Visit Indonesia latest story RSS http://www.indonesia.travel/id/news/ Latest story about Indonesian Tourism English Bono http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/334/bono <p style="text-align: justify;">Celingak-celinguk saya mengedarkan pandangan pada suasana bandara Sutan Syarif Kasim II di Pekanbaru pagi itu. Tidak terlihat satupun penumpang yang membawa papan selancar. Sangat berbeda disbanding saat saya mendarat di Padang atau Kupang yang memang merupakan tempat transit peselancar yang akan meneruskan perjalanan ke Mentawai atau Rote.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kembali teringat dengan beberapa pertanyaan yang sering saya terima, baik di sosial media maupun secara langsung.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Sudah pernah ke Riau, Kak, ada ombak Bono di sungai.&rdquo;</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Kalau surfing di sungai itu sudah pernah, kak &rdquo;</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Ada ombak namanya Bono, lho, sudah tau, Mba &rdquo;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Mereka semua sudah tahu atau paling tidak pernah mendengar tentang fenomena alam yang memang luar biasa ini. Selancar di sungai. Padahal lazimnya selancar itu dilakukan di laut. Tapi rupanya belum sebanyak itu peselancar yang mencobanya. Meskipun Bono sudah menjadi salah satu tujuan wisata selancar impian bagi para peselancar saat ini.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tidak lama kemudian saya sudah berada di atas perahu, membelah sungai Kampar. Rescue boat yang saya tumpangi bergerak cepat meninggalkan Pangkalan Kerinci yang terletak tepat di bawah jembatan Kerinci, di kota Palalawan, sekitar satu setengah jam dari Pekanbaru. Angin pagi yang dingin menerpa wajah dan memberikan rasa dingin di sekujur tubuh. Untung saya sudah mempersiapkan <em>windbreaker.</em></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Perjalanan sekitar 3 jam membelah sungai Kampar yang tenang terasa sangat menyenangkan. Pada kedua sisinya bergantian pepohonan dan alang-alang diselingi beberapa rumah panggung warga, melaju kebelakang seiring kecepatan <em>boat </em>meninggalkannya. Matahari perlahan meninggi, memberikan sedikit kehangatan di tengah dinginnya pagi itu. Sesekali saya melihat biawak yang batal menyebrang karena terhalang <em>boat</em> kami.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Terdapat dua cara untuk mencapai Teluk Meranti, pemberhentian terakhir kami sebelum berselancar di ombak Bono ini. Cara pertama seperti yang saya alami, melalui sungai, dan yang kedua melalui jalan darat selama kurang lebih 5 hingga 6 jam, Namun yang perlu diperhatikan, akses jalan tidak terlalu bagus sehingga perlu kendaraan gardang anda untuk melaluinya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Teluk Meranti sendiri terus berkembang melengkapi dirinya seiring naiknya popularitasnya. Sudah ada penginapan yang biasa disambangi oleh para peselancar, berhadapan dengan warung nasi yang selalu ramai saat makan siang tiba, Para peselancar local berkumpul di depan penginapannya, bersiap untuk menyambut Bono yang akan dating siang ini. Waktu kedatangan Bono berubah sesuai jam pasang air laut.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Bono memang sebutan untuk ombak yang secara teratur mengampiri sungai Kampar. Dahulu para orang tua di desa Teluk Meranti mempercayai bahwa suara keras yang ditimbulkan oleh ombak Bono berasal dari kuda-kuda yang berlari kencang, siap menghantam perahu sial yang terjebak masih berada di tengah sungai saat mereka menghampiri, Dari cerita ini jugalah istilah Bakudo dipakai, Bakudo sendiri artinya berselancar menunggangi kuda, dalam hal ini para penduduk setempat meluncur di depan ombak Bono menggunakan perahu kayu mereka. Bakudo sudah mereka lakukan jauh sebelum kunjungan peselancar pertama memasuki desa mereka.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Bono sendiri berarti &lsquo;benar&rsquo;, dan terjadi karena <em>tidal bore</em>, yaitu bertambahnya volume air yang sangat besar disebabkan oleh kejadian air pasang di laut. Bentuk muara sungai Kampar yang sangat luas dan kemudian perlahan menyempit, membuat tenaga dorongan air semakin besar. Kondisi ini didukung pula oleh kontur dasar sungai yang mempunyai dangkalan di beberapa tempat, sehingga menimbulkan jalur ombak yang dapat di pakai berselancar.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Pada waktu bulan baru dan bulan purnama, dimana gravitasi&nbsp; bulan lebih besar mempengaruhi pasang surut, saat itu pulalah ombak Bono lebih tinggi. Musim hujan juga berpengaruh terhadap debit air sungai. Semakin luas permukaannya semakin banyak pula volume air yang terdorong, semakin tinggi ombak.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Saya memincingkan mata berusaha melihat di kejauhan saat <em>rescue boat</em> kami membelah permukaan air yang tenang. <em>Rescue boat</em><em> </em>adalah alat transportasi wajib apabila surfer hendak mencadi ombak bono yang cukup tinggi. Hanya <em>rescue boat</em><em> </em>lah yang bias dengan leluasa menerjang ombak saat akan menyelamatkan peselancar yang terjatuh di tengah Bono.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Itu, Kak, Bono-nya sudah kelihatan.&rdquo;</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Mana Yang putih-putih itu bukannya pantai pasir &rdquo; Saya melihat hamparan luar berwarna putih di kejauhan. Mirip dengan hamparan pasir putih.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Bukan, itu ombak.&rdquo; Vicky si peselancar wanita setempat yang menemani saya ketika itu ikut memincingkan mata. Senyum mengembang dari bibirnya. Jujur saya merasa sedikit tegang saat itu. Ternyata bentangan berwarna putih yang menutup seluruh lebar sungai di depan adalah ombak!</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Perlahan saya bias melihat bentuknya semakin jelas. Ternyata kami menyongsong ombak yang sangat panjang. Ombak dengan permukaan yang sangat mulus berwarna coklat susu, memecah perlahan seakan memanggil peselancar untuk menungganginya. Saya langsung jatuh hati melihat bentuknya yang sempurna.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Siap-siap lompat, Mba.&rdquo; Edy salah seorang peselancar setempat member komando. Memang hanya seperti inilah cara seorang peselancar memulai sesi berselancarnya. Tanpa banyak berpikir saya pun melompat dari rescue boat, menyongsong ombak Bono setinggi dua meter yang seketika langsung mendorong papan selancar saya.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1416474583.jpg" alt="" width="1402" height="875" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Wow, alangkah luar biasa rasanya. Ombak di bawah kaki saya mengalun lembut, melaju cukup perlahan memberikan saya waktu untuk berpikir gerakan apa saja yang ingin saya lakukan saat menungganginya. Semilir angin meniup rambut dan membelai wajah. Pepohonan di kiri dan kanan sungai terlihat jelas meskipun berjarak cukup jauh.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1416474474.jpg" alt="" width="1366" height="984" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kalau berselancar di laut, seorang surfer bias berdiri di atas ombak paling hanya sekitar 40 detik saja, Bono memberikan kesempatan seorang surfer untuk berdiri hingga dua jam lamanya. Ombak yang menempuh perjalanan sepanjang kurang lebih 40 kilometer ini memberikan sensasi yang sulit ditandingi oleh ombak manapun.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1416474725.jpg" alt="" width="1382" height="815" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Para peselancar setempat menunggu di titik aman tertentu, dimana mereka masih bias mencegat ombak yang dating dengan cukup aman karena mereka masih mengandalkan perahu kayu sebagai transportasi. Berselancar beramai-ramai seperti ini baru sekali saya alami. Semua tertawa dan berbagi ombak dengan cerianya.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1416474822.jpg" alt="" width="1916" height="1077" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tidak membutuhkan waktu lama untuk saya merasa capai. Kaki terasa pegal dan napas terengah-engah. Saya tidak akan kuat menunggangi ombak ini hingga dua jam lamanya. Tapi yang pasti saat itu saya merasa bahagia luar biasa.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> Candi Cangkuang: Candi Hindu yang Berhasil Dipugar di Jawa Barat http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/333/candi-cangkuang-candi-hindu-yang-berhasil-dipugar-di-jawa-barat <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1413112134.jpg" alt="" width="596" height="398" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Candi ini terletak di <strong>Kampung Pulo</strong> Desa Cangkuang Kecamatan Leles Kabupaten Garut, Jawa Barat. Lokasinya berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut dengan dikelilingi empat gunung, yaitu: Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur. Kampung Pulo Desa Cangkuang ini terletak di sebelah utara Kabupaten Garut, tepatnya 17 km dari Kota Garut atau 46 km &nbsp;dari Kabupaten Bandung. Untuk mencapainya Anda dapat menggunakan jasa delman atau ojeg. Akses jalan dapat dilalui kendaaran bahkan bus hingga di depan pintu masuk Candi Cangkuang.</p> <p style="text-align: justify;" align="center">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Lokasi Candi Cangkuang berada di sebuah pulau kecil&nbsp; dimana sekarang dijadikan kawasan cagar budaya. Untuk mencapainya Anda harus menyebrangi danau sekira 500 meter dengan rakit (sampan) yang terbuat dari bambu. Isi rakit biasanya maksimal 20 orang&nbsp; dengan ongkos tarif Rp3.000,- per orang atau Rp50.000,- per&nbsp; rakit.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1413112219.jpg" alt="" width="598" height="401" /></p> <p style="text-align: justify;">Nama Candi Cangkuang sendiri diambil dari nama desa di pulau kecil tersebut, yakni Desa Cangkuang. Kata Cangkuang sendiri berasal dari nama tanaman sejenis <strong>pandan</strong> (<em>Pandanus Furcatus</em>) yang banyak terdapat di sekitarnya. Oleh karena itu, desa tersebut dinamakan Desa Cangkuang.&nbsp; Biasanya daun cangkuang dimanfaatkan untuk membuat tikar, tudung atau pembungkus.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Candi Cangkuang merupakan peninggalan agama Hindu di Jawa Barat yang diperkirakan dariabad VIII. Hal ini didasarkan pada beberapa fakta terutama dari kesederhanaan bentuk candi yang polos tanpa relief dan dari tingkat kelapukan batunya. Sejarah Candi Cangkuang diawali dari sebuah penemuan orang Belanda bernama <strong>Vorderman</strong>. Ia kemudian mencatatnya dalam sebuah buku yaitu &ldquo;<em>Notulen Bataviach Genoot Schap</em>&rdquo;. Dalam notulennya yang ditulis pada tahun 1893 itu, Vonderman menyebutnya bahwa di bukit tersebut telah ditemukan sebuah makam kuno dan sebuah arca siwa yang telah rusak.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1413112254.jpg" alt="" width="597" height="395" /></p> <p style="text-align: justify;">Berikutnya pada 9 Desember 1966 sebuah penelitian yang dipimpin ahli purbakala, <strong>Drs. Uka Tjandrasasmita dan Prof. Harsoyo</strong> menemukan kembali sebuah candi (Candi Cangkuang) yang telah lama terpendam. Sejak tahun 1967 hingga 1968 para ahli tersebut mengadakan penelitian yang lebih besar. Penemuan pertama hanya menemukan sebuah makam kuno yang diyakini sebagai&nbsp; makam &nbsp;Embah Dalem Arief Muhammad sebagai seorang pendiri desa tersebut. Disamping makam kuno ini ditemukan sebuah pondasi berukuran 4,5 x 4,5 meter dengan batu-batu berserakan di sampingnya, setelah diteliti batu-batu itu bongkahan dari sebuah candi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tahun 1974 hingga 1976 diadakan penggalian, pemugaran dan proses rekontruksi total. Proses rekontruksi ini berhasil dengan terbentuknya kaki candi, badan candi, atap candi, dan sebuah patung Dewa Siwa. Akhirnya proses pemugaran pun selesai dan Candi Cangkuang diresmikan pada 8 Desember 1976.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>&nbsp;</strong></p> <p style="text-align: justify;">Ada hal unik dari situs ini, yaitu ditemukannya sebuah makam kuno bercorak Islam milik Embah Dalem Arief Muhammad tepat berada disamping bangunan Candi Cangkuang yang merupakan Candi Hindu. Embah Dalem Arief Muhammad ternyata senopati dari <em>kerajaan </em>Mataram Islam di Yogyakarta. Beliau bersama pasukannya mendapat tugas untuk menyerang tentara VOC di Batavia namun gagal sehingga menyingkir ke pedalaman Tanah Priangan tepatnya di daerah Leles Garut.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Di daerah tersebut beliau menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar yang sebelumnya memeluk agama Hindu. Penyebaran agama Islam oleh Embah Dalem Arief Muhammad akhirnya menemukan hasil karena penduduk setempat kemudian memeluk agama Islam. Beberapa bukti peninggalam Islam di daerah ini masih&nbsp; tersimpan rapi bersama peninggalan lainnya di sebuah museum di dekat makam Embah Dalem Arief Muhammad. Beberapa peninggala tersebut diantaranya adalah:</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <ol style="text-align: justify;"> <li>Naskah Al-Qur&rsquo;an Abad ke XVII ukuran 31,5cm x 23,5cm, dengan tebal naskah 140 lembar dan terbuat dari kulit kayu saih.</li> <li>Naskah Tauhid Abad ke XVII ukuran 27cm x 19cm, tebal naskah 75 lembar, terbuat dari kulit kayu saih.</li> <li>Naskah Fiqih Abad ke XVII ukuran 25cm x 16,5cm, tebal naskah 34 lembar, terbuat dari kulit kayu saih.</li> </ol> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Beliau dan masyarakat setempat membendung dan membuat sebuah danau yang diberi nama Situ Cangkuang. Daratan-daratan yang terbendung itu akhirnya menjadi gundukan bukit ( Pulau-pulau kecil ) lalu pulau-pulau kecil tersebut diberi nama Pulau Panjang (Kampung Pulo) Pulau Masigit, Pulau Leutik, Pulau Katanda, Pulau Gede dan Pulau Wedus.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Embah Dalem Arief Muhammad sempat menikahi wanita setempat kemudian menetap disana dan memiliki 6 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki. Beliau mendirikan Rumah Adat Kampung Pulo yang mempunyai ciri 7 bangunan pokok yang melambangkan keturunan beliau yang berjumlah 7 orang. 6 diantaranya anak perempuan yang di lambangkan pada 6 bangunan rumah, 1 orang anak laki-laki yang dilambangkan dengan bangunan masjid. Oleh karena itu, dari dulu sampai sekarang jumlah bangunan pokok rumah adat kampung pulo tidak boleh kurang atau lebih dari 7 bangunan pokok.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1413112290.jpg" alt="" width="599" height="393" /></p> <p style="text-align: justify;">Sejarah Candi Cangkuang garut dan keberadaan rumah adat kampung pulo merupakan salah satu bukti keberagaman dan toleransi antara agama, sebuah candi kecil, perkampungan kecil dan situs budaya.Sejarah Candi Cangkuang Dan makam Embah dalem arief Muhammad termasuk cagar budaya dan Rumah adat kampung Pulo tetap menarik untuk dikunjungi wisatawan.</p> Pantai Timur Nusakambangan: Pantai Berpasir Putih dan Hutan Alami http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/332/pantai-timur-nusakambangan-pantai-berpasir-putih-dan-hutan-alami <p style="text-align: justify;">Nusakambangan, apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata itu Penjara Hutan Memang benar! Semua itu ada di sebuah pulau yang tepat berada di seberang Kota Cilacap.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412674480.jpg" alt="" width="640" height="425" /></p> <p style="text-align: justify;">Akan tetapi, disana perlu diketahui bahwa di sana juga berdiam sebuah pantai indah berpasir putih. Pantai Timur Nusakambangan namanya. Kebanyakan orang Indonesia memang lebih menyukai pantai berpasir putih dari pantai yang berpasir hitam. Di Kabupaten Cilacap juga lebih banyak didominasi pantai berpasir hitam namun keberadaan Pantai Timur Nusakambangan menjadi pembedanya.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412674373.jpg" alt="" width="639" height="424" /></p> <p style="text-align: justify;">Mudah untuk menuju Pantai Timur Nusakambangan bahkan dengan mata telanjang terlihat dari Pantai Teluk penyu. Dengan menaiki kapal nelayan dari Pantai Teluk Penyu, Anda dapat menyambangi Pantai Timur Nusakambangan cukup dengan ongkos Rp15.000 per orang dan lamanya sekira 20 menit perjalannya saja.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Setelah tiba di Pulau Nusakambangan, Anda akan disuguhi hutan belantara yang perlu dilalui dengan berjalan kaki untuk menuju pantai Pantai Timur Nusakambangan. Jaraknya sekira 30 menit jalan santai. Sepanjang perjalanan Anda juga akan menikmati pohon pohon besar dan suara suara burung liar di habitat aslinya.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412674414.jpg" alt="" width="639" height="421" /></p> <p style="text-align: justify;">Setengah perjalanan Anda juga akan bertemu benteng kuno peninggalan Hindia Belanda. Tembok pertahanan itu rupanya tempat barak penduduk pribumi yang dihukum saat itu. Setelah melewati bangunan tua, Anda akan melihat pantai di sebelah kirinya, pantai yang sepi itu dikenal dengan nama Pantai Karang Bolong yang memang lebih didominasi batu karas.&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tidak sampai 5 menit Anda akan sampai di pantai yang dituju, yaitu Pantai Timur Nusakambangan. Pantai ini lokasinya agak turun kebawah dari jalan yang dilalui. Pasir putihnya tersembunyi setelah kita melalui bukit. Kadang saat air laut surut Anda bisa melihat karang-karang besar, bahkan bisa berdiri di karang tersebut. Anda perlu berhati-hati karena deburan ombak yang membawa air laut tak menentu datangnya.</p> Cilacap: Ragam Keindahan yang Perlu Disambangi di Selatan Jawa Tengah http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/331/cilacap-ragam-keindahan-yang-perlu-disambangi-di-selatan-jawa-tengah <p style="text-align: center;"><img style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412342702.jpg" alt="" width="300" height="174" /></p> <p style="text-align: justify;">Lebih banyak orang mengetahui Cilacap sebagai sebuah kota kecil di sudut barat Jawa Tengah yang lokasinya dekat dengan penjara di Pulau Nusakambangan. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa kabupaten terluas di Jawa Tengah itu memiliki potensi wisata yang menarik untuk disambangi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Cilacap merupakan sebuah kota di pesisir selatan Pulau Jawa yang menghadap langsung dengan Samudera Hindia. Begitu luasnya kabupaten ini sehingga memiliki dua kode telepon yaitu 0280 dan 0282. Wilayahnya berbatasan langsung dengan Jawa Barat sehingga penduduknya di sebagian wilayah berbahasa Sunda, sementara yang lain berbahasa Jawa dengan logat Banyumasan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tidak sulit untuk mencapai kota Cilacap, dari arah timur Anda bisa naik kereta api dan turun di Stasiun Kroya, kemudian lanjutkan perjalanan menggunakan bus kecil ataupun taksi menuju ke Kota Cilacap. Dari arah barat, Anda juga bisa naikkereta Purbaya dari stasiun Jakarta dan berhenti di Stasiun Cilacap. Baik dari arah timur ataupun barat, ada banyak jalur bus besar yang mengarah langsung ke Cilacap.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Cilacap memiliki beberapa tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi. Sebut saja Pantai Teluk Penyu yang berlokasi tidak jauh dari Alun Alun Kota Cilacap. Kawasan Pantai ini menghadap ke timur, sangat cocok bagi Anda pencinta <em>sunrise</em>. Pantainya dihiasi barisan pemecah ombak yang menjulur dari bibir pantai sepanjang 50 meter ke tengah laut dimana pemecah ombak ini banyak di gunakan masyarakat sekitar memancing maupun menjala ikan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Di kawasan Pantai Teluk Penyu tersedia banyak restoran maupun warung di sepanjang pantai yang menyajikan beragam olahan <em>seafood</em> seperti cumi asam manis, kepiting saus tiram, ikan bakar, maupun awetan berupa ikan asin. Olahan <em>seafood </em>segar di warung-warung harganya lebih murah dan Anda bisa memilih langsung mana yang akandimasak sehingga bisa memastikan sendiri kesegarannya. Jangan lupa pula untuk menikmati makanan khas Banyumas, mendoan, yaitu tempe tipis lebar yang digoreng menggunakan tepung dan enak dinikmati hangat.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Di dekat Pantai Teluk Penyu juga ada Benteng Pendem (<em>Kusbatterij Op De lantong Te Tjilatjap</em>) yang merupakan benteng dan markas pertahanan tentara Hindia-Belanda. Dibangunsecara bertahap tahun 1861 hingga 1879,&nbsp;bangunan benteng ini memiliki konfigurasi kokoh dikelilingi parit. Komponen bangunannya dilengkapi 60 barak, benteng pengintai, gudang senjata, terowongan, ruang penjara, ruang rapat, ruang amunisi, ruang tembak, serta 13 ruang untuk pertahanan yang dikelilingi oleh pagar dan parit.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Di dekat pintu masuk utama Pantai Teluk Penyu, Anda juga akan melihat deretan toko toko cenderamata yang menjual berbagai olahan kerajinan dari kerang dan hewan laut lainnya. Mulai dari gantungan kunci, lampu tidur, jam dinding, sampai dengan pot. Selain kerajinan dari hewan laut, bagi Anda pencinta batu akik, tentu tak akan melewatkan koleksi batu akik yang juga dijual di sana hasil kerajinan para napi di Pulau Nusakambangan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Di Pantai Teluk Penyuterdapat banyak perahu yang bisa disewa dengan harga terjangkau baik untuk berkeliling pantai,memutar di dekat dermaga kapal milik Pertamina, maupun untuk menyeberang ke Pulau Nusakambangan. Mungkin Anda akan bertanya untuk apa kita menyambangi pulau yang dikenal sebagai Indonesian Alcatraz ini Nyatanya Pulau Nusakambangan memiliki potensi wisata pantai, wisata hutan, dan wisata spiritual yang perlu dipertimbangkan saat berada di Cilacap.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Banyak orang belum mengetahui bahwa di balik reputasi menyeramkan Pulau Nusakambangan terdapat potensi wisata yang layak didatangi. Berbeda dengan Pantai Teluk Penyu yang berpasir hitam dan mengandung bijih besi, Pantai Nusakambangan dihiasi oleh pasir putih dan batu batu karang seperti kawasan pantai selatan di Wonosari. Tidak hanya pantai pasir putih, di Pulau Nusakambangan juga ada tujuan wisata berupa benteng peninggalan Portugis. Walaupun sudah tidak terpakai dan kurang terawat namun benteng ini masih bisa di masuki ruangannya. Di benteng itu pun masih terdapat dua buah meriam kuno peninggalan Portugis.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Ada banyak sekali kawasan pantai pasir putih yang bisa dikunjungi di Pulau Nusakambangan namun hanya sisi barat saja yang bisa Anda kunjungi dengan waktu perjalanan yang singkat dan tidak butuh syarat khusus. Sementara untuk berwisata di pantai lain terutama di area lapas, Anda perlu mengantongi izin dari Departemen Kehakiman.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412342858.jpg" alt="" width="1031" height="674" /></p> <p style="text-align: justify;">Selain wisata pantai di Cilacap Anda dapat pula menyambangi wisata spiritual di Gunung Srandil dan Gunung Selok yang namanya tersohor di kalangan Kejawen. Ada juga wisata air panas di Cipari atau Anda berjalan-jalan melihatberagam industri besar seperti Pertamina, Holcim, PLTU, pelabuhan Tanjung Intan, dan galangan kapal nelayan.</p> <p><img style="margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;" src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412342774.jpg" alt="" width="300" height="193" /></p> <p style="text-align: justify;">Bagi Anda yang datang dari barat, dalam perjalanan pulang akan melewati daerah hutan industri Kubangkangkung yang diisi perkebunan jati dan karet. Di sepanjang jalan kawasan hutan ini berjajar warung penjual makanan khas Cilacap, yaitu mendoan.Selain itu juga ada pecel dan es kelapa muda. Tempat ini bisa menjadi alternatif tempat istirahat selama perjalanan. Menikmati mendoan panas dan es kelapa muda sambil menikmati sejuknya rimbunan hutan karet tentu menjadi pelepas lelah perjalanan Anda.</p> <p style="text-align: justify;">Selain itu, di kawasan hutan ini juga terdapat Danau Kubangkangkung. Anda dapat berkeliling danau menggunakan ATV dengan ongkos sewa Rp15ribu atau menikmati danau dengan perahu kayuh bebek seharga Rp10 ribu per 15 menit. Rencananya kawasan wisata ini juga akan dilengkapi tour kereta mengunjungi pabrik pengolahan karet. Jadi, selain melepas lelah, Anda juga mendapatkan mengetahui pengolahan getah karet di sana.</p> Menara Kudus: Warisan Bersejarah Penyebaran Islam di Pulau Jawa http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/328/menara-kudus-warisan-bersejarah-penyebaran-islam-di-pulau-jawa <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412163246.jpg" alt="" width="611" height="910" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Menara Kudus merupakan peninggalan penting sejarah Islam di Pulau Jawa. Anda dapat menemukannya di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Bangunannya merupakan peninggalan dari masa Sunan Kudus (As-Sayyid Dja&rsquo;far Shodiq) yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa, khusunya di Kudus.&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p>Berdasarkan data Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), bangunan Menara Kudus didirikan pada 23 Agustus 1549 M. Menara Kudus memiliki tinggi&nbsp; 18 m dan luas 100 m<sup>2</sup>. Bahan yang digunakan untuk membangun Menara Kudus adalah batu bata merah, sirap dan sekelilingnya terdapat hiasan keramik piring bergambar berjumlah 32 buah. 20 piring berwarna biru bergambar masjid, manusia, unta dan buah kurma, sedangkan 12 sisanya berwarna putih berlukiskan bunga.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p>Dari segi filosofis, Menara Kudus memiliki fungsi sebagai tempat azan sang <em>mu&rsquo;adzin</em> untuk memanggil salat. Selain dengan azan juga digunakan <em>kenthong</em> dan <em>bedhug</em>. <em>Bedhug </em>juga digunakan untuk memberikan tanda masuknya hari-hari penting seperti awal Bulan Ramadlan, Idul Fithri dan Idul Adlha.&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p>Bagian dalam Menara Kudus hanya terdapat satu ruangan untuk menuju ruang atap menara. Untuk naik ke puncak Menara, disediakan tangga yang terbuat dari kayu jati. Selain <em>kenthong</em> dan <em>jidhur</em>, di puncak Menara Kudus juga terdapat Saka Guru Atau Pilar Penyangga&nbsp; yang juga terbuat dari Kayu Jati.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412163418.jpg" alt="" width="919" height="607" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Secara fisik, bentuk Menara Kudus menunjukan adanya perpaduan budaya Hindu dan Islam sebagai bukti sikap <em>tasamuh </em>atau toleransi Sunan Kudus dalam usaha penyebaran agama Islam. Dari Bentuk Menara sendiri Bangunan Menara ini berpondasi seperi bukit kecil yang biasanya terdapat umumnya di candi Pulau Jawa, kaki pondasinya disebut Pradak Sina Prata, hal ini berdasarkan Candra Sengkolo, &ldquo;<em>Gapura Rusak Ewahing Jagad</em>&ldquo;.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>M</strong><strong>a</strong><strong>sjid Al Aqsho</strong><strong> dan Cikal Bakal Kota Kudus</strong></p> <p style="text-align: justify;"><strong><br /></strong></p> <p style="text-align: center;"><strong><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412163604.jpg" alt="" width="690" height="919" /><br /></strong></p> <p style="text-align: justify;"><strong><br /></strong></p> <p style="text-align: justify;">Masjid Al Aqsho merupakan peninggalan sejarah Islam di Kudus pada masa Sunan Kudus &nbsp;yang didirikan pada 19 Rajab 956 H. Hal tersebut bisa dilihat dari prasasti yang sekarang ditempatkan diatas <em>mihrab </em>atau pengimaman masjid. Prasasti tersebut memiliki panjang 46 cm dan lebar 30 cm.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Batu prasastinya sendiri berasal dari Baitu Maqdis (Al Quds) di Yerusalem, Palestina, Adapun bunyi kalimat yang tertera pada batu prasasti tersebut adalah :</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><em>Bismillahirrahmanirrahim. Agama bina al masjid al aqsha wa balad al kuds chalifatu badna dahr habru ( aali ) Muhammad, jasjtari&nbsp; izzan fi djannat al chuldi... qurban min arrahman bibalaad&nbsp;&nbsp; al kuds ansja&rsquo;a haddha al masjid al manar al musammabil aqsha chalifatullahi&nbsp; fil-ardhi... al&rsquo;ulja wal mudjahid assayyid al ariefal kamil al fadhi al maqsus bi inajati... al kadhi Dja&rsquo;far as-Shadiq... sanat sittin wa chomsina wa tis&rsquo;imia&rsquo;atin min al hidjrah annabawiyah wa ashabihi adjmai&rsquo;in.</em></p> <p style="text-align: justify;"><em>&nbsp;</em></p> <p style="text-align: justify;">Adapun terjemahannya dalam bahasa Indonesia :</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><em>Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Telah didirikan Masjid Aqsha ini dan negeri Kudus khalifah pada zaman Ulama dari keturunan Muhammad untuk membeli kemuliaan surga yang kekal. Untuk mendekati Tuhan di negeri Kudus, membina masjid Al-Manar yang dinamakan Al-Aqsha khalifatullah di bumi ini... yang Agung dan mujtahid sayyid (tuan) yang arief (maha mengetahui) Kamil (yang sempurna) fadhil (yang melebihi) al maqsus (yang dikhususkan) bi inajati (dengan pemeliharaaan) al Kadhi (penghulu hakim) Dja&rsquo;far Shadiq... pada tahun 956 dari Hijrahnya Nabi Muhammad Saw. </em></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Dari kata Baitul Makdis itulah, asal mula dinamakannya Kota Kudus. Akar kata dari <em>&lsquo;maqdis&rsquo; &nbsp;</em>sendiri adalah <em>Qadasa</em> yang berarti suci. Masjid Al Aqsho terdiri dari 5 buah pintu sebelah kanan, 5 buah pintu sebelah kiri, 4 jendela dan 8 tiang besar didalam masjid berasal dari kayu jati.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Masjid menara sudah melewati beberapa kali renovasi dan pada waktu didirikan tidaklah sebesar sekarang. Zaman dahulu terdapat serambi dan disekelilingnya kubah dihiasi nama-nama rasul yang berjumlah 25. Pada sisi masjid juga dituliskan 10 sahabat dekat Nabi Muhammad yang dijanjikan masuk surga.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Selain untuk sebagai tempat salat, Masjid Al Aqsho juga menjadi pusat keagamaan Kota Kudus. Tidak hanya dalam hal pendidikan seperti pengajian Kitab Salaf oleh para ulama Kudus, juga sebagai tempat pelestarian budaya Islam seperti <em>Terbangan</em> dan kegiatan <em>Buka Luwur</em>.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><em>Diadaptasikan dari berbagai sumber milik Yayasan Masjid, Menara dan Makan Sunan Kudus (YM3SK), Bagian kepurbakalaan, Desa Wisata Religi Kauman, Kec. Kota Kudus.</em></p> Widarapayung Sang Pesona Tersembunyi http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/329/widarapayung-sang-pesona-tersembunyi <p style="text-align: justify;">Nama Widarapayung memang tidak popular di Tanah Air namun siapa sangka pantai ini memiliki banyak pesona yang memukau. Tidak berlebihan, karena memang Pantai Widarapayung selain punyai keindahan Matahari terbenam juga beragam atraksi untuk dinikmati wisatawan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Pantai Widarapayung berlokasi 35 km ke arah timur dari Kota Cilacap, tepatnya di Desa Widarapayung, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap. Tidak sulit untuk mencapainya karena dapat diakses menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Sarana dan prasarananya juga cukup baik.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Anda bisa menempuh pantai ini menggunakan kereta api dilanjutkan dengan menggunakan angkutan pedesaan menuju Pantai Widarapayung. Apabila anda menuju pantai ini menggunakan bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) dari Jakarta maka turun di Terminal Purwokerto dilanjutkan dengan bus ukuran sedang tujuan Kroya. Apabila Anda dari arah Yogyakarta maka anda disarankan turun di perempatan Buntu kemudian disambung bus ke arah Kroya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Bicara fasilitas, Pantai Widarapayung dapat memuaskan keinginan Anda berlibur di pantai. Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan di sana seperti berjemur, volley pantai, bermain layang-layang, dan berselancar. Tak perlu repot membawa banyak peralatan karena tersedia jasa persewaan di Pantai Widarapayung.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Berselancar di Widarapayung&nbsp; menjadi daya tarik utama banyak wisatawan karena memang ombak pantai ini cukup besar dan sangat baik untuk bermain selancar. Bahkan, pernah dijadikan sebagai tuan rumah sebuah <em>Surf Contest</em> tingkat nasional.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Lelah menghabiskan seharian bersenang-senang di pantai, berikutnya cicipi segarnya kelapa muda dan menyantap <em>seafood</em> yang banyak dijual di pinggir Pantai Widarapayung. Rimbunya nyiur kelapa menambah suasana alami di tempat ini. Terdapat berbagai pilihan ikan segar, udang, cumi-cumi yang dapat Anda santap dan disajikan dengan olahan sesuai dengan selera.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Liburan di Pantai Widarapayung dapat ditutup dengan menikmati indahnya <em>bluehour</em> selepas senja di bibir pantai. Senja mengingatkan kita untuk terus bersyukur kepada Tuhan betapa kayanya alam Indonesia yang harus kita jaga untuk dinikmati generasi kemudian.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412164923.jpg" alt="" width="1000" height="665" /></p> Berpetualang Menyusuri Hutan Menuju Air Terjun Coban Talun http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/330/berpetualang-menyusuri-hutan-menuju-air-terjun-coban-talun <p style="text-align: justify;">Batu adalah kota wisata dengan pesona alam yang bisa menghadirkan keriduan untuk mereka yang pernah menghampirinya. Di Batu ada berbagai wahana wisata keluarga, sebut saja Jawa Timur Park 1 dan 2, Batu Night Spectacular (BNS), Museum Satwa, Museum Angkut, Selecta, dan aneka wahana wisata buatan lainnya.Selain wahana wisata buatan, Batu juga menyediakan wisata alam yang masih alami dengan udara yang sejuk.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Wisata alam di Batu lokasinya &nbsp;tidak jauh dari pusat kota Batu dan aksesnya pun cukup mudah. Selain menjangkau wisata apel dan wisata kebun bunga, ada juga wisata alam Air Terjun Coban Talun yang terletak tidak jauh dari kawasan Wisata Selecta. Tepatnya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Sembari melewati perjalanan untuk sampai ke area Coban Talun, Anda dapat menikmati hamparan kebun apel di antara rumah-rumah penduduk.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sesampainya di area parkir Coban Talun, Anda bisa menikmati pemandangan perbukitan dan lereng yang tersaji di depan mata. Hutan pinus juga menghiasi area perhentian, dari situ Anda dapat meneruskan perjalanan menuju air terjundengan berjalan kaki. Treking dengan berjalan kaki untuk sampai ke sana akan sedikit menantang. Pertama, Anda &nbsp;akan dijejali trek menyebrangi sungai dangkal yang merupakan hulu dari air terjun itu sendiri. Kemudian, akan ada hutan pinus di sepanjang perjalanan dan Anda butuh sekira 30 &ndash; 45 menit dari perhentian pertama untuk bisa menjumpainya.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412168652.jpeg" alt="" width="563" height="1000" /></p> <p style="text-align: justify;">Jalur menuruni bukit tidak terasa melelahkan dengan adanya hembusan angin sejuk dari pepohonan&nbsp; dan aktivitas penduduk lokal menyaduh getah pinus. Keberadaan hewan liar seperti&nbsp; kera jawa dan ayam hutan pun memberi sensasi tersendiri karena Anda akan melihat aktivitas alam berjalan alami tanpa ada campur tangan manusia. Di sini sangat terasa keseimbangan antara manusia dan alam.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412169076.jpeg" alt="" width="999" height="566" />&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sesampainya di lokasi Air Terjun Coban Talun, Anda bisa mendengar deburan air terjun dan gemericik air yang saling berpadu. Air Terjun Coban Talun memiliki tinggi 75 meter dengan kolam-kolam kecil alami yang tercipta diantara bebatuan memberi nuansa sejuk, serta menarik hasrat untuk menceburkan diri ke dalam kolam air yang dingin.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412169426.jpeg" alt="" width="563" height="999" /></p> <p style="text-align: justify;">Sedikit beranjak dari kolam, Anda bisa menikmati hempasan air yang tidak terlalu keras, beserta tetesan diantara dinding dinding tebing Air Terjun Coban Talun. Jika menolehkan mata sejenak ke arah timur, akan disajikan pemandangan khas berupa bukit-bukit terjal yang terbelah. Inilah paket perjalanan yang lengkap untuk pecinta alam.</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412169170.jpeg" alt="" width="563" height="998" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1412169296.jpeg" alt="" width="561" height="1000" /></p> Menilik Budidaya Jamur di Desa Wonorejo http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/327/menilik-budidaya-jamur-di-desa-wonorejo <p style="text-align: justify;">Berwisata ke Kota Batu, Jawa Timur, tidak lengkap rasanya jika tidak mampir ke desa wisata yang dibesut oleh warga setempat. Sebab dengan berkunjung ke desa wisata, kita dapat mengetahui potensi wisata yang ada pada masing-masing daerah di Kota Batu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Salah satu desa wisata di Kota Batu yang cukup tersohor adalah Desa Tulung rejo. Terdiri dari banyak dusun dan beragam potensi wisata seperti budi daya jamur, sapi perah, kebun bunga, peternakan kelinci, dan masih banyak lagi yang lainnya. Akan tetapi, ada desa wisata lain dengan potensi yang tak kalah menonjol, yaitu Dusun Wonorejo yang terkenal dengan budidaya jamur.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Budidaya jamur di Dusun Wonorejo sudah dilakukan sejak tahun 1996. Saat itu, peminat jamur masih sangat sedikit sehingga peluang memasarkannya hanya pada kalangan tertentu seperti hotel dan restoran. Akan tetapi, kini jumlah produksi jamur khususnya Osteon dan Florida tumbuh pesat seiring kenaikan jumlah penduduk di Indonesia.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kota Batu cenderung dingin sehingga memudahkan pertumbuhan jamur. Diakui oleh petani jamur Wonorejo, setiap harinya mereka dapat memanen jamur untuk dijual keberbagai daerah di Indonesia. Mulai dari daerah lokal sekitar Batu hingga keluar pulau, Lombok dan Bali. Padahal, modal memproduksi jamur bisa dibilang sangat irit namun hasilnya berlipat-lipat. Untuk harga jual jamur mulai dari Rp 10.000 sampai 15.000 rupiah perkilo.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Keuntungan inilah yang kini kian dilirik petani di sekitar Kota Batu. Bahkan tidak jarang petani buah apel beralih kejamur untuk meraih keuntungan yang lebih menggiurkan. Keuntungan yang didapat akan lebih tinggi apabila petani jamur juga merangkap sebagai pengusaha produksi baglog berbahan serbuk gergaji, jagung, dan kalium. Sebab, dengan memproduksi baglog sendiri, alokasi dana pembelian baglog&mdash;yang harganya lebih tinggi&mdash;dialihkan kepada biaya produksi pembuatan baglog&mdash;yang lebih rendah.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Memang, dibalik keuntungan melimpah dari budidaya jamur, tidak mudah untuk menumbuh kembangkan. Perlu perawatan khusus dan harus ekstra steril. Itulah sebabnya mengapa wanita yang tengah menstruasi dilarang masuk kombong jamur. Ditakutkan jamur dan bakteri yang ada pada darah haid berpindah dan mengkontaminasi pertumbuhan jamur.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Suwatman, salah satu petani jamur di Wonorejo mengaku, dalam satu bulan dapat menghasilkan sekitar 6-8 ton jamur , angka yang cukup fantastis mengingat dia dan keluarganya baru memulai usaha sebagai petani jamur sejak 2007.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Hasil dari budidaya jamur tidak sekadar jamur mentah. Sebab di era teknologi yang kian berkembang, pengetahuan petani semakin meluas. Mereka banyak berinovasi untuk membuat varian olahan dari tanaman jamur. Mulai dari keripik hingga bakso.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Jika Anda tertarik untuk melihat langsung pembuatan baglog dan budidaya jamur, Anda bisa datang ke Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, atau sekira 15 kilometer dari Alun-Alun Kota Batu. Tidak ada angkutan umum untuk menuju ke sana. Jadi, persiapkan kendaraan pribadi atau kendaraan sewa jika ingin tahu banyak tentang jamur.</p> Air Terjun Coban Talun dan Gunung Banyak: Rehat Bersama Pesona Alam Kota Batu http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/326/air-terjun-coban-talun-dan-gunung-banyak-rehat-bersama-pesona-alam-kota-batu <p>Batu dijuluki sebagai Kota Wisata. Bukan tanpa alasan tentunya. Wilayahnya yang tumbuh dari kota administratif di Malang tersebut kini memang menjadi jantungnya pariwisata Jawa Timur. Kota berhawa sejuk itu terus menggeliat dengan nadi pariwisata lewat hadirnya beraneka wahana tujuan wisata keluarga, aneka restoran dan tentunya beragam hotel serta penginapan. Dengan panorama alam dataran tinggi nan menghijau maka tidak ada alasan untuk tidak menghampirinya barang beberapa hari saja.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Ada banyak hal yang bisa Anda lakukan saat berkunjung ke &lsquo;Kota Apel&rsquo; yang terletak di dataran tinggi ini. Salah satu yang menarik bisa Anda sambangi adalah menyusuri hutan alami untuk menemukan keindahan Air Terjun Coban Talun yang berlokasi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Batu.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Arahkan kendaraan Anda ke arah Pemandian Selekta yang terkenal itu. Di kiri jalan utama ada papan petunjuk ke lokasi air terjun. Sesaat memasuki gerbang air terjun dan membayar karcis masuk Rp5.000,- per orangnya maka mulailah berikutnya Anda susuri dengan berjalan kaki.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Suasana sejuk menghijau sudah terasa dengan pepohonan di sana sini memanjakan mata. Selain itu, di sekitarnya juga akan Anda temui masyarakat lalu-lalang karena memang terdapat ladang sayur mayur dan tentu saja buah apel yang menjadi khasnya Kota Batu.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411752848.jpg" alt="" width="999" height="665" /></p> <p>&nbsp;</p> <p>Di awal perjalanan Anda sudah akan disambut sungai dangkal yang harus dilalui tanpa jembatan, juga jalan setapak menuju air terjun yang cukup terjal dan licin. Oleh karenanya, gunakan celana pendek, sandal, kaos menyerap keringat, dan membawa bekal air minum.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Setelah melewati sungai, barulah perjalanan Anda akan menyusuri hutan pinus yang sejuk. Pohon-pohon rindang akan membuat perjalanan sekira empat puluh lima menit tidak terasa. Hutan di sekitar air terjun masih sangat alami dan jika beruntung Anda dapat bertemu kawanan monyet atau ayam hutan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411752804.jpg" alt="" width="666" height="999" />Perjalanan panjang menuju lokasi air terjun akan terbayar dengan keindangan yang tersaji. Air terjun Coban Talun memiliki ketinggian 75 meter. Amati bagaimana batu-batu besar itu menjadi jalan air menuju ke bawahnya sekaligus menahan air membentuk kolam-kolam. Melihatnya, Anda akan tergoda untuk mencelupkan diri berenang di airnya yang bening.</p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411752760.jpg" alt="" width="666" height="999" /></p> <p>&nbsp;</p> <p>Selepas puas berenang atau menatapi keindahan gemuruh air yang jatuh dari ketinggian, coba susuri jalan ke balik air terjun karena terdapat goa kecil yang merupakan peninggalan Tentara Jepang.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Dari Air terjun Coban Talun arahkan perjalanan untuk bersantai di Gunung Banyak. Tempat ini merupakan bukit yang terletak di tempat tinggi sehingga Anda bisa melihat pemandangan Kota Batu dari ketinggian. Untuk menuju Gunung Banyak, Anda bisa berkendara ke arah Desa Songgoriti.</p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411752924.jpg" alt="" width="998" height="666" /></p> <p>&nbsp;</p> <p>Gunung Banyak sering digunakan sebagai tempat atraksi paralayang. Dengan membayar jasa Rp350.000,-, Anda bisa memacu adrenalin dengan terbang di atas Kota Batu. Jangan khawatir karena tentu ada tentor berpengalaman yang akan menemani Anda melaju di udara. Anda yang suka narsis maka bisa berfoto <em>selfie</em> sembari terbang karena disediakan foto dengan monopod.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Apabila paralayang terlalu liar bagi Anda maka bisa duduk di atas bukit sembari menikmati jajanan yang dijajakkan. Jagung bakar dan segelas kopi susu bisa menjadi teman untuk menikmati Matahari kembali ke peraduannya.</p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411752886.jpg" alt="" width="998" height="665" /></p> <p>&nbsp;</p> <p>Lelah seharian pelesir di Batu Anda bisa merasakan sensasi baru dengan menginap di Omah Kayu yang terletak di Gunung Banyak. Lokasinya tidak jauh dari lokasi paralayang. Di tempat tersebut ada empat kabin yang terbuat dari kayu dan tergantung di pohon. Bayangkan, pagi hari Anda terbangun di atas pohon dengan Matahari yang malu-malu menampakkan sinarnya. Untuk menginap di tempat ini Anda akan dikenakan biaya tiga ratus ribu per malam. Bilik yang tersedia memuat paling banyak tiga orang. Penginapan ini tepat untuk Anda yang ingin mengambil gambar Matahari terbit.</p> Selecta: Taman Rekreasi nan Indah dan Bersejarah di Batu http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/324/selecta-taman-rekreasi-nan-indah-dan-bersejarah-di-batu <p style="text-align: center;"><em><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411645007.jpg" alt="" width="950" height="647" /><br /></em></p> <p style="text-align: justify;"><em><br /></em></p> <p style="text-align: justify;"><em>Kala Sang Surya menyembul permukaan alam pegunungan dan menerobos lorong-lorong hijauanya dedaunan, semua menatap indahnya Sang Dewi Alam. Selecta tengah terjaga, menemani kicauan burung-burung di pagi hari. Bagai bidadari dengan sejuta inspirasi, Selecta menari-nari dalam ingatan para pengunjungnya. Dia menyapa ramah dengan pesona alam memikat siapa saja yang datang menghampirinya. Selecta merupakan Jelmaan Sang Dewi Keindahan serta The Small Paradise in East Java.</em></p> <p style="text-align: justify;"><em><br /></em></p> <p style="text-align: justify;">Selecta adalah taman rekreasi keluarga yang alami dan memesona karena disamping letaknya yang cukup tinggi sekira 1.150 m dari permukaan laut, juga mudah dijangkau. Anda dapat mencapainya ke lokasi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Jatim atau, berjarak 5 km sebelah utara dari pusat Kota Batu, atau 30 menit dari arah barat dari Kota Malang, dan 2 jam perjalanan ke selatan dari Kota Surabaya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Bukan sekadar tempat berlibur dan beristirahat, Selecta menjadi tujuan wisata eksotis yang mengandung nilai sejarah tinggi di negeri ini. Betapa tidak, sejak berdiri pada 1928, tempat yang awalnya dimiliki Warga Belanda, <em>De Ruyter De Wildt</em>, ini menyimpan kenangan dan peristiwa di zaman revolusi. Bung Karno, tokoh proklamator RI, banyak termenung dan terilhami untuk menyatukan warisan Negeri Majapahit ini. Di Selecta, tepatnya selama 15 hari pada zaman Jepang 1942, Bung Karno bersama para jenderal dan prajurit pejuang kemerdekaan RI, menginap di Villa De Brandarice (sekarang bernama Bima Shakti) merenung dan menyusun ide-ide perjuangan yang akhirnya menelorkan naskah proklamasi. Tonggak sejarah berdirinya Republik Indonesia tercinta.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411645892.jpg" alt="" width="926" height="648" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Begitupun Bung Hatta, pada 1956 menjelang Konferensi KNIP, pernah bermalam di Villa Bima Shakti dan menorehkan &ldquo;<em>Keris Semangat&rdquo; </em>tentang perekonomian masa depan negeri ini. Di situ beliau menulis &ldquo;<em>Tinta Emas&rdquo; </em>agar membangun ekonomi melalui perkoperasian dan dimulai dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Kebersamaan ini sangat ditekankan oleh Bung Hatta, sehingga doktrin itu dipakai oleh Manajemen PT Selecta hingga sekarang.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">De Brandarice sebagai saksi bisu sejarah nasional itu berdiam di areal taman wisata Selecta yang luasnya 18 hektar. Di sana saat itu, Bung Karno menunjukkan keprihatinan teramat dalam dan sering merenung akan nasib Bangsa Indonesia kedepan. Beliau selalu berolah raga kecil dan berjemur diri di pagi hari, siangnya mengunci diri di kamar dan sorenya menikmati pemandangan alam yang tampak indah dari ruang santai. Dalam hal panorama, bangunan Villa Bima Shakti ini adalah tempat tertinggi di alam pegunungan Kota Batu yang bisa memandang sekelilingnya tanpa halangan, semua keindahan dari kejauhan mampu diterobos mata. Meski di zaman modern sekarang ini, keindahan itu masih tetap tampak jelas, di Villa Bima Shakti yang berada di puncak bukit yang dikelilingi Gunung Panderman, Gunung Arjuno, Gunung Anjasmoro, serta Gunung Welirang yang selalu mengepulkan asap belerang.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tidak hanya itu, eksotisme panorama alam pegunungan yang indah dan sedap dipandang mata serta penuh nilai historis yang tak lekang ditelan waktu telah melambungkan Selecta menjadi pioner pariwisata di Kota Batu dan Jawa Timur. Bahkan, di Indonesia di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara seperti dari Belanda, Taiwan, dan Malaysia.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>&nbsp;</strong></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Berfasilitas Lengkap</strong></p> <p style="text-align: justify;">Selecta setelah dibumihanguskan di zaman revolusi 1949 itu resmi berdiri kembali dan menjadi Perseroan Terbatas (PT) pada 19 Januari 1950 dan menjadi milik masyarakat Desa Tulungrejo dan sekitarnya. Kini mempunyai fasilitas lengkap yang terdiri dari 4 unit fasilitas obyek wisata yang alami dan spektakuler.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Pertama</em></strong>, Unit Taman Rekreasi yang terdiri dari Kolam Renang, Taman Bunga, Water Park, Out Bound, Flying Fox, Perahu Columbus, Kolam Ikan air tawar, Sepeda Air, Pasar (Buah, Sayur, Bunga), Area Jogging, Arena Kuda, Aquarium Raksasa dan Goa Singa (Lion Tunnel). Khusus Kolam Renang, airnya asli dari mata air pegunungan yang berasal dari 3 sumber air yaitu Sumber Jobranti 1, Sumber Jobranti 2, dan Sumber Sri Agung yang keseluruhan mata air itu berada di kawasan Selecta. Jadi tidak kuatir menggunakan bahan pemutih air seperti kaporit dan sebagainya. Taman Rekreasi juga dilengkapi 40 kamar mandi representatif serta kamar mandi air panas.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411645591.jpg" alt="" width="947" height="619" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Hal yang lebih menarik lagi, kesucian air di tempat inilah yang disebut &ldquo;Tirta Kamandanu&rdquo; yakni tempat yang dulunya ditemukan oleh punggawa kerajaan Singosari bernama Arya Kamandanu, dimana setelah bertapa lama untuk mencari sumber air mengingat kekeringan telah melanda negeri. Kamandanu melanglang buana kemana-mana tak menemukan sumber air sama sekali, lalu dia bertapa lama, dan seuasi bersemedi dia menancapkan keris &ldquo;<em>Naga Puspa&rdquo; </em>ke sebuah batu besar. Ternyata di bawah batu itulah terdapat sumber air bening dan suci yang bisa mengaliri semua daerah yang kekeringan tersebut. Sumber itulah berada di daerah Selecta dan dinamakan &ldquo;Tirta Kamandanu&rdquo;.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411645720.jpg" alt="" width="953" height="689" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Kedua</em></strong>, Fasilitas Selecta adalah Unit Hotel berklasifikasi Melati 3 dengan fasilitas hotel berbintang, terdiri dari Hall berkapasitas 600 orang, lebih dari 200 kamar. Bahkan, Villa Bima Shakti yang penuh historis itu juga disewakan <em>go public</em>, dengan fasilitas 10 kamar tidur eksekutif, Ruang Tamu berkapasitas 30 kursi tamu, Ruang Konrefensi Eksklusif di lantai 2 berkapasitas 50 orang, Dapur, Ruang Makan Bersama serta <em>Save Security System</em> (Sistem Keamanan) dengan 7 pintu rahasia, sehingga <em>customer </em>akan dijamin puas dan penuh memori.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Ketiga</em></strong><em>, </em>Unit Restoran yang tersebar di beberapa tempat dalam kawasan Selecta, yaitu 4 restoran di Taman Rekreasi dekat kolam renang, dimana sambil menikmati hidangan Masakan Indonesia dan <em>Chinese Food</em>. Disamping itu di hotel terdapat restoran modern, serta di kebun bias diciptakan restoran apabila pengunjung memesannya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Keempat</em></strong><em>, </em>Unit Kebun Apel dan Sayuran. Dalam unit ini PT Selecta bekerjasama dengan masyarakat sekitar kawasan wisata sehingga hasilnya akan bisa dinikmati masyarakat. Tanaman yang diproduksi bersama petani di kawasan Selecta adalah sayuran kobis, wortel, bungkul dan lainnya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Seiring perkembangan, Taman Wisata Selecta juga mengembangkan berbagai fasilitasnya untuk permainan seperti <em>Water Park, </em>sepeda air, moto GP, <em>Indoor Playground, Out Bound, Flying Fox (seluncur diatas tali) </em>dan masih banyak yang lainnya. Bahkan, berbagai acara indoor maupun outdoor selalu bisa terakomodir bila diadakan di Selecta.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kilas balik, awalnya dipilihnya Selecta adalah Ruyter De Wild setelah meminta nasehat seorang Raja di Songgoriti untuk mencari tempat strategis buat peristirahatan, tempat santai sambil menikmati indahnya pemandangan alam. Kala itu Sang Raja mengutus salah seorang Empu yang berkesaktian tinggi dan mampu menerawang alam misteri. Setelah berbagai pilihan tempat dijamah, akhirnya daerah di Desa Tulungrejo ini diseleksi dan memenuhi syarat materiil dan spiritual. Tempat itu didatangi dan ditancapkan api lentera diatas tanah, lalu api itu mengarah kemana ketika terhembus angin, lantas tanah diendus mengandung bau suci. Karena memenuhi semua persyaratan, daerah itu dinamakan <em>Selecti </em>atau telah dipilih, sehingga sekarang dikenal dengan nama Selecta.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Selecta kini makin menapak dan berbenah diri dengan tidak meninggalkan unsur alamiah dan peduli lingkungan. Terbukti, berbagai fasilitas taman rekreasi modern ada di sana, namun alam kawasan lingkungan yang tetap rimbun penuh pepohonan masih tampak subur dan berdiri tegak. Bahkan, di sekeliling Areal parker seluas 3 hektar ditumbuhi pepohonan dan stand berbagai macam bungan dan tanaman bunga terdapat di sana. Dari situlah Selecta menjulang dimata wisatawan. Bahkan, bila Anda rekreasi ke Jawa Timur, tidak akan lengkap apabila belum mengunjungi Taman Rekreasi Selecta di Kota Batu Jatim. Untuk menikmati Selecta, sangatlah terjangkau hanya dengan Rp15.200,- Anda sudah bisa dapat rileks di kawasan wisata alami dan penuh sejarah ini. Mari coba Anda buktikan. (<em>Ajie).</em></p> Pura Giri Arjuno: Berteman Khusyuk di Lereng Gunung Arjuno http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/325/pura-giri-arjuno-berteman-khusyuk-di-lereng-gunung-arjuno <p style="text-align: justify;">Berkunjung ke Jawa Timur, tidak ada salahnya mampir sejenak ke Kota Batu. Cuacanya yang cukup dingin tidak hanya identik dengan taman wisata keluarga ataupun wisata alam. Ternyata kota apel ini juga memiliki bangunan bersejarah sebagai tempat wisata religi, yaitu Pura Giri Arjuno. Letaknya di lereng Gunung Arjuno, Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang atau sekira 15 kilometer dari pusat Kota Batu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Untuk mencapai pura terbesar di Kota Batu ini, Andabisa menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa angkutan umum. Tidak ada angkutan umum khusus yang langsung menuju ke tempat ini, bahkan bus pariwisata pun tidak bisa melewati rute yang didominasi jalanan rusak, berkelok, dan menanjak.&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Di sepanjang perjalanan, Anda akan disuguhi pemandangan pegunungan yang asri nan sejuk. Bersiaplah menemukan pepohonan apel dan sayur mayur, juga keramahan penduduk yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Tidak berhenti sampai di situ, di sekitar pura juga terdapat kebun dengan bermacam jenis bunga.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Bagi umat Hindu setempat, keberadaan Pura Giri Arjuno cukup istimewa karena menyimpan peristiwa sejarah besar.&nbsp; Pura ini dipercaya merupakan tempat petilasan Kerajaan Majapahit dengan wujud Candi Pawon. Dahulu saat Gunung Arjuno meletus, Candi Pawon dan pepohonan kina di sekitar pura terkubur.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Selain itu, meski berada di lereng pegunungan dengan kondisi jalan rusak, pura ini masuk kategori cukup mudah diakses. Menurut umat Hindu yang pernah berziarah, perjalanan demikian tidak terlalu berarti asalkan bisa bertemu Sang Hyang Widhi. Perjalanan bagian dari pengorbanan pada kehidupan duniawi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sebelum bersembahyang di Pura Giri Arjuno, umat Hindu sekitar Bumiaji dan Batu sering sembahyang di Pura Indrajaya, letaknya sekitar 3 kilometer dari Giri Arjuno. Sementara Giri Arjuno hanya digunakan sebagai tempat pertapaan tertentu. Usai&nbsp; dipugar dan diresmikan pada 2005, umat Hindu dari berbagai penjuru di Indonesia&nbsp; sering menyempatkan diri untuk berwisata religi di Giri Arjuno. Bukan sekadar sembahyang harian, mereka pun sering menggelar upacara adat. Baik <em>odalan</em>, galungan, kuningan, atau persembahyangan saat bulan purnama dan <em>tilem</em>.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Memasuki wilayah pura, pengunjung diwajibkan menggunakan <em>bebet</em> dan diciprat <em>tirta</em>. Ini adalah tanda bahwa pengunjung harus dalam keadaan suci dan bebas dari nafsu angkara. Wanita dalam keadaan menstruasi dilarang masuk karena dianggap kotor.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Ada tiga bangunan agung di bagian Pura Giri Arjuno selain Candi Bentar pemisah Nista dan Madya Mandala. Tiga bangunan agung tersebut hanya bisa dilihat secara tertentu oleh pengunjung yang mematuhi peraturan. Sebabnya, wilayah di dalam pura dikhususkan untuk peribadatan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tiga bangunan tersebut memiliki fungsi berbeda, yang terdapat di sisi kiri pengunjung digunakan sebagai penentu cuaca, sementara yang paling megah berada di tengah lengkap dengan payung berwarna kuning dan putih digunakan untuk menjaga ketentraman dan keselamatan bagi siapa saja yang bersembahyang di sana. Di sisi paling kanan, terdapat bangunan sebagai tempat datangnya Dewi Sri atau dewi keberuntungan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Berkunjung ke Giri Arjuno akan memiliki kesan tersendiri karena pura dibangun di antara masyarakat Bumiaji yang multireligi. Meskipun demikian, tidak pernah ada cerita penduduk berbeda agama berseteru hanya karena perbedaan keyakinan. Di sini toleransi umat beragama sangat kuat.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Jika Anda merasa lapar, jangan khawatir. Di sekitar pura juga terdapat warung yang menjual menu makanan dan minuman ringan.</p> <p style="text-align: left;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411664460.jpg" alt="" width="319" height="239" /></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Mendung:</strong><em>Di lereng Gunung Arjuno</em></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411726260.jpg" alt="" width="920" height="719" /></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Megah: </strong><em>Arsitektur megah dengan kekhasan pura</em></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411726408.jpg" alt="" width="734" height="979" /></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Suci: </strong><em>Tirta pembersih raga</em><strong></strong></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411726469.jpg" alt="" width="978" height="734" /></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Khas:</strong><em>Paduan megah, sakral, dan agung bangunan pura</em></p> <p style="text-align: justify;"><em><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1411726611.jpg" alt="" width="979" height="735" /></em></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Wajah Bandung yang Flamboyan adalah Wajah Wolff Schoemaker http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/323/wajah-bandung-yang-flamboyan-adalah-wajah-wolff-schoemaker <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/poi/Vila%20Isola%20IKIP.jpg" alt="Bandung" /></p> <p style="text-align: justify;">Seberapa dalam Anda mengenal Bandung maka wajah yang terpancar sejatinya itu adalah karya seorang arsitek bernama Wolff Schoemaker. Seorang pakar arsitektur asal Belanda, H.P. Berlage ketika melihat-lihat Kota Bandung bahkan mengutarakan bahwa &ldquo;<em>Bandung adalah kotanya Schoemaker bersaudara&rdquo;</em>. Itu tidaklah berlebihan karena memang Wolff Schoemaker dan kakaknya, yaitu Richard Leonard Arnold (R.L.A.) Schoemaker begitu terpandang dalam dunia arsitektur Hindia Belanda dengan banyak melahirkan karya monumental di beberapa kota terutamanya adalah di Bandung paling banyak.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Memiliki nama lengkap Prof. Ir. Kemal Charles Proper Schoemaker (1882-1949) merupakan arsitek yang melahirkan banyak karya indah dan megah di negeri ini terutama di rumah peristirahatan terakhirnya, yaitu Bandung. Schoemaker merancang banyak gedung di Bandung ketika kota ini bersolek hingga memikat banyak orang Eropa di Hindia Belanda ini untuk berplesir ke Kota Kembang. Jadilah Bandung dengan karya arsitertur Wolff Schoemaker sebagai kota berwajah Eropa dengan citarasa yang megah.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Karya-karya Wolff Schoemaker memiliki kualitas desain arsitektural megah memukau dan memberi manfaat besar karena terus digunakan meski sebagian di antaranya telah berubah fungsi. Bukan hanya mencipta gedung indah sarat fungsi tetapi juga berhasil menancapkan karyanya sebagai penanda fisik penting di Kota Bandung. Wolff Schoemaker pun telah berjasa bersama Thomas Karsten dan Henry McLaine Pont dalam banyak karya tulis dari hasil penelitian terkait kebudayaan Nusantara, termasuk arsitektur tradisional candi Nusantara. Karya Schoemaker telah membentuk kesatuan pandangan arsitektur yang memerhatikan potensi dan budaya setempat dimana itu tampak pada karyanya. Perhatikan lekuk detail karya Schoemaker yang tidak murni Eropa itu berbaur menyatu dengan pengaruh lokal menjadi karya baru yang indah mulai dari gedung pertemuan, hotel, gedung kantor, gedung komersial, masjid, gereja, rumah tinggal, penjara, hingga laboratorium penelitian. Tak pelak, karya Schoemaker itu telah melewati zamannya memberi arti akan keberadaan dari mana ia berasal dan dimana ia berkarya saat itu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Gedung Merdeka</strong> di Jalan Asia Afrika tidak jauh dari Alun Alun Kota Bandung adalah salah satu karya Schoemaker yang menyejarah. Gedung ini bukan saja indah tetapi sekaligus amat penting dalam menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di tahun 1955. Gedung Merdeka meski pada abad ke-19 mulanya digunakan sebagai gedung Societeit Concordia yaitu tempat perkumpulan orang-orang terkemuka Eropa namun Schoemaker telah berjasa merombaknya tahun 1930 dari idiom klasik ke alam nuansa arsitektur modern. Begitu pentingnya gedung bersejarah ini bagi Indonesia dan negara di Asia dan Afrika maka hingga kini tidak ada sedikit pun perubahan berarti dilakukan terhadapnya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Karya lain yang membuat jalinan simpul erat karya Schoemaker di kawasan Alun Alun Bandung adalah hadirnya <strong>Hotel Preanger</strong>. Meski sudah ada sejak tahun 1920 namun bangunannya yang sekarang merupakan hasil renovasi tahun 1929 oleh Schoemaker dibantu muridnya, Ir. Soekarno yang kemudian menghadirkan hotel paling eksotik pada masa kolonial di Jalur Anyer Panarukan yang melalui pusat Kota Bandung saat itu. Hotel Preanger tampil dengan motif geometrik yang secara dekoratif mengisi pada bidang dan pertemuan elemen bangunannya. Karya ini kemudian menjadi identitas tersendiri dengan sebutan <em>Art Decorative </em>(Art Deco). Hotel Preanger mengingatkan orang pada langgam seni dekoratif Frank Lloyd Wright awal 1920-an, terutama karya Imperial Hotel di Tokyo (1915-1925). Bisa dimungkinkan Schoemaker terimbas pengaruh maraknya langgam serupa di kota-kota Eropa tahun 1920-an karena ia pun pernah merancang dua bangunan komersial di Surabaya serupa, yaitu Kolonial Bank yang berlokasi Jalan Jembatan Merah dan Java Store di Jalan Tunjungan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Ada gedung lain karya Wolff Schoemaker di Bandung yang memukau terhimpit di antara empat jalan, yakni Jalan Banda, Jalan Menado, Jalan Blitar, dan Jalan Sunda. Gedung itu bernama <strong>Jaarbeurs de Bandung</strong>. Awalnya gedung yang dibangun tahun 1920 itu diperuntukkan demi keperluan pameran hasil industri organisasi pengusaha industri bernama Vereniging Nederland Indische Jaarbeurs de Bandung. Gedung dengan gaya modern tersebut kini masih indah bertahan meski berganti fungsi menjadi salah satu Markas besar Kodam III Siliwangi. Bila Anda perhatikan, gedung ini memiliki ciri berupa elemen dekoratif klasik tiga buah patung pria di bagian pintu masuk dan bangunan utama paling depan dekat gapura masih utuh sedari awal berdirinya. Bangunan gedung ini memiliki desain dan tata letak dengan menghadirkan banyak ventilasi untuk memasukkan cahaya dan udara alami yang tertata sangat baik.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Amati pula karya Wolff Schoemaker berupa masjid di Bandung, yaitu <strong>Masjid Cipaganti </strong>di Jalan Cipaganti. Bangunan masjid dari tahun 1933 ini memadukan unsur Jawa dengan Eropa. Unsur seni bangunan Jawa tampil dalam penggunaan atap tajug tumpang dua, empat saka guru di tengah ruang shalat, serta detail ornamen berupa bunga maupun sulur-suluran. Sementara nuansa Eropa hadir pada pemakaian kuda-kuda segi tiga penyangga atap dan penataan massa bangunan pada lahan &lsquo;tusuk sate&rsquo; antara Jalan Cipaganti dengan Jalan Sastra. Pola penataan bangunan seperti ini menjadikan masjid tersebut tampak paling menarik jika dilihat dari Jalan Sastra karena terbingkai deretan pepohonan sekaligus menunjukan Eropasentris yang merasuk dalam tata letak bangunan masjid di Jawa.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Seakan ingin menghadirkan keharmonisan religi yang heterogen, Wolff Schoemaker meletakan bangunan gereja tidak jauh dari Masjid Cipaganti, yaitu keberadaan <strong>Gereja Bethel </strong>yang menghadap Sythof Park Pieter (Taman Merdeka). Bangunan gereja ini lagi-lagi mengambil bentuk atap tajug Jawa serta sentral Palladian dengan menara sudut. Pintu utama gereja ini mengambil inspirasi gothik atau bisa pula mengingatkan bentuk Gereja Romanesk.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Apabila Anda pernah menyambangi <strong>Observatorium</strong> <strong>Bosscha </strong>(Bosscha Sterrenwacht)&nbsp; di Lembang, Bandung maka perlu tahu bahwa gedung tersebut juga dirancang Wolff Schoemaker. Bangunan yang berfungsi sebagai tempat peneropongan bintang itu merupakan yang tertua di Indonesia bahkan Asia. Bentuknya yang unik dan dapat terbuka atapnya memang sejak awal difungsikan untuk kepentingan pengembangan ilmu astronomi oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV). Hingga kini fungsi bangunan ini selain menjadi rujukan astronomi di Indonesia juga kerap menjadi tujuan edukasi wisata di Bandung.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Karya lain dari Wolff Schoemaker yang paling indah adalah dua villa di Bandung, yakni Villa Merah dan Villa Isola. <strong>Villa Merah</strong> berlokasi di Jalan Tamansari dan merupakan rumah tinggal pertama Schoemaker. Bangunannya sangat menonjol memadukan seni bangunan Eropa dengan Indonesia yang beriklim tropis panas dan lembab. Material bangunannya dipaparkan terbuka sehingga warna merah mendominasi hampir seluruh bangunan kecuali atap yang menjulang dan menjadikan vila ini begitu unik karena tanpa padanan. Sementara itu, <strong>Villa Isola</strong> merupakan bangunan megah bergaya arsitektur modern yang dianggap berhasil menyatukan bangunan dengan lingkungannya. Tidak itu saja, hunian yang dibangun tahun 1933 ini merupakan contoh perpaduan serasi antara seni bangunan corak Barat dan Nusantara. Tata letak bangunan indah ini mengikuti sumbu utara-selatan dengan taman memanjang menuju arah Gunung Tangkuban Perahu. Kesatuan bangunannya adalah bentuk geometri yang meliuk-liuk plastis dengan ornamen garis-garis <em>moulding</em> dengan memanfaatkan efek gelap-terang sinar Matahari. Berada di Bandung Utara, bangunan di dataran tinggi ini menyajikan pemandangan ke utara yakni Gunung Tangkuban Perahu dan ke selatan ke arah Kota Bandung. Hebatnya adalah pemandangan tersebut dapat dinikmati dari berbagai sudut seperti ruang tidur, keluarga, makan, dan terutama teras atau balkon. Villa Isola yang berlokasi di Jalan Setiabudi itu kini menjadi gedung rektorat Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Villa Isola merupakan salah satu karya puncak Wolff Schoemaker karena perancangannya banyak disebut banyak arsitek cocok dengan jiwanya yang penuh romantisme dan petualangan. Villa Isola juga merupakan salah satu karya arsitektur modern gaya Art Deco yang berhasil di dunia.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Selain gedung pertemuan, hotel, kantor, dan villa, Wolff Schoemaker juga merancang desain bangunan <strong>Penjara Sukamiskin</strong>. Bangunan penjara yang dibangun tahun 1918 ini mulai digunakan sejak 1924 dan berlokasi di Jalan Cicaheum-Ujung Berung. Bangunan arsitekturnya adalah modern dua lantai dengan kapasitas 547 penghuni. Sekilas, penjara ini mirip dengan Alcatraz di tengah Teluk San Fransisco, California, Amerika Serikat. Komplek Penjara Sukamiskin berdiri di atas lahan seluas 6 hektare, meliputi empat hektare untuk perkantoran dan kamar hunian yang terbagi atas empat blok, yakni, barat, timur, utara, dan selatan. Cerita tersendiri bagi Schoemaker dan kontraktornya, yaitu Lim A Goh, bahwa keduanya sempat dipenjarakan di situ saat masa Pendudukan Jepang.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Semua gedung karya Wolff Schoemaker telah tercatat sebagai warisan cagar budaya di Bandung saat ini. Peruntukannya memang telah beralih fungsi namun keindahan dan jiwa karya yang ingin ditampilkan sang perancang flamboyan itu tetap melekat erat bersama tumbuhnya Bandung sebagai kota metropolitan. Saat ini gedung-gedung tersebut selain menjadi tempat tujuan wisata sejarah dan juga menarik minat fotografer untuk menjadikannya latar foto pernikahan atau pemotretan model.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Seorang Muslim yang Flamboyan</strong></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Saat ini memang tidak mudah memperoleh informasi sejarah tentang sosok Wolff Schoemaker selain jejak karya arsitektur di Bandung. Hal utama penyebabnya adalah hilangnya data-data tersebut pada masa Pendudukan Jepang dan berlanjut Agresi Militer Belanda I dan II. Sejumlah informasi terkait sosok Wolff Schoemaker mungkin bisa diperoleh dari buku &ldquo;<em>Tropical Modernity; The Life &amp; Work of C.P. Wolff Schoemaker</em>&rdquo; karya C.J. van Dullemen. Sang penulis menuturkan bahwa informasi terkait Wolff Schoemaker itu banyaknya mengandalkan ingatan dari mantan mahasiswa, dosen, dan professor saat aktif mengajar di Technische Hoogeschool (ITB).</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Wolff Schoemaker lahir dengan nama lengkap Charles Prosper Wolff Schoemaker di Banyubiru, Semarang, Jawa Tengah, pada 25 Juli 1882. Ia awalnya menjalani pendidikan Akademi Militer di Belanda hingga lulus dengan pangkat letnan zeni militer namun sekembalinya di Hindia Belanda tahun 1905, Wolff Schoemaker justru bekerja sebagai arsitek militer untuk Pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1911 ia keluar dari dinas militer dan dua tahun kemudian bekerja sebagai insinyur teknik pada Dienst Burgerlijk Openbare Werken (Dinas Pekerjaan Umum Batavia). Saat menjabat sebagai direktur di Gemeentewerken Batavia diketahui ia menjadi seorang Muslim.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Wolff Schoemaker sempat menjadi guru Soekarno kala belajar di Technische Hogeschool. Wolff Schoemaker yang seorang Muslim bahkan menyarankan mantan muridnya itu dimana kemudian menjadi presiden pertama Indonesia agar mengarahkan republik yang baru berdiri tersebut menjadi Kesultanan Indonesia Islamiyah. Itu karena dalam pandangan Schoemaker sistem demokrasi dari Barat tidak tepat untuk dijalankan di Nusantara. Beberapa pandangannya mengenai Islam sempat dituangkannya melalui tulisan yang diterbitkan tahun 1937 dalam koleksi essay berjudul &ldquo;<em>Cultuur Islam</em>&rdquo;.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Mengenal sosok Wolff Schoemaker sangat menarik hingga pada pilihannya menjadi seorang Muslim. Nama &lsquo;Kemal&rsquo; yang dilekatkan padanya disebut beberapa kalangan adalah gelar yang diberikan rekan-rekan sesama Muslim saat ia memilih mengkonversi agamanya menjadi Islam. Wolff Schoemaker adalah seorang Muslim yang aktif dalam kegiatan Islam, diantaranya menjabat wakil ketua kelompok Western Islamic Association di Bandung dan bergabung dalam organisasi Persatoean Oemmat Islam setelah masa Perang Kemerdekaan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tahun 1938 Wolff Schoemaker mendapatkan tugas untuk menggantikan kakaknya, Richard Schoemaker, sebagai pengajar di Techincal University di Delft. Dalam perjalanan menuju Belanda itu Wolff berkesempatan untuk mampir dan tinggal di Kairo, Mesir. Setelah berada di Belanda, tahun 1938 Wolff Schoemaker memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Akhir tahun 1939 Wolff kembali ke Bandung dan melanjutkan tugasnya sebagai professor di Technische Hoogeschool (ITB).</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sebagai pengajar senior, Wolff Schoemaker disegani mahasiswa Indonesia karena ketegasannya sementara di kalangan mahasiswa Belanda dan orang Eropa mereka masih tidak dapat memahami pilihan Wolff Schoemaker berpindah agama menjadi Islam. Wolff Schoemaker menyatakan bahwa karakter humanis dan toleran dalam Islam memberikan peluang bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Itulah yang membuat Wolff Schoemaker merasa cocok dengan pilihannya. Wolff Schoemaker merupakan figur yang sangat terbuka terhadap ilmu pengetahuan dengan karakter unik meski tidak mudah dipahami lingkungannya saat itu. Tidak mudah pula untuk dapat berteman dengannya karena menilainya sebagai seorang temperamental namun sekaligus flamboyan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Fakta unik tentang Wolff Schoemaker adalah meski kegiatannya sebagai Muslim cukup menonjol namun dari empat kali pernikahannya ia tidak pernah menikahi wanita Muslim. Anehnya juga sebagai seorang Muslim saat ia wafat pada usia 66 tahun (22 Mei 1949) ia oleh keluarganya dimakamkan di TPU Kristen Ereveld Pandu Bandung. Prof. Ir. Kemal Charles Proper Schoemaker memang hidup dari masa Pemerintahan Hindia Belanda namun ia hampir sepenuhnya mencintai negeri ini dan kota yang dibinanya, yaitu Bandung. Bukan hanya karena ia menjadi Muslim dan mendukung pergerakan kemerdekaan tetapi juga karena ia memang peranakan Indo-Belanda.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Hal yang perlu menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung terhadap arsitek sarat jasa ini adalah mengapa ia tidak memperoleh penghargaan sama sekali meski hanya menjadi nama jalan di kota tersebut. Padahal jelas berkat karya Wolff Schoemaker Bandung memiliki banyak ikon gedung dan bangunan yang mampu menjadi penanda fisik kota yang mendunia. (HIM)&nbsp;</p> <pre>&nbsp;</pre> Istana Sayap Pelalawan http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/320/istana-sayap-pelalawan Istana Sayap merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Islam tempo dulu di Riau. Istana ini terdapat di kelurahan Pelalawan kecamatan pelalawan kabupaten Pelalawan provinsi riau. Istana Sayap awalnya dibangun oleh Sultan Pelalawan ke 29, yakni Tengku Sontol Said Ali (1886-1892 M).  Sebelum bangunan itu selesai beliau mangkat dan diberi gelar Marhum Mangkat di balai. Selanjutnya pembangunan Istana diteruskan sampai selesai oleh pengganti beliau yakni Sultan Syarif Hasyim II ( (1892- 1930M).   Pada awalnya Pusat Kerajaan Pelalawan berada di Sungai Rasau (anak Sungai Kampar), berlokasi di Kota Jauh dan Kota Dekat. Ketika Tengku Sontol Ali menjadi Sultan Pelalawan, belaiu berazam memindahkan Istananya dari muara Sungai Rasau ke pinggir Sungai Kampar, tepatnya di muara sungai Rasau yang disebut' Ujung Pantai',karena itu Istana sebelumnya dinamakan Istana Ujung Pantai. Namun ketika Sultan Syarif Hasyim II melanjutkan pembangunan Istana yang  melanjutkan pembangunan Istana yang sedang terbengkalai karena mangkatnya Tengku Sontol Ali,maka beliau membangun dua sayap disamping kanan dan kiri Istana yang dijadikan balai. Maka Istana inipun dinamakan "Istana Sayap" Bangunan disebelah Kanan Istana (sebelah hulu) disebut "Balai Sayap Hulu"yang berfungsi sebagai Kanor Sultan, dan bangunan disebelah kiri istana (sebelah hilir) dinamakan "Balai Hilir"  yang berfungsi sebagai Balai Penghadapan bagi seluruh Rakyat Pelalawan.  Isana ayap pelalawan   Sekitar tahun 1896 bangunan Istana Sayap selesai seluruhnya, dan  Sultan Sharif Hashim II  berpindah dari Istana kota Dekat di Sungai Rasau ke Istana Sayap di Ujung Pantai. Sejak itu, pusat pemerintahan  Kerajaan pelalawan menetap di pinggir sungai Kampar yang sekarang  menjadi Desa pelalawan dan menjadi Ibu Kota Kecamatan Pelalawan. Untuk mengenang jasa Sultan Syarif Hasyim II yang memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Pelalawan dari Sungai rasau ke pinggir Sungai Kampar ketika mangkatnya beliau di beri gelar MARHUM KAMPAR II. Di Istana Sayap,bangunan induk adalah tempat Sultan beserta Keluarga dan orang-orang yang bertugas disana. Di bangunan ini pula terdapat Ruang Penghadapan, bilik tidur, dan ruangan anjungan yang diisi dengan segala alat perlengkapan Kerajaan. Menyatu dengan bangunan induk,disebelah depan terdapat ruang selasar dalam dan selasar luar untuk tempat menghadap rakyat dan Orang-orang besar Kerajaan. Dibagian belakang bangunan Induk ada ruangan telo, dan dibelakangnya lagi ada ruangan Penanggah,tempat kegiatan pekerja rumah tangga Istana dan kelengkapan jamuan dan sebagainya.  Bangunan Induk mencerminkan Sultan, sebagai 'induk' dari  rakyatnya., sesuai dengan ungkapan adat yang mengatakan : 'yang ayam ada induknya yang serai ada rumpunnya yang sungai ada guguknya yang keris ada hulunya yang tombak ada gagangnya yang rumah ada tuannya yang kampong ada penghulunya yang negeri ada rajanya   ISTANA SAYAP PELALAWAN                                             Filosofi Istana SayapDahulu setiap bangunan dirancang secara cermat, disempurnakan dengan berbagai simbol dan maknan,agar memberikan kenyamanan,kesejahteraan dan manfaat yang besar bagi penghuni dan pemiliknya. Acuan ini menyebabkan pembangunan Istana Sayap dirancang dengan berbagai pertimbangan, sehingga terwujudlah tiga bangunan. Bangunan pertama adalah Bangunan Induk, sedangkan bangunan kedua dan ketiga adalah bagian yang teerletak disamping kanan dan kiri yang dinamakan Sayap kanan dan Sayap Kiri.   Di dalam Budaya Melayu Riau,khususnya di Kerajaan Pelalawan,setiap bangunan resmi terdiri dari bangunan induk dan bangunan lainnya, yang lazim disebut bangunan anak atau bangunan sayap. Bila letaknya kebelakang atau kemuka dan menyatu dengan bangunan induk lazimnya disebut bangunan anak (selasar depan,selasar belakang, selasar dalam, selasar luar,selasar jatuh,selasar gajah menyusur dan sebagainya). Bila bangunan itu berada agak etrpisah dan terletak simitris sebelah kanan dan kiri bangunan induk disebut sayap. Pembagian tata ruangan diatur menurut ketentuan adat yang berlaku,sehingga siapapun yang masuk ke bangunan itu akan tahu dimana ia duduk dan dimana ia berdiri, sesuai dalam ungkapan adat dikatakan sebagai berikut : "Adat masuk kerumah orang  Tahu duduk dengan tegaknya Tahu susun dengan letaknya Tahu atur dengan haknya Tahu alur dengan patutnya" Bangunan anak yang disebut sayap dibuat khusus dengan ukuran dan bentuk yang sama. ketentuan ini mencerminkan kehidupan yang seimbang dan setara,adil dan tidak berat sebelah. Didalam ungkapan adat dikatakan : " Rumah induk ada anaknya Anak di kanan anak di kiri Anak dibuat sama setara Sama bentuk dengan ukurnya Sama jauh dengan dekatnya Sama padam dengan takahnya Tanda adil sama dijunjung Tanda menimbang sama berat Tanda mengukur sama panjang Tanda menyukat sama penuh Tanda berlaba sama mendapat Tanda hilang sama merugi Tanda berat sama dipikul Tanda ringan sama dijinjing Tanda ke laut sama berbasah Tanda ke darat sama berkering Tanda senasib sepenanggungan Tanda seaib sama semalu " SAYAP ISTANA SAYAP PELALAWAN         Di dalam menentukan fungsi bangunan,maka bangunan induk tetap dijadikan teraju dan pucuk dari sedmua aktivitas dan makna didalam kerajaan itu. Di dalam ungkapan adat dikatakan :   'Di dalam bangunan induk Terkandung tuah dengan marwah Terkandung petuah dengan amanah Terkandung janji dengan sumpah Terkandung daulat dengan martabat Terkandung maknan dengan hakikat Terkandung kasih dengan sayang Terkandung beban berkepanjangan Terkandung hutang tak berkesudahan Hutang ke Allah hutang ke rakyat Hutang tak dapat dibelah bagi Hutang tak dapat diingkar-ingkari Hutang amanah menembus sumpah Di dalam memfungsikan bangunan sayap,ditetapkan bahwa sayap kanan sebelah hulu dijadikan kantor sultan, sesuai dengan ungkapan adat : "Yang raja memegang hulu Hulu bicara hulu rundingan Hulu petuah hulu amanah Hulu titah membawa berkah Hulu nasehat membawa berkat "Di sayap kanan raja duduk Mencari runding pada yang elok Di sana yang kusut diselesaikan Di sana yang keruh dijernihkan Di sana  yang bengkok diluruskan Di sana yang salah dibetulkan Di sana  yang kesat diampelas Di sana berbongkol sama ditarah Di sana  yang sumbang diperbaiki Di sana yang janggal dielokkan Disana hukum ditegakkan " PENDOPO ISTANA SAYAP PELALAWAN Bangunan sayap sebelah kiri bangunan induk,yakni sebelah hilir dijadikan tempat menghadap rakyat kerajaan. Sesuai dengan ungkapan adat : ' Yang rakyat memberi ingat Memberi bakti serta pendapat Memberi setia serta amanat Supaya berjalan tak salah langkah Supaya bercakap tak salah ucap Supaya memerintah tak salah titah Supaya berjalan tak salah pedoman Supaya berlayar ke arah yang benar Disana tangan bebas melenggang Disana kaki bebas melangkah Disana lidah bebas bercakap Disana janji sama diikat Disana amanah dipegang erat " Selain itu simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai luhur dan budaya tercermin pula dalam berbagai ornament dan sebagainya yang intinya mengacu pada keutamaan raja dan rakyatnya yang hidup tersebati,menyatu bagaikan mata putih dan mata hitam, sehingga rusak yang putih binasa yang hitam, dan rusak yang hitam binasa yang putih/ Bersebatinya pemimpin dengan rakyatnya,serta mewujudkan kehidupan yang sejahtera lahiriah dan batiniah. Festival Lampu Colok Pelestarian Kearifan Lokal Budaya Melayu http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/319/festival-lampu-colok-pelestarian-kearifan-lokal-budaya-melayu Colok dalam bahasa melayu berarti  alat penerang, masyarakat melayu memberi nama colok itu dengan sebutan “pelite” atau “pelito” yakni sejenis lampu teplok yang menggunakan sumbu kompor memakai minyak tanah sebagai bahan bakar penerangnya.     