trip detail

Sulawesi Selatan Tiada Duanya
Last modified 3 December 2009
Number of Days:
6 days
Date:
13 August 2009 to 18 August 2009
Budget:
Rp. 1,500,000.00
Tags:
Toraja,Bira,Makassar,Bantimurung,South Sulawesi,Sulawesi Selatan
Language:
Indonesia

destination

Day 1 to Day 2
Kota Makassar
Umumnya, anda akan tiba di Makassar pada malam hari kalau dari Jakarta, usahakan langsung menuju pusat kota untuk check in di hotel pilihan anda. Banyak pilihan hotel murah meriah hingga berbintang di sepanjang Pantai Losari dan pusat kota. Sempatkan berburu makan malam seafood lezat di sekitar hotel namun anda harus segera beristirahat sebab 5 hari ke depan, aktifitas akan sangat padat. Bangun sepagi mungkin untuk sarapan. Kalau hotel anda tidak menyediakan sarapan, berjalanlah keluar dari hotel dan temukan berbagai warung yang menjual menu sarapan. Bubur Tinutuan yang khas Manado pun ternyata banyak dijual disini. Setelah sarapan, berjalanlah untuk menikmati pagi hari di Pantai Losari. Nikmati perahu yang hilir mudik serta kehidupan masyarakat sekitar yang asyik memancing atau menikmati panorama pantai. Setelah puas, berjalanlah atau naik becaklah ke arah utara hingga bertemu Fort Rotterdam yang bernuansa merah. Benteng ini pernah menjadi basis pertahanan Belanda dalam melawan serangan Sultan Hasanuddin dari Gowa-Tallo pada masa itu. Kini, benteng ini dijadikan areal museum dan pementasan karya seni. Kalau anda kurang beruntung karena tidak bertemu jadwal pementasan, berfotolah di sekitar benteng demi mencari angle unik. Seusai bermain di benteng, menyebranglah untuk menikmati pemandangan di Pelabuhan Pulau Kahyangan. Anda akan ditawari untuk menyebrang ke pulau tersebut. Namun mengingat waktu yang tipis, sebaiknya anda menolak tawaran tersebut dengan halus. Waktu menjadi sempit karena tujuan berikutnya adalah Bantimurung.
Day 2 to Day 2
Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung
Jarak Makassar-Bantimurung sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Namun waktu tempuh akan memanjang begitu anda menaiki kendaraan umum. Dari Makassar, anda harus naik angkutan umum asal Sentral (MTC) menuju Terminal Daya. Dari Terminal Daya, cari angkot yang menuju Pangkajene dan minta untuk turun di Pasar Maros. Dari Pasar Maros, naik angkot sekali lagi yang bertujuan langsung Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Taman Nasional ini terkenal akan keragaman spesies hayati terutama kupu-kupu. Pada musim tertentu, anda bisa menjumpai ragam warna dan bentuk kupu-kupu beterbangan kesana kemari di sekitar anda. Unik dan tiada duanya. Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung juga terkenal akan air terjunnya yang berbentuk unik dan sisa kehidupan prasejarah dalam bentuk lukisan di gua baik gua Mimpi maupun Leang-Leang (di luar dari area taman nasional). Kendatipun anda tidak tertarik, taman ini umum dijadikan tempat berwisata oleh para warga sekitar baik untuk bersantai, berenang, dan bertamasya. Taman Nasional ini terletak di perbukitan Karst yang membentang di sepanjang Maros dan Pangkajene. Udaranya cukup sejuk walaupun tidak terlalu dingin.Puas bermain air, melihat gua dan mengamati kupu-kupu, anda harus kembali ke Kota Makassar dengan rute yang sama. Namun, perjalanan pulang menjadi lebih singkat karena anda tidak harus mencapai pusat kota. Bus yang menuju Toraja rata-rata berada di pinggiran kota. Naik angkot dari Bantimurung menuju Pasar Maros. Dari pasar Maros, cari angkot yang mencapai Terminal Daya. Umumnya bua luar kota berada di sekitar Terminal Daya.
