Apa Itu Museum Mandala Wangsit Siliwangi?
Museum Mandala Wangsit Siliwangi adalah sebuah museum khusus yang berlokasi di Jalan Lembong No. 38, Kota Bandung, Jawa Barat. Museum ini merupakan bagian dari Museum Indonesia yang terdaftar secara resmi dalam Pendaftaran Museum dengan nomor registrasi nasional 32.73.K.02.0229. Museum ini berperan sebagai ruang penyimpanan dan pameran artefak sejarah perjuangan kemerdekaan dan peristiwa penting dalam sejarah militer Indonesia, khususnya terkait dengan Divisi Siliwangi — satuan militer TNI Angkatan Darat yang memiliki peran besar di Jawa Barat dan Banten.
Nama “Mandala Wangsit” sendiri berarti tempat menyimpan amanat, petuah atau nasihat, sedangkan “Siliwangi” diambil dari nama raja legendaris Kerajaan Sunda yang menjadi simbol ketegasan, kebijaksanaan, dan wibawa — nilai-nilai yang ingin diwariskan museum ini kepada generasi mendatang.
Jenis & Tipe Museum
- Jenis Museum: Museum Khusus — fokus pada sejarah militer dan perjuangan Divisi Siliwangi serta kontribusinya terhadap sejarah bangsa Indonesia.
- Tipe Museum: Belum Memenuhi Standar menurut klasifikasi permuseuman nasional, namun koleksinya tetap dianggap bernilai sejarah tinggi dan penting bagi edukasi serta pengetahuan masyarakat.
Sebagai museum khusus, Mandala Wangsit tidak menangani sejarah umum atau seni rupa, tetapi secara fokus menyimpan dan memperlihatkan koleksi yang berkaitan dengan sejarah militer, perjuangan kemerdekaan, serta pengalaman prajurit Divisi Siliwangi.
Sejarah Museum
Museum ini mulai berdiri pada 23 Mei 1966 dan diresmikan oleh Panglima Divisi Siliwangi ke-8, Kolonel Ibrahim Adjie. Gedung museum sendiri memiliki sejarah panjang, awalnya dibangun sekitar 1910–1915 sebagai bangunan perwira militer Belanda dan kemudian difungsikan sebagai markas Divisi Siliwangi setelah kemerdekaan Indonesia.
Bangunan ini sempat mengalami rehabilitasi dan penataan kembali pada tahun 1979, dengan gedung baru dua lantai yang kemudian diresmikan kembali pada 10 November 1980 oleh Panglima Kodam III/Siliwangi ke-15, Mayjen Yoga Sugama, dengan prasasti yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto.
Museum ini dibuat dengan tujuan untuk mewariskan semangat perjuangan dan nilai nasionalisme dari Divisi Siliwangi serta rakyat Jawa Barat kepada generasi berikutnya melalui koleksi dan narasi sejarah yang dipajang secara kronologis.
Pengelola Museum
Museum Mandala Wangsit Siliwangi dimiliki oleh TNI Angkatan Darat dan secara operasional dikelola oleh Kodam III/Siliwangi, sebagai bagian dari unit sejarah dan permuseuman di lingkungan militer.
Koleksi dan kegiatan museum didukung oleh institusi terkait untuk menjaga relevansi narasi sejarah serta kesinambungan pelestarian artefak perang, seragam, dokumentasi dan benda-benda bersejarah lainnya.
Koleksi Museum
Museum Mandala Wangsit Siliwangi menyimpan dan memamerkan ratusan koleksi artefak bersejarah yang memiliki nilai penting dalam konteks perjuangan bangsa Indonesia, di antaranya:
- Peralatan dan senjata tradisional serta modern, seperti bambu runcing, tombak, keris, golok, senapan, pistol dan peralatan perang lainnya.
- Seragam militer dan atribut Divisi Siliwangi serta dokumentasi foto pertempuran dan momen-momen penting sejarah perjuangan.
- Diorama, peta operasi, dokumentasi foto kekejaman pemberontakan DI/TII, APRA, dan berbagai peristiwa lain yang menggambarkan perjuangan di Jawa Barat.
Beberapa koleksi juga mencakup uang kertas dan koin era kolonial, serta artefak yang menjelaskan perjalanan sejarah rakyat dan militer Indonesia secara lebih luas.
Visi dan Misi Museum
Walaupun data resmi mengenai visi dan misi spesifik belum dicantumkan dalam data pendaftaran nasional, secara fungsional Museum Mandala Wangsit berperan sebagai:
- Tempat pelestarian artefak sejarah perjuangan militer dan nasionalisme Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat.
- Media edukasi sejarah bagi pengunjung, terutama generasi muda, agar dapat memahami nilai-nilai keberanian, pengorbanan, dan nasionalisme yang diwariskan oleh para pahlawan.
- Ruang refleksi dan apresiasi terhadap jasa prajurit serta pengalaman sejarah bangsa, melalui tampilan koleksi kronologis dan narasi visual.