Lampu colok merupakan lampu tradisonal yang biasa dipakai dipakai untuk menerangi kegelapan di daerah Pedesaan. bahan lampu colok ini bisa terbuat dari bambu, seperti obor. Ada juga kaleng atau botol bekas minuman yang dibuat seperti lampu senter. Setelah itu di isi dengan minyak tanah untuk menyalakan sumbu yang terpasang di tengahnya. Di daerah Riau Pesisir, sehari-hari Colok  digunakan sebagai alat penerangan yang diletakkan didepan pintu rumah, dan berguna menemani disaat anak-anak pergi mengaji dan belajar didalam kegelapan malam, penerangan colok ini sangat berguna disaat aktivitas masyarakat berada diluar terutama bagi nelayan yang akan pergi melaut. Seorang warga yang berusaha untuk menyalakan Lampu Colok Nyala Api Lampu Colok Salah satu Lampu Colok yang berbentuk Mesjid Seiring dengan berjalannya waktu, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi turun temurun, masyarakat Melayu terutama menjelang penghujung bulan Ramadhan menggunakan penerangan colok ini sebagai hiasan didepan rumah,terutama dalam menghadapi malam lailatul qadar, aneka bentuk colok yang dibuat masyarakat dengan menggunakan bahan kaleng minuman bekas, botol kaca minuman, bambu yang diberi sumbu sampai dengan colok yang dibuat khusus seperti tabung menggunakan bahan baku seng dan alumunium.           Tarian Senandung Syukur Seribu Bulan sebagai Tari Pembukaan Festival Lampu Colok Tahun 1432H di Lapangan Bukit Senapelan Pekanbaru       Bentuk Model Colok yang telah dimodifikasi   Festival Lampu Colok ini dapat di jumpai,diseluruh daerah di Provinsi Riau, di Pekanbaru tahun 2011 atau 1432 Hijriah ini Festival lamu colok dipertandingkan antar Kecamatan se Pekanbaru, dan pembukaanya di lakukan pada malam 27 Ramadhan bertempat di Lapangan Bukit Kecamatan Senapelan. Festival lampu Colok merupakan khasanah warisan Budaya tempo dulu yang bertahan hingga sekarang. Dan Kini Festival Lampu Colok telah menjadi agenda Wisata bagi beberapa Kabupaten dan Kota di Provinsi Riau. Candi Muara Takus http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/318/candi-muara-takus SEJARAH CANDI MUARA TAKUS     Di Daerah riau banyak terdapat peninggalan Sejarah dan Purbakala,salah satunya terdapat di Muara Takus Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten kampar.  Desa Muara Takus terkenal baik didalam negeri maupun di luar negeri khususnya di Asia karena adanya Gugusan Candi Muara Takus. Menurut pengembara china I-Tsing  Candi Muara Takus tidak terlepas dari Sriwijaya dan ia menyebutkan bahwa ibukota Sriwijaya berada disuatu tempat dimana pada tengah hari tidak terlihat bayangan seseorang yang berdiri. Penampakan Candi Tua dan Candi Mahligai di Gugusan Candi Muara Takus   Candi Muara Takus ditemukan pada tahun 1860 oleh Cornet De Groot, hasil penemuannya dituangkan dalam sebuah tulisan yang berjudul "KOTO CANDI", tulisan tersebut dimuat dalam "Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde". Candi Tua, merupakan Candi terbesar di Gugusan candi Muara Takus kemudian setelah ditemukannya Candi Muara Takus dan setelah literatur dari Cornet De Groot dipublikasikan banyak peneliti dari luar negeri yang melakukan penelitian mengenai Muara Takus diantaranya ada G DU RUY VAN BEST HOLLE, W.P. GRONEVELD, R.D.M VERBEEK dan E.TH. VAN DELDEN, J.W. YZERMAN, DR. F.M. SCHNITGER, BOSCH, BENET KEMPERS dan lain lain dan sebagian besar dari hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa sesunggugnya Sriwijaya berada di Muara Takus dan bukan berada di Sumatera Selatan. Candi Mahligai         ASAL MUASAL NAMA MUARA TAKUS     Muara Takus berasal dari nama sebuah anak sungai yang bermuara ke Batang Kampar Kanan. Menurut Duta Besar Singapura yang pernah berkunjung k Muara Takus pada tahun 1977 menyatakan bahwa Muara takus terdiri dari dua kata yaitu "Muara" dan "Takus", menurut pendapatnya "Muara" berarti tempat dimana sebuah sungai mengakhiri alirannya ke laut atau sungai yang lebih besar, sedangkan "Takus" berasal dari Bahasa China yang artinya : TA = besar, KU = Tua, SE = Candi. Jadi arti keseluruhannya  adalah Candi Tua yang besar yang terletak di Muara Sungai Candi Bungsu   LETAK GUGUSAN CANDI MUARA TAKUS Candi Muara Takus Candi adalah candi Budha yang terletak di Kecamatan XIII Koto kampar Kabupaten kampar Provinsi Riau. Muara Takus ini jaraknya lebih kurang 150kilometer  dari kota Pekanbaru.  Candi Palangka   Gugusan Candi Muara Takus terletak di garis Khatulistiwa 0"21 Lintang Utara dan 100"39 Bujur Timur. Gugusan Candi ini dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari batu putih yang berukuran 74meter x 74 meter dan terletak di pinggir jalan Desa Muara takus dan Desa tanjung. Dalam kompleks ini terdapat bangunan Candi yaitu Candi Mahligai,Candi Palangka, Candi Bungsu, Candi Tua, Tanggul Kuno, dan beberapa bangunan lainnya.     Candi Tua dan Candi Bungsu pada Gugusan candi Muara Takus.  Arsitektur bangunan Candi Muara Takus Arsitektur Bangunan Candi Muara Takus dapat dikatakan merupakan bangunan yang bersifat Budha karena adanya stupa, Stupa merupakan lambang dari Budha Gautama.  Tetapi jika dilihat dari salah satu Bangunan di Gugusan Candi Muara Takus yaitu Candi Mahligai,maka Candi Muara Takus juga dapat dianggap merupakan Candi di masa peralihan Ciwaitis ke Budha,karena adanya lambang Pallus dan Yoni serta bentuk Candi Mahligai yang seperti Menara.   Arsitektur Bangunan Candi Muara Takus memiliki persamaan dengan Bangunan Candi Acoka di India, dan juga memiliki persamaan dengan Candi yang ada di Myanmar.    Gugusan Candi Muara Takus terdapat beberapa Bangunan Candi diantaranya Candi Mahligai, Candi Palangka, Candi Bungsu, Candi Tua, dan beberapa bangunan lainnya yang berupa onggokan tanah yang diyakini dulunya merupakan tempat pembakaran jenazah, dan juga terdapat pagar yang mengelilingi Candi seluas 74 meter x 74 meter.   Sekitar 8km, dari Candi Muara Takus terdapat sebuah Desa yang bernama Desa Pongkai,menurut cerita rakyat setempat,batu bata yang digunakan untuk membangun Candi Muara Takus dibat di Desa Pongkai. Desa Pongkai atau Pongkai berasal dari bahasa China yang bermakna Lubang Tanah "Pong" berarti lubang dan "Kai" berari tanah. Di Desa Pongkai terdapat lubang tanah yang luas yang diperkirakan merupakan tempat pengambilan tanah untuk dijadikan Batu Bata Candi Muara Takus Batu bata yang telah dibuat di Desa Pongkai pada awalnya dibawa atau diangkut melalui sungai ke Muara Takus, namun kemudian batu bata ini diangkut secara beranting yaitu menggunakan tenaga manusia yang berbaris dari Pongkai ke Tempat Pembuatan Candi Muara Takus, batu bata ini diangkut secara beranting yang memerlukan tenaga manusia yang banyak mengingat jaraknya 8km.        CANDI MAHLIGAI Candi Mahligai ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10,44M x 10,60M , tingginya sampai kepuncak 14,30M berdiri diatasnya pondamen segi delapan dan bersisikan 28 buah pada alasnya terdapat teratai berganda.                                             Candi Mahligai   Ditengahnya menjulang menara, diatas puncaknya diperkirakan ada makarel, namun Cornet de Groot sang penemu Candi Muara Takus tidak menemukan makarel tersebut. Pada tahun 1860 Cornet de Groot menatakan disetiap sisin Candi Mahligai terdapat patung singa dengan posisi duduk,disebelah timur terdapat teras bujur sangkar ukuran 5,10 Meter x 5,10 Meter dan didepannya terdapat sebuah tangga.       CANDI PALANGKA   Bangunan ini terdiri dari Batu Bata merah yang dicetak, letaknya 3,85 meter sebelah Timur Candi Mahligai, candi palangka merupakan Candi Terkecil. Candi ini berbentuk segi delapan, dan memiliki tangga, pada saat ditemukan tahun 1860 Candi ini dalam keadaan rusak dan bagian puncaknyapun sudah tidak ada.                                                  Candi Palangka     CANDI BUNGSU   Candi Bungsu terletak di sebelah Barat Candi Mahligai. Bangunannya terbuat dari dua jenis batu yaitu Batu Pasir (tuff) dibagian depan, dan batu bata dibagian belakang. Dulunya di Candi Bungsu ini terdapat 8 buah Stupa Kecil yang mengelilingi Stupa besar.         Candi Tua dan Candi Bungsu pada Gugusan candi Muara Takus.         CANDI TUA   Merupakan candi terbesar di Gugusan Candi Muara Takus, candi ini terletak di sebelah utara Candi Bungsu, candi ini berukuran 32,8M x 21,8M. Pada sisi sebelah timur dan barat terdapat tangga dan dulunya dihiasi oleh stupa dan pada sisi bagian bawah dulunya terdapat patung singa duduk. Saat ini patung singa duduk,maupun stupa kecil serta bangunan lainnya sudah banyak yang hilang. ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC) - Karnaval Tahunan Kota Jember Dengan Catwalk Terpanjang di Dunia http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/309/artechsion-jember-fashion-carnaval-jfc-karnaval-tahunan-kota-jember-dengan-catwalk-terpanjang-di-dunia <p>Tahun ini, kembali, warga Jember punya gawe. Bertajuk ARTECHSION- Art meet Technology and Illusion, Jember Fashion Carnaval atau yang lebih dikenal dengan JFC, menampilkan talent-talent baru dalam balutan busana bertema defile antara lain tema Tibet, Betawi, Bamboo,Artdeco,Octopus, Canvas, Tribe, Spider dan Venice. JFC tahun ini diselenggarakan pada tanggal 23 - 25 Agustus 2013. Serangkaian acara dibuka dengan Painting Exhibition, Photo Exhibition dan Culinary Exhibition yang digelar mulai tanggal 20 - 25 Agustus 2013. JFC show Time dimulai pada tanggal 23 Agustus 2013 bertema Kids Carnival, lalu tanggal 24 Agustus 2013 dengan tema Art Wear Carnival yang keduanya bertempat di pusat alun-alun kota Jember. Dan yang paling ditunggu adalah tanggal 25 Agustus 2013 sebagai puncak Grand Carnival, ketika seluruh talent Dynan Fariz, pencetus JFC, berparade dengan catwalk terpanjang di dunia yakni di sepanjang jalan utama di Kota Jember.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img style="font-size: 11px;" title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b48cd9ec7.jpg" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" width="600" height="400" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b559c1f50.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b588ab529.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" width="333" height="500" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b5d807530.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" width="400" height="400" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b6155d373.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b659e8113.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b67c7414a.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b6b045545.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b6d19b25f.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" width="400" height="400" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b7060238b.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b73c4af0c.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" width="333" height="500" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b79fe63f9.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228b7ee43f7b.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" width="333" height="500" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228ba907c708.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" width="500" height="500" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228bc80225cc.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228bcd226dca.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" width="400" height="600" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228bd12c8613.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" width="400" height="600" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228bd9c67b4c.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" width="400" height="600" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5228bf2b959f6.png" alt="ARTECHSION Jember Fashion Carnaval (JFC)" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> Menyibak pesona keindahan telaga Menjer http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/306/menyibak-pesona-keindahan-telaga-menjer <p style="text-align: justify;">Telaga menjer adalah salah satu tempat wisata menarik di Wonobo yang merupakan danau Vulkanik di daerah tinggi pegunungan Dieng. Air yang tenang, udara yang sejuk serta deretan pohon di sekitar telaga menambah pesona keindahan yang mampu membius wisatawan yang mengunjunginya. Tempatnya yang jauh dari keramaian menawarkan ketenangan sendiri dan bisa dijadikan salah satu tempat untuk melepas lelah dan menyegarkan kembali fikiran.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Disebut Telaga Menjer karena telaga ini terletak di desa Menjer, kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo. Lokasinya berada 12 km dari kota Wonosobo. Perjalanan menuju Telaga Menjer menawarkan pesona alam yang luar biasa, lengkap sudah Maha Karya ciptaan-Nya. Jalan berkelok dan berliku menjadi ciri khas daerah pegunungan yang memberikan sensasi tersendiri.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Dengan tarif masuk yang sangat murah, hanya Rp.3000 per orang mungkin tak sebanding dengan keindahan yang ditawarkan. Begitu memasuki kawasan telaga, kita akan bertanya &ldquo;dimana letak telaganya &rdquo;. Jangan khawatir, telaga menjer memang tidak langsung terlihat begitu saja saat pertama memasuki kawasan tersebut, karena ia berada di bawah tebing yang mengharuskan para pengunjung menuruni tangga untuk sampai di telaga.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Berbagai pilihan tersedia, mulai dari sekedar duduk-duduk ditepi telaga, atau mengelilingi indahnya telaga dengan menyewa perahu motor yang tersedia. Bagi mancing mania, telaga ini juga bisa dijadikan pilihan sebagai wahana untuk menyalurkan hobi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: left;">Mari belajar mencintai Indonesia dengan mengunjungi tempat wisata menarik lainya di pelosok negeri. Selamat Jalan-Jalan.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/52231251d5acf.jpg"><img src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/52231251d5acf.jpg" alt="" width="2048" height="1536" /></a></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/522312f773e06.jpg"><img src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/522312f773e06.jpg" alt="" width="2048" height="1536" /></a></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5223139069a60.jpg"><img src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5223139069a60.jpg" alt="" width="2048" height="1536" /></a></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/522313ded788f.jpg"><img src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/522313ded788f.jpg" alt="" width="2048" height="1536" /></a></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5223143b4ed77.jpg"><img src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5223143b4ed77.jpg" alt="" width="2048" height="1536" /></a></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5223151698da3.jpg"><img src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5223151698da3.jpg" alt="" width="2048" height="1536" /></a></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/522315e579f4f.jpg"><img src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/522315e579f4f.jpg" alt="" width="1536" height="2048" /></a></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/522316c4021d4.jpg"><img src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/522316c4021d4.jpg" alt="" width="2048" height="1536" /></a></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/522318a42b733.jpg"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/522318a42b733.jpg" alt="" /></a></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Koffie Fabriek Aroma Bandoeng: Tegukan Kopi Legendaris Nusantara Berkualitas Dunia http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/322/koffie-fabriek-aroma-bandoeng-tegukan-kopi-legendaris-nusantara-berkualitas-dunia <blockquote> <p align="center"><strong><em><br />Apakah Anda percaya bahwa pemilik kedai kopi dunia Starbucks, yaitu Howard Schultz pernah datang jauh-jauh ke Bandung dari Seattle, Amerika, hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya terhadap kenikmatan kopi legendaris Nusantara ini!</em></strong></p> <p><em>&nbsp;</em></p> </blockquote> <p>Bukan cafe atau pun kedai kopi! Orang mungkin juga tidak akan mengira tempat ini masih bertahan di tengah hiruk pikuk kota Bandung. Di antara <em>berseliwernya</em> kabel tiang listrik dan penjual kaca lampu mobil bekas warna warni, di situ masih bertahan dengan bersahaja pabrik sekaligus toko kopi legendaris Nusantara. Namanya adalah, <strong>Koffie Fabriek Aroma Bandoeng!</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p align="center">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337668536.jpg" alt="Dinding tua Koffie Aroma" width="933" height="622" /></p> <p align="center">Dari tulisan di dinding yang usang itu nampak jelas usianya sudah cukup tua.</p> <p align="center">&nbsp;</p> <p><em>&ldquo;Paberik Kopi&rdquo; </em>itulah yang tertulis di tembok putih usang bagian atas bangunan langgam Art Deco di Jalan Banceuy 51, Kota Bandung. Wilayah ini dulunya memang Pecinan China dan salah satu dari pusat niaga tertua di Bandung. Bertanyalah pada tukang parkir atau orang yang Anda temui di jalanan sekitar maka mereka langsung akan menunjukan arahnya kepada Anda.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Pagi hari pukul 06.00 WIB, <strong>Widya Pratama Tanara</strong> sudah bergegas memeriksa mesin kopi di pabriknya yang berumur sekira 80 tahun. Ia meneruskan tongkat estafet usahanya tersebut dari sang ayah, <strong>Tan Houw Sian</strong>. Berkunjunglah ke sini dan resapi salah satu contoh nyata filosofi dan tradisi bisnis Tionghoa, yaitu <em>&ldquo;Orang tua yang merintis dan sang anak yang mengembangkan&rdquo;.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><strong>Pakaian warna coklat yang dikenakan Pak Widya dan karyawannya serasi dengan warna kopi yang digiling bersama kepul asap beraroma legit. Percayalah nikmat sekali wanginya!</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Koffie Fabriek Aroma Bandoeng dijalankan bukan saja &lsquo;<em>dilakukan dengan baik&rsquo;</em> &nbsp;tetapi juga &lsquo;<em>dilakukan dengan benar&rsquo;</em>. Apa yang menjadikan Koffie Fabriek Aroma Bandoeng begitu digemari dan bertahan selama puluhan tahun </p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><strong>Rahasianya perlu Anda maknai dengan hati dan kesabaran. Mengapa demikian </strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Itu karena memang Koffie Fabriek Aroma Bandoeng mempertahankan proses pengolahan kopi kualitas tinggi secara konsisten selama puluhan tahun. Percaya atau tidak Koffie Fabriek Aroma Bandoeng dalam tiap bungkusnya adalah kopi yang sebelumnya disimpan selama bertahun-tahun. Untuk sebuah kopi mokka arabika maka itu disimpang selama 8 tahun dan kopi robusta disimpan selama 5 tahun. Setelah masa yang cukup lama tersebut barulah kopi diolah dalam beberapa tahapan lalu diteguk setiap hari oleh penikmatnya.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Tujuan penyimpanan kopi dalam waktu lama ini adalah agar tingkat keasaman dan kadar kafein bisa berkurang atau hilang sehingga setiap orang yang meminumnya tidak akan bermasalah dengan ketidaknyamanan perut. Kopi yang berkualitas bagi Widya Pratama haruslah sehat dan tidak dicampur zat kimia. Itulah sebab, penikmat kopi legendaris ini bukan hanya seputaran Nusantara melainkan hingga ke Jepang, Australia, Belanda, Amerika Serikat, dan Kanada. Koffie Fabriek Aroma Bandoeng sejak puluhan tahun telah memasok kopinya ke berbagai hotel dan cafe ternama di Nusantara dan mancanegara.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337669073.jpg" alt="Kayu dari pohon karet" width="933" height="622" /></p> <p align="center">Tidak ingin beralih ke kompor berbahan gas, setia dengan kayu bakar dari pohon karet.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337669259.jpg" alt="Mesin pembakaran tempo dulu" width="933" height="622" /></p> <p align="center">Mesin pembakaran buatan Jerman yang setia memproduksi kopi legendaris ini.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Koffie Fabriek Aroma Bandoeng diproses dengan mesin pembakaran berbahan bakar kayu dari pohon karet. Apa tujuannya Itu agar penyerapan panas merata dan dapat mematangkan kopi secara perlahan sehingga keluarlah aroma asli kopi yang nikmat. Dengan bahan bakar kayu pohon karet itu juga membuat asap yang mengepul tidak menghitam legam mengotori langit biru Kota Bandung.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><strong>Apa Anda setuju bila dikatakan untuk menikmati kopi tanpa tahu asal usulnya rasanya kurang sedap </strong> <strong>Ya, menikmati kopi akan lebih sedap apabila kita tahu prosesnya, tahu juga sifat dan cara menyajikannya. Beda penyajian maka bisa beda rasa, benar tidak </strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Koffie Fabriek Aroma Bandoeng dikatakan penikmatnya bukan saja memberi kepuasan rasa tetapi nyatanya menggelontorokan candu yang sehat. Bisa jadi memang kopi ini memiliki kekuatan seperti juga asal kata <em>kopi</em> yaitu dari kata <em>qahwah </em>(Bahasa Arab) yang artinya <em>kekuatan karena memiliki energi tinggi</em>.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Di Koffie Fabriek Aroma Bandoeng, pembeli yang datang diperkenankan melihat langsung proses pembuatan kopi tersebut. Di toko kopi ini juga akan Anda lihat beragam peralatan pengolah kopi seperti mesin grinder dan roasting dari masa Hindia Belanda. Di sini berderet pula toples kaca antik yang sudah ada di situ sejak tahun 1930-an dan diyakinkan tidak ada yang memproduksinya lagi. &nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337669583.jpg" alt="Mesin kopi tempo dulu" width="622" height="933" />&nbsp;</p> <p align="center">Mesin pengolah kopi dari masa Hindia Belanda.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337669863.jpg" alt="Toples tua di Koffie Aroma" width="933" height="622" /></p> <p align="center">Begitu juga toples yang berjejer ini usianya cukup tua dan tidak ada lagi pabrik pembuatnya.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><strong>Nah, sekarang bagaimana sebenarnya Koffie Fabriek Aroma Bandoeng ini diolah </strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Buah kopi arabika (hanya yang sudah matang) dipesan langsung dari Aceh, Medan, Toraja, Flores dan Jawa Tengah. Sementara itu, untuk buah kopi robusta (hanya yang sudah matang) berasal dari Bengkulu, Lampung dan Jawa Tengah. Koffie Fabriek Aroma Bandoeng jelas-jelas memproduksi campuran kopi (<em>blend</em>) dari berbagai petani kopi di Nusantara dan tidak dari luar negeri.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Buah kopi yang baru datang akan dijemur terlebih dulu beberapa jam untuk mengurangi kadar air. Berikutnya kopi akan dimasukan ke dalam karung goni berwarna coklat untuk disimpan selama 5 hingga 8 tahun. Karung itu akan diberi nomor penanda seperti tanda lahir seseorang. Karung goni dipandang memiliki&nbsp; ruang udara yang lebih baik ketimbang kertas, besi atau pun plastik. Proses penyimpanan tersebut bertujuan untuk mengurangi kandungan asam dan kadar kafein. Biasanya biji kopi arabika yang memiliki tingkat keasaman lebih tinggi disimpan selama 8 tahun dan untuk kopi robusta disimpan selama 5 tahun.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337670679.jpg" alt="Kopi dijemur" width="933" height="622" /></p> <p align="center">Kopi yang baru datang akan dijemur beberapa jam.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337671540.jpg" alt="Kopi ini disimpan bertahun-tahun" width="933" height="622" /></p> <p align="center">Karung penyimpan kopi arabika.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337671767.jpg" alt="Proses penyimpanan kopi yang tahunan lamanya" width="933" height="622" /></p> <p align="center">Percaya atau tidak kopi robusta yang diolah sebelumnya harus disimpan selama 5 tahun dan kopi arabika lebih lama lagi yaitu 8 tahun!</p> <p align="center">&nbsp;</p> <p>Untuk membedakan kopi yang berumur muda dengan yang berumur lama maka cobalah Anda pukul karung goni tersebut. Karung goni yang keras menunjukan sudah berumur lama dan yang lebih lunak maka itu baru 1 atau 2 tahun saja. Bila waktunya tiba karung goni akan dibuka dan biji kopi <em>disangrai</em> selama beberapa jam dalam mesin roaster berbetuk bulat dengan bahan bakar kayu dari pohon karet.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kemudian, biji kopi yang selesai disangrai akan didinginkan lalu diseleksi dalam mesin untuk memilah biji kopi dari ampas dan biji yang kualitasnya kurang bagus. Setelah itu, dilanjutkan proses penggilingan biji kopi menjadi bubuk kopi siap kemas. Pengemasan kopi berlangsung pagi hari langsung di depan pembeli. Pembeli juga akan melihat langsung bubuk kopi yang ditakar, ditiimbang, lalu dibungkus dalam kertas putih berlapis plastik bening.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337672244.jpg" alt="Kopi siap diolah" width="933" height="622" /></p> <p align="center">Biji kopi pilihan siap olah.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Ada satu lagi yang khas tidak berubah dari bungkusan sederhana Koffie Fabriek Aroma Bandoeng, yaitu tertera tulisan dalam 2 bahasa yaitu bahasa Belanda dan Bahasa Indonesia dengan ejaan lama. Ini tulisannya:</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><em>"</em><strong>Maoe minoem Koffie selamanja enak aromanja dan rasanja tinggal tetep, kaloe ini Koffie soeda di boeka dari kantongnja harep di pindahken di stopfles atawa di blik jang ter-toetoep rapet. Djangan tinggal di kantong!"</strong><em></em></p> <p>&nbsp;</p> <p>Koffie Fabriek Aroma Bandoeng hanya menjual dua jenis kopi yakni, <em>pertama,</em> kopi robusta seharga Rp 12.500,- per 250 gram dan <em>kedua, </em>kopi mokka arabika seharga Rp17.500,- per 250 gram. Harga kopi tersebut biasanya naik sekira 10% per tahunnya.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337672478.jpg" alt="Kemasan kopi yang tidak berubah" width="933" height="622" />&nbsp;</p> <p align="center">Kemasan yang tidak banyak berubah sejak awalnya.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Ada hal lain yang berbeda dalam pola penjualan Koffie Fabriek Aroma Bandoeng. Kopi ini dijual terbatas dimana seseorang hanya dapat membeli 10 kg paling banyak dan kopi yang dijual dalam satu hari hanya untuk hari itu saja. Tujuannya lagi-lagi agar kualitas kopi tetap segar dan tidak disimpan terlalu lama sehingga berkurang kualitasnya. Masuki toko ini dan perhatikan sejak pukul 08.00 (pagi) orang sudah mengantre untuk mendapatkan kopi kesayangannya. Itu berlangsung hingga pukul 15.00 (sore).</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337672684.jpg" alt="Mengantre untuk membeli kopi" width="622" height="933" /></p> <p align="center">Pagi hari sejak pukul 6, orang-orang sudah antre untuk membeli kopi legendaris ini.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Ada beberapa tips untuk penyimpanan kopi ini. Simpan kopi di tempat kedap udara atau di dalam <em>frezer</em> lemari es. Apabila Anda membawanya ke luar Bandung maka jangan letakkan di bagasi mobil tetapi di bagian depan dekat AC mobil. Itu agar bau oli mesin tidak mencampuri harumnya aroma kopi ini.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><strong>Bagaimana cara penyajian kopi ini </strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Perhatikan dengan seksama! Sajikan kopi dalam cangkir atau gelas yang ketebalannya lebih daripada gelas bening agar suhu tidak cepat dingin. Seduhlah kopi dengan air mendidih lalu biarkan sekira 2 menit agar larut. Berikutnya tambahkan gula secukupnya.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Nah, sekarang memahami jenis kopinya. Apabila Anda membeli kopi robusta maka ini cocok bagi penderita diabetes, darah rendah, dan untuk meningkatkan vitalitas tubuh dan. Bukan tanpa alasan! Kopi ini pernah diteliti seorang proffesor dari Rumah Sakit Hasan Sadikin di Bandung. Hasilnya memang disarankan kopi jenis robusta dapat bermanfaat bagi penderita diabetes. Bukan itu saja, bubuk kopi ini juga bila ditaburkan pada luka penderita diabetes kategori ringan maka dapat mengeringkan lukanya. Kopi robusta juga cocok untuk Anda yang butuh tetap melek dan konsentrasi seperti saat kerja lembur atau menyetir jarak jauh. Minumlah kopi jenis saat malam hari ketika hendak beristirahat.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Sementara itu, untuk untuk kopi jenis arabika berbeda. Kopi ini yang lebih lembut, akan cocok untuk penderita darah tinggi. Kopi arabika juga nikmat diminum saat Anda merasa santai.</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><strong>Kesahajaan dan kejujuran adalah resep sang pemilik Koffie Fabriek Aroma Bandoeng</strong></p> <p align="center"><strong>&nbsp;</strong></p> <p align="center">&nbsp;<img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337673368.jpg" alt="Widya Pratama" width="622" height="933" /></p> <p align="center">Reguklah lebih banyak pesan moral dan pesan berbisnis dari sosok ini!</p> <p>&nbsp;</p> <p>Saat Anda mengunjungi Koffie Fabriek Aroma Bandoeng maka jangan lupa untuk mengenali sosok Widya Pratama. Kakek 1 cucu ini juga sebenarnya seorang dosen pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. Ia secara berkala mengajar mata kuliah <em>operation management</em> dan <em>entreuprenership</em>. Pastinya beliau juga akan bercerita kepada Anda tentang bagaimana ia diangkat anak oleh seorang Guru Besar Ekonomi Indonesia, yaitu Almarhum Proffesor R. Sumitro.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Sejak tahun 1971, Widya Pratama menjadi pewaris pabrik kopi seluas 1.300 m&sup2; tersebut. Ia meneruskan tongkat estafet perusahaan yang sudah menjadi kebiasaan mendarah daging dari penguasa Tionghoa, yaitu <em>&ldquo;Orang tua yang merintis dan sang anak yang mengembangkan&rdquo;. </em>Dari keuletan dan kejujurannya-lah Koffie Fabriek Aroma Bandoeng dikenal luas di kalangan pecinta kopi baik dalam maupun luar negeri. Pria kelahiran Bandung, 16 Oktober 1952 itu tidak banyak melakukan perubahan hanya terus secara konsisten menjaga kualitasnya dan sekali lagi bekerja dengan <em>kejujuran!</em></p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337673690.jpg" alt="Pegawai Koffie Aroma" width="933" height="622" />&nbsp;</p> <p align="center">Pegawai Koffie Fabriek Aroma Bandoeng umumnya telah bekerja di sini dalam waktu yang lama</p> <p>&nbsp;</p> <p>Widya Pratama tidak berniat membuat usaha kopinya lebih besar dari yang sekarang. Baginya perusahaan warisan tersebut sudah cukup sesuai dengan kemampuannya mengelola. Ia khawatir jika diperbesar justru akan menurunkan kualitas kopi yang dihasilkan. Lagi pula, baginya berbisnis kopi bukan sekadar mencari uang tetapi juga mempertanggungjawabkan hasilnya kepada pembelinya dan tentunya juga kepada Tuhan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Widya Pratama adalah refleksi pengusaha yang menjalankan usaha dengan konsep <em>fair trade</em>. Sebuah cara berbisnis yang lebih banyak menjadi sebatas jargon saja bagi kebanyakan perusahaan kopi multinasional saat ini. Widya Pratama sangat menjunjung tinggi falsafah bisnis dengan integritas, kejujuran, keadilan, dan kesederhanaan. Dari hal itu pula yang membuat Koffie Fabriek Aroma Bandoeng harum namanya di dalam negeri maupun mancanegara.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Widya Pratama juga mungkin akan bercerita kepada Anda tentang tiga sepeda ontel yang dipajang atas dinding ruang penggilingan kopinya. Sepeda itu tidak ingin ia pindahkan karena dianggap akan senantiasa mengingatkannya tentang dari mana ia berasal. Tentang cerita ayahnya, <strong>Tan Houw Sian</strong> yang bersepeda setiap hari untuk merintis usaha Koffie Fabriek Aroma Bandoeng sejak 1930. (him)</p> <p>&nbsp;</p> <p align="center"><img src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1337673811.jpg" alt="Sepeda onthel" width="933" height="622" />&nbsp;</p> <p align="center">Sepeda onthel tua ini akan senantiasa menemani aktivitas di Koffie Fabriek Aroma Bandoeng.</p> <p>&nbsp;</p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>Saya ingin menuturkan rasa terima kasih kepada Widya Pratama dan karyawannya untuk tutur lisan dan pengalaman kebijaksanaan mereka. (HIM)</em></p> Danau Kumbang, Keindahan Tersembunyi di Gunung Masurai http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/317/danau-kumbang-keindahan-tersembunyi-di-gunung-masurai Danau Kumbang, mungkin sebagian besar orang belum banyak yang mengenalnya. Ya, Danau ini memang masih sangat asri dan tertutup. Danau Kumbang terletak di Provinsi Jambi, tepatnya di Gunung Masurai. Untuk mencapai kesana tidaklah mudah karena letaknya yang cukup jauh dari Kota terdekat yaitu Kota Bangko. Dari Kota Jambi kita bisa menggunakan travel dan perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam. Dan dari Kota Bangko menuju desa sebelum pendakian kita bisa menggunakan Elf dari Pasar Bawah Bangko dan memakan waktu sekitar 5 jam untuk mencapai Desa Sungai Lalang. Di Desa Sungai Lalang kita bisa menginap di Homestay Pendakian. Pendakian yang menggunakan jalur resmi tidak terlalu memkan waktu yang begitu lama. Sekitar 3 Hari 2 Malam dan sudah dapat mencapai Puncak 1, Danau Kumbang dan Puncak Utama. Untuk mencapai Danau Kumbang (Point 5) kita harus terlebih dahulu mendaki hingga Puncak 1 (Point 4 - 2729 mdpl). Dari titik awal pendakian hingga Puncak 1, memakan waktu sekitar 8-10 jam. Medan yang ditempuh cukup sulit karena hutan masih sangat rimbun. Namun jalur yang disediakan sudah cukup jelas karena ada penunjuk jalan yang letaknya cukup berdekatan. Pemandangan dari Puncak 1 sangat indah karena kita bisa meliaht Danau Kumbang dari sana. Dari Puncak 1 menuju Danau Kumbang kita harus menuju persimpangan Danau Kumbang - Puncak Utama terlebih dahulu. Perjalanan menuju Danau Kumbang memakan waktu sekitar 30-45 menit. Medannya sangat curam dan rimbun oleh pepohonan. Setelah turun dengan penuh perjuangan, kita akan disambut indahnya Danau Kumbang yang masih sangat asri. Di Danau Kumbang air masih sangat bersih dan udara sangat segar. Juga terdapat tempat camp yang cukup lapang. Disini merupakan tempat camp yang strategis. Rerumputan disini juga sangat hijau. Teras Danau Kumbang dipenuhi juga dengan bebatuan. Danau Kumbang ini sangat worthed untuk dikunjungi. Susahnya untuk mencapai kesini terbayar dengan keindahannya yang luar biasa. Jika sudah puas menikmati dang mengagumi Danau Kumbang, kita bisa kembali ketas menuju persimpangan puncak. Dari persimpangan kita bisa menuju puncak dan memkan waktu sekitar 3 jam. Medan menuju puncak cukup curam dan berlumut karena masih sangat asli dan asri. Di Puncak kita juga bisa mendirikan camp karena Puncak masih tertutup vegetasi sehingga aman dari terjangan angin. Di Teras puncak juga terdapat Edeweiss dan kita bisa menikmati panorama sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat. Setelah dari Puncak untuk kembali turun ke Desa memakan waktu sekitar 10-12 jam. Ternyata Gunung Masurai yang letaknya jauh ini menyimpan keindahan yang sangat luar biasa. Masurai adalah "Emas yang Terurai". Patut dikunjungi untuk orang yang senang melihat panorama Danau di ketinggian. Danau Kumbang, Keindahan Tersembunyi di Gunung Masurai http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/316/danau-kumbang-keindahan-tersembunyi-di-gunung-masurai Danau Kumbang, mungkin sebagian besar orang belum banyak yang mengenalnya. Ya, Danau ini memang masih sangat asri dan tertutup. Danau Kumbang terletak di Provinsi Jambi, tepatnya di Gunung Masurai. Untuk mencapai kesana tidaklah mudah karena letaknya yang cukup jauh dari Kota terdekat yaitu Kota Bangko. Dari Kota Jambi kita bisa menggunakan travel dan perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam. Dan dari Kota Bangko menuju desa sebelum pendakian kita bisa menggunakan Elf dari Pasar Bawah Bangko dan memakan waktu sekitar 5 jam untuk mencapai Desa Sungai Lalang. Di Desa Sungai Lalang kita bisa menginap di Homestay Pendakian. Pendakian yang menggunakan jalur resmi tidak terlalu memkan waktu yang begitu lama. Sekitar 3 Hari 2 Malam dan sudah dapat mencapai Puncak 1, Danau Kumbang dan Puncak Utama. Untuk mencapai Danau Kumbang (Point 5) kita harus terlebih dahulu mendaki hingga Puncak 1 (Point 4 - 2729 mdpl). Dari titik awal pendakian hingga Puncak 1, memakan waktu sekitar 8-10 jam. Medan yang ditempuh cukup sulit karena hutan masih sangat rimbun. Namun jalur yang disediakan sudah cukup jelas karena ada penunjuk jalan yang letaknya cukup berdekatan. Pemandangan dari Puncak 1 sangat indah karena kita bisa meliaht Danau Kumbang dari sana. Dari Puncak 1 menuju Danau Kumbang kita harus menuju persimpangan Danau Kumbang - Puncak Utama terlebih dahulu. Perjalanan menuju Danau Kumbang memakan waktu sekitar 30-45 menit. Medannya sangat curam dan rimbun oleh pepohonan. Setelah turun dengan penuh perjuangan, kita akan disambut indahnya Danau Kumbang yang masih sangat asri. Di Danau Kumbang air masih sangat bersih dan udara sangat segar. Juga terdapat tempat camp yang cukup lapang. Disini merupakan tempat camp yang strategis. Rerumputan disini juga sangat hijau. Teras Danau Kumbang dipenuhi juga dengan bebatuan. Danau Kumbang ini sangat worthed untuk dikunjungi. Susahnya untuk mencapai kesini terbayar dengan keindahannya yang luar biasa. Jika sudah puas menikmati dang mengagumi Danau Kumbang, kita bisa kembali ketas menuju persimpangan puncak. Dari persimpangan kita bisa menuju puncak dan memkan waktu sekitar 3 jam. Medan menuju puncak cukup curam dan berlumut karena masih sangat asli dan asri. Di Puncak kita juga bisa mendirikan camp karena Puncak masih tertutup vegetasi sehingga aman dari terjangan angin. Di Teras puncak juga terdapat Edeweiss dan kita bisa menikmati panorama sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat. Setelah dari Puncak untuk kembali turun ke Desa memakan waktu sekitar 10-12 jam. Ternyata Gunung Masurai yang letaknya jauh ini menyimpan keindahan yang sangat luar biasa. Masurai adalah "Emas yang Terurai". Patut dikunjungi untuk orang yang senang melihat panorama Danau di ketinggian. Desa Sawai, Keindahan di kawasan Taman Nasional Manusela http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/295/desa-sawai-keindahan-di-kawasan-taman-nasional-manusela <div>Pada tanggal 25 Mei 2013 Tim #BarondaMaluku yang terdiri dari blogger, photographer dan videographer menjelajahi Maluku dengan dukungan penuh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Baronda Maluku (bahasa daerah maluku) yang mempunyai arti Jalan jalan ke Maluku mengeksplore keindahan Maluku yang tidak banyak orang tahu, salah satu destinasi yang dikunjungi Tim #BarondaMaluku ini.</div> <div>&nbsp;</div> <div>Desa Sawai</div> <p><br /><span>Desa Sawai, Maluku salah satu destinasi yang ada di Kawasan Taman Nasional Manusela Perairannya yang tenang dan bersih.&nbsp;Desa wisata ini tidak kalah indah dengan pulau lain di Indonesia yang terkenal karena pantai dan lautnya. sebagian besar laut yang berada di Desa ini masih alami dan terjaga dengan baik.</span></p> <p style="text-align: justify;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Desa Sawai, Keindahan di kawasan Taman Nasional Manusela" src="https://lh5.googleusercontent.com/-cKzOS9cHvmE/Ubg1YHkfLkI/AAAAAAAAGzI/Rq7TwHJ3w4s/s577-no/IMG_20130527_121306.jpg" alt="Desa Sawai, Keindahan di kawasan Taman Nasional Manusela" /><br /><br /><span>Desa termasuk desa tertua di Maluku dan memiliki beberapa pulau kecil yang mengelilinginya. Pulau-pulau ini pun menambah keindahan Laut Sawai. keheningan dan keindahan desa ini saat pagi hari menjadikan lokasi ini semakin terlihat indah.&nbsp;yang unik dari desa ini adalah "Kolam renang raksasa" Kolam ini adalah sumber air Desa Sawai dan letaknya ditengah desa, sumber mata air dari Kolam air alami ini adalah dari batu batu besar ditengah kolam. kolam Desa Sawai ini memang terlihat sangat menyegarkan. Ikan-ikan kecil berseliweran, batu karang dan koralnya masih sangat terjaga, serta beberapa biota lautnya menjadi hiasan bawah laut yang sangat apik. Saking jernihnya, permukaan dasar laut bisa Anda lihat dengan jelas.</span></p> <p style="text-align: center;"><br /><br /><span><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-6skKixxlpHE/Ubg1hGc7b7I/AAAAAAAAGzQ/MJi-pgh9JUU/s577-no/IMG_20130528_121955.jpg" alt="" /></span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Bukan hanya lautnya yang elok, sepanjang perjalanan dari Pantai Ora ke desa Sawai ini kita bisa melihat tebing dan lembah Manusela yang berada di pinggir Laut Sawai juga menyimpan sejuta potensi gua. Tak jauh dari lokasi terumbu karang, terdapat celah besar dan tinggi yang dapat dimasuki oleh wisatawan.&nbsp;saat ini Desa Sawai juga memiliki beberapa hewan yang menjadi penghuni tetap, seperti Kakatua Seram, Nuri kepala hitam, burung Bayan, burung Rangkong. namun sayangnya saat ini Nuri berkepala hitam populasinya sudah semakin berkurang.</span><br /><br /><span>Maluku mempunyai banyak sekali potensi Pariwisata yang belum banyak orang tahu, disini tersimpan begitu banyak destinasi destinasi yang menunggu dipromosikan. yuk bareng bareng kita #BarondaMaluku (bahasa Maluku) yang berarti Jalan jalan ke Maluku. tidak salah Taman Nasional Manusela disebut sebagai Heaven on Earth..mutiara tersembunyi di Timur Indonesia.</span></p> <p style="text-align: center;"><span><img title="Desa Sawai, Keindahan di kawasan Taman Nasional Manusela" src="https://lh4.googleusercontent.com/-UbWFhQ00u9g/Ubg1x2NnQNI/AAAAAAAAGzY/KEmkcve9E8g/s577-no/sawai.jpg" alt="Desa Sawai, Keindahan di kawasan Taman Nasional Manusela" /></span></p> <p style="text-align: center;"><span><img title="Desa Sawai, Keindahan di kawasan Taman Nasional Manusela" src="https://lh6.googleusercontent.com/-TMEY2hIRy_g/Ubg19PEqfZI/AAAAAAAAGzk/2IbpYfud1Rg/s577-no/sawai_1.jpg" alt="Desa Sawai, Keindahan di kawasan Taman Nasional Manusela" /></span></p> Taman Nasional Manusela,keajaiban alam di atas dan bawah laut http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/296/taman-nasional-manusela-keajaiban-alam-di-atas-dan-bawah-laut <div>&nbsp;</div> <div style="text-align: center;">&nbsp;<img title="Taman Nasional Manusela" src="https://lh6.googleusercontent.com/Iuic4ham-AmY-cFnGDIcdcQT36TH444OPw3wYHci7-U=s577-no" alt="Taman Nasional Manusela" /></div> <div style="text-align: center;">&nbsp;</div> <div style="text-align: center;">&nbsp;</div> <p><span>Taman Nasional Manusela dikenal sebagai salah satu Taman Nasional yang terindah di Indonesia, dengan pemandangan alam yang cantik dan terjaga dengan baik. Serta pemandangan berbukit besar diantaranya tepi Markele, lembah Manusela, banyak aktivitas yang bisa dilakukan disini seperti menjelajah hutan, panjat tebing, pengamatan satwa/tumbuhan. Dan bagi pencinta dunia bawah air atau pantai kawasan Taman Nasional Manusela ini adalah surga didalam laut.</span></p> <p><br /><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Taman Nasional Manusela" src="https://lh6.googleusercontent.com/-oR_QsNIeR_E/Ubg7sfWrdMI/AAAAAAAAG0s/p4UBpEo6BWQ/s577-no/manusela+1.jpg" alt="Taman Nasional Manusela" /></p> <p><br /><span>Kawasan Taman Nasional Manusela yang mencakup 20% dari keseluruhan luas pulau Seram, disini terdapat&nbsp;gunung Binaya yang merupakan puncak tertinggi di Maluku. Sebagian besar kawasan ini memiliki lereng yang sangat terjal dengan lembah-lembah yang dalam. Paling tepat menikmati keindahan lembah ini dengan menggunakan kapal ketinting nelayan dan menyusuri pinggir lembah.</span></p> <p><span><br /></span></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Taman Nasional Manusela" src="https://lh6.googleusercontent.com/-ANipQJTNv4E/Ubg7znNsoKI/AAAAAAAAG00/2fgu0LMBuc0/s577-no/manusela+2.jpg" alt="Taman Nasional Manusela" /><br /><br /><span>Selain itu Kawasan Taman Nasional Manusela banyak memiliki keunikan yaitu banyaknya aneka karang laut yang indah sangat cocok untuk kegiatan snorkeling dan diving disamping itu di daerah Sawai dan sekitarnya juga dapat dinikmati pemandangan tebing Sawai yang indah atau wisata tirta yang dapat dinikmati dengan menggunakan fasilitas kapal cepat dan longboat milik Balai Taman Nasional Manusela. Pusat informasi Taman Nasional Manusela juga terdapat di Negeri Sawai tepatnya di sekitar Dusun Masihulan.</span></p> <p><span><br /></span></p> <p style="text-align: center;"><span><img title="Taman Nasional Manusela" src="https://lh5.googleusercontent.com/-eZhpj10RDKI/Ubg7cGjj6fI/AAAAAAAAG0k/SdkkbTh_i44/s577-no/IMG_20130527_120442.jpg" alt="Taman Nasional Manusela" /><br /></span></p> Pantai Ora, tidak salah lokasi ini dinamakan Heaven on Earth http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/297/pantai-ora-tidak-salah-lokasi-ini-dinamakan-heaven-on-earth <p style="text-align: justify;"><span>Pantai Ora ini adalah lokasi paling favorite saya di Taman Nasional Manusela, untuk bisa ke Pantai Ora ini harus menggunakan kapal bermotor dari pelabuhan Manusela selama 15 menit karena tidak ada akses jalan darat menuju pantai ini. sesampai Pantai Ora terbayar sudah perjalanan panjang dari Ambon menuju TN Manusela ini, karena keindahan disekitar pantai yang membuat pantai Ora begitu spesial. disepanjang jalur pantai terlihat terumbu karang yang berwarna warni, bahkan kita belum snorkling saja sudah terlihat jelas keindahan bawah laut ini jika dilihat dari atas dermaga.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span><br /></span></p> <div><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Ora, tidak salah lokasi ini dinamakan Heaven on Earth" src="https://lh4.googleusercontent.com/-Dl3sNva0qRA/Ubg4osc8brI/AAAAAAAAGz8/0BgkyJngNi8/s577-no/ora+resort.jpg" alt="Pantai Ora, tidak salah lokasi ini dinamakan Heaven on Earth" /></div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div style="text-align: justify;">Pantai Ora ini Letaknya berada di Desa Saleman, Seram Utara, Maluku Tengah. Pantai ini mengingatkan saya dengan pantai pantai yang berada di Misol Raja Ampat, Pulau Maratua di Kalimantan Timur dan Maladewa. ya karena di pantai ini terdapat Ora Resort yang saat ini adalah resort satu satunya yang berada di Pantai ini dan letak resortnya berada diatas laut. sehingga ketika kita keluar dari resort langsung disuguhi keindahan coral dan keanekaragaman ikan yang tepat dibawah kita. bahkan kita bisa langsung berenang dari depan kamar. oiya Pantai Ora ini hanya berjarak 1.5jam perjalanan speedboat jika kita ingin ke Misool Raja Ampat lho..hanya sayangnya pada saat saya menulis artikel ini belum ada dive center di kawasan ini.</div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Ora, tidak salah lokasi ini dinamakan Heaven on Earth" src="https://lh6.googleusercontent.com/-52Xmhe0V7JY/Ubg43zF9jcI/AAAAAAAAG0E/IZ-ynqaD954/s577-no/ora.jpg" alt="Pantai Ora, tidak salah lokasi ini dinamakan Heaven on Earth" /></div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div style="text-align: justify;"><br />Pantai Ora cocok banget Bagi yang pergi bersama pasangan dan huneymoon disini, Pantai Ora juga masih punya pemandangan bawah laut yang memesona. Selami perairannya dan Anda akan melihat dengan jelas ratusan terumbu karang yang benar-benar menakjubkan. Belum lagi ikan-ikan kecil yang menari-nari di sekitar terumbu karang. Bahkan jika Anda tak ingin menyelam pun, pemandangan cantik itu juga bisa Anda nikmati. setelah puas menikmati keindahan bawah laut dengan berenang dan snorkling Pasir putihnya Pantai Ora yang terang dan air lautnya yang biru tenang akan membuat lupa dengan hiruk-pikuk kehidupan di kota besar.</div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Ora, tidak salah lokasi ini dinamakan Heaven on Earth" src="https://lh5.googleusercontent.com/-4nP0pmdetv0/Ubg5FM8jLII/AAAAAAAAG0M/qf2YPAtEu0U/s577-no/ora2.jpg" alt="Pantai Ora, tidak salah lokasi ini dinamakan Heaven on Earth" /></div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div style="text-align: justify;">selain keindahan pantai dan terumbu karang di Pantai Ora jangan lewatkan untuk mengelilingi sekitar Taman Nasional Manusela dengan menggunakan kapal bermotor, paling tepat menikmati suasana TN ini adalah di pagi hari. jika ingin unik dan bersantai kita bisa menggunakan kapal ketinting dari nelayan sekitar untuk diajak berkeliling Taman Nasional. Pantai Ora salah satu destinasi yang wajib dikunjungi dan tidak salah lokasi ini dinamakan Heaven on Earth.</div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Ora, tidak salah lokasi ini dinamakan Heaven on Earth" src="https://lh4.googleusercontent.com/-Tg7VC6FM2Ks/Ubg4jjtCh9I/AAAAAAAAGz0/B2qcDHQSCus/s577-no/IMG_20130527_120629.jpg" alt="Pantai Ora, tidak salah lokasi ini dinamakan Heaven on Earth" /></div> Bertemu Pelikan di Ngurtafur http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/292/bertemu-pelikan-di-ngurtafur <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://1.bp.blogspot.com/-pqByUrXNBOg/Ua6v-k9hNlI/AAAAAAAAE8Q/XITblr4A3rM/s400/IMG_1652.JPG" alt="" /></p> <div> <h3>Ingat cerita cerita jaman dahulu dimana burung pelikan membawa bungkusan kain berisi bayi Seumur hidup saya belum pernah melihat pelikan, hanya di televisi, film, dan tentunya gambaran pelikan membawa bayi yang sering saya lihat di cerita cerita dahulu.</h3> </div> <div><br />Bertemu puluhan pelikan sama sekali tidak terbayang saat saya menuju pantai Ngurtafur saat &nbsp;<a href="http://www.indonesia.travel/barondamaluku/" target="_blank">#BarondaMaluku</a>. Dengan penuh semangat Mad mempromosikan Ngurtafur dari sebelum kami tiba di Pulau Kei. Ngurtafur memang cukup jauh, tidak cukup satu penerbangan dari Jakarta. Kami harus menuju ke Ambon dan kemudian melanjutkan penerbangan ke Bandara Dumatubun di Langgur, Maluku Tenggara.</div> <div>&nbsp;</div> <div>Kepulauan Kei terdiri dari gugusan pulau di antara Laut Seram, Laut Banda dan Laut Arafuru. Ada dua pulau utama, yaitu Pulau Kei Besar dan Pulau Kei Kecil. Pulau Kei Kecil terkenal di antara turis asing karena Pantai Pasir Panjang yang memiliki pasir pantai terhalus di Asia. Namun pesona pantai Kei tidak hanya di dua pulau utama ini. Mad, inisiator&nbsp;<a href="http://www.indonesia.travel/barondamaluku/" target="_blank">#BarondaMaluku</a>&nbsp; &nbsp;meyakinkan kami untuk mengunjungi Ngurtafur, "A must visit" menurutnya.</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td><br /><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" title="Pelikan berkumpul di Ngurtafur" src="http://1.bp.blogspot.com/-BCPtbbK13zo/Ua6wN8alWYI/AAAAAAAAE8Y/5m8huWNDaeI/s400/IMG_1532.JPG" alt="Pelikan berkumpul di Ngurtafur" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Pelikan berkumpul di Ngurtafur</td> </tr> </tbody> </table> <div>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://3.bp.blogspot.com/-g_XAlr_8KOU/Ua7N3B3JiAI/AAAAAAAAE84/HhDTkMs1z6E/s320/IMG_1704.JPG" alt="" /></div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>Cuaca cukup mendung saat saya dan teman teman menyebrang dari Pelabuhan Debut di Pulau Kei Kecil. Dari pelabuhan ini kami menyewa kapal motor dan bergerak menuju Ngurtafur. Setelah sekitar 30 menit kami mulai melihat bentangan pasir putih berupa gundukan pasir yang memanjang, seolah pulau sendiri yang terdiri dari pasir putih. Namun yang mengejutkan adalah pulau itu sedang ramai, hampir seratus pelikan sedang asik bersantai di Ngurtafur!</div> <div>&nbsp;</div> <div>Pelikan adalah jenis burung yang bermigrasi. Jenis yang kami temukan di Ngurtafur adalah jenis Australian Pelican, terlihat dari warna hitam di sebagian sayap mereka. Jenis ini biasa bertelur di area Australia dan Papua Nugini, namun melakukan rute migrasi dari Australia ke New Zealand, Kepulauan Solomon, Fiji dan Wallacea. Nah di rute Wallacea inilah kami beruntung menemukan sekumpulan pelikan ini bersantai. Area Maluku termasuk dalam area berbentuk hampir segitiga yang meliputi sulawesi, lombok, NTB, NTT hingga Maluku dan masuk dalam rute migrasi mereka.</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div><br /> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" title="Pantai penuh pelikan" src="http://4.bp.blogspot.com/-mZeE0PZt_fQ/Ua7Q4c2sXgI/AAAAAAAAE9Q/Kk_bbVM-gXA/s400/IMG_1699.JPG" alt="Pantai penuh pelikan" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Pantai penuh pelikan</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" title="Saya dan Mad pelan pelan mendekati pelikan pelikan itu :)" src="http://3.bp.blogspot.com/-Gfuq1x6RXQU/Ua7RKd8d-pI/AAAAAAAAE9Y/XkKNrI4EdzM/s400/IMG_1533.JPG" alt="Saya dan Mad pelan pelan mendekati pelikan pelikan itu :)" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Saya dan Mad pelan pelan mendekati pelikan pelikan itu :)</td> </tr> </tbody> </table> </div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>Beberapa kali kami mencoba mendekati dan pelikan pelikan ini tampak mulai gelisah dan menjauh, cara terbaik mendekati mereka adalah sambil berenang di tepian sehingga mereka tidak menyadari kedatangan kami. Namun di saat saat terakhir saya dan teman teman menikmati berlari ke arah mereka dan pelikan pelikan itu mulai terbang serempak,&nbsp;<em>a beautiful sight</em>, maaf ya pelikan :)</div> <div>&nbsp;</div> <div class="separator">&nbsp;</div> <div class="separator">&nbsp;</div> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://4.bp.blogspot.com/-GKRExBI6Jsw/Ua6wb_mhrNI/AAAAAAAAE8o/Jf6VmEi71PY/s400/IMG_1505.JPG" alt="" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://2.bp.blogspot.com/-3EeaXRlBHnQ/Ua6wbQUmxrI/AAAAAAAAE8g/cQHIydenevM/s400/IMG_1545.JPG" alt="" /></p> <div class="separator">&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>Bertemu pelikan kami anggap bonus, jangan berharap dapat selalu menemukan mereka di Ngurtafur karena binatang ini selalu bermigrasi. Namun tanpa pelikan pun Ngurtafur adalah tempat yang simply beautiful, Ngurtafur adalah pantai dengan perpanjangan bentangan gosong pantai yang menyatu dengan Pulau Warbal di Kepulauan Kei.&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>Di saat air pasang, sebagian "garis" yang menghubungkan ke Pulau Warbal terendam, membuat Ngurtafur seakan pulau sendiri yang hanya berupa gundukan pasir putih. Ada pula area yang hanya terendam sekitar dua sentimeter saja dan memanjang, membuat anda berasa berjalan di atas air putih yang memanjang.&nbsp;<em>Simply stunning, simply beautiful, plus the pelicans.. a perfect trip!</em></div> <div>&nbsp;</div> <div><a class="_hootified" href="http://twitter.com/#!/@marischkaprue">@marischkaprue</a>&nbsp;-&nbsp;<em>not brought to the world by the pelicans</em></div> <div><em><br /></em></div> <div>&nbsp;</div> <div><em>NOTES:</em></div> <ul> <li>Untuk menuju ke Kepulauan Kei, ambil penerbangan dari Ambon menuju ke Tual dengan lama tempuh sekitar 1,5 jam.</li> <li>Untuk menuju ke Ngurtafur sewa kapal motor dari Pelabuhan Debut, harga sewa satu kapal (kapasitas 15 orang) sekitar 700 ribu hingga 1 juta PP (diantar, ditunggu saat bersantai di Ngurtafur, dan diantar kembali ke Pelabuhan)</li> <li>Bawa makanan karena tidak ada warung di sekitar area Ngurtafur</li> <li>Pilihan penginapan: Homestay Evalin di area Pantai Ngurbloat, Ngilngof; Philips homestay di area Pantai Ngursamadan di Ohoililir, Coaster Cottage di area Pantai Ngursamadan di Ohoililir.</li> <li>Rekomendasi saya ambil di Coaster Cottage karena langsung di depan area pantai. Harga menginap di Coaster Cottage: Coaster 2 (area bangunan baru) Rp. 200.000,- per malam, Villa 2 dan Villa 3 Rp. 150.000<em>,-</em>&nbsp;per malam. Jika ingin makanan disediakan lengkap (breakfast, lunch, dinner) biayanya Rp. 100.000,- per orang. Booking melalui Bob +6281343472978 atau email ke bob.azyz@yahoo.co.id</li> <li><a class="_hootified" href="http://marischkaprudence.blogspot.com/2013/06/bertemu-pelikan-di-ngurtafur.html">#BarondaMaluku</a>&nbsp; adalah project untuk mempromosikan potensi pariwisata Maluku, ada banyak keindahan dari Maluku yang akan terus kami share usai menelisik keindahan Maluku, lihat lebih lengkap &nbsp;<a href="/barondamaluku/" target="_blank">disini</a>.</li> <li>Thanks to &nbsp;<a href="http://www.indonesia.travel/" target="_blank">Kementrian Pariwisata</a>&nbsp; yang fully support project &nbsp;<a class="_hootified" href="http://marischkaprudence.blogspot.com/2013/06/bertemu-pelikan-di-ngurtafur.html">#BarondaMaluku</a>&nbsp;dan tentunya &nbsp;<a href="http://www.twitter.com/madalkatiri" target="_blank">Mad Alkatiri</a>&nbsp;, nyong Ambon yang jadi inisiator &nbsp; &nbsp;&nbsp;<a class="_hootified" href="http://marischkaprudence.blogspot.com/2013/06/bertemu-pelikan-di-ngurtafur.html">#BarondaMaluku</a></li> </ul> Diving in Laha, Seek and Find! http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/293/diving-in-laha-seek-and-find <h3 style="text-align: center;"><em><img src="http://3.bp.blogspot.com/-qSwtLK1sX_s/UalXmxCiqkI/AAAAAAAAEvA/eGwlJcMFboM/s400/IMG_1255.JPG" alt="" /><br /></em></h3> <h3><em>Someone else's trash might become someone else's treasure</em>. Ini kalimat yang tepat mendeskripsikan lokasi penyelaman kami di Ambon. Lokasi yang jika dilihat dari atas dan menelisik ke bawah sekilas maka tidak akan menimbulkan gairah penyelaman, namun jika melihat lebih detail dan mencari dengan teliti,&nbsp;<em>this is a place for treasures.</em></h3> <div><br />Ambon punya sekitar 21 titik penyelaman yang tersebar mulai dari daerah Tanjung Sial di utara hingga Malilana di timur. Sebaran titik penyelaman paling banyak ada di area pantai selatan dan sekitar teluk ambon. Wilayah di Maluku ini punya site site terkenal di antara para divers seperti Hukurila Cave dan Aquila Wreck.</div> <div>&nbsp;</div> <div>Namun di&nbsp;<a href="/barondamaluku/" target="_blank">#BarondaMaluku</a>&nbsp; kami menuju titik yang mungkin terlihat tidak menarik, area berpasir dengan sebaran koral yang sangat sedikit, ditambah air yang keruh dan sampah yang tersebar di dasar laut. Tapi disinilah saya menemukan kesenangan yang membuat saya menggumam sedikit berteriak excited saat menemukan sekumpulan ikan yang dicintai semua divers karena warnanya yang unik.</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://1.bp.blogspot.com/-1kqabgElE2g/UalW_-NG8JI/AAAAAAAAEuw/TjfG_cGpktc/s400/IMG_1236.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">View di depan kamar, photo by &nbsp;<a href="http://www.twitter.com/ferryrusli" target="_blank">Ferry Rusli</a></td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://4.bp.blogspot.com/-wiH9Z3kYyyY/UalXHzc8EqI/AAAAAAAAEu4/kTZ-1Yq8Oew/s400/IMG_1245.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Langit biru di Ambon, Photo by &nbsp;<a href="http://www.twitter.com/ferryrusli" target="_blank">Ferry Rusli</a></td> </tr> </tbody> </table> <div>Laha ada di daerah Teluk Ambon, sangat dekat dengan Bandara Pattimura. Ada beberapa penginapan di area ini antara lain Pondok Paton dan Penginapan Dahlia. Saya dan teman teman memilih menginap di Pos Mako Lanud Pattimura berdasarkan saran dari Pak Noer Muis dan ternyata memang lokasi ini adalah lokasi yang sangat tepat karena titik entry penyelaman langsung ada di depan kamar kami.</div> <div>&nbsp;</div> <div>Entry dilakukan dari pantai Laha di area yang berpasir dan banyak sebaran pecahan koral sehingga sebaiknya menggunakan &nbsp;<em>booties</em>. Saya sempat kesulitan harus berjalan bertelanjang kaki karena menggunakan&nbsp;<em>full foot fin</em>. Kami turun perlahan dan bergerak dari area bebatuan di kedalaman sekitar 5 meter hingga ke lebih dari 10 meter yang berpasir. Jarak pandang cukup buruk karena area ini berpasir, hanya sekitar 10 meter saat cukup baik dan dapat menjadi 5 meter saat arus datang.</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://2.bp.blogspot.com/-Tux8dPnRMG8/UalT6uU84SI/AAAAAAAAEtg/d92QqDINE5c/s400/Leaf+scorpionfish+1.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Leaf Scorpionfish</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://3.bp.blogspot.com/-Pgr6wjQcCyQ/UalUARH39bI/AAAAAAAAEto/Q8NZnfb2-ys/s400/Leaf+scorpionfish+2.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Leaf Scorpionfish</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://4.bp.blogspot.com/-WJWOVeNsPmc/UalUg_VYiMI/AAAAAAAAEtw/4-As6pTCmYs/s400/Ornate+ghost+pipefish.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Ornate Ghost Pipefish</td> </tr> </tbody> </table> <div>Penyelaman pertama sangat menyenangkan, tanpa ada arus kami dengan mudah menemukan leaf scorpionfish berwarna putih dan mengambil gambar dari beberapa arah.&nbsp;<a href="http://www.twitter.com/r_djangkaru" target="_blank">Riyanni Djangkaru</a>&nbsp; yang bersama saya di saat penyelaman menunjuk ringed pipefish yang bersembunyi di antara celah karang, saya pun bermanuver mengambil video pipefish yang unik ini. Kami pun kemudian bergerak dan menemukan kembali lebih dari lima ringed pipefish yang sedang berkumpul, dan terus menemukannya berulang kali di saat penyelaman kami.</div> <div>&nbsp;</div> <div>Selanjutnya saya menemukan ornate ghost pipefish. Meski beberapa kali sudah menemukan makhluk yang sangat baik dalam berkamuflase ini dalam penyelaman di Lembeh, mengamati bentuk pipefish yang satu ini sangat menarik.</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://2.bp.blogspot.com/-HfLF2qpSF5c/UalUy5U1fhI/AAAAAAAAEt4/jj06wO2jfkg/s400/Bulb+tentacle+sea+anemone+with+threespot+damselfish..JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Bulb tentacle sea anemone with threespot damselfish</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://1.bp.blogspot.com/-4zyjCdli0nw/UalU10VaKQI/AAAAAAAAEuI/C9hmWQ9foWo/s400/Orange+fin+anemonefish.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Orange fin anemonefish</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://2.bp.blogspot.com/-dQQ0OH6dt1Q/UalU0oH9PXI/AAAAAAAAEuA/RkDWNCwFwMk/s400/White+eyed+moray+eels.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">White eyed moray eels</td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <div>Sayangnya saya tidak menemukan frogfish, beberapa teman yang lain menemukan frogfish dan butuh kejelian mata. Selanjutnya di dive kedua cukup berarus. Kami menemukan sekumpulan moray eels yang bersarang di ban bekas. Saat pertama melihat saya menyadari ada tiga moray eels yang berhimpitan di satu lubang, dua jenis white eyed moray eels dan satu jenis black spotted namun sayangnya saat saya mendekat mereka langsung masuk ke lubang dan saya hanya mendapat gambar white eyed moray eels yang beberapa kali keluar masuk lubang. Saat bergerak kembali kami menemukan dwarf lionfish yang bersembunyi di dalam pipa dengan diameter sekitar 20 sentimeter.</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://4.bp.blogspot.com/-D_fDYS47-tQ/UalVn5ayIHI/AAAAAAAAEuU/7Go9xOgYeQU/s400/Dwarf+Lionfish.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Dwarf lionfish</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://1.bp.blogspot.com/-iuG4zxslflk/UalV6ec68LI/AAAAAAAAEuc/LN9QpQuf1a4/s400/Surgeonfish+sleeping.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Surgeonfish sleeping :)</td> </tr> </tbody> </table> <div>&nbsp;</div> <div>Penyelaman ketiga adalah&nbsp;<em><a href="http://marischkaprudence.blogspot.com/2012/10/night-dive-dont-be-afraid.html" target="_blank">night dive</a></em>, kami mempersiapkan senter secukupnya dan bergerak turun. Saat ini laut sudah surut jadi kami harus berjalan lebih jauh untuk&nbsp;<em>entry</em>. Selain menemukan beberapa ikan yang sedang tidur dan cukup lucu untuk diperhatikan gerakannya yang diam dengan insang tetap bergerak, saya melihat teman teman lain sedang asik mengambil gambar salah satu jenis gastropod mollusc. Saya bergerak ke area lain dan melihat pergerakan di salah satu area bebatuan, makhluk kecil berwarna warni dan ternyata itu adalah sekumpulan mandarinfish!</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img src="http://3.bp.blogspot.com/-qJEcCo2W51E/UalWQOKndDI/AAAAAAAAEuk/pXrioiYdGYM/s400/Mandarin+1.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Mandarinfish</td> </tr> </tbody> </table> <div>&nbsp;</div> <div>Mandarinfish masuk dalam jenis dragonets. Ikan ini menjadi spesies dragonet yang paling menarik bagi saya karena warnanya yang unik. Ukuran mandarinfish yang sangat kecil, di penyelaman ini lebih kecil dari jempol saya, membuat ikan satu ini dengan mudah masuk dan menyelip di antara bebatuan. Perlu kesabaran untuk menunggu mandarinfish ini keluar sedikit dan mendapatkan gambar mereka. Sayapun puas saat dapat menjepret kamera saat dua mandarinfish berdekatan, what a cute fish!</div> <div>&nbsp;</div> <div>Kami keluar dari permukaan laut dengan penuh kesenangan, membicarakan mengenai keunikan binatang laut yang kami temukan. Masih banyak binatang laut unik lain yang sering saya dengar bisa ditemukan di Laha mulai dari harlequin shrimp hingga flamboyant cuttlefish. Ah, mungkin Laha menyimpannya untuk saya, tabungan kesenangan jika suatu saat saya mau menelisik "sampah" untuk menemukan "harta berharga" dari alam bawah laut.</div> <div>&nbsp;</div> <div><em>It&rsquo;s a treasure we can only took photos and have fun seeing. Treasures for all divers care to dive the trash and wait for the surprises.</em></div> <div>&nbsp;</div> <div><a class="_hootified" href="http://twitter.com/#!/@marischkaprue">@marischkaprue</a>&nbsp;-&nbsp;<em>her biggest treasure is finding underwater world.</em><br /><br />Lihat &nbsp;<strong>video</strong>&nbsp; mandarin fish berusaha bersembunyi disini:</div> <div>&nbsp;</div> <div><object width="560" height="315" data="http://www.youtube.com/v/1IQ_eHqwyBY version=3&amp;hl=id_ID" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/1IQ_eHqwyBY version=3&amp;hl=id_ID" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object><br /><br /></div> <div> <div class="separator">&nbsp;</div> <em></em></div> <div>NOTES:</div> <ul> <li>Bulan terbaik untuk diving di Ambon adalah dari bulan September hingga bulan Mei saat laut relatif tenang. Namun di bulan Juni hingga Agustus juga tetap dapat dilakukan dengan memilih lokasi penyelaman yang cukup tenang.</li> <li>Sediakan booties saat diving di Laha karena berjalan tanpa alas kaki di antara bebatuan dan koral sangat menyiksa,&nbsp;<em>trust me, I've been there.</em></li> <li>Diving di Laha bisa menggunakan jasa dari Pari Dive Center Ambon, Contact Person via Muin: +6281343092093. Paket diving 3x (termasuk night dive) Rp. 1.270.000,- per orang, untuk sewa alat lengkap per hari Rp. 350.000,-</li> <li><a class="_hootified" href="http://marischkaprudence.blogspot.com/2013/05/diving-in-laha-seek-and-find.html">#BarondaMaluku</a>&nbsp; adalah project untuk mempromosikan potensi pariwisata Maluku, ada banyak keindahan dari Maluku yang akan terus kami share usai menelisik keindahan Maluku, lihat lebih lengkap &nbsp;<a href="/barondamaluku/" target="_blank">disini</a>.</li> <li>Thanks to &nbsp;<a href="http://www.indonesia.travel/" target="_blank">Kementrian Pariwisata</a>&nbsp;yang fully support project &nbsp;<a class="_hootified" href="http://marischkaprudence.blogspot.com/2013/05/diving-in-laha-seek-and-find.html">#BarondaMaluku</a>&nbsp;dan tentunya &nbsp;<a href="http://www.twitter.com/madalkatiri" target="_blank">Mad Alkatiri</a>&nbsp;, nyong Ambon yang jadi inisiator&nbsp;<a class="_hootified" href="http://marischkaprudence.blogspot.com/2013/05/diving-in-laha-seek-and-find.html">#BarondaMaluku</a></li> </ul> Ora Beach, I Swear to God, This is Heaven! http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/294/ora-beach-i-swear-to-god-this-is-heaven <div class="separator" style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://4.bp.blogspot.com/-cOz49ZjrjjY/UamUnw4VFsI/AAAAAAAAEvY/cuvyVISIAdo/s400/IMG_1590.JPG" alt="" /></div> <h3>Lupakan Maldives dan Bora Bora, kocek saya saat ini belum sanggup membawa saya kesana. Ah, namun rupanya saya diberi keindahan yang tidak kalah dari dua tempat yang mendunia karena resort yang ada di atas air yang bening. Disini, saya dapat merasakan&nbsp;<em>luxury of staying on top of the clear seawater,in the mids of corals. This is trully heaven!</em></h3> <p><em><br /></em></p> <div><a href="/barondamaluku/" target="_blank">#BarondaMaluku</a>&nbsp; membawa saya sampai ke Ambon, Maluku, bergerak ke Pelabuhan Tulehu dan menyeberang ke Pelabuhan Amahai di Pulau Seram, lalu bergerak dua jam jalan darat dengan mobil menuju ke Desa Sawai. Saya sampai di Ora beach dan terdiam,&nbsp;<em>stunned by its beauty</em>.</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Du6HjalM0So/UamU2xMh6ZI/AAAAAAAAEvg/iObDsJo5k_M/s400/IMG_1403.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Jalan ke area cottage di atas laut</td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://3.bp.blogspot.com/-mFitkbYTzCs/UamU3X3DIZI/AAAAAAAAEvo/wjSHENaOPSg/s400/IMG_1582.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Bukit menjadi latar belakang penginapan</td> </tr> </tbody> </table> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>Pantai Ora terletak di bagian utara tengah Pulau Seram, persis di cerukan Pulau Seram di area Teluk Sawai. Perbukitan Taman Nasional Manusela menjadi latar belakang&nbsp;<em>cottage cottage</em>&nbsp;kayu yang dibangun di atas air laut, membuat pemandangan disini semakin spektakuler.</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://1.bp.blogspot.com/-HZlkZllm_S4/UamVYGjCOoI/AAAAAAAAEv0/13YJHq7mKYg/s400/IMG_1441.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Lihat betapa coral memenuhi dasar</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://4.bp.blogspot.com/-unKkn3-Nr3o/UamVYHHNvLI/AAAAAAAAEvw/9h6PXEhPrW4/s400/IMG_1544.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Dermaga Ora Beach Resort</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://3.bp.blogspot.com/-bLZBDMyQvpY/UamVYdYipuI/AAAAAAAAEv4/jKEjyZOjDj8/s400/IMG_1570.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Pemandangan dari teras kamar</td> </tr> </tbody> </table> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>Satu hal yang menyambut saat saya menapakkan kaki di dermaga Ora Beach Resort adalah betapa banyaknya koral di area perairan, sedemikian dekat dengan garis pantai maka disaat air surut di malam hari sebagian koral ini keluar dari permukaan hingga tertutup laut pasang di keesokan harinya.</div> <div>&nbsp;</div> <div>Ada 6 cottage dengan masing masing satu kamar, dan satu cottage besar dengan 3 kamar di dalamnya<em>. I got one of the best room</em>&nbsp; dengan teras yang paling maju ke arah laut.&nbsp;<em>Simply relaxing</em>.</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://4.bp.blogspot.com/-UIs0YWzzVAA/UamV7gk0r5I/AAAAAAAAEwQ/qJ_YNfdBG_E/s400/IMG_1539.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Teras cottage di Ora Beach Resort</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://4.bp.blogspot.com/-0eXireqh7m8/UamV6edF-bI/AAAAAAAAEwI/-LzbIJWX_Zk/s400/IMG_1575.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Dari pintu terlihat air laut yang sangat bening</td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://4.bp.blogspot.com/-MDqAY1zYPYw/UamV7g-O81I/AAAAAAAAEwU/R0jgnuL_rL4/s400/IMG_1594.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Ini pemandangan di belakang kamar, air tawar dan air laut bersatu disini</td> </tr> </tbody> </table> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>Saat melihat ke bawah dari teras di cottage saya langsung disodori pemandangan coral yang berwarna warni, sangat jernih dan bening membuat saya segera mengambil&nbsp;<em>fin</em>&nbsp;dan menceburkan diri di beningnya laut Pantai Ora. Yang menarik, air tawar dari perbukitan mengalir dan bersatu dengan air laut persis di area belakang cottage sehingga menimbulkan perpaduan air tawar dan air laut. Saat snorkeling pun langsung terasa aliran air hangat yang berganti dingin terus menerus,&nbsp;<em>thermocline</em>&nbsp; yang menyebabkan sebagian air di Ora terlihat buram seperti air gula di gelas, dan sebagian bening,&nbsp;<em>interesting</em>!</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://3.bp.blogspot.com/-QqNv52h8LXg/UamWjWp60eI/AAAAAAAAEww/Uz1l4enexNA/s400/IMG_1312.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Ikan ikan terlihat jelas dari atas, ini view dari teras kamar</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://3.bp.blogspot.com/-_qwqTkuu2Z8/UamWiyIOVrI/AAAAAAAAEwg/fcpv59_MgSA/s400/IMG_1396.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Bahkan ikan ikan ini seakan tidak perduli saat Ferry snorkeling :)</td> </tr> </tbody> </table> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://3.bp.blogspot.com/-jSmthlYGk2E/UamWjAQ-jUI/AAAAAAAAEwk/-tfDZJiOZyg/s400/IMG_1641.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Warna warni koral di Ora</td> </tr> </tbody> </table> <div class="separator">&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>Di beberapa area yang mendekati pantai, koral sangat dangkal, membuat saya menjauh dari area ini karena khawatir kaki saya akan menubruk koral, sayang sekali jika koral cantik beraneka warna ini patah hanya karena saya ingin snorkeling di dekat garis pantai :)</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <table class="tr-caption-container" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: middle;" src="http://2.bp.blogspot.com/-vWzLl2L1SBs/UamWkhB46YI/AAAAAAAAEw4/FbHnoDdaYhc/s400/IMG_1642.JPG" alt="" /></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption">Lihat warna laut ini, heaven!</td> </tr> </tbody> </table> <div>&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div>Di area dermaga setelah kumpulan koral terdapat hamparan pasir putih di dasar laut di pantai dan sangat jernih hingga saat ada perahu melintas kita dapat melihat bayangannya di dasar, dipadu perbedaan warna laut dari biru hingga torquise bening,&nbsp;<em>this is "Maldives" in Maluku!</em></div> <div>&nbsp;</div> <div class="separator">&nbsp;</div> <p>&nbsp;</p> <div class="separator">&nbsp;</div> <p>&nbsp;</p> <div class="separator">&nbsp;</div> <div>&nbsp;</div> <div><em>This is a place you don't want to leave, a place to remind me again how beautiful Indonesia is, and how pretty Maluku's beaches and sea.</em></div> <div>&nbsp;</div> <div><a class="_hootified" href="http://twitter.com/#!/@marischkaprue">@marischkaprue</a>&nbsp;-&nbsp;<em>demand more time in Heaven</em></div> <div><br />Most photos by &nbsp;<a href="http://www.twitter.com/ferryrusli" target="_blank">Ferry Rusli</a><br /><br />See video when we have fun in the beautiful Ora:<br /><br /> <div class="separator">&nbsp;</div> <object width="560" height="315" data="http://www.youtube.com/v/YQKHe_UnW1M version=3&amp;hl=id_ID" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/YQKHe_UnW1M version=3&amp;hl=id_ID" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object><br /><br /></div> <div>&nbsp;NOTES:</div> <ul> <li>Cara menuju ke Ora beach ambil penerbangan ke kota Ambon, lanjutkan dengan kapal cepat dari Pelabuhan Tulehu ke Pelabuhan Amahai (Masohi) harga tiket VIP Rp. 150.000,- dan tiket ekonomi Rp. 92.000,- dan waktu tempuh sekitar 2 jam. Kemudian dari Pelabuhan Tulehu dilanjut dengan jalan darat dengan kendaraan selama sekitar 2 jam hingga ke Desa Sawai, jalanan berliku dan driver biasanya menyetir cukup kencang, bagi yang mudah mual siapkan obat anti mual ya. Dari Desa Sawai tinggal menyebrangi dermaga sekitar 10 menit saja dengan kapal kecil,&nbsp;<em>you're in Ora Beach already!</em></li> <li>Harga penginapan di Ora Beach Eco Resort dihitung per orang, bukan per kamar. Harga variatif tergantung season, berkisar antara 100 - 150 USD per orang per harinya, jika ramai ramai (group lebih dari 8 orang) silahkan coba menawar harga mudah mudahan diberi diskon oleh pemilik penginapan. Harga tersebut sudah termasuk transportasi dari Pelabuhan Tulehu di Ambon jadi untuk transportasi lebih mudah karena diatur oleh pihak Ora Beach Resort. Selain itu harga tersebut juga sudah termasuk makan 3x sehari. Siapkan snack sendiri karena tidak ada warung di area Ora Beach Resort.</li> <li>Untuk booking Ora Beach Resort silahkan hubungi Alvin +628111909404</li> <li>Tidak disarankan untuk snorkeling di area dangkal karena banyak koral dan gerakan kaki kita bisa saja tidak sengaja mematahkan koral, cari area yang lebih dalam, di area lain pun masih banyak koral indah yang dapat kita nikmati.</li> <li>Belum ada dive center di Ora Beach Resort, namun dengan snorkeling pun sudah cukup puas :)</li> <li><a class="_hootified" href="http://www.marischkaprudence.blogspot.com/2013/05/ora-beach-i-swear-to-god-this-is-heaven.html">#BarondaMaluku</a>&nbsp; adalah project untuk mempromosikan potensi pariwisata Maluku, ada banyak keindahan dari Maluku yang akan terus kami share usai menelisik keindahan Maluku, lihat lebih lengkap &nbsp;<a href="/barondamaluku/" target="_blank">disini</a>.</li> <li>Thanks to &nbsp;<a href="http://www.indonesia.travel/" target="_blank">Kementrian Pariwisata</a>&nbsp; yang fully support project &nbsp;<a class="_hootified" href="http://www.marischkaprudence.blogspot.com/2013/05/ora-beach-i-swear-to-god-this-is-heaven.html">#BarondaMaluku</a>&nbsp; &nbsp;dan tentunya &nbsp;<a href="http://www.twitter.com/madalkatiri" target="_blank">Mad Alkatiri</a>&nbsp;, nyong Ambon yang jadi inisiator &nbsp;<a class="_hootified" href="http://www.marischkaprudence.blogspot.com/2013/05/ora-beach-i-swear-to-god-this-is-heaven.html">#BarondaMaluku</a></li> </ul> Baronda Maluku http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/321/baronda-maluku <p><span>Baronda Maluku telah membawa sepuluh orang traveller untuk mengekplorasi keindahan dan pesona Maluku selama 5 hari. Baronda dalam bahasa lokal Maluku berarti jalan-jalan. Pada 25-30 Mei 2013 yang lalu, traveller yang terdiri dari&nbsp;</span><em>blogger</em><span>,</span><em>photographer</em><span>&nbsp;dan&nbsp;</span><em>videographer</em><span>&nbsp;berhasil dibuat terkagum-kagum oleh bentang alam Maluku dan 5 hari rasanya seolah tak cukup.</span></p> Camping ceria di Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/315/camping-ceria-di-pulau-semak-daun-kepulauan-seribu Pulau Semak Daun Dari namanya mungkin terdengar asing akan tempat indah ini. Sebuah nama memang tak luput dari kondisi ataupun keadaan di sebuah tempat. Pulau Semak Daun terletak di Kepulauan Seribu, sebelah utara kota Jakarta dan termasuk ke dalam Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Sesuai dengan namanya, pulau ini hanya berupa semak-semak dan pepohonan. Namun pulau ini memiliki pantai yang landai, bersih dan berpasir halus. Sunrise pada pagi haripun dapat kita jumpai saat mata terbuka dari mimpi :).      Tapi jangan harap menemukan penginapan dan fasilitas yang memadai di pulau tak berpenghuni ini. Hanya tersedia fasilitas alami yang Tuhan ciptakan untuk kita nikmati. Camping merupakan satu-satunya cara bagi yang ingin bermalam di sini. Namun bagi yang hanya ingin sekedar menikmati pulau ini tanpa bermalam, kita bisa menginap di Pulau Pramuka yang letaknya tidak jauh dari pulau Semak Daun. Dermaga pulau semak daun Camping seru     Butiran pasir yang aduhaaaaaii.....     Kenangan mimin #tsaah :D Selain pantai yang indah, letak pulau ini juga dekat sekali dengan spot-spot snorkeling atau bahkan diving. Bagi pecinta kehidupan bawah laut yang menyegarkan mata, mungkin pulau ini layak dan harus untuk dikunjungi. Tidak sulit untuk mengunjungi pulau Semak Daun, khususnya bagi para pejalan yang berasal dari Jakarta. Pelabuhan Muara Angke merupakan titik awal dari perjalanan menuju pulau ini. 3 (tiga) jam berlayar dengan kapal kayu tradisional yang besar melalui teluk Jakarta hingga sampai di persinggahan yaitu Pulau Pramuka, pulau yang menjadi pusat administrasi di Kepulauan Seribu. Namun bagi yang bersaku tebal, bisa juga menyewa kapal cepat dari Pelabuhan Marina Ancol. Tentu dengan biaya yang lebih mahal jika dibandingkan dengan kapal penyeberangan dari muara angke yang hanya bertarif Rp. 30.000,-. Kapal penyeberangan Muara Angke-Pulau Pramuka, sumber foto : www.PulauSeribu.net Biota laut yang masih terjaga dengan baik Sesampainya di pulau Pramuka, kita bisa menyiapkan segala keperluan untuk camping di pulau Semak Daun. Ohh iya, di pulau Semak Daun tidak ada sumber air tawar lhooo, jadi kita harus menyiapkannya di pulau Pramuka. Rental alat snorkeling hingga alat diving tersedia di pulau Pramuka dengan harga yang variatif. Sebelum menuju pulau Semak Daun, tidak ada salahnya untuk sekedar menikmati pulau Pramuka, di sini terdapat penangkaran Penyu Sisik yang dilindungi dan juga pengembangan Mangrove yang terdapat di sebelah timur pulau. Penangkaran penyu sisik dan mangrove di pulau Pramuka Setelah siap akan keperluan camping, kita harus menyewa perahu nelayan kecil untuk menuju pulau Semak Daun. Dengan biaya sekitar Rp. 300.000,-an dan berkapasitas 10-15 orang, kita bisa berkeliling pulau sekaligus smapai di pulau Semak Daun. Cukup mudah aksesnya, dekat dengan Ibukota Jakarta dan tentu saja murah bukan :))))). So, tunggu apalagi wahai para pejalan :))))                 "Dan tak lupa selalu saya ingatkan, jagalah kebersihan tsaaaaah :D"   Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/281/sekantung-cerita-farewell-party-di-bali-bali-punya-indonesia <p style="text-align: justify;">Siang itu Matahari nampak cerah dan aku baru saja menyelesaikan kuliah terakhirku di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Bel pun berbunyi, menandakan waktu istirahat tiba dan teman-teman mulai melakukan rapat kecil untuk mengadakan perpisahan (<em>farewell party</em>). Setelah melalui diskusi cukup panjang, akhirnya&nbsp; Kami sepakat untuk mengadakan <em>farewell party</em> di Bali.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Keesokan harinya kami berkumpul di depan aula kampus, kebanyakan membawa koper namun ada saja yang hanya membawa sebuah ransel (ajaib sekali teman aku itu!! Hehe maklum laki-laki kan bawaannya lebih sedikit dari perempuan). Setelah semuanya berkumpul, kami semua menaiki bus pariwisata yang siap menemani perjalanan kami menuju ke Pulau Bali (rasanya ingin cepet-cepet nyampe di Bali!). Kami meninggalkan Bandung menuju Bali menggunakan bus lumayan memakan waktu lama, maklum ongkos mahasiswa namun kami sempat transit dulu di beberapa rumah makan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Keesokan harinya sampailah kami di Kota Sidoarjo, walaupun hanya dapat melihat melalui kaca bus untuk menikmati pemandangan tanggul lumpur Lapindo yang selama ini ramai diberitakan di televisi. Aku sendiri sedih rasanya melihat masalah lumpur Lapindo yang selama ini belum terselesaikan, dimana keselamatan lingkungan dan ekosistem makin terancam.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Singkat cerita, tibalah kami di Pelabuhan Gilimanuk. Wah rasanya menyenangkan sekali melihat birunya laut, dimana anak kecil berenang di sekitar kapal laut yang sedang merapat di pelabuhan, berharap penonton melempar koin menuju laut, begitulah cara masyarakat disana mengais rezeki. Beberapa jam berlalu, sampailah kami di Pulau Bali, yang dipenuhi lautan turis domestik dan mancanegara.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh4.googleusercontent.com/-dhlm3DBVeE8/UO-FIlCG-GI/AAAAAAAAAQc/iHKocs1z4ns/w497-h373/CIMG6270.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="373" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Wah, rasanya seperti berada di surga dunia, melihat keindahan Pulau Bali yang begitu eksotik. Pantas banyak yang menjuluki Pulau Bali sebagai &ldquo;Pulau Dewata&rdquo;. Ironisnya turis mancanegara lebih mengenal Pulau Bali bukan sebagai bagian dari Indonesia. <em>They think</em> Bali <em>is </em>Bali, Indonesia <em>is</em> Indonesia. Yang jelas pernyataan ini sangatlah salah, &ldquo;Bali jelas Punya Indonesia&rdquo; dimana kita sebagai rakyat Indonesia harus mensosialisasikan Bali adalah salah satu pulau yang terletak di Indonesia, bukan milik negara lain.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh6.googleusercontent.com/-ivmNJm82OWA/UO99yIDSkjI/AAAAAAAAAKc/7SPog4Ny1hA/w497-h373/100_1951.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="314" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Hari pun berganti malam, kami semua <em>check-in</em> di sebuah hotel yang letaknya tidak jauh dari Legian, sebelum menuju hotel tempat kami menginap, kami menaiki sebuah mobil wara-wiri untuk menuju hotel. Karena di Bali sangat jarang sekali ditemukan angkutan umum seperti angkot yang ada di Bandung. Kita bisa menyewa motor buat jalan-jalan keliling Bali dengan tarif nego, seru!</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sesampainya di hotel, kami semua bergegas menuju kamar masing-masing, beberapa teman ada yang istirahat, ada yang melanjutkan jalan-jalan menuju Pantai Kuta, <em>shopping </em>di Legian dan beberapa melakukan aktivitas berenang di kolam renang yang disediakan pihak hotel. Kecuali aku, saking lelahnya di perjalanan, aku dan teman-teman sekamar memutuskan istirahat di kamar hotel, karena butuh menyiapkan stamina ekstra untuk jalan-jalan besok.