MaiA ai-icon

Informasi

Bukit Trunyan Bali dan Tradisi di Kaki Gunung Abang

Image Contributor: Nur Ahyani/imageBROKER/Shutterstock

Bukit Trunyan merupakan kawasan perbukitan di sekitar Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Kawasan ini berada di sisi timur Danau Batur, dan dikenal karena bentang alam perbukitan, serta kedekatannya dengan komunitas Bali Aga di Desa Trunyan. Pemerintah Kabupaten Bangli juga menetapkan Trunyan sebagai salah satu desa wisata di Kecamatan Kintamani.

Selain lanskap alam, Trunyan dikenal luas karena tradisi mepasah, yaitu tata cara pemakaman masyarakat setempat yang berbeda dari praktik kremasi atau ngaben yang umum dikenal dalam masyarakat Bali. Tradisi tersebut dilaksanakan di Setra Wayah, salah satu area pemakaman tradisional Desa Trunyan.

Asal-Usul Nama dan Legenda Desa Trunyan

Nama Trunyan berasal dari gabungan kata "taru" yang berarti pohon dan "menyan" yang merujuk pada aroma harum, merujuk pada keberadaan pohon Taru Menyan di kawasan tersebut. Menurut legenda yang berkembang di masyarakat setempat, asal mula desa berkaitan dengan kisah keturunan Raja Surakarta yang mengikuti sumber aroma harum hingga tiba di kawasan tepi Danau Batur.

Dalam versi legenda lain, tokoh yang menikahi Taru Menyan bergelar Ratu Sakti Pancering Jagat dan dipercaya menjadi dewa tertinggi pelindung Desa Trunyan, sementara istrinya bergelar Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar, yang dipercaya melindungi Danau Batur. Legenda ini menjadi dasar kepercayaan masyarakat setempat yang dipuja di Pura Pancering Jagat, pura utama Desa Trunyan.

Masyarakat Bali Aga dan Sistem Sosial

Penduduk Desa Trunyan tergolong kelompok Bali Aga atau Bali Mula, yaitu komunitas yang dipercaya sebagai penduduk asli Pulau Bali dengan garis keturunan yang mendahului masuknya pengaruh Kerajaan Majapahit dan Hindu Jawa. 

Berbeda dengan sebagian besar masyarakat Bali pada umumnya yang mengenal sistem kasta seperti Brahmana atau Ksatria, masyarakat Bali Aga di Trunyan menerapkan struktur sosial yang relatif egaliter, dengan kepemimpinan adat yang ditentukan berdasarkan garis keturunan tertua dari leluhur pendiri desa. 

Pusat kegiatan keagamaan masyarakat Trunyan berada di Pura Pancering Jagat, yang menyimpan sebuah arca batu besar setinggi sekitar empat meter, dikenal dengan sebutan Arca atau Bhatara Da Tonta, dan dipercaya sebagai perwujudan Ratu Sakti Pancering Jagat.

Daya Tarik Bukit Trunyan

Panorama Danau Batur dan Pegunungan

Salah satu karakteristik Bukit Trunyan adalah posisi geografisnya yang berdekatan dengan Danau Batur dan kawasan pegunungan Kintamani. Dari kawasan perbukitan, wisatawan dapat melihat bentang Danau Batur serta pegunungan di sekitarnya. Kondisi geografis tersebut menjadi bagian penting dari karakter lanskap Trunyan.

Bukit Trunyan juga memiliki kawasan lereng dan formasi alam yang menjadi bagian dari jalur pendakian. Aktivitas pendakian umumnya dilakukan dengan pemandu atau penyedia jasa lokal, karena kawasan tersebut memiliki aturan adat dan sejumlah area yang dianggap sakral oleh masyarakat.

