production
go-explore

Tambah Pengetahuan Budaya, Kenali Makna Simpul Sarung Wanita di Desa Wisata Ranupani, Lumajang

Sudah pernah berkunjung ke Desa Wisata Ranupani, Lumajang, Jawa Timur? Selain menikmati pemandangan alam yang indah, di sini Sobat Pesona juga bisa mempelajari tradisi budaya yang sudah turun – temurun, lho! Salah satu tradisi budaya yang menarik perhatian adalah makna di balik letak simpul sarung, selendang atau jarik dari wanita-wanita Desa Wisata Ranupani.

Saat berkesempatan wisata ke Desa Wisata Ranupani, coba perhatikan cara wanita setempat menggunakan sarung atau selendang. Tak hanya sebagai tambahan aksesori diri atau untuk menghindari hembusan angin dingin, ternyata ada makna identitas di balik letak simpul sarung atau selendang tersebut. Makna ini telah diyakini secara turun-temurun hingga beberapa generasi.

Masyarakat Desa Wisata Ranupani, Lumajang, Jawa Timur yang termasuk dalam suku Tengger ini memiliki keteguhan kuat dalam menjalankan tradisi dan budaya. Namun hal tersebut tidak membuat masyarakat kaku dalam menerima kehadiran tamu atau pengunjung yang berasal dari luar daerah. Jika Sobat Pesona berkunjung ke Desa Wisata Ranupani, masyarakat desa justru akan sangat ramah dan bersahaja dalam menyambut wisatawan.

Nah, sebelum Sobat Pesona berkunjung, yuk pelajari dulu makna identitas dari letak simpul sarung atau selendang wanita di Desa Wisata Ranupani, Lumajang!

1 | Gadis

ranupani

Para gadis di Desa Wisata Ranupani dapat dikenali dari letak simpul pada kain sarung atau selendang yang dikenakannya. Ketika mengenakan kain, seorang gadis akan meletakkan simpul pada sarung atau selendang di pundak sebelah kanan dengan sebagian tergerai ke depan. Hal ini memberi makna si pemakai adalah gadis yang belum menikah.

2 | Wanita Menikah dan Bersuami

ranupani

Jika letak simpul pada sarung atau selendang tersimpul berada di tengah bagian depan dengan sarung tergerai ke arah belakang, menandakan bahwa wanita yang mengenakan sudah menikah dan bersuami.

3 | Wanita yang Menikah tapi Tidak Bersuami (Janda)

ranupani

Di Desa Wisata Ranupani, Sobat Pesona akan kembali melihat wanita mengenakan sarung atau selendang dengan posisi simpul kain terletak di bahu sebelah kiri, sedangkan sisa sarung tergerai sebagian ke arah depan. Jika bertemu dengan para wanita dengan simpul seperti ini, artinya wanita tersebut pernah menikah namun tidak lagi bersuami atau disebut janda.

4 | Wanita Hamil

Wanita hamil di Desa Wisata Ranupani akan dapat dengan mudah dikenali dari letak simpulnya yang berada di belakang leher dengan menjuntai ke depan menutupi bagian depan badan. Untuk wanita hamil, juntaian sarung atau selendang ke depan ini juga berfungsi untuk melindungi kehamilannya.

Seiring berjalannya waktu, bukan hanya letak simpul yang menjadi pembeda status para wanita di Desa Wisata Ranupani. Jenis dan corak sarung atau selendang yang dikenakan juga dapat membedakan mana wanita yang telah berkeluarga dan mana yang belum.

ranupani

Keunikan budaya di Desa Wisata Ranupani ini menjadi salah satu daya tarik pariwisata yang mampu menghadirkan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Sebagai bonusnya, saat berkunjung ke desa ini Sobat Pesona juga bisa menikmati panorama alamnya yang luar biasa. Apalagi, baru-baru ini Desa Wisata Ranupani berhasil masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, bahkan terkesan dan kagum saat berkunjung langsung ke Desa Wisata Ranupani ini, bukan hanya karena alam dan budaya, tapi fasilitasnya yang mumpuni dan warganya yang sangat ramah.

ranupani

Penasaran? Yuk, rencanakan liburanmu ke Desa Wisata Ranupani! Berbagai referensi wisata #DiIndonesiaAja bisa Sobat dapatkan dengan cara follow akun Instagram: @pesonaid_travel, Facebook: @pesonaid_travel, dan kunjungi website www.indonesia.travel.

Saat berkunjung, jangan lupa selalu patuhi protokol kesehatan dengan menerapkan 6M ya, mulai dari menggunakan masker dengan benar, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak,  menghindari kerumunan, membatasi mobilitas, dan menghindari makan bersama supaya aktivitas berwisata nanti tetap aman dan nyaman.