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Keesokan harinya aku dan teman-teman bangun pagi, mandi dan sarapan di hotel, setelah itu kami melakukan studi banding menuju STP (Sekolah Tinggi Pariwisata) Bali. Kami sangat terkagum-kagum dengan keindahan sekolah tersebut karena sangat mewah, semewah hotel berbintang namun letaknya cukup jauh dari hotel kami, sehingga kami sampai saat Matahari terik. Dengan suka cita kami di guiding oleh mahasiswa STP Bali menuju setiap sudut ruangan di Sekolah Tinggi Pariwisata Bali. Hingga tanpa terasa sudah pukul 14:00 siang kami berada di sana. Kami bergegas meninggalkan STP Bali karena kami harus mengunjungi beberapa tempat lain.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia " src="https://lh4.googleusercontent.com/-8JA9D3UrFkk/UO9_DuOCWLI/AAAAAAAAALE/7iKWXPzEE8U/w497-h373/CIMG6298.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia " width="497" height="373" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh6.googleusercontent.com/-blJvo9jGXtM/UO9_95yXqyI/AAAAAAAAALk/QsbJfCOoRkk/w497-h373/CIMG6301.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="280" height="373" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Selama perjalanan kami melihat panorama Pulau Bali yang sangat indah, hal tersebut dikarenakan masyarakat Pulau Bali yang mayoritas beragama Hindu sangat disiplin dan sangat memegang teguh adat istiadat. Oleh karena itu, apabila masyarakat maupun turis di Pulau Bali melakukan hal-hal yang dilarang adat maupun peraturan maka akan terkena hukuman bahkan sanksi adat sekalipun. Hal ini yang mendorong masyarakat Pulau Bali untuk selalu menjaga kebersihan, menjunjung tinggi norma dan adat istiadat, sehingga hampir di setiap sudut Pulau Bali jarang terlihat sampah berserakan dan keamanannya pun cukup terjamin (wah&hellip; perlu kita terapin di mana pun nih!!). Bahkan sesaji yang biasanya diletakan oleh masyarakat Pulau Bali, baik di sepanjang jalan maupun di Pura (sebagai bentuk ritual mereka) tidak boleh diinjak sembarangan karena konon pernah ada cerita yang cukup ekstrem bagi saya, yakni ada yang sampai merenggut nyawa dan akan terjadi musibah apabila kita berbicara <em>sompral</em> dan menginjak sesaji dengan sengaja.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sebelum pulang menuju hotel kami semua transit dahulu menuju sebuah toko oleh-oleh, disana aku dan teman-teman membeli oleh-oleh khas Pulau Bali seperti kacang bali, lulur bali, sandal, aksesoris, baju, dan masih banyak lagi. Rasanya kurang lengkap kalau berwisata tanpa <em>shopping</em>. Hari pun sudah berganti malam, kami kembali ke hotel dan makan malam.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh5.googleusercontent.com/-o4bBNNhkZVI/UO-A15IavkI/AAAAAAAAAMI/-zeT-64QhQE/w497-h373/CIMG6312.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="373" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Keesokan harinya kami melakukan <em>studi tour</em> menuju Dinas Pariwisata Provinsi Bali dan BTDC (Bali<em> Tourism Development Corporation</em>). Setelah itu kami berkunjung ke <em>The Westin Hotel and Resort</em>, yang terletak diantara Kayu manis <em>Resort</em> dan <em>The Laguna</em> (Kawasan Bali <em>Tourism Development Corporation</em>/ BTDC). Disana kami melakukan diskusi dengan Dinas Pariwisata Provinsi Bali, manajemen BTDC dan <em>The Westin Hotel and Resort</em>. Setelah itu, acara kami tutup dengan jalan-jalan menuju GWK (Garuda Wishnu Kencana) dimana GWK merupakan sebuah taman wisata di bagian selatan Pulau Bali. Dimana semua pertunjukan budaya ( dari tari legong, barong, kecak, <em>wood sculpture, caricature</em>) dipentaskan setiap harinya. Selain sebagai kompilasi diorama kebudayaan Bali, GWK mempunyai fungsi lain yaitu sebagai <em>venue provider</em> untuk berbagai event, diantaranya adalah: <em>wedding, music concert, opening ceremony</em> dan sebagainya. Di sana kami menikmati tari barong yang sunggu indah, dan tak lupa kami mengabadikan moment ini dengan foto-foto. Setelah selesai menikmati pertunjukan Tari Barong di GWK kami melanjutkan perjalanan menuju hotel.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh5.googleusercontent.com/-PiMUft1yKOo/UO-BW_pO0aI/AAAAAAAAAMo/Y5SSOqytGig/w497-h373/100_2026.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="315" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh6.googleusercontent.com/-8C6XvRCGJ00/UO-CGoFMUNI/AAAAAAAAANU/qYVgGUDMa8k/w497-h373/P3270110.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="373" /></p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh6.googleusercontent.com/-JvtbgaUwbaw/UO-ClyWnlmI/AAAAAAAAAN4/MXC3xoxc9xM/w497-h373/P3270130.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="373" /></p> <p style="text-align: justify;"><br /> Hari keempat merupakan hari terakhir kami berada di Pulau Bali. Kami memiliki beberapa pilihan, karena sebagian teman-teman ada yang memilih berangkat menuju Tanjung Benoa untuk melakukan aktivitas wisata seperti <em>snorkeling, banana boat, speed boat, flying fish</em>, menyeberang menuju sebuah pulau yang didalamnya terdapat penangkaran penyu, ular, buaya dan sebagainya bahkan teman aku ada yang nekat untuk naik <em>para sailing</em> di Tanjung Benoa. Sedangkan aku dan beberapa teman memutuskan untuk bermain air di Waterbom Bali.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh6.googleusercontent.com/-08aXTdZ2BPo/UO-DktwE7XI/AAAAAAAAAPM/2F0npgefpGs/w497-h373/S4024362.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="373" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh5.googleusercontent.com/-3ZAqMCRx_3s/UO-IvXfIKsI/AAAAAAAAASU/WpUGYu8KjLE/w497-h373/S4024368.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="373" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sore harinya, kami semua berkumpul di Tanah Lot untuk menikmati <em>sunset</em>, kami semua menaiki tangga menuju sebuah <em>caf&eacute; </em>yang terletak di atas tebing menghadap Tanah Lot. Kami semua menikmati sajian minuman kelapa muda sambil menunggu <em>sunset</em> tiba. Setelah menikmati <em>sunset</em>, kami semua beranjak menuju sebuah restoran yang menawarkan makanan <em>seafood</em>. Teman-teman sangat senang sekali makan <em>sea food</em>, lain halnya denganku. Akhirnya aku memutuskan makan ayam goreng saja. &nbsp;Setelah santap makan malam, kami semua merapat di tepi pantai, kami semua menari ditemani sajian musik. Suasana pada saat itu romantis sekali menikmati musik sambil menari dengan teman-teman tak kalah asyiknya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh3.googleusercontent.com/-9KqFysd_64Y/UO-GBaWGXfI/AAAAAAAAARg/xNfwIntEtUs/w497-h373/CIMG6428.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="373" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh3.googleusercontent.com/-4qqprADrcQ4/UO-FxmYV5oI/AAAAAAAAARA/KKmKHBesm8s/w497-h373/CIMG6406.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="373" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" src="https://lh6.googleusercontent.com/-kK9ghc7q5x4/UO-EQ-sf_eI/AAAAAAAAAP0/o72XBNn7mFE/w497-h373/IMG_0345.JPG" alt="Sekantung Cerita Farewell Party di Bali, Bali Punya Indonesia" width="497" height="373" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Akhirnya acara kami tutup dengan doa bersama sebagai tanda perpisahan kami dengan Pulau Bali. Kamipun kembali menuju hotel untuk beristriahat. Fajar pun tiba kami semua bersiap-siap <em>packing</em> menuju Kota Bandung. Wah rasanya berat sekali meninggalkan Pulau Bali tapi kami semua senang dan semakin mengagumi Pulau Bali dan semakin percaya bahwa Bali<em> is a part of Indonesia</em>. Kini saatnya tugas kami mengsosialisasikan bahwa Bali<em> is </em>Indonesia!</p> <p style="text-align: justify;"><br /> <em>And </em>Indonesia<em> is our beloved country</em>. :)</p> Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/277/tulisan-arab-melayu-khazanah-budaya-riau-yang-menjadi-bahasa-universal-nusantara <p style="text-align: justify;">Di Yogyakarta atau kota lain di Jawa, siswa SD sudah begitu akrab dengan bahasa dan budaya Jawa. Mereka sedari kecil sudah dididik untuk mengerti budaya Jawa, menggunakan bahasa Jawa sejak kecil. Di bangku sekolah, mereka akan bertemu dengan mata pelajaran bahasa Jawa. Tradisi ini terpelihara dengan sendirinya sehingga generasi muda mengerti dan tahu warisan luhur nenek moyangnya.</p> <p style="text-align: justify;">Di Riau, hal yang sama juga terjadi namun cara ini tidak berlangsung lama, yakni tahun 90-an hingga awal 2000-an. Sekolah di Riau memiliki mata pelajaran muatan lokal Arab Melayu. Tulisan Arab Melayu menjadi program wajib kurikulum dasar muatan lokal yang memberikan arti dan makna bagi pelestarian budaya.</p> <p style="text-align: justify;">Mata pelajaran Arab Melayu ini memiliki makna sebagai interaksi dengan kehidupan masa lalu yang teraktualisasi pada cerita-cerita rakyat yang menggambarkan perilaku budaya yang ditampilkan dalam bentuk syair, hikayat, gurindam, pantun, petuah.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d7fb2fd5c01.jpg" alt="Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara" width="550" height="733" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d7faf224187.jpg" alt="Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara" width="550" height="369" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d7fa37b799d.jpg" alt="Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara" width="550" height="440" /></p> <p style="text-align: justify;">Dulunya, huruf Arab Melayu atau Jawi menjadi bahasa yang universal di Nusantara. Surat-surat raja-raja Nusantara ditulis dalam huruf Arab Melayu (Jawi). Sebagian besar karya sastra nusantara seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-raja Pasai dan lainnya ditulis dalam huruf Jawi. Cap atau stempel kerajaan pun ditulis ke dalam huruf Jawi. Mata uang di awal-awal penjajahan yang diterbitkan VOC pun juga menggunakan huruf Jawi.</p> <p style="text-align: justify;">Sayangnya, kini tradisi tersebut telah hilang seiring waktu. Mata pelajaran muatan lokal Arab Melayu di Riau hanya bertahan sebentar. Generasi saat ini di Kota Pekanbaru dan kota lain di Riau maupun di Nusantara tidak banyak yang mengenal dan mengerti huruf Arab melayu.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Perkembangan kesusasteraan Melayu ditandai dengan penggunaan huruf Arab Melayu. Masyarakat Melayu merasa tulisan tersebut telah menjadi milik dan identitasnya. Awalnya tulisan ini disampaikan melalui media dakwah dalam penyeberan agama islam di semenanjung Melayu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kini dengan adanya<strong> Visi Riau 2020 </strong>yang menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, sebagian besar masyarakat kembali mempelajari dan melestarikan tulisan Arab Melayu (Jawi). Hampir sebagian besar nama-nama jalan di Riau dan kabupaten/kota ditulis dengan huruf Arab Melayu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Trip Ekonomis Wisata ke Kawah Putih dari Jakarta http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/278/trip-ekonomis-wisata-ke-kawah-putih-dari-jakarta <p style="text-align: justify;">Kocek tipis tetapi sudah tidak tahan lagi untuk melangkahkan kaki keluar dari rumah dan jalan-jalan Saya pernah dalam kondisi begitu. Bahkan saya nekat sekali untuk pergi sore itu tanpa tahu harus ke mana. Sampai akhirnya saya medapatkan travel dari Jakarta menuju Bandung dan kemudian baru mendapatkan ide ke mana saya harus pergi.</p> <p style="text-align: justify;">Setelah bertanya kepada Google ke mana sebaiknya saya pergi di Bandung dan sekitarnya, saya mendapatkan saran untuk pergi ke Kawah Putih di daerah Ciwidey. Berhubung kocek saya pas-pasan, saya harus memutar otak supaya rencana saya bisa dilaksanakan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Trip Ekonomis Wisata ke Kawah Putih dari Jakarta" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50dbee2dcb382.jpg" alt="Trip Ekonomis Wisata ke Kawah Putih dari Jakarta" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Sesampainya di daerah Dago, Bandung, saya langsung masuk ke salah satu restoran ayam goreng cepat saji 24 jam dan membeli paket murahnya (Rp15.000,- saja) untuk mengisi perut yang keroncongan. Dan ini yang terpenting: menginap gratis! :D.</p> <p style="text-align: justify;">Jam 6 pagi keesokan harinya, saya bergegas mencari angkot untuk menuju Ciwidey. Dua kali naik angkot dari Dago-Kalapa-Soreang saya menghabiskan sekira Rp7000,-. Dilanjutkan dari Soreang menuju terminal Ciwidey saya menghabiskan Rp6000,-. Berlanjut lagi naik angkot menuju Kawah Putih, saya menghabiskan Rp4000,-.</p> <p style="text-align: justify;">Sesampainya di pintu gerbang Kawah Putih, saya langsung disambut oleh pohon-pohon tinggi menjulang yang membuat saya langsung merasa sejuk. Nah, untuk menuju Kawah Putih, dari pintu gerbang saya naik kendaraan khusus hanya dengan membayar Rp25.000,- (ongkos PP, sudah termasuk tiket masuk).</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Trip Ekonomis Wisata ke Kawah Putih dari Jakarta" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50dbee3b3db8a.jpg" alt="Trip Ekonomis Wisata ke Kawah Putih dari Jakarta" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;">Sesampainya di area Kawah Putih, saya sungguh takjub karena begitu masuk sudah terdapat bangunan semacam terminal dengan desain yang menarik. Selain itu, ada tulisan Kawah Putih yang besar dimana kita bisa berfoto-foto di depannya. Toilet juga banyak tersedia untuk pengunjung. Selain itu, yang menarik, ketika hendak menuju kawah, kita akan bertemu dengan seorang bapak pemetik kecapi yang semakin membuat syahdu suasana kawah yang dikelilingi pepohonan.</p> <p style="text-align: justify;">Sesampainya di area kawah, lebih menakjubkan lagi karena pemandangannya yang luar biasa! Kawah yang dipenuhi air belerang berwarna biru muda hingga hijau. Pohon-pohon yang mengelilinginya serta dinding gunung yang terlihat kokoh dari kejauhan tampak memukau.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Trip Ekonomis Wisata ke Kawah Putih dari Jakarta" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50dbee47c68d6.jpg" alt="Trip Ekonomis Wisata ke Kawah Putih dari Jakarta" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Meskipun cahaya Matahari sangat melimpah di sana, hawa dingin masih saja menyelimuti tubuh saya. Tapi itulah yang harus diperhatikan, apabila Anda berkunjung ke sana dan tidak memakai jaket atau menggunakan <em>sunblock</em>, kemungkinan besar kulit Anda akan terbakar tanpa terasa. Jangan lupa juga untuk memakai masker karena bau belerang masih kuat menyengat.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Trip Ekonomis Wisata ke Kawah Putih dari Jakarta" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50dbee51ee9c8.jpg" alt="Trip Ekonomis Wisata ke Kawah Putih dari Jakarta" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;">Puas berfoto-foto, saya segera turun dari area kawah dan menuju <em>outdoor</em> area yang berada tepat di seberang Kawah Putih. Berhubung saya belum pernah naik kuda, maka saya mencoba naik kuda hanya dengan membayar Rp15.000,- saja untuk sekali putaran. Bagaimana rasanya naik di punggung kuda Pantat saya sakit. Tapi mungkin saya tidak akan kapok naik kuda lagi suatu saat.</p> <p style="text-align: justify;">Selain berkuda, ada juga permainan <em>flying fox</em>, yang tentunya langsung saya coba. Untuk permainan ini cukup merogoh kocek Rp10.000,- saja. Meskipun tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu jauh, ber-<em>flying fox</em> selalu membuat jantung saya berdebar tapi juga membuat senyum saya mengembang. Terakhir, karena sudah tersedia kolam air panas, saya tidak akan menyia-nyiakannya untuk merendam kaki saya yang cukup lelah karena bergerak seharian.</p> <p style="text-align: justify;">Sebenarnya, dekat dari Kawah Putih ada satu tempat yang harus didatangi, yaitu Situ Patenggang. Namun sayang sekali, karena keterbatasan dana dan waktu yang saya miliki, saya memutuskan untuk langsung pulang saja ke Jakarta.</p> <p style="text-align: justify;">Budget yang saya keluarkan selama perjalanan saya ke Kawah Putih Ciwidey ditambah naik kuda dan <em>flying fox</em> itu kurang dari Rp250.000,-. Nah, kalau Anda tertarik juga untuk mengunjungi Kawah Putih Ciwidey semurah saya, silahkan dicoba!</p> Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/279/tradisi-upu-latu-keluarga-pical-di-ullath <p style="text-align: justify;">Ullath adalah salah satu negeri adat di Pulau Saparua yang terkenal dalam catatan sejarah Maluku. Negeri Ullath khususnya tercatat dalam sejarah kekristenan di Maluku sebagai daerah pertama yang menerima Injil di pulau Saparua pada 1630 disusul kemudian Negeri Booi. Kiranya sedikit gambaran tentang Negeri Ullath yang menjadi pengantar tulisan ini dapat menambah pengetahuan sejarah Anda.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c59d3037c20.jpg" alt="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Kali ini saya menulis tema yang mengangkat tentang salah satu tradisi adat di Negeri Ullath, yaitu Tradisi Adat Upu. Beruntung saya turut menyaksikan tradisi tersebut pada Jumat, 25 Pebruari 2011.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Acara adat Upu Latu ini diselenggarakan salah satu keluarga <em>pical</em> di Ullath. Keluarga ini membayar hutang adat kepada masyarakat Negeri Ullath dengan cara memberi makan secara massal kepada seluruh anggota masyarakat Ullath selama 4 hari, terhitung mulai dari hari Selasa, 22 Februari 2011. Jadi dapat disimpulkan tradisi Upu Latu adalah bentuk pembayaran hutang adat yang dibayar oleh salah satu keluarga kepada seluruh masyarakat Ullath.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c59d8168ff5.jpg" alt="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Hutang adat ini ada dikarenakan salah satu anggota keluarga (entah itu opa, ayah, atau lainnya) pernah menjabat sebagai <em>kepala soa</em> atau raja di negeri tersebut. Hutang adat harus dibayar karena mengingat bahwa mendiang anggota keluarga yang pernah menjabat sebagai <em>kepala soa</em> tersebut tentunya sering membuat perintah bagi siapa pun. Setiap masyarakat (tidak memandang berapa usianya) harus mematuhi dan melaksanakan perintah tersebut tanpa memandang waktu; entah itu pagi, siang, atau tengah malam sekali pun. Atau bisa juga dalam masa jabatannya, sang mendiang raja kerap menjatuhkan hukuman saat terjadi masalah-masalah sosial kemasyaratan. Dan keputusan raja tersebut harus diterima atau dijalankan dengan penuh rasa hormat.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tradisi Upu Latu ini sudah berlangsung turun-temurun di Negeri Ullath. Apabila ada keluarga yang tidak melaksanakan tradisi adat Upu ini sesuai dengan ketentuannya, maka keluarga tersebut akan mendapatkan ganjarannya. Ganjaran yang dimaksud adalah seperti sakit parah atau banyak anggota keluarga yang meninggal dunia. Tak heran tradisi Upu Latu ini menjadi tradisi wajib yang harus dijalankan oleh setiap keluarga yang salah satu garis keturunannya pernah menjabat sebagai kepala<em> soa</em> atau raja.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Susunan Acara Tradisi Upu</strong></p> <p style="text-align: justify;">Yang teramati pada saat itu, acara dimulai dengan prosesi persiapan yang dilakukan oleh sekumpulan <em>kewang</em>. Kewang adalah suatu lembaga adat di setiap negeri di Pulau Ambon, Pulau Lease, Maluku Tengah, dan di Pulau Seram yang memiliki tugas sebagai polisi hutan dan polisi pantai. Acara dimulai dengan berkumpul terlebih dulu di rumah kepala <em>kewang, </em>Bapak Martinus Patty.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c59de5b7b90.jpg" alt="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Kala itu Pak Martinus memakai baju <em>cele</em> (baju adat orang Maluku Tengah) berwarna merah dan celana 3/4 berwarna merah serta ikat berang merah yang dipakai di leher. Dalam persiapan tersebut mereka melatih beberapa nyanyian <em>kapata</em> untuk mengiring prosesi adat Upu. <em>Kapata</em> adalah syair yang dinyanyikan degan bahasa daerah Ullath, yang lirik-liriknya mengandung banyak arti filosofis tentang kebudayaan masyarakat dalam hubungannya dengan sesama manusia, alam sekitar, dan juga hubungan mereka dengan sang Khalik.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Saat tifa berbunyi dari Baileo (rumah adat di Maluku), inilah tanda prosesi adat Upu segera dimulai. Para <em>kewang </em>mulai bersiap dan berbaris di halaman rumah kepala <em>kewang</em> sambil menyanyikan <em>kapata</em>. Setelah itu spontan terdengar bunyi tifa<em> </em>dan<em> tahuri</em> (salah satu alat musik etik Maluku yang terbuat dari kulit keong laut yang berukuran besar). Para kewang mulai mempertunjukan Tari Cakalele (tarian perang) lengkap dengan parang (pedang) dan <em>salawaku</em> (tameng) sambil menuju ke rumah <em>kapitang basar</em> (panglima perang besar/kepala). Mereka akan menjemput sang <em>kapitang</em> beserta <em>malessi</em>nya (pengawal pribadi kapitang besar).</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c59f4144bdf.jpg" alt="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Nama <em>kapitang besar</em> dalam adat Ullath adalah Kapitang Italili; <em>malessi</em>-nya bernama Supusepa. Setelah dari rumah kapitang besar, iring-iringan tersebut menuju ke tempat/rumah salah satu kapitang penting lainnya yaitu Kapitang Lusikooy. <em>Malessi</em> Kapitang Lusikooy bernama Litamaputty yang tinggal di negeri Ihamahu. Selanjutnya, iring-iringan tersebut mulai menjemput kapitang-kapitang lainnya, seperti Kapitang Hasina (<em>malessi</em>-nya adalah sepasang anjing), Kapitang Puri-puri (<em>malessi</em>-nya adalah seekor burung kasturi), Kapitang Hiul, dan Kapitang Sulassa.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c59f7031678.jpg" alt="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Setelah kapitang-kapitang lengkap berada dalam barisan <em>cakalele</em> itu, iring-iringan kemudian menuju ke rumah keluarga <em>pical</em>, yaitu keluarga yang membayar hutang adat Upu tersebut. Tujuannya adalah untuk mengambil secara simbolik harta keluarga yang disediakan di atas sebuah meja. Nantinya meja tersebut akan dibawakan ke Baileo sebagai bentuk acara puncak dari akta pembayaran hutang adat Upu&mdash;meskipun di lain sisi mereka telah memberikan jamuan-jamuan khusus dan jamuan makan selama 4 hari kepada seluruh masyarakat Ullath.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c59fb5e45fb.jpg" alt="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c5a0040bfe6.jpg" alt="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c59f0b4f05b.jpg" alt="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c5a06239c00.jpg" alt="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Di atas meja tersebut tersedia 9 (sembilan) botol yang berisikan minuman <em>sopi</em> (minuman keras orang Maluku) dan 9 botol lainnya yang berisikan <em>sageru</em> (salah satu jenis tuak orang Maluku). Di samping meja tersebut terdapat 2 buah buyung/tempayan lainnya yang berisikan masing-masing <em>sopi </em>dan <em>sageru</em>. Sebelum iring-iringan <em>kapitang</em>, <em>malessi</em>, dan para <em>kewang</em> memasuki rumah keluarga <em>pical</em>, mereka disambut oleh salah satu tokoh adat yang mewakili keluarga <em>pical</em> dan mempersilahkan iring-iringan masuk ke tempat harta keluarga itu ditempatkan. <em>Kapata</em> demi <em>kapata</em> selalu diperdengarkan oleh iring-iringan rombongan itu sampai mereka diperkenankan masuk ke rumah keluarga <em>pical.</em></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c59f8e46e87.jpg" alt="Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Ada suatu kekhususan waktu itu, seorang pendeta jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Ullath dipersilahkan oleh tokoh-tokoh adat untuk membawakan doa dan meminta permohonan kepada Tuhan pencipta alam semesta agar beban-beban yang dahulu telah menimpa keluarga <em>pical</em> diangkat dan malapetaka tidak lagi menghampiri keluarga tersebut. Setelah itu, keluarga <em>pical</em> dipersilahkan mengitari meja (yang berisikan harta keluarga tersebut); sementara masyarakat negeri Ullath dan juga tokoh-tokoh adat menyanyikan <em>kapata</em> berisikan doa khusus bagi keluarga dan <em>saniri </em>negeri.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Beranjak dari prosesi tersebut, meja yang berisikan harta itu dibawa menuju ke Baileo dengan cara dijinjing oleh empat orang yang telah ditentukan. <em>Kapata</em>-<em>kapata</em> yang dibawakan oleh para tokoh adat mengiringi perjalanan. Iring-iringan yang semula hanya terdiri dari tokoh-tokoh adat, kini sudah bertambah dengan seluruh keluarga <em>pical</em> dan rumpun keluarganya. Sesampainya di Baileo, meja yang berisikan harta dari keluarga <em>pical</em> itu diterima oleh <em>tuang adat</em> (kepala adat).</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Semua prosesi adat di Baileo berlangsung dengan memakai bahasa daerah setempat. Setelah prosesi menerima harta dengan resmi dilakukan oleh <em>tuang-tuang</em> adat, sorak-sorai masyarakat Negeri Ullath riuh terdengar. <em>Kapata-kapata </em>dengan ramai diperdengarkan dengan penuh sukacita karena keluarga <em>pical</em> pada saat itu yang telah dinyatakan lunas membayar hutang adat Upu. Saya pun turut merasakan sukacita bersama kala itu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Minuman <em>sopi</em> dan <em>sageru</em> yang merupakan unsur penting dalam setiap acara adat di Maluku dibagi-bagikan untuk diminum bersama-sama. Yang aneh dan tidak masuk akal adalah bahwa buyung/tempayan yang berisikan <em>sopi </em>yang diletakkan di bagian pintu masuk dan pintu belakang Baileo tidak kunjung habis. Padahal, jumlah orang yang meminum dari isi buyung itu mencapai sekira 2000 orang.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Setelah saya telusuri, kabarnya fenomena tersebut merupakan hal biasa terjadi di setiap acara adat Upu. Buyung-buyung tersebut telah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Ullath dan hanya orang-orang khusus yang boleh mengambil isi dari dalam buyung tersebut. Menurut orang Ullath, tokoh khusus yang dapat mengambil <em>sopi</em> dari buyung yang ditempatkan di pintu depan adalah mereka yang bermarga Latul. Sementara, untuk buyung yang ditempatkan di pintu belakang adalah mereka yang bermarga Patty.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Demikianlah runtunan acara adat Upu di Maluku. Oh iya, saya hampir lupa ada beberapa informasi tambahan, diantaranya bahwa makanan atau pun minuman yang disediakan oleh keluarga <em>pical</em> boleh dikonsumsi tidak hanya untuk masyarakat Ullath tetapi juga bagi orang <em>dagang</em> (sebutan bagi pendatang atau wisatawan). Sementara untuk jenis makanan yang disediakan tidak diperbolehkan menyuguhkan daging babi dalam acara adat sebab dianggap pamali.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Lovely Indonesia - Komodo National park http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/280/lovely-indonesia-komodo-national-park <p style="margin-left: 30px; text-align: center;"><em><span class="fbPhotoCaptionText"><strong> &Prime;Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, Pergilah ketempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan di Dunia ini.</strong>&Prime;</span></em></p> <p style="text-align: justify;"><span class="fbPhotoCaptionText"><br /></span></p> <p style="text-align: justify;"><span class="fbPhotoCaptionText"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Lovely Indonesia - Komodo National park" src="http://sphotos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/264110_226417200724809_3841325_n.jpg" alt="Lovely Indonesia - Komodo National park" width="556" height="499" /></span></p> <p style="text-align: justify;"><span class="fbPhotoCaptionText"><span id="fbPhotoPageCaption" class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><strong></strong><span class="text_exposed_show"><br /></span></span></span></span></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Sunset Hari Pertama "Sailing", 30 Juni 2011</strong></p> <p style="text-align: justify;"><br /> 29 Juni 2011, saya dan teman seperjalanan terbang menuju Denpasar dari terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 16.05 WIB. Seharusnya kami berangkat pada pukul 15.10 WIB tapi burung besi bertuliskan "<em>now everyone can fly</em>" yang kami tumpangi <em>delay</em> selama 45 menit.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Matahari mulai menyembunyikan sinarnya, bintang-bintang dan awan mulai berpadu menghiasi langit Pulau Dewata setibanya kami di sana pada pukul 18.30 WITA. Setelah beristirahat sejenak dan menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Padang Bai. Kami hanya bisa melihat-lihat kehidupan malam di Pulau Bali dari kaca jendela mobil sewaan, karena mengejar waktu untuk sampai Lombok keesokan harinya demi sebuah event bernama "Sailing Komodo".</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Kurang lebih 2 jam waktu yang ditempuh dari Bandara Ngurah Rai menuju Pelabuhan Padang Bai. Sekira pukul 22.00 WITA, kami akhirnya tiba di pelabuhan yang menghubungkan Bali dan Lombok ini. Di perjalanan kami sempatkan membeli 2 bungkus nasi pedas di sekitaran Kuta. Rasa dan harga berbanding lurus untuk makan malam kami hari ini. Sesampainya di Padang Bai, saya dan salah seorang teman menuju loket dan membeli tiket penyeberangan menuju Pelabuhan Lembar, Lombok. Di ruangan penjualan tiket terlihat beberapa turis asing dengan matras dan <em>sleeping bag</em> terbaring di lantai keramik putih. Entah kemana tujuan mereka, tapi pastinya bertujuan untuk menikmati keindahan alam Indonesia.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Suasana pelabuhan masih sepi, belum ada kapal bersandar yang bisa kami tumpangi. Kurang lebih satu jam kami habiskan di ruang tunggu gedung kantor syahbandar Padang Bai sampai sebuah kapal akhirnya merapat. Klakson kapal berbunyi layaknya bel sekolah di pagi hari tanda kapal siap ditumpangi. Hanya berselang setengah jam dari pukul 23.30 WITA, kapal sudah berlayar melintasi Selat Lombok.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tempat terbaik dari perjalanan malam dengan menggunakan kapal laut adalah memilih tempat di dek teratas kapal dimana kita bisa membaringkan tubuh sambil memandang ke langit penuh bintang-bintang. Langit Indonesia bagian Tengah memang masih bersih dan tidak banyak terkena polusi. Belum puas mata ini dimanja bintang-bintang, apa daya akhirnya mata ini terpejam juga. Setelah dua jam tertidur dari total empat jam perjalanan dengan kapal ini, akhirnya kami sampai juga di Bumi Lombok.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Pemandangan di Pelabuhan Lembar ini tak jauh berbeda dengan Padang Bai; begitu tenang dan sepi karena mungkin orang-orang masih terbuai dalam mimpi. Di antara mobil dan truk-truk yang terparkir, kami beristirahat sejenak di mushola. Waktu masih pukul 04.00 WITA saat itu; tampak beberapa orang tertidur di teras mushola. Membasuh tangan dan beberapa bagian tubuh lainnya dan selanjutnya menunaikan kewajiban lima waktu kami lakukan sebelum berangkat menuju daerah Kemasan, Lombok. Di Kemasan, kami singgah untuk sekedar bersilahturahmi dengan beberapa teman yang akan menaiki gunung impian bagi sebagian banyak orang, Gunung Rinjani.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Suasana pelabuhan sudah mulai ramai pada pukul 05.00 WITA. Menumpang mobil <em>carry</em> ber-plat kuning, kami meninggalkan Lembar menuju Kota Mataram selama kurang lebih 2 jam. Kemudian, kami makan pagi gratis di rumah teman, bebersih diri dan berbelanja makanan kecil. Menjelang siang, kami berpisah dengan tim yang menuju Gunung Rinjani. Mereka menumpang mobil menuju Sembalun, sementara saya beserta 3 orang teman menumpang taksi menuju Terminal Mandalika, tempat di mana "EO Kencana" menjemput kami untuk mengikuti rangkaian tur Sailing Komodo.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Selanjutnya, kami menuju Pelabuhan Bayangan Kayangan dengan menumpang bus ukuran sedang bertuliskan pariwisata. Kami menempuh perjalanan selama 2 jam bersama 11 turis asing dan 2 orang Indonesia sebagai awal dimulainya perjalanan kami menuju <em>world heritage</em> di Indonesia Bagian Tengah. Setibanya di pelabuhan, kami briefing secukupnya dan kapal pun berlayar diiringi Adzan Asar untuk Lombok dan sekitarnya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><span class="fbPhotoCaptionText"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Lovely Indonesia - Komodo National park" src="http://sphotos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/263776_227658110600718_7173729_n.jpg" alt="Lovely Indonesia - Komodo National park" width="551" height="382" /></span></span></span></span></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Matahari Terbit, Laut Indonesia Tengah (1 juli 2011)</strong></p> <p style="text-align: justify;"><br /> Gradasi warna biru langit dan jingga Matahari yang masih di bawah garis cakrawala menghiasi pagi itu. Malam sebelumnya pun tak kalah indahnya, tak pernah bosan dengan kerlap-kerlip bintang bahkan ada beberapa bintang jatuh menyemarakkan malam itu. Belum lagi keindahan <em>milky way</em> pita kabut (kumpulan jutaan bintang) bercahaya putih yang membentang di langit. Meski tampak samar-samar namun sungguh indah untuk dipandangi sambil berbaring di dek depan kapal kayu.<br /> <br /> Terombang-ambing pelan di lautan selama kurang lebih 12 jam dari Pelabuhan Kayangan, Lombok, kami pun tiba di Gili Bola untuk beristirahat sejenak sambil menunggu pagi. Waktu menunjukkan pukul 03.00 WITA saat kami sampai di sana dan pelayaran dimulai kembali saat menjelang subuh.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Gradasi warna biru langit pun tergantikan oleh jingga Matahari yg mulai muncul dari persembunyiannya. Matahari terbit yang sempurna! Beberapa kali saya memencet tombol rana kamera demi mengabadikan keindahan alam Timur pagi itu. Menyeduh segelas teh dan meminumnya di dek depan kapal sambil memandang Matahari yang mulai beranjak menaiki langit adalah hal lainnya yang saya lakukan. Jingga pun akhirnya tergantikan sinar perak Matahari yang cukup panas.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Treking Pulau Moyo, 1 Juli 2011</strong></p> <p style="text-align: justify;"><br /> Setangkup roti bakar berlapis mentega dan selai strawberi menemani perjalanan kami menuju Pulau Moyo. Hari masih pagi, waktu menunjukkan pukul 08.00 WITA setibanya kami di Pulau Moyo. Pulau ini tepat berada di sebelah Utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Meski masih pagi, Matahari sudah terik kala itu.</p> <p style="text-align: justify;">Tujuan kami yang utama adalah mengunjungi air terjun yang ada di pulau ini. Kapal tidak terlalu merapat ke pulau, sebagian dari kami menggunakan sampan kecil untuk menjejakkan kaki di pulau ini dan sebagian lainnya memilih menyemburkan diri dan berenang ke pinggir pulau. Kenapa tidak merapat di dermaga Dermaga hanya ada di sisi lain Pulau Moyo, tepatnya di Amanmana Resort. Amanmana adalah sebuah hotel bintang lima yang menyuguhkan kemewahan dan privatisasi bagi pelanggan mereka. Mengingat modal yang kami kantongi, tidak memungkinkan bagi kami untuk singgah di resort tersebut.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Mengikuti jalan setapak, kami melintasi hutan dan melewati beberapa aliran sungai dangkal. Sungai yang kami telusuri selama kurang lebih 30 menit itu berakhir di sebuah air terjun eksotis dengan kolam-kolam alami, juga "tangga-tangga" yang seakan-akan seperti buatan manusia karena terlihat begitu simetris dan nyaris sempurna memanjakan mata.<br /><br /></p> <div class="text_exposed_root text_exposed" style="text-align: justify;"><span class="text_exposed_show"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Lovely Indonesia - Komodo National park" src="http://sphotos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/282020_228295657203630_6958767_n.jpg" alt="Lovely Indonesia - Komodo National park" width="561" height="423" /></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed" style="text-align: justify;"><br /> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><br /></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><br /></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><img title="Lovely Indonesia - Komodo National park" src="http://sphotos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/283234_228625637170632_3458109_n.jpg" alt="Lovely Indonesia - Komodo National park" width="554" height="387" /></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><br /></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span id="fbPhotoPageCaption" class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><br /> Air terjun ini tidak seperti air terjun pada umumnya yang airnya turun deras dari ketinggian dan mengakibatkan buih-buih seakan terbang disertai bunyi kencang air menabrak bumi di bawahnya. Air Terjun Moyo ini begitu tenang, setenang alam di sekitarnya. Untuk dapat lebih menikmati air terjun ini saya dan beberapa teman seperjalanan "memanjat" tebing di samping aliran air, pada awa<span class="text_exposed_show">lnya kita seperti menaiki tangga alami dan selanjutnya "merambat" mengikuti kontur tebing.<br /> </span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><br /></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span id="fbPhotoPageCaption" class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><br /> Beberapa kali melewati kolam-kolam alami dan berakhir di kolam sedalam kurang lebih 6 m. Diatas kolam ini terdapat dahan pohon dimana orang-orang yang berkunjung ke Air terjun ini melakukan Atraksi Lompat Diri. Saya tidak melompat krn khawatir terjadi apa-apa dan karena saya sadar perjalanan saya masih panjang :D . Suhu air cukup dingin di sini tapi cukup sejuk di bandingkan temperatur Indonesia Bagian Tengah :D.<br /> </span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><br /></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span id="fbPhotoPageCaption" class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><br /> Satu Setengah jam telah berlalu saatnya melanjutkan perjalanan menuju Pulau berikutnya, pulau di mana terdapat Danau Air Asin yang tercipta akibat Letusan Gunung Tambora.</span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><br /></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><br /></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><br /></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><br /></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><img title="Lovely Indonesia - Komodo National park" src="http://sphotos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/282126_231184903581372_4223714_n.jpg" alt="Lovely Indonesia - Komodo National park" width="560" height="365" /></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><br /></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><span id="fbPhotoPageCaption" class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><strong>Danau Satonda, Pulau Satonda -Laut Flores-</strong><br /> <br /> Danau ini sejatinya merupakan kaldera Gunung Satonda yang berdiri sekitar 2.000 SM. Pada 1815, Gunung Tambora di Dompu meletus dan mengirimkan ombak besar yang membanjiri kaldera Satonda, lalu menyulapnya menjadi danau berair asin.<br /> <br /> Tak banyak yang bisa dilakukan di sini selain Foto-Foto dan menikmati keasrian danua di tengah pulau ini. Saya hanya sebentar menginjakan kaki di sini, karena saya terlalu lama menikmati pesona bawah air di sekitar dermaga Pulau Satonda. Bermodalkan Google-Snorkle-dan Fin cukup untuk berenang dengan ikan warna-warni di antara terumbu karang yang indah.</span></span></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><br /></span></span></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><br /></span></span></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><br /></span></span></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><br /></span></span></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Lovely Indonesia - Komodo National park" src="http://sphotos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/270360_231207690245760_8265067_n.jpg" alt="Lovely Indonesia - Komodo National park" width="382" height="574" /></span></span></span></span></span></span></div> <div class="text_exposed_root text_exposed"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><br /></span></span></span></span></span></span></div> <br /> <div class="text_exposed_root text_exposed" style="text-align: left;"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="text_exposed_show"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><span class="fbPhotosPhotoCaption"><span class="hasCaption"><br /></span></span></span></span></span></span></span></span></div> </div> Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/274/pura-uluwatu-pura-eksotis-di-selatan-pulau-bali <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" src="https://lh6.googleusercontent.com/-KeP8vd7r3kc/UOo6hNTEovI/AAAAAAAAAJM/bvrtMq2XjB0/s320/1.JPG" alt="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" width="320" height="240" /></p> <p style="text-align: justify;">Pura yang terletak di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali pada akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah atau Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Lokasi Pura ini berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung. Jarak Pura Uluwatu sekitar 25 km ke arah Selatan dari kawasan wisata Pantai Kuta. Terletak di ujung Barat Daya Pulau Bali, pura yang dibangun pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut ini juga memiliki hutan kecil yang disebut <em>alas kekeran</em>, yang konon berfungsi sebagai penyangga kesucian pura. Selain itu, karena letaknya yang menjorok ke lautan Samudera Hindia, Pura ini terkenal dengan <em>sunset</em>-nya yang sangat menawan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;<img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" src="https://lh4.googleusercontent.com/-PQIgBuFINS0/UOo6hG3NYII/AAAAAAAAAJI/8aezieDqy04/w251-h188-n-k/2.JPG" alt="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" width="251" height="188" /></p> <p style="text-align: justify;">Untuk mengunjungi Pura ini, harga tiket masuk kawasan ini ialah Rp15.000,-. Di sana terdapat puluhan atau bahkan ratusan ekor kera yang berkeliaran. Walaupun tampak jinak, kera-kera tersebut seringkali mengganggu pengunjung dengan menyerobot makanan atau barang-barang yang dikenakan. Oleh karena itu, setiap pengunjung dilarang menggunakan kacamata, topi, dan aksesoris lainnya yang dapat mengundang 'keisengan' kera-kera di sana. Selain itu, terdapat larangan bagi wanita yang sedang datang bulan (haid) untuk memasuki Pura Uluwatu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Setiap hari, di pura ini diadakan pertunjukan Tari Kecak dengan latar belakang <em>sunset</em> yang indah, dengan diiringi oleh kelompok penari laki-laki yang berjumlah sekira 50 orang. Untuk menyaksikan pertunjukan itu, pengunjung diwajibkan membeli tiket masuk seharga Rp75.000,- dan mulai pukul 17.00 WITA. Jangan khawatir, apabila Anda kurang tertarik menyaksikan pertunjukan Tari Kecak itu, Anda masih bisa menjelajahi kawasan pura yang cukup luas. Di sini Anda bisa menikmati indahnya <em>sunset</em> dari atas tebing karang dengan deburan ombak laut di bawahnya.</p> <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: text-bottom; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;" src="https://lh5.googleusercontent.com/-rnjrqVXQikA/UOo6hHdT6GI/AAAAAAAAAJQ/AQVu6jjjsD4/s320/3.JPG" alt="" width="240" height="320" /></p> <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: text-bottom; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;" title="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" src="https://lh6.googleusercontent.com/-rbCtQ3TxGEc/UOo6iCtLuKI/AAAAAAAAAJU/Dsi7dFc_FHo/w250-h188-n-k/4.JPG" alt="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" width="250" height="188" /></p> <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: middle; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;" title="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" src="https://lh3.googleusercontent.com/-gb6RTwgzQAg/UOo6iU4XxkI/AAAAAAAAAJg/fbkABqxcIKg/w323-h244-n-k/5.JPG" alt="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" width="323" height="244" /></p> <p style="text-align: justify;">Untuk bisa mencapai lokasi ini, selain dengan menyewa kendaraan, Anda juga bisa menggunakan Feeder trans Sarbagita trayek II yang melayani rute Kelan - Kedonganan - Uluwatu dengan tarif sebesar Rp3000,-.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" src="https://lh5.googleusercontent.com/-EK2HjS3mOaY/UOo6ixqfJzI/AAAAAAAAAJw/DoZIx40moko/w325-h244-n-k/6.JPG" alt="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" width="325" height="244" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" src="https://lh5.googleusercontent.com/-TNPBYqSRPNM/UOo6jOeuaHI/AAAAAAAAAJo/0RsEHBYZWYg/w408-h306-n-k/7.JPG" alt="Pura Uluwatu, Pura eksotis di Selatan Pulau Bali" width="408" height="306" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <div style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"> <p>&nbsp;</p> </div> <p class="separator" style="clear: both; text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p class="separator" style="clear: both; text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <div style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"> <p>&nbsp;</p> </div> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/275/pantai-santolo-surga-tersembunyi-di-selatan-garut <p>&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><span style="text-align: justify;">Garut memang tak lepas dari panorama alamnya yang menakjubkan. Selain bentang alam pegunungan yang terhampar di setiap sisi Kota Garut, di sana juga terdapat beberapa pantai yang indah dan cocok untuk menjadi tujuan liburan anda. Salah satunya ialah Pantai Santolo Indah yang terletak di Pamengpeuk, tepatnya di Kecamatan Cikelet, sebelah Selatan pusat Kota Garut.</span></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c859f148fd2.JPG" alt="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" width="640" height="480" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Jarak pantai ini dari kota Garut sekira 80 km dan dapat ditempuh dengan perjalanan darat kurang lebih 3,5 jam. Meskipun cukup jauh, namun suasana perjalanan menuju ke pantai ini sangat memanjakan mata dengan pemandangan yang menyajikan pegunungan dan berkelok-kelok. Pantai ini memiliki hamparan pasir putih yang lembut dan memanjang dari Barat ke Timur. Di sana terdapat tempat berlabuh dan berkumpulnya para nelayan tradisional. Selain itu, di kawasan pantai ini juga terdapat sebuah stasiun tempat peluncuran roket milik LAPAN (Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional).</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c85bd76d4d4.jpg" alt="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" width="640" height="480" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c85a059c379.jpg" alt="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" width="640" height="480" /></p> <p style="text-align: justify;">Bergerak ke arah Selatan, kita dapat menyeberangi pulau yang biasa disebut dengan Pulau Santolo. Cukup membayar Rp2.000,- untuk menyeberanginya dengan menggunakan kapal nelayan. Di Pulau Santolo ini memang agak berbeda keadaan pantainya, meskipun tetap berpasir putih dan masih jernih airnya tetapi penuh dengan batuan karang. Jangan takut, masih tetap indah kok, sebab di sini <em>spot </em>paling cocok untuk kemping bagi yang memiliki jiwa petualang. Untuk yang tidak suka kemping, di sekitar Pantai Santolo banyak losmen dan penginapan dengan harga yang sangat terjangkau (berkisar antara Rp100.000,- sampai Rp200.000,- per malam).</p> <p style="text-align: justify;">Selain bisa menikmati suasana pantai yang tenang, di Santolo juga terdapat Muara Cilauteureun yang cukup populer. Dinamakan Cilauteureun karena air laut di muara ini bergerak bukan menuju laut, melainkan kembali lagi ke arah muara. Sederhananya biasa disebut air laut yang mengalir ke darat. Konon peristiwa seperti ini hanya bisa ditemukan di dua tempat, yakni di Santolo Garut dan Prancis.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c85a1a77659.jpg" alt="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" width="640" height="480" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c85a45d6010.JPG" alt="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" width="640" height="427" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c85b72a2a78.JPG" alt="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Apalagi yang kurang di tempat ini Menikmati pantai pasir putih dengan ombak yang tenang bisa atau menyaksikan indahnya batuan karang di Pulau Santolo sambil kemping ria bersama kawan juga bisa.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c85a333c40c.JPG" alt="Pantai Santolo, surga tersembunyi di Selatan Garut" width="640" height="480" /></p> <p style="text-align: justify;">Transportasi menuju ke Santolo:</p> <p style="text-align: justify;">Dari terminal bus Garut, bisa menggunakan angkutan umum mikrobus (ELF) jurusan Pamengpeuk dengan tarif sekira Rp25.000,-. Jika posisi Anda di Cileunyi juga dapat menggunakan angkutan sejenis menuju Cikajang lalu dilanjutkan ke arah Pamengpeuk dengan tarif Rp30.000,-.</p> <p style="text-align: justify;">Angkutan umum menuju Garut sendiri cukup banyak, terutama yang berasal dari kota-kota terdekat di Jawa Barat seperti Bandung, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Merak dan kota lainnya dengan tarif sekira Rp35.000,- sampai Rp100.000,- (tergantung kelas bus dan jarak tempuhnya).</p> <p>&nbsp;</p> Pantai Pasir Putih, Keindahan Sederhana dalam Kesahajaan http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/276/pantai-pasir-putih-keindahan-sederhana-dalam-kesahajaan <p style="text-align: justify;">Pantai Pasir Putih Dimana Lampung Jepara </p> <p style="text-align: justify;">Ternyata Pantai Pasir Putih tidak hanya ada di Lampung dan Jepara saja. Di daerah Blitar, Jawa Timur kita juga dapat menemukan Pantai Pasir Putih, tentunya dengan pasirnya yang putih pula. Pantai ini sudah banyak dikenal oleh masyarakat Blitar karena letaknya yang bersebelahan dan hanya terpisah batu karang dengan Pantai Tambakrejo yang telah lebih dulu dikelola sebagai tempat tujuan wisata. Tetapi bagi orang luar kota seperti saya, nama Pantai Pasir Putih tidaklah <em>familiar</em> di banding pantai-pantai lain yang telah lebih dulu menjadi tujuan wisata.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Pasir Putih, Keindahan Sederhana dalam Kesahajaan" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50da93b355f0e.JPG" alt="Pantai Pasir Putih, Keindahan Sederhana dalam Kesahajaan" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Untuk pertama kalinya berkunjung ke kota Blitar, tujuan saya adalah mengunjungi Pantai Tambakrejo karena lokasinya yang mudah dijangkau dan ketersediaan angkutan umum dari terminal kota Blitar. Tapi <em>travelling</em> bukan melulu soal destinasi bukan <em> Stop thinking about destination, and the journey will surprise you</em>. Dan itulah yang terjadi pada perjalanan saya kali ini, saya bertemu dengan penduduk lokal dan &ldquo;dipaksa&rdquo; untuk menginap dan beristirahat di rumah beliau. Dan tidak hanya beristirahat saja, saya pun menjadi tahu keberadaan Pantai Pasir Putih yang ternyata tidak jauh dari Tambakrejo dengan pemandangan yang jauh berbeda. Ah bukankah penduduk lokal adalah <em>guide</em> terbaik </p> <p style="text-align: justify;">Pantai Tambakrejo adalah pantai yang ramai dengan kapal-kapal nelayan yang berangkat dan berlabuh, dimana mereka menggantungkan mengepulnya dapur dan uang sekolah putra putri mereka dari hasil tangkapan ikan mulai dari subuh hingga petang. Para wisatawan juga ramai yang berkunjung ke sana untuk menikmati pasir pantai yang berwarna coklat sambil menunggu <em>sunrise</em> atau pun <em>sunset</em> menampakkan perpaduan warnanya di langit Kota Blitar.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Pasir Putih, Keindahan Sederhana dalam Kesahajaan" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50da97306adb5.JPG" alt="Pantai Pasir Putih, Keindahan Sederhana dalam Kesahajaan" width="550" height="351" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Pantai Pasir Putih memiliki pemandangan yang berbeda. Untuk dapat mencapainya kita harus melewati persawahan dan pemukiman warga dengan jalanan yang menanjak dan berkelok. Akan tetapi pemandangannya sungguh sangat memanjakan mata; bukit-bukit karang dengan pepohonan yang hijau, warna air laut yang biru kehijauan berkilauan tertimpa sinar Matahari, pasir pantai yang putih, dipadu dengan suara angin yang sayup-sayup terdengar dan suara ombak yang mampir sebentar untuk menyapa kaki-kaki kita lalu kemudian kembali ke asalnya dengan tenang&mdash;lautan. Di pantai ini tidak banyak wisatawan ataupun penjual makanan seperti halnya di pantai-pantai yang telah menjadi tempat wisata. Di sini kita hanya dapat menemukan satu dua orang penduduk lokal yang berjalan menyusuri bibir pantai dalam diam. Saya rasa pantai ini menjanjikan keindahan serta ketenangan dengan cara yang sederhana, dalam <em>frame </em>kesahajaan para penduduk lokalnya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pantai Pasir Putih, Keindahan Sederhana dalam Kesahajaan" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50da944ba44f5.JPG" alt="Pantai Pasir Putih, Keindahan Sederhana dalam Kesahajaan" width="550" height="352" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sempatkanlah untuk mampir ke gardu pandang Pantai Tambakrejo yang juga hanya dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi saja. Dari sana kita bisa melihat deretan garis Pantai Tambakrejo dan Pantai Pasir Putih beserta karang-karangnya berpadu dengan pemandangan ladang dan rumah-rumah penduduk yang padat serta dipagari oleh perbukitan di sekelilingnya. Keindahan yang masih perlu kita kelola dan kita jaga. </p> Tanjung Lesung, Pesona di Ujung Barat Jawa http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/271/tanjung-lesung-pesona-di-ujung-barat-jawa <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tanjung Lesung, Pesona di Ujung Barat Jawa" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c432937d4c3.JPG" alt="Tanjung Lesung, Pesona di Ujung Barat Jawa" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Provinsi Banten merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak pantai sebagai potensi wisatanya. Berbicara keindahan pantai di Banten, tidak melulu harus Pantai Anyer dan Carita. Terbilang beberapa nama pantai lainnya yang terkenal di sini, seperti Sawarna dan Bayah. Akan tetapi, sebenarnya masih ada satu lagi destinasi wisata pantai di Banten yang jauh lebih indah, yaitu Pantai Tanjung Lesung. Tanjung Lesung mampu menyempurnakan pesona Banten. Pantai Tanjung Lesung berada di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Pandeglang, Banten.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tanjung Lesung, Pesona di Ujung Barat Jawa" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c4316822fc2.JPG" alt="Tanjung Lesung, Pesona di Ujung Barat Jawa" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Pantai Anyer dan Carita memang destinasi yang paling sering saya dengar saat berada di Banten. Rasanya bosan bila harus ke destinasi yang sama, padahal daerah tersebut memiliki banyak sekali pantai pilihan. Oleh karena itu, beberapa bulan lalu saya memilih Pantai Tanjung Lesung sebagai destinasi pilihan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Pantai ini dinamakan Tanjung Lesung karena lokasinya yang menjorok ke laut sehingga bentuknya mirip sekali dengan ujung lesung. Adapun dalam bahasa Sunda, lesung itu identik dengan lekukan di pipi atau lesung pipit, bentuk ini pun sesuai dengan pantainya yang menjorok.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Banyak yang menyebutkan kalau berwisata ke tempat ini membutuhkan <em>budget</em> yang cukup tinggi. Nah, untuk alasan yang satu ini, saya sangat setuju. Apalagi jika Anda menginap di hotel atau villa yang berada dalam kawasan Tanjung Lesung. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir! Anda tetap bisa memangkas biaya pengeluaran saat berlibur ke pantai ini. Dengan catatan, saat bermalam Anda menyewa <em>cottage</em> atau rumah milik penduduk sekitar. Harga yang mereka tawarkan jauh lebih murah ketimbang harus membayar sewa hotel.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tanjung Lesung memiliki panorama alam yang masih alami dan indah. Bentangan pasir putih serta beragam bentuk karang menghiasi dasar perairannya. Hamparan pasir pantainya yang landai memberi ruang kepada pelancong untuk bermain pasir, berjemur, berolahraga seperti sepak bola serta voli pantai, dan lain sebagainya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tanjung Lesung, Pesona di Ujung Barat Jawa" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c43210927ac.JPG" alt="Tanjung Lesung, Pesona di Ujung Barat Jawa" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Oh ya, saat berlibur di sini, wisatawan juga bisa menikmati sensasi <em>banana boat</em>. Dibandingkan dengan Pantai Anyer dan Carita, Tanjung Lesung memang memiliki citra yang berbeda. Bila Anyer dan Carita identik dengan wisata untuk semua kalangan, Tanjung Lesung yang entah sengaja atau tidak, dicitrakan sebagai tempat wisata kelas menengah atas. Kehadiran resort-resort mewah di kawasan ini pun memperkuat citra tersebut.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Tanjung Lesung, Pesona di Ujung Barat Jawa" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c431c0e614f.JPG" alt="Tanjung Lesung, Pesona di Ujung Barat Jawa" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kawasan Pantai Tanjung Lesung juga terlihat lebih terawat sebagai tempat wisata berkelas. Lagi pula, lokasi ini memang sangat menjanjikan karena memiliki pantai pasir putih yang bersih, air laut yang jernih dengan pesona bawah laut yang masih asri, serta dukungan lingkungan sekitar yang memadai.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Bila Anda dari Jakarta, untuk mencapai Tanjung Lesung bisa melalui dua rute alternatif. Pertama, mengambil rute jalan tol Jakarta-Merak, lalu keluar melalui pintu gerbang tol Serang Timur. Setelah melewati Kota Serang, perjalanan dilanjutkan ke arah Kota Pandeglang dan Labuan. Kemudian perjalanan akan berakhir di Pantai Tanjung Lesung.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Untuk jalur kedua, Anda bisa mengambil rute jalan tol Jakarta-Merak, lalu keluar melalui gerbang tol Cilegon. Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri pesisir Anyer-Carita. Selanjutnya, arahkan kendaraan ke Labuan dan berakhir di Pantai Tanjung Lesung.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Antara Jakarta menuju Pantai Tanjung Lesung, berjarak sekira 160 km dengan waktu tempuh sekitar 2,5 sampai 3 jam. Perjalanan ini juga bisa Anda lewati menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Pastikan, Anda bisa menikmati pesona alam di ujung Pulau Jawa ini.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/273/raja-ampat-surga-di-barat-bumi-cendrawasih <p style="text-align: justify;">Malam semakin larut namun lampu-lampu kendaraan masih menghiasi Tol Cipularang. Kami sedang berada dalam perjalanan dari Bandung menuju Bandara Cengkareng mengejar penerbangan tengah malam dengan diliputi sedikit rasa cemas akan ketinggalan pesawat apalagi sebelumnya lampu mobil sempat putus. Singkat kata kami sampai pada waktu yang tepat sehingga tidak perlu lama menunggu <em>boarding</em>. Wajah saya sedikit sumringah di tengah kantuk karena ini akan menjadi kali pertama saya untuk merasakan bagian Timur dari tanah air Indonesia. :&rsquo;)</p> <p style="text-align: justify;">Saya terbangun dari tidur akibat pesawat mendarat agak kurang mulus karena landas pacu Bandara Domine Eduard Osok yang sedikit tidak rata. Waktu setempat telah menunjukan pukul 07.45. Matahari telah terik, dan pemandangan pertama yang saya lihat adalah anak-anak Papua yang sedang bermain di rumput pinggiran landas pacu. Kota Sorong (21/9). Rencananya saya dan dua orang teman (senior) akan tinggal satu pekan ke depan di kota ini untuk melakukan studi perencanaan tata ruang dan wilayah.</p> <p style="text-align: justify;">Singkat cerita, satu pekan lebih telah terlewati diakhiri dengan selesainya pekerjaan. Kami memiliki jatah empat hari bebas sebelum kembali ke studio di Bandung, namun hanya saya dan seorang teman yang memutuskan untuk <em>extend</em>. Pikiran kami langsung menuju ke satu tujuan yang sama. Ya,<strong> Raja Ampat!</strong> Satu malam tersisa kami habiskan untuk melakukan persiapan dan mencari informasi sebanyak mungkin tentang seluk beluk perjalanan beserta akomodasi di sana. Untungnya di hotel tempat kami menginap terdapat pusat informasi wisata Raja Ampat; suatu keharusan ketika Sorong menjadi satu-satunya gerbang menuju surga di barat bumi Papua ini.</p> <p style="text-align: justify;">Keesokan harinya, Matahari telah naik tepat seratus delapan puluh derajat dari titik nadir. Kami berangkat dari hotel menuju pelabuhan menggunakan angkot (masyarakat lokal menyebutnya taxi), dengan posisi semua kursi menghadap ke depan. Perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi Selat Dampier selama 2 jam menggunakan kapal cepat, Marina Express, yang beroperasi hanya satu kali setiap hari pada pukul 14.00 WIT. Kami mengambil kursi ekonomi. Di kapal inilah kami bertemu dengan Xavier Ballansat, <em>die schweiz guy</em> yang sedang menikmati cuti panjangnya sebagai <em>solo traveler</em>. Ia telah menjelajah Indonesia selama tiga minggu, dimana sebelumnya telah mengunjungi Bunaken, Alor, Halmahera Selatan dan terakhir Manokwari sebelum merapat ke Sorong menggunakan kapal PELNI. Pada akhir percakapan, kami memutuskan<em> to do some joint trip</em> selama di Raja Ampat nanti.</p> <p style="text-align: justify;">Senja perlahan menjemput malu-malu dari ufuk Barat Bumi Papua seiring dengan merapatnya kapal yang kami tumpangi di Dermaga Waisai. Onomi Fokha, Raja Ampat!</p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih " src="http://baniidham.files.wordpress.com/2012/10/r4_3.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih " width="403" height="305" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Onomi Fokha, Raja Ampaaaaat!</em></p> <p style="text-align: justify;">Kami bergegas menuju hostel menggunakan ojek karena memang hanya moda transportasi inilah yang tersedia di Waisai, selain dapat menggunakan<em> boat</em> melalui perjalanan laut. Setidaknya ada lima jenis akomodasi di Raja Ampat: (1) <em>Resort</em> yang letaknya tersebar di beberapa pulau, (2) hotel, (3)<em> cottage</em>, (4) hostel dan (5) <em>homestay</em>. Waisai sendiri merupakan ibukota distrik di Kabupaten Kepulauan Raja Ampat yang terletak di Pulau Waigeo. Waigeo merupakan sala satu pulau besar diantara tiga pulau besar lainnya, yaitu Batanta, Salawati dan Misool.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih " src="http://baniidham.files.wordpress.com/2012/10/r4-in-a-wink.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="300" height="254" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Raja Ampat in a wink</em></p> <p style="text-align: justify;">Sesampainya di hostel, kami hanya membereskan isi <em>daypack</em> karena sudah tidak sabar untuk<em> snorkeling</em> dan menikmati <em>sunset</em> di Waiwo; salah satu destinasi favorit di sekitaran Waisai. Hati berdecak kagum ketika pertama kali menyelam di perairan Waiwo ini. Walaupun <em>visibility</em>-nya kurang bagus akibat pembangunan bandara tak jauh dari kawasan konservasi ini, namun perasaan kami cukup terhibur dengan suguhan teater alam berupa Matahari terbenam di Barat Waiwo.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/285092_4732227112674_1368205812_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="368" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Senja di Waiwo</em></p> <p style="text-align: justify;">Hari semakin malam, dan malam tetaplah malam, namun cahaya rembulan mengimbangi dengan sinar terangnya seakan terus bertanya-tanya tentang keadaan kamu yang sedang berada di tanah Britania Raya sana. Ah sudahlah ini bukan waktu yang tepat untuk bergalau ria. Menyelam melewati senja membuat perut kami sudah tidak bisa menahan rasa lapar. Usai bersih-besih kami pun bergegas menyambangi deretan tempat makan di sekitar Waisai yang letaknya tidak jauh dari Masjid Raya. Jenis makanan di sini didominasi oleh ikan segar selain makanan khas jawa seperti pecel ayam, lele, dll. Memang banyak transmigran asal Jawa yang mengadu nasib di tanah merah ini.</p> <p style="text-align: justify;">Makan malam<em> </em>menjadi aktivitas terakhir bagi kedua orang teman, tetapi tidak untuk saya. Di Raja Ampat, pasokan listrik hanya menyala pada jam-jam tertentu sehingga pada saat listrik padam maka seluruh energi untuk penerangan dan kebutuhan lainnya bersumber dari generator. Polusi suara generator yang cukup nyaring membuat saya tidak bisa tidur malam itu. Tapi keadaan kali ini bukan hanya disebabkan oleh bisingnya suara generator tetapi juga karena saya sudah tidak sabar untuk melakukan trip ke beberapa gugusan pulau esok hari&hellip;.</p> <p style="text-align: justify;">Pagi telah tiba. Ada yang aneh dari Bumi Raja Ampat kali ini. Matahari enggan menampakkan dirinya. Hujan pun turun cukup lebat dari awan-awan gelap itu. Rencana kami hampir gagal, dan saya tidak kuasa menahan rasa kecewa karena kami hanya punya waktu hari ini saja sebelum besok harus kembali ke Sorong. Akan tetapi, pukul 9 pagi hujan mulai reda bertepatan dengan datangnya jemputan <em>longboat</em> dari Mansuar. Perjalanan pun semakin lengkap dengan bergabungnya salah seorang <em>diver</em> satu penginapan yang melengkapi dirinya dengan <em>underwater camera</em>. <em>Yeah! Archipelagic trip, here we go</em>!</p> <p style="text-align: justify;"><em>Longboat</em> pun melaju dengan kencangnya menembus kabut tipis setelah hujan. Mesin kapal perlahan berhenti menandakan kami telah sampai di destinasi pertama, suatu pulau bernama Meospun yang berarti pulau kecil (dalam bahasa penduduk setempat meos=pulau, pun=kecil).<strong> </strong>Pulau ini hanya dihuni oleh ratusan kelelawar. Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan melewati beberapa gugusan pulau.</p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/420794_4732228312704_297918801_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="368" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Loangboat menepi di meospun</em></p> <p style="text-align: justify;">Westkepkri menjadi <em>first dive stop</em> kami untuk melakukan penyelaman. Memang rencana Tuhan jauh lebih indah dari apa pun. Udara segara siang dengan sedikit terik setelah hujan menjadi pelengkap penyelaman kali ini. Tidak usahlah mahal-mahal menyewa alat <em>diving</em>, di sini hanya dengan bermodal<em> google+snorkel+fins</em> saja sudah bisa bertemu sapa dengan berbagai jenis ikan, mulai dari berbagai jenis<em> anemone, moa,</em> sampai<em> puffer fish</em>!</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/560320_4732231552785_1175640565_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="416" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Puffer fish</em></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/541308_4732235112874_1186515356_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="416" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Mesmerizing nudibranch</em></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/9221_4732232512809_337317924_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="424" height="564" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Xavier with the corals</em></p> <p style="text-align: justify;">Seakan tidak puas dengan penyelaman pertama,<em>longboat </em>pun melaju dibawah kemudi Pace Dedy, menyambangi<em> diving point</em> lainnya dengan bermodalkan nalar dan hati sebagai kompas. Di perairan Mansuar, kami kembali menyelam. Di sini kami berjumpa dengan banyak <em>schooling fish, bumphead parrot, lion fish</em>, dan juga <em>a lil white tip shark!</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih " src="http://sphotos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/400815_4732236952920_1623512472_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="416" /></p> <p style="text-align: center;"><em>This is how Xavier and I explore Raja Ampat underwater</em></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/69120_4732234352855_1292385678_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="416" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Bumphead parrot fish</em></p> <p style="text-align: justify;">"<em>Didalam air saya sesekali terdiam, terhipnotis dengan mahakarya Sang Pencipta yang begitu sempurna menciptakan bumi papua ini. Memang benar tidak alasan bagi kita untuk menjadi jumawa dengan apa yang kita punya.</em>"</p> <p style="text-align: justify;">Tempat terakhir yang menjadi tujuan trip kali ini adalah Desa Wisata Yenbuba, kampung halaman Pace Dedy. Ketika kapal merapat ke dermaga, kami langsung disambut riang oleh anak-anak desa.</p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/2014_4732237952945_1360356852_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="369" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Bersama anak-anak desa yenbuba</em></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/545408_4732239472983_205402394_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="369" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Yenbuba Tourism Village</em></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/389494_4732249913244_356838580_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="369" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Suasana desa yenbuba</em></p> <p style="text-align: justify;">Terhanyut dalam interaksi dengan masyarakat lokal membuat waktu berjalan seakan berlipat kali lebih cepat. Xavier memutuskan untuk <em>homestay</em>-ing di desa ini beberapa hari ke depan sedangkan kami bertiga melanjutkan perjalanan pulang sebelum ombak dan gelombang pasang mendampingi senja.</p> <p style="text-align: justify;">Ada kabar baik ketika kami sampai di Waisai. Ternyata esok adalah hari senin, waktu yang tepat karena setiap hari ini ada kapal besar bernama Getsemani yang melakukan pelayaran pagi menuju sorong untuk kemudian lusa kami akan melakukan perjalanan pulang menuju Bandung.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/552619_4732269433732_427629330_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="369" /></p> <p style="text-align: center;"><em>View dari Kapal Getsemani</em></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/483009_4732273473833_1053730869_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="369" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Suasana di geladak kapal</em></p> <p style="text-align: justify;"><em>"Don&rsquo;t be a tourist. Plan less. Go slowly. I traveled in the most inefficient way possible and it took me exactly where I wanted to go." --Andrew Evans</em></p> <p style="text-align: justify;">Ya, perjalanan ini memang direncanakan dengan seadanya, semoga dalam waktu dekat saya dapat kembali ke tempat ini untuk menjelajah sampai ke teluk kabui, menyelam di manta point, menikmati keindahan gugusan pulau wayag dan eksotisme pulau misool. Bye Raja Ampat :&rsquo;)</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" src="http://sphotos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/251218_4732260713514_1223834372_n.jpg" alt="Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih" width="553" height="369" /></p> <p style="text-align: center;"><em>Sore hari di dekat dermaga wtc</em></p> Mengunjungi nenek moyang di Nagari Mahat http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/269/mengunjungi-nenek-moyang-di-nagari-mahat <p style="text-align: justify;">Nagari Mahat belum sepopuler daerah wisata lain di Sumatera Barat, seperti Padang atau Bukittinggi. Tapi siapa sangka bahwa Nagari yang terletak di Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota ini memiliki situs bersejarah yang tak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia. Ya, di Nagari Mahat kita dapat berkunjung kembali ke zaman prasejarah bangsa ini, kembali menilik kehidupan zaman megalitikum.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c9dfa20296f.JPG" alt="" width="500" height="375" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Di Nagari Mahat yang letaknya sangat jauh dari hiruk-pikuk kota, banyak ditemukan peninggalan-peninggalan arkeologis dari zaman prasejarah, seperti dakon batu, lumpang batu, balai batu dan yang paling banyak ditemukan adalah menhir. Jumlah menhir yang ditemukan di Nagari ini mencapai 800 buah&mdash;tersebar di Koto Tinggi, Padang Ilalang, Koto Gadang, Ronah, Ampang Gadang, Bawah Parit dan beberapa tempat lainnya di Nagari Mahat.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c9df57cfc07.JPG" alt="" width="500" height="375" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Menhir adalah batu besar menyerupai tiang atau tugu yang ditegakkan diatas tanah hasil kebudayaan megalit. Menhir biasanya digunakan masyarakat prasejarah sebagai alat pemujaan arwah nenek moyang. Batu-batu ini biasanya dibentuk dan dihias dengan berbagai macam bentuk dan ukiran dalam berbagai ukuran. Uniknya, semua menhir kecuali beberapa menhir di Padang Ilalang menghadap ke Tenggara. Menhir-menhir yang ditemukan di Nagari Mahat ini mirip dengan menhir-menhir yang ada di Irlandia, Inggris dan juga Perancis.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c9df170e9de.JPG" alt="" width="500" height="375" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Saya mengunjungi situs prasejarah Nagari Mahat ini Februari 2012 lalu. Jarak tempuh menuju Nagari Mahat adalah sekira 3.5 jam dari Padang dan 1.5 jam dari Ibukota, Kabupaten Lima Puluh Kota, Tanjung Pati. Perjalanan menuju Nagari Mahat sangat menegangkan karena untuk mencapai lokasi ini kita harus melewati jalan-jalan curam berbatu melintasi bukit-bukit kawasan Bukit Barisan. Jaraknya yang jauh dan jalannya yang bisa dikategorikan sangat curam ini memang menyita energi, namun semua akan terbayarkan ketika memasuki kawasan Nagari Mahat. Kita bisa melihat perkampungan-perkampungan masyarakat Minang yang masih kental dengan adat istiadatnya dari atas bukit, hamparan persawahan yang menghijau yang dapat membayar lunas perjuangan selama di perjalanan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Memasuki Nagari Mahat, kita disuguhkan kehidupan masyarakat Minangkabau yang masih sangat tradisional. Berbeda dengan daerah-daerah lain di Sumatera Barat yang sebagian besar sudah tersentuh modernisasi, masyarakat Mahat masih memegang teguh adat istiadat Minangkabau, bahkan sebagian besar rumah masyarakat masih merupakan Rumah Gadang. Dan seperti daerah-daerah soliter lainnya di Indonesia, Nagari Mahat masih sarat akan cerita-cerita mistis dan legenda-legenda magis. Sebagai contoh, Bukit Posuak atau dalam bahasa Indonesia berarti bukit tembus, dimana terdapat sebuah bukit yang tengahnya bolong. Menurut legenda, zaman dahulu terdapatlah orang sakti yang dengan marah melempar kaki rusa ke bukit tersebut sehingga terciptalah lubang besar di bukit tersebut.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c9de930ac7b.jpg" alt="" width="550" height="550" /></p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Saya mendatangi lokasi cagar budaya Bawah Parit yang merupakan lokasi menhir terbesar dari 7 situs menhir di Nagari Mahat. Lebih dari 348 Menhir berdiri tegak di sini. Nuansa magis langsung terasa ketika memasuki padang rumput yang berhias menhir-menhir yang terpancang kokoh di tanah. Rasanya seperti mengunjungi sebuah pemukiman masyarakat prasejarah lengkap dengan batu-batu pemujaannya. Bentuknya pun macam-macam. Ada yang berbentuk pedang, tanduk maupun kepala manusia. Menurut penelitian para ahli, menhir-menhir ini telah ada sejak Periode Neolitikum yaitu sekira 6.000-2.000 tahun sebelum Masehi. Sungguh takjub rasanya tugu-tugu batu yang berukir ini bisa bertahan hingga ribuan tahun.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Masing-masing menhir memiliki ukuran dan ukiran yang berbeda-beda. Fungsinya pun berbeda-beda. Beberapa ahli beranggapan bahwa menhir dijadikan alat pemujaan terhadap arwah nenek moyang, beberapa lainnya beranggapan bahwa menhir merupakan batu nisan penanda bagi orang yang telah meninggal. Bahkan setelah diselidiki, beberapa menhir berfungsi sebagai tambatan kapal, sehingga ada kemungkinan ribuan tahun lalu Nagari Mahat dialiri sungai yang besar. Beberapa lokasi ditemukannya menhir ini sempat dijadikan tempat bertemunya datuak-datuak atau tetua adat Nagari Mahat untuk bermusyawarah.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Bagi pecinta wisata sejarah, Nagari Mahat bisa dijadikan alternatif wisata disamping objek wisata sejarah yang lebih terkenal seperti Candi Borobudur atau Prambanan. Menurut penduduk sekitar, situs-situs menhir bahkan lebih sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara daripada wisatawan domestik. Mungkin karena wisatawan lokal lebih suka bertamasya daripada mengunjungi tempat-tempat bersejarah ya. Selesai berkunjung ke Nagari Mahat, jangan lupa mampir di Dangung-dangung. Kata pakar kuliner Indonesia, William Wongso, ini adalah sate paling enak yang pernah ada!</p> Gunung Lawu: Aku Kembali! http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/270/gunung-lawu-aku-kembali <p><strong>Lawu, aku datang kembali&hellip;</strong></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Gunung Lawu: Aku Kembali!" src="https://lh4.googleusercontent.com/-_7NtpbQcq-0/UOl0CWaQfgI/AAAAAAAAAHs/TdiTWyekixY/s320/1.jpg" alt="Gunung Lawu: Aku Kembali!" width="320" height="240" />&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Setelah pendakianku pada 28/12/2010 gagal menggapai puncak tertinggi Gunung Lawu "Argodumilah". Dengan kondisiku yang tidak memunngkinkan saat itu karena sakit, kondisi alam juga tidak bersahabat sehingga tidak memungkinkan bagi kami untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Argodumilah. Angin yang sangat kencang, kabut yang sangat tebal hingga menutupi pandangan kami, bahkan badai, hujan menghadang perjalanan kami.</p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tapi aku berniat dalam hati untuk kembali mendaki kesana suatu saat nanti dengan harapan dapat menemukan pesona alam Gunung Lawu yang eksotis di ketinggian 3265mdpl. Selain itu ada sebuah misi yang kuemban yang mungkin belum dilakukan oleh para pendaki sebelumnya, yaitu mengenakan pakaian toga wisuda di puncaknya setelah aku lulus kuliah nanti. Aku bertekad untuk kembali mendaki dan merasakan pesona keindahannya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Berawal dari sebuah komunitas pendaki gunung Indonesia di Facebook, aku menemukan sosok sahabat-sahabat pendaki yang mudah-mudahan mengerti akan cara memaknai pesona alam dan keagungan Tuhan serta menjadi teman dalam petualanganku ke Gunung Lawu. Mereka adalah @wawan (Bekasi), @na tuh strawberry (Bekasi), @phywe dian balita (Solo), @de rezia indah (Solo), @teguh septiawan (Solo),@ferdy satria (Jakarta). Setelah kami menjalin persahabatan dan komunikasi melalui <em>chating</em>, sms dan telepon, kami pun sepakat mendaki Gunung Lawu pada tanggal 17 Mei 2012.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Selesai <em>packing</em>, kami pun janji bertemu di tempat yang sudah disepakati sebelumnya. Sepanjang perjalanan kami pun banyak bertukar cerita dan saling mengenal satu sama lain, "berangkat saudara pulang pun bersaudara".</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tanggal 18 Mei 2012 pagi hari, kami tiba di Stasiun Solo Jebres. Kami istirahat sejenak sekaligus membersihkan muka yang kucel karena semalaman dalam perjalanan kami tidak tidur. Di stasiun ini, kami dijemput oleh @teguh septiawan (Solo). Kebetulan Teguh adalah sahabatku asal Purwokerto yang bertemu 2 tahun lalu dalam pendakian. Aku pikir takkan bisa bertemu lagi dengannya, tapi ternyata hobi yang sama mempertemukan kami lagi di Solo. Kami beristirahat sejenak di kostan Teguh, mengisi perut yang sudah mulai terasa lapar, dan bertemu dengan anggota tim mendaki lainnya, yaitu @de'rezia indah dan @phywee dyan balita.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Berangkat</strong></p> <p>&nbsp;<img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Gunung Lawu: Aku Kembali!" src="https://lh6.googleusercontent.com/-MD0A0UbylaE/UOl0CTR7Q7I/AAAAAAAAAHw/MIkb_RqBW0U/w358-h211-n-k/2.jpg" alt="Gunung Lawu: Aku Kembali!" width="358" height="211" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Setelah melepas lelah, perjalanan dilanjutkan menuju ke Tawangmangu dan disambut dengan hawa dingin, udara segar dan suasana pegunungan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke <em>basecamp</em> Gunung Lawu, kami pun menyiapkan dan membeli perbekalan logistik karena di Tawangmangu yang banyak menjual berbagai logistik lumayan lengkap.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Di Gunung Lawu terdapat 2 jalur pendakian, yaitu Cemoro Kandang (Jawa Tengah) dan Cemoro Sewu (Jawa Timur). Letak kedua <em>basecamp</em> saling berdekatan karena Gunung Lawu berada di perbatasan kedua provinsi. Kami tiba di <em>basecamp</em> Cemoro Kandang pada sore hari. Sebenarnya aku agak khawatir cuaca kali ini kembali tidak bersahabat. Jika sudah begitu, akankah kembali gagal usaha pendakianku ke Gunung Lawu sementara tekad dan keinginanku untuk mengenakan seragam toga wisuda dipuncaknya demikian kuatnya </p> <p><span style="color: yellow;"> ".</span></p> <div class="separator" style="clear: both; text-align: center;">&nbsp;<img style="vertical-align: text-bottom;" title="Gunung Lawu: Aku Kembali!" src="https://lh5.googleusercontent.com/-O9srqMa0F4Q/UOl0CjiS2UI/AAAAAAAAAH0/sCXfkV4Qi3c/s320/3.JPG" alt="Gunung Lawu: Aku Kembali!" width="320" height="240" /></div> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;<img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Gunung Lawu: Aku Kembali!" src="https://lh5.googleusercontent.com/-L_V7wboZh6Y/UOl0Da7CFMI/AAAAAAAAAH8/1FghmNMP1FM/w329-h221-n-k/4.JPG" alt="Gunung Lawu: Aku Kembali!" width="329" height="221" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kami putuskan beristrahat sejenak di sebuah warung sambil menunggu cuaca kembali baik. Akhirnya, kami sepakat untuk bermalam di <em>basecamp</em> Cemoro Kandang dan melanjutkan perjalanan mendaki ke Gunung Lawu esok pagi melalui jalur pendakian Cemoro Sewu. Udara pagi yang menyentuh kulitku dan membangunkan tidurku membawa isyarat bahwa cuaca hari itu akan cerah. Karena jarak antara kedua <em>basecamp</em> tidak berjauhan dan pemandangan sangat bagus dan indah, kami memutuskan berjalan kaki menuju Cemoro Sewu.Pemandangan indah di sepanjang jalan menggoda kami untuk mengabadikannya dengan kamera.</p> <p>&nbsp;<img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Gunung Lawu: Aku Kembali!" src="https://lh4.googleusercontent.com/-wZpy1QgsyYo/UOl0DqO4-XI/AAAAAAAAAIA/EoqkBQJDOwI/w319-h221-n-k/5.JPG" alt="Gunung Lawu: Aku Kembali!" width="319" height="221" /></p> <div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;">&nbsp;</div> <p style="text-align: justify;">Setelah tiba di Cemoro Sewu, kami kembali menyiapkan perlengkapan sekaligus mengisi perut kami yang sudah bernyanyi dengan semangkuk soto ayam di sebuah warung. Dengan mengucapkan bismillah, kami pun mulai mendaki medan yang terjal dan menanjak selama 1 jam untuk tiba di Pos 1. Setelah istirahat dan menghela nafas sejenak kami melanjutkan pendakian menuju Pos 2 dan Pos 3. Dalam perjalanan menuju Pos 4, kami dihadiahi Matahari terbenam yang keindahannya tak boleh luput dari bidikan kamera. