MaiA ai-icon

Informasi

10 Galeri Seni di Bali, Penuh Koleksi Seniman yang Menginspirasi

Image Contributor: imageBROKER/Shutterstock

Bali memiliki sejumlah galeri dan museum seni yang menyimpan koleksi lukisan, patung, serta artefak budaya. Sebagian besar berlokasi di Ubud, Gianyar, pusat seni rupa Bali sejak awal abad ke-20, sementara lainnya tersebar di Sanur, Nusa Dua, dan Jimbaran. Institusi ini didirikan oleh kolektor seni, seniman asing yang menetap di Bali, maupun pengelola swasta.

Galeri seni di Bali memiliki karakter yang beragam. Sebagian berfokus pada perkembangan seni rupa Bali dan Indonesia, sedangkan lainnya menghadirkan karya seniman internasional, koleksi budaya Asia-Pasifik, atau pameran yang berkaitan dengan tradisi Bali. Berikut sejumlah galeri dan museum seni yang dapat Anda sambangi ketika ke Bali.

Museum Puri Lukisan

Berdiri sejak 1956, Museum Puri Lukisan tercatat sebagai museum seni tertua di Ubud. Pendiriannya adalah Rudolf Bonnet dan Tjokorda Gde Agung Sukawati, dengan koleksi seni rupa Bali klasik hingga modern, termasuk karya I Gusti Nyoman Lempad dan Ida Bagus Made.

Selain lukisan, museum ini memamerkan patung kayu tradisional, lokakarya melukis, memahat, serta membuat batik. Empat bangunan pameran menampung koleksi bergaya Batuan, Sanur, dan Ubud.

  • Lokasi: Jalan Raya Ubud, Ubud, Gianyar, Bali
  • Jam Buka: Setiap hari, pukul 09.00–18.00 WITA (tutup saat Hari Raya Nyepi)
  • Harga Tiket Masuk: Rp65.000–Rp145.000 per orang, bervariasi tergantung paket yang diambil

Museum Pasifika

Kawasan ITDC Nusa Dua menjadi lokasi museum yang berfokus pada karya seni dari kawasan Asia Pasifik, yaitu Museum Pasifika. Koleksi di sini berjumlah lebih dari 600 karya dari sekitar 200 seniman lokal maupun internasional.

Museum Pasifika menampilkan karya seniman yang pernah berkarya di Bali, seperti Le Mayeur, Theo Meier, dan Rudolf Bonnet. Ruang pamer Museum Pasifika disusun dalam paviliun tematik yang mewakili Indonesia, Polinesia, Eropa, dan Asia lainnya. Di waktu tertentu, museum ini juga membuka kelas seni dan program edukasi.

  • Lokasi: ITDC Complex, Nusa Dua, Badung, Bali
  • Jam Buka: Setiap hari, pukul 10.00–18.00 WITA
  • Harga Tiket Masuk: Rp70.000 (WNI), Rp100.000 (WNA), Rp50.000 (pelajar), gratis (anak di bawah 12 tahun)

Neka Art Museum

Perkembangan seni lukis Bali dari tradisional menuju modern dapat diamati melalui koleksi Neka Art Museum. Museum ini didirikan oleh Pande Wayan Suteja Neka pada tahun 1982, yang mulai mengoleksi karya seni setelah berkenalan dengan Rudolf Bonnet dan Arie Smit. 

Koleksi di sini mencapai lebih dari 400 karya yang memadukan tradisi Bali dengan pendekatan modern. Beberapa karya di sini berasal dari seniman asing yang menetap di Bali, seperti Rudolf Bonnet, Walter Spies, dan Arie Smit, sehingga pengunjung dapat menelusuri perkembangan gaya seni rupa Bali dari masa ke masa.

