Museum Daerah Kabupaten Tulungagung: Jejak Budaya & Sejarah Wajakensis
Museum Daerah Kabupaten Tulungagung, yang juga dikenal sebagai Museum Wajakensis, merupakan bagian dari Museum Indonesia dan telah terdaftar secara resmi dalam Pendaftaran Museum nasional dengan nomor 35.04.K.04.0153. Museum ini berfungsi sebagai pusat pelestarian koleksi museum yang berkaitan dengan sejarah, arkeologi, serta budaya masyarakat Tulungagung dan wilayah sekitarnya di Jawa Timur.
Museum ini menjadi salah satu lokasi edukatif penting yang menyajikan artefak budaya dan sejarah yang ditemukan di sejumlah situs cagar budaya di kawasan Tulungagung, khususnya yang berkaitan dengan jejak manusia purba dan peradaban awal di daerah tersebut.
๐ Apa Itu Museum Daerah Kabupaten Tulungagung?
Museum Daerah Kabupaten Tulungagung adalah museum umum yang didirikan untuk mengumpulkan, merawat, dan memamerkan berbagai koleksi artefak yang mencerminkan perjalanan sejarah dan kebudayaan lokal. Koleksi museum termasuk benda-benda arkeologika dan etnografika, seperti arca, prasasti, replika Homo Wajakensis, serta alat-alat tradisional yang menunjukkan kehidupan masyarakat masa lampau.
๐งพ Jenis & Tipe Museum
Menurut data resmi dari Kementerian Kebudayaan RI, Museum Daerah Kabupaten Tulungagung diklasifikasikan sebagai:
- Jenis Museum: Museum Umum — museum yang menyajikan sejumlah koleksi dari berbagai aspek sejarah dan budaya masyarakat.
- Tipe Museum: Tipe C — menandakan museum ini memiliki peran edukatif dan dokumentatif penting pada level regional dan nasional.
Sebagai museum umum, tempat ini memfasilitasi pembelajaran lintas tema sejarah, arkeologi, serta budaya tradisional yang mencerminkan peradaban lokal dan hubungan antarwilayah di Indonesia.
๐ฅ Pengelola & Kepemilikan Museum
Museum ini dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Tulungagung dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung sebagai lembaga yang menangani pelestarian budaya, penyusunan pameran, serta penyelenggaraan kegiatan edukatif untuk masyarakat umum dan pelajar.
๐ฐ๏ธ Sejarah Museum
Museum Daerah Kabupaten Tulungagung awalnya muncul dari kebutuhan untuk menampung artefak budaya yang ditemukan di berbagai situs di Tulungagung. Pada akhir tahun 1996, benda-benda bersejarah yang sebelumnya disimpan di ruang kaca Pendopo Kongas Arum Tulungagung dipindahkan ke gedung museum yang baru dibangun. Nama “Wajakensis” diambil dari temuan fosil Homo Wajakensis, manusia purba yang ditemukan di wilayah Tulungagung Selatan dan menjadi salah satu ikon museum.
Sejak itu, museum berkembang menjadi pusat pelestarian budaya dan sejarah yang memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh tentang masa lalu wilayah Tulungagung serta artefak-artefak yang ditemukan di sana.
๐๏ธ Koleksi Museum
Museum Daerah Kabupaten Tulungagung menyimpan sejumlah koleksi penting yang mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya lokal:
- Arkeologika: arca, batu candi, prasasti, dan replika Homo Wajakensis yang menjadi ikon museum.
- Etnografika: barang-barang tradisional seperti alat pertanian kuno dan alat keseharian masyarakat lokal.
- Artefak lain: benda-benda yang ditemui di situs-situs cagar budaya di Tulungagung.
Koleksi ini memberikan gambaran tentang kebudayaan dan kehidupan masa lampau serta evolusi masyarakat yang pernah hidup di kawasan tersebut.
๐ฏ Visi Museum
Visi dari Museum Daerah Kabupaten Tulungagung adalah mewujudkan pelestarian serta pemanfaatan benda warisan sejarah, prasejarah, dan budaya sebagai media pendidikan yang edukatif dan rekreatif untuk memperkokoh martabat bangsa.
๐ Misi Museum
Untuk mencapai visinya, museum memiliki sejumlah misi strategis, antara lain:
- Menjadikan museum sebagai sarana edukasi, pusat informasi, pengembangan ilmu, dan pariwisata.
- Menyelamatkan benda warisan sejarah dan prasejarah dari kepunahan untuk memperkuat jati diri bangsa.
- Memamerkan koleksi dengan nuansa edukatif dan memberikan informasi yang akurat.
- Menyediakan sarana dan prasarana bagi pengembangan pembelajaran ilmu sejarah dan kebudayaan secara umum.
Misi ini menjadikan museum tidak hanya sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran aktif bagi masyarakat dan generasi muda.