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Sendang Derajat, di sana kami mendirikan tenda untuk bermalam sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Lawu esok harinya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><img style="vertical-align: text-bottom;" title="Gunung Lawu: Aku Kembali!" src="https://lh3.googleusercontent.com/-SA8fP9O3Z7w/UOl0D-BCNmI/AAAAAAAAAIE/EtJUE0_j0so/w455-h306-n-k/6.JPG" alt="Gunung Lawu: Aku Kembali!" width="455" height="306" /><br /> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sambil menikmati malam, kami menghangatkan diri di depan api unggun. Tak lupa memasak air panas untuk kopi dan susu, serta memasak nasi dan mie instan sebagai menu makan malam. Bertindak sebagai koki malam itu adalah Rina. Malam yang semakin larut dan dingin yang kian menusuk tulang menghantarku masuk ke dalam tenda dan istirahat agar esok pagi dapat menyaksikan Matahari terbit dari puncak gunung. Perjuangan kami tidak sia-sia: kami sampai di puncak Argodumilah Gunung Lawu.</p> <p>&nbsp;<img style="vertical-align: text-bottom;" title="Gunung Lawu: Aku Kembali!" src="https://lh3.googleusercontent.com/-uptq7UrpouQ/UOl0E0NurlI/AAAAAAAAAIQ/vyn8IBWpGPU/w206-h306-n-k/7.JPG" alt="Gunung Lawu: Aku Kembali!" width="206" height="306" /></p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom;" title="Gunung Lawu: Aku Kembali!" src="https://lh3.googleusercontent.com/-wuZnq7neWU0/UOl0FKUB89I/AAAAAAAAAIY/gYz_7qRZDqw/w206-h306-n-k/8.JPG" alt="Gunung Lawu: Aku Kembali!" width="206" height="306" /></p> </div> Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/260/teluk-kabui-pesona-raja-ampat <p>Teluk Kabui merupakan salah satu teluk yang cantik di Raja Ampat, ada juga yang menyebutnya miniatur Wayag karena teluk ini hampir sama seperti icon raja ampat tersebut, landscapenya yang dipenuhi oleh batu-batu berbagai bentuk yang berdiri diatas air, masuk diantara pulau-pulau kecil tersebut kita serasa bagaikan berjalan dilabirin, ujung yang kelihatannya buntu ternyata ada jalan keluar lagi.</p> <p>Lokasinyanya yang tak jauh dari ibu kota Raja Ampat yaitu kota Waisai membuatnya mudah untuk diijangkau wisatawan. selain berkeliling menikmati keindahan pulau-pulau kecil yang cantik kita juga bisa menemukan goa-goa dan tentunya bisa menikmati bawah lautnya hanya dengan bersnorkeling ria.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509774d3f3806.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="800" height="600" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5097764579b9f.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509776a593945.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5097770f48b90.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50977795b7d87.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50977806c1d9b.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509778f86587a.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509779551f8b1.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509779c5221fa.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50977a895db6e.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50977b0dc8f91.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50977ba94b42e.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" width="640" height="480" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50977c2e1d60f.JPG" alt="Teluk Kabui, Pesona Raja Ampat" /></p> Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/261/ijen-crater-kawah-penghidupan-penambang-belerang <p>Kawah Ijen dan penambang belerangnya ibarat dua sisi mata uang. Tak terpisahkan. Setiap waktu, kekayaan belerang Kawah Ijen ditambang oleh para penambang yang tak kenal lelah. Rata-rata belerang seberat 80 kg dipanggul berjalan kaki sejauh 3 km menuju Pos Paltuding &ndash; tempat belerang Ijen dikumpulkan dan diangkut dengan truk. Kawah Ijen telah menjadi sandaran penghidupan bagi para penambang belerang.</p> <p>Panorama indah Kawah Ijen yang berwarnakan hijau tosca berpadu dengan langit biru pun makin sempurna. Tak hanya itu. lereng-lereng tebing yang terjal putih kecokelatan serasa landai dengan senyum keramahan para penambang belerang. Sungguh pemandangan penuh kehangatan di ketinggian 2.386 meter dari permukaan air laut. Tak salah lagi, inilah yang mengundang wisatawan dari penjuru dunia untuk berkunjung ke Kawah Ijen. Mereka ingin menyaksikan dengan matanya sendiri potret Kawah Ijen yang mempesona bisa selaras dengan manusia-manusia penambangnya yang perkasa.</p> <p>Pagi itu, saya dan tiga kawan saya adalah satu-satunya wisatawan Indonesia.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku//50aba729864d2.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku//50aba7690726c.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku//50aba7900172d.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku//50aba7cf3fcd4.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50aba865367ac.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50aba89392dd6.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50aba8c93b716.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50aba8fdbdcf9.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50aba945b0277.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50aba97576695.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50aba9a7618ae.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50abaa3aea6c9.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50abaa85c9307.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50abaab1afe35.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50abaad405022.jpg" alt="Ijen Crater, Kawah Penghidupan Penambang Belerang" width="829" height="622" /></p> Pulau Sempu yang Menyimpan Danau Cantik http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/262/pulau-sempu-yang-menyimpan-danau-cantik <p style="text-align: justify;">Kota Malang ternyata menyimpan satu tempat tujuan wisata yang tidak disangka karena kebanyakan orang tahu bahwa kota ini berada di daerah pegunungan yang berhawa dingin dan sebagai kota penghasil apel. Namun ternyata kota ini memiliki satu pulau cantik di laut sebelah selatannya yang bernama Pulau Sempu. Pulau Sempu akhir-akhir ini mulai menjadi tujuan wisata favorit yang memang benar karena pulau ini menyimpan suatu primadona geowisata yang sangat cantik yaitu Danau Segara Anakan atau Blue Lagoon yang memiliki keistimewaan tersendiri. Danau segara anakan keistimewaannya yang tidak dimiliki danau kebanyakan adalah airnya yang berasal dari Samudra Hindia yang masuk melalui celah karang yang berlubang. Untuk mencapai Pulau Sempu kita perlu menuju ke Pantai Sendang Biru yang menjadi satu-satunya tempat penyeberangan ke pulau ini. Untuk menyeberang tidak perlu khawatir karena banyak kapal penduduk yang disewakan untuk sarana menuju Pulau Sempu. Sesaat setelah sampai di pulau ini, pertama kali akan disambut oleh rimbunnya pohon bakau di tepian pantainya. <strong>Yang perlu diperhatikan adalah sebelum itu kita harus memiliki ijin masuk cagar alam, karena Pulau Sempu merupakan salah satu cagar alam yang dilindungi. Perda setempat pun juga melarang untuk mendirikan bangunan dalam bentuk apa pun di dalamnya</strong>. Tempat perizinan dan administrasi terdapat di pos lapor di Pantai Sendang biru dan jangan lupa untuk membawa bekal secukupnya terutama bagi yang ingin camping di dekat Segara Anakan.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Danau Segara Anak" src="/public/media/images/upload/photoessay/50af0d7c65cb4.jpg" alt="Danau Segara Anak" width="600" height="450" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50af0f8e15ca6.jpg" alt="" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50af101714a55.JPG" alt="" width="500" height="375" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50af1057f2cf9.JPG" alt="" width="500" height="375" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50af10b8caca4.JPG" alt="" width="500" height="375" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50af111d21f9c.JPG" alt="" width="600" height="450" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50af118f878b2.jpg" alt="" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50af12c8ec433.jpg" alt="" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50af13ab7a799.jpg" alt="" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50af15f7ead4d.jpg" alt="" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay//50af17af24a23.jpg" alt="" /></p> Mahameru, atap tertinggi di pulau Jawa http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/263/mahameru-atap-tertinggi-di-pulau-jawa <p>Siapa yang tak kenal Semeru, gunung tertinggi di Jawa ini begitu eksotis dan memanjakan pengunjungnya untuk berlama-lama berada di sana. Mahameru, begitu sebutan puncak gunung ini memiliki kawah aktif yang dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Letak gunung bertipe Stratovolcano ini berada di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 80 6' LS dan 120 55' BT serta sepenuhnya di bawah pengawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Selain puncaknya yang yang berketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl), Semeru juga memiliki spot yang tak kalah indahnya, yaitu sebuah danau besar yang terletak pada ketingian 2.400 mdpl dan memiliki luas kurang lebih 14 ha.</p> <p>Di puncak Mahameru lah seorang aktivis Indonesia Soe Hok-Gie menghembuskan nafas terakhirnya bersama rekannya Idhan Dhanvantari Lubis karena menghirup gas beracun yang berasal dari kawah Jonggring Saloko.</p> <p>Begitu indah, begitu nyata meski butuh perjuangan untuk mencapainya.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50c849cdd477f.JPG" alt="" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50c84a96b4f9a.JPG" alt="" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50c84abda9fd1.JPG" alt="" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50c84af4190e6.JPG" alt="" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50c84b19929ac.JPG" alt="" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50c84bb32c290.JPG" alt="" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50c84bea41c13.JPG" alt="" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50c84c322babf.JPG" alt="" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50c84d0035754.JPG" alt="" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50c84fc9135c5.JPG" alt="" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50c85653ecd64.JPG" alt="" /></p> Eksotika Parangtritis http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/264/eksotika-parangtritis <p style="text-align: justify;">Indonesia dikenal sebagai negara maritim terbesar di dunia dengan luas perairannya yang mencapai 93.000 km2 dan panjang garis pantainya hingga 81 km2. Tak heran jika banyak turis asing yang beranggapan bahwa Indonesia merupakan surganya wisata bahari di dunia, sehingga mereka berduyun-duyun datang dan ingin menjamah pantai-pantai indah di sepanjang kepulauan nusantara.</p> <p style="text-align: justify;">Sayang sekali jika kita sebagai anak bangsa justru tidak mengenali keindahan bangsanya sendiri, padahal orang asing sendiri begitu sangat mengagumi kekayaan wisata bahari yang ada di nusantara kita. Atas dasar itulah, kami bertekad mengunjungi salah satu pantai eksotik di selatan pulau jawa yang bernama pantai Parangtritis.</p> <p style="text-align: justify;">Pantai yang terkenal dengan legenda Nyi Roro Kidul ini terletak di selatan Yogyakarta. Menuju lokasi pantai ternyata tidak serumit yang kami bayangkan. Selain akses jalannya bagus, pantai ini tidak terlalu jauh dari pusat kota Jogja.</p> <p style="text-align: justify;">Dari penginapan kami yang berlokasi di sekitaran jalan Malioboro, kami memutuskan untuk menyewa motor sebagai moda transportasi yang kami gunakan menuju pantai Parangtritis. Jasa sewa motor di Jogja banyak ditemui, rata-rata memasang tarif Rp 60.000/ hari untuk motor bebek manual.&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Dengan menempuh jarak sekitar 28 km dari pusat kota Yogyakarta dan memakan waktu tidak lebih dari satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di pantai dengan pemandangan matahari terbenamnya yang menawan hati.</p> <p style="text-align: justify;">Keriangan terpancar dari wajah-wajah mereka, ada yang bermain layang-layang, berkeliling dengan andong, merasakan deburan ombak, atau memilih duduk terdiam sambil menikmati sang surya yang malu-malu hilang ditelan malam. Semakin sore langit semakin memerah, semakin eksotik pemandangan yang tertangkap mata. Kamerapun bermain merekam momen indah ini untuk menyatakan kepada dunia bahwa indonesia itu kaya.&nbsp;</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/50d427fae8f31.JPG" alt="" width="640" height="427" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50d428077c2d1.JPG" alt="" width="640" height="427" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50d428231e875.JPG" alt="" width="640" height="427" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50d4283400ac8.JPG" alt="" width="640" height="425" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50d4284167d29.JPG" alt="" width="640" height="427" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50d4285122479.JPG" alt="" width="640" height="427" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="/public/media/images/upload/photoessay/50d4287131e01.JPG" alt="" /></p> Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/265/pagiku-di-pananjakan-perayaan-kasada-suku-tengger <p style="text-align: justify;">Riuh perayaan kasada warga suku Tengger semalam masih sedikit terlihat dari atas sini. Lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang menuju dan pulang dari Pura Puten Lautan Pasir menjadi pemandangan menarik.</p> <p style="text-align: justify;">Rangkaian perayaan kasada masih menyisakan satu prosesi, yaitu kasuman. Kasuman adalah acara makan bersama suku Tengger di Pura Puten Lautan Pasir. Acara ini dilakukan siang hari setelah pelarungan ongkek-ongkek selesai. Sekitaran pukul 10:00 dan ini merupakan akhir dari seluruh perayaan kasada suku Tengger di Bromo.</p> <p style="text-align: justify;">Jaket tebal yang aku pakai masih tertembus angin dingin udara Bromo. Sarung tangan yang aku pakai juga tidak banyak membantu. Badan masih terus menggigil. Salah satu temanku sudah lari terlebih dahulu mencari <em>spot</em> untuk mengambil gambar.</p> <p style="text-align: justify;">Aku berjalan pelan menaiki satu persatu tangga. Tempat ini selalu ramai pengunjung sebelum Matahari memancarkan sinarnya. Deretan mobil jeep yang parkir sekenanya di jalan sebelum gerbang masuk sedikit memperlihatkan bagaimana ramainya Penanjakan pagi ini.</p> <p style="text-align: justify;">Setelah melewati beberapa mobil jeep, deretan ruko sebelum gerbang masuk menawarkan kehangatan. Jagung bakar, indomie rebus atau segelas kopi sedikit mengalihkan perhatianku. Sudah dekat pikirku, nanti saat akan pulang aku bisa mampir sebentar untuk segelas kopi dan mie instan.</p> <p style="text-align: justify;">Jalan tangga sedikit menanjak telah aku lewati. Di gelapnya pagi aku hanya melihat kepala. Orang-orang ternyata sudah datang jauh lebih dulu ketimbang aku dan teman-temanku. Melihat sudah banyak orang, aku mencoba mencari spot lain supaya bisa menikmati Matahari terbit.</p> <p style="text-align: justify;">Penanjakan adalah tempat wajib yang harus dikunjungi dikala berlibur ke daerah Bromo. Kita bisa menikmati indahnya pagi dengan latar pegunungan Bromo di bawah tempat kita berdiri saat pagi hari. Saat berdiri di tempat ini kita akan melihat semburat warna jingga di sebelah kiri kita perlahan naik.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><a href="http://ceritapejalan.wordpress.com/2012/12/07/pagiku-di-penanjakan/dsc_0181/#main" rel="attachment wp-att-102"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger" src="http://ceritapejalan.files.wordpress.com/2012/12/dsc_0181.jpg w=730&amp;h=547" alt="Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger" width="550" height="413" /></a></p> <p style="text-align: justify;">Perlahan namun pasti tekstur pegunungan Bromo mulai terlihat satu persatu. Lautan awan yang menutupi beberapa puncak pegunungan perlahan bergeser bersamaan dengan mentari yang naik keatas. Kawah Bromo yang tadinya gelap mulai terlihat sedikit demi sedikit. Sejuknya udara bercampur kehangatan sinar mentari telah membuai pagi. Dari balik ranting pohon dan rumput ilalang, sinar mentari menerobos masuk ingin sekedar menyapa.</p> <p><br /><a href="http://ceritapejalan.wordpress.com/2012/12/07/pagiku-di-penanjakan/dsc_0195/#main" rel="attachment wp-att-103"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger" src="http://ceritapejalan.files.wordpress.com/2012/12/dsc_0195.jpg w=730" alt="Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger" /></a></p> <p style="text-align: justify;">Kokoh tegak berdiri di ujung sana gunung semeru dengan puncak Mahamerunya. Permadani awan perlahan menghilang seiring datangnya sinar mentari yang menyinari. Aku masih terdiam memandang bentangan alam ciptaan Tuhan. Mulut tak berhenti bersyukur atas anugerah dari Yang Maha Kuasa ini.</p> <p><a href="http://ceritapejalan.wordpress.com/2012/12/07/pagiku-di-penanjakan/dsc_0169/#main" rel="attachment wp-att-104"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger" src="http://ceritapejalan.files.wordpress.com/2012/12/dsc_0169.jpg w=730&amp;h=484" alt="Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger" width="550" height="365" /></a></p> <p><a href="http://ceritapejalan.wordpress.com/2012/12/07/pagiku-di-penanjakan/dsc_0217/#main" rel="attachment wp-att-105"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger" src="http://ceritapejalan.files.wordpress.com/2012/12/dsc_0217.jpg w=730&amp;h=484" alt="Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger" width="550" height="365" /></a></p> <p>Terimakasih Tuhan kau ciptakan pagi dan mentari&hellip; Hari mulai beranjak siang. Saatnya kembali ke penginapan dan <em>packing</em> untuk pulang. Esok hari kita kembali berjumpa mentari di tempat lain di Indonesia yang indah ini.</p> <p><a href="http://ceritapejalan.wordpress.com/2012/12/07/pagiku-di-penanjakan/dsc_0266/#main" rel="attachment wp-att-106"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger" src="http://ceritapejalan.files.wordpress.com/2012/12/dsc_0266.jpg w=730&amp;h=484" alt="Pagiku di Pananjakan: Perayaan Kasada Suku Tengger" width="550" height="365" /></a></p> Pacu Jalur: Pesta Masyarakat Kuantan Singingi http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/266/pacu-jalur-pesta-masyarakat-kuantan-singingi <p style="text-align: justify;">Kabupaten Kuantan Singingi kaya beragam adat dan budaya. Salah satu diantaranya adalah Pacu Jalur. Pacu berarti lomba adu cepat, sedangkan jalur berarti perahu besar yang dapat memuat 40-50 orang anak pacu. Jalur dibuat dari sebatang pohon Bonio atau <em>kulim kuyian</em> dengan panjang 30 meter atau lebih dengan diameter sekira 2 meter.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Untuk membuat Pacu banyak ritual yang mesti dilalui, kayu yang diambil dihutan sebelumnya harus melalui sebuah upacara persembahan dan semah yang dipimpin oleh pawang. Upacara ini dilakukan agar proses penebangan kayu dapat berjalan lancar karena kayu tersebut dianggap memiliki penghuni. Kemudian pohon ditebang sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat. Setelah pohon ditebang, pohon diseret bersama-sama ke desa dengan menggunakan tenaga manusia. Nuansa gotong royong dan kebersamaan masih kental dalam proses pembuatan jalur.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sesampai di Desa Pohon yang ditebang dan diseret tadi di layur (diasapi) selama kurang lebih 12jam, proses pengasapan ini dilakukan pada malam hari diiringi upacara adat dan tari-tarian yang dihadiri oleh pemuka masyarakat. Tujuan kayu diasapi agar kayu atau jalur menjadi kering dan tidak berat saat dipacu.</p> <p>&nbsp;</p> <table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td style="text-align: center;"><a style="margin-left: auto; margin-right: auto;" href="http://3.bp.blogspot.com/_d9QTyyVjMnA/TF7NjUFlJII/AAAAAAAAARw/t7g4kCRLUdE/s1600/pacu+jalur1.jpg"><img title="Pacu Jalur: Pesta Masyarakat Kuantan Singingi" src="http://3.bp.blogspot.com/_d9QTyyVjMnA/TF7NjUFlJII/AAAAAAAAARw/t7g4kCRLUdE/s400/pacu+jalur1.jpg" alt="Pacu Jalur: Pesta Masyarakat Kuantan Singingi" width="400" height="266" /></a></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption" style="text-align: center;">PACU JALUR</td> </tr> </tbody> </table> <div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"><span class="long_text"><span title=""><br /></span></span></div> <p style="text-align: justify;">Pacu jalur awalnya dilaksanakan untuk memperingati hari besar agama Islam seperti Maulid nabi, Idul Fitri, Tahun Baru Islam 1 Muharam. Tetapi Ketika Penjajah Belanda memasuki daerah Riau diawal tahun 1900 mereka memanfaatkan Pacu jalur sebagai peringatan Ulang Tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada setiap 31 Agustus. Akan tetapi, sejak Indonesia merdeka Pacu jalur menjadi Agenda untuk memperingat Hari kemerdekaan, kini Pacu jalur diadakan setiap Bulan Agustus atau dipercepat sebelum Agustus jika pada Saat Bulan Agustus bertepatan dengan Bulan Ramadhan.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Kini Pacu jalur menjadi pesta masyarakat Kuantan Singingi dan masyarakat Riau pada umumnya yang telah menjadi kalender Pariwisata Nasional. Pacu Jalur ini diadakan di Tepian batang Narosa Sungai Kuantan Taluk Kuantan, event Pacu Jalur tidak hanya diikuti oleh Jalur dariKecamatan yang ada di Kabupaten Kunatan Singingi saja tapi juga diikuti oleh jalur dari kabupaten lain di Provinsi Riau dan juga diikuti Jalur Provinsi tetangga dan juga negara lain.</p> <p>&nbsp;</p> <table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td style="text-align: center;"><a style="margin-left: auto; margin-right: auto;" href="http://4.bp.blogspot.com/_d9QTyyVjMnA/TF7RUsLlzaI/AAAAAAAAASA/3_07VKfARy4/s1600/pacu+jalur2.jpg"><img title="Pacu Jalur: Pesta Masyarakat Kuantan Singingi" src="http://4.bp.blogspot.com/_d9QTyyVjMnA/TF7RUsLlzaI/AAAAAAAAASA/3_07VKfARy4/s400/pacu+jalur2.jpg" alt="Pacu Jalur: Pesta Masyarakat Kuantan Singingi" width="400" height="253" /></a></td> </tr> </tbody> </table> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Bagaimana Menuju Lokasi Pacu Jalur Sekurangnya ada 6 jalur penerbangan yang rutin menuju Pekanbaru Ibu Kota Provinsi Riau,yaitu melalui Jalur Batam, Jakarta, Bandung, Medan, Singapura dan Kuala Lumpur. Dari Pekanbaru perjalanan dilanjutkan menuju Kota Taluk Kuantan ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi dengan menggunakan perjalanan darat. Banyak pilihan kendaraan yang tersedia diantaranya Taxi, mobil angkutan umum yang biasa disebut dengan mobil travel. Perjalanan dari Pekanbaru menuju Taluk Kuantan ditempuh dengan waktu lebih kurang 4jam hingga 4,5jam. Untuk Penginapan di Taluk Kuantan tidak perlu khawatir karena banyak pilihan wisma, penginapan untuk bermalam.</p> Masjid Jami' Air Tiris: Menemukan Cerita dan Warisan Islam di Kabupaten Kampar http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/267/masjid-jami-air-tiris-menemukan-cerita-dan-warisan-islam-di-kabupaten-kampar <p style="text-align: justify;">Sebagai Kota Serambi Mekkah Riau, Kabupaten Kampar mempunyai banyak cerita tentang Islam. Salah satunya adalah Masjid Jami'. Masjid yang terletak di Jalan Pasar Usang, Desa Tanjung Barulak, Air Tiris, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar ini dibangun pada 1901 Masehi atas prakarsa Engku Mudo Sangkal. Ia adalah seorang ulama yang mengonsolidasikan potensi ninik-mamak dan cerdik-pandai dari 20 kampung di kenegerian Air Tiris. Sebagai panitia pembangunannya adalah yang disebut dengan Ninik Mamak Nan Dua Belas yaitu para ninik-mamak dari berbagai suku yang ada di seluruh kampung. Mereka mengerjakannya bersama anak kemenakan, termasuk tukang dari Trengganu, Malaysia, yang membuat mimbar dikerjakannya di Singapura. Tahun 1904 masjid ini selesai dan diresmikan meriah oleh seluruh masyarakat Air Tiris dengan menyembelih 10 ekor kerbau.</p> <p><br />&nbsp; <span><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Masjid Jami' Air Tiris: Menemukan Cerita dan Warisan Islam di Kabupaten Kampar" src="http://3.bp.blogspot.com/-jSAMgpIm3D4/UKhbjykL4OI/AAAAAAAAD_4/phLIR26Nt6U/s400/MESJID+JAMI%27+AIR+TIRIS.JPG" alt="Masjid Jami' Air Tiris: Menemukan Cerita dan Warisan Islam di Kabupaten Kampar" width="400" height="255" /></span></p> <div style="text-align: justify;"> <p>&nbsp;</p> <p>Arsitektur masjid ini menunjukkan adanya perpaduan gaya arsitektur Melayu dan China, dengan atap berbentuk limas. Seluruh bagian bangunan terbuat dari kayu tanpa menggunakan besi dan paku melainkan hanya pasak kayu. Masjid dengan bahan konstruksi utama kayu ini terdiri dari bangunan induk yang ukuran aslinya 30 X 40 meter, mihrab 7X 5 meter, dan menara. Tinggi bangunan 24 meter, dilengkapi dengan 2 mimbar, 2 bak untuk mengambil wudhu. Atapnya berupa limas tiga tingkat yang meruncing ke atas dengan tiang dan konstruksi kayu yang masih asli dan terlihat sangat indah. Demikian pula dindingnya yang miring, penuh dengan ornamen atau ukiran yang mirip dengan ukiran yang terdapat di dalam sebuah masjid di Pahang, Malaysia. Engku Mudo Sangkal juga menukilkan ukiran di depan mimbar dan pada dua tonggak panjang dalam masjid masing-masing dengan tulisan basmallah dan dua kalimat syahadat.</p> </div> <div><br class="separator" style="clear: both; text-align: center;" /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Masjid Jami' Air Tiris: Menemukan Cerita dan Warisan Islam di Kabupaten Kampar" src="http://2.bp.blogspot.com/-Um0gwDd75co/UKhfNOMRO9I/AAAAAAAAEAI/pPLY0b2udKI/s400/MESJID+JAMI%27+AIR+TIRIS+RIAUDAILYPHOTO.COM.JPG" alt="Masjid Jami' Air Tiris: Menemukan Cerita dan Warisan Islam di Kabupaten Kampar" width="400" height="291" /></span></div> <div style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span></div> <p style="text-align: justify;">Di dalam salah satu bak air di masjid tersebut, terdapat sebuah batu alam yang besar dan bentuknya seperti kepala kerbau tanpa tanduk dan telinga. Konon batu itu bisa berpindah posisi dengan sendirinya sehingga batu berbentuk kepala kerbau ini begitu disakralkan. Banyak yang mengunjungi Masjid ini hanya untuk mandi dengan air yang ada batu kepala kerbau. Mereka mencuci muka atau tangan dengan air dari bak yang berisi kepala kerbau karena dipercaya dapat memberi berkah. Bahkan mereka bernazar untuk meminta suatu keinginan dan kesembuhan penyakit.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" href="http://4.bp.blogspot.com/-2G2QxkMSvgk/UKhf4h0tgbI/AAAAAAAAEAQ/zsEUAesN1MA/s1600/BATU+KEPALA+KERBAU+MESJID+JAMI%27+AIR+TIRIS.jpg"><img title="Masjid Jami' Air Tiris: Menemukan Cerita dan Warisan Islam di Kabupaten Kampar" src="http://4.bp.blogspot.com/-2G2QxkMSvgk/UKhf4h0tgbI/AAAAAAAAEAQ/zsEUAesN1MA/s320/BATU+KEPALA+KERBAU+MESJID+JAMI%27+AIR+TIRIS.jpg" alt="Masjid Jami' Air Tiris: Menemukan Cerita dan Warisan Islam di Kabupaten Kampar" width="320" height="235" /></a></div> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Menurut pengakuan masyarakat sekitar yang tidak ingin namanya diketahui, bahwa dulunya ia pernah mendapati batu itu berada di dalam sumur masjid sedalam 8 meter. Tapi beberapa hari kemudian pindah lagi ke atas. Kalau dipindahkan orang, itu tak mungkin karena beratnya puluhan kilo.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Salah seorang pengurus masjid juga mengisahkan pada zaman penjajahan, Belanda beberapa kali mencoba membakar masjid tersebut. Namun upaya itu tak pernah berhasil. Masjid Jami' juga memiliki "keistimewaan" lain. Masjid Jami' selalu selamat dari bencana banjir. Pada saat banjir tiba, hampir semua tempat dan rumah terendam air, namun air di sekeliling masjid seperti mencekung ke bawah dan tak pernah masuk ke dalam masjid.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> <br /> <strong>Bagaimana menuju Mesji Jami' Air Tiris</strong></p> <p style="text-align: justify;">Sekurangnya ada 6 jalur penerbangan yang rutin menuju Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau, yaitu melalui Jalur Batam, Jakarta, Bandung, Medan, Singapura dan Kuala Lumpur. Dari Pekanbaru perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Jami'. Masjid yang terletak di Jalan Pasar Usang Desa Tanjung Barulak, Air Tiris ini dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi darat. Banyak pilihan kendaraan yang tersedia diantaranya taksi, mobil angkutan umum yang biasa disebut dengan mobil travel. Perjalanan dari Pekanbaru menuju Masjid Jami' ditempuh dalam waktu lebih kurang 45 menit. Untuk menuju Masjid Jami' ini tidaklah sulit karena adanya rambu dan petunjuk arah mengenai keberadaan masjid. Masjid ini berada di sebuah jalan desa yang persis berada di sebelah pasar Air Tiris.</p> Kotagede: The Living Museum http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/268/kotagede-the-living-museum <p style="text-align: justify;">Awan mendung menyelimuti kota Jogja. Diikuti gemuruh petir yang bersaut-sautan. Padahal, agenda trip kami hari ini adalah <em>hunting</em> foto rumah-rumah Joglo di Kotagede.</p> <p style="text-align: justify;">Kotagede berarti kota besar. Area ini adalah ibu kota pertama Kerajaan Mataram Islam yang dibangun oleh Panembahan Senopati, sebelum kemudian dipindah oleh Sultan Agung ke daerah Karta. Hingga saat ini, sisa-sisa kerajaan, seperti benteng, masjid dan pasar masih bisa kita lihat.</p> <p style="text-align: justify;">Mobil berbelok menembus keramaian Pasar Kotagede. Pak Tri, supir kami, menjelaskan pasar ini ramai setiap tanggalan <em>legi</em> dalam kalender Jawa. Penjual dan pembeli tumpah ruah di jalanan. Bahkan kendaraan pun tak bisa lewat! Pasar yang sudah ada sejak zaman pemerintahan Panembahan Senopati itu masih aktif hingga saat ini.</p> <p style="text-align: justify;">Mobil berbelok sekali lagi memasuki areal parkir masjid yang terletak satu kompleks dengan makam para pendiri Kerajaan Mataram Islam. Pohon-pohon beringin berusia ratusan tahun berdiri kokoh seolah menjadi penjaga gerbang. Memasuki pelataran masjid, kita akan melewati gapura berasitektur Hindu, lambang toleransi beragama di masa lampau.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Kotagede: The Living Museum" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9d5bfaae6f.JPG" alt="Kotagede: The Living Museum" width="550" height="550" /></p> <p style="text-align: justify;">Di sisi kiri pelataran kita bisa melihat gapura lain yang menjadi gerbang makam, sedangkan di sisi kanannya berdiri prasasti berwarna hijau dengan lambang Kasunanan Surakarta. Di bagian atasnya diletakkan jam sebagai pengingat waktu salat. Monumen ini adalah penanda bahwa Paku Buwono X dari Surakarta pernah melakukan renovasi bangunan masjid tersebut.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Kotagede: The Living Museum" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9d6ba5544a.JPG" alt="Kotagede: The Living Museum" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Masjid Gedhe Mataram, Kotagede sendiri dibangun sekitar tahun 1575-1601. Di pintu masuk masjid terpahat angka 1856 dan 1926 sebagai petunjuk bahwa masjid ini pernah direnovasi di tahun-tahun tersebut. Bentuk bangunannya limasan yang dikelilingi parit, dengan serambi depan yang lapang. Di dalamnya terdapat mimbar pemberian dari seorang adipati dari Palembang. Di salah satu sisi dindingnya terdapat bagian yang tidak diplester, melainkan diberi kaca agar nampak susunan batu bata di dalamnya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Kotagede: The Living Museum" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9d693b6509.JPG" alt="Kotagede: The Living Museum" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Segera setelah selesai salat dzuhur, kami memulai &ldquo;penjelajahan&rdquo;. Awan pekat yang tadi siap mengguyur hujan, perlahan justru pergi menjauh. Nampaknya keberuntungan berpihak kepada kami. Kamera <em>stand by</em>, siap mengabadikan momen unik selama perjalanan. Dimulai dari menyusuri jalan raya di depan masjid. Yang dimaksud jalan raya ini adalah jalan kecil yang hanya cukup dilalui dua mobil. Tapi jalan sempit ini sungguh menarik karena dinding-dinding rumah, yang berbatasan langsung dengan jalan, dihiasi lukisan mural. Cantik!</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Kotagede: The Living Museum" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9d63a75f1f.JPG" alt="Kotagede: The Living Museum" width="550" height="407" /></p> <p style="text-align: justify;">Belum habis rasa penasaran kami pada gambar-gambar di sana, kami menemukan sebuah gang yang tepat berada di sebelah toko pengrajin perak. Tokonya sendiri cukup unik karena berbentuk rumah joglo. Awalnya kami tertarik untuk melihat-lihat souvenir yang dijual di toko ini. Tapi, kami justru menemukan sesuatu yang lebih menarik. Di sepanjang gang itu berdiri rumah-rumah joglo tua yang terawat rapih dan masih ditinggali.</p> <p style="text-align: justify;">Bak mendapat harta karun, kami langsung menyusuri gang yang nampak bersih dan asri karena dihiasi pot-pot tanaman. Rumah-rumah di sini tidak berpagar, teras depan langsung menghadap jalan. Kami bisa melihat ke dalam rumah dari jendela-jendela yang dibiarkan terbuka oleh pemiliknya.</p> <p style="text-align: justify;">Nyaris tidak ada lalu lalang orang sore itu. Tenang dan nyaman. Walapun begitu, aktivitas di dalam rumah terdengar jelas dari balik tembok bata dan kayu tua rumah-rumah di sana.</p> <p style="text-align: justify;">Kamera kami sibuk mengabadikan segala hal: genting-genting berwarna coklat kemerahan, pintu gebyok, teras rumah dengan satu set meja-kursi kuno. Kami menyapa satu-dua orang penghuni yang kebetulan sedang berada di luar juga menyaksikan anak-anak yang riuh bermain di pekarangan. Tempat ini seperti<em> living museum</em> dengan sekumpulan koleksi rumah joglo!</p> <p style="text-align: justify;">Sebuah pendopo berada tepat di tengah-tengah gang. Nampaknya sengaja dibiarkan terbuka untuk umum agar setiap orang dapat beristirahat sejenak di situ. Beberapa penghargaan atas pelestarian budaya dipajang di sana. Rupanya rumah-rumah joglo di kampung ini memang dipelihara dan dilestarikan. </p> <p style="text-align: justify;">Gang yang kami susuri bercabang. Seperti labirin yang membiarkan kami menentukan arah. Setiap cabang mengantarkan kami pada gang-gang sempit lainnya yang tak kalah menarik. Bahkan, bagian belakang rumah-rumah joglo di sini pun menarik untuk dijadikan obyek foto.</p> <p style="text-align: justify;">Ketika hari semakin sore, kami putuskan untuk kembali ke masjid. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempatkan untuk mampir di Warung Ys (baca: es) Sido Semi, salah satu warung makan tertua di Kotagede. Jangan bayangkan sebuah cafe yang<em> fancy</em>, tempat ini memang benar-benar sebuah warung sederhana. Tapi, disitu lah keunikannya. Dengan segala perabotan dan tampilannya yang<em> vintage</em>, sekedar melepas dahaga dengan sebotol limun pun bisa menjadi pengalaman yang unik.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Kotagede: The Living Museum" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9d5ffcc67a.JPG" alt="Kotagede: The Living Museum" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;">Datanglah di hari Jumat agar dapat berkunjung ke makam para pendiri Kerajaan Mataram Islam. Anda diharuskan mengenakan pakaian tradisional untuk memasuki areal makam. Jangan khawatir, di sana disediakan penyewaan pakaian. Mohon diperhatikan, Anda dilarang mengambil foto selama di area makam.</p> <p style="text-align: justify;">Pertimbangkan jika Anda hendak berkunjung di saat tanggalan <em>legi</em>. Keramaian pasar di sana bisa menjadi pengalaman dan objek wisata yang menarik, tetapi sekaligus bisa mengurangi kenyamanan Anda.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Curug Cipendok: Wujud Kealamian Alam Hayati di Banyumas http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/254/curug-cipendok-wujud-kealamian-alam-hayati-di-banyumas <p style="text-align: justify;">Curug Cipendok adalah wisata alam yang terletak di Kabupaten Banyumas, tepatnya di Desa Karang Tengah-Cilongok. Dari kota Purwokerto hanya berjarak 15km ke arah barat. Curug ini terletak di kawasan hutan kaki Gunung Slamet. Curung yang memiliki ketinggian mencapai 90 m ini sering dikunjungi penikmat alam. Aksesnya cukup mudah ditempuh, dimana sarana transportasi dan fasilitas yang tersedia lumayan memadai. Suasana perbukitan menyajikan beragam hayati tropis terpampang di sepanjang jalan sesaat memasuki kawasan hutan. Kesepian dan ketenangan tempat ini sangat cocok untuk merehatkan kita setelah menjalani rutinitas sehari-hari.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Curug Cipendok: Wujud Kealamian Alam Hayati di Banyumas" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a428582f7.jpg" alt="Curug Cipendok: Wujud Kealamian Alam Hayati di Banyumas" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;">Untuk masuk ke curug ini tiketnya sebesar Rp6.000,- per orang dengan tambahan parkir Rp1.000 untuk motor dan Rp2.000 untuk mobil. Dari pintu masuk kira-kira berjarak 1 km lagi untuk mencapai tempat parkiran wisata ini. Parkirannya cukup lebar dan rapi. Tengoklah ke semua sisi, hutan belantara dengan tumbuhan hijaunya siap menyejukkan mata kita dengan tidak jenuhnya untuk menikmati aura tempat ini.</p> <p style="text-align: justify;">Meninggalkan tempat parkir, kita akan menyusuri jalan setapak sepanjang 500 m yang terbuat dari susunan batu-batu. Naik turun untuk sampai ke sana sedikit membutuhkan tenaga. Pertama, kita akan melewati warung kecil yang menjual makanan. Sudah barang tentu, mendoan adalah salah satu makanan yang dijual sebagai makanan khas Banyumas. Berjalan terus, ada sebongkah batu besar di sini dan juga taman kecil yang berguna untuk tempat beristirahat. Ada ayunan, perosotan,tempat sampah dan tempat duduknya juga.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Curug Cipendok: Wujud Kealamian Alam Hayati di Banyumas" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a05cd1368.jpg" alt="Curug Cipendok: Wujud Kealamian Alam Hayati di Banyumas" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Lanjut menjejaki jalanan setapak yang menurun. Kicauan burung, suara binatang hutan dan juga kabut di sisi kanan yang menyelimuti pepohonan, di sinilah kita akan merasakan sensasi alamnya. Semakin dekat ke curug ini, suara gemericik air pun semakin terdengar. Diperlukan kehati-hatian ketika kita menuruni jalanan ini. Terus menurun, akhirnya Cipendok pun menampakkan wujudnya. Lumayan tinggi dan cantik parasnya. Turun dari atas sisi bukit mengalir deras menabrak apapun yang ada di bawahnya. Airnya berjatuhan kemana-mana, bahkan dari tempat kita berdiri pun pasti akan terkena cipratan airnya yang terbawa angin. Airnya yang dingin, batuan besar pegunungan banyak tersusun acak, udara sejuk menambah kesenduan curug ini.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Curug Cipendok: Wujud Kealamian Alam Hayati di Banyumas" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a3c4dfd49.jpg" alt="Curug Cipendok: Wujud Kealamian Alam Hayati di Banyumas" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;">Menurut cerita dahulu setelah Perang Dipenogoro, kawasan hutan curug ini dijadikan areal perkebunan dengan kerja rodi oleh Pemerintah Hindia Belanda yang dipimpin Raden Ranusentika. Ketika itu ia mengalami keanehan yaitu setelah hutan belantara ditebang tetapi keesokan harinya pepohonan tumbuh lagi dan terjadi berulang kali. Hingga akhirnya Raden bertapa dan memohon petunjuk kepada Tuhan agar diberikan kemudahan namun tetap saja keanehan itu ada. Sampailah ia memancing di curug ini akibat gundahnya, tak disangka kailnya mendapatkan pendok atau cincin warangka keris kuning keemasan. Ketika didekatkan, Raden Ranusentika melihat banyaknya mahluk halus di sekitar curug ini yang dianggap menganggu pekerjaannya di lereng Gunung Slamet tersebut. Lalu ia pun bertemu dengan mahluk berupa peri bernama Dewi Masinten Putri Sudhem yang akhirnya membantu Raden Ranusentika membuka lahan perkebunan sampai berhasil. Dan imbalnya peri itu diboyong ke Kadipaten Ajibarang dijadikan sebagai selir oleh Raden. Akhirnya air terjun ini dinamakan Cipendok atas usul seorang kepala pekerja sesuai dengan apa yang dialami oleh Raden Ranusentika.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Curug Cipendok: Wujud Kealamian Alam Hayati di Banyumas" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a0a83b569.jpg" alt="Curug Cipendok: Wujud Kealamian Alam Hayati di Banyumas" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, hingga sekarang dianggap wajar aura mistis kadang sedikit menghambar melihat sepinya tempat kawasan ini. Harunya yang jauh dari hingar-bingar menjadikan tempat ini cocok untuk melepas penat sekedar mendapatkan ketenangan batin. Betah untuk tidak berlalu namun kabut tebal pun semakin menggelapkan curug ini.</p> Bodyrafting Mini Sensasi Tinggi http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/255/bodyrafting-mini-sensasi-tinggi <p style="text-align: justify;">Citumang merupakan salah satu tempat <em>bodyrafting</em> di Green Canyon. Letaknya cukup tersembunyi jadi membuatnya kurang tenar dibandingkan Green Canyon. Citumang atau istilah kerennya Green Valley itu memiliki pemandangan lebih ke pemandangan hutan dengan aliran air berwarna hijau cerah membuat tempat ini cakep banget buat berenang sambil narsis heheh.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c9758ba8119.JPG" alt="" width="400" height="300" /></p> <p style="text-align: justify;"><em>Bodyrafting</em> di Citumang tidak seberat dan sepanjang di Green Canyon. Ya, istilahnya ini <em>bodyrafting</em> buat pemula (ehh emang yang green canyon buat profesional yak ). Panjang aliran cm 500 m, <em>hmmm</em>&hellip; dalam pikiran saya pendekk amat dan pasti cepet amat.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c97570b0c28.JPG" alt="" width="240" height="320" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c9759db1c06.jpg" alt="" width="320" height="400" /></p> <p style="text-align: justify;">Untuk menuju lokasi pencemplungan, kita kudu jalan kaki yang lumayan lebih jauh dari waktu jalan kaki ke lokasi Green Canyon tetapi buat yg narsis pasti demen karena bisa foto-foto. Di pertengahan jalan sudah keliatan tuh air terjun mini dengan warna air hijauuu wahhh langsung terpesona.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c975b47f444.jpg" alt="" width="300" height="400" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c975c1a8863.jpg" alt="" width="300" height="400" /></p> <p style="text-align: justify;">Jadi, kita pertamanya ke dalam gua dahulu, entah apa yang diliat karena gelap, airnya juga dingin, parnooo plus takut. Sebenarna bisa aja terus berenang menyusuri gua tetapi siapa yang berani ngambang di air terus gelap.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c975cb5057d.jpg" alt="" width="400" height="323" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c975de3b9a8.jpg" alt="" width="400" height="400" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c975e8e1dfc.jpg" alt="" width="320" height="400" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c975fe5aaf4.JPG" alt="" width="400" height="313" /></p> <p style="text-align: justify;">Keluar dari gua, persis di depan gua ada akar yang menjulang ke atas dan ternyata diperuntukkan buat orang pemberani yang mau lompat. Hahah lagi dan lagi saya menolak. Dari gua kita mulai menyusuri aliran air, lewatin air terjun mini dan sempat lompat-lompatan, nahh klo sependek ini saya berani! Oya, saya dapat foto bagus saat berenang di bawah air terjunnnn, <em>horayyyy.. Alhamdulilee yaa sesuatu bgt!</em></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c975d4e4320.jpg" alt="" width="300" height="400" /></p> <p style="text-align: justify;">Ternyata lama juga kita main-main airnya dan tidak terasa dua jam (kekekek lama karena ditambah foto-foto kayana). Oya, tau ga siyhh kita ke parkiran mobilna karena malas jalan kaki dan panas juga akhirnya lewat paritt, seperti pasukan bebek berderet-deret terus ditarik <em>guide</em> dari depan, hahahha (hmm lebih tepanya kaya apa gitu yahh kuning-kuning ngambang di parit hihihi). Akan tetapi, jujur <em>have fun banget</em>, semua ketawa ketiwi, semua ceria and beban rasanya lepas (buat sementara).</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c9761d5dcdb.JPG" alt="" width="400" height="277" /></p> <p style="text-align: justify;">Selesai basah-basahan, mandi, makan siang terus langsung <em>capcuss</em> pulang. <em>Hoahhh, </em>perjalanan panjang dan. mana ada truk ngadat di nagrekk jadi sempat macet hingga tiba di Jakarta jam setengah 12 malam. Jadi, siapa bilang <em>refreshing</em> itu kudu keluar negeri dan butuh cuti lama </p> Bono Sungai Kampar: Berselancar di Pantai dengan Legenda 7 Hantu http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/256/bono-sungai-kampar-berselancar-di-pantai-dengan-legenda-7-hantu <p style="text-align: justify;">Melihat orang berselancar di pantai atau laut adalah suatu hal yang sudah biasa. Akan tetapi, melihat orang berselancar di arus sungai adalah suatu hal yang luar biasa. Kegiatan berselancar di sungai hanya ada di beberapa tempat di dunia dan salah satu di antaranya terdapat di Muara Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau yang biasa di sebut dengan <strong>Ombak Bono Sungai Kampar</strong>. Selain di Muara Sungai Kampar Ombak Bono atau Tidal Bore juga terdapat di Sungai Gangga dan Brahmaputra (India dan Banglades), Sungai hindustan (Pakistan), Sungai Lupar (Malaysia), Australia, Inggris, Perancis (un mascaret), Inggris, Amerika, Kanada, Mexico, dan Brazil.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" href="http://1.bp.blogspot.com/-TGoJ_mEqms8/T8dyOUs8peI/AAAAAAAAB3Y/Zqlj0WuoYao/s1600/5038455303_85f06a4752_o.jpg"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-TGoJ_mEqms8/T8dyOUs8peI/AAAAAAAAB3Y/Zqlj0WuoYao/s400/5038455303_85f06a4752_o.jpg" alt="" width="400" height="267" border="0" /></a></div> <p style="text-align: justify;">Ombak Bono Sungai Kampar menurut masyarakat di<strong> Teluk Meranti, Kuala Kampar, Pulau Muda</strong>�tingginya mencapai 6 meter bahkan 10 meter, dari kejauhan suara deru bono sungai kampar sudah terdengar. Menurut cerita Melayu lama berjudul &ldquo;<em>Sentadu Gunung Laut</em>&rdquo;, setiap pendekar Melayu pesisir harus dapat menaklukkan ombak Bono untuk meningkatkan keahlian bertarung mereka dan biasa menyebutnya <strong>"bekudo bono"</strong>. Dengan bekudo bono atau mengendarai bono para pendekar melayu dapat menjaga keseimbangan badan.</p> <p style="text-align: justify;"><br />&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8d7OShr2tuI/T8d2gMApZbI/AAAAAAAAB3s/GL5ipBqf91A/s400/5039078180_d0c0d821d0_o.jpg" alt="" width="400" height="267" border="0" /><br />Bekudo bono memiliki nuansa mistis. Sebelum dilakukan ritual bekudo bono terlebih dahulu dilakukan upacara <strong>&ldquo;semah&rdquo; </strong>pada pagi atau siang hari. Upacara tersebut dipimpin bomo atau datuk atau tetua kampung dengan maksud agar pengendara Bono selalu mendapat keselamatan dan dijauhkan dari segala marabahaya.</p> <div class="entry-content" style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"> <div> <div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" href="http://4.bp.blogspot.com/-6I00t80-ie4/T8d1O2ileWI/AAAAAAAAB3k/z9Qj7EMtI34/s1600/5038459451_0b463b075e_o.jpg"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-6I00t80-ie4/T8d1O2ileWI/AAAAAAAAB3k/z9Qj7EMtI34/s400/5038459451_0b463b075e_o.jpg" alt="" width="400" height="267" border="0" /></a></div> </div> <div> <p><strong>Gelombang Bono Ombak Tujuh Hantu</strong></p> <p>Menurut cerita masyarakat Melayu lama, ombak bono terjadi karena perwujudan 7 (tujuh) hantu yang sering menghancurkan sampan maupun kapal yang melintasi Kuala Kampar. Ombak besar ini sangat menakutkan bagi masyarakat sehingga untuk melewatinya harus diadakan upacara semah.</p> <p><br /> Ombak ini sangat mematikan ketika sampan atau kapal berhadapan dengannya. Tak jarang sampan hancur berkeping-keping di hantam ombak tersebut atau hancur karena menghantam tebing sungai. Tidak sedikit kapal yang diputar balik dan tenggelam akibanya. Menurut cerita masyarakat, dahulunya gulungan ombak ini berjumlah 7 ombak besar dari 7 hantu.</p> <p><br /> Pada masa Belanda, kapal-kapal mengalami kesulitan untuk memasuki Kuala Kampar akibat ombak ini. Salah seorang komandan pasukan Belanda memerintahkan untuk menembak dengan meriam ombak besar tersebut. Entah karena kebetulan atau karena hal lain, salah satu ombak besar yang kena tembak meriam Belanda tidak pernah muncul lagi sampai sekarang. Maka sekarang ini hanya terdapat 6 (enam) gulungan besar gelombang ombak Bono.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Tujuh Hantu adalah 7 ombak Bono dengan formasi 1 di depan dan diikuti 6 gelombang di belakangnya. Karena 1 ombak terbesar telah dihancurkan Belanda sehingga ombak Bono besar hanya tersisa 6 ombak dengan formasi hampir sejajar memasuki Kuala Kampar. Mengenai kapal Belanda dan orang-orangnya yang karam tidak pernah diketemukan sampai sekarang.</p> </div> </div> Bodfyrafting Green Canyon (ga perlu jauh2 ke Grand canyon) http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/257/bodfyrafting-green-canyon-ga-perlu-jauh2-ke-grand-canyon <p style="text-align: justify;">Perjalanan kali ini bukan untuk menikmati pantai, naik gunung atau sekedar <em>sightseeing</em> tetapi mau mencoba wahana yang lebih memacu adrenalin lagi dan tentunya trip yang lain dari biasanya yaitu <em>bodyrafting</em>. Yup! kita nantinya akan <em>rafting</em> tanpa <em>boat</em> tapi badan, jadi nanti kita yang berenang melewati arus tanpa ban dan dayung tapi cuma mengandalkan pelampung di badan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c96c3e90c23.JPG" alt="" width="400" height="300" /></p> <p style="text-align: justify;">Tujuan kali ini yaitu <strong>GREEN CANYON</strong> (bukan Grand Canyon yaaa). Untuk transportasi saya menggunakan elf yg dicarter muat 17 orang. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih hampir 10 jam (berangkat jam 9 lewat sampai jam 7 pagi). <em>Beuhhh!</em> ini perjalanan darat pertama yang panjang and melelahkan, mulai bangun, tidur terus bangun terus tidur lagi ga bangun bangun *lho! Aahhh.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sampai di home stay kami langsung <em>unpacking</em>&nbsp; bawaan, ganti baju terus sarapan pagi. <em>Beuhh</em>, porsinya banyak beut dan kita para <em>wece wece sotoy</em> gitu makan cuma setengah ternyata eh ternyata pas <em>rafting</em> pada kelaparan, jadi disarankan ga usah takut gemuk makan paginya kebanyakan biar ga lapar pas main air.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c96c508c66e.jpg" alt="" width="400" height="400" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c96c58f2b1a.jpg" alt="" width="240" height="320" /></p> <p style="text-align: justify;">Pelampung dan alat pengaman lainnya udah terpasang saatnya berpetualang. <em>Jeng jeng jeng,</em> dengan menggunakan truk kita semua diangkut ke <em>starting point</em> (alamakkk ngerasa kaya sapii potong berdiri di atas truk yang hampir bobrok trus lewat jalanan berbatuan yang bikin begajulan diselingi dahan <em>and</em> ranting yang sering banget nyolok mata.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">O&rsquo;ya, turun dari truk kita ga langsung <em>byurr</em> ke air tapi harus berdoa (biar selamat ga dimakan buaya hahah) terus menuruni bukit dulu (sebut aj begitu) baru deh keliatan warna hijau air yang begitu menggoda <em>hmmm mamamiaaa...</em> karena kebetulan masih musim kemarau dan ga hujan udah 4 bulan, jadi air rada tenang ga ada arus <em>and</em> warnanya indah banget...</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c96c0b55f92.JPG" alt="" width="400" height="300" /></p> <p style="text-align: justify;">Pertama nyeburrinn diri brrr dingin banget tetapi ngeplek ngeplek bentar langsung sotoyy berani berenang ke sana kemari. Yup! perjalanan pun dimulai menyusuri tiap aliran air yang sekelilingnya ditutupi tebing tinggi dengan pohon menjuntai benar-benar membuat suasana tenang banget. Ini mungkin yang dirasain guru Kungfu Panda.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c96c508c66e.jpg" alt="" width="400" height="400" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c96c6bc1cf1.JPG" alt="" width="400" height="279" /></p> <p style="text-align: justify;">Sesekali melewati arus kecil, <em>wiihhh</em>! arus dikit aja udah kenceng banget kaya gituuu gimana kalo musim ujan! Oya, kita <em>rafting</em> ga sendirian tetapi ditemani <em>guide</em> yang lumayan banyak buat bantu kita lewatin jeram-jeram berbahaya atau batuan terjal.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Oya, kita sempat istirahat bentar buat makan. Hoho buat tips jangan lupa bawa makanan yang banyak ya titip saja di <em>drybag</em> guide karena kita bakal kelaperan tuh! Untung kemarin sayah sempet masukin <em>snack</em> klo ngga ckckck... bisa mati kelaperan kami.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Ujung dari perjalanan kita yaitu loncat di batu payung katanya sih ketinggian batu ini kaya loncat dari lantai 2. Yup berhubung saya penakut jadi memilih aman dan ga ikut melompat (jujur rada nyesel krn ga ada video bukti ketangguhan saya menaklukan Green Canyon tapi mau gimana lagi ga lucuuu kan klo abis loncat sayahh semaput hihihi.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c96c8040e64.JPG" alt="" width="400" height="300" /></p> <p style="text-align: justify;">selesai loncat-loncatan kita naik ke batu <em>and</em> nunggu perahu dateng, ihhhh sumpahhh dengan tubuh basah kuyub, terus cuaca lembab, kena percikan air dari atas kita nunggu hampir sejaman kali tuh perahu baru datang. Untung pada ga pingsan karena ternyata di situ merupakan titik akhir bagi pelancong yang ke Green Canyon pake perahu, jadi rada <em>crowded</em>.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50c96c2ced352.JPG" alt="" width="400" height="300" /></p> <p style="text-align: justify;">Di perahu lumayan suasananya, lagi-lagi kita lihat pemandangn hijau menyejukkan mata. Oh God trima kasih kalau saya terlahir sebagai orang Indonesia ciyeh. Oya, sempet ketemu bule yang berenang dengan bikini tanpa pelampung lhoo di batu payung, beuhhh keren banget ini Indonesaa</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Untungnya <em>home stay</em> kita deket sama dermaga awal-akhir Green Canyon jadi balik ke penginapan tinggal jalan kaki. Tiba di <em>homestay</em> langsung <em>nyerbu</em> makan siang yang lengkap sama sambel si ibu yang <em>maknyuuss banget</em>! Huaahh sayang ga ada sayur asemm, abis makan langsung mandi <em>and</em> ganti baju terus lanjut ke Batu Karas <em>and</em> Batu Hiu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Disarankan lebih baik ke Batu Hiu karena untuk pemandangan <em>and</em> foto-foto lebih bagus disitu tetapi kalo memang mau main air kaya <em>banana boat</em>, ato main papan selancar mending ke batu karas. Yang pasti kayanya ga mungkin dapat suasana bagus di dua tempat itu dalam waktu yang mepet ke senja. Bila ingin dapat <em>sunset</em> saya <em>prefer</em> ke Batu Hiu yang pantainya sepi, terus dari atas tebing bagus buat foto kaya di Bali gitu (sayang pas kita kesana udah mule gelap dan berkabut). Malamnya ga usah nunggu ampe subuh buat tidur jam 7 ajah udah ngantukk dan tidur, zzzzzz!</p> Gua Pindul: Berpetualang di Sungai dalam Gua http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/258/gua-pindul-berpetualang-di-sungai-dalam-gua <p style="text-align: justify;">Wisata air merupakan tempat wisata menyenangkan. Salah satunya yang menarik dan penuh tantangan adalah Gua Pindul di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Tujuan wisata ini berupa cave tubing yang telah dibuka sejak 2011. Gua Pindul menjadi tempat wisata petualangan yang akan membawa Anda menyusuri sungai di dalam gua.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d01dc6d3e4f.jpg" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Jika ingin berkunjung ke Gua Pindul, Anda masuk dari Yogyakarta menuju Wonosari degan waktu tempuh selama kurang lebih satu setengah jam. Gua Pindul terletak sekitar 10 kilometer dari kota Wonosari. Kendaraan akan mengambil arah kiri di bundaran Siyono (perempatan jalan yang terdapat air mancur). Setelah itu hanya tinggal lurus hingga menemukan pintu gerbang Desa Bejiharjo. Dari pintu gerbang desa kita masih memerlukan waktu sekitar 30 menit menelusuri jalan aspal bagus sampai bertemu tulisan selamat datang di Gua Pindul.</p> <p style="text-align: justify;">Desa wisata Bejiharjo telah didukung 15 homestay siap disewa wisatawan dengan harga cukup terjangkau yakni Rp25.000,- per orang. Untuk homestay kelas sederhana dilengkapi fasilitas kamar tidur, kamar mandi, dan ruang tamu. Sedang kelas atasnya dikenakan tarif sebesar Rp 30.000,- per orang dengan fasilitas kamar tidur, kamar mandi, dan gazebo. Desa Bejiharjo dengan segala keindahan dan keunikannya, menjadi salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi. Bagi Anda yang belum pernah mencoba wisata memacu adrenalin dan menikmati keindahan dalam Gua maka inilah salah satu tempat terbaik.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d01d8d2527a.jpg" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Gua Pindul memiliki panjang sekitar 350 meter yang terbagi menjadi dalam tiga zona, yaitu zona terang, zona remang, dan zona gelap abadi. Wisatawan tidak perlu khawatir dalam menelusuri Gua yang memiliki lebar hingga 5 meter dengan jarak permukaan air ke atap gua sekitar 4 m dengan kedalaman air sekira 5-12 meter. Selama menelusuri gua ini wisatawan hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d01e28aed47.jpg" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Lokasi wisata Gua Pindul dengan berbagai penawarannya sudah terkenal sampai ke mancanegara. Kunjungan terpadat terjadi ketika hari libur dengan rata-rata jumlah pengunjung sekitar 300 orang perhari. Wisata cave tubing Gua Pindul bertarif Rp30.000,- per orang. Penawaran ini sudah termasuk fasilitas jasa pemandu, asuransi, dan perlengkapan wisata seperti ban pelampung, jaket pelampung dan sepatu. Selama mengarungi sungai, disajikan pemandangan alam berupa tebing-tebing sungai.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d01e02c01b8.jpg" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Pada Zona pertama atau terang, wisatawan masuk daerah yang masih tersinari cahaya matahari. Di zona ini banyak ditemui stalagit dan stalagmit yang dipenuhi lumut. Sementara di daerah zona kedua atau remang. Zona ini masih memiliki imbas cahaya Matahari dari zona terang. Ornament stalagtit dan stalagmit di zona ini sudah tidak diselimuti lumut, dan memiliki bentuk yang beragam. Sedangkan Zona terakhir atau zona gelap abadi, tidak ada sedikitpun cahaya matahari yang masuk atau sampai ke daerah ini.</p> <p style="text-align: justify;">Di dalam Gua Pindul, terdapat stalagtit menyatu dengan stalagmit sehingga membentuk pilar berukuran lebar. Apabila ingin memeluknya membutuhkan lima orang melingkari. Selain itu terdapat stalaktit terbesar keempat di dunia dan bentuknya menyerupai tirai tersusun buatan tetesan air di dinding gua.</p> <p style="text-align: justify;">Bagi Anda yang berminat menelusuri cave tubing di Gua Pindul, sebaiknya dilakukan mulai pagi hari sampai menjelang siang. Itulah waktu terbaik yang disaran untuk bisa menikmati keindahan Gua Pindul. Kondisi air tidak terlalu dingin, dan jika cuaca cerah maka pada jam-jam tersebut akan muncul cahaya surga berasal dari sinar Matahari yang menerobos masuk melewati celah besar di atap gua.</p> <p style="text-align: justify;">Saat menelusuri gua, pemandu wisata akan menceritakan asal usul gua, menerangkan bebatuan stalagit dan stalagmit yang ada di dalamnya. Lokasi yang paling indah ketika Anda sampai di bagian dalam gua. Di sana terdapat lukisan di bagian atas dinding-dinding gua, hasil mahakarya kelelawar yang banyak bersarang.</p> <p style="text-align: justify;">Saat tiba di pintu akhir mulut gua, pengunjung akan dimanjakan cahaya Matahari yang masuk dari bagian atas. Selain itu, tempat ini jula dijadikan pusat berenang dan menguji adrenalin yakni melompat ke dalam air, dari batu yang terdapat dipinggir dinding gua.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d01de3a9ae7.jpg" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Selain wisata, Gua Pindul, tersedia juga paket wisata Oyo River Tubing. Wisatawan akan mengarungi Sungai Oyo sepanjang 5 km. Wisata Oyo River Tubing dengan tarif Rp 45.000,- per orang tetapi jumlah peserta minimal 5 orang. Fasilitas yang diberikan seperti fasilitas Jasa pemandu, kelapa muda, transportasi, asuransi.</p> <p style="text-align: justify;">Ada pula paket caving glatik, yaitu wisata menelusuri rintangan di dalam Gua Glatik. Salah satu kegiatan yang menarik lainnya adalah berjalan merangkak sejauh 15 meter, diiringi suara puluhan ribu kelelawar yang hidup di dalam gua. Berwisata Caving Gelatik tarifnya Rp 30.000,- per orang. Penawaran ini termasuk fasilitas jasa pemandu, asuransi dan perlengkapan berupa cover all, senter dan sepatu.</p> Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/259/ekowisata-tesso-nilo-harmonisasi-dengan-alam <p style="text-align: justify;">Hutan Tesso Nilo merupakan salah satu zamrud khatulistiwa dan keunikan hutan hujan tropis dataran rendah di Pulau Sumatera. Kawasan ini memiliki kekayaan tumbuhan vaskular tertinggi di dunia mengalahkan kawasan hutan lainnya termasuk hutan amazon.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tesso Nilo berasal dari kata Teso dan Nilo yang merupakan nama dua buah sungai yang membelah wilayah tersebut. Sejak zaman dahulu tempat ini masih menjadi sarana transportasi vital. Bagi masyarakat lokal yang mayoritas suku Melayu, tesso nilo merupakan kawasan perlindungan dan pengelolaan hutan. Beberapa tradisi masyarakat Melayu seperti mengambil ikan dan madu merupakan tradisi unik yang tidak lepas dari keberadaan Hutan Tesso Nilo.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <div style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; text-align: justify;"><br /> <div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" href="http://2.bp.blogspot.com/-dWrZfM5-LU8/T6SrjIqLDOI/AAAAAAAABxA/sx99vbzwhp8/s1600/TESSO+NILO.JPG"><img title="Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam" src="http://2.bp.blogspot.com/-dWrZfM5-LU8/T6SrjIqLDOI/AAAAAAAABxA/sx99vbzwhp8/s400/TESSO+NILO.JPG" alt="Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam" width="400" height="300" /></a></div> </div> <div style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; text-align: justify;"> <p>&nbsp;</p> <p>Hutan Tesso Nilo merupakan bentang alam yang terdiri dari mozaik ekosistem hutan hujan tropis meliputi hutan tanaman akasia, dan perkebunan kelapa sawit. Di sini ada pula berbagai keanekaragaman hayati dapat ditemui di kawasan ini termasuk tumbuhan tinggi khas dan endemik Sumatera seperti seminai, rengas, kulim, pulai, durian dan kruing. Ada pun tumbuhan rendah yang ada di sini diantaranya adalah: anggrek, rotan, liana, paku-pakuan dan jenis rumput.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Berbagai jenis hewan yang khas dan endemik di kawasan ini antara lain: gajah sumatera, harimau sumatera, dan tapir. Berbagai jenis primata juga hidup di hutan ini seperti siamang, wau-wau, kera ekor panjang, dan berbagai jenis burung langka seperti burung pemakan lebah, sikep madu, dan elang terkecil di dunia yaitu <em>Microxhierax fringilarius</em>.</p> </div> <div style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; text-align: justify;"><br /> <br /> <table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td style="text-align: center;"><a style="margin-left: auto; margin-right: auto;" href="http://3.bp.blogspot.com/-3-gSgD2LCA8/T6Sv_iWGIhI/AAAAAAAABxM/bdjH2BB1dXs/s1600/wwfid_423_23992.jpg"><img title="Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam" src="http://3.bp.blogspot.com/-3-gSgD2LCA8/T6Sv_iWGIhI/AAAAAAAABxM/bdjH2BB1dXs/s1600/wwfid_423_23992.jpg" alt="Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam" /></a></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption" style="text-align: center;">Harimau SUmatera (http://www.wwf.or.id)</td> </tr> </tbody> </table> <h3>&nbsp;</h3> </div> <p style="text-align: justify;">WWF-Indonesia dan Balai Taman Nasional Tesso Nilo sejak tahun 2009 telah mengembangkan kegiatan ekowisata di taman Nasional Tesso Nilo, sembilan trek ekowisata telah diidentifikasi yang merupakan kawasan menarik dan berpotensi untuk melihat berbagai macam satwa liar, patroli gajah dan kearifan lokal suku setempat.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sekurangnya<strong> </strong>ada 5 jalur penerbangan yang rutin menuju Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau, yaitu melalui Jalur Batam, Jakarta, Medan, Singapura dan Kuala Lumpur. Dari Pekanbaru perjalanan dilanjutkan menuju Taman Nasional Tesso Nilo dengan kendaraan roda empat berjarak sekira 4,5 jam perjalanan melalui jalan Lintas Timur menuju Kabupaten Pelalawan, Kecamatan Ukui.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Taman nasional tesso Nilo ditunjuk sebagai Pusat Konservasi Gajah Sumatera. Ada sekira 150-200 ekor gajah sumatera mendiami kawasan ini. Habitat yang menyempit menjadi penyebab konflik manusia dan gajah, salah satu upaya penanganan konflik tersebut adalah mengoperasikan Elephant Flying Squad. Elephant Flying Squad merupakan tim yang terdiri dari 4 ekor gajah terlatih dan 8 orang perawatnya yang bertugas melakukan penanganan konflik gajah dan manusia.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <table class="tr-caption-container" style="text-align: center;" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td style="text-align: center;"><a style="margin-left: auto; margin-right: auto;" href="http://2.bp.blogspot.com/-R0u4S7eFhqY/T6S2Yd983QI/AAAAAAAABxo/u7_QqTj_oNc/s1600/tessonilo_elephant_22192.jpg"><img title="Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam" src="http://2.bp.blogspot.com/-R0u4S7eFhqY/T6S2Yd983QI/AAAAAAAABxo/u7_QqTj_oNc/s320/tessonilo_elephant_22192.jpg" alt="Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam" width="320" height="213" /></a></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption" style="text-align: center;">Patroli Gajah (http://www.wwf.or.id)</td> </tr> </tbody> </table> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <table class="tr-caption-container" style="text-align: center;" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td style="text-align: center;"><a style="margin-left: auto; margin-right: auto;" href="http://2.bp.blogspot.com/-rmFxjjvSEi4/T6S2537-VXI/AAAAAAAABxw/rx-1a7q4Dxw/s1600/teso22.jpg"><img title="Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam" src="http://2.bp.blogspot.com/-rmFxjjvSEi4/T6S2537-VXI/AAAAAAAABxw/rx-1a7q4Dxw/s320/teso22.jpg" alt="Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam" width="320" height="240" /></a></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption" style="text-align: center;">Aktifitas Memandikan Gajah Oleh nadine Chandrawinata (http://www.wwf.or.id)</td> </tr> </tbody> </table> <p style="text-align: center;" align="center">Patroli Gajah (http://www.wwf.or.id)</p> <p style="text-align: justify;">Patroli dengan menggunakan Gajah Flying Squad merupakan salah satu aktifitas yang ditawarkan kepada pengunjung ekowisata Tesso Nilo. Pengunjung dibawa ke trek-trek patroli gajah yang alami dan khas yang melewati rawa,sungai,pinggir hutan dan kebun masyarakat. Aktifitas memandikan dan memberikan makan gajah menjadi salah satu aktifitas menarik.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Beberapa trek ekowisata difokuskan dalam pemantauan flora dan fauna melewati sungai menggunakan perahu kecil bermesin tempel (pompong). Primata seperti siamang, wau-wau dan kera ekor panjang banyak dijumpai di sungai Nilo dan Lubuk Balai. Di lokasi trek ekowisata kita dapat menjumpai jejak-jejak beruang, gajah, tapir dan harimau sumatera.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Salah satu kegiatan ekowisata Tesso Nilo yang sangat menarik dan menantang adalah observasi tanda-tanda keberadaan harimau dengan menggunakan kamera jebak (camera trap).</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <table class="tr-caption-container" style="text-align: center;" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"> <tbody> <tr> <td style="text-align: center;"><a style="margin-left: auto; margin-right: auto;" href="http://4.bp.blogspot.com/-sNUNtRkI8aA/T6S_Km72noI/AAAAAAAABx8/qpzElgWjcg0/s1600/2cgda9h.jpg"><img title="Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam" src="http://4.bp.blogspot.com/-sNUNtRkI8aA/T6S_Km72noI/AAAAAAAABx8/qpzElgWjcg0/s320/2cgda9h.jpg" alt="Ekowisata Tesso Nilo : Harmonisasi dengan Alam" width="320" height="186" /></a></td> </tr> <tr> <td class="tr-caption" style="text-align: center;">Photo dari http://www.wwf.or.id</td> </tr> </tbody> </table> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Di sini tersedia pula trek untuk bersepeda yaitu di pinggiran hutan dan kawasan pemukiman Desa Lubuk Kembang Bunga. Trek ini memberikan pengunjung kesempatan melihat kebun karet dan jelutung milik masyarakat.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Madu hutan Tesso Nilo adalah salah satu ikon ekowisata berbasiskan sumber daya alam dan tradisi lokal masyarakat Tesso Nilo. Madu hutan Tesso Nilo terdapat cabang-cabang pohon yang tinggi dimana oleh masyarakat lokal disebut pohon sialang. Pohon ini terdiri dari berbagai jenis pohon, seperti keruing, rengas dan kedondong hutan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Dalam satu sialang terdapat sarang lebah hutan apis dorsata mencapai 10-50 sarang dengan rata-rata berat15 kg/sarang. Panen madu sialang sangat menarik karena pengunjung diperkenalkan dengan tradisi masyarakat yang masih tradisional, ritual puji-pujian pada prosesi pemanenan dan pemanjatan pohon sialang merupakan kegiatan yang bernilai budaya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Lokasi yang menarik lainnya adalah kampung terapung Kuala napu untuk melihat tradisi masyarakat Melayu yang hidup di sungai dengan kegiatan utama mencari ikan. Kuala Napu merupakan desa nelayan penghasil berbagai jenis ikan sungai yang terletak di kecamatan Pangkalan Kuras. Sungai Napu ini terhubung dengan Sungai nilo di Taman nasional Tesso Nilo.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Ekowisata di Tesso Nilo terbagi menjadi tiga bagian, yaitu interpretasi terhadap flora dan fauna, ekowisata pengetahuan, serta ekowisata budaya masyarakat tradisional dan pendidikan lingkungan. Kegiatan penunjang ekowisata meliputi berjalan di hutan (jungle trekking), penggunaan gajah latih, berkemah dan bersepeda, kemudian juga beberapa trek pendukung ekowisata yaitu trek patroli gajah, trek sungai, trek jelajah hutan, trek alternatif jelajah hutan, trek sepeda dan trek kano.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Untuk akomodasi, di Taman Nasional Tesso Nilo tersedia 2 unit rumah sebagai tempat penginapan bagi pengunjung di area camp Flying. Anda dapat berkemah dalam area tersebut atau memanfaatkan rumah-rumah penduduk di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Informasi lengkap dapat diperoleh di alamat berikut.</p> <p style="text-align: justify;">Balai Taman Nasional Tesso Nilo<br /> Jl. Langgam II Km 4 Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan<br /> Telp : (0761) 494728<br /> <br /> WWF-Indonesia Program Riau<br /> Perkantoran Grand Sudirman Blok B-1<br /> Jalan Datuk Setia Maharaja Telp : (0761) 8550006</p> Perayaan Walima di Bubohu Bongo, Pesta Cinta Yang Tak Pernah Berakhir http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/247/perayaan-walima-di-bubohu-bongo-pesta-cinta-yang-tak-pernah-berakhir <p style="text-align: justify;">Walima adalah tradisi cinta yang dirawat dari generasi ke generasi di Desa Bongo, Batudaa Pantai, Gorontalo. Lebih dari 100.000 kolombengi yang terbuat dari telur, tepung dan gula menjadi wujud cinta. Uang sejumlah jutaan rupiah pun dikeluarkan masyarakat untuk membiayai pesta ini. Inilah bukti cinta mengalahkan hitungan dunia.</p> <p style="text-align: justify;">Tiga pekan terakhir lalu, Farida, perempuan paro baya menghabiskan sebagian besar waktunya di dapur. Belanjaan tepung terigu, telur, gula dan yang lainnya jauh hari telah disiapkam di dapurnya. Entah berapa kali ia menyeka wajahnya penuh keringat di depan cetakan kue kolombengi yang panas.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Perayaan Walima di Bubohu Bongo, Pesta Cinta Yang Tak Pernah Berakhir" src="https://lh4.googleusercontent.com/-Q9ir0UF7i-A/UOQD0LMve-I/AAAAAAAAAGo/L0BJNmCNRf0/w769-h545-p-k/Walimah1.jpg" alt="Perayaan Walima di Bubohu Bongo, Pesta Cinta Yang Tak Pernah Berakhir" width="550" height="390" /></p> <p style="text-align: justify;">Farida dan juga perempuan desa Bongo, Batudaa Pantai, kabupaten Gorontalo larut dalam suasana maulid, menyambut perayaan kelahiran Nabi Muhammad. Ia lakoni bertahun-tahun sejak masih anak-anak di desa ini.</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Kami meneruskan apa yang pernah leluhur kami lakukan, memang melelahkan tapi kami gembira karena ini perayaan setahun sekali&rdquo; tuturnya sambil menyiapkan 8 kg campuran beras dan ketan untuk lalampa, Sabtu (28/2) pagi. Saat yang sama lelaki Bongo tanpa dikomando mendadani jalan desa dengan lengkungan janur dan lampu gemerlap.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Perayaan Walima di Bubohu Bongo, Pesta Cinta Yang Tak Pernah Berakhir" src="https://lh5.googleusercontent.com/-YFrKs5TgaZk/UOQD0VJ7CqI/AAAAAAAAAGw/FHBeaL_mXLg/w117-h175-n-k/walima03.jpg" alt="Perayaan Walima di Bubohu Bongo, Pesta Cinta Yang Tak Pernah Berakhir" width="117" height="175" /></p> <p style="text-align: justify;">Menjelang malam selepas shalat Isya, Dikili lamat-lamat dilantunkan di Masjid At-Taqwa, makin lama makin keras, terbawa angin laut dan menggema di setiap bebukitan gersang desa Bongo. Sanjungan kepada Nabi Muhammad tiada henti, kaum nelayan Bongo memujinya dengan caranya tersendiri, kecintaan mereka kepada Al-Amin melebihi batas nalar, kecintaan abadi kepada sang Nabi. Sepanjang malam pujian Dikili tanpa henti hingga bertaut Subuh, para lelaki dan wanita terbuai syair, dan berlanjut hingga matahari mulai meninggi.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Perayaan Walima di Bubohu Bongo, Pesta Cinta Yang Tak Pernah Berakhir" src="https://lh4.googleusercontent.com/-f3gFqJDvm3Y/UOQD2XxW-0I/AAAAAAAAAHA/qSOaBuW-UPg/w262-h175-n-k/walima10.jpg" alt="Perayaan Walima di Bubohu Bongo, Pesta Cinta Yang Tak Pernah Berakhir" width="262" height="175" /></p> <p style="text-align: justify;">Minggu pagi, setiap keluarga menyelesaikan usungan Walima yang telah diuntai dengan Kolombengi aneka rupa, membentuk kubah memanjang. Di bagian bawah Tolangga, tertata rapi dalam anyaman janur, Toyopo, seekor ayam goreng utuh, nasi kuning, telur, dan wapili</p> <p style="text-align: justify;">Satu persatu setiap keluarga mengeluarkan walima dari rumahnya, ada yang dipikul beberapa orang, atau dinaikkan dalam gerobak menuju masjid. Bahkan ada bentuk perahu walima, mencerminkan sarana produksi mereka, juga berisi kolombengi berwujud ikan dan belimbing. Deretannya memanjang mengantre untuk didaftar, diberi nomor sebelum dinilai. Hilir mudik santri berjubah putih panjang dan bersorban paling sibuk mengangkuti walima, sementara pemangku adat mengawasi prosesi.</p> <p style="text-align: justify;">Perayaan Walima di Bongo merupakan tradisi tua yang terus terjaga, dilaksanakan penuh kepatuhan dan kecintaan, dan mendapat dukungan penuh dari tokoh desa Bongo yang telah menasional, Yosep Tahir Ma&rsquo;ruf. Ia sadar, diperlukan lompatan &ldquo;gila&rdquo; untuk mengubah masyarakatnya. Tidak sedikit uang dari koceknya dikucurkan untuk perayaan ini, setiap tahun. Bahkan untuk menjamu tamu di rumahnya, seekor sapi disembelih, tidak terhitung banyaknya ikan laut. Demikian juga dengan walima yang khusus dibuatnya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Perayaan Walima di Bubohu Bongo, Pesta Cinta Yang Tak Pernah Berakhir" src="https://lh6.googleusercontent.com/-QILMjcQcLeQ/UOQD0T1k3EI/AAAAAAAAAGs/-gWN0kcZWM4/w263-h175-n-k/walima01.jpg" alt="Perayaan Walima di Bubohu Bongo, Pesta Cinta Yang Tak Pernah Berakhir" width="263" height="175" /></p> <p style="text-align: justify;">Di Bongo terdapat 850 kepala keluarga, dan setiap warga merayakan dengan membuat kue. Yang mampu membuat tolangga yang berhias kolombengi dan toyopo, ada ratusan yang dijejer di halaman masjid. Setiap walima rata-rata menghabiskan 500-800 kolombengi. Farida dan keluarga lainnya telah menganggarkan Rp1 juta - Rp3 juta, bahkan ada yang lebih.</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Walima itu ekspresi kebahagiaan yang diwujudkan dalam karya seni dan spirit kerja yang tinggi. Totalitas dalam maulid Nabi tidak membuat masyarakat jadi miskin, setiap tahun makin ramai, bahkan setiap perayaan Walima datang, orang Bongo selalu gampang mencari ikan tuna. Ini berkah yang harus disyukuri&rdquo; kata Yosep dalam wawancaranya dengan Gorontalo Post menjelang pagi.</p> <p style="text-align: justify;">Ia menegaskan bahwa kekuatan Walima sesungguhnya ada di masyarakat, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mandiri yang dikelolanya dan menjadi motor dalam festival Walima hanya membuat kemasan agar peristiwa budaya ini lebih meriah dan terkoordinir.</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Obsesi saya adalah membuat Bongo ini menjadi Desa Wisata Religius&rdquo; lanjutnya. Sejak 1997 ia telah dirintis pembangunan, mulai dari marketing Walima, membangun masjid Walima Emas di atas bukit, penanggalan Hijriyah terbesar di dunia, kolam renang santri dan khusus wanita, dan ke depan akan dibangun istana bagi para penghafal Al-Quran, juga menyulap rumah-rumah warga menjadi kamar hotel sekelas bintang lima serta restoran termahal di Indonesia. Untuk menjual mimpinya, Yosep akan menggarap pasar Timur Tengah.</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Saya 9 tahun jualan kue keluar masuk kampung, selama itu pula kepala saya menyunggi panasnya sabongi dan pisang goreng, mungkin ini yang membuat saya gila&rdquo; guyonnya sambil mengingat masa lalunya yang getir.</p> <p style="text-align: justify;">Ribuan warga menghadiri pesta Walima, tidak menghiraukan terik Matahari membakar ubun-ubun. Pesta cinta pada Nabi belum berhenti, malam harinya Dikili masih digelar di masjid atas desa Bongo di saat warga yang lain pulas dalam kenyang nikmatnya kolombengi.</p> Nantu: Kekayaan Hutan Dunia di Gorontalo http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/248/nantu-kekayaan-hutan-dunia-di-gorontalo <p style="text-align: justify;">Tidak banyak orang menyadari betapa besar kekayaan Hutan Nantu bagi dunia. Selama ini masyarakat hanya diajarkan menghitung nilai ekonomi kayu-nya. Padahal Nantu adalah ikon dunia sekelas Pulau Bunaken dan merupakan hutan hujan tropis utama di Pulau Sulawesi. Tidak heran jika ilmuwan Jerman, Pauli Hien mengatakan Nantu adalah satu dari lima situs terbaik hidupan liar di Asia Tenggara.</p> <p style="text-align: justify;">Pujian Pauli Hien ini terlontar saat menyaksikan langsung hutan hujan tropis di Gorontalo ini. Bahkan pendapat serupa juga diungkapkan Will Duckworth, ilmuwan senior dari Wildlife Coonservation Sociiety (WCS) asal Inggris. Ia yakin bahwa hutan Nantu adalah salah satu hutan hujan tropis terbaik yang pernah ia kunjungi. Will Duckworth bisa mengungkap penilaiannya ini karena ia telah berkeliling dunia memasuki kawasan hidupan liar.</p> <p style="text-align: justify;">Penilaian ini menguatkan pendapat Alfred Russel Wallace, penjelajah alam kebangsaan Inggris yang menghabiskan waktu hidupnya untuk mengamati flora dan fauna di berbagai penjuru dunia setengah abad lalu. Pengamatan Walllace benar, Sulawesi memiliki tumbuhan dan hewan yang unik dan tidak ditemukan di tempat lain manapun di dunia. Sekarang hanya Gorontalo dan sedikit di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara yang memiliki kekayaan khas Sulawesi ini. Sulawesi Selatan, Barat dan Utara sekarang tidak menyisakan hutan hujan tropis lagi.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Nantu: Kekayaan Hutan Dunia di Gorontalo" src="https://lh3.googleusercontent.com/-t-a7Na4TTk0/UOP_FsX9VfI/AAAAAAAAAEM/R9kpUvnGICM/w245-h163-n-k/Bekicot.jpg" alt="Nantu: Kekayaan Hutan Dunia di Gorontalo " width="245" height="163" /></p> <p style="text-align: justify;">Di Nantu, terdapat 127 jenis mamalia, 79 (62 persen) diantaranya merupakan satwa endemik, yang hanya ada di Sulawesi dan tidak di tempat lain mana pun. Juga ribuan jenis tumbuhan, binatang, serangga, ampibi, 90 jenis burung yang 35 jenis endemik, yang diantaranya belum tercatat dalam jurnal ilmiah.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Nantu: Kekayaan Hutan Dunia di Gorontalo" src="https://lh3.googleusercontent.com/-SRNJVRbb-mQ/UOP_l9nwgZI/AAAAAAAAAEk/NSOCPnOvCYA/w244-h163-n-k/Laba2.jpg" alt="Nantu: Kekayaan Hutan Dunia di Gorontalo" width="244" height="163" /></p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Populasi Anoa di Nantu cukup bagus, ditaksir ada 5000 yang hidup di suaka marga satwa ini. Anoa merupakan hewan malam (nocturnal) yang hidup menyendiri (soliter). Nantu merupakan benteng terakhir kehidupan satwa ini karena di hutan lain sudah sulit dijumpai, jika hutan Nantu rusak maka punahlah satwa ini dan juga yang lain&rdquo;, kata Lynn Marion Clayton.</p> <p style="text-align: justify;">Nantu memiliki keistimewaan dengan keberadaan kolam asin yang berukuran 20 x 60 meter ini. Terletak di rimba yang rapat pepohonan, kolam asin yang disebut Adudu ini menjadi sangat penting karena semua hewan setiap harinya datang untuk menjilati mineral garam dan sulphur yang berguna untuk percernaan tubuh hewan. Bahkan Babi rusa yang menyukai buah pangi yang beracun harus ke kolam ini untuk menetralisir racun di tubuhnya.</p> <p style="text-align: justify;">Di area becek ini juga bisa disaksikan dua Babi rusa jantan dewasa yang bertarung dengan mengangkat kaki depannya untuk memperebutkan kawasan atau Babi rusa betina.</p> <p style="text-align: justify;">Menurut Lynn Clayton, sebenarnya terdapat 2 kolam serupa Adudu yang pernah ditemukan di daerah tangkapan air sungai Paguyaman namun keduanya sudah rusak setelah ada pembabatan hutan dengan cara dibakar dan dijadikan ladang oleh masyarakat. Padahal sebelumnya, kedua kolam kaya mineral ini selalu dikunjungi Anoa, Babi rusa dan hewan lain.</p> <p style="text-align: justify;">Lynn dan juga timnya telah melakukan survey secara intensif selama 6 bulan di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara tidak menemukan kolam semacam Adudu di daerah tersebut. Dipastikan tidak ada kolam lain serupa Adudu di manapun di dunia. Di sini, saat satwa liar berkumpul untuk menikmati mineral, merupakan pemandangan luar biasa untuk menyaksikan berbagai hewan liar berkumpul di habitat aslinya.</p> <p style="text-align: justify;">Atas alasan inilah hutan Nantu layak menjadi ikon utama dunia, dan hanya Gorontalo yang memilikinya. Jika pemerintah dan masyarakat mampu melindungi dan melestarikannya, maka kekayaan ini sebanding dengan ikon dunia lainnya semisal pulau Bunaken.</p> <p style="text-align: justify;">Nantu juga sumber pembelajaran bagi masyarakat dan ilmuwan Gorontalo. Bukan tidak mungkin dengan kegigihan, akan banyak lahir doktor dari hutan hujan tropis terbaik dunia ini. Di sini juga bisa dilakukan kerjasama antara ilmuwan Gorontalo dan berbagai peneliti internasional, proses interaksi ini akan menghasilkan penemuan ilmiah baru dan sangat mungkin ditemukan spesies satwa atau tanaman baru .</p> <p style="text-align: justify;">Lokasi Adudu yang berada di hutan Nantu terletak di kaki gunung Boliyohuto. Sangat menarik untuk dikunjungi dan dipelajari, aksesnya bisa dijangkau melalui sungai Paguyaman dengan menyewa ketinting warga Mohiolo. Dari camp suaka marga satwa yang dibangun Yayasan Addudu Nantu Internasional (YANI), pengunjung hanya berjalan kaki 15 menit untuk sampai ke Adudu.