  • Lokasi: Jalan Raya Sanggingan, Kedewatan, Ubud, Gianyar, Bali
  • Jam Buka: Setiap hari, pukul 09.00–17.00 WITA
  • Harga Tiket Masuk: Rp150.000 per orang

Baca Juga: Neka Art Museum: Wisata Seni Bali yang Sayang Dilewatkan

Agung Rai Museum of Art (ARMA)

Agung Rai Museum of Art atau ARMA merupakan museum seni yang didirikan oleh Agung Rai dan diresmikan pada 9 Juni 1996. Koleksi di sini mencakup seni tradisional hingga kontemporer, termasuk lukisan gaya Kamasan karya seniman Batuan, serta karya I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gde Sorbat, dan Walter Spies.

ARMA juga menjadi pusat kegiatan budaya dengan kelas melukis, gamelan, membuat batik, dan tari Bali yang didukung taman luas serta restoran. Di waktu tertentu, ARMA juga menjadi lokasi pameran dan pertunjukan budaya Bali lainnya.

  • Lokasi: Jalan Raya Pengosekan, Ubud, Gianyar, Bali
  • Jam Buka: Setiap hari, pukul 09.00–18.00 WITA
  • Harga Tiket Masuk: Rp150.000 per orang, termasuk minuman dan buku panduan.

The Blanco Renaissance Museum

The Blanco Renaissance Museum merupakan museum yang didedikasikan untuk karya Don Antonio Blanco, seniman kelahiran Spanyol yang menetap dan berkarya di Bali. Museum yang didirikan pada tahun 1998 ini menyimpan karya Don Antonio Blanco dengan dominasi gaya ekspresif surealis.

The Blanco Renaissance Museum terdiri atas studio, galeri, perpustakaan, kafe, taman burung, amfiteater, serta kuil keluarga Blanco. Studio utama kini digunakan putra Don Antonio Blanco, Mario Blanco. Bangunan museum masih dipertahankan menggunakan gaya arsitektur Bali dan Eropa.

  • Lokasi: Jalan Raya Ubud, Sayan, Kecamatan Ubud Gianyar, Bali
  • Jam Buka: Setiap hari, pukul 09.00–17.00 WITA
  • Harga Tiket Masuk: Rp55.000 (WNI), Rp100.000 (WNA)

Museum Le Mayeur

Rumah sekaligus studio pelukis Belgia, Adrien-Jean Le Mayeur de Merprès di Sanur kini telah menjadi Museum Le Mayeur. Museum ini resmi berdiri pada 28 Agustus 1957 dan menjadi tempat pelestarian karya Le Mayeur setelah ia menetap di Bali sejak tahun 1932.

Berada di kawasan Pantai Sanur, museum ini menyimpan sekitar 88 lukisan yang sebagian besar menggambarkan kehidupan masyarakat Bali, terutama Ni Pollok, istri Le Mayeur. Setelah sempat ditutup karena revitalisasi, museum ini kembali dibuka untuk umum pada 11 Agustus 2025.

  • Lokasi: Jalan Hang Tuah, Pantai Sanur, Denpasar, Bali
  • Jam Buka: Setiap hari kecuali hari libur, pukul 08.00–16.30 WITA 
  • Harga Tiket Masuk: Rp10.000 (dewasa), Rp5.000 (anak-anak)

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma di Ubud memiliki fokus pada seni pertunjukan tradisional melalui koleksi topeng dan wayang. Koleksi topeng dan wayang di sini berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan negara lain, dengan jumlah koleksi mencapai lebih dari 1.300 topeng dan 5.700 wayang.

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma terdiri atas tujuh bangunan Joglo. Di dalam joglo inilah dipajang berbagai topeng dan wayang dari berbagai wilayah. Kawasan ini juga dilengkapi ruang konferensi, taman, gedung pertunjukan, hingga amfiteater dengan kapasitas 500 orang.

  • Lokasi: Mas, Ubud, Gianyar, Bali
  • Jam Buka: Setiap hari, pukul 08.00–16.00 WITA
  • Harga Tiket Masuk: Gratis, terdapat kotak donasi sukarela

Baca Juga: Wisata Budaya Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma

SAKA Museum

SAKA Museum merupakan museum kontemporer yang berfokus pada warisan spiritual dan artistik Bali. Museum ini berada di kawasan AYANA Bali dan secara resmi diperkenalkan sebagai pusat budaya pada tahun 2024. Namanya merujuk pada kalender Saka yang digunakan dalam sistem penanggalan Bali. 