Day 3 to Day 4
Tana Toraja
Perjalanan menuju Rantepao, Ibukota Tana Toraja Utara dimulai pada malam hari pukul 10. Jadi, ini adalah saat yang baik untuk tidur di perjalanan. Anda akan tiba di Toraja sekitar pukul 6 esok pagi karena perjalanan 310 KM akan membutuhkan waktu sekitar 8 jam karena jalur yang berkelok-kelok naik turun. Kalau anda nggak mau beli oleh-oleh, anda bisa mengabaikan beberapa perhentian yang diadakan oleh bus ini. Pagi-pagi, anda akan tiba di Tana Toraja. Banyak objek menarik di Toraja yang tersebar diantara Kota Makale dan Rantepao, dua kota utama di Toraja. Apabila anda baru pertama kali ke Toraja, maka tempat-tempat yang disarankan adalah Kambira, Makula, Lemo, Ti’ilanga, Londa, Ke’te Ke’su dan Buntu Pune. Hampir semua objek tersebut adalah kompleks pekuburan. Kambira, misalnya adalah pohon tempat meletakkan jenasah bayi. Lemo dan Londa adalah kompleks pemakaman yang terletak di dinding batu cadas tebing. Kedua jenis pemakanan ini memiliki patung Tau-Tau yang diletakkan di dinding. Ke’te Ke’su dan Buntu Pune lebih terkenal karena deretan rumah adat Tongkonan yang berjejer rapih sehingga membentuk latar foto yang menarik. Walau demikian, kedua lokasi ini sama-sama memiliki kompleks pekuburan yang kurang lebih sama mirip dengan Lemo dan Londa, yakni dengan Tau-Tau di dinding batu, Erong atau kubur batu dan gua yang berisi tulang belulang manusia. Sementara itu, Makula dan Ti’ilanga adalah kolam pemandian. Bedanya, Makula adalah kolam pemandian air hangat sementara itu Ti’ilanga adalah kolam air dingin. Di Ti’ilanga hidup seekor Masapi (belut) raksasa yang konon dapat mengabulkan permintaan. Uniknya, Masapi ini harus dipancing dengan telur rebus oleh anak-anak agar mau keluar. Pemandangan alam Toraja yang bergunung-gunung membuat setiap sudut tempat ini cantik dan menawan. Karena letaknya yang cukup tinggi, suhu di tempat ini bisa menjadi sangat dingin dan berkabut. Gunakan baju hangat anda. Tidur di Tana Toraja bukan maslaah besar. Walaupun aksesnya cukup sulit karena harus menempuh perjalanan panjang, namun toraja adalah daerah tujuan wisata yang cukup maju. Banyak pilihan hotel murah meriah hingga hotel mewah berbintang di tempat ini. Tinggal pilih saja. Selain hotel, rumah makan dan toko souvenir mudah ditemukan disana sini. Esok harinya adalah saat dimana kita harus pulang kembali ke Makassar. Ada alasan mengapa saya melakukan perjalanan ini pada siang hari. Tentu, saya ingin melihat panorama pemandangan jalur yang saya lintasi pada daat siang hari. Memang, ketika pulang, kita akan melihat daerah pinggiran Toraja yang tidak kalah cantik dari dua kota utamanya, perkebunan kopi Kalosi, Taman Nasional Bamba Puang tempat Gunung Buntu Kabbobong atau yang dikenal sebagai Gunung Nona karena bentuknya memang menyerupai (maaf) alat kemaluannya nona. Selain pemandangan gunung, kita juga bisa melihat deretan sawah menguning dan pantai di sepanjang kota-kota pinggir laut. Sesampainya di Toraja pada pukul 6 sore (berangkat pukul 8 pagi), segera makan malam di pusat kota dan beristirahat kembali karena besok Tanjung Bira sudah menanti.
Day 5 to Day 6
Tanjung Bira
