Kalau jalan-jalan sampai Kawasan Wisata Candi Borobudur, Sobat Pesona jangan lupa ya, mampir ke desa-desa wisata di sekitarnya. Seperti 4 desa wisata di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang ini.
Nggak cuma punya koleksi wisata alam memukau, warganya pun kreatif dengan produk kuliner dan kerajinan tangan. Kenakan busana yang nyaman, karena perlu trekking tipis-tipis untuk naik ke puncak atau bermain air. Tapi perjuangan kamu akan terbayar oleh pemandangan yang menunggu di sana. Alam pedesaan cantik berlatar Perbukitan Menoreh dengan udara bersih, cocok banget jadi lokasi healing
Menghayati Alam dari Puncak Perbukitan dan Sungai Progo
Desa Giripurno, Desa Giritengah, dan Desa Kenalan punya beberapa spot trekking seru, yang juga merupakan tempat-tempat indah menyaksikan matahari terbit. Simak, yuk.
1. Punthuk Sunrise Posmati, Desa Giritengah
Perjalanan menuju puncak memang memerlukan perjuangan, karena melalui jalan setapak menanjak. Namun jika cuaca cerah dan kalian beruntung, dari tempat ini Sobat Pesona akan bisa melihat keindahan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Telomoyo dan Gunung Andong. Konon, Posmati merupakan tempat persinggahan pasukan Pangeran Diponegoro untuk memantau pergerakan pasukan kolonial Belanda.
2. Curug Watuploso di Desa Giripurno
Cantik dan unik dengan airnya yang bertingkat tiga. Daya tarik utamanya terletak pada grojogan tingkat pertama dengan ketinggian tak kurang dari sepuluh meter. Airnya selalu mengalir meski pada masa kemarau sekalipun. Aksesnya mudah, karena terjangkau mobil sampai ke pintu masuk kawasan wisata.
3. Puncak Gondopurowangi dan Curug Pitulasan, Desa Kenalan
Dari Puncak Gongopurowangi, sejauh mata memandang nampak pepohonan hijau berpadu dengan awan putih dan langit biru. Kalau ingin menikmati pemandangan matahari terbit, Sobat Pesona bisa berkemah di sana, namun dengan pemesanan terlebih dahulu untuk alasan keamanan. Jika ingin bermain air, desa ini punya air terjun 17 meter (pitulas, Bahasa Jawa) yang airnya jernih dan segar.
4. Main Getek (Perahu Bambu) Menikmati Senja, Desa Sambeng
Seru sekaligus syahdu, naik perahu tradisional Wisata Getek Balong di Sungai Progo, yang melaju pelan membelah air di bawah matahari sore. Satu getek kecil muat untuk 4 orang tamu dengan 2 penyetang (pendayung), sedangkan yang besar bisa untuk 12 orang. Jangan khawatir soal keamanan karena telah tersedia baju pelampung, helm, serta getek pun ditunjang oleh pipa paralon di bagian bawahnya.
Belanja Oleh-Oleh Kreasi para Wanita Hebat
Sebagai oleh-oleh, Sobat Pesona bisa memilih produk hasil kreasi ibu-ibu PKK Desa Giripurno seperti Erni dan Desi, dengan jenama mereka Giri Roso dan Giri Cengkeh, yang memanfaatkan potensi desa berupa kambing Etawa dan cengkeh. Produk Giri Roso adalah Wedang Uwuh dan Wedang Jahe Susu Kambing Etawa. Sedangkan Giri Cengkeh menghasilkan hand sanitizer, sabun cair dan sabun batang.
Dari Desa Kenalan kita bisa belanja Slondok Scotela, camilan kriuk gurih terbuat dari singkong dengan bentuk unik, seperti kepingan uang logam kuno dengan lubang di tengah. Komaroyani telah merintis produk ini sejak 1990-an dan kini menghabiskan 1 ton singkong setiap bulannya. Duh, pasti susah nih, berhenti makannya!
Selain itu, kalian bisa memborong kreasi anyaman daun pandan buatan Budi Rahayu dan para ibu. Ada gantungan kunci, kotak penyimpanan, sampai tas besar yang estetik sebagai piranti jalan-jalan. Tas anyamannya bahkan sudah dipesan oleh hotel sebagai suvenir.
Di Desa Sambeng, Sobat Pesona bisa kenalan dengan rujak buah yang unik, yaitu Rujak Semelak dari buah mengkudu. Yup, buah yang berbau menyengat dan kurang nikmat, tapi punya banyak khasiat. Jangan khawatir, di tangah Riyatun, buah ini terasa manis segar setelah dipadu banyak rempah. Awalnya Rujak Semelak hanya disajikan saat ada tamu-tamu khusus, namun kini telah diproduksi juga sebagai oleh-oleh. Boleh juga jika ingin disantap bersama kreasi Riyatun yang lain, yakni emping ketela yang lezat.
Petani Sekaligus Penjaga Tradisi Seni dari Desa Giritengah
Sobat Pesona juga kenalan yuk, dengan seniman tokoh seni tradisional dari Desa Giritengah. Irfandi, pendiri dan pengajar di Sanggar Abinaya, menampung siapa saja yang ingin belajar menari. Irfandi juga membuat sendiri topeng kayu untuk pelengkap kostum tari, karena menekuni seni kriya patung, yang biasanya terbuat dari kayu pule dan rambut kuda.
Meski tidak tamat sekolah dasar, pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini memiliki jiwa dan semangat kuat untuk menjaga keberlanjutan kesenian tradisional. Secara otodidak ia ciptakan topeng yang tidak pasaran, sehingga memiliki pasar tersendiri.
Yuk, luangkan waktu menjelajahi pesona-pesona tersembunyi seperti ini. Sobat Pesona pasti akan menemukan kisah-kisah baru bersama alam, budaya, dan warga di setiap desa wisata.
***