</p> <p style="text-align: justify;">Pemerintah dan juga perguruan tinggi harus mampu mengajukan hutan Nantu sebagai situs warisan dunia (World Heritage Site) kepada badan PBB Unesco. Upaya ini akan semakin melambungkan pengakuan internasional terhadap sumber daya alam Gorontalo. Kalau tidak sekarang, kapan lagi </p> Hutan Nantu: Rimba Purba Kaya Flora Fauna http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/249/hutan-nantu-rimba-purba-kaya-flora-fauna <p style="text-align: justify;">Seperti dalam film Jurassic Park, pohon besar menjulang tinggi dikelilingi beragam tanaman merambat, juga rotan dan akar beringin. Pohon Rao raksasa tumbuh dan saling berdekatan satu sama lain, di selanya tumbuh tanaman rimba lainnya tidak menyisakan ruang bagi sinar Matahari jatuh ke tanah. Lembab dan becek mempecepat pembusukan daun dan juga kayu lapuk.</p> <p style="text-align: justify;">Barisan semut tak henti berlalu membawa potongan daun dan bangkai serangga mati, cendawan merah lunak menempel di cabang pohon yang membusuk, jamur ini berpendar malam hari. Suara serangga dan hewan lain bersahutan, sesekali suara burung Julang Sulawesi (Rhyticeros Cassidix) menyela.</p> <p style="text-align: justify;">Hutan hujan tropis yang asli ini di hutan Gorontalo, di Suaka Margasatwa Nantu. Hutan ini merupakan kekayaan dunia yang sangat penting, karena nantu merupakan salah satu dari sedikit hutan di Sulawesi yang masih utuh. Pohon raksasa Rao (Dracontomelum Dao), Nantu (Nyatoh), pohon Inggris (Eucalyptus Deglupta) beradu tinggi dengan rotan batang yang merambatinya, tidak terhitung hidupan liar yang di bawahnya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hutan Nantu: Rimba Purba Kaya Flora Fauna " src="https://lh4.googleusercontent.com/-iuvP-_6A-aM/UOP_v1vZg9I/AAAAAAAAAE8/1Wsux1awKb0/w155-h233-n-k/Pohon1.jpg" alt="Hutan Nantu: Rimba Purba Kaya Flora Fauna " width="155" height="233" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hutan Nantu: Rimba Purba Kaya Flora Fauna" src="https://lh5.googleusercontent.com/-3RQBMig-cDY/UOP_-f_stBI/AAAAAAAAAFU/n_rwIzMwYIs/w155-h233-n-k/Pohon2.jpg" alt="Hutan Nantu: Rimba Purba Kaya Flora Fauna " width="155" height="233" /></p> <p style="text-align: justify;">Suaka Margasatwa Nantu merupakan kawasan hutan seluas 31.000 ha yang menjadi kekayaan dunia. Di kawasan ini merupakan bagian dari bio-geografi Wallacea yang kaya keanekaragamanhayatinya. Nantu merupakan zona transisi dan campuran antara fauna Asia dan Australia. Di rimba ini hidup secara baik satwa yang tidak ada di bagian dunia lain seperti Anoa (Bubalus Depressicornis), Babi rusa (Babyroussa babbyrussa), Monyet Sulawesi (Macaca Heckii), Tarsius (Tarsius Spectrum), Babi Hutan (Sus Celebensis). Di hutan ini juga hidupan bagi 90 spesies burung, yang 35 jenis diantaranya adalah endemik. Hutan ini juga menjadi penyangga bagi kesetersediaan air bagi puluhan ribu masyarakat yang mendiami daerah di bawahnya.</p> <p style="text-align: justify;">Untuk menuju hutan Nantu, perjalanan dimulai dari ujung desa Mohiolo. Di sini ada perahu yang akan mengantarkan pengunjung menyusuri sungai Paguyaman yang keruh. Selama 2,5 jam disuguhi hidupan burung air yang eksotik. Bangau putih mendominasi, mereka berjemur di bebatuan pinggir sungai, di atas pohon tumbang hingga bertengger di semak perdu kanan-kiri sungai,bebek telaga yang biasa disebut Duwiwi juga senang bergerombol di pinggiran sungai. Tak terhitung jenis lain seperti Raja Udang, juga Bangau hitam berleher panjang yang sulit dijumpai dengan mudah disaksikan di sini, juga betet kelapa punggung biru hingga burung pendeta.</p> <p style="text-align: justify;">Semakin mendekati hutan, banyak dijumpai tanah kosong yang hanya ditumbuhi rerumputan yang tidak memiliki nilai ekonomi. Sepertinya setelah masyarakat mengambil kayu, lahan dibiarkan terlantar tak terurus. Tidak semua jalur sungai mulus dilalui, ada bagian yang harus dangkal dan harus diwaspadai pengemudi ketinting.</p> <p style="text-align: justify;">Suami tokoh pendidikan kepribadian, Mien R. Uno ini seakan lupa usianya, ia tetap semangat sambil menenteng 2 ranselnya, satu berisi kamera dan perlengkapan dan satunya berisi pakaian. &ldquo;Saya teringat 60-an tahun yang lalu saat diajak ayah menyusuri hutan mangrove di pantai utara Gorontalo, berliku diantara pohon bakau tua&rdquo; kenangnya.</p> <p style="text-align: justify;">Hutan Nantu merupakan tempat yang baik bagi perkembangan Anoa, Babi rusa dan satwa endemik Sulawesi lainnya. Di Nantu ini bisa dengan mudah dijumpai satwa tersebut. Babi rusa sejak 1996 dinyatakan langka dan dilindungi pemerintah Indonesia dan hukum internasional karena sudah masuk dalam buku merah IUCN dab CITES.</p> <p style="text-align: justify;">Hewan ini sangat unik, memiliki taring yang tumbuh dari hidung dan bengkok ke belakang di depan matanya. Menurut Abdul Haris Mustari, dosen IPB Bogor, hutan Nantu merupakan tempat terbaik bagi satwa endemik, khususnya Babi rusa di daratan Sulawesi. Hal ini terjadi karena ada keunikan alam yang dimilikinya, air panas yang mengandung sulphur dan bergaram, padahal daerah ini letaknya 40 km dari garis pantai. Di tempat ini merupakan tempat yang terbaik untuk menyaksikan satwa langka yang menjadi maskot Sulawesi.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hutan Nantu: Rimba Purba Kaya Flora Fauna" src="https://lh3.googleusercontent.com/-srfUN5MKeyo/UOQAQRBJv_I/AAAAAAAAAFs/ta3_FoVkQ-k/w155-h233-n-k/Rotan.jpg" alt="Hutan Nantu: Rimba Purba Kaya Flora Fauna" width="155" height="233" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hutan Nantu: Rimba Purba Kaya Flora Fauna" src="https://lh4.googleusercontent.com/-G58G5P5E5is/UOQAm984P0I/AAAAAAAAAGE/b4qV2-5rIok/w155-h233-n-k/Tumbuhan%2BRambat.jpg" alt="Hutan Nantu: Rimba Purba Kaya Flora Fauna" width="155" height="233" /></p> <p style="text-align: justify;">Yang unik juga, rotan berbagai jenis tumbuh subur. Rotan batang yang paling banyak dijumpai menjulur berpuluh meter di atas pohon yang disandarinya. Pohon rotan susu yang memiliki duri rapat juga melintang diantara pepohonan. Selain itu bisa dengan mudah melihat rotan Tohiti yang memiliki nilai ekonomis tinggi, rotan ini dikenal warna dan kehalusannya.</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Sebenarnya yang paling pas daerah ini dinamakan Suaka Marga Satwa Rao karena banyaknya pohon rao raksasa. Batangnya demikian besar menjadi daya tarik siapa saja yang datang di hutan ini&rdquo; lanjutnya.</p> <p style="text-align: justify;">Keunikan dan kekayaan keanekaragaman hayati ini telah menarik sejumlah broadcasting internasional untuk mengabadikannya, tercatat BBC London, NHK Jepang, TV Perancis telah mengabadikannya, demikian juga media nasional. Hutan Nantu merupakan laboratorium alam terlengkap dan terbaik dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya satwa dan flora endemik Sulawesi.</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Hutan hujan tropis ini masih perawan, tempat hidup satwa khas Sulawesi. Masyarakat, sekolah, perguruan tinggi dan peneliti Gorontalo harus mampu menjadikannya sebagai pusat studi lingkungan yang baik&rdquo; kata Razif Uno saat menuju Adudu, tempat satwa biasa mimum air yang mengandung sulphur dan garam. Ia yakin, masih banyak spesies yang belum ditemukan dan dipelajari di kawasan ini. Ini merupakan tantangan pememrintah dan masyarakat ke depan.</p> Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650 http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/250/babi-rusa-hutan-nantu-telah-dikenal-di-eropa-sejak-1650 <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650" src="/public/media/images/upload/usercontributor_media/1357112336.jpg" alt="Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650" width="550" /></p> <p style="text-align: justify;">Ternyata para peneliti Eropa sudah mengenal babi rusa (Babyroussa babbyrussa) sejak abad ke-17. Tahun 1658 seorang warga Belanda bernama Piso membuat ilustrasi tubuh babi rusa dengan hanya bermodalkan potongan tengkorak yang ditemukan. Meski ilustrasi tersebut jauh dari tubuh Babi rusa sesungguhnya namun sepotong tengkorak tersebut telah menjadi pembuka studi babi rusa di Eropa dalam bahasa Latin. Buku Babi rusa karya Piso merupakan rujukan tertua yang pernah ditemukan di Eropa. Buku ini ada di Leiden dan terkenal di Belanda dan juga Eropa.</p> <p style="text-align: justify;">Alfred Russel Wallace, sang ilmuwan pengelana bergembira saat kapalnya merapat di Sulawesi. Informasi yang didapat tentang banyaknya satwa dan tumbuhan di pulau ini menggugahnya untuk menyaksikannya langsung. Untuk pertama kali ia melihat babi rusa di Hutan Likupang Minahasa tahun 1860. Ia mendekomentasikan secara visual hewan endemik Sulawesi ini. Dalam gambaran Piso tentang hewan ini kemudian disempurnakan setelah 200 tahun berikutnya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650" src="https://lh3.googleusercontent.com/-c3fbvODEw1g/UOPxIoUZKtI/AAAAAAAAAC4/pTf2k-NRakE/w251-h167-n-k/Babirusa3.jpg" alt="Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650" width="251" height="167" /></p> <p style="text-align: justify;">Piso menggambarkan babi rusa sebagai hewan yang memiliki taring melengkung di depan matanya, tubuhnya langsing seukuran anjing kampung besar atau seekor rusa. Bulunya seperti anjing pemburu yang berwarna keabu-abuan, hewan ini memiliki mulut dan kepala seperti babi pada umumnya dengan mata dan telinga mungil. Kuku dan kakinya mirip rusa, dengan ekor yang bergelung melingkar seperti spiral. Babi rusa ini digambarkan sebagai hewan liar yang berasal dari zaman purba.</p> <p style="text-align: justify;">Rekaan tubuh yang berbekal sebuah tengkorak Babi rusa Piso ini menggelitik Lynn Marion Clayton, Doktor Eko-Biologi Babi rusa dari Oxford University, Inggris. Wanita ramah yang menghabiskan waktu 21 tahun di hutan Nantu, kawasan gunung Boliyohuto ini mengatakan bahwa ekor babi rusa tidak melingkar seperti spiral, melainkan lurus.</p> <p style="text-align: justify;">Hewan langka ini sejak dulu sudah menjadi daya tarik bagi peneliti dan ilmuwan Eropa, keunikan bentuk tubuhnya merupakan hal yang menarik. Sama seperti Anoa, Babi rusa merupakan satwa endemik yang tinggal di Sulawesi, daerah peralihan antara pengaruhi Asia dan Australia.</p> <p style="text-align: justify;">Studi yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia tentang satwa ini relatif sedikit. Justru yang paling banyak berasal dari hasil kerja bertahun-tahun Dr Lynn Clayton dan banyak ilmuwan negeri ini yang merujuk hasil penelitiannya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650" src="https://lh5.googleusercontent.com/-59jMBGZJ-D0/UOPybQcUbBI/AAAAAAAAADM/sUNQpbW0bqo/w122-h167-n-k/Gambaran%2BBabirusa.jpg" alt="Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650" width="122" height="167" /></p> <p style="text-align: justify;">Pembantaian besar-besaran telah menyusutkan jumlah Babi rusa. Umumnya para pemburu memasang jerat di daerah yang biasa dilaluinya atau di pinggiran kolam Adudu. Sebelum ada pengawasan, setiap minggunya tidak kurang dari 20 ekor Babi rusa dibunuh di Hutan Nantu. Bangkainya dikirim ke Minahasa dan Manado untuk diperdagangkan. Seekornya hanya dihargai Rp150.000 di tangan pemburu, jumlah yang tidak seberapa dibandingkan nilai ilmiahnya.</p> <p style="text-align: justify;">Tidak seperti babi hutan atau jenis lainnya, Babi rusa hanya beranak 1 sampai 2 ekor setiap melahirkan, tidak lebih. Sehingga perkembangannya sangat lambat. Perburuan liar telah menyurutkan populasinya di kawasan hutan Nantu.</p> <p style="text-align: justify;">Saat menyusuri hutan menuju Adudu, banyak jejak binatang ditemukan di tanah yang lembab dan basah. Jemmy Kumolontang, staf Lynn Clayton yang mantan pemburu menjelaskan, jejak kaki babi rusa lebih membulat sementara babi hutan cenderung persegi.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650" src="https://lh4.googleusercontent.com/-4OclneQz-Zs/UOPzdWBX1YI/AAAAAAAAADo/HWma0_m_E74/w110-h167-n-k/Babirusa4-1.jpg" alt="Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650" width="110" height="167" /></p> <p style="text-align: justify;">Satwa ini tidak memiliki tempat tinggal (sarang) yang menetap, mereka berkeliaran di sepanjang hutan yang tidak jauh dari Adudu dan jika malam tiba memilih untuk tidur di sela-sela akar bawah pohon besar. Uniknya, satwa khas Sulawesi ini memiliki &ldquo;kamar mandi&rdquo; yang berbentuk kubangan berisi air. Di kolam seukuran tubuhnya ini Babi rusa mencampur air kencingnya dengan air dan menikmati kesegarannya. Kebiasaannya setelah mandi, babi hutan akan menggosokkan tubuhnya yang penuh lumpur di pepohonan sebagai penanda wilayah jelajahnya. Hanya orang yang biasa mengamati hidup babi rusa yang bisa melihat bekas gosokan tubuh hewan ini di batang pohon.</p> <p style="text-align: justify;">Di Hutan Nantu yang menyimpan kekayaan alam tiada tara ini juga bisa saksikan bekas-bekas Babi rusa melahirkan. Betina yang akan melahirkan akan mengumpulkan potongan daun untuk dijadikan alas. Berbagai macam daun perdu dan semak, bahkan daun woka dipotong untuk dijadikan kasur. Di atas alas empuk ini bayi mungil babi rusa lahir.</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Babi rusa sangat peka, mereka tidak bisa hidup di daerah yang telah terbuka. Ini bedanya dengan babi hutan. Babi rusa hanya bisa tinggal di hutan yang masih terjaga keasliannya. Beruntunglah Gorontalo memiliki Hutan Nantu yang masih menyimpan kekayaan hutan hujan tropis terlengkap di Sulawesi. Masyarakat harus menjaganya&rdquo; tuturnya saat menyusuri sungai Adudu untuk mengenalkan keindahan alam Gorontalo.</p> Air Terjun Tiu Pupus Gangga, Lombok http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/251/air-terjun-tiu-pupus-gangga-lombok <p style="text-align: justify;"><strong></strong>Ketika saya dan teman memilih untuk melihat air terjun di Lombok maka yang ada di pikiran hanya air terjun yang terkenal saat ini, yaitu Sendang Gile dan Tiu Kelep. Keduanya berada di Taman Nasional Gunung Rinjani, Senaru, Lombok Utara. Akan tetapi, yang tidak saya ketahui adalah Lombok juga punya beberapa air terjun selain keduanya itu.</p> <p style="text-align: justify;">Saya baru mengetahui ketika orang yang mengantarkan kami, Faiz, membawa kami ke daerah bernama Gangga. Saya tidak begitu mengetahui apa yang akan dilihat di Gangga tapi kemudian melihat papan petunjuk yang sangat sederhana bertuliskan &lsquo;Tiu Pupus Waterfall This Way.&rsquo; Ah, ternyata kami akan melihat air terjun ini terlebih dahulu.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Air Terjun Tiu Pupus Gangga, Lombok" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50b79fef99984.jpg" alt="Air Terjun Tiu Pupus Gangga, Lombok" width="550" height="407" /></p> <p style="text-align: justify;">Lokasi dari air terjun Tiu Pupus memang harus dicapai dengan jalan kaki. Setelah memarkirkan mobil di satu area di dekat rumah penduduk, kami berjalan di samping sungai kecil, sampai akhirnya kami menemui jembatan kecil dan bangunan rumah di sampingnya. &ldquo;Aah, itu dia air terjunnya&rsquo;.</p> <p style="text-align: justify;">Dari jauh memang sudah terlihat air terjunnya tetapi kurang sesuai dengan gambaran saya. Hal yang ada di benak air terjun itu mestinya deras dan volume airnya juga besar. Akan tetapi, yang ini sedikit kecil atau mungkin karena belum musim hujan Hal yang saya suka dari area air terjun ini adalah kolam airnya berasal dari air terjun Tiu Kelep. Kenapa bisa membentuk sebuah kolam Kalau saya lihat, memang kolam ini dibuat secara sengaja, di mana dibangun tembok kecil dari batu-batuan sehingga airnya tidak langsung mengalir ke bawah.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Air Terjun Tiu Pupus Gangga, Lombok" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50b79fb779d09.jpg" alt="Air Terjun Tiu Pupus Gangga, Lombok" width="550" height="379" /></p> <p style="text-align: justify;">Sayang kami tidak membawa pakaian ganti, jadi kami tidak bisa bermain air di kolam tersebut. Kami hanya mengambil banyak foto di area ini, sebelum akhirnya kami meninggalkan tempat ini untuk pergi ke tempat berikutnya.</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Habis ini ke mana ya, kak &rdquo;, tanya saya kepada Faiz. &ldquo;Habis ini kita ke air terjun Gangga&rsquo;, jawabnya. Jadi ternyata selain Tiu Kelep, ada lagi air terjun di wilayah Gangga ini. Lokasinya bisa dibilang lumayan dekat dengan air terjun Tiu Kelep.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Air Terjun Tiu Pupus Gangga, Lombok" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50b7a028e2595.jpg" alt="Air Terjun Tiu Pupus Gangga, Lombok" width="550" height="304" /></p> <p style="text-align: justify;">Setelah melewati jalan besar, ketika sudah dekat dengan lokasi air terjun, kami melewati jalan yang cukup untuk satu mobil saja. Di samping kami ada sawah-sawah, dan warga setempat yang sedang memanen hasil dari sawah tersebut.</p> <p style="text-align: justify;">Kami pun parkir di satu area di dekat rumah penduduk yang bentuknya masih tradisional yang atapnya dari jerami. Di situ sudah ada warga setempat yang salah satunya menjadi <em>tour guide</em> kami di sini, namanya Madi.</p> <p style="text-align: justify;">Air terjun Gangga ini merupakan air terjun yang bertingkat tinga dan sesuai namanya maka kami pun berjalan naik ke atas untuk menuju tingkat pertama dari air terjun Gangga ini. Jalanan ke atas ini sudah disemen dengan baik, jadi memungkinkan untuk lebih mudah naik turunnya.</p> <p style="text-align: justify;">Air terjun tingkat pertama ini ternyata lokasinya di sebelah bendungan kecil, jadi untuk menuju ke air terjun itu mesti &lsquo;melangkahi&rsquo; bendungan itu terlebih dahulu. Air terjun itu sepertinya meluncur dari atas bukit berbatu ke bawah. Walaupun tampak kecil, tapi alirannya bisa dikatakan lumayan deras. Sembari foto-foto di depan air terjun, ternyata dari atas ini pemandangannya juga indah.</p> <p style="text-align: justify;">Kalau di tingkatan pertama untuk mencapai air terjun kami harus melewati bendungan maka di tingkatan kedua ini kami harus menyebrangi kolam kecil dengan berjalan di atas bambu dan memanjat sedikit ke atas untuk melihat tingkatan kedua. Ternyata yang tingkatan kedua jauh lebih bagus dari yang pertama. Di tingkatan yang kedua ini, airnya mengalir tidak hanya dari satu bagian saja tapi beberapa bagian dari bukit berbatu yang banyak ditumbuhi daun-daun itu. Sama seperti air terjun Tiu Kelep; di bawah air terjun tingkat kedua ini terbentuk kolam karena memang airnya &lsquo;dicegah&rsquo; untuk tidak langsung mengalir ke bawah dengan dibuat tembok dari batu-batuan. Saya langsung membayangkan diri saya melompat ke kolam itu dan bermain-main di bawah air terjun. Pasti rasanya menyenangkan sekali.</p> <p style="text-align: justify;">Pada tingkatan yang terakhir, kami harus turun ke bagian bawah dari bukitnya. Turunnya memang lumayan jauh untuk sampai ke bawah. Sesampainya di bawah, kami berjalan di samping aliran sungai kecil dan di antara bukit yang menjulang tinggi.</p> <p style="text-align: justify;">Ketika asyik memfoto-foto sekitar saya; saya tidak sadar kalau yang lain sudah berada di dekat lubang dari satu sisi bukit itu. Dari lubang itu keluar air yang lumayan deras. &ldquo;Wah, jangan-jangan di balik lubang itu ada air terjunnya &rdquo; tanya saya dalam hati dan ternyata memang benar.</p> <p style="text-align: justify;">Untuk naik ke atas dan memasuki lubang itu, kami harus memanjat semacam batang pohon, yang sudah dipahat pinggirnya untuk tempat pijakan kaki. Walau naiknya agak sedikit hati-hati tetapi sesampainya di atas, rasanya lagi-lagi saya ingin menceburkan diri ke dalam kolam di bawah air terjun itu. Akan tetapi, ya sudah lah. Nanti pada kunjungan berikutnya ke sini, pasti saya akan membawa pakaian ganti!</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Kepulauan Banyak: Beragam Atraksi Wisata Bahari di Aceh http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/252/kepulauan-banyak-beragam-atraksi-wisata-bahari-di-aceh <p style="text-align: justify;">Kepulauan Banyak (Banjak) merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ibu kota kecamatannya terdapat di Pulau Balai yang sekaligus merupakan nadi perekonomian dari Kepulauan Banyak karena di sanalah transaksi ekonomi antar penduduk berlangsung dan mempunyai fasilitas lengkap di banding pulau-pulau lainnya di Kepulauan Banyak.</p> <p>&nbsp;<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc6/679937_10151159078757879_1794015379_o.jpg" alt="" width="680" height="1024" /></p> <p style="text-align: justify;">Kepulauan Banyak sendiri berada pada koordinat 97&deg;3&rsquo;40&Prime; BT &ndash; 97&deg;27&rsquo;58&Prime; BT dan 1&deg;58&rsquo;25&Prime; LU &ndash; 2&deg;22&rsquo;25&Prime; LU. Kepulauan ini memiliki luas daratan 135 km<sup>2</sup> dan laut seluas 200.000. Kepulauan Banyak meliputi pulau-pulau besar dan kecil dimana pulau terbesarnya adalah Pulau Tuangku, Pulau Bangkaru, Pulau Ujung Batu dan Pulau Palambak besar.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/29615_10151159070862879_255649354_n.jpg" alt="" width="638" height="960" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/423058_10151159083457879_1655235858_n.jpg" alt="" width="960" height="637" /></p> <p style="text-align: justify;">Pulau Banyak dibagi dalam dua kecamatan, yaitu: Kecamatan Pulau banyak, terdiri dari 3 desa yaitu desa Pulau Balai, Pulau Baguk dan Teluk Nibung. Kedua adalah Kecamatan Pulau Banyak Darat, terdiri dari 4 desa yaitu desa Haloban, Asantola, Ujung Sialit dan Suka Makmur.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/72181_10151159090767879_202755582_n.jpg" alt="" width="637" height="960" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc1/374557_10151159091462879_1543049857_n.jpg" alt="" width="960" height="637" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/61483_10151159096447879_633652691_n.jpg" alt="" width="960" height="637" /></p> <p style="text-align: justify;">Terdapat 3 bahasa yang dituturkan di kepulauan ini, yaitu: bahasa Aneuk Jamee, bahasa Holoban, dan bahasa Nias. Bahasa Aneuk Jamee dituturkan suku Aneuk Jamee. Selain itu, bahasa ini adalah <em>lingua franca</em> bagi ketiga etnis di kepulauan ini selain Bahasa indonesia. Bahasa Haloban dituturkan oleh suku Haloban sedangkan bahasa Nias dituturkan oleh suku Nias.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/156793_10151159101727879_505864781_n.jpg" alt="" width="637" height="960" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc6/231069_10151159105237879_1378266552_n.jpg" alt="" width="960" height="637" /></p> <p style="text-align: justify;">Kepulauan Banyak merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang sangat memesona. Sebagai daerah kepulauan, tentu saja memiliki laut yang cukup luas juga pantai yang panjang dan indah. Pasir putihnya lebih lembut, sering memanjakan wisatawan agar betah berlama-lama menghabiskan liburannya. Lambaian daun-daun kelapa yang rindang semakin memperindah suasana tamasya dengan pemandangan alam pantai tropis.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Untuk melakukan perjalanan ke Kepulauan Banyak dapat melalui Jakarta dengan menggunakan penerbangan ke Medan karena akses tercepat ke Kepulauan Banyak melalui Medan. Berikutnya dari medan menggunakan travel arah Medan &ndash; Aceh Singkil dengan beberapa tipe. Untuk informasi dapat menghubungi Amir (085262080049). Lama perjalanan seikira 8 jam. Ada juga Nusa Buana Air yang menyediakan penerbangan Medan &ndash; Aceh Singkil tetapi hanya 2 kali seminggu, yaitu Sabtu dan Senin pagi.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc6/9674_10151159126762879_1432771535_n.jpg" alt="" width="960" height="637" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/603999_10151159134947879_173417926_n.jpg" alt="" width="960" height="637" /></p> <p style="text-align: justify;">Dari Aceh singkil &ndash; Kepulauan Banyak (Pulau Balai) ada 3 alternatif angkutan, yaitu: <em>pertama, </em>ferry selama 4 jam dengan tarif 50 ribu dan jadwal keberangkatan 1 minggu sekali tiap hari selasa. <em>Kedua, </em>menggunakan kapal angkutan rakyat yang biasa untuk mengangkut sembako dari pelabuhan jembatan tinggi tarif 50 ribu dan lama perjalanan sekira 4 jam. Jadwal keberangkatan tiap hari jam 07.00 pagi menuju Pulau Balai.</p> <p style="text-align: justify;"><em><br /></em></p> <p style="text-align: justify;">Dari Pulau Balai lanjutkan menggunakan <em>speed boat</em> menuju pulau tujuan di Kepulauan Banyak, misalnya Pulau Palambak Besar tempat kami menginap. Biaya sewa <em>speed boat</em> adalah 300 ribu sekali jalan max 6 orang. <em>Ketiga, </em>menggunakan <em>speed boat</em> langsung dari pelabuhan jembatan tinggi ke pulau balai dengan tarif 1 juta, max 6 orang, dan lamanya 2 jam. Bisa juga langsung ke Pulau Palambak Besar dengan tarif 1.2 juta, max 6 orang, dan lamanya 2.5 jam.<em> </em>Untuk sewa speed boat dapat menghubungi nomor 0811604994.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Ada banyak hal dapat dilakukan di Kepulauan Banyak.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">1. Konservasi penyu, Pulau Bangkaru. Kepulauan Banyak khususnya Pulau Bangkaru memang terdapat beberapa jenis satwa langka, yaitu penyu hijau, penyu belimbing dan penyu sisik. Akan tetapi, wilayah konservasi penyu di Pulau Bangkaru ini tidak steril lagi karena ulah-ulah tangan tidak bertanggung jawab, mereka menjarah penyu-penyu yang merupakan spesies langka dan di duga untuk dijual ke kolektor. Masuk ke Pulau Bangkaru dikenai biaya konservasi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">2. Hoping Island, Pulau Lambodong sekira 20 menit dari Pulau Palambak Besar yang memiliki <em>spot</em> untuk <em>snorkling</em>, Pulau Pandan, Pulau Tailana (spot snorkling ), Pulau Tuangku, Pulau Sikandang (ada cottage di pulau ini tetapi sayang hanya buka ketika musim liburan).</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">3. Surfing atau selancar di 12 titik titik ombak dengan ketinggian mencapai 6 m tersebar di seluruh Kepulauan Banyak. Salah satunya adalah Pulau Bangkaru, ujung Silingar dan bagian selatan Pulau Tuangku. Tempat yang paling sering di kunjungi peselancar adalah Pantai Amandangan dan Pantai Pelanggaran di Pulau Bangkaru. Selain itu, ada ujung lolok yang terdapat <em>surf camp</em> yang tidak kalah menggiurkan ombaknya. Ombak di Kepulauan Banyak sangat ideal bagi peselancar kelas dunia karena tingginya mencapai 6 meter. Begitu pula lokasinya. Airnya dingin, ikan hiu jarang terdapat, tempat berselancar berada satu sampai dua meter di atas karang dan musim selancar relatif panjang.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">4.<em> Scuba diving</em>, keindahan bawah laut kepulauan banyak sangat menakjubkan berupa terumbu karang dengan flora dan fauna laut yaitu tumbuhan laut dan ikan- ikan karang yang beraneka ragam warna dan berbagai ukuran. Beberapa areal pariwisata di daerah ini adalah Pantai Pulau Tailana, Rago-Rago, Matahari, Pabisi dan Sikandang. Kebanyakan di daerah ini merupakan tempat yang indah dengan pantai yang berkarang dan airnya yang jernih sehingga karang- karang yang berada pada kedalaman lebih dari 3 meter terlihat jelas dari atas perahu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">5. Kayaking di Pulau Palambak besar tetapi di bagian belakang yang menghadap ke Pulau Palambak Kecil karena ombak nya sangat ideal di banding bagian depan Pulau Palambak Besar.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">6. Mager (Males Gerak), ini merupakan salah satu hobi kami dari Traveller Kaskus. Tempat mager yang &lsquo;PW&rsquo; itu ada di Pulau Palambak Besar, dari teras cottage langsung memandang ke pantai dengan pemandangan gugusan pulau-pulau serta pohon kelapa yang melamba-lambai di temani secangkir kopi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Untuk akomodasi ada beberapa pilihan, yaitu: <em>pertama</em>, Pulau Balai, ibu kota kecamatan Kepulauan Banyak yang merupakan gerbang masuknya. <em>Kedua, </em>Pulau Palambak Besar, cottage kayu untuk 2 orang dengan tarif 100 ribu per malam dan makanan per hari 100 ribu (3 kali makan). Apabila ingin ekonomis bawa trangia dan bahan makanan sendiri.<em> </em>referensi 08126081916 atau 0811604994. Di Pulau Palambak Besar disediakan paket <em>surfing tours</em>, <em>snorkling, diving tours, kayaking, village trek</em> dan <em>fishing tours</em>. Menurut kepercayaan setempat, kita dilarang meminum air kelapa yang ada di Pulau Palambak Besar karena akan kena malaria atau mungkin menjadi kurang waras setelah keluar dari pulau. Selain itu, dilarang memakan kepiting yang berkeliaran di pulau karena beracun. <em>Ketiga, </em>di<em> </em>Pulau Sikandang tetapi cottage di pulau ini hanya buka ketika musim liburan. <em>Keempat, tempat </em>surf camp ujung Lolok.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kunjungan terbaik ke Kepulauan Banyak adalah sekitar Januari hingga Mei dimana cuaca sedang bersahabat. <em>Over all</em> Kepulauan Banyak merupakan tempat eksotik yang wajib dikunjungi tetapi sayang belum lengkapnya sarana dan prasarana apalagi transportasi antarpulau menyebabkannya mahal. Untuk penginapan termasuk murah. Akan tetapi, itu tidak menyurutkan semangat kita dari Traveller Kaskus untuk melihat Indonesia dan menyebarkan keindahannya kepada dunia.</p> <p style="text-align: center;"><img src="https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/405168_10151159070742879_267860969_n.jpg" alt="" width="637" height="960" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc6/270163_10151159172102879_379940425_n.jpg" alt="" width="800" height="531" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/542747_10151159154687879_839096271_n.jpg" alt="" width="960" height="637" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/378819_10151159166262879_2058802843_n.jpg" alt="" width="960" height="720" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <blockquote> <p style="text-align: justify;"><em>Kata Kadal: &ldquo;Simplicity is making the journey of this life with just a backpack enough!&ldquo;</em></p> </blockquote> Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/253/bukit-pantai-keren-ada-di-pantai-menganti <p style="text-align: justify;">Ada sebuah pantai cantik di selatan Kebumen, Jawa Tengah. Untuk menuju ke sana Anda harus berhati-hati dengan kondisi jalanan di atas bukit berliku dan menanjak sedikit curam. Di kanan kiri jalan, tumbuhan hijau tropis menemani petualangan kita sampai mencapai titik akhir nantinya. Di bukit ini ada satu tempat yang mendeskripsikan pemandangan indah jauh di bawah sana. Lautan biru terhampar luas menghantarkan gelombang yang bermain-main dengan bibir pantai. Karang terkadang ikut terpecah saat gulungan ombak menghempasnya. Belum lagi tumbuhan hijau di pinggiran bukit yang menambah eksotisnya Pantai Menganti.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d99fa450156.jpg" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Ya, namanya adalah Menganti. Pantai ini sejajar dengan Pantai Ayah di Kebumen. Dari Pantai Ayah cukup membutuhkan perjalanan selama 20 menit lagi ke arah Timur. Pantai Menganti terletak di balik dan ujung bukit. Tersembunyi memang dan terbilang masih perawan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d99fda83f84.JPG" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Ketika akan sampai ke tempat ini, kita akan menuruni jalan panjang curam dengan lebar kira-kira 4 meter yang terus menurun dan memacu spot jantung <em>deg-degan</em>. Adrenalin pun semakin menggebu untuk segera menikmati pantai ini. Pertama akan ada kampung nelayan di pantai ini. Disini berdiri warung <em>seafood</em>, tempat pengepul ikan segar dan juga rumah warga kampung nelayan ini. Jalan aspalnya pun berakhir sampai disini. Tetapi masih tersambung dengan jalanan tanah yang terus mengarah lurus ke arah bukit dan sedikit menanjak. Area kedua , berjajaran warung-warung kecil yang menjual snack ringan dan beragam makanan. Disini ada tempat parkir khusus sepeda motor juga dan kebanyakan traveler istirahat di tempat ini. Di balik warung ini, Pantai Selatan Jawa menampakkan keelokannya. Tidak bosan mata memandang sejauh fokus penglihatan. Pantai pasir putihnya yang memanjang, batuan karangnya tertata apik.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a1b304c15.JPG" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a18dec962.jpg" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Nelayan dengan perahu birunya dan juga bukit pembatas di ujung sana menambah keindahan suasana pantai ini. Benar-benar menakjubkan. Pedagang di sini pun cukup ramah untuk menyapa pengunjung. Ketika itu, saya dan teman-teman saya diberitahu agar tidak naik ke atas karang di bawah bukit dekat mercusuar karena ombaknya yang berbahaya dan telah menyaut orang pada hari sebelum kami ke sana. Ya, inilah pantai selatan, kalau ombaknya kecil bukan pantai selatan namanya. Ini bukanlah seperti pantai umumnya. Tidak hanya ombak, karang, pasir putihnya saja. Banyak sesuatu yang berbeda di pantai ini.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a02fa1bfb.JPG" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a18dec962.jpg" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Dengan mengikuti jalan yang mengarah ke bukit, di sini kita akan dihipnotis cantiknya sebuah pantai. Bukit ini hanya ditumbuhi ilalang dan rerumputan hijau. Di sana-sini terdapat gundukan bukit yang saling menyambung. Bukit ini tampak mirip dengan <em>hometown</em>-nya &ldquo;Teletubies&rdquo;. Tak lelah pula untuk mengabadikan petualangan di tempat ini dengan jepretan kamera.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a0042d4c6.JPG" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a0ce45c39.JPG" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a0eb8884c.JPG" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Ternyata jalanannya berujung pada mercusuar di ujung bukit. Di sinilah kita dapat menikmati syahdunya Pantai Menganti. Kita akan terpesona semua pemandangan yang ada. Inilah <em>spot</em> dimana kita akan merasakan kekaguman tempat ini. Kita akan terpaku terheran dengan objek apapun di sekitar mercusuar. Di ujung tiap bukit ini semuanya dikelillingi lautan. Di sisi bawah sana, kontur tanahnya naik turun seperti sengkedan. Di tengah-tengah ada dua batu karang hitam legam. Di sisi belakang ada puncak bukit kecil nan mempesona. Di sisi depan hamparan laut biru luas menantang. Tak bosan untuk berlama-lama di tempat ini. Lagi jepretan kamera menjadi suatu yang diwajibkan sebagai kenangan perjalanan para traveler ketika mengunjungi Menganti ini.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a11e26ad7.jpg" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a14b5ad40.JPG" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a1ec2babc.JPG" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Belum ke Menganti bila tidak merasakan jejak kaki di pasir putihnya, bermain dengan ombaknya dan mencari benda laut yang terseret di pinggiran pantainya. Ombak serta arusnya yang cukup besar diperlukan kewaspadaan ketika asyik berinteraksi dengannya. Pantai ini bersih dan asri, begitu pula dengan airnya. Aman dan damai yang dirasa ketika kita berada disini. Tempat ini masih sejuk dari polusi, masih terjaga akan alamnya, masih kaya akan biotanya. Sederhana memang namun mampu memikat hati para traveler. Jika berkunjung ke Pantai ini yakinlah bahwa lelahnya perjalanan dengan hasil yang didapat itu akan berbanding lurus.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50d9a23da760b.JPG" alt="Bukit Pantai Keren ada di Pantai Menganti" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Inilah satu bagian alam Indonesia yang luar biasa. Pantai ini masih butuh untuk dikembangkan agar menjadi destinasi wisata yang nantinya setenar Bali ataupun Lombok. Semoga pemerintah khusunya Kementerian Periwisata peduli pada daerah seperti Menganti ini. Banyak potensial yang mampu digerakkan agar membantu perekonomian masyarakat sekitar. Maju terus pariwisata Indonesia.</p> Bijak dan Pintar Berplesir Menjelang Tahun Baru http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/246/bijak-dan-pintar-berplesir-menjelang-tahun-baru <p style="text-align: justify;">Berlibur bagi Anda seorang petualang atau penikmat destinasi akan lebih berarti saat menemukan kebahagian dengan sekantung pengalaman, cerita, atau foto untuk dipamerkan kepada orang tersayang atau teman. Kali ini editor Indonesia.travel secara pribadi memberi sedikit tips untuk Anda agar pintar berplesir ke mana pun tujuannya. Bagaimana pun selama berwisata penting bagi Anda untuk menjaga keselamatan dan kesehatan, memiliki cukup informasi sehingga tidak terasing di tujuan, juga tidak terbebani dengan barang bawaan ketika kembali pulang ke rumah.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Hal mendasar yang perlu diketahui adalah semakin banyak waktu persiapan dan informasi maka akan memperlancar waktu berlibur nantinya. Jadi pandai-pandailah merencanakan liburan jauh hari sebelumnya. Penting untuk tidak menunda waktu karena semakin dekat ke akhir tahun maka dipastikan sulit memperoleh penginapan juga transportasi. Jika waktu Anda terbatas, susunlah <em>itinerary</em> dengan baik. Ayo nikmati berwisata di negeri sendiri menjelang tahun baru ini!</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;<strong><em></em></strong></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em></strong><strong><em>Ayo Bijak Berplesir</em></strong></p> <p style="text-align: justify;">Hal petama yang dapat dilakukan adalah memilah dan memilih teman berdiskusi atau mendatangi seorang konsultan wisata (travel agen mungkin). Hal kedua terakhir jangan berpikir harus mengeluarkan uang. Itu karena ada banyak forum wisata melalui website secara online yang dapat menjadi pengganti tempat Anda bertanya banyak hal, mulai dari pilihan dan tarif pesawat atau hotel, hingga memperoleh informasi tentang destinasi yang menarik di berbagai penjuru Tanah Air. Menemukan destinasi baru apakah menantang untuk Anda </p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kini internet dan media social dapat mempersempit ruang dan waktu untuk Anda memperoleh banyak informasi sebelum berwisata. Bisa jadi Anda mendapatkan kenalan baru sebelum tiba di tujuan melalui sebuah forum, Facebook, Twitter, dan lainnya yang dapat menjadi pemandu atau tempat bermalam di tujuan. Bagaimana, pernah mencoba </p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tentukan jenis destinasi liburan Anda. Apakah itu pantai (bosan tidak ). Menjelajah hutan atau gunung (tantang nyali Anda, berani ) Atau menyambangi desa wisata atau perkebunan. Setelah menentukan destinasi tujuan wisata maka buatlah jadwal perjalanannya. Aturlah jadwal keberangkatannya, berapa lama Anda menetap di sana dan kapan waktunya untuk pulang. Perhatikan rute yang akan Anda ambil. Ketahui bagaimana jarak tempuh suatu destinasi dengan yang lainnya, jangan sampai Anda terlalu lama mencapai tempat wisata dan malah lelah di perjalanan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Berikutnya pesanlah tiket moda transportasi yang sesuai. Belilah tiket sebelumnya atau mencarinya di travel agent. Jangan ragu untuk mendatanginya langsung ke terminal atau stasiun untuk membeli tiket di sana.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Begitu pula untuk memesan hotel. Pastikan Anda sudah mendapatkan kamar di tanggalnya. Bukan berarti datang mendadak dan mencari langsung di sana tidak mungkin, hanya saja dibanding berisiko maka ada baiknya memesan terlebih dahulu. Anda dapat menelepon langsung untuk bertanya tarif, jenis kamar, dan lama waktu menginapnya. Jangan tergesa-gesa, pilihlah yang terbaik sesuai kebutuhan dan keuangan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Perhatikan bahwa harga kamar hotel dan juga tiket moda transportasi akan melonjak menjelang liburan akhir tahun. Hitung cermat biaya transportasi, menginap, makan, hingga berbelanja cenderamata. Kendalikan juga nafsu berbelanja Anda dengan membuat daftar rincian pembelanjaan dan siapa saja yang akan Anda beri oleh-oleh. Hindari jangan sampai dompet Anda terkuras habis hingga memaksa meminjam uang atau meninggalkan beban tunggakan sepulangnya berwisata.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Perhatikan dana yang akan Anda keluarkan dengan seksama. Hitung baik-baik harga tiket pesawat, penginapan, makan dan plesiran selama di sana. Jangan sampai Anda kehabisan uang dan kebingungan saat berliburan. Sisakan pula uang untuk keperluan tidak terduga.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Apabila Anda tidak memiliki dana banyak untuk liburan maka dapat mensiasatinya dengan memilih akomodasi yang lebih ekonomis berikut ini. <strong><em>Pertama</em></strong>, Anda dapat memilih <em>homestay</em>, yaitu Anda menginap di rumah warga setempat. Jangan salah, kini homestay bervariatif dan dilengkapi fasilitas standar penginapan. Keuntungannya adalah jelas harga yang ditawarkan terjangkau sekaligus dapat lebih mengenal kehidupan masyarakat lokal. <strong><em>Kedua</em></strong>, menginap di <em>dormitory</em>, yaitu menginap di kamar bersama. Anda memang akan menginap bersama orang lain yang benar-benar tidak dikenal tetapi bisa jadi mendapatkan kawan baru. Harga per malam dormitory tidak dihitung per kamar melainkan dari per tempat tidur. Jadi, tentu penginapan ini akan lebih murah dibanding menginap di hotel atau hostel. &nbsp;<strong><em>Ketiga</em></strong>, menginap di <em>rumah saudara atau teman</em> di destinasi tujuan terdekat selama sehari dua hari. Social media bisa menjadi tempat Anda mencari tempat baru atau kawan lama di tujuan. Perhatikan pula apabila ini dilakukan bahwa Anda dapat sebaliknya melakukan hal tersebut suatu saat nanti Anda siap menerima teman yang ingin menginap di rumah Anda. Rumah saudara atau kerabat bisa pula menjadi pilihan. Hal ini selain menjalin hubungan baik juga bisa menghemat uang penginapan dan bahkan uang makan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em></strong><strong><em>Bawa Barang dan Bekal yang Tepat </em></strong></p> <p style="text-align: justify;">Ketimbang Anda dibebani setumpuk pakaian dan barang bawaan yang memberatkan saat pulang maka kini saatnya menggunakan cara lain yang lebih pintar. Langkah awal pastikan kebutuhan dasar barang bawaan masuk daftar dan secukupnya, yaitu: pakaian, alat mandi, alat elektronik, dan obat pribadi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Aturlah barang bawaan agar tidak mengalami kelebihan beban. Atur barang dalam dua tempat, yaitu&nbsp; koper (<em>carrier</em>) dan sebuah ransel yang dapat dibawa ke mana-mana termasuk ke kabin pesawat. Pastikan koper Anda tidak kelebihan berat muatan. Utamakan barang penting dimasukan ke ransel.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Ada beberapa cara mengurangi bawaan barang saat berplesir. Anda dapat berbagi beban barang bawaan dengan rekan atau keluarga. Apabila koper Anda sudah kelebihan beban maka ruang di teman bisa membantu mengurangi beban bawaan tersebut. Begitu pula sebaliknya, Anda dapat membantu teman atau keluarga yang kelebihan muatan koper. Saling membantu akan membuat perjalanan lebih menyenangkan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Solusi lain untuk pakaian adalah mengenakannya secara rangkap. Umpamanya mengenakan baju rangkap berbahan berat seperti kemeja jins melapisi kaos atau celana pendek dengan celana panjang. Hal ini mungkin akan membuat Anda kegerahan tetapi kadang akan membantu juga saat kedinginan. Pilihan lain bisa juga membeli pakaian di tempat tujuan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Perhatikan pula bawaan makanan. Apabila itu memberatkan dan terbuang sayang maka lebih baik berikan atau berbagi dengan orang lain di tujuan atau kepada sesama wisatawan di destinasi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Apabila barang bawaan Anda sudah terlalu banyak dan masih ada separuh perjalanan maka jangan ragu untuk mengirimkannya pulang lewat paket. Ini jelas akan mengurangi beban Anda. Perhatikan barang yang dikirim adalah bukan barang berharga untuk menghindari hilang atau tidak sampai ke rumah. Anda bisa memilih paket termurah untuk menghemat ongkos kirim karena barang tidak harus segera sampai bukan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em></strong><strong><em>Hal yang Perlu Diperhatikan saat Berada di Destinasi</em></strong></p> <p style="text-align: justify;">Sebelumnya, pastikan Anda memiliki tubuh yang sehat dan kondisi fit untuk berplesir baik itu pantai, gunung ataupun sekadar berbelanja. Makanlah teratur dan minumlah air putih yang cukup. Perhatikan pula waktu istirahat dan jangan paksakan badan saat kurang fit.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Saat liburan akhir tahun misalnya dipastikan Anda akan begadang untuk menantikan saat-saat pergantian tahun. Oleh karena itu, apabila Anda tidak terbiasa tidur larut malam maka badan akan mudah terserang sakit. Sebelumnya jaga kondisi fisik dengan makan teratur, dan istirahat yang cukup. Vitamin atau suplement makanan bisa jadi bermanfaat untuk tubuh Anda.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Saat berplesir penting memerhatikan cuaca. Itu untuk mengatur barang bawaan seperti jaket saat musim hujan atau topi dan kaca mata untuk cuaca panas. Penggunaan tabir surya perlu teratur untuk tempat yang sangat panas yaitu setiap 4 jam sekali, terutama bila Anda berada di pantai atau bermain di air. Jangan lupa perbanyaklah minum air putih agar Anda tidak kehabisan cairan dalam tubuh.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Ketika Anda menyambangi sebuah tujuan wisata maka sudah menjadi kewajiban untuk menghormati penduduk asli setempat. Jangan lupa untuk bertegur sapa dengan mereka. Bila perlu pelajari sedikit kata sapaan bahasa daerah atau berbagi makanan dengan mereka. Balaslah senyum mereka dengan sedikit pertanyaan ringan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Ini hal penting juga, yaitu menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan. Wisata dan waktu berlibur Anda bisa saja jadi tidak nyaman apabila ada konflik dengan rekan seperjalanan. Pandailah menjaga hubungan dengan saling menolong dan berpengertian. Apabila Anda memang terlanjur menemukan sisi buruk kawan seperjalanan maka dapat mengurangi berinteraksi dengannya. Apabila memungkinkan utarakan dan selesaikan saat itu juga dengan cara yang baik dan tepat.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Perhatikan pula penggunaan alat elektronik seperti <em>smartphone</em> memang kini menjadi alat yang sangat diandalkan dan wajib dibawa saat berplesir. Akan tetapi, kadang barang itu juga membuat Anda kehilangan kesempatan berinterksi dengan penduduk setempat, terlewat mengamati sekeliling, bahkan membuat waktu liburan menjadi tidak menyenangkan karena komunikasi yang mengganggu dari media social. Bila perlu, kini saatnya istirahatkan <em>smartphone</em> dan mulailah berbincang dengan warga sekitar atau menemukan langsung hal-hal baru selama berlibur. Lebih dari itu semua, pernahkah Anda menemukan teman baru di tempat tujuan, sesama wisatawan atau mereka wajah-wajah bersahaja dari penduduk setempat </p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Bagi Anda yang memang sangat erat dengan <em>smartphone</em> dan perlu tips menghemat baterai maka berikut ini beberapa saran yang dapat diterapkan. <strong><em>Pertama</em></strong><em>,</em> pastikan baterai ponsel Anda terisi penuh menjelang keberangkatan. <strong><em>Kedua</em></strong><em>, </em>salah satu cara menghemat baterai adalah mematikan bunyi yang dihasilkan ponsel menggunakan mode <em>silent</em>. <strong><em>Ketiga</em></strong><em>, </em>gunakan saja peta dan hindari GPS untuk petunjuk arah sudah tersedia di <em>smartphone. <strong>Keempat</strong>, </em>bila memang wilayah tujuan tidak tersedia sinyal maka sebaiknya matikan saja <em>smartphone </em>daripada memaksanya terus mengeluarkan daya untuk mendapatkan sinyal. <strong><em>Kelima, </em></strong>&nbsp;sebuah <em>powerbank</em> (penyimpan daya) adalah pilihan paling logis untuk berperrgian, bahkan kini tersedia dengan panel surya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Anda juga berkewajiban menjaga lingkungan di tujuan wisata. Jangan biasakan seenaknya membuang sampah di mana saja. Simpanlah barang sesaat hingga menemukan tempat sampah. Bawalah tempat air minum yang ringan dan dapat diisi ulang daripada membeli botol atau gelas plastik yang akan merusak pemandangan dan menjadikannya sampah lingkungan. Perhatikan pula untuk tegas tidak membeli cenderamata dari barang-barang atau hewan yang dilindungi. Anda juga sebenarnya bertanggung jawab mengingatkan apabila ada penduduk setempat menjual cenderamata dari alam hayati yang dilindungi sesuai hukum. Kini saatnya kita berwisata secara bertanggung jawab bukan!</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em></strong><strong><em>Atur Jadwal Istirahat Setelah Berplesir</em></strong></p> <p style="text-align: justify;">Ada banyak harapan dan keinginan saat berlibur atau menikmati tahun baru tetapi tidak banyak orang berplesir membuat jadwal untuk hari esok dan seminggu ke depannya. Oleh karena itu, penting mengaturlah jadwal berlibur saat pergantian tahun. Jangan persoalkan apabila usai Tahun Baru Anda beristirahat seharian penuh tetapi lusanya Anda bugar untuk melanjutkan kegiatan atau perjalanan pulang ke rumah.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Perhatikan rencana pulang liburan Anda, jangan sampai tidak mendapatkan tiket pulang dari moda transportasi. Bila perlu pesanlah tiket pergi dan pulang sekaligus untuk menghindari tidak mendapatkannya karena penuh.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sepulangnya berlibur selain pengalaman mungkin Anda dapat menghasilkan uang darinya, Bagiamana </p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em></strong><strong><em>Hasilkan Uang setelah Berplesir</em></strong></p> <p style="text-align: justify;">Kali ini ubah cara berpikir Anda bahwa berwisata melulu harus keluar uang. Sebenarnya berwisata memungkinkan Anda menghasilkan uang. Tidak percaya </p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Editor Indonesia.travel akan memberi Anda tips bagaimana menghasilkan uang dengan berplesir. <strong><em>Pertama</em></strong><em>, </em>jadilah <strong>penulis cerita perjalanan</strong> di berbagai media baik itu majalah, koran, hingga website ternama di internet. Pilihannya jelas, bisa ber-Bahasa Indonesia atau berbahasa asing (Inggris). Biasanya, situs-situs traveling di dalam dan luar negeri akan memberikan hadiah barang (cenderamata) atau uang jika tulisan Anda dianggap layak. <strong><em>Kedua</em></strong><em>, </em>Anda yang berpengalaman dan memiliki jam terbang tinggi berplesir maka dapat menjadi seorang <strong><em>review</em> di situs traveling</strong> tertentu. Beberapa situs traveling membuka peluang bagi pembacanya untuk membuat ulasan selama liburan, berupa review hotel atau pun tempat wisata. <strong><em>Ketiga</em></strong><em>, </em>Anda seorang <strong>photographer</strong> jelas memungkinkan menghasilkan foto berkualitas selama berplesir yang dapat dijual atau disewakan. Akan tetapi, Anda seorang amatir pun sebenarnya dapat melakukan itu. Jeli dan hauslah memburu setiap momen yang menarik saat berlibur dengan kamera kesayangan. <strong><em>Keempat</em></strong><em>, </em>Selain menghasilkan uang saat berplesir sebenarnya ada kemungkinan Anda berlibur secara gratis. Hal umum misalnya dengan mengikuti quis yang berhadiah liburan. <strong><em>Kelima, </em></strong>Anda seorang penulis maka dipastikan dari awal sudah merencanakan untuk memperoleh ide baru selepas berlibur atau bahkan berencana menyusun buku wisata sepulangnya nanti. Kalau pun tidak maka jangan sia-siakan cerita berlibur hanya lewat perbincangan, mengapa tidak memuatnya dalam blog pribadi Anda.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Suroloyo the Land Above the Clouds http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/241/suroloyo-the-land-above-the-clouds <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab93768522b.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab9393d2c92.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Pegunungan Menoreh berada pada 1.091 meter di atas permukaan laut. Lokasi salah satu puncaknya yaitu Suroloyo terletak di Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, sekira 45 km dari Yogyakarta. Wilayahnya berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta.</p> <p style="text-align: justify;">Untuk mencapai Puncak Suroloyo maka ada 2 rute yang bisa dilewati, yaitu dari Yogyakarta-Godean-Kenteng-Naggulan-Dekso-Samigaluh-Suroloyo. Selain itu, bisa juga melewati Yogyakarta -Minggir-Dekso-Boro-Kalibawang-Sidoharjo-Suroloyo. Kedua rute tersebut membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 jam untuk sampai ke Suroloyo.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab90bf9e5b8.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab920b929f0.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Untuk rute pertama, setelah melewati samigaluh, kodisi jalan menjadi sangat buruk, seluruh bagian aspal sudah pecah sehingga berkali-kali saya harus turun dari motor dan mendorongnya karena tanjakannya cukup tinggi dan berkelok, ditambah kondisi aspal yang hancur. Rute kedua adalah rute pulang saya setelah menikmati suroloyo, kondisi jalan lumayan bagus, aspalnya tidak banyak yang rusak namun masih dengan tanjakan dan turunan ekstim.</p> <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab907bbd0fd.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /><br /> Perjalanan saya ke Puncak Suroloyo bersama 4 teman menggunakan sepeda motor. Sesampainya di Suroloyo kami memarkir motor kami, biaya parkir pada saat itu Rp.4000,- per motor. untuk mencapai puncak tertinggi kami harus menaiki anak tangga yang berjumlah 286 buah dengan sudut kemiringan 30-60 derajat.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab9263d6c06.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab92a701233.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab92d1699b7.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab9302ba566.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Awal menaiki anak tangga, kanan dan kirinya terdapat kebun teh masyarakat sekitar. Puncak Suroloyo terdapat 3 buah gardu pandang untuk beristirahat sejenak sambil menikmati keindahan alam dari atas bukit. Masing-masing gardu pandang memiliki nama, yaitu Suroloyo, Sariloyo, dan Kaendran. Kami beristirahat di gardu pandang pertama, sambil menikmati bekal kami menikmati keindahan alam. Saat itu kondisi alam masih berkabut tebal sehingga hanya warna putih yang dapat kami lihat namun semakin lama kabut mulai terangkat dengan perlahan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab932d4f609.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Setelah cukup beristirahat, perjalan kami lanjutkan menuju gardu pandang terakhir, yang letaknya paling atas. Anda akan melihat bendera merah putih yang berkibar dengan sangat gagah dan terdapat patung lengkap dengan sesajennya. Akhirnya 286 anak tangga sudah kami lalui, kami pun istirahat sambil menikmati keindahan alam dari salah satu puncak tertinggi dipegunungan menoreh.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab906536b50.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab910c8804a.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab91a70bb11.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Suroloyo the Land Above the Clouds" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab93a5d11a6.jpg" alt="Suroloyo the Land Above the Clouds" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Kabut semakin terangkat memperlihatkan kehidupan dibawah, terlihat bukit-bukit kecil, persawahan dan pemukiman penduduk, selain itu kami bisa melihat jelas candi borobudur. Dari Puncak Suroloyo sebenarnya juga bisa menikmati keindahan 4 gunung, yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sundoro, dan Gunung Sumbing. Sayangnya saat kedatangan kami kabut menutup jarak pandang. Hijaunya bukit-bukit, birunya langit, dan putihnya awan benar-benar menjadi kombinasi yang sempurnya untuk dinikmati. Rasa lelah menaiki 286 anak tangga hilang dalam sekejap, berganti dengan kekaguman akan keindahan alam.</p> Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/242/sanggar-luru-ilmu-pesona-wisata-edukatif-sanggar-pencari-ilmu <p style="text-align: justify;">Sanggaruli Park atau Taman Sanggaruli merupakan salah satu tujuan wisata yang ada di Kabupaten Purbalingga, tepatnya berlokasi di daerah sejuk bernama Kecamatan Kutasari. Kata Sanggaruli sendiri berasal dari singkatan Sanggar Luru Ilmu atau Sanggar Mencari Ilmu. Dalam bahasa jawa,<em> luru</em> artinya mencari. Seperti namanya, objek wisata ini selain berfungsi sebagai tempat rekreasi menghilangkan penat, tetapi juga dapat dijadikan sarana edukasi bagi keluarga maupun sekolah.</p> <p style="text-align: justify;">Di Sanggaruli terdapat berbagai macam tempat yang patut dikunjungi, diantaranya adalah: museum reptil, museum serangga, museum uang, rumah prestasi, sanggar IPTEK, museum wayang dan artefak, taman burung, taman bermain, wahana anak-anak dan sebagainya.</p> <p style="text-align: justify;">Beberapa waktu yang lalu kami berkesampatan singgah di Purbalingga. Selain saya, rombongan yang memiliki tujuan awal menghadiri undangan walimahan adalah teman-teman satu kampus. Kesempatan berada di Purbalingga tidak kami sia-siakan untuk menelusuri tiap sudut kota. Tidak terkecuali Sanggaruli Park yang kabarnya adalah objek wisata dibawah naungan manajemen Perusahaan Daerah Owabong.</p> <p style="text-align: justify;">Untuk memasuki komplek wisata setiap orang akan dikenai tiket sepuluh ribu rupiah. Jumlah ini saya rasa akan sebanding untuk pengalaman yang akan temui di sana. Jalur wisata dari satu lokasi ke lokasi lain di Sanggaruli sudah tertata apik. Jadi, setiap pengunjung akan merasakan pengalaman yang mengesankan di setiap lokasinya. Berikut sedikit ulasan sekaligus dokumentasi yang berhasil kami abadikan ketika mengunjungi tempat-tempat yang terdapat di Sanggaluri Park.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Museum Reptil</strong></p> <p style="text-align: justify;">Agak ngeri juga saat memasuki wahana pertama ini. Makhluk-makhluk melata menatap kami dari balik kandangnya. Iya, mereka adalah ular, kadal, biawak dan semacamnya. Setelah memberanikan diri dan mempercepat langkah, akhirnya lama-lama saya malah terkesima.</p> <p style="text-align: justify;">Ada banyak sekali jenis ular yang belum saya lihat sebelumnya, misalnya saja ular putih berbelang kuning <em>California Ring Snake Albino</em>. Karena di setiap kandang mereka tertulis sejumlah informasi maka saya pun tahu bahwa <em>Python Albino</em> dapat memiliki panjang hingga tujuh meter. Sedangkan sanca bodo yang tidak kalah besar ternyata tidak memiliki bisa. Akan teapi, tetap saja berbahaya karena makanan mereka selain unggas adalah mamalia. GLEK!</p> <p><a href="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121112112320363.png" target="_parent"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu " src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121112112320363.png w=423&amp;h=423" alt="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu " width="550" height="550" /></a></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Museum Serangga</strong></p> <p style="text-align: justify;">Setelah merinding berkali-kali dikelilingi ular dalam kandangnya, pada ruangan yang sama terdapat pemandangan sangat indah. Ribuan serangga yang telah diawetkan tersusun cantik seindah bentuk dan warna mereka. Maha Besar Allah yang menciptakan mereka.</p> <p style="text-align: justify;">Pengetahuan seputar kupu-kupu, kumbang dan serangga lainnya juga disajikan melalui papan-papan informasi yang telah disediakan. Saya baru tahu ternyata di penjuru Indonesia memiliki jenis kupu-kupu yang berbeda. Selain kaya dengan suku bangsa manusia, Indonesia juga kaya akan suku bangsa kupu-kupu. Hehehe.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu " src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121120220542191.png w=423&amp;h=423" alt="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu" width="550" height="550" /></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Sanggar Iptek</strong></p> <p style="text-align: justify;">Ini dia wahana yang paling saya senangi. Terletak di gedung yang berbeda dari dua museum sebelumnya, akan sangat disayangkan jika melewati lokasi Sanggar IPTEK ini. Wahana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang satu ini memang tak semegah PUSPA IPTEK di Bandung atau setenar TAMAN PINTAR di Yogyakarta. Tapi belajar dan mengingat kembali konsep dasar sebuah teknologi bisa dimana saja bukan Di lokasi ini saya dan satu teman yang juga dari jurusan Fisika tidak hanya mencoba peralatan yang ada. Tapi justru malah sibuk menjawab pertanyaan dari teman-teman yang lain. Kenapa bisa begini Kenapa bisa begitu. Di lokasi ini kami seolah mengambil peran sebagai <em>guide</em>, meski kadang masih menerka-nerka konsep Fisika apa yang digunakan pada suatu alat.</p> <p><a href="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121112114819956.png" target="_parent"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu" src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121112114819956.png w=423&amp;h=423" alt="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu" width="550" height="550" /></a></p> <p><a href="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121112114458544.png" target="_parent"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu " src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121112114458544.png w=423&amp;h=423" alt="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu" width="550" height="550" /></a></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Museum Uang</strong></p> <p style="text-align: justify;">Jangan dikira lokasi ini setiap pengunjung bisa mengambil uang seenaknya. Jangankan mengambil uang, memegangnya saja kita tidak akan bisa. Seluruh uang yang ada, dimasukan di dalam kaca-kaca bening. Sehingga pengunjung dapat mengamatinya dari luar dan bisa menggunakan lup (kaca pembesar) untuk membantu melihat lebih detail. Tidak hanya jumlah uangnya yang banyak, hal yang membuat saya terkesima adalah kelengkapan koleksi museum ini. Bayangkan, di sini ada uang yang sekarangi kita gunakan sampai uang jaman dahulu. Coba tebak sampai jaman kapan Bukan saja jaman penjajahan, tapi jaman kerajaan. Iya Sob.</p> <p style="text-align: justify;">Di sini juga ada uang logam yang digunakan pada jaman Kerajaan Majapahit. Bentuk dan ukurannya jangan ditanya, karena jelas berbeda dengan yang kita gunakan sekarang. Sebagian dari uang tersebut terbuat dari logam seperti tembaga dan perunggu. Makin kagum saya dengan Indonesia. Ternyata bangsa kita kaya dan luar biasa kan!</p> <p><a href="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121112112904186.png" target="_parent"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu" src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121112112904186.png w=423&amp;h=423" alt="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu" width="550" height="550" /></a></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Terapi Ikan</strong></p> <p style="text-align: justify;">Pusing dengan tugas kuliah, skripsi, uang kos, cicilan motor atau hutang lainnya, coba saja lokasi di Sanggaruli yang satu ini. &ldquo;Terapi Ikan Penghilang Stress&rdquo; itulah kalimat yang tercantum di papan namanya. Memang benar, terapi di tempat yang satu ini berbeda dengan terapi ikan di tempat lainnya. Entah ukuran ikannya atau kebuasannya memakan kotoran di kulit kaki, rasa ketika ikan menyentuh kaki kita membuat sensasi luar biasa geli.</p> <p style="text-align: justify;">Saya dan teman-teman iseng membuat permainan. Kami mencelupkan kaki bersamaan. Lalu siapa yang mengangkat kaki karena tidak tahan maka dia yang kalah. Alhasil, kami jadi melampiaskan rasa geli yang cukup menyiksa dengan tertawa-tawa terbahak dan menjadi tontonan pengunjung lainnya. Huakakaka&hellip;</p> <p style="text-align: justify;"><strong><br /></strong></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Bermain Enggrang</strong></p> <p style="text-align: justify;">Kami melanjutkan lagi perjalanan di Sanggaruli, lalu berhenti lagi di satu lokasi. Tidak jauh dari Terapi Ikan ada satu lahan dengan banyak pohon bernama TAMAN BERMAIN. Di sini tersedia banyak permainan tradisional mulai dari bakiak, enggrang batok kelapa, enggrang bambu dan sebagainya. Lantas yang menarik perhatian kami adalah enggrang tinggi dari bambu. Hoops!!! Kemampuan keseimbangan benar-benar diuji di permainan ini.</p> <p style="text-align: justify;">Beberapa teman kami malah tak mau berhenti bermain karena bernostalgia dengan masa kecilnya. Agak sedih juga jika lihat adik-adik kita sekarang. Mereka tidak punya pengalaman dan kenangan seperti kami. Meski canggih dengan gadget-nya tapi tetap saja banyak hal yang mereka tidak dapatkan ketika bermain dengan alat-alat tradisional seperti ini.</p> <p><a href="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121120220306563.png" target="_parent"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu" src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121120220306563.png w=423&amp;h=423" alt="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu" width="550" height="550" /></a></p> <p><strong>Museum Wayang</strong></p> <p style="text-align: justify;">Lokasi terakhir yang kami masuki adalah Museum Wayang dan Artefak. Di tempat ini beragam jenis wayang beserta tokoh-tokohnya terpajang. Selain itu, ada juga satu set gamelan juga tertata rapi di tengah ruangan lengkap dengan layar untuk pertunjukan wayang. Gamelannya memang hanya dipajang, namun bunyinya bisa kita dengar dari alunan sound system yang terpasang di penjuru ruangan. Ahh&hellip; Jadi membuat suasana semakin syahdu saja. Indonesia<em> banget pokoknya!</em></p> <p style="text-align: justify;">Sayangnya kami hanya sebentar mengunjungi lokasi ini karena sudah lelah setelah berkeliling dari wahana satu ke wahana lainnya. Bahkan sampai lupa mendokumentasikan barang-barang di dalam ruangan.</p> <p style="text-align: justify;"><a href="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121120220717792.png" target="_parent"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu" src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/11/20121120220717792.png w=423&amp;h=423" alt="Sanggar Luru Ilmu, Pesona Wisata Edukatif Sanggar Pencari Ilmu" width="550" height="550" /></a>Pertama kali mengunjungi Purbalingga sejejurnya saya cukup ragu dengan keseruan objek wisatanya. Akan tetapi, kota di dataran tinggi Jawah Tengah ini ternyata mampu mematahkannya. Sanggaruli adalah wisata yang edukatif dan patut di rekomendasikan bagi Sahabat yang sedang atau akan berada di Jawa Tengah. Banyak hal yang bisa kita gunakan sebagai bahan belajar sembari berekreasi. Pantas saja, di saat-saat berkeliling kami menjumpai warga negara asing yang sedang berwisata juga.</p> <p style="text-align: justify;">Semoga tiap kota di Indonesia mampu mengelola potensi yang dimilikinya untuk dijadikan tujuan wisata seperti Sanggaruli ini. Dengan keindahan alamnya, sejuta gudang pengetahuannya dikelola apik dengan menjaga kebersihannya sehingga setiap kita akan bangga mengunjungi setiap sudut pertiwi ini dan terkesan olehnya. Bukannya malah berbangga diri jika telah menginjakan kaki di luar negeri, lalu membuat objek wisata dalam negeri menjadi sepi. Mari jadikan pariwisata Indonesia lebih bergengsi!</p> Raja Ampat, I'm in Love http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/243/raja-ampat-i-m-in-love <p style="text-align: justify;">Setelah persiapan 1,5 bulan sebelumnya, akhirnya tibalah saatnya untuk memulai petualangan ke <em>dive spot</em> terbaik di dunia: Raja Ampat!</p> <p style="text-align: justify;">Berangkat pukul 4 sore menggunakan travel Cipaganti dari Bandung ke Bandara Soekarno Hatta. Pukul 7 malam kami tiba lalu menunggu pesawat <em>take off</em> pukul 00.30 pagi. Setelah makan dan shalat, kami luntang-lantung cukup lama di Terminal IB. Daripada bengong, saya belajar manual divecom Suunto Zoop menunggu waktu <em>boarding</em> yang rasanya lama.</p> <p style="text-align: justify;">Untuk mencapai Sorong, kami menumpang pesawat Sriwijaya Air rute Makassar dan kemudian lanjut ke Sorong. Total perjalanan 5 jam termasuk transit. Tidak disangka, pesawat menuju Sorong penuh dengan penumpang tujuan ke Manokwari dan kota lainnya di Papua. Sorong merupakan perhentian pertama pesawat ke daerah Papua.</p> <p style="text-align: justify;">Sesampainya di Sorong pukul 7 pagi. Bandara Sorong, Domine Eduard Osok, ukurannya kecil saja. Di ruang kedatangan para porter mengumpulkan kertas bukti bagasi penumpang. Bagasi diturunkan dari pesawat menggunakan gerobak dorong, lalu masuk ke ruang kedatangan melalui lobang dan diambil oleh porter. Porter lalu memanggil nomor bagasi tersebut agar pemiliknya datang mengambil. Saya sih nggak hapal nomor bagasinya. Cukup dengan melihat tas aja, lalu kita ambil bagasi langsung ke porter.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, I'm in Love" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50922c0c666fb.JPG" alt="Raja Ampat, I'm in Love" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Saya mencoba melihat dari jendela ke luar, untuk melihat penjemput dari Papua Diving. Akan tetapi, sayang tidak ada tulisan nama kita ataupun Papua Diving di rombongan penjemput. Saya dan hubby menunggu di dalam ruang kedatangan sambil menghubungi pihak resor via telpon. Tiba-tiba seorang sopir menyampiri kita ke dalam, "Bapak Ibu tamu Papua Diving Saya tunggu dari tadi di luar. Tapi saya bingung yang mana tamunya karena ternyata bapak dan ibu orang Indonesia. Saya pikir tamunya bule&rdquo;. "Lho, emangnya nggak pernah tamu orang lokal ya Pak ", seru saya. "Ada tapi jarang sekali, mari Bu kita ke mobil saja ujarnya." Hmm.. heran juga dengar jawaban si pak sopir. Mungkin Papua terasa sangat jauh oleh turis lokal, padahal turis asing datang lebih jauh dari negaranya ke sini.</p> <p style="text-align: justify;">Dari bandara mampir ke hotel JE Meridien yang lokasinya berseberangan dengan bandara. Maksud hati sebenernya mau <em>booking</em> kamar untuk minggu depan sebelum terbang balik ke Jakarta. Akan tetapi, karena sudah waktunya sarapan sekalian kita mengisi perut di restoran hotel ini. Yah, lumayan ada beragam jenis nasi goreng dan minuman ringan. Cukup untuk mengganjal perut dan mengusir bosan menunggu boat kita yang jadwalnya jam 11 siang. Kalau harga maklum saja jauh lebih mahal. Namanya juga Papua, di hotel pula.</p> <p style="text-align: justify;">Lokasi dermaga hanya berjarak 10 menit pake mobil dari bandara. Lebih mirip dermaga kapal nelayan. Saya dan hubby menumpang boat yang biasa digunakan untuk diving. Kebetulan boat ini digunakan untuk berbelanja kebutuhan dapur ke Sorong.</p> <p style="text-align: justify;">Papua Diving memiliki 2 dive resor di Pulau Kri atau dikenal Pulau Mansuar Kecil. Jaraknya sekira 70 km dari Kota Sorong, atau 2,5 jam menyeberang dengan boat. Sewaktu menyeberang ke pulau Kri, kita sudah mulai terpana dengan pesona Raja Ampat. Ada anak ikan paus yang sedang bermain dipermukaan air. Wow, berasa lagi nonton Discovery Channel. Tapi ini live!</p> <p style="text-align: justify;">Kejutan lainnya begitu tiba di Raja Ampat adalah ternyata kita berdua <em>diupgrade</em> ke Sorido Bay. Ini resort mewah kepunyaan Papua Diving. Kri Eco yang kita pesan sedang direnovasi. Karena tamunya lagi tidak banyak maka semuanya dipindahkan ke Sorido Bay dan upgradenya gratis!</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, I'm in Love" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50922c6c9e019.JPG" alt="Raja Ampat, I'm in Love" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Hebatnya lagi, saya dan <em>hubby</em> dapat cottage yang paling besar. Cottage Kaimana yang luasnya 90 m. Terdiri dari 3 ruang utama yang ber-AC, yaitu ruang tamu, ruang tidur, dan kamar mandi. Belum lagi teras dimana bisa leyeh2 di bangku santai menikmati view laut dan dermaga. Kita terbengong-bengong melihat luasnya cottage ini. Kalau bayar dengan duit kita sendiri sih tidak akan sanggup deh. Harganya nggak hanya mahal, tapi mahhhaaaalllll banget. Nyaris 2x lipat dari harga di Kri Eco We're very lucky!!</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, I'm in Love" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50922c61172e9.JPG" alt="Raja Ampat, I'm in Love" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Oya, begitu nyampe di Sorido Bay kita disambut oleh staff disana dan langsung diajak ke restoran untuk makan siang. Pas banget perut udah lapar lagi. Habis makan, guest relation mulai menyiapkan dokumen untuk diving. Termasuk disini mengecek <em>dive lisence </em>dan<em> interview </em>pengalaman diving, serta membayar bea masuk taman laut nasional raja ampat sejumlah Rp 250.000 (diver asing 500 ribu).</p> <p style="text-align: justify;">Sorenya kita berdua melakukan <em>check dive</em>, untuk menyegarkan kembali pengalaman diving. Di sini saya kembali mengingat gimana cara memasang peralatan dan menentukan jumlah pemberat yang sesuai. Bagi <em>dive guidenya</em>, <em>check dive</em> ini juga penting untuk mengetahui kemampuan diver. Sehingga bisa diatur kondisi diving yg masih bisa diterima oleh diver. Kebanyakan divesite di Raja Ampat memiliki arus yang cukup kuat. Jadi diperlukan diver yang cukup berpengalaman agar nanti diving berjalan lancar.</p> <p style="text-align: justify;">Di saat makan malam semua tamu berkumpul di restoran. Kita makan bersama di meja panjang sambil mengobrol. Asik juga bersosialisasi dengan tamu dari berbagai negara. Dari Indonesia cuma saya dan hubby. Sisanya dari Amerika, Shanghai, Belanda, dan Swedia. Beberapa di antara mereka merupakan <em>diver</em> (atau <em>instruktur diver</em>) yang berpengalaman diving di seluruh dunia.</p> <p style="text-align: justify;">Makanan yang disediakan adalah selera Nusantara. Mulai dari rendang, gulai, tumis, goreng, bakar dengan bumbu indonesia yang sudah disesuaikan agar tidak terlalu pedas untuk turis asing. Harga paket diving sudah termasuk makan selama menginap. Jadi silahkan makan sepuasnya.</p> <p style="text-align: justify;">Esok harinya, waktunya saya <em>diving</em>. Tibalah saatnya membuktikan kecantikan bawah laut Raja Ampat. Waktu check dive sebenarnya sudah terkaget-kaget. Di sekitaran dermaga aja kita udah disambut oleh rombongan batfish dan schooling fusilier. Dermaga aja udah ramai ikan begini. Gimana nanti waktu nyelem beneran di <em>dive site</em>-nya.</p> <p style="text-align: justify;">Paket menginap yang kita ambil di Papua Diving sudah termasuk diving 3 x boat dives sehari selama seminggu. Dan ternyata waktu seminggu ini hanya cukup untuk menjelajahi sebagian kecil saja dari daerah Raja Ampat.</p> <p style="text-align: justify;">Secara garis besar kondisi <em>dive site</em> di Raja Ampat beragam kekuatan arusnya. Ada yang nyaris tanpa arus seperti di Manta Point (rumahnya pari manta), sampai yang berarus kuat dan gampang berubah-ubah (di Sardine Reef, Blue Magic, dan lainnya). Ada yang sampai harus ditarik oleh <em>diveguide</em>. Bahkan saat hubby sesak napas dan harus balik ke permukaan karena kecapean membatu saya mencapai dasar. Harus stamina bagus dan tenaga kuat agar tak terseret arus. Kita sendiri yang mengukur kemampuan diri. Kalau merasa sudah tidak sanggup, harus bisa mengatur untuk balik ke atas sendiri. Pada saat kita menyelam di sana sedang banyak plankton. Bagus untuk ikan karena merupakan makanannya tetapi tidak bagus untuk <em>visibility</em> dan hasil foto bawah air.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, I'm in Love" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50922c7c4f7f0.JPG" alt="Raja Ampat, I'm in Love" width="550" height="428" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, I'm in Love" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50922c4843608.JPG" alt="Raja Ampat, I'm in Love" width="550" height="344" /></p> <p style="text-align: justify;">Di dive pertama saya dan hubby sudah merasakan pesona bawah laut Raja Ampat, karena langsung ketemu dengan ikan-ikan besar seperti pari manta, hiu, dan rombongan bumphead parrotfish. Schooling fish jenis barracuda dan fusilier tak terhitung banyaknya. Dan hebatnya pemandangan banyak ikan begini tak jauh dari dermaga kampung Yenbuba di pulau Kri.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, I'm in Love" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50922c8a3dab3.jpg" alt="Raja Ampat, I'm in Love" width="550" height="363" /></p> <p style="text-align: justify;">Sehari sebelum <em>check out</em> saya dan <em>hubby</em> sudah libur diving bersamaan dengan liburnya karyawan resor di hari Sabtu. Sebelum boleh terbang untuk balik ke Bandung, kita memang diharuskan punya <em>surface time</em> minimal 24 jam supaya tidak bermasalah dengan perubahan tekanan udara. Sebenarnya pagi masih bisa <em>diving</em> di sekitaran dermaga seperti <em>diver</em> lainnya (tidak ada boat karena karyawan libur). Akan tetapi, berhubung saya sudah merasa tidak fit dan datang bulan, kita berdua menghabiskan waktu dengan cara lain, yaitu KAYAKING.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, I'm in Love" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50922c9b7fddf.JPG" alt="Raja Ampat, I'm in Love" width="550" height="304" /></p> <p style="text-align: justify;">Resor menyediakan 4 perahu kayak yang bebas dipakai kapanpun. Mumpung laut lagi tenang, saya dan hubby nekad aja berperahu kayak walaupun nggak tau cara pakainya. Hihi. Awal naik ke perahu rasanya oleng seperti mau terbalik tapi begitu perahu meluncur rasanya asik banget. Kita pun mendayung perahu kayak dengan santai menuju pulau pasir yang tidak jauh dari resor. Jaraknya sekita 2-3 km.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Raja Ampat, I'm in Love" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50922c239c00d.JPG" alt="Raja Ampat, I'm in Love" width="550" height="519" /></p> <p style="text-align: justify;">Sampai di pulau pasir yang mungil ini kita puasin foto-foto dan menikmati pemandangan. Air lautnya jerniiihh banget. Dasar pasirnya terlihat jelas. Pengen nongkrong di sini lebih lama tapi sayang awan hujan sudah mendekat. O&rsquo;ya, selama menginap di Raja Ampat kita sering mengalami hujan yang hanya selewat saja. Awan pembawa hujan terlihat jelas pergerakannya. Mulanya kelihatan jauh, eh tau tau udah di pulau sebelah, dan mampir menyirami pulau Kri selama 15 menit. Lalu cuaca kembali terang-benderang. Setelah mendayung sekitar 20 menit kita sampai di resor tepat waktu hujan mulai turun.</p> <p style="text-align: justify;">Malam di resor artinya saat untuk makan malam bersama semua tamu. Kita makan di maja panjang sambil ngobrol ngalor ngidul. Seminggu di Raja Ampat bisa jadi ajang untuk praktek bahasa inggris karena semua tamu kecuali saya dan hubby adalah orang asing semua. Selain tamu, pemilik resor juga kadang-kadang bergabung dan ikutan ngobrol. Orangnya ramah sekali. Hari pertama kita nyampe di sana sudah <em>disamperin</em> dan ngajak ngobrol dengan Bahasa Indonesia yang fasih.</p> <p style="text-align: justify;">Hebatnya <em>owner</em> papua diving ini yaitu Max Ammer sangat konsern dengan konservasi alam dan aktif membantu peneliti dalam dan luar negeri yang melakukan penelitian di wilayah Raja Ampat. Bahkan dia membangun pusat penelitian dan konservasi yang bernama Raja Ampat Research and Conservation Center (RARCC) yang sudah bekerja sama dengan WWF, LSM, dan banyak peneliti lokal dan internasional.</p> <p style="text-align: justify;">Lucunya, begitu saya bilang kalo saya ini adalah <em>chemist</em>, dia langsung berbinar-binar dan semangat menceritakan pengalaman dia dalam membantu penelitian banyak <em>scientist</em> di wilayahnya. Bahkan bule Belanda ini dengan senang hati menerbangkan pesawatnya untuk membantu survey dan menyiapkan keperluan logistik penelitian. Hasil penelitiannya nggak main-main. Saya dapat bocoran kalau ada hasilnya yang mau dipublish di majalah National Geographic. Woww.. pengen deh suatu saat nanti survey dan research di Raja Ampat.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/244/dieng-pesona-alam-pegunungan-berpadu-dengan-wisata-sejarah <p style="text-align: justify;">Salah satu keistimewaan Indonesia adalah memilki keragaman lanskap alam mulai dari pantai, bukit, gunung, sawah hingga pesisir pantai yang indah atau juga dataran tinggi sebuah tempat. Nah, hal ada hal yang menarik dari salah satu dataran tinggi di Indonesia, yaitu Dataran Dieng memiliki pemandangannya yang berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah " src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50a8f8adae7a2.JPG" alt="Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah " width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Dieng berlokasi di atas pegunungan sekira 150 km barat laut Yogyakarta. Dataran Dieng memiliki pemandangan memesona. Bukit-bukit berjajar diisi dengan lahan ditanami sayuran di sepanjang perjalanan. Kolam alami dengan lumpur bergolak serta danau dengan pantulan warna-warni pun menjadi daya tarik tempat ini.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah " src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50a8f797dff58.JPG" alt="Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Tujuan wisata utama di Dataran Dieng ini adalah beberapa candi peninggalan zaman Hindu dan daerah geotermal di sekitar Kawah Sikidang. Tempat wisata tersebut bisa dikunjungi dengan berkeliling berjalan kaki atau jika membawa kendaraan sendiri dapat diparkir di depan masing-masing lokasi objek. Destinasi pertamanya biasanya adalah kompleks Candi Arjuna, sekumpulan candi yang dibangun abad ke- 18 adalah tergolong candi-candi tertua di Pulau Jawa. Candi-candi ini dikelilingi bukit-bukit curam yang diselimuti kabut dan lahan-lahan pertanian di sekitarnya. Inilah pemandangan yang menakjubkan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah " src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50a8f87d09a07.JPG" alt="Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Dari kompleks Arjuna, pengunjung bisa berjalan kaki menyeberangi sawah menuju ke Candi Gatotkaca. Kali ini pemandanganan yang disajikan adalah pemandangan kota Dieng jauh di seberang lahan-lahan pertanian tersebut. Destinasi berikutnya adalah Candi Bima, sekitar 800 meter dari Candi Gatotkaca. Candi Bima adalah candi yang paling besar di area tersebut.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah " src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50a8f7e7bc0bf.JPG" alt="Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Berbelok dari Candi Bima, sekitar 800 meter dari sana ada Kawah Sikidang yang banyak dikunjungi orang untuk melihat kolam lumpur panas yang bergelegak serta merasakan uap-uap panas yang menembus dari dalam ke permukaan tanah. Aliran sungai kecil di wilayah tersebut juga ikut membawa air dengan suhu yang hangat bahkan ada juga yang cukup panas. Beberapa lubang yang berisi air hangat kadang dikerubungi oleh pengunjung untuk mencoba mencelupkan kaki atau tangan. Hati-hati jangan asal celup, kadang ada yang suhunya sangat tinggi. Jangan terlalu dekat juga dengan semburan gas yang keluar dari lubang-lubang kecil di dalam tanah.</p> <p style="text-align: justify;">Selesai bermain-main dengan uap dan air panas serta menikmati pemandangan kolam lumpur bergolak yang sebetulnya agak seram akibat suhunya yang sangat tinggi. Jangan lupa mampir di warung-warung di depan kompleks untuk mencicipi gorengan seperti tahu, tempe dan kentang goreng. Menurut cerita beredar, kentang di Dieng memang berbeda, lebih enak rasanya dan teksturnya lembut namun renyah setelah digoreng. Katanya sih karena temperaturnya yang sejuk maka hasil kentang yang ditanamnya juga berbeda dibandingkan kentang yang ditanam di daerah lain. Kalau bawa kendaraan sendiri, boleh beli kentang mentahnya supaya bisa diolah sendiri di rumah, atau kalau mau praktis bisa juga beli keripik kentang yang sudah dikemas di plastik transparan.