production
go-explore

Kampoeng Homestay Desa Wisata Kuta Memoles Layanan Prima

Sebelum pandemi menghantam negeri, kawasan yang dipadati ratusan kamar homestay ini selalu dipadati pejalan nusantara maupun mancanegara, yang ingin menyesap keindahan Bumi Mandalika sedikit lebih lama.

Saat ini, Kampoeng Homestay Desa Wisata Kuta kembali menggeliat terjamah gema perhelatan akbar MotoGP Mandalika 2022. Selain wisatawan, rupanya kesibukan pembangunan sirkuit dan sarana akomodasi baru turut menyumbang naiknya tingkat hunian di kawasan tersebut.

Termasuk Roy Homestay, salah satu penyedia sarana akomodasi 12 kamar yang telah berdiri dalam lingkungan Kampoeng Homestay sejak 2015.

Namun demikian, Sunardi, pemilik Roy Homestay tidak memungkiri bahwa situasi masih jauh dari kata normal. Bahkan untuk sewa kamar, dia belum berani mematok harga seperti sebelumnya, yakni Rp 200 - 300 ribu. “Sekarang masih ada kamar yang (sewanya) seratus ribu saja dulu,” ujarnya. 

tempat wisata di tangerang

Sunardi, pemilik Roy Homestay

Tentu saja seperti pemilik penginapan lain, juga pelaku usaha wisata pada umumnya, Roy berharap kondisi bisnis pariwisata segera kembali pulih. “Paling tidak 50-60% juga tidak apa,” kata Bapak 3 anak ini seraya bertukar senyum kepada istrinya yang sibuk mengolah Poteng Jaje Tujak, semacam tape ketan penganan khas Lombok.

Lebih dari dua tahun, pandemi menggerus penghasilan warga dari usaha menyewakan kamar homestay. Untuk bertahan hidup, sebagian besar dari mereka bekerja serabutan, seperti kembali bertani atau bekerja di proyek, Sunardi menyebut pekerjaan sambilannya sebagai tenaga bangunan.

Tapi, menurutnya, semangat untuk tetap bertahan di bisnis homestay itu selalu ada. Ia dan pengelola lainnya percaya, letak strategis dan potensi wisata yang dimiliki Kampoeng Homestay Desa Wisata Kuta dapat menarik minat wisatawan untuk kembali tinggal, bahkan setelah perhelatan MotoGP selesai digelar.

Sebagai salah satu bentuk keseriusan mereka menjalankan usaha ini, warga Kampoeng Homestay bergerak berupaya meningkatkan kualitas layanan agar para pengunjung merasa lebih betah.

Pada rumah-rumah yang menyewakan kamar di Kampoeng Homestay, umumnya kegiatan tersebut telah berkembang menjadi usaha keluarga secara menahun. Membersihkan kamar, melayani tamu, menyediakan sarapan, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya, dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga.

Lalu Maulidin, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat mengatakan, awalnya, seluruh kegiatan mengurus homestay dilakukan warga secara otodidak, alias tanpa pendidikan atau pelatihan khusus.

Menyadari bahwa kualitas pelayanan menjadi salah satu kunci utama, bekerja sama dengan pihak terkait seperti Dinas Pariwisata setempat, termasuk memanfaatkan kesempatan pelatihan dan sosialisasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, warga kemudian melakukan pelatihan dan pendidikan, termasuk untuk hospitality. Diantaranya memasak dan menyediakan sarapan dengan menu yang disukai tamu bule seperti pancake, serta menyiapkan kamar dengan rapi.

“Walaupun homestay tapi layanan biar standar hotel,” tegas Lalu Maulidin menyuarakan tekad warga Kampoeng Homestay.

Kendala bahasa juga tidak menjadi masalah besar, karena warga cukup bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris yang cukup untuk menyampaikan maksud. Melalui kegiatan sehari-hari bersama tamu mancanegara, pengelola homestay juga bersemangat untuk menambah perbendaharaan kata. Bahkan kegiatan tersebut kadang berkembang seru, karena menjadi kesempatan pertukaran budaya dan bahasa.

Digitalisasi juga sudah lama menyentuh Kampoeng Homestay, termasuk bagi Roy Homestay, yang namanya diambil dari nama anak bungsu pemiliknya.

“Tamu sudah bisa booking online. Jadi tidak cuma tahu dari teman,” ungkap Sunardi. 

tempat wisata di tangerang

Roy Homestay di Booking.com

Tatkala ditanya siapa yang mengurus pemesanan melalui daring tersebut, Sunardi menunjuk putri keduanya. “Anak-anak saya yang urus. Saya nggak ngerti,” jawabnya tertawa.

 

Ah leganya. Rupanya para generasi milenial Kampoeng Homestay tidak hanya bekerja mengelola apa yang ada, melainkan juga membawa usaha keluarga ini setingkat lebih maju melalui kelebihan mereka di bidang teknologi.

Semoga bisnis wisata Mandalika segera kembali berseri. Yuk, kita kunjungi destinasi wisata dalam negeri, agar potensi keindahan nusantara semakin tergali.