Museum Kebon Pasinaon Living Museum adalah sebuah museum hidup/living museum yang terletak di Dusun Glagah, Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Museum ini merupakan ruang edukasi dan pengalaman interaktif yang menyajikan kehidupan tradisional masyarakat desa secara nyata, bukan sekadar koleksi artefak statis. Museum ini menampilkan budaya hidup dan tradisi lokal yang masih dijalankan oleh masyarakat setempat hingga kini.
Sebagai museum hidup atau living museum, pengunjung tidak sekadar melihat objek sejarah, tetapi juga mengalami langsung kegiatan tradisional, seperti bercocok tanam, membuat jamu tradisional, menulis geguritan (puisi Jawa), serta terlibat dalam aktivitas keseharian masyarakat desa yang masih lestari.
Jenis dan Pengelola Museum
Museum Kebon Pasinaon Living Museum diklasifikasikan sebagai museum khusus yang memiliki fokus pada pelestarian budaya hidup dan tradisi masyarakat desa, serta pengembangan wawasan budaya yang bersifat experiential atau pengalaman langsung.
Berbeda dengan museum umum yang menampilkan artefak di ruang kaca, living museum ini menyajikan kebudayaan dalam forma hidupnya, pengunjung dapat merasakan, menyentuh, dan bahkan melakukan aktivitas yang merepresentasikan kehidupan masa lalu dan tradisi lokal masyarakat Dusun Glagah.
Museum Kebon Pasinaon Living Museum dimiliki oleh Dra. Ida Fitri Lusiana (Yayasan Kebon Pasinaon Living Museum) dan dikelola oleh Gian Giartha selaku pengelola yang bertanggung jawab atas operasional museum, program edukatif, serta interaksi langsung dengan komunitas lokal.
Dalam pengelolaannya, museum bekerja sama dengan masyarakat Dusun Glagah dan sekitarnya sebagai pewaris tradisi dan budaya hidup. Hal ini membuat museum menjadi ruang kolaboratif antara pengunjung, pengelola, dan komunitas lokal untuk saling belajar dan menjaga nilai budaya yang masih berlangsung hingga kini.
Sejarah Museum Kebon Pasinaon Living Museum
Asal mula Museum Kebon Pasinaon Living Museum berawal dari sebuah ruang literasi di Dusun Glagah yang dikenal sebagai Kebon Pasinaon, istilah Jawa yang berarti “taman belajar” atau garden of learning. Ruang ini pada awalnya dikembangkan sebagai tempat belajar berbagai kegiatan kreatif dan edukatif, termasuk literasi budaya dan seni yang melibatkan masyarakat dari berbagai usia.
Namun, pada 2011, bencana banjir lahar dingin Gunung Merapi melanda kawasan ini, menghancurkan banyak fasilitas yang sudah dibangun. Meski demikian, semangat para pengelola dan masyarakat tidak padam. Mereka terus membangun kembali dan mengembangkan konsep museum hidup yang kini menjadi Museum Kebon Pasinaon Living Museum, ruang di mana pengunjung dapat mengalami sejarah dan budaya secara langsung melalui praktik kehidupan masyarakat desa.
Visi Museum Kebon Pasinaon Living Museum
Visi Museum Kebon Pasinaon Living Museum adalah menjadi Tourism Culture Centrum of Experiential Learning di Indonesia, menjadi parameter perkembangan museum hidup dan kebudayaan di Indonesia, serta menjadi wadah bagi pelaku dan penggiat pariwisata dan kebudayaan dunia sebagai bentuk cinta tanah air dan bangsa.
Misi Museum Kebon Pasinaon Living Museum
Untuk mewujudkan visinya, Museum Kebon Pasinaon Living Museum memiliki beberapa misi utama:
- Memperkenalkan, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan Nusantara, terutama praktik kehidupan desa yang lestari.
- Mengembangkan pariwisata melalui program budaya yang interaktif dan edukatif.
- Turut memperkuat rasa kebangsaan dan cinta Nusantara melalui pengalaman langsung budaya lokal.
- Mengembangkan potensi masyarakat pelaku dan pelestari kesenian dan kebudayaan sebagai bagian dari pemberdayaan komunitas.
Peran Museum dalam Edukasi dan Pariwisata
Museum Kebon Pasinaon Living Museum memainkan peran penting dalam edukasi budaya dan pengalaman hidup nyata. Pengunjung dapat belajar tentang lingkungan hidup, tradisi pertanian, keterampilan pembuatan jamu tradisional, seni pertunjukan, hingga kehidupan sehari-hari yang mencerminkan keluhuran nilai budaya masyarakat desa.
Sebagai museum hidup pertama di Jawa Tengah, museum ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang menarik, terutama bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, dan wisatawan yang ingin memahami budaya lokal secara langsung dan interaktif