Museum ini mengenalkan berbagai aspek kebudayaan Bali, termasuk Nyepi, ogoh-ogoh, dan konsep Tri Hita Karana. Selain melihat koleksi, pengunjung dapat mengikuti program, seperti museum trail, kelas tari Bali, pembuatan ogoh-ogoh dari tanah liat, serta lokakarya canang.

  • Lokasi: Jalan Karang Mas Sejahtera, Jimbaran, Badung, Bali
  • Jam Buka: Setiap hari, pukul 10.00–18.00 WITA
  • Harga Tiket Masuk: Rp300.000 (dewasa), Rp150.000 (anak-anak), gratis untuk anak di bawah 5 tahun dan tamu AYANA Resort

Museum Rudana

Museum Rudana merupakan museum seni yang berada di Peliatan, Ubud, dan didirikan oleh kolektor seni Nyoman Rudana. Bangunan museum menggunakan unsur arsitektur Bali dan memiliki tiga lantai. 

Museum ini menyimpan karya dari seniman-seniman ternama, seperti Affandi, Basuki Abdullah, I Gusti Nyoman Lempad, Nyoman Gunarsa, Srihadi Soedarsono, dan Made Wianta. Museum ini termasuk museum khusus yang hanya mengoleksi satu cabang seni, yaitu seni rupa.

  • Lokasi: Peliatan, Ubud, Gianyar, Bali
  • Jam Buka: Setiap hari, pukul 09.00–17.00 WITA
  • Harga Tiket Masuk: Rp20.000 (dewasa) dan Rp10.000 (anak-anak)

Bali memiliki pilihan galeri seni dan museum dengan tema yang cukup beragam, mulai dari seni lukis klasik dan modern, karya seniman internasional, hingga topeng, wayang, dan tradisi keagamaan. Dengan memahami karakter masing-masing tempat, Anda dapat memilih galeri seni di Bali berdasarkan jenis koleksi dan konteks budaya yang ingin dipelajari.

Komaneka FIne Art Gallery

Komaneka Fine Art Gallery merupakan galeri yang berfokus pada karya seni modern dan kontemporer. Galeri ini didirikan pada 1996 dan berada di Jalan Monkey Forest, Ubud, kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan seni di Bali. 

Sejak awal, Komaneka Fine Art Gallery memberikan ruang bagi seniman muda dan kontemporer dari Indonesia maupun mancanegara untuk memperkenalkan karya mereka. Karya di sini cukup beragam, mulai dari lukisan, patung, dan instalasi. Made Sumadiyasa, Nyoman Masriadi, dan Pande Ketut Taman adalah beberapa seniman yang mengisi galeri ini.

Lokasi: Jalan Monkey Forest, Ubud, Gianyar

Jam Buka: Setiap hari, pukul 09.00–20.00 WITA

Harga Tiket Masuk: Gratis untuk umum

Tertarik mengunjungi berbagai galeri seni di Bali dan menikmati karya seniman secara langsung? Saatnya Rencanakan Perjalanan Anda melalui website Indonesia Travel untuk menemukan inspirasi destinasi dan itinerary yang sesuai gaya perjalanan Anda.

Untuk ide perjalanan lainnya, Anda dapat bertanya kepada Maia, yang siap membantu memberikan rekomendasi tempat menarik, tips wisata, dan aktivitas seru selama berada di Bali.


Referensi

INSIGHT

Ide Perjalanan

SKOOL Kitchen: Destinasi Gourmet untuk Pecinta Rasa Autentik

SKOOL Kitchen: Destinasi Gourmet untuk Pecinta Rasa Autentik

Menparekraf Menyambut Baik Penerbangan Langsung AirAsia Rute Hong Kong - Denpasar

Menparekraf Menyambut Baik Penerbangan Langsung AirAsia Rute Hong Kong - Denpasar

11 Pura Bali yang Wajib Dikunjungi dan Cara Menuju Lokasinya

11 Pura Bali yang Wajib Dikunjungi dan Cara Menuju Lokasinya