Tanjung Bira adalah pantai berpasir putih yang pamornya sedang naik karena kekhasan kualitas pasirnya. Pasir di tempat ini laksana tepung dan tidak sama seperti pantai di tempat lain. Perjalanan menuju tempat ini sekitar 5 jam waktu tempuh. Perjalanan pagi dimulai dari Terminal Mellengkeri di selatan Makassar. Dari terminal, kita harus naik Kijang tujuan Bulukumba, Berru atau Bira. Akan lebih baik kalau anda naik yang langsung tujuan Bira sehingga anda tidak kerepotan berganti kendaraan. Namun, kendaraan menuju bira tampaknya agak sukar ditemui. Perjalanan siang itu dimulai pada pukul 9 pagi dan berakhir pada pukul 2 di Bulukumba. Masih 40 KM lagi menuju Tanjung Bira. Carilah angkot menuju Tanjung Bira atau setidaknya Tana Berru. Kalau memungkinkan untuk sampai di Tana Berru, anda bisa menyaksikan perahu-perahu buatan tangan yang disandarkan di pinggir pantai, baik yang sudah jadi atau belum. Nah, 15 KM lagi kita akan mencapai Tanjung Bira. Kompleks Tanjung Bira menyerupai suasana di Bali hanya saja dalam versi lebih kecil. Deretan bungalow memadati area sekitar pantai yang masih asri. Aneka bugalow murah hingga berharga lumayan bisa ditemukan di sekitar pantai. Pantainya sendiri tidak terlalu lebar namun memang bersih, pasirnya unik seperti tepung dan dipenuhi oleh hewan-hewan laut yang sangat eksotis. Beberapa kapal berlayar di sekitar pantai untuk menangkap ikan atau mengantar tamu ke Pulau Kambing (Pulau Lihukan) untuk snorkeling. Inilah saatnya anda harus bersantai karena tempat ini sudah cukup jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Waktu terasa berjalan lambat sekali di tempat ini. Menjelang malam, aktifitas mulai melambat dan yang masih ramai hanyalah segerombolan turis yang bersantai dan berjalan di sekeliling pantai atau menikmati udara malam. Disini, saya melihat bintang di langit bagaikan beras di tempat ayakan. Bertaburan dimana-mana. Cantik sekali. Esok harinya adalah hari terakhir kita di Sulawesi Selatan. Mempertimbangkan 5 jam waktu tempuh untuk mencapai Makassar, sebaiknya kita bergeas dari pagi. Pagi hari ada kendaraan yang menunggu untuk membawa turis-turis kembali ke Makassar. Kalau tidak ada, tanyakan kepada penginapan tempat anda menginap, umumnya mereka memiliki kendaraan sendiri atau kerjasama dengan kijang-kijang tertentu. Perjalanan 5 jam tersebut berhenti di satu titik, umumnya di Bantaeng atau Jeneponto. Perhentian ini dimaksudkan untuk meregangkan tubuh dan makan siang. Sekitar pukul 2 siang, sampailah kita di Makassarr. Jangan lewatkan Museum Balla Lompoa yang terletak dekat dengan Terminal Mellengkeri. Museum ini menyajikan kekayaan budaya Gowa, Bugis dan Makassar pada masa silam. Tidak bisa berlama-lama, sebaiknya anda segera mengemasi barang-barang anda untuk kembali ke arah utara, mencapai airport sebab airport cukup jauh dari pusat kota. Selesailah sudah perjalanan 6 hari mencicipi rasa Sulawesi Selatan yang unik dan autentik serta tiada duanya. Waktu 6 hari memang sangat sedikit untuk bisa mencicipi keseluruhan rasa Sulawesi Selatan.

trip journal

Day 1
Makassar terkenal akan hasil seafoodnya, terutama kepiting! Waktu paling pas untuk mencicipi seafood di Makassar adalah pada malam hari. Kalau anda sampai di Makassar pada malam hari, sambangilah pusat kota yang menjual aneka seafood. Satu tempat yang mungkin boleh direkomendasikan adalah Restoran Kepiting Surya di jalan Nusa Kambangan.

comment