Dari jaman sekolah belajar sejarah, akhirnya jadi tau kalau Indonesia punya beberapa tempat pengasingan tokoh nasional RI. Jadi penasaran sama bentuknya aslinya nggak sih, Sob?
Sobat Pesona yang penasaran sama tempat pengasingan tokoh nasional RI kamu bisa datengin 5 tempat ini.
1. Boven Digoel, Papua Selatan, Papua

Boven Digoel adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua Selatan. Tempat ini dulunya dibangun untuk menampung tokoh-tokoh yang dianggap terlibat dalam "Pemberontakan November 1926" yang dilakukan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) serta tokoh-tokoh perlawanan berbasis agama dan politik di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.
Tokoh-tokoh proklamator yang pernah dibuang di tempat ini ada Sayuti Melik (1927-1938), Hatta (1935-1936), Sutan Sjahrir dan Muchtar Lutfi, Ilyas Yacoub (tokoh PERMI dan PSII Minangkabau), serta Mas Marco Kartodikromo yang wafat dan dimakamkan di Digoel pada tahun 1935.
Bangunan Boven Digoel juga ada taman makam pahlawan perintis dan situs megalitik. Kalau Sobat Pesona mau traveling ke Papua, dari Merauke ke Boven Digoel butuh waktu sekitar 11 jam.
2. Banda Neira, Maluku Tengah, Maluku
Salah satu bagian dalam Museum Banda Neira. Foto: Wikipedia.org
Banda Neira yang terletak di Kepulauan Banda, Maluku Tengah, Provinsi Maluku merupakan salah satu tempat pengasingan sejumlah tokoh nasional RI. Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta dipindahkan ke Banda Neira setelah menjalani pengasingan di Boven Digoel.
Sjahrir dan Mohammad Hatta bergabung dengan Iwa Koesoemasoematri dan dr. Cipto Mangunkusumo yang terlebih dahulu diasingkan di Banda Neira. Sjahrir dan Hatta ditempatkan di rumah sewaan dari De Vries, orang kaya Belanda pemilik perkebunan yang tinggal di Batavia.
Keduanya diasingkan di Banda Neira selama enam tahun, tepatnya dari tahun 1936 hingga 1942. Mereka berdua keluar dari Banda Neira sesaat sebelum pasukan Jepang menyerang daerah Banda Neira pada 1 Februari 1942.
Untuk melihat lebih lengkapnya, Sobat Pesona bisa mengunjungi Rumah Budaya Banda Neira. Tempat ini buka setiap hari mulai pukul 07:00- 18:00 WITA, dengan tiket masuk Rp20.000,- per orang.
Ternyata Banda Neira selain memiliki pemandangan laut yang sangat memanjakan mata, juga punya historikal menarik ya, Sob. Untuk ke sini, Sobat Pesona bisa naik pesawat ke Ambon lalu lanjut menyebrang dengan kapal feri atau PELNI.
3. Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur
Rumah Pengasingan Soekarno di Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Antara Foto
Pada tanggal 28 Desember 1933, Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, De Jonge, mengeluarkan surat keputusan pengasingan Ir. Soekarno ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Soekarno diasingkan atau dibuang ke Ende karena kegiatan politiknya membahayakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
Soekarno dan keluarganya dibawa ke rumah pengasingan yang terletak di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kotaraja. Di rumah pengasingan inilah Soekarno beserta istrinya, Inggit Garnasih, mertuanya Ibu Amsi, dan kedua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika menghabiskan waktu mereka selama empat tahun.
Rumah pengasingan Soekarno tersebut saat ini dijadikan museum yang buka di hari Senin-Jumat, pukul 08:00-17:00 WITA. Sobat Pesona cukup bayar tiket masuk sebesar Rp5.000,- untuk berkeliling museum ini.
Ende bisa ditempuh melalui jalur udara dari Bali atau Labuan Bajo. Kalau ingin memilih opsi jalur laut, Sobat Pesona bisa menaiki kapal feri dari Kupang, Nusa Tenggara Timur.
4. Bengkulu
Sumber foto: detik.com
Pada 18 Oktober 1938, Soekarno dipindahkan dari Ende ke Bengkulu. Selama pengasingannya di Bengkulu, Bung Karno ditempatkan di sebuah rumah yang awalnya adalah tempat tinggal pengusaha yang bernama Tan Eng Cian.
Soekarno menempati rumah tersebut dari 1938-1942. Selama pengasingannya rumah tersebut dipergunakan untuk segala aktivitas baik politik, kesenian, dan keorganisasian.
Sama kaya di Ende, Sob, rumah pengasingan ini sekarang dijadikan museum. Sobat Pesona bisa berkunjung pada pukul 08:00-17:00 WIB, dengan harga tiket Rp3.000,-. Museum ini juga buka setiap hari ya, Sob.
Sobat Pesona bisa menggunakan pesawat untuk menuju ke Bengkulu. Atau kalau lebih lama menikmati pemandangan di perjalanan, kamu juga bisa menggunakan bus.
5. Pulau Buru, Maluku

Pulau Buru adalah salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku yang menjadi tempat pembuangan bagi para tahanan politik yang dianggap serta divonis terlibat G-30 S PKI.Pulau Buru merupakan camp konsentrasi saat menangani pemberontakan PKI pada 1926-1927 oleh pemerintah Hindia Belanda.
Tokoh nasional yang diasingkan di Pulau Buru adalah sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Pram diasingkan bersama seseorang yang dianggap sebagai bagian dari sikap oposisi terhadap Pemerintah Orde Baru.
Selain napak tilas sejarah yang ada di Pulau Buru, Sobat Pesona juga bisa sekalian menikmati keindahan alam di sana, loh! Wilayah Pulau Buru didominasi oleh dataran rendah yang dikelilingi oleh perbukitan dekat pantai. Untuk ke Pulau Buru, Sobat Pesona bisa terbang menuju Namlea, Ibukota dari Kabupaten Buru.
Mengunjungi tapak tilas sejarah kemerdekaan bisa menjadi agenda menarik selama berlibur. MaiA siap merekomendasikan mana saja lokasi-lokasi bersejarah yang tepat untuk Anda kunjungi.
Biar perjalanan lebih teratur dan nyaman, yuk susun rencana perjalanan Anda bersama Rencana Perjalanan yang ada di website Indonesia.travel dan rasakan pengalaman berlibur sesuai dengan yang Anda mau.