Baca juga: Desa Wisata Bali Ditha

Aktivitas Pendakian dan Pengamatan Alam

Aktivitas utama di Bukit Trunyan adalah pendakian untuk mengamati lanskap perbukitan. Jalur pendakian dapat dimulai dari Desa Trunyan, sementara sejumlah operator lokal menyediakan layanan pemandu dan perlengkapan pendakian. Informasi mengenai rute dan ketentuan perjalanan dapat berubah, sehingga wisatawan perlu memperoleh informasi terbaru dari pengelola atau masyarakat setempat sebelum mendaki.

Selain mendaki, kawasan ini dapat digunakan untuk mengamati bentang alam Danau Batur dan lingkungan pegunungan Kintamani. Kegiatan tersebut perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi cuaca, keselamatan jalur, serta ketentuan adat yang berlaku.

Kesenian Barong Brutuk

Selain lanskap alam dan tradisi pemakaman, Desa Trunyan juga memiliki kesenian sakral bernama Barong Brutuk, yang berbeda dari pertunjukan barong pada umumnya di Bali. Kostum penari Barong Brutuk terbuat dari rangkaian daun pisang kering yang telah disucikan, dan pertunjukan ini melambangkan Ratu Sakti Pancering Jagat beserta permaisurinya. 

Barong Brutuk hanya dipentaskan pada upacara Ngusaba di Pura Pancering Jagat, yang menurut sejumlah sumber diadakan setiap dua tahun sekali pada bulan purnama keempat menurut penanggalan Bali. Penarinya terdiri atas sejumlah pemuda desa yang sebelumnya menjalani masa karantina dan penyucian diri di area pura selama beberapa pekan sebelum pementasan.

Lokasi dan Akses Menuju Trunyan

Lokasi di Kecamatan Kintamani

Desa Trunyan berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, di sisi timur Danau Batur. Dokumen tata ruang Kabupaten Bangli mencatat Trunyan sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Kecamatan Kintamani. Desa ini juga termasuk dalam daftar desa wisata Kabupaten Bangli.

Akses menuju Desa Trunyan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan sejumlah destinasi lain di kawasan Kintamani. Salah satu rute yang digunakan adalah melalui Pelabuhan Kedisan, kemudian menyeberangi Danau Batur menggunakan perahu menuju Trunyan. Waktu penyeberangan umumnya sekitar 15–30 menit, bergantung pada kondisi danau dan cuaca.

Karena sebagian akses menggunakan transportasi air, kondisi cuaca dan danau perlu menjadi pertimbangan. Waktu perjalanan, biaya perahu, serta ketersediaan jasa pemandu dapat berbeda, sehingga sebaiknya dikonfirmasi sebelum keberangkatan.

Tradisi Mepasah di Desa Trunyan

Tata Cara Pemakaman Tradisional

Daya tarik budaya utama Trunyan adalah tradisi mepasah di Setra Wayah. Dalam tradisi ini, jenazah tertentu tidak dikuburkan maupun dikremasi, tetapi diletakkan di area pemakaman terbuka di bawah pohon Taru Menyan. Jenazah ditempatkan dalam struktur pelindung berbahan bambu yang dikenal sebagai ancak saji.

Penelitian Universitas Pendidikan Ganesha mencatat bahwa pelaksanaan mepasah melibatkan rangkaian ritual dan perlengkapan adat tertentu. Praktik tersebut tidak berlaku untuk seluruh orang yang meninggal. Kajian mengenai tradisi Trunyan menunjukkan adanya ketentuan adat mengenai siapa yang dapat menjalani prosesi mepasah. Karena itu, anggapan bahwa seluruh jenazah masyarakat Trunyan selalu diletakkan di bawah Taru Menyan tidak sepenuhnya tepat.

Tiga Area Pemakaman Berdasarkan Jenis Kematian

Desa Trunyan memiliki tiga area pemakaman (sema atau setra) yang penggunaannya dibedakan berdasarkan jenis dan penyebab kematian. Setra atau Sema Wayah diperuntukkan bagi warga yang meninggal secara wajar, telah menikah, dan jasadnya dalam kondisi utuh; jenazah pada kelompok ini yang menjalani tata cara mepasah di bawah pohon Taru Menyan. 