</p> <p style="text-align: justify;">Tujuan berikutnya adalah Telaga Warna, danau yang dikelilingi hutan dengan latar belakang gunung yang berkabut. Danau tersebut sebenarnya berwarna hijau kebiruan, namun kadang pantulan sinar matahari di saat-saat tertentu membuat permukaan danau berwarna-warni.</p> <p style="text-align: justify;">Suhu udara di Dieng memang cukup dingin, kadang di bulan Juni-Agustus suhu di malam hari bisa mencapai di bawah 0 derajat Celcius. Di siang hari disarankan memakai jaket tipis dan celana panjang karena kadang angin yang berhembus bisa membuat sedikit menggigil. Di malam hari, jika menginap di homestay atau <em>guest house</em> di sana, pastikan ada selimut yang cukup tebal. Saking dinginnya, jika menghembuskan udara dari mulut akan terlihat uapnya di udara malam!</p> <p style="text-align: justify;">Jika tidak berniat untuk menginap di Dieng, kunjungan sangat mungkin dilakukan dengan <em>daytrip</em> dari Yogyakarta. Selain <em>booking</em> tur dari agen, perjalanan ke Dieng bisa dilakukan secara <em>independen</em> dengan menyewa motor. Walaupun perjalanan memakan waktu cukup lama, sekitar 4-5 jam namun di sepanjang perjalanan akan disajikan pemandangan pegunungan yang asri. Jika berniat menginap di Dieng, akomodasi berupa homestay bisa didapat dengan harga Rp150.000,- (kamar mandi dalam).</p> <p style="text-align: justify;">Mau mencoba kendaraan umum dari Yogyakarta ke Dieng Coba cari bus yang menuju Magelang, kemudian Wonosobo dan dari sana menuju Dieng. Kalau beruntung, Anda bisa dapat bus yang langsung dari Yogyakarta menuju Wonosobo. Agak ribet memang, jangan sampai menjadi alasan untuk tidak mengunjungi Dieng. Dataran Dieng cocok sekali sebagai tempat untuk melepas rasa penat kehidupan kota, jauh dari kemacetan, hiruk pikuk dan polusi udara. Di Dieng ini udaranya segar sekali, bagus untuk kesehatan. Ayo ke Dieng!</p> Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/245/curug-watu-jonggol-komposisi-alami-yang-sempurna <p style="text-align: justify;">Berada di Desa Wisata Nglinggo, Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta, Curug Watu Jonggol adalah pesona alam yang masih sangat alami dan berair jernih. Curug watu Jonggol terletak di gugusan pegunungan menoreh, akses untuk mencapai lokasi lumayan mudah, jalanan yang berkelok dan tanjakan yang cukup ekstrim dengan tebing dan jurang disetiap sisinya benar-benar memacu adrenalin kami.</p> <p style="text-align: justify;">Perjalanan saya mulai dari Yogyakarta dengan jarak tempuh sekira 42 km dengan rute Yogyakarta-Godean-Nanggulan-Pasar Dekso-Samigaluh-Pasar Plono, kemudian berbelok ke Desa Wisata Nglinggo, lalu menuju Grojogan Watu Jonggol. Sesampainya di Desa Pagerharjo biasanya kendaraan ditiitipkan dirumah penduduk, kami menitipkan sepeda motor di rumah salah satu penduduk. Kami pun berkenalan dengan tuan tumah tersebut dan dipersilahkan untuk mampir dulu, sekalian berbagi cerita tentang daerah Samigaluh dan keindahan alam dan keramahan penduduknya. Kami disuguhi teh hangat dengan gula aren, cara meminumnya pun sangat unik, berbeda ketika kita minum teh pada umunya, disini caranya adalah dengan meminum teh tawar dulu lalu mengunyah gula arennya agar menjadi teh manis. Proses penyampuran teh dan gula buan diaduk digelas, melainkan di dalam mulut kita.</p> <p style="text-align: justify;">Setelah menikmati suguhan dari penduduk setempat, kami pun menuju curug Watu Jonggol, letaknya tidak jauh. Setelah jalan diaspal sebentar, kami menyusuri jalan setapak dengan pemandangan indah, lebatnya semak dan pepohonan mengiringi langkah kami menuju watu jonggol. Pada awalnya jalan sudah disemen namun semakin ke bawah semakin alami sehingga langkah kaki harus benar-benar diperhatikan karena jarak antar anak tangga cukup tinggi dan benar-benar menguras tenaga.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50a12d9794973.jpg" alt="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" width="550" height="252" /></p> <p style="text-align: justify;">Sebelum mencapai Curug Watu Jonggol kita bisa menikmati keindahan Curug dari atas dengan pemandangan indahnya. Setelah itu akan terlihat jembatan yang terbuat dari bambu dan gubug yang menjadi ciri khlas Curug Watu Jenggol. Jembatan yang terlihat rapuh namun cukup kokoh ini terlihat miring sehingga kami harus selalu memperhatikan langkah kami.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50a133932acb3.jpg" alt="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" width="550" height="366" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50a12dff9e448.JPG" alt="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: justify;">Dinginnya cuaca di Nglinggo membuat kami beristirahat sejenak di gubug kecil disamping curug, suara gemercik air yang jatuh membuat kami ingin menikmati segarnya air dari curug watu jonggol. Karena sesaat sebelum kami sampai dilokasi, desa ini baru saja diguyur hujan sehingga air dari curugnya pun berwarna kecoklatan, namun tidak membuat keindahan Curug ini berkurang.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50a12d4e7385c.JPG" alt="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" width="550" height="826" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50a12e62b94ff.jpg" alt="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" width="550" height="273" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50a135bbdbbf4.jpg" alt="Curug Watu Jonggol, Komposisi Alami yang Sempurna" width="550" height="252" /></p> <p style="text-align: justify;">Seperti kebanyakan wisatawan, kami pun tergoda segarnya air dari curug ini. Keindahan curug ini masih belum diketahui kebanyakan orang karena belum ada yang mengeskpose-nya karena akses jalan yang cukup jauh dari pusat kota dan medan yang dilalui cukup sulit dan menguras tenaga. Akan tetapi, inilah kelebihannya yaitu alam yang masih asri dan tidak ada sampah di sekitar area. Benar-benar masih alami. Volume air di curug ini tergantung curah hujan dan musim, jadi datanglah ketika musim hujan karena keindahan air terjun akan terpancar sempurna mulai dari hijaunya semak dan pepohonan bukit menoreh hingga derasnya air di curug.</p> Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/236/dieng-plateau-nirwana-dunia-para-dewa-di-tanah-jawa <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6990819be.jpg" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Merah jingga menyala mewarnai langit fajar dan detik-detik pergantian malam ke siang tinggal sebentar lagi. Voila! Surya emas perlahan menyembul dari balik daratan. Melintasi cakrawala menuju angkasa lapang. Itulah<em> Golden Sunrise</em> Dieng di Gunung Sikunir. Salah satu momen terbaik <em>sunrise</em> di Indonesia. Mentari tampil sangat menawan di antara perkasanya gunung-gunung Jawa yang berselimut awan seperti Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing. Menyapa mentari pagi dari Puncak Sikunir menjadi awal petualangan saya bersama tujuh kawan saya di Dieng.</p> <p style="text-align: justify;">Dieng merupakan kawasan dataran tinggi yang terletak di jantung pusat Pulau Jawa. Secara administratif, Dieng berada di Provinsi Jawa Tengah. Tepatnya di perbatasan Kab. Wonosobo dan Kab. Banjarnegara. Ketinggian Dieng berada di atas 2.000 m dari atas permukaan air laut. Oleh karena itu, Dieng berhawa dingin berkisar 15 derajat celcius di siang hari dan 10 derajat celcius di malam hari. Bahkan, di bulan Juli-Agustus, suhu Dieng bisa mencapai 0 derajat celcius.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6b8084b5f.jpg" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Perjalanan menuju Dieng paling mudah adalah dari Wonosobo. Jalan yang dilalui berkelok-kelok beraspal mulus dengan panorama menakjubkan di sepanjang jalan. Kita akan disuguhi hamparan ladang sayuran yang mengukir perbukitan dan Gunung Sindoro yang menjulang di seberang pandang. Tak ketinggalan, pemukiman penduduk dengan ratusan menara masjid menjadi hiasan pada setiap lekuk perbukitan.</p> <p style="text-align: justify;">Kami dari Yogyakarta menempuh perjalanan sejauh 116 km, dalam waktu sekira 3 jam dengan kendaraan pribadi. Apabila dari ibu kota provinsi, Semarang, Dieng berjarak 120 km. Untuk memasuki kawasan Dieng Plateau, kami ditarik Rp 2.000,- per orang. Bila ingin menjajal kendaraan umum, dari Yogyakarta kita bisa menggunakan mobil travel ke Wonosobo lalu dilanjutkan dengan minibus menuju Dieng. <em>So,</em> begitu mudah mengakses Dieng.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6a8ee957b.jpg" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Orang menyebut Dieng layaknya sebuah nirwana. Bahkan, ini bukan sembarang nirwana. Dieng sangat istimewa, yakni menjadi nirwana para dewa. Kata Dieng berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi. "Di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna &ldquo;Dewa&rdquo;. Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Kalau bukan nirwana, apalagi yang menjadi tempat bersemayamnya para dewa Ya, Dieng adalah nirwana dunia para dewa di tanah Jawa.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6ab756588.jpg" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Sebagai nirwana dunia, tentu Dieng memiliki banyak destinasi yang sarat dengan nuansa keindahan. Dieng memadukan panorama alam, kekayaan budaya, dan keunikan masyarakat yang memesona. Ini menjadikan nama Dieng telah masyhur ke penjuru dunia. Ketika kami menyaksikan <em>sunrise</em> di Sikunir, pengunjung didominasi oleh para wisatawan mancanegara. Bagi wisman, Dieng menjadi salah satu destinasi yang hukumnya wajib dikunjungi ketika berwisata ke Pulau Jawa.</p> <p style="text-align: justify;">Kami mulai melakukan penjelajahan wisata di kawasan utama Dieng. Sebagian besar destinasi wisata populer Dieng berada di sana. Kawasan utama wisata Dieng adalah dataran kaldera yang dikelilingi oleh gugusan perbukitan di sekitarnya. Dapat dikatakan kawasan ini sebagai kawah gunung api raksasa. Dieng dulunya sebuah gunung berapi yang sangat besar dan tinggi. Suatu saat gunung tersebut meletus dahsyat dan melemparkan puncaknya ke daerah sekelilingnya.</p> <p style="text-align: justify;">Kini, jejak vulkanik Gunung Dieng bisa ditemukan di Kawah Sikidang. Di sana kami menjumpai sebuah kawah yang selalu mengepulkan asap putih berbau belerang. Asap ini berasal dari lumpur hitam yang mendidih di dalam sebuah kawah.</p> <p style="text-align: justify;">Uniknya, Kawah Sikidang bertabiat seperti kijang karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Dari tabiat inilah nama Sikidang diberikan masyarakat setempat. Kami juga harus melompat-lompat dan mencari tanah kering untuk menapakkan kaki karena lubang-lubang yang mengasap terdapat dimana-mana. Kami membayar Rp 10.000,- untuk menikmati Kawah Sikidang, tapi jangan kahawatir, tiket ini satu paket dengan obyek Candi Arjuna.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6b5ec9319.jpg" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Aktivitas vulkanik di tengah &lsquo;kawah&rsquo; raksasa Dieng juga bisa ditemui di Telaga Warna. Namun kali ini bukan yang putih mengasap, melainkan yang beraneka warna. Ada warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung mewarnai kemolekan Telaga Warna. Khasanah warna ini disebabkan oleh kandungan sulfur yang aktif dari dasar telaga. Untuk menikmati pesona Telaga Warna, kami membayar Rp. 6.000,- per orang.</p> <p style="text-align: justify;">Di Telaga Warna, kami berjalan menyusuri setapak hingga tiba di Goa Semar, Goa Jaran, dan Goa Sumur. Goa-goa ini berada di tengah rimbunnya hutan. Cocok sekali di area ini untuk menikmati semilir angin pegunungan Dieng sembari mendengar kicauan burung-burung liar. Kami serasa menemukan kedamaian para dewa di sana.</p> <p style="text-align: justify;">Tepat di samping Telaga Warna, ada telaga lain, yakni Telaga Pengilon. Seperti namanya yang berarti cermin, Telaga Pengilon ini sangat jernih dan seolah-olah bisa digunakan untuk berkaca. Sinar matahari memanfaatkannya untuk memantulkan sinarnya di permukaan Telaga Pengilon. Hasilnya, Telaga Pengilon tampak bercahaya di kala terik panas.</p> <p style="text-align: justify;">Telaga Pengilon dengan Telaga Warna hanya dibatasi rawa sempit yang bertumbuhkan ilalang. Akan tetapi, keunikannya adalah kedua telaga ini seperti menjaga &lsquo;idealismenya&rsquo;. Masing-masing teguh mempertahankan karakteristik uniknya. Telaga Warna dengan aneka warna airnya. Telaga Pengilon dengan kejernihan airnya. Kami beruntung bisa mendaki salah satu bukit di tepian Telaga Warga. Di atas bukit, kami bisa melihat Telaga Warna dan Telaga Pengilon seperti bergandengan tangan. Keduanya tampak akrab dan setia saling mendampingi sepanjang masa.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6adece6bd.jpg" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="674" /></p> <p style="text-align: justify;">Di tengah kawah raksasa Dieng, tak hanya panorama vulkaniknya yang dapat menjadi cerita. Banyak candi Hindu bertebaran di berbagai titik di Dieng. Candi-candi ini berkumpul pada empat kompleks utama, yakni Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, Candi Bima dan Candi Dwarawati. Candi ini dibangun pada abad 8 M silam sehingga candi di Dieng merupakan yang tertua di Indonesia. Keberadaan candi ini juga menjadi &lsquo;prasasti&rsquo; bahwa kawah Dieng telah menjadi tempat peradaban manusia semenjak ratusan tahun yang lalu.</p> <p style="text-align: justify;">Kompleks Candi Arjuna merupakan destinasi candi yang paling luas dan terkenal. Ada empat bangunan candi, yakni Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra yang berjajar dari utara ke selatan. Di depan Candi Arjuna terdapat sebuah candi beratap limasan yakni, Candi Semar.</p> <p style="text-align: justify;">Candi-candi ini dulunya dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Syiwa. Pada candi ini ditemukan Lingga dan Yoni di candi utama dan arca Dewi Durga, Ganesha, dan Agastya di relung-relung bangunannya. Namun, arca-arca ini sekarang ditempatkan di dalam Museum Kaliasa yang berada tak jauh di sebelah barat Candi Arjuna.</p> <p style="text-align: justify;">Yang makin menyenangkan di Candi Arjuna adalah di sekeliling candi ditumbuhi pohon-pohon cemara dan bunga-bunga yang indah. Ada nuansa kedamaian yang bisa didapat berbalutkan harmonisasi dengan artefak sejarah masa silam. Rumput hijau yang terhampar indah menambah rasa tenang menyejukkan. Kami sempatkan istirahat untuk menikmati suasana di Kompleks Candi Arjuna sembari melepas lelah di pertengahan hari.</p> <p style="text-align: justify;">Kompleks Candi Gatotkaca menjadi destinasi yang selanjutnya kami sambangi. Letaknya tak jauh dari Candi Arjuna, tepatnya di depan Museum Kaliasa. Saat ini tersisa hanya satu bangunan candi di antara reruntuhan bebatuan. Candi Hindu ini berbentuk bujur sangkar dengan satu pintu di sisi sebelah barat. Sedangkan pada ketiga sisi dinding yang lain terdapat relung berhias kala-makara. Kami lalu menuju ke Candi Bima yang terletak di pertigaan menuju Kawah Sikidang. Kekhasan Candi Bima ada pada bentuknya yang mirip dengan candi-candi di India. Sayangnya, kami tak sempat berkunjung ke Candi Dwarawati. Candi ini masuk ke pemukiman Desa Dieng Kulon.</p> <p style="text-align: justify;">Untuk melengkapi pengetahuan tentang Dieng dan geliat vulkaniknya, perlu rasanya kita berkunjung ke Dieng Plateau Teater (DPT). Tiket masuknya Rp 4.000,- per orang. Tempat ini berada di atas kawasan Telaga Warna. Ya, seperti namanya, tempat ini menyajikan pertunjukan film tentang kawasan wisata Dieng. Termasuk tentang kegunungapian dan kebencanaan di Dieng. Dalam suatu adegan, diputar dokumentasi tentang letusan Kawah Sinila bersama Timbang pada tahun 1979 yang memakan 149 korban jiwa.</p> <p style="text-align: justify;">Sepertinya sudah banyak destinasi yang kami kunjungi di Dieng hingga saat ini. Apakah sudah cukup Tentu saja belum. Itu masih belum seberapa untuk mengungkap nirwana Dieng sesungguhnya. Apa saja yang kami datangi dari tadi masih berada pada kawasan utama Dieng di dataran kawah Dieng. Saatnya kami keluar kawah menuju destinasi-destinasi di pinggang Dataran Tinggi Dieng yang tak kalah eksotisnya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6b3163814.jpg" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Telaga Merdada merupakan destinasi yang patut untuk dikunjungi di bagian barat kawah Dieng. Telaga ini merupakan yang terluas di Dataran Tinggi Dieng. Yang menarik dari telaga ini adalah suasana telaga yang sepi dan tenang dengan hiasan perkebunan kentang di dinding-dinding bukit tepian telaga. Tak hanya itu, bagi para pemancing, Telaga Merdada adalah surga untuk mencari peruntungan mengail ikan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6b5ec9319.jpg" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Menjelajahi alam Dieng semakin ke arah barat, kami singgah di Sumur Jalatunda. Sumur Jalatunda terkenal sebagai lubang raksasa di Dieng yang dipenuhi mitos. Konon, masyarakat setempat memercayai sumur ini tembus ke Laut Selatan. Kalau orang sanggup melempar batu melewati sumur Jalatunda, maka akan terpenuhi harapannya. Kami di sana lebih suka menikmati suasana dengan menghanyutkan diri mengamati hijaunya air sumur yang tenang dengan beriramakan kicauan burung-burung di sekitarnya.</p> <p style="text-align: justify;">Sekarang saatnya giliran pinggang sebelah timur Dieng. Kami menuju ke Agrowisata Teh Tambi. Hamparan perkebunan teh yang hijau kekuningan sungguh menyedapkan mata. Panorama di bawah kaki Gunung Sindoro dan Gunung Dieng menjadikan kami betah berlama-lama di sana. Kami pun bisa berinteraksi dengan ibu-ibu pemetik teh. Bahkan, kami secara langsung dapat merasakan sensasi memetik teh dari pohonnya. Pengetahuan yang bermanfaat. Kini, kami tidak sekedar tahu menyeruput teh, tetapi tahu bagaimana teh berasal.</p> <p style="text-align: justify;">Sesungguhnya, Dieng masih menyediakan banyak destinasi. Waktu sehari tak akan cukup mengeksplorasi setiap lekuk pesona tanah para dewa ini. Dieng masih memiliki Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Air Terjun Sikarim, Mata Air Tuk Bima Lukar, Telaga Cebong dan lain-lain. Bagi yang berminat wisata religi, ada makam Syekh Selomanik, seorang ulama penyebar agama Islam dan pekaringan Ki Kolodete, leluhur warga Dieng. Oleh karena itu, menginap di Dieng menjadi pilihan terbaik. Terlebih bila ingin merasakan sensasi dinginnya Dieng di malam hari. Banyak <em>homestay</em> di Dieng yang bertarif mulai dari Rp 100.000,00 per kamarnya.</p> <p style="text-align: justify;">Rasanya tak lengkap, berkunjung ke Dieng jika tidak menjajal kuliner spesialnya. Kami pun menikmati sajian kentang goreng yang renyah. Sangat nikmat di tengah hawa dingin yang menyelimuti Dieng. Kentang Dieng rasanya sangat spesial karena masih segar diambil dari ladang pertanian. Dataran Tinggi Dieng dikenal sebagai salah satu penghasil kentang terbesar di Jawa.</p> <p style="text-align: justify;">Kami juga mencicipi kuliner &ldquo;buah para dewa&rdquo;. Apa itu &ldquo;Buah para Dewa&rdquo; adalah Carica. Buah ini sangat khas Dieng. Buah ini berbentuk mirip pepaya tetapi lebih kecil, lebih harum, lebih manis dan lebih segar. Carica enak dirasakan jika dinikmati sebagai manisan. Tak hanya itu, ternyata Dieng juga punya minuman eksotik yang berkhasiat untuk menambah kejantanan pria, yakni purwaceng. Purwaceng berasal dari olahan salah satu jenis rumput liar yang hanya tumbuh di Dieng.</p> <p style="text-align: justify;">Ada satu lagi yang tak boleh dilupakan ketika berkunjung ke Dieng. Jika melewati Wonosobo, tak boleh dilewatkan sajian kuliner Mie Ongklok yang melegenda. Kami merasakan sebuah mie yang lezat dengan keunikan kuah kental beraromakan rempah yang hangat bagi badan. Mie khas Wonosobo ini cocok sekali dinikmati dengan dipadukan sate sapi yang lezat.</p> <p style="text-align: justify;">Selain itu, masih ada satu kekhasan Dieng. Nirwana Dieng tak sekedar hanya mempesona alam, budaya maupun kulinernya. Dieng memiliki &lsquo;indigenousity&rsquo; masyarakat yang tak akan ditemui di tempat lain. Yakni, fenomena anak gimbal di Dieng.</p> <p style="text-align: justify;">Di Dataran Tinggi Dieng, banyak dijumpai anak-anak berambut gimbal yang terbentuk alami. Konon katanya, mereka adalah titisan leluhur Dieng, yakni Ki Koledete. Ketika rambut gimbalnya tumbuh, anak gimbal ini menderita sakit panas. Anak gimbal juga mudah sakit-sakitan sepanjang usia. Anehnya, rambut gimbal tak bisa dicukur sembarangan. Kalau sembarangan, akan tumbuh lagi makin menggimbal. Pencukuran rambut gimbal harus dilakukan melalui suatu ruwatan. Ruwatan ini disertai dengan pemenuhan permintaan anak gimbal yang unik berbau mistik.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6b9e17027.jpg" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Ruwatan cukur rambut anak gimbal biasanya dilakukan secara massal. Acara ini menjadi semacam pesta rakyat di kawasan Dieng Plateau. Ruwatan dipusatkan di Kompleks Candi Arjuna setelah sebelumnya peserta ruwatan diarak mengelilingi kawasan utama Dieng. Pelaksanaan ruwatan lazimnya setiap bulan Sura dalam penanggalan Jawa atau bulan Juli-Agustus. Kini makin meriah, ruwatan telah dikemas bebarengan Dieng Culture Festival. Hajatan ini menyedot animo puluhan ribu pengunjung baik domestik maupun luar negeri.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6a5d52002.jpg" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Kami telah membuktikan nirwana Dieng. Khasanah alamnya begitu indah. Kekayaan budayanya sangat memesona. Sajian kulinernya menciptakan pengalaman luar biasa. Kekhasan masyarakatnya merupakan hal langka. Pun, dua hari di Dieng serasa kami menjadi bagian dari dewa-dewi yang bersemayam di Dieng. Di setiap jengkal tanah Dieng, kami dibuai oleh berjuta pesona yang tak terlupa. Terlebih kami merasa gagah di atas singgasana awan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50ab6a22529fc.JPG" alt="Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Ya, Dieng merupakan negeri di atas awan. Sewaktu turun pulang dari Dieng, kami laksana melewati awan-awan putih yang menggumpal. Saat berada di Dieng Plateau, langit begitu cerah. Namun, ketika sesampai di kaki Dieng, langit berubah mendung. Kini, tak tampak lagi di kejauhan puncak-puncak Dieng. Awan-awan seperti telah menutup tirai nirwana Dieng. Para Dewa-dewi Dieng pun kembali bersemayam di balik awan. Kami pun melambaikan tangan. Sampai jumpa Dieng, nirwana dunia para Dewa!</p> Danau Belibis : Dari Cerita Orang Dahulu hingga Rusaknya Alam http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/237/danau-belibis-dari-cerita-orang-dahulu-hingga-rusaknya-alam <p style="text-align: justify;">Danau Belibis, sesuai namanya dimana di danau ini banyak terdapat populasi belibis yang hidup di sekitar danau. Danau belibis terletak di atas ketinggian lebih dari 1000 m dpl tepat di kaki Gunung Kerinci yang merupakan gunung api aktif tertinggi di Indonesia (3805 m dpl). Secara geografis danau ini berada di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Kecamatan Kayu Aro Barat, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.</p> <p style="text-align: justify;">Secara geografis, Danau Belibis merupakan danau tektonik yang terjadi akibat aktivitas gunung api. Hal ini dapat kita lihat dari posisinya yang tepat berada di puncak sebuah bukit. Danau ini merupakan danau air tawar meskipun kualitas air yang tidak terlalu banyak namun tetap selalu ada. Di pinggiran danau masih terdapat berbagai satwa alam yang masih terjaga, antara lain burung hutan, monyet, dan sebagainya. Termasuk beberapa hewan lain seperti ular serta harimau meski sekarang jarang ditemui.</p> <p style="text-align: justify;">Bagi masyarakat Kayu Aro, Danau Belibis bukanlah danau biasa karena merupakan danau yang memiliki sejuta cerita dan misteri. Selain itu, jarang sekali orang-orang yang berkunjung ke danau tersebut membuatnya misterius danau tersebut.</p> <p style="text-align: justify;">Penulis sendiri sudah dua kali mengunjungi danau ini dan aksesnya bisa melalui beberapa desa yaitu: Kebun Baru, N1, Gunung Labu dan Giri Mulyo. Akses menuju danau tersebut belum begitu bagus sehingga kita lebih baik berjalan kaki sambil menikmati pemandangan alam berupa kebun-kebun petani di sekitar jalan menuju danau.</p> <p style="text-align: justify;">Sebagaimana cerita orang-orang tua, meskipun banyak versi yang berbeda tetapi kebanyakan mereka menceritakan bahwa belibis-belibis penghuni Danau Belibis, merupakan perwujudan dari manusia-manusia yang sempat hilang di danau tersebut. Mereka adalah sekelompok pekerja dalam satu mandoran ketika mengadakan kunjungan ke danau tersebut. Mereka semua tidak ada yang pulang ke rumah dan menjadi belibis penunggu danau. Hal itu terjadi ketika awal muasal pembukaan Perkebunan Teh oleh Pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi cerita tersebut semakin digali semakin panjang bahkan semakin menggelitik serta membuat bulu kuduk yang mendengarnya langsung berdiri.</p> <p style="text-align: justify;">Menampihkan semua cerita-cerita misterius tersebut, kita seharusnya sadar akan semua yang alam berikan. Kita harus menjaganya. Ironis, ketika saya berkunjung ke danau tersebut, kondisi hutan sudah berubah menjadi lahan pertanian, tepat di pintu rimba menuju danau merupakan ladang masyarakat. Ironis daerah yang seharunya dijaga kelestraian, apalagi berada dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.</p> <p style="text-align: justify;">Kawasan hutan yang seharusnya menjadi tempat serapan air, kini telah beralih fungsi menjadi ladang masyarakat, hal itu bisa kita lihat sepanjang jalan. Padahal sebenarnya sudah ada batas rambahan hutan tetapi itulah manusia, tidak mempunyai rasa puas akan yang telah ada. Dapat dikatakan kalau Gunung Kerinci belum gundul maka belum berhenti merambah hutan.</p> <p style="text-align: justify;">Kesadaran yang rendah terhadap perlindungan alam sesungguhnya akan berimbas pada masyarakat itu sendiri. Hal yang paling nyata adalah kurangnya sumber air yang ada, kekeringan saat musim kemarau. Seharusnya kondisi di kaki gunung dengan alam yang terjaga dapat menjamin persediaan air. Akan tetapi, saat ini kondisi sumber air banyak yang berkurang bahkan mati. Ketika penulis masih kecil, masih teringat anak-anak mandi di sungai dengan riangnya tapi sekarang debit air yang ada hanya beberapa sentimeter, bahkan batu kali pun terlihat. Hal ini merupakan, efek nyata dari rusaknya alam, khusunya di kawasan kaki Gunung Kerinci.</p> <p style="text-align: justify;">Semoga tulisan ini memberikan tidak hanya informasi tetapi juga pesan agar kita menjaga alam dengan segala yang ada. Menjaga alam akan memberikan manfaat kepada kita dan kehidupan. Karena kehidupan bukan hanya saat ini tetapi juga akan datang.</p> Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/238/dieng-satu-wisata-tiga-cerita <p style="text-align: justify;"><strong>Dieng, Dataran Seribu Masjid</strong></p> <p style="text-align: justify;">Alhamdulillah, liburan kemarin saya bersama teman-teman berkesempatan untuk <em>rihlah</em> ke Dieng. Sebenarnya agenda jalan-jalan kali ini tidak direncanakan. Ketika itu kami memenuhi undangan walimahan di Wonosobo. Setelah acara selesai sayang sekali jika kami langsung balik ke Jogja. Alhasil, kami meneruskan perjalanan ke arah utara menuju Dieng.</p> <p style="text-align: justify;">Bagi yang pertama kali ke Dieng seperti kami tidak perlu takut tidak tahu arah. Saat melewati tempat penarikan retribusi, kita akan di beri peta kawasan wisata di Dieng. Dari peta tersebut diinformasikan bahwa di kawasan ini terdapat beberapa lokasi wisata alam, seperti: Telaga Tiga Warna, Telaga Pangilon, Komplek Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Dieng<em> Volcano Theatre</em>, Museum Dieng, dan lainnya.</p> <p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan menuju kawasan wisata Dieng akan disuguhkan panorama perbukitan. Udara sejuk, pemandangan hijau, awan dan kabut yang mengelayut adalah secuil keindahan yang Allah hadirkan di Bumi. Tapi ada hal lain yang menjadi perbicangan panjang selama kami di dalam mobil. Ketika kami memandang perkampungan penduduk dari jalan raya yang terletak perbukitan, kami menemukan masjid dalam hitungan yang luar biasa banyaknya. Tiga, empat bahkan sampai enam.</p> <p style="text-align: justify;">Cukup mudah membedakan masjid dibandingkan bangunan lainnya. Seperti foto kami di bawah ini. Anda pasti dengan mudah menemukan masjid di sekitar bangunan lainnya. Masjid memiliki bentuk atap yang unik dan seringkali dibangun kubah dan menara di dekatnya.</p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-masjid1.jpg w=300&amp;h=225" alt="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Untuk jarak dari satu masjid ke masjid lainnya juga tidak begitu jauh. Saat kami melewati perkampungan tersebut. Bangunan masjid dapat dengan mudah kami temui baik dari sisi kiri maupun kanan.</p> <p><a href="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-masjid6.jpg"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-masjid6.jpg w=300&amp;h=225" alt="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" width="550" height="413" /></a></p> <p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, kami membuat julukan tersendiri, Dieng dataran seribu masjid. Bukan dalam pengertian harfiah terdapat seribu masjid. Julukan ini hanya menandakan banyaknya masjid di sekitar dataran Dieng.</p> <p style="text-align: justify;">Nah, bagi sahabat yang sedang melakukan perjalanan ke Dieng, tidak perlu khawatir untuk mencari tempat sholat. Karena masyarakat di Dieng alhamdulillah telah menyediakan masjid yang begitu banyak. Selain itu, sepanjang perjalanan itu pula kami melihat banyak wanita baik muda ataupun yang sudah sepuh mengenakan kerudung dan jilbab. Semoga bukan hanya bertujuan menahan hawa dingin tetapi karena mereka berusaha menjalankankan perintahNya.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Dieng, Negeri Di Balik Kabut</strong></p> <p style="text-align: justify;">Dataran tinggi Dieng memang sudah dikenal sebagai kawasan yang memiliki suhu udara yang cukup dingin. Pada siang hari suhunya bisa mencapai 15 derajat celicius. Oleh karena itu, wajar jika uap air di sekitar permukaan tanahnya seringkali berkondensasi membentuk kabut. Nah sahabat, pada liburan kemarin kami ke Dieng, cuaca di sana sering kali gerimis sehingga suhu udaranya diperkirakan anjlok di bawah 15 derajat. Alhasil, asap dari uap air lebih sering terbentuk dan kamipun mendapatkan pemandangan Dieng bak negeri di balik kabut.</p> <p style="text-align: justify;">Satu tempat yang sayang untuk dilewatkan ketika berada di Dieng adalah kawasan komplek Candi Arjuna. Komplek ini adalah satu dari sekian banyak komplek candi di Dieng dan memiliki delapan bangunan candi yang masih berdiri. Terletak di tanah lapang, membuat kawasan ini sangat indah. Sebab, pengelola menghiasi sekitar candi dengan beragam jenis tanaman dan tumbuhan berbunga. Belum lagi ketika kabut mulai turun, komplek candi ini lebih terkesan sangat eksotis.</p> <p>&nbsp;</p> <p><a href="https://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-candi3.jpg"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" src="https://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-candi3.jpg w=300&amp;h=225" alt="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" width="550" height="413" /></a></p> <p style="text-align: justify;">Seperti terlihat pada gambar-gambar di atas, beberapa candi terlihat sudah tidak utuh. Memanglah demikian, beberapa batu candi telah rontok dan dibiarkan teronggok di awal tempatnya berdiri. Selain itu, candi yang masih berdiri pun memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Terdapat retakan di sana sini pada tubuh candi. Satu hikmah yang bisa kita petik, segala kemampuan manusia selalu memilki batas. Bangunan batu yang pasti terlihat kokoh pada zamannya ternyata tidak akan selamanya bertahan ketika berhadapan dengan usia. Apalagi dengan diri kita. Jadi, pantaskah selama ini kita masih sombong </p> <p style="text-align: justify;"><strong>Dieng, Sensasi Wisata Tiga Indera</strong></p> <p style="text-align: justify;">Agenda liburan ke Dieng kemarin akhirnya membawa kami ke tempat yang luar biasa. Melihat sebuah kawah dalam jarak yang sangat dekat. Satu kawah terbesar di daerah Dieng ini adalah Kawah Sikidang. Konon namanya diambil dari kata kidang atau kijang, satu binatang yang memiliki karakteristik suka melompat lompat. Nah, sifat yang suka melompat inilah yang dianggap seperti halnya uap air dan lava berwarna kelabu yang terdapat di Kawah Sikidang. Selalu bergolak dan munculnya berpindah-pindah bahkan melompat seperti seekor kidang atau kijang.</p> <p style="text-align: justify;">Berada dalam jarak yang begitu dekat dengan kawah, sudah berarti kami harus rela menghirup belarang dalam konsetrasi tinggi. Aroma menyengat ini sedikit mengusik indera penciuman, apalagi ketika arah angin mengarahkan asap kawah ke arah kita. Tidak hanya indera penciuman, indera peraba dan penglihatan pun mendapatkan sensasi ketika berada di sekitar Kawah Sikedang. Udara dingin yang menusuk sepanjang pori-pori dan tentu saja panorama luar biasa memanjakan pandangan. Kami menyimpulkan, inilah sensasi wisata dengan tiga indera.</p> <p style="text-align: justify;">Tidak lengkap rasanya ketika kami serombongan berada di sekitar kawah tanpa membuat dokumentasi. Berikut adalah gambar yang berhasil kami ambil dimana seolah-olah kami sedang berada di ujung lubang yang menghubungkan kami dengan pusat bumi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <div><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-kawah-anw1.jpg w=300&amp;h=225" alt="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" width="550" height="413" /></div> <p><a href="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-kawah-3.jpg"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-kawah-3.jpg w=300&amp;h=225" alt="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" width="550" height="413" /></a></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-kawah-2.jpg w=300&amp;h=225" alt="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Seperti sahabat ketahui, untuk kondisi tanah di sekitar kawah pada umumnya, profil tanah di Kawah Sikidang banyak mengandung sulfur. Oleh karena itu memiliki karakter berwarna putih kekuningan. Kondisi inilah yang membuat tanaman sulit tumbuh sehingga pemandangan di sekitar kawah terlihat gersang.</p> <p style="text-align: justify;">Tapi tunggu dulu Anda. Saat hendak kembali ke mobil untuk pulang, saya menemukan satu hal yang menarik perhatian saya. Persis di samping jalan setapak dari kawah menuju tempat parkir mobil. Akhirnya saya kembali mengeluarkan ponsel dan memotretnya. Semoga bisa jadi oleh-oleh spesial saya dari Dieng untuk Anda semuanya.</p> <p><a href="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-kawah5.jpg"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" src="http://ayip7miftah.files.wordpress.com/2012/04/dieng-kawah5.jpg w=180&amp;h=240" alt="Dieng: Satu Wisata, Tiga Cerita" width="550" height="733" /></a></p> <p style="text-align: center;"><em>Bertahan memang tidaklah mudah<br /></em><em><em>Tumbuh menjadi lebih baik sesuai keinginan semua<br /></em></em><em>Namun, yang muda pasti menggantikan yang tua<br /></em><em>Meneruskan perjuangan dalam bingkai ibadah<br /></em><em>Yakinlah, pasti bisa<br /></em><em>Karena ada Allah yang selalu membersamai kita</em></p> <p style="text-align: center;"><em><br /></em></p> <p style="text-align: right;"><strong><em><br /></em></strong></p> Dinginnya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/239/dinginnya-dieng-bagai-musim-semi-di-negri-gingseng <p style="text-align: justify;">Bayangan negeri di atas awan dengan struktur tanah yang berundak-undak membuat saya tertarik untung mengunjungi kecantikan yang tersembunyi di daerah Jawa Tengah. Tempat itu bernama Dieng.</p> <p style="text-align: justify;">Masyarakat di sana pastinya sangat bersyukur sekali dengan kekayaan alam yang dianugerahkan kepada tanah mereka yang cantik ini. Untuk wilayah yang terletak di daerah tropis cuaca di Dataran Tinggi Dieng dingainya cukup ekstrim dan telah memunculkan gaya berpakaian yang unik dari penduduknya. Berasa seperti di luar negeri jadinya, pake kupluk, sarung tangan, dan selalu memakai jacket. Seperti musim semi di negeri Gingseng, Korea, salah satu negara favorit saya. Jadi, sebelum ke sana ke Dieng dulu. Suhu udara pada siang hari berkisar antara 15-20 derajat celcius sementara pada malam hari berkisar antara 10 derajat celcius. Pada bulan Juli dan Agustus suhu bisa mencapai 0 derajat celcius pada siang hari dan -10 derajat celcius pada malam hari.</p> <p style="text-align: justify;">Dataran Tinggi Dieng masuk wilayah Kabupaten Wonosobo, perjalanan menuju ke sana kami tempuh 10 jam menggunakan mobil lewat jalur selatan, melewati jalan menanjak yang berkelak-kelok, terbentang pemandangan eksotis yang memanjakan penglihatan sejauh mata memandang. Hijaunya perbukitan dan perkebunan, langit biru yang cerah. Hawa dingin langsung menyambut kami, menggantikan hawa panas yang dirasakan sepanjang perjalanan. Sejuk dan damai sekali. Kebetulan saya pergi bersama teman- teman jadi kami sewa mobil seperti elf dengan muatan 18 orang dengan biaya sewa 1 juta perhari, fasilitasnya sendiri lengkap. Jika naik bus dari Jakarta sekitar Rp.60.000,-. Rata-rata semua transportasi berhenti di Wonosobo, sedangkan Wonosobo menuju Dataran Tinggi Dieng sekitar 30 km atau 40 menit dengan kendaraan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50923a771dd63.jpg" alt="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Negeri di atas awan itu menyimpan pesona wisata seperti danau telaga warna yang sering berubah warna ini selalu menjadi incaran setiap orang yg berkunjung ke sana termasuk saya, karena keindahannya warnanya. Perubahan warna terjadi akibat ganggang yang hidup di dalam telaga, ketika saya berkunjung kesana bulan maret 2011 warnanya kehijauan, kebetulan cuaca kurang mendukung, sedikit mendung, jika cuaca panas jika dilihat dari atas warna danau tersebut akan berubah karena bias sinar Matahari.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50923a3bc045e.jpg" alt="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50923a5f31ab2.jpg" alt="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50923a95a0a07.jpg" alt="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Tempat lainya yang menjadi incaran adalah kawasan candi yang terbesar yaitu Candi Arjuna. Komplek Candi Arjuna terlihat cantik karena dikelilingi taman-taman yang terawat rapi. Candi-candi yang sudah berusia ribuan tahun ini merupakan candi tertua di Pulau Jawa menurut pemandu dari penduduk lokal yang pemdampingi kami ketika berkeliling wilayah candi-candi tersebut.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50923acc991cb.jpg" alt="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" width="550" height="344" /></p> <p style="text-align: justify;">Untuk mengetahui sejarah di negri diatas awan kita juga bisa berkunjung ke museum kalilasa seperti yang saya lakukan, Melalui teater mini dan display berbagai benda-benda purbakala, kita seakan diajak untuk &lsquo;menikmati&rsquo; Dieng secara utuh, baik sejarahnya, kehidupan masyarakat dan budayanya, maupun segala keunikan lainnya. Durasi sejarah pemutaran film dokumentasinya sejarahnya sekitar 1 jam seperti nonton bioskop saja tapi jangan sampe ketiduran yach!</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50923ab50a930.jpg" alt="Dinginya Dieng bagai musim semi di negri Gingseng" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Jangan sampai tidak mencoba makanan khas Dieng jika berkunjung ke sini. Untuk mengisi perut kosong kam mencoba Mie Ongklok. Mie Ongklok, yang disajikan dengan kuah panas dan sate daging sapi, sangat pas menemani hawa dingin Dieng. Di minum bersama teh Purwaceng. Purwaceng adalah tanaman yang dianggap mampu meningkatkan vitalitas dan stamina. Rasanya seperti minuman gingseng.</p> <p style="text-align: justify;">Oleh-oleh khas di daerah ini manisan carica, yang dikemas dalem botol bening, memberikan kesegaran setelah kita lelah beraktifitas. Carica adalah sejenis buah papaya yang hanya tumbuh di Dieng.</p> <p style="text-align: justify;">Saya bersama teman-teman kebetulan tidak penginap di Dieng, setelah puas menikmati keindahan negri diatas awan, kami langsung beranjak ke Banjarnegara dan menginap di sana karena pada pagi harinya kami ada jadwal rafting di Sungai Serayu. Jika ingin menginap di dieng, penginapan berupa homestay juga mudah ditemukan dengan harga terjangkau.</p> <p style="text-align: justify;">Hal paling fenomenal di Dataran Tinggi Dieng adalah anak gembel, lebih tepatnya anak berambut menggumpal seperti rambut yang berbulan-bulan tidak dicuci dan disisir. Akan tetapi, tidak semua anak di Dieng mempunyai rambut gembel. <br />menurut pemandu kami hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab gembel pada beberapa anak-anak di Dieng. Rambut gembel tersebut terbentuk bukan karena kesengajaan ataupun faktor genetika. Rambut gembel biasanya muncul setelah si anak mengalami demam tinggi dan disertai mengingau saat tidur. Menurut mereka, gejala demam ini tidak bisa diobati sampai akhirnya anak akan sembuh dengan sendirinya dan setelahnya rambut menjadi kusut.</p> <p style="text-align: justify;">Biasanya anak rambut gembel akan diruwat jika sudah ada permintaan dari si anak. Masyarakat setempat meyakini bahwa permintaan ruwat adalah permintaan dari Dewa. Permintaan apa pun yang diminta si anak rambut gembel saat ia minta diruwat, haruslah dipenuhi. Jika tidak, maka anak akan menjadi gila. Uniknya, setelah di ruwat, rambut anak akan tumbuh normal kembali seperti sedia kala. Ruwatan ini merupakan proses pengguntingan rambut dengan prosesi adat yang panjang dan melibatkan banyak orang dan tokoh adat.</p> <p style="text-align: justify;">Penasaran dan ingin bertemu serta foto-foto langsung dengan si anak berambut gembel, silakan datang langsung ke dataran tinggi dieng yach dan rasakan sejuta pesonanya.</p> <p style="text-align: justify;">Salam Jelajah Negeri!</p> Coral, Serviceable, Volunteer, Action (Conservation): Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/240/coral-serviceable-volunteer-action-conservation-di-lautan-kita-berjaya-di-lautan-kita-berkarya <p style="text-align: center;" align="center"><em>Jalesveva Jayamahe!</em></p> <p style="text-align: center;" align="center"><em>Di lautan kita berjaya...</em></p> <p style="text-align: center;" align="center"><em>Di lautan kita berkarya...</em></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kita boleh berbangga karena sekira 18 persen terumbu karang dunia yakni seluas 74.748 kilometer persegi hidup di dasar laut Nusantara. Dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia yakni sekitar 750 jenis karang dan 942 jenis ikan maka tidak aneh rasanya bila negeri ini dijuluki "<em>Negeri Megabiodiversity</em>".</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509246fc27b9d.JPG" alt="Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Akan tetapi, hal menyedihkan justru datang dari laporan peneliti Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (2005), ternyata hanya tersisa 5,8 persen terumbu karang di Indonesia yang masih dalam kondisi baik. Hal tersebut memicu gerakan sekelompok pemuda yang tergabung dalam Unit Kegiatan Selam 387 Universitas Diponegoro (Uksa 387 Undip) Semarang untuk menyelenggarakan kegiatan bertajuk &ldquo;<em>Coral, Serviceable, Volunteer, Action </em>(Conservation)&rdquo;.</p> <p style="text-align: justify;">Conservation merupakan program berkelanjutan lima tahun yang diselenggarakan Uksa 387 Undip sejak 2011 di Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah. Pada 21-25 September 2012, acara Conservation kedua kembali dilaksanakan. Sebanyak 15 sukarelawan dari beberapa daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Kalimantan Timur berkumpul di Karimun Jawa untuk melakukan konservasi lautan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5092471768d0c.JPG" alt="Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Hari pertama diisi seminar mengenai ekonomi pariwisata, konservasi, dan terumbu karang. Peserta dibekali pengetahuan awal mengenai terumbu karang. Hadir sebagai pembicara dosen Oseanografi Undip, Prof. Sahala Hutabarat, M.Sc, perwakilan <em>Coral Triangle Center</em>, Arief Darmawan, dan perwakilan dari Terangi, Mikael Prastowo.</p> <p style="text-align: justify;">Peserta mulai beranjak menuju Karimun Jawa pada Sabtu (22/9) dan menginap di Desa Kemujan, sekira 25 kilometer dari pintu utama Pulau Karimun Jawa. Keesokan harinya, meskipun Laut Jawa yang biasanya tenang sedikit bergelombang. Hal tersebut tak menyurutkan semangat para penyelam yang rata-rata terdiri atas mahasiswa dan pelajar untuk melakukan kegiatan transplantasi karang di kedalaman 7-8 meter. Mereka berharap kelak hewan yang hanya tumbuh 2 hingga 10 cm per tahun ini dapat dilihat anak-cucu mereka.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509246c9af199.JPG" alt="Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya" width="550" height="733" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509246d349c8f.JPG" alt="Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;">Setelah melakukan kegiatan transplantasi karang, rombongan peserta beranjak menuju Pulau Tengah untuk melakukan kegiatan selam gembira atau <em>fun dive</em>. "Tahun ini konstruksi bawah lautnya kami tambah tugu dengan polip di atasnya, serta<em> fish shelter</em>untuk membasmi alga," jelas Ketua Panitia acara Aulia Yustian.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya" src="/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509246bb59d41.JPG" alt="Di Lautan Kita Berjaya, di Lautan Kita Berkarya" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Hari terakhir diisi dengan kegiatan sosial seperti <em>Coastal Clean Up</em> di sekitar Pantai Bare, <em>Coastal Clean Up</em> merupakan kegiatan pembersihan sampah di sekitar pesisir pantai dari batas pasang pantai hingga batas surut pantai. Kegiatan pun dilanjutkan dengan pendataan keadaan sosial ekonomi masyarakat, dan peresmian perpustakaan pintar di SD Negeri 4 Kemujan. "Melalui program ini, kami berharap semua yang terlibat memiliki jiwa konservasi yang<em> sustainable</em>," tambah Aulia Yustian.</p> <p style="text-align: justify;">Pendataan keadaan social ekonomi masyarakat dilakukan kepada sekira dua puluh sampel kepala keluarga. Selain pendataan keadaan social dan ekonomi, penduduk juga mendapat penjelasan seputar konservasi dan pentingnya terumbu karang bagi kehidupan masyarakat. Dari kegiatan itu pula diketahui bahwa masih ada penduduk sekitar yang melakukan <em>selam kompresor</em>, yaitu menyelam menggunakan kompresor pengisi udara ban yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan mulai dari kram hingga kelumpuhan.</p> <p style="text-align: justify;"><strong><br /></strong></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kemujan, Sisi Lain Karimun Jawa</strong></p> <p style="text-align: justify;">"Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia," ungkap Prof. Sahala Hutabarat, M.Sc. dalam seminar hari pertama Conservation 2nd. Jadi dapat dibayangkan berapa banyak masyarakat pesisir yang alur napasnya turut ditunjang kekayaan sector kelautan. Bukan tanpa alasan Tuhan menganugerahi negeri ini dengan laut maha luas, potensi negeri mega-biodiversity ini pun tak perlu diragukan lagi. Maka, bukan tanpa alasan pula proyek ekowisata Taman Bawah Laut di Karimun Jawa ini diadakan demi membangun potensi ekonomi masyarakat sekitar pesisir.</p> <p style="text-align: justify;">Masih banyak tantangan yang harus dilalui untuk menjadikan Desa Kemujan destinasi ekowisata yang menjanjikan, bayangkan saja akses yang cukup jauh dari Pelabuhan utama (sekitar 25 km) tanpa kendaraan komersial,sinyal provider telepon genggam pun sulit dijangkau, itupun menggunakan penangkap sinyal, belum lagi, pasokan listrik yang hanya hidup 6 jam saja (18.00-24.00). Masyarakat sekitar pun belum banyak yang mengenal kegiatan konservasi bagi terumbu karang yang menjadi sasaran wisata andalan.</p> <p style="text-align: justify;">"Kendala Desa Kemujan itu disebabkan pintu bagi wisatawan cuma ada satu, yaitu di Karimun Jawa" jelas Kepala Desa Kemujan, Yuslam Said saat pembukaan acara<em>Conservation</em>. Seiring istilah "<em>traveling</em>" dan acara "jalan-jalan" yang kini makin menjamur, tak ada salahnya sebagai wisatawan tak hanya mengekspos keindahan dan metode bepergian saja, kesejahteraan masyarakat sekitar pun patut diperhatikan! Sekali lagi,<em> Jalesveva Jayamahe</em>!</p> Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/199/pengalaman-pertama-mengunjungi-karimunjawa <p style="text-align: justify;">Sebelum liburan semester datang, aku dan kawan-kawanku merencanakan berlibur di Karimunjawa. Kebetulan ada salah satu teman kami yang berasal dari Kab. Jepara; <em>nah</em> dari dia lah kami mendengar banyak cerita tentang keelokan Karimunjawa. Perjalanan kami mulai dari pelabuhan Kartini, Jepara sekira pukul 14.00 dengan menumpang kapal Ekspress Bahari menyeberang menuju Pelabuhan Karimunjawa. Begitu menyengat teriknya Matahari siang itu karena kami berada di atas kapal sambil menikmati pemandangan laut.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; margin: 6px auto; display: block;" title="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5075308100d5b.jpg" alt="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" width="640" height="480" /></p> <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: text-bottom; margin: 6px auto; display: block;" title="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50752fd42ad2b.jpg" alt="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" width="604" height="453" /><br />Sambil menikmati penyebarangan ini, kami memakan bekal yang telah kami bawa, terutama minuman untuk mengilangkan rasa dahaga yang begitu menggelora. Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga di Pulau Karimunjawa. Sesampainya di sana, kami langsung menuju penginapan yang sudah dipesan sebelumnya untuk <em>check in</em> dan beristirahat sejenak. Malam harinya, kami dijamu dengan menu yang bisa menggoyangkan lidah kami dan ditemai dengan segarnya es jeruk sambil menikmati suasana di tepi pantai.</p> <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: text-bottom; margin: 6px auto; display: block;" title="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5075300de6f1b.jpg" alt="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" width="421" height="451" /><img style="vertical-align: text-bottom; margin: 6px auto; display: block;" title="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50753022b75e5.jpg" alt="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" width="604" height="453" /><br />Keesokan harinya, setelah sarapan, petualangan kami di Pulau Karimunjawa dimulai dengan mengunjungi beberapa pulau. Tujuan pertama yaitu Pulau Geleang; begitu jernih air di pantai itu sehingga kami bisa melihat sampai ke dasar lautnya. Tidak pernah sebelumnya kutemukan pemandangan seperti itu di pantai lain yang pernah aku kunjungi. Di sana kami berenang dan tak lupa kami <em>snorkeling</em> untuk melihat keindahan bawah laut Karimunjawa.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; margin: 6px auto; display: block;" title="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507530489f4eb.jpg" alt="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" width="604" height="453" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; margin: 6px auto; display: block;" title="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50753058ce251.jpg" alt="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" width="604" height="453" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; margin: 6px auto; display: block;" title="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507530617de2e.jpg" alt="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" width="604" height="453" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; margin: 6px auto; display: block;" title="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5075306a83ca5.jpg" alt="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" width="640" height="480" /></p> <p style="text-align: justify;">Tak terasa, jam menunjukkan pukul 12.00. Kami pun menyantap makan siang dengan menu ikan bakar khas Karimunjawa. Tak berlama-lama kami menyantap hidangan siang itu, lalu kami bergegas menuju menuju Pulau Cilik dan Pulau Tengah. Di pulau tersebut, tak henti-hentinya kami menikmati keindahan dengan berenang dan <em>snorkeling</em> untuk melihat keasrian terumbu karang di dasar lautnya. Sebelum malam datang, kami melanjutkan perjalanan kembali ke hotel. Dalam perjalanan kembali itu, kami disuguhi <em>sunset</em> di Karimunjawa dan pemandangan Gosong Kemloko. Setibanya di hotel, kami segera menyantap makan malam dan langsung terlelap tidur sebab kelelahan dan juga untuk mempersiapkan tenaga untuk petualangan keesokan harinya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; margin: 6px auto; display: block;" title="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5075303738574.jpg" alt="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" width="604" height="453" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Demi berburu <em>sunrise</em> di Pulau Nirwana, kami pun bangun lebih awal. Selesai menikmati keindahan<em> sunrise</em>, kami menikmati hidangan makan pagi yang begitu nikmat. Usai santap pagi, kami melanjutkan petualangan bahari kami di Pulau Cemara dan Menjangan Kecil dan Besar. Di pulau-pulau tersebut, kami menikmati keindahan pantainya dan tak lupa berkunjung ke penangkaran hiu. Berenang bersama hiu awalnya terasa menakutkan, tapi rasa gundah dan cemas akhirnya berubah dengan perasaan yang begitu menyenangkan sebab bisa berenang bersama hiu. Setelah itu kami beranjak menuju Tanjung Gelam. Begitu indah sekali di sana. Kami duduk bersama dan sesekali berjemur meskipun kulit kami sawo matang. Setelah puas bersenang-senang, kami kembali ke hotel dan menikmati hidangan makan malam. Malam itu adalah malam terakhir kami sebelum meninggalkan Karimunjawa esoknya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; margin: 6px auto; display: block;" title="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5075308944516.jpg" alt="Pengalaman Pertama Mengunjungi Karimunjawa" width="640" height="480" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Sebelum pulang, kami terlebih dulu berjalan-jalan melihat aktifitas masyarakat Karimunjawa dan berbelanja cinderamata dari Pulau Bahari yang begitu indah. Sekira pukul 13.00, kami meninggalkan Karimunjawa dan menyebarang menuju Jepara. Ini adalah petualangan yang tak akan pernah kami lupakan, mengunjungi Karimunjawa yang indah nan eksotis.</p> Hidden Paradise In Banten http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/200/hidden-paradise-in-banten <p style="text-align: justify;">Banten adalah provinsi termuda di Indonesia yang baru saja memisahkan diri dari Jawa Barat pada 2010. Tahukah Anda, di Banten ada tempat wisata tersembunyi dengan keindahan yang belum terjamah. Ada banyak tempat wisata yang selama ini menjadi andalan dan sudah dikenal khalayak banyak di Banten, salah satunya adalah Pantai Anyer, Carita dan Pantai Karang Bolong. Tapi tahukah Anda bahwa di kawasan Lebak&ndash;Banten, tepatnya di Desa Sawarna terdapat tempat wisata yang tidak terlalu dikenal oleh turis domestik, tetapi sudah terkenal di turis mancanegara bernama Sawarna.<br /><br />Sawarna merupakan salah satu desa di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Panorama keindahan alam di sesa ini cukup menawan, terutama pantainya. Objek wisata ini paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan dari mancanegara. Miris memang, kita sebagai tuan rumah belum pernah mendengarnya, justru turis mancanegara yang lebih dulu mengetahui dari kita. Hal itu terlihat dari banyaknya bule yang berselancar di pantainya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hidden Paradise In Banten" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fdf852a598.jpg" alt="Hidden Paradise In Banten" width="550" height="368" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Tempat wisata di Sawarna merupakan satu dari sekian banyak tempat di Indonesia berlabel <em>hidden paradise</em> yang belum tersentuh oleh industri pariwisata pemerintah. Hanya warga setempat yang memanfaatkannya. Desa Sawarna terkenal dengan desanya yang asri dan pantainya yang bersih, juga didukung masyarakat sekitar yang sangat ramah seperti masyarakat perdesaan Sunda pada umumnya. &ldquo;Ini kelebihan dari objek wisata di Lebak, anak-anak maupun dewasa akan sangat senang diajak bicara mengenai daerah sekitar objek wisata&rdquo;.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hidden Paradise In Banten" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fe10f0f3c5.jpg" alt="Hidden Paradise In Banten" width="550" height="368" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Jalan raya menuju tempat wisata ini sudah memadai, sepanjang jalan kita akan disuguhkan pemadangan pantai dengan pasirnya yang putih, belum lagi rimbunan hutan karet dan hutan tropis sebelum memasuki area pantai.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hidden Paradise In Banten" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fe0e314931.jpg" alt="Hidden Paradise In Banten" width="550" height="368" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Untuk bisa mencapai Desa Sawarna, apabila datang dari Jakarta bisa melalui Serang menuju Malimping hingga memasuki kawasan kabupaten Lebak tepatnya di terminal Bayah. Alternative jalur lain adalah bisa juga melalui Sukabumi. Dari Jakarta, perjalanan menempuh waktu sekitar 9 jam. Dari terminal Bayah, Anda bisa melihat penunjuk jalan yang mengarahkan ke Desa Sawarna.</p> <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hidden Paradise In Banten" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fe1317c473.jpg" alt="Hidden Paradise In Banten" width="550" height="368" /><br /><br />Mulai dari terminal Bayah, mata kita akan disuguhkan dengan pemandangan pantai di sisi kanan dan bukit-bukit kecil dengan hamparan sawah nan hijau di sisi kiri di sepanjang jalan yang kita lewati menuju Desa Sawarna.<br /><br />Ada beberapa tempat istimewa berlabel <em>hidden paradise</em> di Sawarna, yaitu Karang Taraje, Pulau Manuk dan Tanjung Layar.<br /><br /><strong>1.Karang Taraje</strong><br /><br />Karang Taraje adalah pantai pertama yang akan kita temui jika berangkat via Serang. Objek wisata Karang Taraje, lokasinya sekira 4 kilometer dari pusat kota Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Karang Taraje adalah pantai karang dengan bentangan karang yang besar dan luas di sepanjang pantai Laguna Pari hingga Pantai Sepang/ Cikoromong. Dinamakan Karang Taraje karena pada suatu titik kami harus menaiki sebuah <em>taraje</em> (tangga&ndash;bahasa Sunda; red)<br />Hamparan karang sesekali terlihat di permukaan saat ombak kembali ke lautan. Semakin siang, puncak-puncak karang akan semakin jelas terlihat dan menyerupai <em>trap</em> atau undak-undak. Oleh karena itu, kawasan pantai sekitar 4 kilometer ini dinamai Karang Taraje.<br /><br />Di Karang Taraje kita juga akan menemukan beberapa cekungan karang yang membentuk kolam di antara sela-sela karang. Cekungan/ kolam tersebut berisi air dan ikan. Tidak heran banyak penduduk lokal yang senang menjadikan Karang Taraje sebagai tempat untuk memancing.<br /><br /><strong>2.Pulau Manuk</strong><br /><br />Setelah melewati Karang Taraje, Anda akan menemukan Pulau Manuk yang terletak tidak jauh dari Karang Taraje. Jika di Pantai Karang Taraje bibir pantainya dipenuhi karang, maka di Pulau Manuk ini kebalikannya. Sepanjang bibir pantai dipenuhi pasir putih yang terhampar luas, bersih dan sepi dari para wisatawan atau pun warga setempat. Tidak jauh dari pinggir pantainya terdapat pulau kecil yang diberi nama Pulau Manuk (Pulau Burung). <br /><br />Kondisi pantai yang berpasir putih tanpa karang, landai dengan ombak yang tenang sangat aman untuk berenang maupun berselancar. Warna air laut yang biru bersih semakin mengundang kita untuk bermain bersama airnya. Ditempat ini, Anda tidak akan menemukan penjual akesories atau penjaja makanan lainnya, karena pantai ini salah satu pantai yang belum dijadikan tempat wisata resmi oleh Pemda setempat atau istilahnya masih wisata liar, sehingga tidak dikenakan retribusi untuk masuk.<br /><br /><strong>3.Pantai Sawarna</strong><br /><br />Pantai Sawarna sebagai objek wisata andalan berjarak 1 (satu) kilometer dari jembatan gantung, yang akan kita temukan setelah melewati hutan dan jalanan yang berkelok dan menurun. Menuju pantai ini hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau menggunakan motor. Hal ini dikarenakan ukuran jembatan gantung yang kecil dan hanya memiliki lebar 1 (satu) meter. Pantai Sawarna adalah pantai pasir putih sebagaimana tipikal pantai-pantai di Jawa pada umumnya.<br /><br />Sebelum mencapai pantainya, sepanjang perjalanan mata kita akan disuguhkan tanaman kacang dan sawah penduduk setempat, yang terdapat di kanan kiri jalan setapak yang akan kita lalui. Sementara, kurang lebih 500 meter di depan sana, tampak luasnya laut yang seolah menyambut kedatangan kita dengan ramah.<br /><br />Disekitaran Pantai Sawarna ini terdapat Pantai Tanjung Layar. Dinamakan Tanjung Layar karena terdapat dua bukit mirip layar kapal di tengah lepas pantainya. Untuk mendekati bukitnya tidak sulit, karena airnya dangkal dan banyak karang yang bisa membantu untuk mendekat. Akan tetapi, jangan coba-coba untuk berenang melewati batas karang yang bertindak seolah seperti tembok yang menghalangi ombak menuju ke pinggir pantai.<br /><br />Pemandangan menarik dan tidak terdapat ditempat lain ada di belakang dua bukit tersebut. Dari dekat bukit tempat kita berdiri akan terlihat hempasan ombak yang membentuk karang setinggi 3 meter lebih. Setiap deburan ombak yang membentur karang, akan berhamburan ke atas seperti letusan gunung merapi, dan menghempaskan air yang terbawa angin menghampiri wajah. Sungguh sangat menakjubkan.<br /><br />Keadaan di Pantai Tanjung Layar ini tidak jauh beda dengan Pantai Pulau Manuk. Pantainya masih bersih dan hanya terdapat 3 warung yang menyajikan berbagai makanan kecil dan kelapa muda.<br /><br />Jika Anda tertarik untuk berkunjung ke Desa Sawarna, tidak perlu mengkhawatirkan penginapan atau tempat untuk makan. Karena di tempat ini sudah banyak <em>homestay</em> yang baru saja dibangun dan tempat makan yang menyajikan ikan bakar dengan harga terjangkau.<br /><br />Sawarna dengan keramah-tamahan penduduknya serta keindahan pantai yang begitu mempesona tidak akan pernah terlupakan untuk selamanya.</p> Fiuhhhh.. Panasnya Free Flow ala Jacuzzi di Garut http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/201/fiuhhhh-panasnya-free-flow-ala-jacuzzi-di-garut <p style="text-align: justify;"><em>All journeys have secret destinations of which the traveler is unaware.</em>&rdquo; &ndash; <em>Martin Buber</em><br /><br />Cara untuk menikmati keindahan suatu kota tidak cukup hanya dengan membaca artikel ataupun melihat gambar kota tersebut. Menurut saya, cara yang lebih tepat yaitu dengan benar-benar merasakan suasananya. <em>Feel the beat!</em></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507eaf8cdbef0.JPG" alt="" width="550" height="385" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Selama ini saya cenderung hanya melihat dengan satu mata setiap kali membahas rencana <em>travelling</em> ke Garut. Yang saya tahu mengenai Garut terbatas hanya soal kuliner dodol dan wisata air panas, <em>that&rsquo;s all</em>.<br /><br />Setibanya di Garut, saya merasa heran kenapa hampir semua orang memakai jaket, baik yang naik motor maupun yang baru keluar dari pusat belanja sekalipun. Ketika membuka jendela mobil, memang benar ternyata suhu yang dingin langsung menyambut saya. Padahal waktu itu saya bersama dengan @stefansantoso dan @chayadikwok baru saja tiba dari <em>travelling</em> ke Pangandaran yang panas.<br /><br />Alhasil, begitu turun dari mobil dan mencari makanan di kawasan kuliner Pasar Ceplak di pinggir jalan, kami harus bersembunyi di balik deretan tenda kaki lima. Masih belum cukup, kami bahkan harus mendekat ke sisi kompor untuk menghangatkan badan. Yang pasti suasana malam di Garut memang sungguh dingin.<br /><br />Esok harinya, saya baru tahu kenapa Garut juga sering dijuluki "Swiss Van Java". Berada di sisi Utara Garut, terlihat begitu jelas kalau hampir seluruh sisi kota ini dikelilingi oleh gunung! Meskipun belum pernah ke Swiss, tapi saya yakin letak geografis Garut serupa dengan kota-kota di Swiss yang dikelilingi pegunungan salju. Suasana sejuk dan pemandangan hijau memberikan kenikmatan tersendiri selama berkeliling di Garut. Perlahan saya mulai merasa jatuh cinta pada kota ini.<br /><br /><em>Let&rsquo;s Go on the Spot</em><br />Suasana malam yang dingin membuat kami harus segera mencari tempat menghangatkan badan alias tempat menginap. Di daerah wisata Cipanas, tersebar begitu banyak penginapan dari yang kelas melati hingga resort bertarif dollar.<br /><br />Karena memang tidak memesan sebelumnya, sampailah kami di survei hotel pertama. Waktu mengecek hotel ini, tidak ada hal yang khusus selain area parkir yang luas dan penampungan air besar di tengah-tengah parkiran. Hanya, sedikit yang membingungkan, yaitu di tengah malam yang dingin air di tengah penampungan itu terasa tetap hangat. Waktu melihat suasana di dalam kamar pun masih biasa-biasa saja. Interior jerami yang cukup unik pasti juga dirancang untuk meredam dinginnya suhu malam.<br /><br />Hal yang cukup lucu adalah ada satu handuk dan sabun yang dibungkus dalam pastik dan disiapkan untuk tamu. Di depannya ada tulisan, "<em>Handuk dan sabun sudah di dalam harga kamar. Silahkan dibawa pulang.</em>" <br /><br />Suasana dan mimik muka kami yang masih kelelahan sehabis berkendara langsung berubah ketika @chayadikwok keluar dari kamar mandi. Kami langsung terkejut sewaktu melihat isi kamar mandinya.<br /><br /><em>This is Jacuzzi ala Garut!</em><br />Saya langsung terperangah melihat ada <em>free flow</em> air mengalir dari bak mandi yang terlihat seperti kolam kecil. Yang membuat suasana menjadi semakin seru karena saya melihat ada dua keran yang menjadi sumber masuknya air. Ternyata, keran yang satu untuk air panas, dan keran kedua untuk air sangat panas! Wow bagi saya ini seperti <em>free flow jacuzzi</em> ala Garut! Tidak pikir panjang lagi, kami langsung membayar tarif untuk menginap di hotel itu.<br /><br /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507eaf6be40b7.jpg" alt="" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507eaf46de145.jpg" alt="" width="550" height="733" /><br />Waktu saya tanya, kenapa airnya dbiarkan mengalir terus-menerus, si Bapak malah bilang, "<em>Memang disini harus dialirin terus.</em>" Malah si Bapak juga menambahkan,"<em>Sepanjang tahun, di sini akan selalu keluar air panas dari mata air di atas</em>." Masih tidak percaya dengan ucapan si Bapak, saya mencoba menyentuh airnya dan memang benar tidak ada air dingin yang keluar. Semua air yang keluar di Cipanas adalah air panas!<br /><br />Tak lama setelah mengeyangkan perut, saya langsung bersiap untuk berendam di permandian air panas ala hotel Garut. Baru satu langkah masuk ke bak mandi, saya langsung terdiam karena panasnya air. Perlu proses yang panjang untuk bisa membuat tubuh saya sepenuhnya terendam di dalam bak dari keramik ini. Perlahan-lahan saya mulai membasahi tubuh saya supaya tidak kaget waktu saya rendamkan. Setelah sekian lama berusaha menahan air panas ini, akhirnya saya bisa merendamkan badan saya hingga mencapai pundak. Wuih begitu nikmat dan tidak percaya rasanya kalau kota Garut bisa punya atraksi "wisata" seperti berendam ala Jacuzzi di Jepang ini.<br /><br />Sambil berendam selama 30 menit dan membuat saya hampir tertidur, saya kembali terperangah ketika tersadar bahwa toilet jongkok atau pun toilet duduk di sana tidak ada yang memakai<em> flush</em>. Alhasil, kebayang kan bagaimana proses "bersih-bersih" langsung dari sumber air panas!<br /><br />Benar-benar pengalaman yang seru dengan penginapan di sekitar Cipanas ini. Tidak mau rugi, esok paginya saya kembali berendam. Nikmatnya, mungkin benar, tidak kenal maka tidak sayang. Memang akan selalu ada sisi yang menarik dari suatu kota, apalagi kalau diilihat dan dirasakan dari sudut yang berbeda.<br /><br /><br /><em>@ranggayudhika</em><br /><em>www.ranggayudhika.multiply.com</em><br /><em>Travelling while u r still breathing</em></p> Borobudur, Bangga Maka Jaga. http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/202/borobudur-bangga-maka-jaga <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fa4ee58335.jpg" alt="" width="550" height="439" /></p> <p style="text-align: justify;">Pernah mendengar tentang Candi Borobudur Pasti pernah, dong! Pernah berkunjung ke Candi Borobudur Saya yakin sebagian besar sudah ya. Nah, jika belum pernah dan ingin tau lebih banyak tentang candi Buddha terbesar di dunia yang telah diresmikan sebagai World Heritage No. 592 oleh UNESCO ini maka simak artikel tentang Borobudur ini.</p> <p style="text-align: justify;"><a title="Stamford Raffles" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stamford_Raffles"><em>Sir Thomas Stamford Raffles</em></a><em>, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, pada tahun 1814 menemukan candi Borobudur pertama kali. Sedangkan pemugaran selesai pada tahun</em><em> </em><a title="1984" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1984"><em>1984</em></a> <em>saat pemerintahan Soeharto dan tahun</em><em> </em><a title="1991" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1991"><em>1991</em></a><em> </em><em>Borobudur ditetapkan</em><em> </em><em>sebagai</em><em> </em><a title="Warisan Dunia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Warisan_Dunia"><em>Warisan Dunia</em></a><em></em><em>oleh</em><em> </em><a title="UNESCO" href="http://id.wikipedia.org/wiki/UNESCO"><em>UNESCO</em></a><em>.</em></p> <p style="text-align: justify;">Letak candi Borobudur adalah 40 km di sebelah barat laut <a title="Yogyakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yogyakarta">Yogyakarta</a> tepatnya di Kecamatan <a title="Borobudur, Magelang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur,_Magelang">Borobudur</a>, sekitar 3 km dari <a title="Mungkid (kota)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mungkid_%28kota%29">kota Mungkid</a> (ibu kota <a title="Kabupaten Magelang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Magelang">kabupaten Magelang</a>, <a title="Jawa Tengah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah">Jawa Tengah</a>). Saya berangkat dari terminal bus Giwangan Jogja dengan bus kecil jurusan Jogja-Borobudur dengan tarif Rp12.000,-. Bus berhenti di terminal Borobudur, dari terminal Borobudur kita bisa naik becak, andong, atau berjalan kaki. Tidahk jauh kok, hanya sekira 300 m atau 10 menit jika berjalan kaki. Akan tetapi apabila ingin naik becak maka siapkan uang kurang lebih Rp10.000,-</p> <p style="text-align: justify;">Jam buka candi adalah pukul 07.00-18.00 WIB setiap hari. Setelah sampai dan mengantri akhirnya saya pun mendapatkan tiket masuk candi seharga Rp30.000,- (dewasa) dan Rp12.500,- (anak-anak). Dilarang membawa makanan ke area candi dan harus dititipkan di tempat penitipan dekat pembelian karcis, minuman masih diperbolehkan. Mungkin aturan ini dibuat untuk tindakan preventif dari para wisatawan yang suka buang sampah sembarangan. Hayoo ada yang ngerasa </p> <p style="text-align: justify;">Masuk ke area candi kita harus memakai kain batik yang telah disediakan tanpa dipungut biaya, untuk menghormati keagungan candi dan upaya untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap batik khas Indonesia yang telah diakui secara resmi oleh UNESCO.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fa7095771e.JPG" alt="" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;">Dari kejauhan sudah terlihat bangunan candi yang mengerucut ke atas seperti teratai yang tersusun di atas bujursangkar dan lingkaran yang melambangkan <a title="Kosmos" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kosmos">kosmos</a> atau alam semesta dalam Buddha Mahayana. Sepuluh pelataran menggambarkan secara jelas filsafat mazhab <a title="Mahayana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahayana">Mahayana</a> tentang tingkatan <a title="Bodhisattva" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bodhisattva">Bodhisattva</a> untuk mencapai <a title="Penerangan sempurna (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php title=Penerangan_sempurna&amp;action=edit&amp;redlink=1">kesempurnaan</a> menjadi Buddha yaitu kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu yang diperkirakan dibangun antara tahun 760-830M pada masa puncak kejayaan wangsa <a title="Syailendra" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syailendra">Syailendra</a>. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan dirampungkan pada masa pemerintahan raja <a title="Samaratungga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Samaratungga">Samaratungga</a> tahun 825. Wuih lama yah!</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fa51cc92bd.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Pintu gerbang utama Candi Borobudur menghadap ke timur. Kok bisa tau Iya, karena relief yang berada di candi Borobudur ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut <em>mapradaksina</em> yang berasal dari <a title="Bahasa Sanskerta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta">Bahasa Sanskerta</a> <em>daksina</em> yang artinya <a title="Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Timur">Timur</a>. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai dan berakhir pada pintu gerbang sisi Timur di setiap tingkatnya. Nah, jika ingin tau lebih detail tentang relief-relief di dinding candi sebaiknya memakai jasa <em>tour guide</em> yang banyak bekerjasama dengan paket tur and travel.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fa78142467.JPG" alt="" width="550" height="733" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fa5fb5277a.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Semakin ke atas hawa terasa menyengat padahal saya sudah berusaha datang pagi, tenyata jam 9 di Borobudur panasnya sudah berasa sampai ubun-ubun. Sepertinya topi yang saya pakai tidak banyak menolong. Oh iya, ada juga jasa penyewaan payung hanya Rp3000,- rupiah.</p> <p style="text-align: justify;">Bagi yang ingin merasakan sensasi melihat <em>sunrise</em> atau <em>sunset</em> di Borobudur harus<em> merogoh kocek</em><em> </em>lumayan dalam. Informasi yang saya dapat dari petugas, tiket untuk melihat <em>sunrise</em> atau <em>sunset</em> adalah Rp380.000,- (manca) dan Rp200.000,- (lokal). Bagi pemegang tiket <em>sunrise</em> diperbolehkan untuk mulai masuk candi pada pukul 4 pagi - 6 sore. Sedangkan bagi yang ingin mnikmati <em>sunset,</em> diperbolehkan berada di dalam candi hingga pukul 19.00. Tiket <em>sunrise</em> tidak dapat ditukarkan, maksudnya jika kita berhalangan mendapatkan pemandangan <em>sunrise</em> yang kita harapkan maka tidak dapat diundur untuk besok. Sedangkan untuk <em>sunset</em>, tiket dapat ditukarkan jika kira-kira kita memprediksi bahwa hari ini <em>sunset </em>kurang bagus. Jadi, pikir masak-masak ya jika ingin membeli tiket. Sayang sekali apabila tidak mendapat momen yang pas padahal sudah mengeluarkan biaya yang lumayan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fa6ac1c633.jpg" alt="" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;">Di Borobudur, banyak arca tanpa kepala, tangan, atau bagian-bagian lainnya. Kepala adalah bagian yang paling banyak hilang. Konon, karena untuk mencuri seluruh arca Buddha terlalu berat dan besar, arca sengaja dijungkirkan dan dijatuhkan oleh pencuri untuk diambil kepalanya. Bahkan pada tahun 1896, <a title="Raja Thailand" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Thailand">Raja Thailand</a> <a title="Chulalongkorn" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Chulalongkorn">Chulalongkorn</a> ketika mengunjungi Jawa menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan 8 gerobak penuh arca dan kini dipamerkan di Museum Nasional di Bangkok. Sedih ya </p> <p style="text-align: justify;">Tapi sekarang pengamanan bangunan candi dari tangan nakal para pengunjung sudah diperketat. Pada bagian teratas candi tampak para <em>security</em> yang bertugas mengawasi dan mengingatkan para pengunjung yang <em>ngeyel</em> menduduki atau bahkan memanjati arca untuk berfoto. Tak segan-segan, petugas akan menegur menggunakan pengeras suara. Apa tidak malu <em>tuh</em> Harusnya sebagai &ldquo;pemilik&rdquo; Candi Borobudur ini kita punya kesadaran tinggi untuk menjaga keindahan<em> ancient heritage</em> kita. Kalau bukan kita siapa lagi Padahal sudah banyak<em> lho</em> peringatan yang dipasang, ini salah satu contohnya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fa68284498.jpg" alt="" width="550" height="412" /></p> <p style="text-align: justify;">Saat ini, di Candi Borobudur sedang dilakukan pemugaran karena adanya kebocoran di area candi pada tingkat 4 dan 7. Kebocoran ini dapat merusak bagian dan kekokohan candi bila tidak cepat diperbaiki.</p> <p style="text-align: justify;">Saya hanya bertahan selama satu setengah jam saja untuk berkeliling dan melihat-lihat bangunan candi yang sungguh menakjubkan ini. Saya turun dengan napas ngos-ngosan dan kehausan. Banyak tempat teduh di sekitar candi yang bisa dipakai untuk melepas lelah kok, sekalian membaca informasi singkat tentang sejarah dan tahap pemugaran Candi Borobudur yang disediakan di jalan keluar dari kompleks candi. Nah, jika telah keluar dari kompleks candi maka kain batik yang tadi kita pakai wajib dilepas dan ditaruh di tempat yang telah disediakan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fa56af220d.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Turun dari area inti Borobudur, ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi berikutnya. Ada museum Karmawibhangga yang berisi artefak-artefak yang ditemukan sekitar candi pada saat dilakukan pemugaran, antara lain guci, cangkir, piring, lingga atau prasati, dll. Selain itu, terdapat juga batuan candi yang rusak akibat jamur, pengapuran, erupsi, gempa bumi, dan pengeboman pada tahun 1985. Tapi, sayang tidak diperbolehkan untuk memotret di area sini. Di museum ini juga terdapat potongan-potongan batu candi dan juga <em>unfinished budha statue</em> dari stupa induk.</p> <p style="text-align: justify;">Museum Kapal Samudraraksa adalah tempat menarik lainnya. Di dalamnya, terdapat tiruan dari kapal cadik yang digambarkan pada relief candi. Kita dapat pula berjalan-jalan di Taman Lumbini, berkeliling kompleks candi dengan kereta mini dengan membayar Rp5000,-, naik delman, atau menyewa sepeda seharga Rp10.000,- (sepeda <em>single</em>) dan Rp20.000,- (sepeda <em>thundem</em>). Jika ingin berbelanja, pergilah ke sentra makanan dan kerajinan di gerbang keluar candi. Ingin tahu sejarah singkat tentang candi Borobudur Ada toko yang khusus menjual bukunya dalam beberapa bahasa juga <em>postcard</em>, yaitu toko Kopari. Harus pintar menawar ya,<em> </em><em style="text-align: justify;">bargain skill</em> sangat diperlukan <em>lho </em>di sini.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507fa73791de3.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Hari semakin sore, saya pun bersiap-siap untuk kembali ke Jogja. Tapi bangunan ini, Borobudur, seakan selalu memiliki beribu alasan untuk sekedar ditoleh dan dipandangi kembali. Saya pun menoleh, tersenyum, sambil mengaguminya sekali lagi. Menakjubkan bukan para nenek moyang kita zaman dahulu Saat belum ada peralatan modern, mereka bisa membangun bangunan sebesar dan semegah Borobudur ini. Sebagai orang Indonesia kita patut bangga dan ikut berperan secara aktif dalam upaya pelestarian warisan budaya yang membanggakan ini. Mari!</p> Borobudur di Pagi Hari http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/205/borobudur-di-pagi-hari <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Borobudur di Pagi Hari" src="http://indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5080cbdc09d5a.jpg" alt="Borobudur di Pagi Hari" width="1555" height="1167" /></p> <p style="text-align: justify;">Siapa yang tidak mengenal Candi Borobudur. Candi terbesar yang berada di Jawa Tengah ini sudah menjadi bagian dalam sejarah bangsa Indonesia. Bahkan mata pelajaran sejarah SD sudah membahas tentang Borobudur. Candi Borobudur dibangun atas perintah Samaratungga, seorang raja Mataram Kuno yang juga keturunan dari Wangsa Syailendra pada abad ke-8. Keberadaan Candi Borobudur ini pertama kali terungkap oleh Sir Thomas Stanford Raffles tahun 1814. Saat ditemukan, Candi Borobudur dalam kondisi hancur dan sebagian besar terpendam di dalam tanah.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Borobudur di Pagi Hari" src="http://indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5080cb3fa3abe.jpg" alt="Borobudur di Pagi Hari" width="1555" height="1167" /></p> <p style="text-align: justify;">Dari perjalanan sejarah tersebut juga menyebutkan kalau Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar pada abad ke-9. Candi yang terdiri dari 10 tingkat ini memiliki tinggi keseluruhan 42 meter. Menurut Prasasti Kayumwungan, terungkap bahwa Candi Borobudur selesai dibangun pada 26 Mei 824, atau hampir 100 tahun sejak dimulainya pembangunan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Borobudur di Pagi Hari" src="http://indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5080cba26c290.jpg" alt="Borobudur di Pagi Hari" width="1600" height="1200" /></p> <p style="text-align: justify;">Mengetahui sejarahnya, sejak SD aku sudah bermimpi ingin sekali menginjakkan kaki di Borobudur. Mimpi tersebut aku tulis kuat dalam imajinasiku, dan pada akhir Oktober 2012 mimpi itu akhirnya terwujud.</p> <p style="text-align: justify;">Berangkat dari Stasiun Senen menggunakan kereta ekonomi Progo jurusan Senen-Lempuyangan, saya dan seorang teman memulai petualangan ini untuk menggapai mimpi memegang patung Buddha bertepatan dengan terbitnya Matahari. Konon katanya, pemandangan Matahari terbit dari atap Borobudur itu menghipnotis karena indahnya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Borobudur di Pagi Hari" src="http://indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5080cc21a91b0.jpg" alt="Borobudur di Pagi Hari" width="1600" height="1200" /></p> <p style="text-align: justify;">Berangkat pukul 21:00 WIB dari Stasiun Senen, kereta sampai di Stasiun Lempuyangan pukul 07.00 WIB. Ternyata kereta sekarang sudah tepat waktu sesuai jadwal yang tertera dalam tiket. Sesampainya di Jogja, rugi rasanya kalau tidak mengunjungi Malioboro dan mencoba pecel atau gudeg yang ada di depan Pasar Beringharjo. Pecel yang dijual oleh kebanyakan kaum ibu ini begitu nikmat dan khas. Benar bila orang bilang kalau pecel atau gudeg asli dari sumbernya lebih enak dari pada beli di kota lain.</p> <p style="text-align: justify;">Saat berkeliling di Jogja, perjalanan kami lanjutkan menuju terminal Jogja. Dari sini, kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus Jurusan Magelang. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai ke Terminal Magelang. Dari sana, kami lanjutkan dengan angkutan yang langsung menuju Terminal Borobudur. Dari Terminal Borobudur, perjalanan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki atau naik ojek menuju Borobudur.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Borobudur di Pagi Hari" src="http://indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5080cda64a9f2.jpg" alt="Borobudur di Pagi Hari" width="1600" height="1200" /></p> <p style="text-align: justify;">Sampai di kawasan Borobudur, waktu sudah menjelang malam. Keadaan sudah mulai sepi dan rasa dingin mulai menggerogoti tubuh kami. Banyak penginapan yang terdapat di depan pintu masuk Borobudur ini. Dengan memilih penginapan di sekitar Borobudur tentunya akan memudahkan kami untuk mengejar <em>sunrise</em> esok pagi.