Kenduri Sko merupakan salah satu tradisi adat masyarakat Kerinci di Provinsi Jambi yang berkaitan dengan rasa syukur, pelestarian pusaka, serta regenerasi kepemimpinan adat. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena menghubungkan warisan leluhur dengan kehidupan sosial masyarakat saat ini.
Dalam pelaksanaannya, Kenduri Sko mencakup berbagai kegiatan, mulai dari musyawarah adat, pembersihan benda pusaka, pengukuhan pemangku adat, penyampaian pidato adat, hingga makan bersama. Tradisi ini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kesenian dan mempererat hubungan antarkeluarga serta warga.
Apa itu Kenduri Sko?
Kenduri Sko adalah upacara adat masyarakat Kerinci yang secara umum dimaknai sebagai selamatan atas pusaka atau warisan yang ditinggalkan oleh nenek moyang. Dalam bahasa Kerinci, "sko" berarti pusaka, sedangkan "kenduri" merujuk pada kegiatan perjamuan makan, selamatan, atau permohonan berkat.
Pusaka dalam Kenduri Sko tidak hanya berupa benda. Masyarakat Kerinci mengenal pusaka dalam bentuk tanah kaum yang diwariskan secara turun-temurun dan dimanfaatkan untuk pertanian, seperti sawah, perkebunan kopi, dan kayu manis. Pusaka juga dapat berupa benda seperti keris, tombak, pedang, tameng, serta naskah atau benda peninggalan leluhur lainnya.
Selain merawat pusaka, Kenduri Sko berkaitan dengan pengukuhan gelar adat. Pemangku adat yang diangkat dalam tradisi ini antara lain Depati dan Ninik Mamak. Prosesi tersebut biasanya disertai penyampaian pidato adat atau deto talitai yang berisi pesan, nasihat, dan petatah petitih adat.
Tradisi ini juga memiliki fungsi sosial. Kenduri Sko menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul, bersilaturahmi, serta merayakan hasil panen. Pada beberapa wilayah, pelaksanaannya berkaitan dengan masa setelah panen, terutama panen sawah.
Baca juga: Menyelami Keajaiban Kuliner dan Budaya Muaro Jambi
Bagaimana Kriteria Menjadi Pemangku Adat?
Pengangkatan pemangku adat dalam masyarakat Kerinci tidak dilakukan secara sembarangan. Selain mempertimbangkan garis keturunan, penentuan pemangku adat dilakukan melalui musyawarah antara pemangku adat dan masyarakat. Beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan meliputi:
Garis Keturunan
Gelar adat pada umumnya diwariskan berdasarkan garis keturunan dalam keluarga. Dalam struktur adat Kerinci, garis keturunan tersebut umumnya ditelusuri melalui pihak ibu. Faktor ini menjadi salah satu dasar dalam menentukan seseorang yang memiliki hak untuk menyandang gelar adat tertentu.
Akhlak
Calon pemangku adat harus memiliki akhlak dan perilaku yang baik. Ia diharapkan memiliki sikap bijaksana, bertanggung jawab, memiliki jiwa kepemimpinan, serta mampu menjaga hubungan dengan keluarga dan masyarakat.
Pengetahuan Adat
Pemangku adat perlu memahami hukum adat, norma, aturan, serta nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Kerinci. Pengetahuan tersebut diperlukan agar pemangku dapat menjalankan tugasnya sekaligus membantu menjaga keberlangsungan adat.
Peran dalam Masyarakat
Pemangku adat dipilih melalui musyawarah sehingga peran seseorang dalam kehidupan masyarakat turut menjadi pertimbangan. Calon pemangku diharapkan memiliki kontribusi dalam kehidupan sosial, pembangunan masyarakat, maupun penyelesaian persoalan yang berkaitan dengan adat.
Proses Kenduri Sko
Kenduri Sko terdiri atas beberapa tahapan yang saling berkaitan. Tahap pertama adalah musyawarah adat. Dalam pertemuan ini, pemangku adat dan masyarakat membahas waktu pelaksanaan, calon pemimpin adat, serta berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan adat.
Tahap berikutnya adalah Nurun Sko. Pada tahap ini, benda-benda pusaka diturunkan dari tempat penyimpanannya di Umoh Gedang, yaitu rumah adat. Pusaka kemudian dibersihkan menggunakan air limau dan disertai doa serta rangkaian simbol adat. Prosesi ini memiliki aturan tertentu sehingga tidak semua orang dapat terlibat secara langsung.
Setelah itu dilakukan pengukuhan pemimpin adat. Calon Depati atau Ninik Mamak yang telah dipilih melalui musyawarah dilantik dan diberikan gelar adat. Dalam prosesi tersebut, pemangku adat mengenakan pakaian adat berwarna hitam dengan sulaman kuning yang memiliki makna berkaitan dengan kewibawaan dan kesejahteraan masyarakat.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pidato adat. Pemangku adat menyampaikan nasihat dan pesan melalui bahasa adat, termasuk petatah petitih. Setelah itu, pemangku adat yang baru mengucapkan sumpah sebagai bentuk pernyataan kesetiaan dan tanggung jawab kepada adat serta masyarakat.