Kemudian, Sema Bantas diperuntukkan bagi jenazah yang meninggal secara tidak wajar, seperti akibat kecelakaan, bunuh diri, atau tindak kekerasan, dan jenazahnya dikuburkan, bukan diletakkan secara terbuka. Sema Muda, yang juga disebut Sema Nguda, diperuntukkan bagi bayi, anak-anak, serta warga dewasa yang belum menikah, dan jenazahnya juga dikuburkan dengan cara dikubur ke dalam tanah.

Makna Pohon Taru Menyan

Pohon Taru Menyan merupakan bagian penting dari tradisi tersebut. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, pohon ini berkaitan dengan aroma harum yang dipercaya dapat mengurangi bau dari proses pembusukan jenazah. Nama Trunyan juga dikaitkan dengan istilah taru yang berarti pohon, dan menyan yang merujuk pada aroma harum.

Kajian akademik terbaru melihat mepasah bukan sekadar metode memperlakukan jenazah, tetapi sebagai bagian dari sistem kepercayaan, hubungan manusia dengan alam, serta tata ruang sakral masyarakat Trunyan.

Etika Mengunjungi Kawasan Trunyan

Kawasan pemakaman Trunyan merupakan ruang yang memiliki nilai sakral bagi masyarakat setempat. Oleh karena itu, wisatawan perlu mengenakan pakaian yang sopan, menjaga perilaku, tidak menyentuh benda atau jenazah, dan meminta izin sebelum mengambil gambar di area tertentu. 

Menggunakan pemandu lokal juga dapat membantu pengunjung memahami aturan adat dan konteks tradisi secara lebih tepat. Sejumlah sumber juga mencatat adanya pembatasan bagi perempuan untuk memasuki area pemakaman tertentu, serta ketentuan proses penyucian diri sebelum memasuki kembali area Pura Pancering Jagat setelah berkunjung ke area pemakaman, sebagai bagian dari aturan adat yang berlaku di desa tersebut.

Bukit Trunyan dan Desa Trunyan memperlihatkan hubungan antara lingkungan alam, kehidupan masyarakat Bali Aga, serta tradisi yang diwariskan lintas generasi. Kawasan ini tidak hanya memiliki karakter geografis berupa perbukitan dan Danau Batur, tetapi juga menyimpan sistem budaya yang masih dipraktikkan hingga kini.

Jika Anda ingin menikmati pesona Trunyan dan berbagai destinasi wisata di Bali, manfaatkan AI Plan Your Trip untuk menyusun itinerary sesuai durasi dan preferensi perjalanan. Informasi mengenai lokasi, akses, waktu terbaik berkunjung, hingga rekomendasi destinasi menarik di Bali juga dapat ditanyakan kepada MaiA, sehingga perjalanan Anda di Pulau Dewata semakin nyaman dan berkesan.

 

Referensi:

https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPS/article/view/4179?utm_source=chatgpt.com

https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5317279?utm_source=chatgpt.com

https://jdih.banglikab.go.id/storage/app/uploads/public/59b/742/5a5/59b7425a55f70850517713.pdf?utm_source=chatgpt.com

HAL-HAL TERBAIK YANG BISA DILAKUKAN

JELAJAHI DESTINASI LAIN

INSIGHT

Ide Perjalanan

Rayakan Semarak Hari Pariwisata Sedunia di Bali!

Rayakan Semarak Hari Pariwisata Sedunia di Bali!

Kunjungi 5 Air Terjun Instagrammable ini Untuk Wisata yang Tak Terlupakan di Bali

Kunjungi 5 Air Terjun Instagrammable ini Untuk Wisata yang Tak Terlupakan di Bali

Wisata Kintamani 1 Hari: Itinerary Kintamani untuk Pecinta Alam hingga Slow Travel

Wisata Kintamani 1 Hari: Itinerary Kintamani untuk Pecinta Alam hingga Slow Travel