</p> <p style="text-align: justify;">Kami pun bertanya ke penduduk yang sedang asyik ngerumpi sambil minum kopi dan merokok mengenai penginapan yang murah dan nyaman. Ternyata semua penginapan di kawasan ini rata-rata mematok harga mulai dari 100 ribu, dan itu artinya sangat pas sekali dengan kantong para <em>backpacker </em>seperti kami ini. Kami segera menuju penginapan dan segera beristirahat. Sebelum tidur, alarm kupasang dengan harapan esok pagi senyum Matahari tidak terlewati.</p> <p style="text-align: justify;">Berisik bunyi alarm membangunkan mimpiku, setelah mandi dan shalat shubuh kami berlari mengejar waktu. Dengan langkah cepat akhirnya tiba di pintu masuk, tetapi rasa kecewa muncul setelah melihat pintu masuk masih tutup dan tertulis buka pukul 06:00 WIB. Bagaimana bisa melihat <em>sunrise</em> bila dibuka pada pukul 06.00 pagi </p> <p style="text-align: justify;">Tidak puas dengan pengumuman itu, kami berputar menjelajahi semua pintu masuk dan berharap dapat keajaiban. Rasa senang muncul ketika tukang ojek memberitahukan bisa masuk dari pintu 7 melalui Hotel Manohara. Akan tetapi, rasa kecewa menjadi lebih berat ketika mendengar harga tiket, yaitu 250 ribu per orang; tentu saja itu cukup memberatkan kantong <em>backpacker</em>.</p> <p style="text-align: justify;">Gagal melihat <em>sunrise</em>, kami memutuskan untuk menunggu pintu masuk dibuka pada pukul 06:00 WIB. Ini diluar skenario yang sudah aku rencanakan, kecewa tentu saja, keindahan memandang Matahari terbit Borobudur tidak bisa kami nikmati sebab hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berkantong tebal. Semoga ke depan pemerintah bisa kembali mempertimbangkan untuk membuka Borobudur pada waktu shubuh.</p> <p style="text-align: justify;">Ada keuntungan juga masuk Borobudur pagi-pagi sekali, karena cuaca yang masih segar dan tentu saja pengunjung masih sedikit sehingga memudahkan untuk memotret segala sudut dengan bebas. Kami pun dapat berekspresi tanpa rasa malu di depan Patung Budha.</p> <p style="text-align: justify;">Rasa takjub menguasai saat membayangkan siapa arsiteknya dan bagaimana dulu nenek moyang kita membangun candi semegah ini. Dengan menggunakan peralatan apa mereka membuatnya sehingga batu dapat tersusun rapi dan ukiran patung dapat tercipta dengan detailnya. Orang sekarang saja belum tentu bisa membuatnya.</p> <p style="text-align: justify;">Di setiap sudut bangunan Borobudur akan terlihat pemandangan patung Budha dengan gunung dan bukit-bukit indah sebagai latarnya. Belum lagi sinar Matahari yang belum panas dan langit yang masih biru. Embun pagi yang masih membasahi stupa-stupa semakin membuat suasana pagi di Borobudur jadi luar biasa.</p> <p style="text-align: justify;">Sangat pantas jika Borobudur ini menjadi identitas bangsa Indonesia. Karenanya, kita sebagai anak bangsa harus menjaga dan melestarikannya. Marilah kesadaran kita mulai dari diri sendiri untuk terus menjaga tempat wisata di negeri ini, salah satunya adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kalau bukan kita siapa lagi !</p> <p style="text-align: justify;">Borobudur dengan segala keindahan dan misteri keberadaannya akan selalu hidup di memori. Saya berjanji jika ada kesempatan akan kembali lagi suatu hari nanti.</p> 9 Tips Menyaksikan Perayaan Waisak di Candi Borobudur http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/197/9-tips-menyaksikan-perayaan-waisak-di-candi-borobudur <p style="text-align: justify;">Mencoba hal-hal yang baru selama traveling merupakan salah satu hal yang paling disukai oleh seorang traveler apalagi bila hal baru itu ternyata memberikan kesan yang mendalam di dalam hati dan ingatan. Seperti halnya saya yang baru saja menyaksikan perayaan Waisak di pusatnya langsung yakni di Candi Mendut dan Candi Borobudur. Saya akui menyaksikan perayaan Waisak di Candi Borobudur merupakan salah satu keinginan traveling saya yang sudah lama direncanakan namun baru di tahun 2012 terealisasi. <br /><br />Setelah merayu membabi buta akhirnya saya sukses mengajak serta kakak, 2 tetangga dan 3 teman saya untuk ikut menyaksikan perayaan Waisak di Candi Mendut dan Candi Borobudur. Tidak tanggung-tanggung demi melihat itu semua kami pun sepakat untuk mencarter mobil selama 24 jam setelah melewati berbagai pertimbangan seperti mobil keluarga saya yang kebetulan di hari itu sedang dipakai, ogah capek, dan juga kalau mau pakai kendaraan umum takut waktu pulangnya tidak pasti. <br /><br />Nah, di postingan kali ini saya akan membagikan beberapa tips bagi Anda semua yang mungkin di tahun depan atau kapan pun itu ingin juga menyaksikan perayaan Waisak secara langsung di pusatnya. Tips ini saya berikan didasarkan kepada pengalaman saya saat menyaksikan perayaan Waisak di Candi Mendut dan Candi Borobudur pada 6 Mei 2012 yang lalu. Berikut ini adalah tipsnya:<br /><br /><strong>1. Tentukan alat transportasi menuju ke tempat tujuan dengan matang</strong><br />Saya lebih merekomendasikan Anda semua untuk menggunakan mobil pribadi. Terserah apakah mau menyetir sendiri atau pakai jasa rental, namun percayalah naik kendaraan pribadi akan jauh lebih enak dan mudah. Lebih enak lagi kalau berangkatnya ramai-ramai biar bisa menekan biaya yang dikeluarkan dan juga lebih fleksibel. Usahakan pula kalau Anda ingin menggunakan mobil rentalan pilih yang 24 jam karena acara perayaan waisak ini bisa seharian full dan juga mengantisipasi macet selama acara. Kenapa saya tidak merekomendasikan kendaraan umum <em>Well, you know</em> lah pasti harga-harga bakalan melambung tinggi dan juga pasti akan susah apalagi pas mau pulang karena kemarin saja acaranya selesai hingga jam setengah dua belas malam! Bayangkan susahnya kalau mau pakai kendaraan umum. Oh ya kemarin saja ongkos becak untuk jarak 1 Km-an dibanderol sekitar Rp 15.000-Rp 20.000 sekali jalan. Tidak. &gt;.&lt;<br /><br /><strong>2. Siapkan barang dan perbekalan yang akan Anda bawa dengan baik</strong><br />Idealnya sih pakai tas ransel (punggung) yang bisa diisi dengan berbagai barang misalnya cemilan, minuman, baju ganti, kamera, plastik sampah, obat-obatan pribadi, dsb. Pastikan pula baterai kamera maupun handphone memiliki cadangan agar tidak panik ketika habis. Jangan lupa bawa payung atau jas hujan untuk jaga-jaga, apalagi cuaca Indonesia sedang tidak bisa ditebak sekarang ini. Perayaan Waisak 2012 kemarin diwarnai hujan yang turun dengan galaunya: deras, berangin, gerimis, lalu mendadak terang. <em>Grrrr</em>. Kalau <em>ogah</em> repot bisa <em>sih</em> sewa payung di area Candi Borobudur, tarifnya sekira Rp7.500-Rp15.000,- untuk seharian. <br /><br /><strong>3. Siapkan tenaga dan mental Anda</strong><br />Melelahkan itu pasti. Dibutuhkan waktu kurang lebih sekira16 jam untuk mengikuti dan menunggu prosesi yang dimulai di Candi Mendut dan berakhir di Candi Borobudur. Karenanya, tenaga atau stamina perlu dijaga. Belum lagi kalau hujan tiba-tiba turun seperti kemarin padahal sebelumnya Matahari bersinar dengan sangat terik. Ditambah lagi, event ini akan dipenuhi oleh ribuan biksu, umat Budha, traveler, masyarakat umum, dan juga para fotografer yang mungkin nanti bisa membuat Anda sedikit kesal karena perlakuan mereka. Sadar diri dan sabar sajalah berinteraksi dengan mereka. Mental baja diperlukan untuk menyaksikan event ini, bos!</p> <div style="text-align: justify;"><span><br /></span></div> <div><span><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="9 Tips Menyaksikan Perayaan Waisak di Candi Borobudur" src="http://4.bp.blogspot.com/-elTswDUF5JM/T6vjt6Rk5qI/AAAAAAAAAcc/EIi3dzvPb0A/s1600/IMG_1136.JPG" alt="9 Tips Menyaksikan Perayaan Waisak di Candi Borobudur" width="550" height="413" /></span></div> <div style="text-align: justify;"><span><br /></span></div> <p style="text-align: justify;"><strong>4. Bagi tugas itu penting</strong><br />Kalau Anda berencana pergi beramai-ramai, bagi tugas itu perlu. Buat kesepakatan di antara kalian siapa yang jadi bendahara biar nanti di sana tidak repot mengurusi masalah keuangan atau bayar ini itu. Bagi tugas juga termasuk bagi tugas untuk dokumentasi supaya semua agenda perayaan Waisak bisa terdokumentasikan dengan baik. Apalagi acaranya seharian dan daya tahan baterai plus memori mungkin bisa memberontak kalau disuruh kerja terus-terusan. Jangan lupa menunjuk yang bertugas membuat video, terutama saat pelepasan lampion. Pasalnya, momen ini sungguh <em>superb!</em> Kalau jalan sendirian, siap-siap saja baterai cadangan dan tanamkan prinsip foto buat hal-hal yang penting saja, dikhawatirkan akan menyesal apabila saat agenda inti kamera sudah wafat. :p<br /><br /><strong>5. Googling/ browsing seputaran perayaan Waisak di Candi Mendut dan Borobudur.</strong><br />Hal ini berguna sekali dalam rangka menyusun <em>itinerary</em> perjalanan saat ke sana nanti. Apabila ingin tahu <em>rundown</em> acaranya, buka saja website Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) di <span style="text-decoration: underline;">www.walubi.or.id</span>. Di sana tersedia informasi seputar perayaan waisak dari tahun ke tahun lengkap dengan urutan acara bahkan peta lokasi. Kita juga bisa membaca pengalaman blogger-blogger atau traveler-traveler lain yang pernah menyaksikan perayaan waisak di tahun-tahun sebelumnya. <em>Trust me</em>, itu berguna sangat. Salah satu blog favorit saya adalah blognya Andrea di andjaringtyas.com. Asli, saya jadi tambah <em>mupeng</em> setelah membaca tulisannya, dan saya akui tips yang saya berikan juga sedikit terinsipirasi dari blognya. Tipsnya pun sangat berguna bagi perjalanan saya kemarin. Terima kasih kakak Andrea. Hohoh. :)</p> <div><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="9 Tips Menyaksikan Perayaan Waisak di Candi Borobudur" src="http://3.bp.blogspot.com/-OOqCfIrekEk/T6vjrlOdMMI/AAAAAAAAAcU/Zy12m0y-0SA/s1600/Capture1.PNG" alt="9 Tips Menyaksikan Perayaan Waisak di Candi Borobudur" width="550" height="217" /></div> <p style="text-align: justify;"><strong>6. Kalau Anda cukup percaya diri, cobalah minta ID card di sekertariat WALUBI.</strong><br />Sekertariat Walubi biasanya membuat markas di Candi Mendut, cobalah datang kesana kalau Anda berani dan mintalah kartu pengenal entah itu sebagai peserta, press, fotografer, dsb. Kartu pengenal ini sakti sekali, kita diperkenankan masuk melalui pintu VIP dan bebas melakukan berbagai aktivitas selama disana. Tapi, saya tidak tahu prosedur pembuatan ID card ini dan juga tidak tahu apakah ada biaya untuk pembuatannya. Saya <em>sih</em> kemarin ke sana tanpa mengenakan ID card sama sekali. Sempat dibuat bingung karena waktu di area Borobudur tiba-tiba ada pengumuman bagi yang tidak berkepentingan dipersilahkan untuk keluar. Kami nekat saja tetap berada di area dan saat ditanya, kami tinggal bilang "mau ikut acara pelepasan lampion".<br /><br /><strong>7. Berangkat lebih awal lebih baik.</strong><br />Jangan malas-malasan kalau harus berangkat pagi demi menyaksikan perayaan waisak di Candi Mendut maupun Candi Borobudur. Percayalah, banyak kemudahan kalau kita berangkat lebih pagi, selain kemungkinan untuk terjebak macet lebih kecil. Jadi <em>set alarm</em> Anda lebih awal, dan bergegaslah. <br /><br /><strong>8. Jangan bergaya terlalu turis</strong><br />Sungguh jangan berlagak terlalu turis ketika Anda menyaksikan perayaan Waisak ataupun perayaan-perayaan keagamaan semacamnya. Hal pertama yang ingin saya soroti adalah masalah pakaian. Saya sampai sedikit risih melihat beberapa pengunjung yang dengan cueknya memakai pakaian serba mini semacam <em>hot pants</em> atau rok mini. Saya akui memang tidak ada peraturan tertulis mengenai larangan memakai pakaian tertentu selama perayaan berlangsung. Tapi, tolonglah sadar diri sedikit, di saat orang lain sibuk beribadah, hendaknya datang dengan pakaian yang pantas. <br /><br />Hal kedua adalah adat ketika memotret. Oke saya akui mungkin bagi sebagian orang <em>event</em> ini merupakan <em>event</em> sekali setahun yang layak didokumentasikan dengan maksimal. Tapi jangan sampai acara memotret justru mengganggu mereka yang sedang beribadah. Bayangkan saja bagaimana kalau Anda bertukar posisi dengan biksu yang sedang ingin bermeditasi, tapi tiba-tiba ada suara cekrak-cekrek ataupun lampu blitz yang tiba-tiba menyorot mata. Sabar saja sedikit dan tunggu momen yang pas, misalnya saat sang biksu sudah menutup mata dan sudah fokus bermeditasi. Hehehe. <em>No offense</em>. :)<br /><br /><strong>9. Mulailah menabung</strong><br />Jika Anda berkeinginan untuk menyaksikan perayaan Waisak di Candi Mendut dan Candi Borobudur tahun depan atau pun tahun-tahun selanjutnya, mulailah menabung sejak sekarang ataupun sedini mungkin. Menyaksikan perayaan Waisak memang membutuhkan dana yang cukup besar apalagi kalau Anda berasal dari daerah yang lumayan jauh dari Kabupaten Magelang. Yang pasti, percayalah berapa pun dana yang nantinya Anda keluarkan, <em>worth it</em> banget sama pengalaman yang akan Anda dapatkan disana. Hohoh.<br /><br />Demikian tadi 9 Tips Menyaksikan Perayaan Waisak di Candi Borobudur dari saya. Ayo yang ingin kesana persiapkan diri Anda mulai dari sekarang. Ingat, ini event sekali dalam setahun yang sayang sekali untuk dilewatkan <em>loh</em>. Teruntuk seluruh umat Budha Indonesia, selamat merayakan Waisak 2556 BE. Semoga Waisak tahun ini bisa meningkatkan <em>metta</em> dan <em>karuna</em> dalam rangka menjadi manusia yang lebih arif dan bijaksana.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <div><span><span><span><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; vertical-align: text-bottom;" title="9 Tips Menyaksikan Perayaan Waisak di Candi Borobudur" src="http://4.bp.blogspot.com/-uwzjI2pmQn4/T6vjxorHs-I/AAAAAAAAAcs/HrBVa3bEVgI/s1600/IMG_1191.JP" alt="9 Tips Menyaksikan Perayaan Waisak di Candi Borobudur" width="550" height="413" /></span></span></span></div> Pulau Mansinam: Sejarah bagi Peradaban di Tanah Papua http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/198/pulau-mansinam-sejarah-bagi-peradaban-di-tanah-papua <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pulau Mansinam: Sejarah bagi Peradaban di Tanah Papua" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506d1744b8da2.JPG" alt="Pulau Mansinam: Sejarah bagi Peradaban di Tanah Papua" width="550" height="464" /></p> <p style="text-align: justify;">Tempat ini bernama Mansinam. Mungkin sebagian dari kita asing dengan nama ini. Namun jangan salah, tempat ini merupakan sebuah tempat yang telah mendunia. Bukan hanya karena keindahannya, latar sejarah juga menjadikan Mansinam sebagai salah satu tujuan dari wisata religi umat Kristen Protestan di seluruh dunia. Pulau ini merupakan bagian dari wilayah Papua Barat. Letaknya sekitar 6 Km dari Manokwari. Untuk mencapai pulau ini hanya membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit menggunakan <em>speed boat</em>.<br /><br />Setiap tahun pada tanggal 5 Februari, ribuan orang dari penjuru Papua datang ke tempat ini untuk mengadakan perayaan memperingati kedatangan Ottow dan Geissler. Siapakah Ottow dan Geissler Dua orang berkebangsaan Jerman ini tiba di Pulau Mansinam dengan membawa misi penyebaran injil. Namun saat itu, suku yang mendiami Pulau Mansinam bersikap tertutup terhadap orang asing yang datang. Ottow dan Gaissler tidak menyerah. Mereka terus berjuang untuk menyebarkan Kristen kepada Suku Numfor, yakni suku yang saat itu mendiami Pulau Mansinam.<br /><br />Suatu ketika, Gaissler sakit hingga membuatnya harus meninggalkan Pulau Mansinam. Gaissler memilih ke Ternate untuk memulihkan keadaannya. Sementara, Ottow tetap tinggal di Pulau Mansinam. Ottow mulai melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui hubungan dagang. Ia membeli hasil-hasil alam Pulau Mansinam dari penduduk, seperti kerang, teripang ikan, atau pun burung cenderawasih. Kemudian ia menjualnya kepada saudagar dari kapal Van Duivenbode. Keuntungan dari penjualan tersebut digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup. <br /><br />Pada tanggal 12 Januari 1856, Gaissler kembali ke Tanah Papua, ke Pulau Mansinam. Mereka berdua bahu membahu untuk meneruskan misi menyebarkan Agama Kristen. Gaissler yang memiliki keterampilan sebagai tukang kayu mengajarkan Suku Numfor cara membuat rumah. Sedangkan Ottow memiliki kemampuan menenun yang baik. Kemampuan menenunnya ia sebarkan di Mansinam hingga Suku Numfor mengenal pakaian lalu mulai meninggalkan cawat maupun koteka. Keterampilan yang diajarkan Ottow dan Gaissler pun menyebar ke Biak, Nabire, Wasior, dan daerah Papua lainnya.<br /><br />Tidak hanya itu, mereka juga mempelajari bahasa lokal suku setempat kemudian menerjemahkan doa-doa ke dalam bahasa lokal tersebut. &ldquo;Dua rasul&rdquo; bagi Papua ini juga mengajarkan Suku Numfor di Pulau Mansinam membaca dan menulis. Awalnya suku numfor sangat sulit untuk sekedar memegang pensil. Namun, kegigihan suku numfor yang didampingi dengan kesabaran Ottow dan Geissler untuk bisa keluar dari kegelapan membuat mereka bisa membaca dan menulis. Kemudian untuk mempermudah sosialisasi ajaran Kristen, Ottow dan Geissler melakukan penerjemahan injil ke dalam bahasa Melayu. Hal ini pun akhirnya menyebar ke daerah Papua lainnya. Inilah yang menjadi cikal bakal masyarakat Papua lainnya mengenal ilmu pengetahuan.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pulau Mansinam: Sejarah bagi Peradaban di Tanah Papua" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506d180dc0c66.JPG" alt="Pulau Mansinam: Sejarah bagi Peradaban di Tanah Papua" width="550" height="762" /></p> <p style="text-align: justify;">Sekira beberapa km sebelum berlabuh di Pulau Mansinam, kita akan melihat semacam tugu berbentuk salib. Itu lah sebuah prasasti yang diperuntukan bagi jasa Ottow dan Geissler. Pada bagian bawah prasasti tertulis, <em>Soli deo Gloria. De Eerste Zendelingen van Nederlandsch Nieuw Guinee C.W. Ottow En J.G. Geissler Zyn Hier Geland</em> <em>op 5-2-1855</em> (zending pertama untuk Papua Ottow-Geissler tiba di sini 5 Februari 1855).<br /><br />Namun, saya sendiri miris melihat Pulau Mansinam. Sebuah pulau yang menjadi awal peradaban orang Papua kini hanya memiliki satu SD, yakni SD Impres Mansinam. Pelajar SMP dan SMA Pulau Mansinam harus menyebrang ke Manokwari dengan menumpang perahu dan membayar Rp3000,- untuk bersekolah. Infrastruktur tempat ini masih sangat kurang. Tidak ada jalan raya di Mansinam, yang ada hanya jalan-jalan setapak.<br /><br />Sayang sekali sejarah bangsa Papua ini tidak banyak dikenal oleh bangsa Indonesia, karena memang sejarah Papua kurang mendapat tempat dalam dunia pendidikan Indonesia. Buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah sangat sedikit membahas sejarah Papua. Bahkan siswa-siswa di Papua lebih dijejali sejarah tentang kerajaan Majapahit, Sriwijaya, ataupun kerajaan-kerajaan lainnya di Pulau Jawa. <br /><br />Buku-buku sekolah banyak bercerita tentang legenda sejarah kejayaan Majapahit, namun sejarah yang ada di Papua tidak ada. Kita begitu mengenal legenda tentang Jaka Tarub dan Bandungbondowoso dan Larajonggrang. Kedua legenda ini bahkan telah banyak difilmkan dan di putar berulang kali di televisi nasional. Namun kenapa legenda mengenai Ottow dan Geissler serta banyak legenda-legenda asal Papua tidak demikian adanya <br /><br /><strong>Belajarlah dari sejarah untuk membangun bangsa yang besar (Soekarno)</strong><br /><br />Ada ketidakadilan dalam hal ini. Terlalu banyak kurikulum sejarah dalam pendidikan hanya dipadati oleh sejarah dan kebudayaan dari Jawa. Menurut saya, Papua berhak untuk menampakkan eksistensinya melalui sejarah yang mereka miliki. Saya yakin, masih banyak sejarah-sejarah yang belum terpublikasi. Semoga akan banyak lagi pengetahuan-pengetahuan sejarah lainnya mengenai Pulau Timur Indonesia ini. Untuk itu, mari para <em>traveler</em>, selain menikmati pemandangan dari suatu tempat, hendaknya kita juga mengumpulkan catatan-catatan sejarah mengenai tempat tersebut. Sesingkat apapun catatan tersebut, pastilah berguna. Saya tunggu catatan-catatan bersejarah tempat yang <em>traveler</em> kunjungi.</p> Mengejar Matahari Bromo Dari Penanjakan yang Spektakuler http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/188/mengejar-matahari-bromo-dari-penanjakan-yang-spektakuler <p><strong>Jurnal Perjalanan</strong></p> <p>Petugas <em>Front Office</em> Java Banana seolah sudah terbiasa dengan jam jaga dini hari. Segera setiap tamu dibangunkan agar tak terlambat. Telfon di setiap kamar tertentu dideringkan sebagai pertanda waktu bangun telah tiba. Biasanya pukul 3.00 dini hari, tamu yang ingin memburu matahari terbit di balik pegunungan Bromo sudah siap menaiki mobil khusus berjenis Jeep yang tak akan tunduk pada ganasnya jalan pegunungan yang menanjak dan berpasir.</p> <p>Mengapa tamu datang ke Bromo tak lain biasanya untuk dapat mengabadikan momen penting yang seolah lebih dari sekedar kepuasan pribadi. Ada keinginan sentimental yang berbinar dari tiap pengunjung saat harus berjalan mendaki jalan sempit di tengah kegelapan. Bagi sebahagian orang, bangun pagi saja sudah menjadi satu tantangan, dan di sini, itu baru titik awal. Setelah kira-kira 20 menit menaiki jeep, tantangan berikutnya jauh lebih getir bila dirasakan, yaitu menguji ketahanan fisik sekitar 30 hingga 40 menit berjalan menanjak hingga pelataran di timur puncak gunung Pananjakan, dimana tak kurang dari 80 hingga 100 orang merasakan kegirangan yang sama.</p> <p>Gelap pagi masih sangat pekat. Jalan tak mungkin terlihat bila lampu sorot tak diambil serta. Dari tempat parkir Jeep, pengunjung yang merayap jalan berdebu tebal tak menyadari, bahwa udara di sekelilingnya penuh partikel pasir halus yang menyesakkan nafas. Hampir semua yang mengetahui kondisi itu, langsung mengenakan <em>masker</em> yang dibawanya atau dibelinya di tempat parkir jeep. Beberapa pengunjung terlihat mengeluarkan botol air minum, dan tak hentinya ditenggak saat beristirahat di setiap ujung belokan jalan.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5082b3430be6c.jpg" alt="Gunung Bromo" width="550" height="367" /></p> <p>Di puncak, segalanya jelas bahwa segala perjuangan mendaki jadi tak berarti karena sejauh mata memandang, keindahan cakrawala luar biasa terpajang dari sisi utara ke selatan. Mentari mulai terpancar membiaskan warna kuning keemasan. Awan putih nampak meluncur menuruni lembah terhempas angin pagi. Perpaduan sinar dan gerak tabir awan seperti episode alam yang diatur dalam skenario nan indah. Binar sinar semakin memancar sehingga tak henti video yang dibuat menjadi pembuktian otentik dari keagungan alam. Kamera foto bersahutan mengabadikan detik demi detik mentari, menorehkan definisi lekukan Gunung Batok yang nampak paling depan di horizon pegunungan Bromo-Tengger-Semeru.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5082b0e1e4230.jpg" alt="Gunung Bromo" width="550" height="367" /></p> <p>Gunung Pananjakan dengan ketinggian 2.770 meter di atas permukaan laut, merupakan spot terbaik untuk melihat sunrise di balik Gunung Semeru di kejauhan yang posisinya sejajar dengan Gunun g Batok yang berdiri di depan Kawah Bromo dan Gunung Widodaren. Gunung Pananjakan lebih tinggi dari Kawah Bromo (2.329 meter di atas permukaan laut), sehingga dari sini, Bromo, Batok, dan lautan pasir tampak dengan jelas.</p> <p>Bukit terjal berbatu di Penanjakan dijadikan <em>amphitheatre</em> olehpemuja keindahan alam. Seperti domba pegunungan, mereka mencari pojok nyaman untuk berdiri, menjadi saksi hidup kemegahan terbitnya mentari pagi. Dalam beberapa menit sorot lampu alam terhebat di seluruh galaksi ini menerpa wajah setiap penyaksi matahari terbit. Seperti gunung emas, bukit berbatu itu merona. Kemenangan terasa meliputi pelataran.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5082b2cc696bd.jpg" alt="Gunung Bromo" width="550" height="367" /></p> <p>Suasana penuh kepuasan, kengerian, dan kegirangan bercampur baur dalam kepanikan mengambil foto atau video, karena ada kekhawatiran semua keajaiban ini akan terlewat tanpa bukti kenangan.</p> <p>Sebelum turun kembali ke lapangan parkir, tak sedikit yang berbagi kekaguman sambil menyeruput air kopi panas atau mie rebus yang dijual penduduk setempat. Tak peduli itu teman lama atau kenalan baru, mereka menjadi satu kelompok seperjuangan, domestik atau internasional.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5082b32629b26.jpg" alt="Gunung Bromo" width="550" height="367" /></p> <p>Tanpa diatur, setiap orang meninggalkan <em>theatre</em> alam itu karena matahari sudah semakin menjulang. Kekurangan waktu tidur mereka sepertinya harus ditebus segera dan mereka bergegas kembali. Menikmati matahari terbit di Bromo sungguh sebuah keajaiban. Di ketinggian yang tak setiap orang mampu menembusnya, presentasi keseharian dari mentari terbit menjadi begitu spektakuler.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5082b2f76350b.jpg" alt="Gunung Bromo" width="550" height="367" /></p> <p><strong>Akses</strong></p> <ol> <li>Diawali dari Surabaya, perjalanan menuju Bromo memakan waktu 2-3 jam tergantung kondisi lalu lintas ke Probolinggo, melalui kota Sidoarjo, Bangil dan Pasuruan.</li> <li>Terminal Bis di Surabaya: Purabaya atau Bungurasih. Terminal Bis di Probolinggo: Banyuangga. Bis AC dan Non-AC tersedia. Tarif Bis AC sekitar Rp 25.000 dan Non-AC sekitar Rp 15.000 saja.</li> <li>Dari Probolinggo gunakan angkutan umum walau tidak pernah terjadwal pasti. Alternatif lain ialah sewa mobil dengan biaya sebesar Rp 350.000 sekali jalan atau Rp 50.000 bila sharing dengan penumpang lain ke Cemoro Lawang via Sukapura.</li> <li>Bila kebetulan Anda berhenti di� Sukapura, ojek atau angkutan umum bisa digunakan dengan membayar hingga sekitar Rp 50.000 hingga penginapan Anda.</li> <li>Penginapan jenisnya bervariasi, mulai dari Rp 150.000 hinggaRp2.250.000 per malam. Di penginapan biasanya disewakan baju hangat / jaket dengan tarif Rp 10.000.</li> <li>Harga sewa Jeep untuk menuju Bromo tergantung berapa banyak tujuan wisata yang ingin dikunjungi. Bila mengunjungi pelataran Penanjakan dan Laut Pasir (ke Kawah Bromo) saja, tarifnya Rp 350.000 saja dimana satu Jeep dapat berisi 4 hingga 5 orang. Bila ditambah dua tujuan lainnya seperti padang rumput Teletubbies dan Watu Singo, maka tarifnya Rp 650.000.</li> <li>Kuda dapat disewa di Penanjakan dengan harga Rp 65.000 untuk menaiki jalan mendaki dan turun.</li> </ol> <p><strong>Tips </strong></p> <ol> <li>Gunakan sepatu pendaki atau sepatu tertutup, jaket, sarung tangan, kupluk (<em>long beanie hat</em>), masker, dan kacamata saat ke Bromo. Masker berguna untuk melindungi pernafasan dari debu saat mendaki. Debu sudah tercampur dengan kotoran kuda sewa sehingga dengan mudah menjadi sumber penyakit pernafasan bila terlalu banyak masuk saluran pernafasan. Kupluk berguna untuk melindungi telinga dari dingin dan menahan panas badan yang banyak keluar lewat kepala. Kacamata lebih baik yang menempel pada kulit dan mengikuti lingkar bentuk wajah karena debu yang tertiup angin sangat mudah masuk mata Anda.</li> <li>Lindungi kamera Anda dari debu. Saat debu tertiup angin, hindari menggunakannya karena tidak sedikit kamera menjadi macet dan rusak karena debu halus masuk ke dalam sela-sela kamera. Maka, bawalah serat <em>microfiber</em> pembersih lensa, <em>blower</em>, dan juga kuas pembersih kamera.</li> <li>Bawa obat tetes mata dan obat masuk angin untuk menjaga kenyamanan wisata di Bromo. Hal ini tidak banyak diinformasikan tapi begitu berguna.</li> <li>Pastikan waktu kunjungan Anda adalah waktu teraman, dengan cara melihat status gunung api dengan jalan menelfon salah satu hotel di sekitar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru atau melihat informasi lewat website.</li> </ol> Mendaki Gunung Rinjani http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/183/mendaki-gunung-rinjani <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/photoessay_20121227105619.jpg" alt="" width="550" height="367" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="/public/media/images/upload/photoessay/photoessay_20121227105743.jpg" alt="" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Pendakian ke Rinjani sudah terkenal sebagai salah satu yang tersulit dilakukan di Indonesia. Gunung yang dipercaya masyarakat lokal sebagai tempat bersemayamnya Dewi Anjani ini merupakan gunung api kedua tertinggi di Indonesia. Memiliki ketinggian 3.726 mdpl, dalam cerita rakyat Lombok dikenal dengan sebutan pesanggrahan Dewi Anjani. Keberadaan Dewi Anjani di Rinjani dipercaya selalu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506943a537319.JPG" alt="" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Persiapan fisik dan mental menjadi syarat penting untuk mendaki Gunung Rinjani, juga harus ada niat hati dan pikiran yang positif serta motivasi yang kuat. Untuk memulai pendakian, kami berangkat dari hotel di sekitaran Senggigi pukul setengah 6 pagi. Sekitar pukul 8 pagi kami sudah tiba di Sembalun dan menikmati sarapan pagi di sana. Setelah sarapan pagi, kami menuju kantor Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) untuk melakukan pendaftaran (registrasi) dan mendapatkan tiket masuk. Setelah melakukan pendaftaran, kami menuju pintu masuk Sembalun dan dimulailah petualangan alam 3 hari 2 malam.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506942dd63446.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Indahnya kebersamaan di Puncak Rinjani" src="/public/media/images/upload/photoessay/photoessay_20121227110012.jpg" alt="Indahnya kebersamaan di Puncak Rinjani" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Sebuah tim terdiri dari 5 pria dan 3 wanita disertai 2 orang <em>guide</em> pun memulai perjalanan menuju Pos 5 Sembalun, tempat tenda akan didirikan. <em>This will be a long</em> <em>and winding road</em>. Jalur dimulai dengan melewati padang rumput luas. Hijau muda, hijau tua, coklat dan birunya langit adalah warna-warni sepanjang perjalanan. Kemudian kami masuk ke area hutan, udara mulai terasa sejuk dengan sinar Matahari yang malu-malu menyinari perjalanan kami. Sebuah awal yang menyenangkan. Perjalanan masih terus menyenangkan hingga kami menemukan pos pertama. Dalam perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa <em>trekker</em> yang baru saja turun gunung. Di pos pertama kami bertemu dengan 4 orang asing yang sebelumnya jauh berada di belakang kami namun bisa bertemu kami di pos pertama. Entah kami yang terlalu santai atau mereka yang terlalu cepat.<br /><br />Setelah beristirahat sejenak sekira 10 menit untuk minum dan makan makanan ringan, kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan yang dilalui masih berupa savana yang terbentang luas. Cantik dan ciamik bagai permadani. Kami kemudian berjalan melewati beberapa bebatuan hingga akhirnya sampai ke Pos 2 dan menikmati makan siang di sana. Makan siang yang dimasak oleh para porter terbilang sederhana. Lumayan lama kami harus menunggu para porter mempersiapkan makanan sambil duduk berkumpul di batuan bawah jembatan; rasanya perut sampai berteriak. Mie rebus dengan berbagai jenis sayuran ditemani teh hangat dan kopi adalah menunya. Hampir 1 jam kami menghabiskan waktu mengobrol, bercanda dan foto-foto sambil menunggu makanan dihidangkan. Rasa lapar terhapuskan setelah menyantap habis makan siang dengan menu seadanya tersebut. Makan siang kami juga ditemani oleh beberapa <em>pitu</em> (monyet) yang bergelantungan di pohon dekat kami beristirahat. Mulai siang itu, kami pun membiasakan diri dengan pola makan siang serupa di siang-siang berikutnya.<br /><br />Setelah makan siang, minum teh dan istirahat, kami melanjutkan perjalanan panjang siang itu. Masih ada 3 pos yang harus dilalui. Perjalanan berikutnya adalah menuju Pos 3 dan 4 yang mulai menantang. Kami melewati bebatuan besar dan jalan yang menanjak. Setiap perjalanan menurun kami anggap sebagai bonus. Ya, bonus untuk kami, untuk kaki kami. Tapi pemandangan sepanjang perjalanan mampu membuat kami mampu melupakan kelelahan. Teman-teman seperjalanan yang kompak dan selalu membuat tertawa mampu membuat kami menawar keletihan. <br /><br />Sesungguhnya tim 8 orang ini adalah tim baru yang terbentuk karena memiliki tujuan yang sama, yaitu mendaki Rinjani. Perbedaan yang ada mampu melebur di tengah perbincangan, komunikasi dan gurauan yang mampu menawar rasa letih. Tim yang menyenangkan dan membangkitkan semangat.<br /><br />Perjalanan dilanjutkan menuju Pos Sembalun. Perjalanan dari pos 4 ke pos 5 merupakan perjalanan yang melelahkan, melintasi jalur yang dikenal dengan nama Bukit Penyesalan. Bukit ini benar-benar membuat orang menyesal. Bagaimana tidak menyesal, saat melintasinya membuat ingin kembali ke Pos 1 yang sudah jauh ditinggalkan. Sementara, usaha menuju Pos 5 merupakan perjuangan mendaki yang sangat luar biasa. Bukit penyesalan tidak hanya satu, namun ada 5 bukit (itu menurut beberapa orang yang kami temui). Kami tidak menghitung sudah berapa bukit yang kami lalui. Sudah terlalu lelah untuk menghitung. Jalur menanjak berupa lahan tanah berbatu kerikil. Belum lagi kabut yang mulai naik dan rasa dingin yang menusuk kulit kami. Rasanya sungguh membuat kesal.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5069433c3e579.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506942ea22de2.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti kami mendaki bukit yang satu ke bukit yang lain. Hingga saat sampai di bukit terakhir, mata kami dimanjai oleh panorama alam yang luar biasa. Gunung Rinjani di sebelah kiri, bukit dengan barisan cemara di sebelah kanan dan pancaran sinar Matahari yang menyeruak diantara pepohonan cemara. Pancaran sinar Matahari yang menyeruak menghasilkan gambaran mata yang luar biasa cantiknya. Kami pun tak segan mengabadikan setiap momen dan sejenak beristirahat sambil menikmati keindahan alam yang luar biasa cantiknya.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506943b140261.JPG" alt="" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Setelah cukup beristirahat dan menikmati pemandangan, Matahari juga mulai turun. Sambil terus menanjak naik, kami menapaki akhir dari Bukit Penyesalan. Kami tiba di pundak bukit dan melihat salah satu keindahan alam Rinjani lainnya yaitu Danau Segara Anak. Kami pun mendirikan tenda tak jauh dari danau cantik ini. Sekira pukul 8 malam, tenda kami sudah berdiri tegak. Kami menikmati makan malam berupa nasi goreng yang terasa sangat nikmat disantap bersama di dalam tenda. Angin yang bertiup hingga menusuk tulang mulai kami rasakan. Kami berkumpul mengitari api yang dibuat porter untuk menghangatkan diri sambil menikmati teh panas. <em>More tea</em>, kata salah satu porter kami saat menawarkan teh. Sejak itulah <em>more tea</em> menjadi semacam<em> tagline</em> khas bagi kami. Setelah puas menikmati kehangatan api unggun kecil, satu per satu kami mulai beristirahat, membaringkan badan agar siap menanjak esok paginya.</p> <p style="text-align: justify;">Pagi hari sekira pukul 3, kami sudah bersiap diri. Setelah menyesap teh panas, kami berjalan beriringan mendaki puncak Rinjani. Perjalanan kami bisa dikatakan agak telat dari yang sebaiknya. Tapi, dengan tekad yang kuat kami terus berjalan perlahan, seiring dengan fajar yang makin meninggi. Di sisi kanan-kiri jalur adalah jurang. Sementara, jalan yang kami daki adalah pasir tebal yang mudah longsor; sungguh jalur yang menantang dan menyulitkan. Jalan yang menanjak, batu-batu besar dan kecil yang mudah longsor dan jarak pandang yang terbatas menuntut kami untuk pandai-pandai memilih jalur.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5069437ba2a78.JPG" alt="" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Dengan bahu membahu kami bersama-sama berjalan hingga sampai di Puncak Rinjani. Ya, Puncak Rinjani yang dimaksud di sini adalah adanya plat dengan tulisan Puncak Rinjani 3.726 M. Sebenarnya kami hampir putus asa untuk mencapai titik ini, kami memutuskan untuk berhenti mendaki di jarak beberapa meter dari titik puncak ini. Saat melihat bendera Merah Putih, kami memutuskan berjalan hingga bendera itu. Tak disangka, bendera itu diserta tulisan &ldquo;Puncak&rdquo;. Rasanya Lega dan senang. Ternyata kami sudah sampai di puncak.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506943273243d.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Banyak orang yang berpendapat kalau puncak atau <em>summit</em> itu adalah titik paling tinggi di gunung Rinjani. Padahal sebenarnya titik tersebut adalah <em>view point</em> terbaik. Dari <em>summit</em> of the<em> summit</em> itu, tampak seluruh pemandangan indah sekitar Gunung Rinjani. Ya, kami sampai ke Puncak Rinjani. Kami sempat menikmati terbitnya Matahari pagi. Indah, cantik; mungkin inilah salah satu <em>spiritual moment</em> saya. Di puncak itu, saya merasa diri ini sangat kecil dan merasakan kebesaran Tuhan.<em> I am nothing</em>. Dia, pencipta alam ini, pencipta diri saya. Dia-lah yang Maha Hebat. Ia mampu menciptakan lukisan alam seindah ini.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Mata ini sungguh dimanjakan oleh keindahan pemandangan hingga tidak bisa berkata apa-apa. Waktu yang ada kami nikmati dengan mengabadikan setiap momen, setiap pemandangan, setiap keindahan. Seiring Matahari meninggi, pemandangan sekitar gunung makin terlihat. Danau Segara Anak, Gunung Anak Baru, sebagian wilayah Lombok, bahkan Gunung Agung di Bali dapat dengan jelas kami lihat dari sana.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Setelah puas berlama-lama di puncak, kami pun turun kembali ke Sembalun. Trek yang kami lalui sama dengan waktu kami menanjak, hanya saja saat ini jalurnya menurun. Pasir-pasir dan bebatuan kerikil yang licin cukup mengganggu napas dan penglihatan. Masker dan <em>sunglasses</em> pun dikerahkan. Udara makin panas membuat kami juga membuka kancing jaket. Jalan menurun memang lebih cepat daripada saat mendaki. Sekira pukul 9, kami pun sudah sampai di tenda Sembalun Lawang untuk beristirahat sejenak dan menikmati sarapan pagi di sana. Setelahnya, sekira pukul 10 kami mempersiapkan diri untuk menuju Danau Segara Anak sebab akan menghabiskan malam di sana. Selain danau, kami berniat akan menikmati <em>hot spring water</em> yang tak jauh dari danau. Bayangan air panas membuat kami makin terpacu untuk tetap semangat. <br /><br />Perjalanan menuju danau memang menurun, namun jalan yang kecil dan tidak rata membuat kami harus mengeluarkan tenaga ekstra. Gurauan-gurauan kecil beberapa anggota tim mampu membuat kami tidak memikirkan lelah dan sulitnya jalur yang harus dilalui sekaligus menjadi asupan penambah semangat kami. Siang hari, sekira pukul 1 siang kami sampai di pos persinggahan untuk makan siang. Di tempat ini, kami bertemu rombongan turis dari Belanda. Tidak sengaja mendengar percakapan mereka bahwa di Belanda gunung tertinggi itu memiliki ketinggian hanya 100 meter. Sontak saya tertawa mendengar hal itu. Kalau 100 meter <em>sih</em> bukit, bukan gunung. Beruntung lah orang Indonesia yang memiliki banyak kekayaan dan keindahan alam yang tidak dimiliki negara lain. Indonesia kaya. Indonesia indah. Indonesia cantik.<br /><br />Selesai beristriahat dan santap siang, kami melanjutkan perjalanan. Tak sabar rasanya ingin merendam kaki di air panas. Setibanya di pinggiran Danau Segara Anak, pemandangan indah, cantik dan ketenangan sekejap menyeruak. Kabut seakan menyambut kedatangan kami. Sudah ada beberapa kelompok yang mendirikan tenda saat kami datang ke danau.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506943d78f355.JPG" alt="" width="550" height="367" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5069447fe7180.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Kami bergegas menuju <em>hot spring water</em> sambil membawa pakaian dan peralatan mandi yang kami butuhkan. Berjalan melewati ilalang-ilalang dan bebatuan, udara dingin makin menusuk. Tapi pemandangan indah tetap dapat kami nikmati, sementara di kejauhan terlihat kepulan asap. Kami menuruni bebatuan untuk tiba di lokasi pemandian air panas. Ternyata tak sekedar air panas, tapi juga ada air terjun kecilnya. Air panas ini mengandung belerang yang bagus untuk kesehatan kulit. <br /><br />Di pemandian ini sudah dipadati pendatang, baik lokal dan juga mancanegara. Turis asing bahkan tidak segan-segan memakai bikini di tengah dinginnya hawa gunung dan panasnya air. Menyenangkan sekali rasanya bisa menikmati air panas di tengah terjangan hawa dingin selama 2 hari ini. Kami berenang kesana-kemari, bahkan ada pula yang berdiri langsung di bawah air terjun. Hempasan air terjun dari ketinggian bisa jadi pemijit punggung yang mujarab. Namun berhati-hatilah, di sekitar pemandian terlihat sejumlah monyet (dalam bahasa setempat: <em>pitu</em>) yang mondar-mandir di tebing-tebing dan pohon-pohon. Kabarnya, mereka senang sekali mengambil barang-barang milik pengunjung pemandian air panas. Kami pun waspada dan selalu memperhatikan barang-barang bawaan kami, jangan sampai menjadi milik monyet-monyet itu. <br /><br />Puas berendam, mandi dan bercengkrama, kami keluar dari air panas. Seketika itu pula, hawa dingin menusuk kulit. Kami sesegera mungkin berganti pakaian dan membereskan barang-barang untuk kembali ke kemah di pinggir danau. Sekira 15 menit berjalan, sampailah kami di tenda yang telah didirikan oleh para porter. Hari masih sore dan pemandangan danau sangat cantik. Saatnya mengabadikan momen indah ditemani model-model apa adanya. Danaunya terlihat berkilauan, bagaikan cermin. Cantik. <br /><br />Saat malam tiba, kami kembali berkumpul mengelilingi api unggun. Santapan malam ini dipersembahkan oleh para <em>guide</em> dan para porter, yaitu ikan bakar mas yang dipancing langsung dari danau. Dibakar dengan bumbu apa adanya, ikan dibersihkan lalu diberikan perasan jeruk dan garam. Rasanya sih biasa saja, tapi suasana keakrabannya yang membuat momen tersebut luar biasa. Suatu malam terakhir kami di kawasan Rinjani yang luar biasa. Canda tawa dan kata-kata &ldquo;<em>more tea</em>&rdquo; kembali menemani malam hingga larut. Ikan habis disantap, waktunya kami beristirahat. Bintangnya berjuta-juta, bahkan lebih. Bulan tak ketinggalan menyinari malam dan menyemarakkan keindahan danau.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506943c691d66.JPG" alt="" width="550" height="367" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Danau Segara Anak" src="/public/media/images/upload/photoessay/photoessay_20121227105915.jpg" alt="Danau Segara Anak" width="550" height="367" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50694356430a0.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Hari terakhir kami di kawasan Rinjani, pukul setengah 5 kami sudah bangun, mencuci muka, menyikat gigi dan menikmati sarapan pagi serta bersiap untuk kembali melintasi alam Rinjani yang menantang. Wajah-wajah 'bantal' masih terlihat. Sekira pukul 6, setelah mengambil poto bersama, kami berjalan menyusuri pinggir danau menuju Senaru. Kami pulang melewati pintu Senaru. Guide kami berjalan di depan, memberikan wejangan dan arahan untuk kami melangkah. Jalur Senaru ini sangat berbeda dengan Jalur Sembalun. Jika di jalur Sembalun kami melewati padang luas savana, maka jalur Senaru akan menemui batu-batu dan hutan. Lebih ekstrim dan menantang. Sampai di ujung danau, tantangan pertama mulai menghadang. Bebatuan dan kerikil tajam dengan jalan yang menanjak harus kami lewati. Sesekali kami berpapasan dengan turis-turis asing yang turun dari Senaru dan ingin menuju Sembalun. Mereka pergi ke Rinjani melalui pintu Senaru. Setiap berpapasan, kami selalu mengatakan "<em>You almost there</em>&hellip;"&mdash;sebuah ungkapan memberikan motivasi, walau memang perjalanannya masih jauh dari yang diperkirakan. Ada yang menanggapinya dengan tertawa, ada yang percaya dan ada yang menanyakan kebenarannya. Kami hanya memberikan senyum motivasi kepada mereka.<br /><br />Saat mendaki bebatuan terjal kami sesekali beristirahat sambil menikmati indahnya pemandangan Danau Segara Anak dan Gunung Baru yang tersaji di depan mata. Pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan dan sangat berharga. Cantik luar biasa karya tangan Tuhan. Kami berhenti di beberapa titik untuk mengabadikan pemandangan indah ini dengan kamera. Rasanya hanya bisa tersenyum dan meneteskan air mata. Saya sudah ke gunung Rinjani dan saya disuguhi pemandangan indah ini. Tak terbayarkan dengan apapun. Luar biasa.<br /><br />Hampir 3 jam kami berjalan, akhirnya sampai juga di Pos Puncak Senaru. Di puncak ini, kami bisa melihat Danau Segara Anak, Gunung Barujari, hamparan luas savana di sisi lain bukit Senaru, dan beberapa pulau di laut Lombok. Indahnya pemandangan ini. Tak habis kami berfoto-foto ria, bahkan sampai tak sempat mengistirahatkan kaki, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pos 4. Kembali kami melewati savana luas dengan tanah debu yang tebal dengan jalan yang menurun. Jalan seperti ini akan kami lalui hingga menuju Pos 3. Setelah itu, kami melewati hutan. Perjalanan dari Pos 3 ke Pos 2 terbilang jauh, maka dari itu kami harus menghemat persediaan air minum.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506943ebc41fa.JPG" alt="" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Sampai di Pos 3, kami disambut oleh monyet-monyet yang melihat dari kejauhan, seperti meminta makanan yang kami makan. Akhirnya kami memberikan sedikit makanan ke monyet-monyet itu. Mereka terlihat agresif kalau tidak diberi. Sekitar setengah jam beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2, melewati Hutan Senaru yang sejuk. Berjalan di jalur yang rindang, sinar Matahari seperti menyeruak menghangatkan perjalanan kami. Seperti petualang sejati. Jalannya menurun, tampak beberapa tanaman unik dan menarik di sepanjang jalur. Ada pohon yang kembar yang memiliki dua akar tapi satu batang. Kami berjalan tidak cepat, juga tidak lambat.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50694392c3e28.JPG" alt="" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Tak beberapa lama, sekira pukul 2 siang, kami sampai di Pos 2 dan menikmati santap siang di sana. Sekira 1 jam kami beristirahat sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos terakhir. Hampir dua jam kami berjalan untuk menuju pintu Senaru. Di pos 1 kami bahkan tidak beristirahat, hanya berhenti sebentar. Tak lama kemudian, kami pun melihat gerbang Pintu Senaru. Di pintu ini, tampak penduduk yang berjualan dan bale-bale untuk beristirahat. Kami pun beristirahat setengah jam sebelum kembali berjalan menuju tempat kami dijemput, menuju parkir desa Senaru. Sampai di pintu Senaru, penting untuk mengabadikan diri dalam gambar dengan latar belakang pintu Senaru.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Taman Nasional Gunung Rinjani Pintu Senaru" src="/public/media/images/upload/photoessay/photoessay_20121227110227.jpg" alt="Taman Nasional Gunung Rinjani Pintu Senaru" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Senangnya 3 hari 2 malam menjelajah di Gunung Rinjani. Pengalaman yang tak terbayarkan, pemandangan yang tidak ada lawannya, kuasa Tuhan yang mampu menciptakan semua itu. Gunung Rinjani, gunung yang menampilkan kecantikannya dari kejauhan dan lebih indah saat berada di dekatnya. Pengalaman mendaki yang melelahkan namun menyenangkan, pengalaman yang mengajarkan betapa hidup ini sebenarnya sederhana, karena Ia sudah menjadikan segalanya indah dan mencukupkan segala sesuatunya. Bagaimana kita harus menghargai hidup, menghargai indahnya alam ini, menghargai orang lain, menghargai segala sesuatu yang Ia anugerahkan kepada kita. Pengalaman yang menyadarkan diri bahwa kita tidak ada artinya dihadapan-Nya, tapi Ia menjadikan diri kita indah dan berharga dimata-Nya. Perjalanan mendaki Rinjani adalah perjalanan refleksi diri.</p> Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/180/menikmati-kemegahan-arsitektur-art-deco-di-bandung <p style="text-align: justify;">Siapa yang tak mengenal Bandung&mdash;kota wisata yang sangat populer dengan wisata belanja dan kulinernya. Selain 2 hal di atas, sebenarnya masih banyak yang dapat dinikmati dari kota ini. Wisata alam, budaya dan sejarah dapat menjadi pilihan lain untuk berwisata di Bandung sehingga kita tidak akan pernah bosan berkunjung ke Bandung.</p> <p style="text-align: justify;">Selain memiliki beberapa museum, di Bandung kita juga bisa menikmati suasana kota tua di beberapa sudutnya dengan banyaknya gedung&ndash;gedung tua yang berarsitektur unik. Arsitektur gedung-gedung tua di kota Bandung didominasi oleh gaya arsitektur yang dikenal dengan istilah <em>art deco</em>. Tak heran, pada tahun 2001, Bandung menjadi peringkat 9 dari 10 World Cities of Art Deco. Karena banyaknya bangunan bergaya art deco ini pula kemudian kemudian Bandung dijuluki Paris van Java.</p> <p style="text-align: justify;">Masa kejayaan arsitektur art deco di Bandung terjadi sekitar tahun 1920-an. Ketika itu pemerintah Hindia Belanda berencana memindahkan Ibukota dari Batavia ke Bandung. Untuk tujuan tersebut, secara bertahap didirikanlah gedung&ndash;gedung baru untuk perkantoran pemerintah Hindia Belanda di Bandung. Gedung &ndash; gedung tersebut dibangun dengan gaya arsitektur yang sedang populer saat itu yaitu langgam art deco.</p> <p style="text-align: justify;">Langgam art deco berkembang setelah berakhirnya Perang Dunia I hingga meletusnya Perang Dunia II. Saat itu masyarakat dunia sibuk menata kembali lingkungannya yang rusak akibat perang. Para seniman dan arsitek saat itu seakan diberi kesempatan untuk mencari inovasi baru untuk membangun kembali lingkungannya yang porak-poranda, hingga kemudian lahirlah gaya seni yang saat ini dikenal dengan langgam art deco.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5088c398cdb11.jpg" alt="Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung " width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5088c1ee7dabb.jpg" alt="Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung " width="550" height="364" /></p> <p style="text-align: justify;">Menikmati kemegahan bangunan tua di Bandung dapat kita mulai dari Jalan Asia&ndash;Afrika. Di jalan yang bersejarah ini banyak berjejer bangunan kuno yang megah baik yang berarsitektur art deco maupun langgam arsitektur klasik lainnya. Grand Hotel Preanger, Hotel Savoy Homann, Gedung Merdeka, Toko De Vries dan Kantor Pos Bandung merupakan beberapa diantaranya.</p> <p style="text-align: justify;">Grand Hotel Preanger pada awalnya merupakan sebuah toko hingga kemudian mengalami beberapa kali renovasi dan berubah fungsi menjadi hotel. Hotel bergaya art deco geometric ini didesain ulang oleh C.P. Wolff Schoemaker pada tahun 1929 dibantu oleh seorang muridnya sebagai juru gambar yang tak lain adalah Ir. Soekarno, yang kemudian menjadi presiden pertama Indonesia.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5088c2d8bd77b.jpg" alt="Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung " width="550" height="363" /></p> <p style="text-align: justify;">Hotel Savoy Homman pada awalnya bernama hotel Homann, yang dimiliki oleh keluarga Homann. Pada tahun 1940 hotel bergaya art deco jenis <em>streamline moderne</em> ini didesain ulang oleh Albert Aalbers yang kemudian namanya ditambah menjadi Hotel Savoy Homann. Beberapa tokoh dunia pernah menginap di hotel ini, salah satunya adalah Charlie Chaplin. Pada waktu diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika tahun 1955, hotel ini bersama dengan hotel Grand Preanger menjadi tempat menginap para pemimpin dunia.</p> <p style="text-align: justify;">Di sebelah utara Hotel Savoy Homann terdapat Gedung de Vries. Gedung ini disebut-sebut sebagai pusat perbelanjaan pertama di Bandung. Tahun 1909 dan 1920 dilakukan pemugaran toko de Vries oleh biro arsitek Edward Cuypers Hulswitt dengan gaya klasik indis. Terakhir pada tahun 2010 toko ini kembali dipugar hingga tampilannya seperti tampak saat ini.</p> <p style="text-align: justify;">Gedung Merdeka pertama kali dibangun pada tahun 1895 dengan nama Societeit Concordia. Pada tahun 1926 bangunan ini direnovasi seluruhnya oleh Wolff Schoemacher, Aalbers dan Van Gallen. Pada tahun 1954 gedung ini di pugar kembali untuk keperluan Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan pada tahun 1955.</p> <p style="text-align: justify;">Masih di jalan Asia&ndash;Afrika, terdapat Kantor Pos Besar Bandung. Kantor pos ini selesai dibangun pada tahun 1928 hasil rancangan arsitek J. Van Gendt dengan gaya art deco geometric. Dahulu jalan tempat kantor pos ini berada bernama Postweg (Jalan Raya Pos). Jalan Raya Pos merupakan jalan sepanjang 1000 km yang dibangun pada masa Gubernur Jendral Daendels yang membentang dari Anyer hingga Panarukan dan melewati kota Bandung.</p> <p style="text-align: justify;">Di jalan Braga, kita bisa melihat jajaran toko-toko kuno bergaya art deco. Di jalan ini juga terdapat Gedung DENIS Bank (sekarang Bank Jabar) yang di bangun pada tahun 1936 oleh arsitek Albert Aalbers bergaya art deco jenis <em>streamline moderne</em>. Berdekatan dengan DENIS Bank terdapat gedung bekas bioskop Majestic hasil karya arsitek C.P. Wolff Schoemaker yang telah berdiri sejak tahun 1925. Kini gedung bekas bioskop tersebut bernama New Majestic dan difungsikan untuk kegiatan seni budaya.</p> <p style="text-align: justify;">Masih di Jalan Braga, kita juga bisa menikmati keindahan Gedung Bank Indonesia yang dahulu bernama Javasche Bank. Gedung ini selesai dibangun pada tahun 1918 oleh arsitek Hulswit, Fermont dan Edward Cuyfers dengan gaya Neo Klasik.</p> <p style="text-align: justify;">Di Bandung utara, kita juga bisa menikmati keindahan arsitektur art deco, salah satunya adalah Villa Isola yang terdapat di dalam komplek kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Villa ini di bangun tahun 1933 oleh arsitek C.P. Wolff Schoemaker.</p> <p style="text-align: justify;">Belum lengkap rasanya jika kita berkunjung ke Bandung tanpa mengunjungi gedung yang menjadi ikon kota Bandung, yaitu Gedung Sate. Gedung bergaya Indo&ndash;Eropa ini mulai di bangun pada tahun 1920 hasil rancangan Ir. J. Gerber. Adanya ornamen mirip tusuk sate di puncak gedung ini menjadikan gedung ini dikenal dengan sebutan Gedung Sate. Konon jumlah 6 bulatan dalam tusuk sate tersebut menandakan pembangunan gedung ini menghabiskan dana sebanyak 6 juta Gulden. Saat ini Gedung Sate difungsikan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.</p> <p style="text-align: justify;">Selain gedung&ndash;gedung tersebut di atas masih banyak lagi gedung&ndash;gedung kuno di Bandung dengan berbagai langgam arsitektur klasik lainnya yang dapat kita nikmati keindahannya. Gedung&ndash;gedung tersebut tersebar di seluruh penjuru kota Bandung. Pada akhirnya, keberadaan gedung&ndash;gedung kuno di Bandung ini menjadi daya tarik pariwisata tersendiri sehingga harus dijaga kelestariannya.</p> Buah Tangan Negeri di Atas Awan http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/182/buah-tangan-negeri-di-atas-awan <p><img title="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507a671b15126.JPG" alt="Buah Tangan Negeri di Atas Awan" width="550" height="367" /></p> <p>Orang bilang Dieng merupakan bumi kahyangan. Mengapa disebut demikian &ldquo;Dieng itu berasal dari bahasa Sansekerta, Mbak. &ldquo;Di&rdquo; berarti tempat yang tinggi dan &ldquo;Hyang&rdquo; berarti kahyangan. Jadi kalau digabung berarti tempat kahyangan atau bumi kahyangan tempat para dewa dan dewi turun, Mbak,&rdquo; begitu menurut Pak Harjo, salah satu warga sekitar Candi Arjuno. Dataran tinggi ini merupakan dataran tertinggi yang ada di tanah Jawa maka tidak salah kalau ada anggapan tanah ini merupakan salah satu persinggahan dewa dewi yang turun dari kahyangan.</p> <p><img title="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507a67acecc5c.JPG" alt="Buah Tangan Negeri di Atas Awan" width="550" height="367" /></p> <p>&nbsp;</p> <p><img title="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507a6a7bc752b.JPG" alt="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " width="550" height="367" /></p> <p><img title="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507a6d6544471.JPG" alt="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " width="550" height="367" /></p> <p>Dieng terkenal dengan sajian pemandangan alam yang menawan, seperti Kawah Sikidang, Candi Arjuna, Gunung Sikunir dan objek wisata lainnya. Gunung Sikunir memiliki ketinggian 2350 meter dpl. Ada dua cara untuk mengunjungi puncaknya, yaitu dengan mendaki kira-kira 2 jam setengah perjalanan atau dengan naik motor sampai ke Desa Sembungan. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan sejauh kurang lebih 1 kilometer. Dalam waktu kurang dari setengah jam dengan medan yang lumayan mudah, keindahan Puncak Sikunir dapat dinikmati. Pemandangan yang luar biasa akan menyapa, yaitu fajar yang malu-malu terbit berwarna kuning kemerahan menghampar bagaikan permadani yang mengantar sang dewa-dewi. Di kejauhan akan nampak Gunung Merbabu, Merapi, Sumbing bahkan Gunung Ungaran di Semarang.</p> <p>&nbsp;</p> <p><img title="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507a6e8265b04.JPG" alt="Buah Tangan Negeri di Atas Awan" width="550" height="354" /></p> <p><img title="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507a6e026e1c7.JPG" alt="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " width="550" height="825" /></p> <p>Saat perjalanan turun menuju Desa Sembungan, akan tersaji pemandangan Telaga Cebongan yang indah untuk dijadikan tempat berpose sejenak. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Candi Arjuna; lagi-lagi langkah kaki dihentikan oleh pemandangan yang &lsquo;<em>breath-taking</em>&rsquo;. Tampak batuan yang menjulang dikelilingi bunga-bunga kecil berwarna jingga dengan latar belakang awan putih dan langit biru.</p> <p><img title="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507a6acaed4b8.JPG" alt="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " width="550" height="367" /></p> <p>Terlepas dari itu semua, Dieng memiliki fenomena unik, salah satunya yaitu legenda &lsquo;rambut gembel&rsquo;. Menurut legenda, rambut gembel ini merupakan titipan dari Kanjeng Nyi Roro Kidul. Mereka terlahir normal, tidak terdeteksi kapan si anak menerima anugerah tersebut. Namun, biasanya sebelum rambut tersebut terpilin dan menggimbal, si anak akan menderita panas tinggi, kejang dan mengigau. Ada kepercayaan rambut gimbal tersebut harus dipotong sebelum mereka menginjak remaja, sebab akan menimbulkan musibah bagi diri dan keluarganya.</p> <p><img title="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507a6c72cc32e.JPG" alt="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " width="550" height="742" /></p> <p><img title="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507a6d0cc5148.JPG" alt="Buah Tangan Negeri di Atas Awan " width="550" height="355" /></p> <p>Sebagai puncak acara dari Festival Budaya Dieng 2012 dilaksanakan ruwatan untuk anak gembel. Anak-anak berambut gimbal ini mengenakan ikat kepala dengan kain putih sebagai lambang kesucian dan agar diberi berkah setelah pemotongan rambut gimbalnya. Acara dimulai dengan ritual mengelilingi desa dengan arak-arakan barongsai dan &nbsp;<em>rampakyakso</em>. Arak-arakan mengitari Kompleks Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Kompleks Pertapaan Mandalasari dan Kawah Sikidang. Ketika sampai di Sendang Maerokoco, rambut anak gimbal akan dibasuh dengan air sendang yang dikenal dengan istilah prosesi &nbsp;<em>penjamasan</em>.</p> <p>Ritual dilanjutkan dengan acara &nbsp;<em>ondo langit &nbsp;</em>dimana si anak menaiki sebuah tangga dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang mulia. Selanjutnya, diadakan upacara &nbsp;<em>midhang</em>, yaitu si anak mengelilingi sesaji. Harapannya adalah agar si anak dapat mencari penghasilan hidup sendiri. Setelahnya adalah puncak acara yaitu acara ruwatan yang dilanjut dengan mencukur bagian rambut gembelnya. Rambut yang telah dicukur akan dibungkus kain putih, kemudian dilarung di Telaga Warna yang akan mengalir ke Sungai Serayu dengan hilir Pantai Selatan. Pelarungan memiliki arti yaitu mengembalikan rambut titipan tersebut kepada Kanjeng Nyi Roro Kidul.</p> Menjelajah pulau Sikuai, pesona tersembunyi di Sumatra Barat http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/174/menjelajah-pulau-sikuai-pesona-tersembunyi-di-sumatra-barat <p style="text-align: justify;">Pada saat libur mudik, saya menyempatkan bertemu dengan teman lama, karena saya sudah lama tidak pulang ke padang. Saat bertemu, saya mengajak teman saya untuk jalan-jalan. Setelah kami berdiskusi, maka kami putuskan untuk berangkat ke Pulau Sikuai. Pulau sikuai adalah kepulauan kecil yang ada di Sumatra Barat, pulau ini sangat terkenal bagi masyarakat kota Padang, tapi masih jarang diketahui oleh masyarakat umum, apalagi yang ada di luar Sumatra Barat. Untuk menuju pulau ini sangatlah mudah, kita bisa berangkat dari muaro (muara) yang ada di kota Padang. Di daerah muaro ini, cukup kita berangkat dari Dermaga Bahari, dermaga ini khusus untuk keberangkatan menuju Pulau Sikuai, dari dermaga ini juga ada kantor pengelola pulau, yang bisa kita untuk reservasi perjalanan. Perjalanan ke Pulau Sikuai bisa<em> one day traveling</em> dan bisa menginap, untuk perjalanan <em>one day traveling</em> kita membayar tiket sekitar Rp. 100.000. Tiket ini sudah termasuk tiket kapal pulang pergi dan makan siang. Perjalanan ke Pulau Sikuai sekitar 1.5 jam dengan kapal feri, dengan kapal speedboad sekitar 15 menit. Di Pulau Sikuai kita bisa berenang di pantainya, <em>snorkeling</em>, <em>diving</em>, <em>canoieng</em> dan bisa untuk memancing. Pemandangan pulau ini sangat indah, disuguhi air laut yg bening dan biru, pantai yg berpasir putih dan pemandangan perbukitan di sekitar pulau. Di pulau ini juga ada jalur <em>trekking</em> untuk mendaki bukit, pendakiannya cukup tinggi, apabila sampai di puncak bukit, kita bisa melihat 360 derajat mata memandang dari segala arah, makin terlihatlah kecantikan pulau ini. Pulau ini cocok untuk mengisi waktu libur dan bisa menghilangkan dari kepenatan pekerjaan, semoga teman-teman bisa kemari. Selamat traveling :)</p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507bc8fea0c46.jpg" alt="Menjelajah pulau Sikuai, pesona tersembunyi di Sumatra Barat" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507bc910c5e9c.jpg" alt="" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507bc934bb740.jpg" alt="" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507bc94d55a7a.jpg" alt="" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507bc95c7a613.jpg" alt="" width="550" height="826" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507bc96cdd7d0.jpg" alt="" width="550" height="826" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507bc9c558350.jpg" alt="" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: center;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507bc9de707ce.jpg" alt="" width="550" height="826" /></p> Borobudur di Kala Perayaan Waisak, Melihatmu yang tak berkepala mungkin ini yang menginspirasiku.. http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/175/borobudur-di-kala-perayaan-waisak-melihatmu-yang-tak-berkepala-mungkin-ini-yang-menginspirasiku <blockquote> <p style="text-align: justify;">Kala itu, Perayaan Waisak, 6 Mei 2012 menggodaku mengunjungi Candi Borobudur, setelah, entah lah, lebih dari 8 tahun mungkin..</p> <p style="text-align: justify;">Melihatmu, yang tak berkepala, mungkin ini yang menginspirasiku..</p> </blockquote> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507ecf0e3330b.jpg" alt="Borobudur " width="550" height="671" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507ecf2cb3074.jpg" alt="Borobudur " width="550" height="412" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507ecf54bab38.jpg" alt="Borobudur " width="550" height="734" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507ecf7348389.jpg" alt="Borobudur " width="550" height="734" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507ecf99eb656.jpg" alt="Borobudur " width="550" height="412" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507ecfc4d83dd.jpg" alt="Borobudur " width="550" height="412" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507ecffbde280.jpg" alt="Borobudur " width="550" height="412" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507ed01bddaac.jpg" alt="Borobudur " width="550" height="412" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507ed07716014.jpg" alt="Borobudur " width="550" height="412" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/507ed09ef200d.jpg" alt="Borobudur " width="550" height="734" /></p> Satu hari di kota Solo ... http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/171/satu-hari-di-kota-solo <p style="text-align: center;"><em>Misalnya Anda hanya punya waktu satu hari saja untuk menjelajah kota Solo, kira-kira mau ke mana saja </em></p> <p style="text-align: justify;"><br />Beberapa waktu lalu, saya sempat pergi ke Solo untuk 3 hari 2 malam saja tetapi kami hanya punya waktu satu hari saja untuk menjelajah Kota Solo karena di hari yang lain kami akan melihat tempat lain. Kebetulan tempat penginapan kami dekat dengan Jalan Slamet Riyadi sehingga dengan mudah menjelajah satu jalanan itu saja.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Satu hari di kota Solo ..." src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/508e9cab24b1d.jpg" alt="Satu hari di kota Solo ..." width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Oh iya, Jalan Slamet Riyadi itu merupakan salah satu jalan yang terkenal di Solo. Ada beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi di sekitarannya. Selain itu, trotoar di jalan Slamet Riyadi cukup besar, jadi berjalan pun rasanya nyaman. Pertama, tempat yang kami singgahi adalah Taman Sriwedari. Sebenarnya tidak terlalu banyak yang dilihat di sini selain ada beberapa toko souvenir yang menjual mainan daerah.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Berikutnya kami pun beranjak ke Museum Radya Pustaka yang ternyata merupakan museum tertua di Indonesia. Di dalam museum, terdapat beberapa ruangan. Ada ruangan yang diperuntukkan untuk koleksi keris, lalu ada juga yang untuk wayang kulit, gamelan, dan sebagainya. Di dalam museum ini juga terdapat replika beberapa bangunan terkenal di Solo dan sekitarnya, mulai dari Sangga Juwana, Makam Imogiri, dan Masjid Demak. Selesai melihat bagian dalam museum, ternyata di bagian taman belakang ada koleksi beberapa patung dan arca. Apabila berkunjung ke museum ini perlu diingat kalau hari Jumat tutupnya lebih awal, yaitu pukul 11:30, sedangkan hari lainnya tutup pukul 14:30 (hari Senin dan hari libur museum tutup).</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Satu hari di kota Solo ..." src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/508e9d0d3e45d.jpg" alt="Satu hari di kota Solo ..." width="550" height="824" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Satu hari di kota Solo ..." src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/508e9cc7bb2bc.jpg" alt="Satu hari di kota Solo ..." width="550" height="733" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Satu hari di kota Solo ..." src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/508e9d3e748e8.jpg" alt="Satu hari di kota Solo ..." width="550" height="259" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Satu hari di kota Solo ..." src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/508e9ce65a3cb.jpg" alt="Satu hari di kota Solo ..." width="550" height="287" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Selesai melihat-lihat museum, kami pun pindah ke tempat berikutnya yaitu Batik Danar Hadi atau House of Danar Hadi. Sebenarnya tempat ini seperti semacam kompleks karena di dalamnya ada <em>showroom</em> dimana kita bisa membeli bahan kain batik atau pakaian batik yang sudah jadi. Ada juga Soga Restaurant and Lounge dan ada museum batiknya juga. Memang kami ke sini karena tertarik untuk mengunjungi museum batiknya. Ternyata koleksi batik di museumnya banyak juga dan berasal dari beberapa tempat. Ada juga lho batik yang gambarnya karakter kartun seperti Hanzel and Gratel, dan Snow White. Sayang di dalam museum tidak diperbolehkan ambil foto, jadi ya lewat deh. Akan tetapi, hal yang menarik adalah bagian terakhir dari tur di museum batiknya, karena kami mengunjungi tempat pembuatan batik. Di sini kita bisa melihat bagaimana cara pembuatan batik dari awal hingga akhirnya.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, dan waktunya makan siang deh. Di dekat Batik Danar Hadi ada restoran Italia, namanya O Solo Mio. Ke Solo kok makan makanan Italia Ya tidak apa-apa deh, namanya juga lagi berpetualang, mencoba makanan apa saja. Setelah makan siang, saya kemudian menghubungi teman saya yang tinggal di Solo, siapa tahu bisa diantar ke tempat yang lain dan benar kok, dia memang mau mengantar kami ke tempat yang lain tapi masih di seputaran jalan Slamet Riyadi. Ya tidak apa-apa sih, karena memang kami ingin ke PGS alias Pasar Grosir Solo, lumayan borong batik nieh di sini. Harganya murah-murah, dan waktu itu, model yang lagi <em>in</em> ya model batik dengan logo klub sepak bola ya.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Lokasi PGS itu dekat dengan Keraton Kasunanan. Jadi tinggal naik becak saja ke kompleks keraton, karena kalau jalan, sebenarnya bisa akan tetapi ya lumayan jauh. Sampai di depan Keraton, ternyata Keratonnya sudah tutup. Yah sayang banget nih. Sudah sampai di depannya padahal. Ya sudah, masih ada satu Keraton lagi yang bisa dikunjungi nantinya tetapi sebelum ke sana kami memutuskan untuk melihat Kampung Batik Kauman, ini masih dengan becak yang sama. Dari Kampung Batik Kauman ke Keraton Mangkunegaran ternyata jaraknya lumayan jauh, untung naik becak, dan ini sekali lagi masih becak yang sama ya.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Sampai di Keraton Mangkunegaran, kami mencoba masuk ke dalam kompleksnya. Di dalam ada lapangan cukup luas dan sering dipakai untuk main bola warga sekitar. Di samping kanan ada bangunan tua bertuliskan &lsquo;Kavallerie &ndash; Artillerie&rsquo; maksudnya mungkin gudang persenjataan.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Kami pun jalan lurus ke depan menuju pintu gerbang yang sepertinya sudah ditutup. Apakah keraton ini sudah tutup juga ya Sampai di depan pintu gerbangnya, longok kiri kanan, dan memang sudah tutup. Ah, apakah kesorean ya Jadi dalam sehari ini, kami belum berhasil mengunjungi dua Keraton di Solo, walau keesokannya kami menyempatkan untuk mengunjungi Keraton Kasunanan dan berhasil masuk! Jadi kalau mau mengunjungi Keraton, disarankan di pagi hari saja.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Alhasil, kami pun balik ke tempat penginapan untuk istirahat sebentar, mandi, dan makan malam di Soga Restaurant and Lounge sebelum akhirnya kami menutup hari itu dengan menonton wayang orang Sriwedari di Taman Sriwedari. Jadi ini kegiatan kami selama satu hari di Kota Solo, kalau kalian bagaimana </p> Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/172/fun-and-happy-hiking-ke-dieng-plateau <p style="text-align: justify;"><em>Berawal dari rasa penasaran karena membaca dan mendengar cerita orang mengenai Dieng alhasil akhir bulan kemarin berhasil megumpulan orang untuk pergi ke sana.</em><br /><br />Untuk menuju Dieng sebenarnya tidaklah sulit karena banyak kendaraan umum dengan tujuan Wonosobo dapat membantu kita tiba ke Dieng. Akan tetapi, berhubung yang ikut lumayan cukup banyak sekitar 20 orang maka kami menyewa satu bus khusus. Selain dengan itu lebih nyaman juga lebih leluasa.<br /><br /><em>Meeting point</em> di Plaza Semanggi karena memang berada di tengah-tengah kota dan parkir bus juga nyaman. Pukul 7 malam tepat bus berangkat. Perjalanan menuju Wonosobo itu memakan waktu kurang lebih 12-13 jam, <em>beuhhh</em>.. bisa terbayangkan capeknya. Kalo mau repot sedikit bisa naik kereta ke Yogyakarta lalu lanjut travel atau sewa mobil 3 jam menuju Dieng. Selama perjalanan bus <em>ajrut-ajrutan</em> terus, loncat ke sana loncat sini, <em>hihi..</em>, maaf-maaf buat yang duduk paling belakang untung ga <em>nyungsep</em> yaa. Sepertinya karena kondisi aspal yang berlubang dan tidak rata sehingga bus yang berjalan cepat seringkali lompat lompat.<br /><br />Sampai di Wonosobo menunggu sebentar untuk lanjut ke <strong><a href="http://www.indonesia.travel/id/destination/450/dataran-tinggi-dieng" target="_blank">Dieng</a>.</strong> Dengan kendaraan yang sudah dipesan jauh-jauh hari kepada <em>guide</em>, ternyata benar kata orang-orang Dieng tuh negeri di atas awan, karena untuk tiba ke tempat tersebut kita harus melalui jalan berkelok kelok dan semakin tinggi jalanan lebih kecil ditambah kiri kanan jurang. <br /><br /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086ad3c19308.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="367" /></p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086acb8e2bb5.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="367" /></p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Lokasi pertama yang dituju yaitu <strong>Telaga Warna</strong>, itu lho danau yang terkenal dengan 7 warnanya. Sayang sungguh sayang kita datang saat musim kemarau masih melanda jadi sebagian air telaga kering tetapi jauh di ujung sana warna air telaga yang masih ada indah berwarna hijau tosca bercampur kebiruan. Pemandangan sekitar yang serba hijau benar-benar bikin hati dan mata adem!</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086adcc73b7a.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086ae1c81895.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="367" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086ae8bf0b33.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="825" /></p> <p style="text-align: justify;">Puas berfoto di telaga lanjut melihat gua dan sebelumnya juga sempat melihat patung Gajah Emas yang di belakangnya terdapat batu tulis Semar (tokoh pewayangan). Gua pertama yang kami sambangi yaitu Gua Jaran (hmmm ga tau deh apa artinya). Gua ini semakin masuk ke dalam maka semakin menyempit. Katanya bentuk goa ini pun sedikit aneh (kenapa aneh ), silahkan datang sendiri dan lihat seperti apa bentuknya!<br /><br />Gua selanjutnya adalah <strong>Gua Semar</strong> di sini katanya kalo kita minta sesuatu dengan keyakinan penuh maka akan terkabul, <em>hmmm...</em> goa ini dikunci dan untuk masuk ke dalam perlu ritual dan kudu minta ijin sama kuncen tetapi buat yang berani silakan uji nyali Anda untuk masuk ke dalam. GOA terakhir adalah <strong>Gua Pengantin</strong> atau Caving Couple yang kami sambangi.<br /><br /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086aeffceb11.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Makan siang hari itu merupakan kami menyantap makanan khas Dieng yaitu <strong>Mie Ongklok</strong> dan Sate Sapi yang rasanya yaa gitu deh ga terlalu suka tetapi berhubung lapar langsung habis. O&rsquo;ya yang paling enak adalah gorengan tempenya plus sambel dieng, mantap surmantap.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086af3e11849.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Puas makan, kami langsung ke yang merupakan rumah besar berwarna pink dengan ornamen di dalamnya pun serba pink. Itu termasuk warna seprei, bed cover, sarung bantal, guling, hingga sofa and cet temboknya. 1 kamar muat untuk 3 orang dengan kamar mandi di dalam dan tersedia air hangat. Pas buka sendal and injek ubin brrr dingin sekali.<br /><br /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086af8ba1c81.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="825" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086afcbcc851.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="825" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Perjalanan dilanjutkan dengan wisata candi, letaknya tidak terlalu jauh dari penginapan. Terdapat beberapa candi kecil di Dieng, di antaranya Candi Arjuna, Bima, dan lainnya. Terhampat lapangan rumput hijau berlatar gunung uang indah.<br /><br />Sore hari acara bebas karena tadi sempet lihat penjual es cendol durian jadi akhirnya mampirlah disitu. Hmm... ternyata durian di Dieng lumayan enak kok, untuk jajanan untuk bakso rasanya biasa, sate juga biasa karena daging kambingnya alot, martabak manis juga biasa, martabak telor tidak jauh berbeda seperti di Jakarta.<br /><br />Kami sempat juga menikmati sunrise attack di <strong>Gunung Sikunir</strong> tetapi karena musim kemarau maka kabut di gunung menjadi tebal dan aneh bin ajaib ga begitu dingin ternyata lebih dingin daripada di Dieng. Penanjakan Gunung Sikunir termasuk biasa saja, memang cukup melelahkan buat yang jarang berolah raga tetapi mudah untuk dilalui meski harus berhati-hati karena kanannya jurang. Sekira 3/4 jalan kita melihat Matahari mulai muncul. Pemandangan dari atas Gunung Sikunir sangat indah.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086aff7f2fef.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="825" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086b02c4c47a.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="367" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086b083b5673.JPG" alt="" width="550" height="367" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086b0bb96113.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="367" /></p> <p style="text-align: justify;">Lelah mengejar Matahari akhirnya kami pun kembali ke penginapan untuk sarapan. Setelah membereskan barang berikutnya menjelajah <strong>Kawah Sikidang</strong>. <em>Hmm</em>... panoramanya kurang lebih sama seperti Kawah Domas di <a href="http://www.indonesia.travel/id/destination/392/kawah-tangkuban-parahu" target="_blank"><strong>Tangkuban Parahu</strong></a>, hanya saja kawah disini lebih berbahaya karena airnya berombak dan bergemuruh. Beberapa saat lalu sempet ditutup karena mengeluarkan asap beracun.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086b0e1977ad.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="367" /></p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086aed3dbdbc.JPG" alt="Fun and Happy Hiking ke Dieng Plateau" width="550" height="367" /><br /><br />Acara perjalanan kami pun ditutup dengan makan siang dan naik perahu di <strong>Telaga Menjer</strong> yaitu merupakan danau terluas di Wonosobo. Kami pun akhirnya pulang kembali ke Jakarta.<br /><br /><em>Pesan: Jangan lupa belanja oleh-oleh seperti pepaya carica, kopi dieng, terong belanda, dan tentu aja cabe dieng!</em></p> <p style="text-align: justify;"><em><br /></em></p> Unforgetable Sempu Malang http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/173/unforgetable-sempu-malang <p style="text-align: justify;">Perjalanan kali ini punya kisahnya tersendiri, <em>became a true backpacker!</em> Hahah... lebih tepatnya petualang sejati mungkin. Untuk menuju Malang banyak akses yang bisa dipilih dari mulai pesawat, kereta sampai bus. Pilihan saya jatuh pada kereta (kenapa ), karena hari itu bertepatan dengan hari libur panjang dan saya tidak mau ambil resiko dengan naik bus karena pasti macet total. Naik kereta pun kita tetap harus memilih, pilih yang nyaman, biasa atau super biasa hahahah alias ekonomi. Pilihan lagi lagi jatuh pada yang paling murah kereta ekonomi Matarmaja. Yup.. mungkin bagi sebagian orang akan mentertawakan saya dan sedikit <em>underestimate</em> ga mungkin tahan naik kereta 17 jam duduk tegak hihi tetapi ini juga namanya pilihan jadi saya pasti terima segala resikonya.<br /><br />Singkat cerita hari yang ditunggu tiba bersama 11 orang kawan lain memulai perjalanan panjang itu. Kesan pertama di KA Matarmaja <em>puanasss sekaleee</em> kirain mah bakal rame kaya ikan pepes ternyata kosong and lenggang aja tuhhh. Bahkan si 'boss' bisa duduk sendirian dengan 3 kursi, beuhh. Sebagian waktu dihabiskan dengan tidur tidur dan jajan, hahah ini yang saya suka naik ekonomi setiap stasiun berhenti dan banyak pedagang menjajakan jualannya dari mulai nasi rames, nasi pecel, pop mie, telor asin, nasi sate, nasi kuning, nasi goreng, baju batik, maenan anak, ikat pinggang, sendal jepit, rujak beuhh pokoknya komplit semua disini hahah jadi inget masa kuliah naik kereta ekonomi. O&rsquo;ya yang pling bikin seneng harganya semuaaaa terjangkauu cuma berkisar 1.000-5.000 rupiahh, sampe penuh perut beli ini itu, hahhahah... Untung ga kena tipes ya.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Sebenarnya naik ekonomi yang bikin bosen cuma 1 yaitu kita ga tau harus ngapain saat semua alat elektronik yang kita bawa MATEK hahahah... Hiks sedih disaat kita ga bisa update status, ga bisa berbagi perasaaan di dalam kereta dengan teman-teman maya. Jadi yaa paling cuma ngobrol dan tidur lagi tidur lagi. Akan tetapi, di sini kita banyak belajar, belajar utk berkenalan dengan teman sebangku kita mungkin, atau teman di samping di depan ataupun di belakang. Ya, semua yang di sini ga ada tuh yang sombong, diem... Pasti semua akan berbicara dengan yang lainnya, entah basa basi tanya turun di mana, mau ngapaian, sama siapa, sampai tanya kerja dimana atau mungkin sama-sama gangguin pedagang yang lewat.<br /><br />Malam semakin larut dan laju kereta punn kian menyurut di tengah kantuk yang mendera, ditemani suara hiruk pikuk pedangan yang lewat tanpa habisnya saya pun mulai terlelap sambil sesekali terbangun hanya untuk liat jam.</p> <p style="text-align: justify;">Kereta Matarmaja mulai berhenti pukul 07.45 di stasiun terakhir Malang Kota Baru. Senang akhirya saya bisa menginjakkan kaki di Malang. Ahaha, setelah dulu ingin ke sini tetapi tak pernah kesampean, sekarang <em>sampe juooo</em>, hihii. Satu Kata buat kota Malang... Panas!<br /><br />Setelah bertemu <em>driver</em> maka selama di kota Malang nanti, trus langsung lanjut ke tempat penyewaan tenda dan <em>cuss</em> ke Sendang biru. Perjalanan lumayan memakan waktu lama tetapi berhubung kita semua sudah kelelahan, bahh di kereta pann cm duduk doank) akhirnya semua terlelap. <br /><br /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Unforgetable Sempu Malang" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086a3183b673.JPG" alt="Unforgetable Sempu Malang" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Sendang biru itu bisa dibilang pelabuhan kali yaa karena banyak perahu-perahu nelayan tertambat di situ. Untuk tiba ke Pulau Sempu kita perlu menyebrang dari sini, waktunya Ga perlu berjam-jam cukup 10-15 menit nyampe deh ke Teluk Semut (ni dia tempat yang bakal kita kangenin). Dengan menenteng dan menggendong semua perlengkapan tempur kita mulai perjalanan panjang itu. Jam menunjukkan pukul setengah 3 sore.<br /><br /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Unforgetable Sempu Malang" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086a17ad2f62.jpg" alt="Unforgetable Sempu Malang" width="550" height="413" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Unforgetable Sempu Malang" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086a47c89093.JPG" alt="Unforgetable Sempu Malang" width="550" height="933" /></p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Unforgetable Sempu Malang" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086a2c332c36.jpg" alt="Unforgetable Sempu Malang" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Unforgetable Sempu Malang" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50869d508c39e.jpg" alt="Unforgetable Sempu Malang" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />1 jam pertama masih dilalui dengan ketawa-ketiwi foto sana-sini dan bersih dari lumpur. Akan tetapi, kemudian sampai bertemu orang-orang yang baru balik dari Segoro Anakan liat kondisi kaki dan celana mereka rada bertanya juga dalem hati, itu lumpurr ga salahhh ampe sebetis Ketika kita tanya mass mbaa masih berapa lama lagi Jawaban semua orang pasti sama, <em>2 jam-an lagii...</em> Awalnya kita tetep semangat tetapi 2 jam berlalu... setiap berpapasan dengan orang yang balik kenapa jawabannya tetep sama yaa 2 jam lagi ... Langit mulai menggelap, suara-suara hewan liar di hutan mulai bersahutan dan jalanan kian licin dan berlumpurrr. Oh God pengen nangis banget saat itu. Manah bawaan juga berat dan ga ada option untuk kita berhenti karna bahaya bisa kemaleman di hutan dan digigit harimau lagi. Bueeehhhhh semogaa boongan yang ini.<br /><br /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Unforgetable Sempu Malang" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086a20f51577.jpg" alt="Unforgetable Sempu Malang" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Setelah hampir 4 jam kita <em>trekking</em> melewati jalur yang sulit, bahkan harus melipir di tebing yang tidak kelihatan jalanannya karena gelap gulita dan penerangan yang seadanya. Suara deburan ombak bisa juga terdengar dan mulai terdengar suara orang yang bermain di air dan terlihat sinar senter. Horay! Akhirnyaa sampee, tetapi ternyata kesenangan kita langsung berhenti saat itu juga karena, jeng jengggg... hujan deras! Bahh belum bikin tenda, belum sempet istirahat pelemasan otot kaki udah musti bersusah payah lagi bangun tenda dan basah kuyubbb. Ga cuma badan dan baju yang dipakai yang basah tapi bawaaan sampe peresediaan makan malam juga basah. Alamak... Berasa jadi Yunus saat di kapal dan kena angin ribut, kurang lebih 1 jam kita semua berusaha membangun tenda dan merapihkan semua.