Rangkaian acara ditutup dengan kenduri atau makan bersama. Hidangan yang telah dipersiapkan oleh masyarakat, khususnya kaum perempuan, disajikan untuk dinikmati bersama sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Kenduri Sko pada prinsipnya dilaksanakan dengan memperhatikan syariat Islam. Nilai yang ditekankan meliputi persatuan masyarakat, penghormatan terhadap warisan budaya, regenerasi kepemimpinan adat, dan rasa syukur kepada Tuhan.
Benda atau Peranti Alat Budaya dalam Kenduri Sko
Pelaksanaan Kenduri Sko menggunakan berbagai benda dan peranti budaya yang memiliki fungsi tertentu. Salah satunya adalah tarup berukuran besar yang didirikan di tanah Mendapo sebagai tempat berlangsungnya kegiatan utama.
Di sekitar lokasi juga dipasang umbul-umbul berwarna-warni yang menandai suasana perayaan. Selain itu, terdapat karamtang, yaitu bendera besar berbentuk segitiga siku-siku yang dipasang di tempat terbuka dengan ketinggian tertentu. Bagian puncaknya menyerupai tanduk kerbau. Karamtang menjadi penanda bahwa Kenduri Sko sedang berlangsung sekaligus menjadi tanda bagi masyarakat untuk menghadiri upacara.
Pakaian adat, keris, dan tongkat digunakan oleh pemangku adat. Keris berkaitan dengan kewenangan pemangku dalam menjalankan hukum adat, sedangkan tongkat dimaknai sebagai simbol penuntun dalam menjalankan kehidupan masyarakat. Para Dayang juga menggunakan pakaian adat yang dikenal sebagai Lita dan Kulok.
Perlengkapan lainnya meliputi pedang Hulubalang untuk keperluan pencak silat, berbagai sajian adat, serta perangkat musik seperti gong, gendang, dan rebana yang digunakan untuk mengiringi kesenian daerah.
Kapan Saja Kenduri Sko Dilaksanakan?
Kenduri Sko umumnya dilaksanakan setiap lima hingga sepuluh tahun sekali. Namun, waktu pelaksanaannya dapat berbeda antara satu wilayah adat dengan wilayah lainnya. Beberapa daerah melaksanakannya lebih sering, termasuk setahun sekali.
Pelaksanaan Kenduri Sko biasanya berkaitan dengan kebutuhan adat, seperti pembersihan dan perawatan pusaka, pengukuhan gelar adat, serta perayaan setelah panen. Pada awal perkembangannya, kegiatan ini juga berkaitan dengan upaya memperkuat kebersamaan masyarakat setelah memperoleh hasil panen.
Cara Melestarikan Tradisi Kenduri Sko
Keberlangsungan Kenduri Sko menghadapi tantangan, terutama perubahan pola pikir generasi muda dan kurang optimalnya pewarisan pengetahuan adat. Jika pengetahuan mengenai makna, aturan, dan tahapan tradisi tidak diteruskan, pemahaman masyarakat terhadap Kenduri Sko dapat semakin berkurang.
Pelestarian dapat dilakukan melalui keterlibatan generasi muda dalam kegiatan adat, dokumentasi proses dan pengetahuan mengenai Kenduri Sko, serta pendidikan tentang nilai-nilai adat di lingkungan keluarga dan masyarakat. Tokoh adat juga memiliki peran penting dalam meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Kesadaran masyarakat untuk mempertahankan tradisi menjadi bagian penting dari proses tersebut. Kenduri Sko bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi juga sarana untuk menjaga hubungan antara masyarakat, warisan leluhur, dan struktur adat yang masih dijalankan hingga kini.
Baca juga: Keunikan Batik Jambi: Motif, Sejarah, dan Maknanya
Mengenal tradisi ini dapat menjadi salah satu cara memahami keragaman budaya yang berkembang di Jambi dan Indonesia. Jika memerlukan rekomendasi, aktivitas, perjalanan, wisata, budaya, tradisi, dan informasi lainnya fitur MAiA siap membantu, atau gunakan fitur Ai Plan Your Trip pada website indonesia.travel untuk merencanakan wisata ke Jambi dan lokasi lainnya.
Referensi:
- https://aksara.kemendikdasmen.go.id/index.php/aksara/article/viewFile/484/301
- https://diskominfo.sungaipenuhkota.go.id/berita/apresiasi-wako-alfin-untuk-kenduri-sko-koto-baru-bukti-cinta-budaya-leluhur
- https://budaya-indonesia.org/Upacara-Kenduri-Sko
- https://www.detik.com/sumbagsel/budaya/d-8297638/mengenal-kenduri-sko-tradisi-khas-masyarakat-kerinci-untuk-rasa-syukur