepulauan dengan medan perairan yang luas, masyarakat Kepulauan Babar dan Kabupaten Maluku Barat Daya secara umum sangat bergantung pada moda transportasi laut untuk mobilitas antarpulau.
Dalam konteks ini, poya berfungsi sebagai alat transportasi andalan yang digunakan masyarakat Desa Ibalatmumtah untuk beraktivitas di laut, maupun berpindah antarwilayah.
Media Pemersatu Kekerabatan
Selain fungsi transportasi, poya memiliki fungsi sosial sebagai media yang menghubungkan kekerabatan masyarakat. Kepemilikan dan penggunaan poya dalam kehidupan sehari-hari terkait erat dengan relasi sosial antarwarga, sehingga tradisi pembuatan dan pemakaian perahu ini turut menjaga ikatan komunitas di tengah kondisi geografis kepulauan yang tersebar.
Makna dan Filosofi
Budaya dan Kepercayaan Bahari
Tradisi poya menggambarkan semangat kebaharian atau ketergantungan erat masyarakat terhadap laut, sebagai unsur yang mengatur pola aktivitas kehidupan sehari-hari. Pola hidup yang berorientasi pada laut ini merupakan ciri umum masyarakat di wilayah Kepulauan Maluku Barat Daya, mengingat wilayah perairan mencakup sebagian besar luas kabupaten tersebut.
Orientasi bahari semacam ini juga tampak pada konsep budaya lain di kawasan yang sama, seperti Kalwedo, yaitu sistem nilai kepemilikan bersama masyarakat adat di Maluku Barat Daya dan Kepulauan Babar yang diwariskan melalui bahasa, adat istiadat, dan kebiasaan sehari-hari.
Poya dalam Konteks Seni dan Kerajinan Maluku
Secara lebih luas, wilayah Provinsi Maluku dikenal memiliki beragam jenis kerajinan rakyat, termasuk seni patung, seni ukir, dan seni pahat kayu, yang berkembang di berbagai daerah seperti Maluku Tenggara. Perahu tradisional juga dikenal sebagai simbol budaya di berbagai wilayah Maluku, misalnya perahu arumbae yang menjadi ikon budaya di kawasan Maluku Tengah, dan sering direpresentasikan dalam syair lagu daerah maupun bentuk gapura negeri adat.
Meskipun poya dan arumbae sama-sama merupakan tradisi perahu kayu di Kepulauan Maluku, keduanya berasal dari wilayah dan konteks budaya yang berbeda. Poya khas Kepulauan Babar di Maluku Barat Daya, sedangkan arumbae berkembang di kawasan Maluku Tengah, khususnya Teluk Ambon.
Tidak seperti kain tenun atau batik Maluku yang berkaitan langsung dengan busana adat, poya sebagai kerajinan perahu tidak memiliki keterkaitan langsung dengan bidang fesyen, melainkan lebih dekat pada ranah kemahiran dan kerajinan tradisional berbasis fungsi transportasi dan sosial.
Status sebagai Warisan Budaya Takbenda
Poya tercatat dalam Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2014 yang disusun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pencatatan warisan budaya takbenda merupakan bagian dari sistem pendataan nasional yang dikelola melalui basis data Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Hingga tahun 2025, jumlah keseluruhan warisan budaya takbenda Indonesia yang telah ditetapkan tercatat mencapai 2.727 karya budaya dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk sejumlah warisan budaya asal Provinsi Maluku.
Tantangan Pelestarian
Sebagai tradisi yang bergantung pada keterampilan turun-temurun dan bahan baku kayu lokal, kelangsungan praktik poya turut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain regenerasi pengrajin, ketersediaan kayu okna, serta perkembangan moda transportasi modern di wilayah kepulauan.
Kabupaten Maluku Barat Daya sendiri tercatat sebagai salah satu kabupaten dengan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi secara regional dan keterbatasan infrastruktur, kondisi yang turut berdampak pada upaya pendokumentasian dan pelestarian tradisi budaya di wilayah tersebut.
Pencatatan resmi sebagai warisan budaya takbenda menjadi salah satu langkah awal dalam upaya pendokumentasian tradisi ini pada tingkat nasional, meskipun literatur akademik maupun etnografis yang membahas poya secara mendalam masih tergolong terbatas hingga saat ini.
Kerajinan khas Maluku tidak sekadar menghasilkan karya yang menarik, tetapi juga menjadi cerminan kreativitas, kearifan lokal, dan kekayaan budaya masyarakat setempat. Beragam kerajinan yang dibuat dari bahan dan teknik khas daerah menunjukkan bagaimana tradisi terus dijaga sekaligus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tertarik dan penasaran melihat Poya khas Maluku ini? Rencanakan perjalanan Anda dengan AI Plan Your Trip untuk mendapatkan itinerary yang sesuai dengan waktu dan preferensi perjalanan. Anda juga dapat bertanya kepada MaiA mengenai sentra kerajinan, destinasi budaya, maupun hal menarik lainnya di Maluku agar perjalanan menjadi lebih mudah dan berkesan.
Referensi:
https://senibudayaku.com/kebudayaan-daerah-maluku/
https://indonesiamengajar.org/kabar/profil-kabupaten-maluku-barat-daya