<br /><br />Akhirnya hujan mulai reda dan kita semua udah masuk tenda masing-masing. Beuhh... tenda yang muat hanya 5 orang akhirnya diisi 6 orang. Hahah, kaki bisa satu gaya aja dan ga bisa ngapa-ngapain gerak kanan kiri saja tetapi lumayan bisa menghangatkan. Jujur ini bakal jadi pengalaman seumur hidup yang ga bakal dilupakan. Tetap bersyukur karena ga ada yang terluka dan bisa ngelewatin malam ini dengan baik.<br /><br /><br /><strong>Pukul 4 dini hari</strong><br />Karena kaki keram dan suara di luar tenda ramai maka akhirnya bangun pula kita. Ketika membuka tenda suhunya tidak terlalu dingin dan menatap ke langit nampak taburan bintang lalu lurus ke depan deburan ombak yang menghantam karang menyimpankan pengalaman yang tidak bakal terlupakan.<br /><br /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Unforgetable Sempu Malang" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086a341412d9.JPG" alt="Unforgetable Sempu Malang" width="550" height="845" /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Unforgetable Sempu Malang" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086a395526db.JPG" alt="Unforgetable Sempu Malang" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Saat Matahari mulai bercahya, kita mencoba naik ke atas karang dimana dapat melihat pemandangan lautan lepas sekaligus landskap Segara Anakan dari atas. Ternyata panoramanya indah sekali sesuai dengan foto-foto yang beredar di Google. Tenda kami yang berwarna warni menambah indah pemandangan pantai segara anakan. Puas berfoto di atas karang langsung berbenah tenda dan <em>packing</em> untuk truss cuss balik ke Sendang Biru. <br /><br /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Unforgetable Sempu Malang" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086a25a2843b.jpg" alt="Unforgetable Sempu Malang" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Perjalanan kembali sama beratnya ketika datang yaitu dengan menggendong matras <em>backpack</em> dan <em>sleeping bag</em>. Mencoba menerobos hutan, kali ini lucunya bukan kita lagi yang tanya kepada orang berapa jam lagi tiba di jalan tetapi kita jawabannya sama aja 2 jam lagi!<br /><br />Hampir 3/4 perjalanan dilewati, terjadilahh malapetaka itu. Tamparan Tuhan untuk kedua kali mendarat tepat di kaki saya, hikkkk.... Jadi kronologisnya gini... (cailahhh) berhubung kaki saya terus kepentok dan saya ngerasa seperti mau copot tuh kuku dan sakitnya minta ampun pake sepatu karet itu akhirnya saya memutuskan utk istirahat sejenak dan duduk sebentar. Saya biarkan teman-teman jalan terus dan menunggu si 'boss' muncul karna kebetulan emang si boss ketinggalan jauh di belakang.<br /><br />Baru duduk sebentar kemudian datang 2 orang bapak yang bertanya dan saya pun menjawab lagi istirahat dan menunggu teman. Awalnya ia menemani cuma berhubung saya jd ga enak hati ditungguin jadi saya bilang aja duluan, eh bapaknya juga ga enak hati ninggalin saya akhirnya bilang bareng aja dan nanti sepatu dan tas nya dibawain. Haha tanpa pikir panjang, saya iya iya aja secara seneng kan barangnya ada yang bantu bawa tetapi justru disitulah kejadian itu terjadi, karena ga pake sepatu maka jalan saya pun makin licin dan ga sampe 5 menit tiba tiba trak saya kepeleset dan jempol terantuk ke batang pohon apa kayuu gitu dehh, saya ngerasain sakit di jempol dan pas angkat kaki dan pegang kuku, tesss darah segar mengalir bercampur lumpur. Huahhhh shock bukan main dan sakit minta ampun. Tuhan tolong tangis tersedu-sedu pun meledak. Si bapak mencoba menenangkan cuma ya di tengah hutan bersama orang ga dikenal dan kondisi kaki begitu siapa juga yang ga panik.<br /><br />Ga berapa lama tim si bapak yang bilang dari pos indonesia itu datang. Salah satunya dokter, dia langsung membantu memberikan pertolongan pertama. Kaki saya disiram air yang tinggal sedikit trus dilap darahnya pake daun kemudian jempol saya diikat pake bandana yang ada di kepala. Benar-benar ga ada apa-apa selain itu dan ingin mengakhiri hari itu secepatnya. Sudah selesaikah urusan rawat lukaa Ternyata belum, perjuangan sampe di finish masih harus menempuh waktu kurang lebih 1 jam lagi dengan medan berlumpur. 1 jam penuh perjuangan dengan kaki satu terluka dan satu lagi memar kudu ngelewatin jalan berlumpur, licin dan penuh akar serta tanjakan dan turunan dan masih lagi ditambah pikiran harus ke rumah sakit kudu cabut kuku. Oh no! <br /><br />Akhirnya sampai juga di tujuan akhir, perasaan sedikit lega menghampiri juga. Lalu menyebrang ke sendang biru dan langsung ke rumah sakit. Setelah 2 jam perjalanan akhirnya sampai juga di RS besar dan kaki saya harus operasi kecil dan cukup menguras kantong. Ya sudahlah Tuhann saya ikhlas.<br /><br /></p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Unforgetable Sempu Malang" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5086a4fe868b8.JPG" alt="Unforgetable Sempu Malang" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Dari RS langsung lanjut makan malam dan menuju penginapan di Bromo. Malam itu menjadi malam terpanjang ditemani 'boss' yang sama ngantuknya kami mengakhiri perjalanan panjang di hari ini. Terima kasih Tuhan setidaknya saya masih mampu tertawa dan tersenyum menghadapi ini semua meski kuku mesti hilang satu.</p> <p style="text-align: justify;"><em>Sampai jumpa Sempu... sampai bertemu ketika kuku saya telah sembuhhh hihihi</em></p> Ranu Kumbolo : Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/165/ranu-kumbolo-diskusi-pagi-dan-alam-yang-begitu-romantis <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50912b6d6df11.jpg" alt="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" width="550" height="365" /></p> <p style="text-align: justify;">Dingin sedikit masih terasa, sambil duduk di pinggiran Danau Ranu Kumbolo aku berdiskusi bersama Chandra tentang banyak hal. Tentang konservasi, sosial kehutanan, dan hakikat manusia dalam kehidupan. Kami berlindung di bayang pohon yang meneduhkan dari sengatan Matahari pagi.</p> <p style="text-align: justify;">Sabtu pagi, 27 Oktober 2012, sambil memandang jauh ke sekeliling Ranu Kumbolo, aku terpikir tentang begitu besarnya jasa dan beratnya pekerjaan yang sebenarnya ada di hadapan kami yaitu menjaga kawasan hutan dan melindunginya, "Coba sesekali Mentri Kehutanan di bawa ke sini ya Chan..". Aku memulai obrolan kami dengan membayangkan seandainya Bapak Mentri Kehutanan juga ada di sana saat itu. Aku ingin banyak bercerita tentang betapa luasnya hutan yang harus dijaga dan berapa beratnya pekerjaan yang harus dilakukan.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50912bfe222aa.jpg" alt="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: justify;">Sepanjang perjalanan ketika memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kami disuguhkan pemandangan memprihatinkan. Kanan kiri hutan yang menguning akibat kemarau panjang sebagiannya telah habis terbakar. Di beberapa titik, asap masih terlihat mengepul ke udara, bukit-bukit tandus menjulang terjal menggambarkan kerasnya kehidupan di sana. Aku tidak bisa bicara banyak, dalam hati berfikir tentang mereka, sahabat-sahabat yang dengan teguh terus berjuang menjaga ekosistem hutan dan rela hidup jauh di ujung-ujung bukit dan hutan-hutan. Kemarau memang tahun ini terbilang panjang, rumput dan pohon-pohon nampak kering dan sebagian menguning, memang gampang termakan api. Di sini, Gunung Semeru memberi raut wajah dengan jurang-jurang dalam dan bukit-bikut menjulang, aku semakin merinding membayangkan pekerjaan mereka yang luar biasa.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50912c2c4e20d.jpg" alt="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: justify;">Pembicaraan kami berlanjut pada pekerjaan yang begitu besar yaitu menjaga kawasan hutan tidak mungkin bisa dilakukan sendiri. Konsep pembelajaran dan penularan pemahaman akan konservasi kepada masyarakat mungkin menjadi hal yang layak dipilih, "Mustahil jika hanya mengandalkan orang kehutanan untuk menjaga hutan, bayangkan saja seandainya di Ranu Kumbolo kita tempatkan satu petugas yang bisa menjamin kelestarian Ranu Kumbolo, itu tidak akan bisa terjadi dan bayangkan apabila harus menjaga kawasan yang luasnya ribuan hektar". Diskusi ini kami jalani entah dengan motifasi apa, mungkin karena jiwa lelah atau memang atas kecintaan pada alam, entahlah.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50912ccf723ea.jpg" alt="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Ranu Kumbolo masih tenang, segumpal kabut sepertinya akan datang dan mulai memasuki celah dua bukit yang ada di Timur danau. Kami masih duduk sambil menghisap rokok yang tinggal sebatang. Sesekali gadis-gadis berlalu lalang di depan kami untuk mencuci peralatan makan mereka ke tepian danau. Angin lembut terasa menaikkan bulu roma, dingin dan segar sekali.</p> <p style="text-align: justify;">Kabut tipis mulai menutupi permukaan danau yang tenang, aku masih berdiskusi tentang sudut pandang manusia tentang alam. Kami terfikirkan tentang satu hal, tentang keinginan dan hasrat memiliki yang selalu di tonjolkan manusia. Sebegitu kuatnya hasrat ini sehingga hampir setiap orang bisa mengklaim bahwa mereka memiliki sumber daya alam. Sampai akhirnya kami tertawa lepas, menertawai diri kami yang juga mungkin termasuk ke dalam manusia itu sendiri.</p> <p style="text-align: justify;">Dingin semakin terasa, aku lingkarkan selimut pemberian mama di Flores untuk sekedar menghangatkan tubuh. Sesekali aku melihat bukit-bukit yang menguning di sekeliling Ranu Kumbolo, meresapi angin dinging dan jejeran tenda penuh warna yang menghampar di pinggiran danau.</p> <p style="text-align: justify;">Matahari mulai tinggi, kabut semakin lama semakin menutupi permukaan Ranu Kumbolo. Perut yang tadi diisi dengan sarapan nasi goreng sudah mulai terasa lapar. Sambil berjalan di tepian danau, kami sesekali singgah di tenda-tenda pendaki lainnya. Salam dan sapaan hangat selalu beriring tawa, inilah gaya khas pendaki gunung. Entah kenal atau tidak, di alam kita semua menjadi sahabat. Aku sedikit memahami, 3 bulan lebih aku hidup di Surabaya, hampir dibilang tidak pernah menemukan teman baru. Namun di gunung, 2 hari saja semua sudah seperti berteman sejak lama.</p> <p style="text-align: justify;">Riuh suara pendaki mulai terdengar kembali, siang di Ranu Kumbolo banyak didatangi pendaki-pendaki yang baru sampai. Mereka memulai perjalanan dari Ranu Pane sejak pagi. Tempat-tempat yang tadinya kosong kini mulai berdiri tenda-tenda pendaki.</p> <p style="text-align: justify;">Aku, Chandra dan Ari memilih untuk naik ke sebuah punggungan bukit dan menjajal Tanjakan Cinta. Tanjakan Cinta sangat terkenal di kalangan pendaki khususnya mereka yang sudah pernah ke Gunung Semeru. Ada banyak cerita dan pandangan mengapa tanjakan ini diberi naman Tanjakan Cinta. Ah saya tidak mau ambil pusing, yang saya pikirkan mungkin ini diberi nama Tanjakan Cinta karena tanjakan ini menjadi jalur pertama pendaki meninggalkan Ranu Kumbolo untuk menuju Puncak Mahameru, dan tentunya itu sangat berat mengingat keindahan dan kenyamanan yang disajikan Ranu Kumbolo.</p> <p style="text-align: justify;">Sore datang dengan kabut tipis yang mulai menutupi Ranu Kumbolo. Di pinggiran danau aku merasakan rindu yang cukup besar. Kabut yang begitu romantis, ingin rasanya aku kemas dan aku bawa pulang atau memikirkan bagaimana caranya untuk bisa membawa ini semua dalam kehidupan yang setiap hari dijalani. Aku mulai berimajinasi. Ah semakin gila saja rasanya untuk memuaskan hasrat dan saat itu aku lupa hakekat menjadi manusia.</p> <p style="text-align: justify;">Sambil berkaca di air danau yang bening, setelah mencuci muka dan sikat gigi aku melihat teka teki alam dan diriku sendiri. Entah sampai kapan aku bisa menjadi jiwa yang mengambang seperti ini, fikiran yang terus di racuni oleh data-data kerusakan alam dan bayang bencana luar biasa.</p> <p>Angin tipis datang menberi riak di pinggir kayu tempat aku berdiri, sebelum menjadi lebih gila aku buang jauh-jauh pemikiran ini. Air danau yang tenang, menjadi berriak ketika aku masukkan botol air untuk mengisi air minum. Sore datang, dalam tawa kami nikmati santapan hangat bersama kabut� dan Ranu Kumbolo begitu tenang.<br /><br />Uno... hahaha.. tawa selalu lepas dari dalam tenda yang berisi tiga orang ini. Aku masih belajar bermain Uno, permainan yang sebenarnya tidak asing di kalangan anak muda. Kami bertiga berlomba entah untuk apa, bermain Uno dan mencoba memenangkan permainan untuk bisa mengalahkan lawan. Kegiatan ini dilakukan hanya untuk bisa menimbulkan tawa. Waktu di Ranu Kumbolo tidak semahal waktu-waktu di kota besar.<br /><br /><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50912bd43d8de.jpg" alt="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" width="550" height="827" /></p> <p>Malam sudah cukup dingin, gelap sudah pekat dan kebosanan bermain Uno sudah datang. Aku memilih keluar tenda dan Chandra ingin tidur sebentar. Di jejeran tenda-tenda pendaki, aku ikut bergabung bersama teman-teman dari Malang yang tengah melingkar di api yang mereka buat. Sambil meminum kopi kami banyak belajar bahasa Polandia dari beberapa pelajar asal Polandia yang juga ikut mendaki. Tawa pecah menghangatkan suasana keakraban, cahaya yang ditimbulkan dari api yang kami buat memberi cahaya samar menerpa wajah kusam. Panas dari api cukuplah untuk menghangatkan malam yang mulai dingin. Di atas, bulang memang belum penuh namun cukup memberi penerangan untuk Ranu Kumbolo malam ini. Waktu sudah mulai malam, beberapa pendaki juga masih berdatangan dan membangun tenda di beberapa tempat yang masih kosong. Semua pendaki sibuk dengan acara masing-masing, menikmati hidup mereka dengan malam Ranu Kumbolo yang beku dan tenang.<br /><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50912c80a7e6c.jpg" alt="Ranu Kumbolo ; Diskusi Pagi dan Alam yang Begitu Romantis" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: justify;">Pagi 28 Oktober 2012, hari ini sebagian orang telah berkumpul di pelataran Ranu Kumbolo. Mereka berbaris membentuk lingkaran, menghadap pada satu titik fokus, Tiang Bendera. Tepat pukul 10 Pagi, upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda dimulai. Cuaca begitu cerah, langit begitu biru dan angin yang tenang. Merah putih berkibar tenang di ujung tiang bambu. Ranu Kumbolo kembali menjadi saksi semangat dari pemuda-pemuda Indonesia yang berada di sana. Sampai aku pulang, aku masih terus memaknai kalimat penyemangat yang tadi bergema, "<em>Suatu negara tidak akan kekurangan pemimpin bangsanya jika negara tersebut masih memiliki banyak pemuda yang mencintai alamnya</em>".</p> Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/166/pesona-tersembunyi-curug-sidoharjo <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50913f009255d.JPG" alt="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" width="550" height="366" /></p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50913eee0a86a.JPG" alt="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: justify;">Terletak di Pedukuhan Gonolangu, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Jaraknya sekira 5 km dari Pasar Dekso. Jika datang dari kota Jogja maka memakan waktu 1,5 jam berkendara. Perjalanan saya dan beberapa teman menggunakan kendaraan terhenti ketika jalan menuju Curug Sidoharjo sudah tidak bisa dilalui lagi sehingga kami harus memarkir kendaraan di rumah penduduk.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50913fb9a316e.JPG" alt="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5091401d7bb04.jpg" alt="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5091403282800.jpg" alt="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Selanjutnya kami melawati jalan setapak di pinggir sawah dan hutan dengan rute yang menantang. Hamparan sawah luas dan hutan lebat yang penuh dengan beraneka tumbuh-tumbuhan, serangga dan hewan lainnya. Jika beruntung Anda bisa melihat kera ekor panjang yang bergelantungan di tebing-tebing.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5091407656103.JPG" alt="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" width="550" height="826" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Perjalanan yang kami lalui cukup panjang dengan jurang di satu sisi dan tebing di sisi satunya. Bercampur suguhan keindahan alam yang sungguh luar biasa. Lebatnya hutan dan kadang ada beberapa rintangan menanjak ataupun turunan yang menurut kami cukup seru dan menantang. Akhirnya sampailah kami di Curug yang pertama, curug kecil yang sungguh deras, tingginya hanya sekitar 5 meter, air yang jernih memaksa kami untuk istirahat sejenak untuk menikmati keindahannya.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5091405f398ef.JPG" alt="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" width="550" height="826" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509140ae1491e.JPG" alt="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509140c4cefea.JPG" alt="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" width="550" height="826" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Curug sidoharjo mempunyai ketinggian 75 meter dan aliran air yang menyesuaikan dengan curah hujan dan musim. Dinding yang indah ditumbuhi tumbuhan hijau menawan menjadi pemandangan dan obyek berfoto yang sangat menarik. Tak banyak batu dan terdapatnya kolam di bawah air terjun akan menjadi dayak tarik sendiri untuk mandi dan berbasah-basahan menikmati segarnya air alam yang begitu dingin dan segar.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5091409703eb0.JPG" alt="Pesona Tersembunyi Curug Sidoharjo" width="550" height="826" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Sayang kami tidak bisa melihat air mengucur deras dari air terjun ini karena kami datang bukan pada saat musim hujan deras. Akan tetapi, keindahan dan tingginya tebing tetap membuat kami kagum dengan tempat ini. Kanan kirinya penuh rerumputan dan pepohonan membuat tempat ini semakin indah. Curug Sidoharjo ini pernah dijadikan area shooting salah satu iklan Minuman Berenergi.</p> Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/167/nelayan-jadi-jadian-di-teluk-bone <p style="text-align: justify;">Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk menghabiskan waktu selama satu bulan di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Kota ini dihuni mayoritas warga bugis yang ramah. Saya tinggal di suatu perkampungan nelayan di Kelurahan Ponjalae, Kecamatan Wara Timur. Masyarakatnya ramah dan pekerja keras. Setiap hari saya menyaksikan langsung bagaimana lelaki pergi melaut dan wanita menjual ikan di pelelangan bersama anak-anak mereka yang membantu menjemur ikan.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506b9985596f3.JPG" alt="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Suasana alamnya indah dibalut <em>sunrise</em> setiap paginya menjadikan suasana perkampungan nelayan selalu hidup dan penuh semangat. Rumah-rumah panggung dan hamparan rumput laut serta ikan asin yang dijemur menjadi pemandangan biasa. Saat berjalan-jalan di kotanya kita akan digoda aroma ikan bakar di setiap perempatan.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506b9db4aa0e7.JPG" alt="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Seperti tempat lain di Indonesia, masyarakatnya memperlakukan saya sebagai tamu dengan sangat baik. Sering sekali saya mendapat undangan makan siang atau makan malam dari warga untuk mencicipi hasil tangkapan ikan berupa ikan, kerang, kepiting dan cumi-cumi. Semua dimasak dengan bumbu-bumbu khas Sulawesi Selatan yang menggugah selera.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506ba10721e4a.jpg" alt="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" width="550" height="550" /></p> <p style="text-align: justify;">Hidup di perkampungan nelayan yang jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari tentu sangat menyenangkan. Satu yang sangat terasa adalah masyarakatnya yang senang berpesta, berkumpul bersama dan bergembira. Akhir pekan pertama masyarakat mengajak saya dan beberapa teman untuk piknik di sebuah pulau tidak jauh dari dermaga. Pulau Libukang namanya. Di pulau yang jaraknya lima belas menit dari pelabuhan tersebut kami berpesta, berbagi tawa sambil mengipas ikan dan kerang yang sedang dibakar. Tidak satu pun beban bergelantung di wajah mereka, yang ada hanyalah kegembiraan dan kebersamaan.</p> <p style="text-align: justify;">Di suatu sore yang cerah, Bang Marwan, salah satu pegawai Kelurahan Ponjalae mengajak saya dan beberapa teman untuk ikut melaut, merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi nelayan. Ajakan ini tidak mungkin saya tolak, siapa yang rela melewatkan kesempatan yang mungkin sekali seumur hidup seperti ini </p> <p style="text-align: justify;">Keesokan harinya berangkatlah saya dan beberapa teman ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Palopo, tempat yang kami sepakati untuk berkumpul sebelum melaut. Disanalah &lsquo;Jallo&rsquo;ro&rsquo; atau perahu motor kecil kami berlabuh. Melihat kondisi perahu motornya yang kecil dan ombak yang lumayan besar, beberapa teman saya mengurungkan niatnya untuk ikut. Apalagi setelah Bang Marwan mengatakan bahwa jika cuaca buruk, kami bisa tinggal di lautan selama 2 hari. Hanya saya dan empat teman lainnya yang tetap pada pendirian awal.</p> <p style="text-align: justify;">Dengan Jallo&rsquo;ro mungil itulah kami berlayar ke tengah Teluk Bone. Angin laut dengan wangi asin yang khas serta semburat Matahari senja di balik pegunungan Toraja membuat saya merasa kembali kemana saya berasal. Gerombolan Lumba-lumba yang berkejaran juga jadi pengalaman menarik untuk disaksikan. Ini adalah kali pertama saya melihat lumba-lumba yang cantik berenang bebas di samping perahu motor kami.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506b9decb0882.JPG" alt="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Setelah tiga jam perjalanan maka tibalah kami di Bagan yaitu perahu ukuran kapal tempat nelayan menjaring ikan. Tidak ada tangga sama sekali untuk menaiki bagan ini, jadi jika hendak menaikinya kami harus melompat ke atas, menjangkau tiang-tiang kayu dan tentu saja harus disesuaikan dengan ritme gelombang laut. Jika gagal, tentu saja kami terjatuh ke Teluk Bone yang ombaknya besar. Untunglah saya dan teman-teman lain berhasil naik ke bagan walaupun teman saya hampir jatuh namu segera dibantu nelayan lain.</p> <p style="text-align: justify;">Bagan ternyata tak seperti yang saya bayangkan. Awalnya saya berpikir bagan keseluruhan memiliki lantai kayu, namun ternyata tidak. Hanya beberapa bagian saja yang memiliki lantai utuh, selebihnya hanya kayu-kayu yang saling menyilang satu sama lain membentuk &lsquo;pematang-pematang&rsquo; panjang dengan lobang ditengahnya (yang bila tidak hati-hati kita bisa jatuh dan hilang di dalam teluk). Di sanalah nelayan-nelayan berselonjor menanti waktu jaring diangkat, sambil mengobrol dan menikmati kopi. Tak saya sangka, nelayan-nelayan bertubuh tegap dengan otot menonjol itu ternyata sangat ramah. Mereka bahkan mengajak saya dan teman-teman untuk menikmati kopi bersama.</p> <p style="text-align: justify;">Lewat tengah malam sampailah kami pada waktu jaring diangkat. Lampu-lampu yang awalnya dihidupkan untuk menarik perhatian ikan kemudian dipadamkan. Nelayan dibantu saya dan teman-teman mulai menarik kumparan untuk mengangkat jaring ke atas. Perlahan-lahan, jaring-pun terangkat berikut ikan-ikan di dalamnya. Ternyata hasil tangkapan kami malam itu tak hanya ikan. Kami mendapatkan cukup banyak cumi-cumi dan lobster. Tangan para nelayan dengan sigap memasukkan hasil tangkapan ke dalam keranjang-keranjang yang telah disediakan.</p> <p style="text-align: justify;">Seorang nelayan mengambil beberapa ikan dan cumi-cumi kemudian memasaknya di dapur bagan. Selang berapa menit, ia datang dengan satu mangkok besar ikan dan cumi-cumi yang telah dimasak. Kami-pun duduk melingkar menikmati makan malam hasil tangkapan. Meskipun tidak dimasak dengan bumbu-bumbu, saya bisa katakan bahwa ini adalah ikan dan cumi-cumi terenak yang pernah saya makan. Rasanya manis dan dagingnya empuk, mungkin karena dimasak dalam keadaan segar. Nah, jauh sebelum makanan bernama sushi itu <em>booming</em> dan punya stand di hampir setiap mall, kita ternyata sudah punya sushi di Palopo, namanya Pocok. Rasanya hampir sama dengan Sushi, bedanya tentu pocok tidak dikemas sekian rupa sehingga kalah tenar dengan Sushi yang datangnya dari Negara idola remaja-remaja Indonesia saat ini.</p> <p style="text-align: justify;">Jam 2 pagi, saya dan teman-teman merasa kelelahan sehingga kami memutuskan untuk beristirahat di ruangan bagan. Barulah jam setengah 6 pagi saya dan teman-teman dibangunkan untuk segera kembali ke daratan. Keranjang-keranjang hasil tangkapan satu persatu diturunkan ke Jallo&rsquo;ro. Saya dan teman-teman menyusul setelahnya. Jallo&rsquo;ro kami pun berlayar menuju Pulau Sulawesi ditemani angin pagi laut yang ternyata dingin sekali.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506b9aaebb65b.jpg" alt="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" width="550" height="550" /></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img style="vertical-align: middle;" title="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/506b9a6855ba1.JPG" alt="Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">3 jam berlalu, akhirnya tibalah kami di pelelangan ikan, tempat Jallo&rsquo;ro kami berlabuh. Seketika kami dikerubuti oleh calon pembeli yang langsung menawar harga hasil tangkapan kami. Satu persatu hasil tangkapan kami berpindah tangan dan rupiah demi rupiah pun mengalir ke kantong pak nelayan. Begitulah pengalaman saya semalam menjadi nelayan &lsquo;jadi-jadian&rsquo; di Teluk Bone. Meskipun tubuh terasa capai dan kepala masih belum stabil, saya memetik banyak pelajaran yang membuka mata saya betapa kayanya bangsa kita ini. Selain hasi laut yang melimpah ruah, kita kaya akan nilai-nilai budaya positif. Kami takkan berhasil mendapatkan banyak ikan dengan gotong royong dan kesetiakawanan.</p> Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/168/camping-di-pantai-jungwok-berasa-pantai-milik-sendiri <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50914a3205c15.JPG" alt="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" width="550" height="347" /></p> <p style="text-align: justify;">Berada di timur Pantai Wediombo atau sekira 40 km arah tenggara kota Wonosari, akses jalan menuju pantai Jungwok lumayan berat. Kendaraan pun harus dititipkan di Pantai Wediombo dengan retribusi Rp5.000,- dan parkir untuk 2 malam adalah Rp6.000,. Perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak ke arah timur.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5091491769134.JPG" alt="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" width="550" height="351" /></p> <p style="text-align: justify;">Perjalanan cukup menyenangkan karena melewati Pantai Wediombo dan kami sampai di Pantai wediombo pukul 5 sore. Kami sempatkan untuk melihat <em>sunset</em> dahulu setelah itu berjalan melewati hamparan sawah yang sangat luas milik penduduk setempat dengan beberapa kandang ternak sapi mereka. Setelah itu jalan mulai menanjak untuk mencapai Pantai Jungwok melewati satu bukit. Pantai Jungwok berada tepat di balik bukit dari Pantai Wediombo. Perjalanan santai kami mencapai pantai Jungwok sekira 1 jam.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5091495ab5d79.jpg" alt="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" width="550" height="311" /></p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/509149758a717.JPG" alt="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" width="550" height="365" /></p> <p style="text-align: justify;">Kami berencana untuk berkemah di Pantai Jungwok yang masih alami dan namanya belum sebesar pantai-pantai lain di daerah selatan Gunung Kidul seperti Pantai Baron, Sundak, Indrayanti, Pok Tunggal, Siung, dan lainnya. Pantai ini masih sangat alami, tidak ada pedagang, tidak ada toilet, tidak ada area parkir, bahkan tidak ada rumah penduduk di sekitar pantai sehingga suasana camping benar-benar terasa sangat spesial. Saya berharap Pantai ini tetap seperti ini agar ekosistemnya terjaga.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/5091499545189.jpg" alt="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" width="550" height="234" /></p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50914a1831e34.jpg" alt="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" width="550" height="389" /></p> <p style="text-align: justify;">Ciri Pantai Jungwok adalah terdapat tebing yang sangat tinggi di sebelah timur, biasanya digunakan untuk mendirikan tenda karena akan teduh pada siang hari dan bentuk pantai yang cekung dengan pemandangan bukit indah. Terdapat karang besar di tengah laut. pasir putih, air jernih benar-benar kombinasi sempurna. Dari pantai ini memang tidak bisa melihat <em>sunrise</em> dan <em>sunset</em>, karena terhalang bukit.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50914a4a14a91.JPG" alt="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" width="550" height="353" /></p> <p style="text-align: justify;">Disarankan ketika mengunjungi Pantai Jungwok, Anda melihat <em>sunset</em> dulu di Pantai Wediombo. Itu karena <em>sunset</em> di Pantai Wediombo cukup bagus. Setelah itu barulah jalan menuju Pantai Jungwok. Kebetulan cuaca cukup cerah sewaktu kami camping di sana. Siang harinya terlihat beberapa orang nelayan memasang jala untuk menangkap ikan dan udang.</p> <p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" src="http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/ceritanegeriku/50914a5e33d62.JPG" alt="Camping di Pantai Jungwok Berasa Pantai Milik Sendiri" width="550" height="365" /></p> <p style="text-align: justify;">Di pantai ini ekostistemnya masih sangat terjaga, banyak tumbuhan khas tepi pantai dan kelomang darat atau biasa disebut pong-pongan. Ada juga ikan-ikan kecil yang tersapu ombak, beberapa terdampar di bibir pantai, beberapa terjepit di bebatuan karang dan sangat mudah ditangkap membuat pantai ini berbeda dengan pantai-pantai di daerah Gunung Kidul yang sudah terekspos dan selalu dikunjungi wisatawan.</p> <p style="text-align: justify;">Saya berharap Pantai Jungwok tetap alami seperti ketika saya camping. Jika semua pantai dipenuhi dengan pengunjung setiap harinya, pedagang, losmen-losmen, dan lainnya karena nanti biasanya akan banyak sampah sehingga ekosistem dan keseimbangan alam pun menjadi buruk jadinya.</p> Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/169/setitik-haru-yang-terukir-di-bebatuan-kokoh-candi-borobudur-dan-dusun-klipoh <p style="text-align: justify;">Ini pengalaman pertama saya menulis artikel tentang tempat wisata yang pernah dikunjungi. Ya, pasti semua sudah tahu tentang keindahan dan kemegahan Candi Borobudur. Perjalanan saya dimulai pada awal tahun 2012. Berangkat dari Jakarta ke Kota Magelang, Jawa Tengah. Saat pertama kali tiba di kawasan Borobudur dan turun dari bus wisata, saya sudah dapat membayangkan kemegahan Candi Borobudur yang selama ini didengar dari orang-orang.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/508f65d002103.jpg" alt="Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh" width="550" height="357" /></p> <p style="text-align: justify;">Ternyata Candi Borobudur tidaklah berada dekat di depan mata, candi ini terletak cukup jauh dari pintu gerbang masuk kawasan wisata. Sekira 2 km jarak harus ditempuh dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan saya disuguhkan pedagang menawarkan cenderamata seperti pakaian, patung hingga relief candi dengan berbagai bentuk.</p> <p style="text-align: justify;">Begitu tiba di depan kawasan komplek candi borobudur, saya diharuskan untuk membeli tiket masuk seharganya Rp. 30.000. Lumayan mahal untuk turis lokal. Aturan masuk di Candi Borobudur juga ketat. Tidak boleh membawa makanan ke candi. Terpaksa bekal nasi yang dibawa dimakan di luar.</p> <p style="text-align: justify;">Ketika saya masuk ke candi Borobudur diwajibkan mengenakan sarung batik yang disediakan petugas. Aturan baru saja diterapkan. Begitu berada di Candi Borobudur terasa panas terik Matahari namun terbayarkan dengan pemandangan indah berupa panorama bukit dari atas Candi Borobudur. Hmmm...rasanya ingin berada disini terus, karena sungguh saya merasakan betapa indahnya alam Indonesia dilihat dari atas puncak Candi ini. Namun, perjalanan saya masih panjang.</p> <p style="text-align: justify;">Selama berkeliling candi ini saya disuguhi pahatan 2672 panel relieff yang jika disusun akan mencapai panjang 6 km. Relief yang terpahat dibagi menjadi 4 cerita, yaitu <em>karmawibangga</em>, <em>lalita wistara, jataka</em> dan <em>awadana</em>, serta <em>gandawyuda</em>. Selain menceritakan perjalanan hidup Buddha berserta ajarannya, relief ini juga bercerita tentang kemajuan peradaban masyarakat masa itu.</p> <p style="text-align: justify;">Kebetulan saya dan keluarga menggunakan jasa <em>tour guide</em> yang menjelaskan tentang sejarah Candi Borobudur. Menurut saya candi ini tergolong unik karena merupakan candi Budha yang terbesar di dunia yang dibangun mas Dinasti Syailendra sekira 800-an Masehi. Sampai saat ini candi Ini masih terlihat kokoh walaupun sempat mengalami beberapa kali pemugaran, pengeboman, gempa bumi dan gunung meletus.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/508f65e2cbc0d.gif" alt="Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: justify;">Candi Budha ini strukturnya terdiri dari 3 tingkatan yang menggambarkan tingkatan spiritual dalam dalam Buddha. Tingkatan bawah sendiri yaitu <em>Kamadhatu</em>, kemudian <em>Rupadhatu</em> dan tingkatan tertinggi yaitu <em>Arupadhatu</em>. Masing masing tingkatan terdapat relief arca yang ceritanya sesuai dengan tingkatannya. Ketika sudah sampai di puncak terdapat kubah besar tertinggi Candi Borobudur. Di situ saya bisa melihat pemandangan bukit bukit yang indah dari puncak candi. Maklum saja ketinggian candi ini sekira 35 meter.</p> <p style="text-align: justify;">Di dalam kawasan wisata Borobudur juga terdapat Museum Samudra Raksa yang berisi kisah perjalanan Kapal Laut Samudera Raksa mengarungi The Cinnamon Route, dari Jawa hingga benua Afrika. Ini yang terinspirasi oleh cerita dalam relief di Candi Borobudur bahwasannya nenek moyang bangsa saya adalah pelaut yang ulung. Ada juga museum yang menyimpan pecahan stupa dan benda-benda bersejarah lainnya berkaitan dengan Candi Borobudur.</p> <p style="text-align: justify;">Ketika berada di Candi Borobudur pengunjung diwajibkan menjaga kelestarian cagar budaya ini. Pengunjung dilarang naik ke stupa dan patung di candi. Dilarang pula memanjat candi tetapi menggunakan jalan tangga. Walaupun di atas sudah ada petugas yang memperingatkan namun tetap saja banyak yang melanggar.</p> <p style="text-align: justify;">Selain mengunjungi Candi Borobudur, agenda saya dan keluarga selanjutnya adalah mengunjungi Dusun Klipoh. Mengapa saya pilih dusun ini untuk wisata Karena saya sempat <em>googling</em> dan tertarik untuk melihat kerajinan gerabah di tempat tersebut. Dusun Klipoh terletak sekira 4 km dari Candi Borobudur. Saya menuju dusun Klipoh menggunakan andong dengan tarif Rp75.000,-</p> <p style="text-align: justify;">Areal persawahan yang terhampar luas mengelilingi dusun ini. Bertani menjadi mata pencaharian utama warga Klipoh. Ada juga sebagian dari mereka berprofesi sebagai pengrajin gerabah. Berbagai peralatan rumah tangga seperti wajan, kuali, cobek, kendi, gentong, tempayan, hingga <em>senthir</em>� (lentera) diproduksi warga dusun ini. Barang-barang tersebut tidak hanya dipasarkan di kawasan Borobudur namun sudah merambah hingga Lampung dan Jambi.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/508f6de22979c.jpg" alt="Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh" width="550" height="365" /></p> <p style="text-align: justify;">Sepintas lalu saya lihat pembuatan gerabah terlihat mudah dengan hanya memutar-mutar <em>perbot</em> (alat pemutar tradisional) dan membentuk <em>kwangsu</em> (tanah liat yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan gerabah) sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Akan tetapi, ternyata membuat gerabah tidak semudah itu, diperlukan konsentrasi dan kecermatan serta kesamaan gerak antara memutar <em>perbot</em> dan membentuk <em>kwangsu</em>.<br /><br />O&rsquo;ya, saya juga sempat datang ke sebuah ruang tamu yang difungsikan sebagai <em>showroom</em>. Aneka rupa gerabah berjajar di atas rak kayu, mulai dari harga ribuan hingga ratusan ribu. Saya pun membeli <em>senthir</em> gajah unik seharga Rp5.000,-<br /><br />Mengunjungi sentra pembuatan gerabah di Dusun Klipoh benar-benar menjadi perjalanan yang menyenangkan. Tidak hanya bersenang-senang semata namun juga memperoleh pengalaman dan ilmu yang berharga. Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali mengunjungi tempat-tempat bersahaja ini lagi, dan menikmati kebesaran Tuhan dari indahnya bumi Indonesia.</p> Keindahan Pantai Indonesia Kita http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/170/keindahan-pantai-indonesia-kita <p style="text-align: justify;">Pantai.. Susunan kata yang terdiri dari 6 huruf ini adalah tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi. Kali ini saya berkunjung ke daerah timur di Pulau Jawa, tepatnya di Situbondo.</p> <p><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Keindahan Pantai Indonesia Kita" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/508f4ac8e51c1.jpg" alt="Keindahan Pantai Indonesia Kita" width="550" height="366" /></p> <p style="text-align: justify;"><br />Ya.. Pantai Pasir Putih Situbondo, itulah namanya. Sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Lebih tepatnya lagi terletaknya di pinggir jalan utama Surabaya menuju Banyuwangi. Tempat ini merupakan salah satu kawasan wisata keluarga terindah, tempat yang sangat eksotis untuk berlibur.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Pantai ini menyuguhkan keindahahan alam tersendiri bagi pengunjungnya. Jika Anda mengalihkan pandangan ke arah utara maka yang terlihat adalah deburan pelan ombak yang memanjakan mata. Anda akan dibawa menuju indahnya fantasi suasana pantai yang penuh imajinasi. Jika memalingkan pandangan ke belakang Pantai Pasir Putih maka akan di manjakan dengan hijaunya hutan yang menambah kesejukan tersendiri bagi pengunjungnya.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Di pantai ini pun tersedia berbagai macam keindahan lainnya. Salah satunya adalah suguhan adalah menanti terbenamnya Matahari. Di sekitar pantai pun terlihat berjejer pohon kelapa dan pedagang masakan tradisional.</p> BERKUNJUNG KE SUBANG, THE HEART OF WEST JAVA http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/160/berkunjung-ke-subang-the-heart-of-west-java <p style="text-align: justify;">Subang adalah sebuah kota unik yang terletak di pesisir Utara Pulau Jawa. Kota ini memiliki lanskap yang lengkap mulai dari deretan pegunungan di sebelah Selatan, dataran rendah di tengah dan hamparan pantai di Utara Jawa (Pantura). Kekayaan flora dan fauna di kota ini juga menambah nilai tambah bagi Subang. Beragam seni budaya yang dimilikinya menjadikan Subang sebagai kota yang memilki potensi pariwisata yang besar untuk berkembang.</p> <p>&nbsp;</p> <p><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="/manage/ceritanegeriku/publisharticle/id/452"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5065bb18bf4b5.jpg" alt="" width="550" height="367" /></a></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Letak geografis yang sangat strategis menjadikan Subang dapat dijangkau, yakni hanya sekira 3 jam perjalanan dari Jakarta dan hanya 2 jam saja dari Kota Bandung. Dari Jakarta, Anda dapat mengarahkan kendaraan Anda ke arah Timur memasuki Tol Cikampek. Dari Tol Cikampek, Anda dapat keluar dari Tol Sadang untuk kemudian melanjutkan ke arah Subang.</p> <p style="text-align: justify;">Sekira 20 menit saja perjalanan berkendara dari pintu Tol Sadang maka Anda akan tiba di Subang. Seketika, pandangan mata Anda akan disejukkan dengan hijaunya hamparan sawah dan perkebunan karet. Anda dapat beristirahat di bawah rimbunan pohon karet sambil menikmati segarnya es kelapa muda. Memasuki daerah Kalijati, Anda dapat mengunjungi sebuah rumah bersejarah (Rumah Sejarah) di dalam kompleks Lanud Suryadharma. Rumah bersejarah ini adalah saksi sejarah berakhirnya 350 tahun penjajahan bangsa Belanda di Indonesia dan diserahkannya Republik ini ketangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942.</p> <p style="text-align: justify;">Di sepanjang perjalanan dari Kalijati menuju Subang berjejer <em>jongko</em> (warung kecil) yang menjajakan makanan khas Subang. Kerupuk &ldquo;miskin&rdquo; misalnya, kerupuk yang digoreng hanya menggunakan pasir ini dapat Anda jadikan camilan menemani perjalanan Anda. Sekira 5 km dari Kalijati, tepatnya di daerah Dawuan, terdapat sentra produksi oncom Dawuan yang sudah sangat terkenal dan merupakan buah tangan khas Subang.</p> <p style="text-align: justify;">Sekira 15 menit dari Dawuan, Anda akan memasuki Subang Kota. Terdapat banyak bukti atau peninggalan kolonialisme yang tampak dari banyaknya bangunan peninggalan masa kolonial di kota ini. Diantaranya yang paling mencolok adalah Gedung Wisma Karya (<em>Societiet</em>) yang kini dijadikan museum. Ada pula Gedung Bekas Kantor Pusat P n T Lands (Perusahaaan Perkebunan Belanda), Atelir, alun-alun Subang yang merupakan sisa lapangan golf pada jamannya dan masih banyak perumahan bergaya kolonial yang dulu digunakan oleh para pegawai perkebunan P n T Lands.</p> <p style="text-align: justify;">Dari Subang kota arahkan kendaraan Anda ke arah Subang Selatan, tempat Anda menikmati objek wisata alam. Tempat Pemancingan Gunung Kujang yaitu sebuah tempat pemancingan dengan fasilitas lengkap (termasuk penginapan dan kolam renang) brjarak sekira 30 menit dari Subang Kota. Kampung Jati Mas yang berada di Tambakan dapat Anda tempuh sekira 15 menit berkendara dari Subang Kota. Anda dapat menikmati kuliner lezat diantara rimbunnya pohon jati di sini. Atau anda dapat mengunjungi desa wisata Sari Bunihayu untuk menikmati sahaja suasana pedesaan.</p> <p style="text-align: justify;">Apabila kendaraan Anda meneruskan perjalanan ke Selatan, Anda akan memasuki wilayah Jalan Cagak. Dari jalan ini, tak jauh dapat ditemui hamparan kebun teh berbalut udara yang sejuk yang akan memanjakan Anda. Di sini banyak terdapat<em> jongko</em> penjaja buah-buahan khas Subang seperti Nanas Si Madu yang segar dan manis. Memasuki daerah Ciater anda bisa mengunjungi Ciater Highland Resort untuk menyewa villa atau bekuda.</p> <p style="text-align: justify;">Sari Ater Hot Spring Resort berjarak sekira 5 menit dari Ciater. Inilah salah satu tempat pemandian air panas yang terbaik di Indonesia yang telah dilengkapi dengan beragam fasilitas, termasuk hotel dan restoran bertaraf internasional. Tak jauh dari pemandian air panas ini, juga terdapat Capolaga Adventure Camp, yaitu lokasi kemping keluarga yang relatif mudah dijangkau.</p> <p style="text-align: justify;">Sepuluh menit dari Ciater, Anda akan tiba di Gunung Tangkuban Parahu&mdash;gunung yang menyajikan panorama alam yang menakjubkan. Sepanjang perjalanan dari Ciater ke Tangkuban Perahu, diantara hijaunya kebun teh, terdapat banyak penjual jagung bakar. Anda dapat menikmati segarnya udara sambil menikmati jagung bakar dan secangkir kopi di sana.</p> <p style="text-align: justify;">Bagi para penggemar wisata petualangan dan pecinta alam, Subang Selatan dapat dikatakan surganya wisata alam. Di kawasan ini terdapat banyak sekali curug (air terjun) yang dapat dikunjungi seperti Curug Cileat di Kasomalang, Curug Cijalu di Serang Panjang, Curug Cibareuhbey di Ciater, Curug Bentang di Kasomalang dan masih banyak lagi.</p> <p style="text-align: justify;">Pantura Subang juga merupakan daerah yang sangat menarik untuk dikunjungi. Di Pantura Subang Anda dapat menikmati suguhan <em>sea food</em> sambil menikmati pesona Pantai Pondok Bali atau Pantai Patimban. Di Blanakan juga terdapat sebuah penangkaran buaya muara yang dapat menjadi pilihan wisata Anda. Di daerah ini, pada waktu tertentu, biasa diadakan hajat laut/ ruwat laut yang telah menjadi event tahunan. Apabila Anda berencana ke pantura Subang, dari Jakarta arahkan kendaraan anda keluar dari tol Cikampek kemudian dilanjutkan ke jalur Pantura.</p> <p style="text-align: justify;">Ragam budaya yang ada di kota Subang merupakan salah satu yang terkaya di banding kota lainnya di Jawa Barat. Selain tentunya Sisingaan yang sudah sangat terkenal, di Subang juga banyak terdapat seni budaya lainnya seperti Gembyung, Ruwatan Bumi, Nadran, Mapag Dewi Sri, Genjring Bonyok, Doger Kontrak dan sebagainya. Di kota ini, seni dari pesisir pantura yang dinamis bisa berpadu indah dengan keanggunan seni dari wilayah Selatan Pasundan.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Pulang Kampung Ke Rumah Betang Sungai Utik Dayak Iban Kalimantan Barat http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/161/pulang-kampung-ke-rumah-betang-sungai-utik-dayak-iban-kalimantan-barat <p style="text-align: justify;">Tiba-tiba saja hari ini aku terkenang ketenangan sebuah budaya dan kampung halamanku. Ingatan ini makin menjadi saat mendengar pidato Barrack Obama "Pulang Kampung nih", saat berkunjung ke Indonesia tahun 2010 yang lalu. Aku jadi berkeinginan untuk mudik ke kampung halaman. Padahal sekitar bulan Juli 2010 kemarin, aku juga mudik. Bisa-bisa kering<em> nih</em> dompet apabila aku sering-sering mudik.</p> <p style="text-align: justify;"><br /> Nama kampung yang kumaksud adalah Sei Utik atau Sungai Utik, tepatnya terletak di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Sebenarnya, ini kampung ibuku; aku sering diajak ke sana kalau libur sekolah semasa kecil. Sungai Utik, secara harfiah berarti sungai putih. Sungai yang ditutupi dengan pasir putih bersih. Airnya jernih kecuali saat hujan deras pada petang hari yang akan membawa lumpur dari tempat yang lebih tinggi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sungai ini adalah urat nadi kehidupan masyarakat sekitarnya, tempat dimana warga mandi dan mencuci. Desa Sei Utik mayoritas penduduknya ialah Suku Dayak Iban. &nbsp;Mereka akan menyambut Anda dengan senyuman yang hangat, ramah dan santun. Jika mereka pikir Anda bersikap baik, para wanita tua kemungkinan akan memberi Anda pelukan erat dengan tawa menderu. Sewaktu kecil saya sering terharu oleh sikap mereka itu. Saya begitu bahagia melihat keceriaan dan rasa kekeluargan mereka. <br /> <br /> Apabila suatu saat Anda berkunjung kesana, akan tampak di gerbang selamat datang sebait kalimat bertuliskan <em>gaga temuai datai</em>, yaitu berarti &ldquo;senang tamu datang&rdquo;. Saat Anda meninggalkan Desa Sei Utik, akan terbaca sebaris tulisan di gerbangnya <em>gerai temuai pulai</em>, yang berarti &ldquo;sehat tamu pulang&rdquo;. Tak jauh dari gerbang tersebut, akan tampak rumah betang (<em>long house</em>), rumah tradisional Kalimantan yang ditempati oleh (biasanya) sekira 40 keluarga Dayak Iban.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="/manage/ceritanegeriku/publisharticle/id/338"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50482d5bdef08.jpg" alt="" width="550" height="399" /></a></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Rumah panjang yang terbuat dari kayu terbaik di Kalimantan itu (kayu ulin) memiliki banyak pintu dan disangga oleh tiang-tiang yang besar. Mereka mendapatkan kayu dari hutan cadangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keluarga-keluarga itu berbagi beranda, ruang depan dan ruang tamu yang merupakan ruang besar berukuran 100x5 meter.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Dari kehidupan masyarakat Dayak Iban di kampung Sei Utik ini terlihat bahwa budaya dan kearifan lokal masih melekat dengan kehidupan masyarakatnya. Walaupun kehidupan dari luar (kota) sedikit mempengaruhi kehidupan di daerah (kampung) itu, tapi kearifan lokal tetap dipertahankan. Kearifan lokal juga tercermin dari upaya pelestarian hutan dan isinya dengan berpegangan pada perangkat hukum adat yang mereka percaya. Selain itu, terdapat pula beberapa LSM (Lembaga Sosial Masyarakat) baik dari dalam maupun luar negeri yang membantu, melatih dan mensosialisasikan banyak hal yang bermanfaat tentang pelestarian hutan agar hutan tetap terjaga dan terlindungi.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Kampung yang kucintai ini berada di kawasan yang elok, sederhana dan masih hijau. Berada tak jauh dari Putussibau (Kapuas Hulu), perjalanan menuju kampungku sekira 1-2 jam dengan mengendarai bus atau motor. Jelajahi saja sungainya dari hulu ke hilir atau sebaliknya dan dapatkan pengalaman pertualangan yg ekstrim. Atau berkeliling kampung dan berinteraksilah dengan masyarakat Dayak Iban untuk mendapatkan pengalaman yang lain lagi.</p> BRAGA FESTIVAL, PESTA KREATIVITAS ANAK MUDA BANDUNG http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/162/braga-festival-pesta-kreativitas-anak-muda-bandung <p style="text-align: justify;"><strong></strong>Pada 28&ndash;29 September 2012 yang lalu, Kota Bandung berpesta. Sebuah pesta kreativitas yang bertajuk Braga Festival digelar insan seni dan komunitas Kota Bandung tepat di jantung wisata kota itu. Sesuai namanya, gelaran acara ini diadakan di sekitar Jl. Braga, Kota Bandung. Event tahunan tersebut menjadi ajang unjuk kreativitas kaum urban Kota Bandung. Segala jenis karya hasil kreatif <em>urang</em> Bandung, mulai dari pertunjukkan musik, pameran foto, lukisan, wisata kuliner dan beragam agenda menarik lainnya dapat kita temui disini.</p> <p style="text-align: justify;">Uniknya, seni tradisi khas parahyangan yang menjadi akar budaya Kota Bandung dapat berpadu harmonis dengan seni modern khas kaum urban. Di satu panggung kita dapat menikmati alunan musik Sunda mengalun syahdu namun di panggung lain kita juga dapat menyaksikan grup musik metal beraksi di jalan yang sama. Ketika sebagian peserta menggunakan pakai adat khas Sunda, ada pula segerombolan remaja yang mengenakan kostum ala kartun Jepang hasil desain mereka sendiri berkeliaran dan membaur di ruas jalan sepanjang Braga.</p> <p style="text-align: justify;">Yang menggembirakan, anak muda Bandung ternyata tidak hanya kreatif dalam hal seni modern. Mereka juga mampu menunjukkan kemampuannya dalam membawakan seni tradisi. Mereka tidak malu bahkan merasa bangga dapat memainkan gamelan Sunda atau pun menari jaipong dihadapan para pengunjung. Anak-anak muda ini bahkan dapat mengkolaborasikan seni tradisi dengan seni modern sehingga menghasilkan karya seni yang menarik. Di setiap penampilan, mereka selalu dihadiahi dengan decak kagum dan riuh tepuk tangan pengunjung.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="/manage/ceritanegeriku/publisharticle/id/453"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50672f4e4fd85.jpg" alt="" width="550" /></a></p> <p style="text-align: justify;">Di sisi lain Braga Festival juga memberi ruang bagi para seniman daerah untuk turut memeriahkan acara. Beberapa seni tradisonal dari pelosok Jawa Barat turut dipertontonkan di sini. Tak hanya itu, kesenian dari luar tatar Pasundan pun turut serta. Salah satunya adalah kesenian Ebleg dari Kebumen, Jawa Tengah. Hal ini semakin menunjukkan Bandung bukan hanya milik warga Jawa Barat, tapi sudah menjadi etalase seni Indonesia.</p> <p style="text-align: justify;">Braga Festival tahun ini juga terasa semakin &ldquo;internasional&rdquo;, kota-kota dari beberapa negara yang menjadi <em>Sister City</em> Kota Bandung turut ambil bagian dalam event ini. Diantaranya negara Malaysia dan Korea yang turut mengirim utusannya untuk menunjukkan seni tradisinya kepada warga Bandung. Di sisi lain, ternyata event ini juga banyak menarik turis mancanegara untuk berkunjung.</p> <p style="text-align: justify;">Berbeda dengan tahun sebelumnya, Braga Festival tahun ini juga menghadirkan pasar rakyat. Hasil kreativitas warga Bandung maupun dari daerah lain berupa kerajinan tradisional, pakaian maupun kuliner khas dijajakan di stan-stan pameran yang berjajar rapi. Konsep &ldquo;People to People&rdquo; yang menjadi tema Braga Festival tahun ini sangat terasa di sini. Banyaknya pengunjung terutama turis mancanegara di sini dapat membuka peluang bisnis jangka panjang bagi para pengrajin atau penjual produk daerah.</p> <p style="text-align: justify;">Bagi para insan kreatif, ajang Braga Festival merupakan kesempatan untuk menunjukkan hasil karya mereka ke khalayak. Event tahunan dalam rangka memeriahkan HUT kota Bandung ini seakan semakin mengukuhkan Bandung sebagai kota kreatif.</p> Karimun Jawa - The Tropical Jewel of Central Java http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/163/karimun-jawa-the-tropical-jewel-of-central-java <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="/manage/ceritanegeriku/publisharticle/id/414"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Karimun Jawa - The Tropical Jewel of Central Java" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5060072edd3d7.JPG" alt="Karimun Jawa - The Tropical Jewel of Central Java" width="550" height="693" /></a></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Coba bayangkan sejenak bagaimana gambaran surganya tempat tropis. Sudah dapat Jika dalam bayangan itu ada pantai berpasir putih dengan pohon-pohon kelapa di sepanjang pantainya, air laut berwarna biru kehijauan akibat pantulan sinar matahari yang begitu terang sampai kadang mata pun silau memandangnya, cuaca yang hangat sepanjang tahun, tempatnya tidak terlalu ramai disesaki turis sampai kadang merasa pulau tersebut milik pribadi, maka Karimunjawa lah jawaban bagi surga tropis tersebut.</p> <p style="text-align: justify;">Berlokasi sekira 90 km di Utara perairan Jawa Tengah, Karimunjawa adalah tempat yang menakjubkan untuk dikunjungi. Meski begitu, sampai saat ini belum terlalu ramai dikunjungi wisatawan. Di saat <em>low season</em> atau bukan musim liburan, kadang tidak ada satu pengunjung pun terlihat di sana. Jangankan turis mancanegara, turis lokal pun jarang kelihatan di sana. Salah satu alasannya adalah transportasi yang tidak terlalu mudah untuk mencapai kepulauan tersebut.</p> <p style="text-align: justify;">Karimunjawa sendiri adalah wilayah kepulauan dengan jumlah total 27 pulau. Untuk sampai ke pulau utama Karimunjawa, bisa menggunakan kapal cepat dari pelabuhan Jepara. Kota Jepara bisa ditempuh dengan menggunakan bus selama 2 jam dari Semarang. Perjalanan menggunakan kapal cepat akan ditempuh selama 1 jam 45 menit dan tiketnya seharga Rp69.000,-.</p> <p style="text-align: justify;">Jadwal kapal cepat berangkat dari Jepara adalah hari Senin, Selasa, Jumat dan Sabtu. Jika terpaksa menggunakan ferry, akan memakan waktu 6 jam dengan jadwal berangkat dari Jepara setiap hari Sabtu, Rabu dan Senin. Kedua jenis transportasi ini tidak akan beroperasi apabila cuaca buruk. Jadi, jika kurang beruntung, ada kemungkinan 'terjebak' di Karimunjawa atau pun di Jepara.</p> <p style="text-align: justify;">Selain dari Jepara, ada juga kapal cepat Kartini yang berangkat dari Semarang. Namun akhir-akhir ini sedang dalam jadwal perbaikan sehingga belum bisa dipastikan kapan Kartini akan beroperasi kembali. Untuk naik kapal cepat Kartini, harus menuju pelabuhan Tanjung Mas dan membeli tiket sebelumnya.</p> <p style="text-align: justify;">Pulau utama di Kepulauan Karimunjawa dengan panjang 25 km dan lebar 10 km itu sebagian besar diselimuti oleh hutan. Di antara hutan dan ujung selatan pulau utama itulah berlokasi kota utamanya yang disebut Karimunjawa. Disinilah kebanyakan pengunjung menginap, namun ada juga beberapa pilihan untuk menginap di penginapan apung di tengah-tengah perairan dekat pulau utama. Selain itu, terdapat pula sebuah resort mewah di suatu pulau kecil yang agak jauh dari pulau utama.</p> <p style="text-align: justify;">Di penginapan apung, mereka punya kolam penampungan yang isinya beberapa hiu, barakuda, penyu serta ikan-ikan lainnya. Silahkan mencoba bermain bersama hiu-hiu tersebut. Mereka tidak buas karena selalu diberi makan secara rutin. Tapi karena secara natural mereka punya insting kuat terhadap bau darah, buat mereka yang punya luka masih segar disarankan untuk tidak nekat mengumpankan diri kepada kawanan hiu tersebut.</p> <p style="text-align: justify;">Karena pulau utamanya besar, salah satu cara terbaik untuk menjelajah pulau adalah dengan menyewa sepeda motor. Biaya sewanya Rp75.000,- per hari. Cukup mahal memang, tapi sebanding dengan hasilnya karena dapat mencapai pantai-pantai indah yang letaknya cukup jauh dan agak sulit dicapai dengan berjalan kaki.</p> <p style="text-align: justify;">Salah satu pantai indah di pulau utama ini adalah Pantai Tanjung Gelam, sekira 5 km dari pusat kota. Batu-batu besar serta pohon kelapa di pinggir pantai membuat pemandangan seakan <em>surreal</em>, bagaikan menatap <em>wallpaper</em> di layar komputer. Di sekitar Pantai Barakuda ada pusat konservasi penyu dimana kita bisa melihat para petugas merawat bayi-bayi penyu (tukik).</p> <p style="text-align: justify;">Aktivitas menarik lainnya dan tentu saja tak boleh dilewatkan saat berada di Kepulauan Karimunjawa adalah <em>snorkeling</em>, <em>diving</em>, <em>island-hopping</em> dan menjelajah pulau utama dengan sepeda motor. Untuk <em>snorkeling</em> biasanya pihak <em>guest house</em> akan membantu mengatur untuk sewa kapal atau langsung saja menuju dok dimana kapal-kapal nelayan berlabuh. Biaya sewa kapal selama 5 jam adalah Rp300.000,- guna mengunjungi pulau-pulau terdekat. Biasanya pulau yang sering dijadikan rute <em>island-hopping</em> adalah Pulau Cemara Kecil, Cemara Besar, Menjangan Kecil dan Menjangan Besar. Bagi yang perlu sewa alat <em>snorkeling</em> dikenakan tambahan sebesar Rp30.000,-.</p> <p style="text-align: justify;">Jadi, walaupun transportasi menuju Kepulauan Karimunjawa ini tidak mudah, keindahan yang ditawarkan akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sesuai kan dengan gambaran surga tropis impian.</p> Kebahagiaan Sederhana di Desa Sawarna http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/154/kebahagiaan-sederhana-di-desa-sawarna <p>Saya memasukkan barang-barang seperlunya ke dalam ransel kecil. Ya, saya kembali melakukan perjalanan. Perjalanan impulsif untuk kesekian kali. Setelah resmi menjadi kaum urban dan berinteraksi dengan rutinitas pekerjaan, saya tak pernah mau menanggalkan ransel tersimpan tak terpakai.</p> <p><span>Jadi, seketika waktu senggang, saya mencari destinasi yang mungkin dikunjungi saat akhir pekan tiba. Tak jauh dari Jakarta, tapi tetap menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar melepas kepenatan. Setelah mencari-cari destinasi yang cocok di forum pejalan, akhirnya pilihan pun jatuh ke Desa Sawarna, desa kecil di Provinsi Banten. Ada seseorang yang mengajak jalan bersama ke sana dengan harga terjangkau. Saya tentu tak pikir dua kali untuk ikut mendaftar.</span></p> <p>Secara geografis, Desa Sawarna terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, di sebelah barat Provinsi DKI Jakarta. Untuk mencapai ke desa tersebut, perjalanan dengan mobil atau bus memakan waktu 7-8 jam. Waktu terbaik untuk mengunjunginya memang di bulan-bulan pertengahan, April-September saat musim kemarau tiba. Jalanan menjadi terjal dan becek kala musim hujan. Arus air sungai yang deras pun bisa menjadi penghambat untuk menikmati kearifan alam di sana.</p> <p><span>Oleh karena itu, sebenarnya pemilihan waktu awal Februari untuk berkunjung amat beresiko. Hujan masih dengan senang hati mengguyur setiap tempat. Potensi hujan mengacaukan liburan saya semakin besar ketika di Terminal Kampung Rambutan, turun hujan deras saat kami akan berangkat ke Desa Sawarna. Namun, di sini bukan waktunya untuk mundur!</span></p> <p><span>Cuaca masih mendung saat bus kami sudah mendekati lokasi. Karena tak punya kemampuan menari tarian tolak hujan, saya hanya bisa meminta pada Yang Maha Baik untuk tidak mengijinkan hujan turun dua hari ini. Perjalanan ini akan amat sayang jika tak bisa dinikmati sepenuhnya hanya karena hujan turun. Saya tak ingin pulang hanya dengan kelelahan tanpa sempat menikmati sepercik kemegahan alam di sini.</span></p> <p><span>Sampai juga kami di lokasi. Cuaca tiba-tiba berubah cerah. Seperti ada yang mendengar pinta saya pagi tadi. Alhamdulillah.</span></p> <p><span>Kesan awal, seperti hampir semua destinasi wisata, desa ini menarik. Hanya saja, sisi menariknya pasti berbeda dan saya akan segera mengetahuinya dalam dua hari ke depan. Ada jembatan kayu yang menghubungkan kami dengan Desa Sawarna. Kurang lebih panjangnya 20 meter dan hanya cukup untuk dilewati motor. Sungai di bawah jembatan agak dangkal. Arusnya tak begitu deras. Terlihat banyak juga anak-anak kecil mandi atau sekedar bermain di sana.</span></p> <p><span>Masuk ke lingkungan desa, sudah ada kepala desa (setidaknya, begitulah pengamatan saya, atau mungkin beliau hanya petugas yang diminta untuk mengumpulkan &ldquo;tarif masuk&rdquo;). Beliau menunggu di sebuah rumah-rumahan kayu, dan meminta tarif masuk Rp2000,- per tamu untuk sekali kunjungan. Murah sekali!</span></p> <p><span><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5058846c013de.jpeg" alt="" width="550" height="412" /></span></p> <p><span>Kami berjalan menuju&nbsp;<em>homestay</em> yang sudah dipesan. Sepanjang mata memandang, sisi-sisi modernitas tercermin dibalik tembok-tembok rumah warga di sini. Jalanan setapak desa ini sudah disemen. Walaupun beberapa sisi jalan desa masih tanah, tetapi kemajuan kental terlihat. Hampir semua rumah dibuat permanen, listrik juga sudah masuk ke desa, dan beberapa penduduk sudah memiliki motor sendiri.</span></p> <p><span>Sesampainya di&nbsp;<em>homestay</em>, saya cukup terkejut dengan kondisi&nbsp;<em>homestay</em> yang akan kami inapi semalam ini. Rumahnya cukup besar, bahkan sangat besar untuk ukuran rumah desa. Fasilitasnya pun lengkap dengan meja pingpong dan lapangan voli. Awalnya, saya berpikir hanya akan menginap di rumah warga yang sederhana. Bagaimanapun juga,<em>homestay&nbsp;</em>yang nyaman ini adalah kejutan yang amat mudah dinikmati.</span></p> <p><span>Desa ini masih seperti desa kebanyakan, di tengah sawah dan terlintasi sungai. Meski begitu, masyarakatnya sama sekali tidak konservatif. Mereka sudah berpikiran maju untuk menjadikan potensi pariwisata desanya menjadi penghidupan. Banyak sekali rumah-rumah penduduk dijadikan&nbsp;<em>homestay</em>. Beberapa masyarakat bahkan memiliki profesi sampingan menjadi pemandu wisata.</span></p> <p><span>Pak Saep, pemandu wisata kami, berpendapat senada, &ldquo;Ini semua bukan bantuan pemerintah. Masyarakat sendiri yang punya inisiatif menjadikan desa jadi kampung wisata.&rdquo;</span></p> <p><span>Agenda kami padat. Maklum, hanya dua hari dan cukup banyak tempat yang mesti dikunjungi. Alhasil, setelah beristirahat sebentar, kami memulai&nbsp;<em>trekking&nbsp;</em>ke Goa Lalay. </span></p> <p><span>Di siang yang cukup terik, kami menelusuri sawah-sawah membujur. Seperti bunga yang akan merekah, sawah yang kami lewati masih hijau. Sejauh mata memandang, hanya hijau menentramkan yang kami lihat. Beberapa kali bertemu petani ramah yang menyambut kami dengan dialek Sunda yang kental. Mudah tak selamanya kami lewati. Dua kali kami harus berusaha melawan arus deras sungai. Untung saja sungainya tak dalam. Meski begitu, harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset. Kamera dan ponsel bisa dalam bahaya.</span></p> <p><span>Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai di destinasi pertama, Goa Lalay. <em>Lalay</em> menurut bahasa Sunda artinya kelelawar. Pak Saep mengatakan goa ini penuh kelelawar kala malam menjelang. Saat Maghrib menjelang Isya, biasanya gerombolan kelelawar ini keluar dari sarangnya.</span></p> <p><span>Ada sungai kecil yang mengalir dari dalam goa ini. Sayangnya, berhubung musim hujan, aliran air pun lebih deras dari biasanya. Kalau dilihat dari luar, memang sepertinya tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam. Saya pikir sayang sekali sudah jauh-jauh, tapi tidak melihat stalaktit Goa Lalay yang konon memang terkenal. Akhirnya, saya dan beberapa teman memaksakan diri masuk. Walau awalnya agak sulit karena bebatuan licin ditambah arus yang deras, justru air menjadi agak tenang ketika sampai di dalam.</span></p> <p><span>Di dalam, tak terlihat ada kelelawar satu pun. Menurut Pak Saep, mereka bersarang terlalu ke dalam. Kondisi di dalam goa tidak memungkinkan kita untuk menelusuri lebih ke dalam. Tak berjodoh dengan para <em>lalay</em> rupanya. Setidaknya, stalaktit-stalaktit tadi sudah mau bercengkerama dengan kami.</span></p> <p><span>Selepas dari Goa Lalay, kami kembali melanjutkan perjalanan. Melewati pematang-pematang sawah, bukit-bukit kecil, dan tak ketinggalan jalanan penuh lumpur. Beberapa teman sangat kelelahan, apalagi yang perempuan. Banyak juga tragedi-tragedi kecil, seperti ada yang tercemplung ke sawah, terpeleset ketika jalan turun, atau sekedar terkilir saat menapak.</span></p> <p><span>Tapi saya yakin, semua kelelahan dan kesialan itu terbayar ketika telapak sudah bersentuhan dengan pasir pantai. Kembali mendengar deru ombak dan menikmati aliran air laut di sela-sela kaki memberi kenikmatan tersendiri. Untuk saya, pantai tak pernah gagal memberi kesan menawan.</span></p> <p><span>Dari sana, Karang Taraje sudah terlihat amat dekat. Namun sayang, sepertinya saya belum diizinkan mampir di sana. Jalanan menuju ke sana dijaga segerombolan anjing penjaga ternak yang terkenal ganas. Daripada mencari masalah, lebih baik mengurungkan niat pergi untuk mendekat.</span></p> <p><em><span>Taraje</span></em><span> dalam bahasa setempat artinya tangga. Mudah ditebak kenapa dinamakan demikian: bentuk karangnya memang menyerupai tangga. Kalau memandang dari arah pantai, sisa air di karang dari tabrakan ombak seakan bergerak, bertahap, menuruni anak tangga.</span></p> <p><span>Beberapa penduduk terlihat sedang memancing dengan cara yang unik. Dengan seutas bambu, mereka memancing agak ke tengah laut sambil mendera ombak. Ikan yang didapat pun cuma ikan-ikan kecil. Memang bukan untuk dijual, tapi dikonsumsi sendiri.</span></p> <p><span>Kami harus menaiki bukit yang cukup terjal untuk sampai ke agenda terakhir sekaligus puncak di hari itu. Menunggu sang surya terbenam di Tanjung Kelayar. Sebenarnya kalau enggan menaiki bukit, melewati jalan memutar juga bisa dilakukan. Tinggal memilih, lebih senang jalan berbatu dan licin atau jalanan menanjak yang juga licin.</span></p> <p><span>Akhir hari itu menjadi sempurna ketika Matahari akan mengucap salam pamit pada semesta. Indahnya tak terucap, cantiknya tak terungkap. Benar-benar pemandangan luar biasa sebagai hadiah bagi kami yang sudah rela berpeluh demi sampai di sini. Terasa tenang sekali perasaan. Seakan kami tak mau mengijinkan Matahari pergi begitu cepat.</span></p> <p><span>Cuaca cerah sehari tadi membuat sempurna spektrum peninggalan sang surya. Lukisan paling cantik satu semesta dari Yang Maha Kuasa. Membuat insan-insan lebih merasakan makna mendalam akan malam. Terang tak selamanya jaya, ada waktu masing-masing seperti juga manusia yang tak selamanya merasakan kenikmatan.</span></p> <p><span>Sambil menikmati semangkuk mi rebus dan segelas es kelapa, saya terduduk santai di pasir putih. Bercengkerama dengan teman seperjalan. Tak lupa mendirikan tripod sebagai penyangga kamera. Kami banyak mengambil gambar sampai lupa waktu. Cahaya senja semakin menghilang. Kami mesti segera beranjak pulang.</span></p> <p><span>Esok paginya kami menuntaskan agenda perjalanan ini dengan mengunjungi Pantai Ciantir. Dari perkampungan warga tempat lokasi&nbsp;<em>homestay</em>, bisa dicapai dengan berjalan kaki 10 menit. Pasir putih sejauh mata memandang membuat pantai ini cantik penuh pesona. Tak kalah dibanding banyak pantai-pantai cantik lain di Pulau Jawa, bahkan Bali ataupun Lombok. Kami memanfaatkan waktu langka ini sebaik-baiknya. Ada yang bermain bola, bersantai sambil minum es kelapa, atau sekedar menghabiskan memori di kamera. Saat hari beranjak siang, kami mesti kembali ke penginapan untuk bersiap-siap kembali ke Jakarta.</span></p> <p><span><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505883d7da4dd.jpg" alt="" width="550" height="367" /></span></p> <p><span>Rasanya tak ingin cepat berpisah dengan kehangatan dan kebersahajaan desa ini. Setelah semuanya, saya merasa beruntung pernah merasakan keduanya itu. Meski cuma sebentar, tak hanya kepenatan yang hilang, pencerahan pun muncul akan cara-cara sederhana menikmati hidup. Jiwa kembali siap menjalani rutinitas di hari hari berikutnya tanpa pernah lupa akan satu hal: menjelajahi sisi lain bumi Tuhan!</span></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505883a2cac88.jpg" alt="" width="550" height="351" /></p> Rujak Bali Yang Terlupakan http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/155/rujak-bali-yang-terlupakan <p style="text-align: justify;">Bali, sebuah destinasi wisata favorit jutaan orang. Tempat yang memang memiliki pesona luar biasa. Tidak hanya pemandangan alamnya yang menawan namun Bali juga menyuguhkan berbagai macam hiburan, suguhan budaya serta kuliner. Lawar, ayam betutu, babi guling, nasi campur, sate lilit atau pun ares adalah ragam kuliner khas Bali yang populer.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="/manage/ceritanegeriku/publisharticle/id/439"><img style="vertical-align: text-bottom; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5062e28bbf5b2.jpg" alt="" width="524" height="394" /></a></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Bosan dengan kuliner Bali yang itu-itu saja Nah, kalau begitu mungkin kamu perlu mencoba kuliner yang satu ini, rujak kuah pindang dan bulung. Menurut saya, kedua jenis makanan tersebut adalah kuliner yang terlupakan bagi para pelancong yang berkunjung ke Bali. Kepopulerannya jauh berada di bawah deretan makanan yang sebelumnya saya sebutkan.</p> <p style="text-align: justify;">Siang itu, selepas dari daerah Kuta, saya dan seorang &nbsp;<em>travelmate&nbsp;</em>mengarahkan motor ke arah Denpasar. Konon, di ibukota Provinsi Bali itu terdapat penjual rujak kuah pindang yang legendaris.</p> <p style="text-align: justify;">Jalanan beraspal itu mulai menyempit saat kami memasuki daerah Bukit Tunggal. Matahari Bali yang menyengat kulit pun dengan setianya mengiringi laju motor berlogo garpu tala kami. &nbsp;<em>Celingak-celinguk &nbsp;</em>mencari depot atau semacamnya yang bertuliskan &ldquo;rujak kuah pindang&rdquo; pun menjadi kegiatan yang menyusahkan. Tidak ada satu pun dari deretan bangunan di sepanjang jalan yang memampang tulisan tersebut.</p> <p style="text-align: justify;"><em>Well, &nbsp;</em>karena ingin mempersingkat waktu, saya pun menghentikan laju motor di sebuah rumah berarsitektur Bali. Tampak deretan motor terparkir di depannya. Saya pun kemudian bertanya kepada seorang tukang parkir setengah baya, &ldquo;Pak, mau nanya, di daerah sini yang jual rujak kuah pindang sebelah mana ya !&rdquo; Bapak itupun sempat tersenyum, kemudian menjawab, &ldquo;Disini, Mas...,&rdquo; sambil menunjuk ke belakang tubuhnya. Sayapun tertawa. Ternyata bangunan tempat saya menghentikan motor itu adalah tempat yang saya cari-cari!</p> <p style="text-align: justify;">Rumah berlantai dua dengan gerbang bercorak Bali itu memang menjual rujak kuah pindang. Tidak ada tulisan apa pun di bagian luar. Saya baru menemui spanduk kecil bertuliskan &nbsp;<strong>&ldquo;Warung Rujak Gelogor&rdquo; &nbsp;</strong>di bagian dalam setelah memasuki gerbang. Lho, katanya rujak kuah pindang, tapi kok mampir di warung rujak gelogor! Kata si ibu penjual <em>sih</em>, gelogor hanya nama saja.</p> <p style="text-align: justify;">Saya melihat tumpukan berbagai macam buah-buahan di warung itu. Ada belimbing, jambu air, nanas, kedondong, mangga muda dan sebagainya. Di sebelahnya juga tak kalah tinggi susunan bahan-bahan pelengkap. Memang, warung ini sekilas nampak awut-awutan. Namun, itu bukanlah masalah bagi saya pribadi. Yang penting bisa mencicipi kuliner yang hanya ada di Bali ini.</p> <p style="text-align: justify;">Saat itu saya memesan dua porsi rujak kuah pindang, seporsi bulung dan dua teh botol beraroma melati.&nbsp;<em>Tak &nbsp;</em>lama menunggu, pesanan saya sudah tersaji di atas meja.&nbsp;<em>Ngomong-ngomong, </em>apa sih rujak kuah pindang itu &nbsp;<em>sebenarnya &nbsp;</em>Rujak kuah pindang adalah rujak buah khas Bali. Komposisinya beraneka macam irisan buah-buahan. Saya menemui mangga muda, jambu air, bengkuang, nanas, ketimun dan kedondong. Semuanya diiris tipis dan disiram dengan kuah. Nah, kuah inilah yang istimewa. Kuahnya terbuat dari campuran garam, terasi, cabai dan air hasil rebusan ikan pindang! &nbsp;<em>Hiiyaaa...&nbsp;</em>apa <em>nggak</em>&nbsp;<em>amis&nbsp;</em><em>tuh</em> !&nbsp;<em>We&rsquo;ll see...</em></p> <p style="text-align: justify;">Tampilan rujak kuah pindang ini &nbsp;<em>bener-bener</em>&nbsp;&nbsp;<em>cakep</em><em>!&nbsp;</em>Warna-warni dari buah berpadu dengan warna merah menyala dari kuah sangat menggugah selera. Dari tampilannya saja saya sudah merasakan kesegarannya. Begitu kuah dicicip, yang terasa adalah gurih dan manis bercampur menjadi paduan rasa yang serasi. Diakhiri dengan rasa &nbsp;<em>sedikit&nbsp;</em><em>pedas&nbsp;</em>di lidah.</p> <p style="text-align: justify;">Makanan ini sangat cocok dinikmati di siang yang terik seperti saat itu.<em> </em><em>Rasa asam</em><em> </em>mangga muda, kedondong, jambu air dan nanas dikombinasikan dengan segarnya mentimun, manisnya bengkuang ditambah pula dengan gurihnya kuah pindang menjadikan makanan ini kaya rasa. Tenang saja, bagi yang antipati di awal, kuahnya memang berasal dari rebusan ikan pindang namun rasa amis dari pindang tak terasa menyengat. Percaya <em>deh</em>...</p> <p style="text-align: justify;">Satu pesan saya, bagi yang &nbsp;<em>tak&nbsp;</em><em>s</em>uka&nbsp;<em>pedas</em><em>,&nbsp;</em>lebih baik bilang dari awal ke penjualnya. Saya yang belum pernah makan ini sebelumnya, memesan tanpa syarat apapun. Dan ternyata, kuah yang saya terima sangat pedas! Awalnya tidak terlalu terasa karena saya juga suka makanan pedas, tapi lama- kelamaan lidah terasa terbakar! Bibirpun terasa tebal dan keringat otomatis bercucuran. Sebotol teh dingin belum cukup untuk meredakan panas cabai.</p> <p style="text-align: justify;">Rujak kuah pindang berhasil masuk dalam &nbsp;<em>list &nbsp;</em>makanan favorit saya di Bali. Selanjutnya, masih tersaji seporsi bulung di hadapan. Sebelas-dua belas dengan rujak kuah pindang, bulung ini juga menggunakan kuah yang sama. Hanya saja, buah-buahan digantikan dengan rumput laut. Ya, komposisi bulung adalah dua jenis rumput laut (putih dan hijau), kedelai goreng, parutan kelapa dan disiram dengan kuah pindang. Rasanya, seperti makan rumput! Hahaha... Semuanya &nbsp;<em>krenyes-krenyes &nbsp;</em>dari rumput laut sampai butiran kedelai. Kalau makanan yang satu ini didominasi dengan rasa gurih.</p> <p style="text-align: justify;">Nah, sudah mengenal dua kuliner Bali yang lain bukan ! Jadi tidak ada salahnya, ketika kamu melintas di Denpasar, singgah ke Warung Rujang Gelogor ini. Sampai saat menulis ini dan melihat foto yang ada, air liur saya seolah tak terbendung. Haahaha... Salam kuliner! :-D</p> Perayaan Hidup Kedua http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/156/perayaan-hidup-kedua <p>&nbsp;</p> <p><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="/manage/ceritanegeriku/publisharticle/id/385"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505882252c8a1.jpeg" alt="" width="550" height="413" /></a></p> <p>Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di halaman upacara. Orang-orang berteriak, suara mereka memekik telinga. Saya tersentak lalu beranjak mencari tahu apa yang terjadi. Saya semakin terkejut melihat seekor babi berlari tak tentu arah. Ternyata, babi yang akan dikorbankan terlepas dari ikatan di sebatang bambu. Dengan badan berdarah-darah, babi itu mencoba melepaskan diri dari kerumunan orang-orang.</p> <p style="text-align: justify;">Orang-orang di sekitar panik menyelamatkan diri naik ke rumah-rumah seketika itu juga. Untung saja tak berapa lama, situasi dapat diatasi. Babi mampu kembali ditangkap dan diikat. Itulah akhir perjuangan heroik dari seekor babi yang akan dikorbankan sebagai bagian dari ritual upacara pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.</p> <p style="text-align: justify;">Saya sampai di terminal bus Lita di Kota Makassar malam itu untuk melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja. Sempat takjub melihat wujud bus yang terlampau eksklusif. Serius. Saya sudah siap menumpang bus apa saja tapi ketika kemudian bus yang tersedia terlampau nyaman, saya merasakan rentetan keberuntungan dimulai. Harganya pun cukup murah: Rp110.000,- untuk delapan jam perjalanan malam ke Toraja. Kursinya nyaman, jarak antar kursi cukup luas. Bahkan ada wi-fi! Moda transportasi yang patut diadaptasi untuk bus antar provinsi di Jawa.</p> <p style="text-align: justify;">Perjalanan delapan jam pun jadi tak terasa. Yang saya tahu, tiba-tiba bus sudah berhenti pagi itu. Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi. Bus berhenti sebentar di depan sebuah gang. Saya masih tertidur pulas saat sang kernet membangunkan. Dari awal, saya memang meminta supir untuk menurunkan saya di penginapan murah yang juga menyediakan penyewaan motor.</p> <p style="text-align: justify;">Kernet bus mengantarkan saya ke Hotel Bison, hotel sederhana di dekat Jalan Raya Rantepao. Hanya 20 meter dari jalan raya, masuk lewat gang kecil. Meski cukup sederhana, hotel ini nyaman sekali dengan konsep bangunan rumahan. Harga per malam juga sangat terjangkau, yaitu Rp150.000,- ditambah mereka menyediakan motor untuk disewa seharga Rp65.000,- per hari, namun tanpa bahan bakar.</p> <p style="text-align: justify;">Saya tak punya kemewahan akan waktu kala itu. Saya mesti memanfaatkan setiap menitnya untuk sebanyak-banyaknya menjelajahi kota penuh kultur unik nan bersahaja ini. Sekitar pukul 7 pagi, saya pergi ke lobi untuk mencari-cari informasi. Tak banyak juga informasi yang bisa penjaga hotel ini berikan. Untung saja saya bertemu John Rante, seorang pemandu wisata yang rumahnya berdekatan dengan hotel.</p> <p style="text-align: justify;">Saya berbincang banyak sampai sepakat untuk menyewa jasa Pak John sebagai pemandu wisata seharian itu. Setelah tawar menawar, harganya pun cukup murah Rp150.000,- sudah termasuk bensin motornya. Sebenarnya tarif normalnya Rp250.000,- belum termasuk ongkos bensin. Namun, karena memang bukan musim liburan, saya bisa mendapat tarif terbaik.</p> <p style="text-align: justify;">Destinasi pertama yang saya kunjungi adalah pesta pemakaman di Kecamatan Kete Kesu. Pestanya berlangsung cukup sederhana dibanding &nbsp;<em>trademark &nbsp;</em>upacara pemakaman yang sering diberitakan memakan biaya sampai ratusan juta bahkan miliaran. Keluarga yang berkabung kebetulan hanya keluarga petani.</p> <p style="text-align: justify;">Akan tetapi, mereka tetap harus mengorbankan tiga ekor <em>tedong</em> (kerbau) dan tiga ekor <em>bai </em>(babi) sebagai teman menuju dunia yang lain bagi yang sudah wafat. Meski hnaya sedikit hewan yang dikurbankan, tetap saja biayanya sampai puluhan juta jika menghitung satu kerbau biasa dijual Rp15-30 juta dan satu babi Rp1-3 juta. Belum ditambah biaya-biaya lainnya.</p> <p style="text-align: justify;">Saya mencoba menelisik masuk ke dalam. Memberi salam pada keluarga yang berkabung kemudian menuju dapur yang sepertinya sedang ramai. Terdengar sampai luar suaranya, suara ibu-ibu mengoceh dan goresan panci. Benar saja, mereka sedang rumpi rupanya. Saya sempat mengabadikan aktivitas unik mereka yang sambil menguyah sesuatu (entah apa), meminum kopi hitam Toraja, dan menanak nasi satu gentong.</p> <p style="text-align: justify;">Mereka memandang saya asing. Wajar tentu saja. Akan tetapi, mereka ternyata ramah sekali. Tak lama, saya ditawari kopi. Secangkir kopi dan tak lupa kue-kue khas Toraja yang terbuat dari beras merah. Saya lupa namanya. Yang jelas, rasanya legit dan renyah, tak kalah dengan kue-kue dari toko.</p> <p style="text-align: justify;">Pak John lalu menceritakan banyak hal tentang ritual pemakaman itu. Masyarakat Toraja menganggap ada dua kehidupan yang mesti dijalani. Sebelum dan setelah mati. Ketika mati, mereka harus diperlakukan istimewa demi kebahagiaan hidup setelahnya. <em>Puya</em>, nama &lsquo;dunia&rsquo; setelah kematian untuk masyarakat Toraja. Hewan-hewan yang dikurbankan menjadi teman bagi yang wafat di Puya. Sebuah prosesi untuk meninggikan yang tiada.</p> <p style="text-align: justify;">Kemudian, saya mampir ke Kuburan Batu yang terletak di Desa Lemo, Kecamatan Sanggalange. Mengapa dinamakan kuburan batu Sesederhana karena memang mayatnya dikuburkan di tebing-tebing batu. Selain dikuburkan di sana, dibuat juga replika manusia dari kayu lengkap dengan baju adatnya (<em>tau-tau</em>). Beberapa kuburan di sana terlihat masih baru. Ada juga pahatan-pahatan yang baru dibuat sebagai persiapan sebagai tempat persemayaman terakhir orang-orang yang meninggal.</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Walau terlihat kecil, sebenarnya lubang di dalamnya besar sekali. Bisa menampung beberapa mayat,&rdquo; jelas Pak John sambil menunjuk sebuah kuburan di ujung tebing.</p> <p style="text-align: justify;">Setiap sisi tebing di bukit itu dipenuhi kuburan dengan replika manusia. Saya sempat mengitari tebing ke sisi-sisi yang berbeda dan selalu mendapati kuburan-kuburan batu yang lain. Menurut Pak John, semakin ke belakang dan tersembunyi, berarti kasta atau tingkatan orang tersebut lebih rendah.</p> <p style="text-align: justify;">Di sekitar kompleks kuburan batu, banyak warga sekitar yang menjual kerajinan khas Toraja. Selain bentuknya yang khas, harganya juga tak terlalu mahal. Kain cantik buatan tangan sepanjang dua meter misalnya hanya dihargai Rp60-80 ribu. Patung-patung khas Toraja dengan bentuk pasangan orang tua diharga Rp25-60 ribu (tergantung ukuran).</p> <p style="text-align: justify;">Pak John mengantar saya ke tempat pemakaman bayi atau <em>Baby&rsquo;s grave</em> di Kampung Kambira, Kecamatan Sanggala. Tempat pemakaman bayi hanya berupa pohon besar diselimuti sabut-sabut hitam sebagai penutup lubang tempat bayi-bayi dimakamkan. Pohon ini diperuntukkan bagi bayi yang meninggal di dalam kandungan atau berusia di bawah enam bulan.</p> <p style="text-align: justify;">Dari sana, kami beranjak ke pasar tradisional di Kampung Tokesan. Di sini, seperti banyak pasar tradisional lain, ramai penjual menjajakan berbagai macam dagangan, mulai dari kebutuhan sehari-hari, sampai daging babi juga ada. Pasarnya mulai dari pagi hingga siang menjelang sore.</p> <p style="text-align: justify;">Saya kembali terkagum-kagum saat sampai di Kampung Bonoran di Kecamatan Kete Kesu, lokasi rumah-rumah adat Tongkonan. Ada dua belas rumah khas Toraja berjejer rapi di kedua sisi. Di depan setiap rumah adat, hampir pasti selalu dipajang jejeran tanduk-tanduk kerbau yang telah dikurbankan. Lengkap dengan patung kepala kerbau dari kayu. Atap Rumah adat Tongkonan sekilas mirip tanduk kerbau.</p> <p style="text-align: justify;">&ldquo;Bukan tanduk kerbau. Itu perahu,&rdquo; kata Pak John mengoreksi. Menurut sejarah, nenek moyang orang Toraja dulu memang pelaut. Ketika sampai di daratan, mereka membuat rumah dengan memanfaatkan perahu-perahu mereka.</p> <p style="text-align: justify;">Dari salah satu rumah yang saya masuki, kondisi dalam rumah tersebut pun terlampau sederhana. Rumah ini hanya terdiri dari 3 ruangan: kamar, ruang keluarga, dan ruang makan. Dapur, ruang makan, dan bahkan WC digabung menjadi satu di tengah. Agak risih ya </p> <p style="text-align: justify;">Saya sangat penasaran ketika Pak John akan mengajak saya ke kuburan yang disimpan di goa. Dalam hati, &ldquo;Di tebing, di gunung, di pohon, sekarang di gua &rdquo; Memang Toraja kaya akan budaya menghormati yang tiada. Sampai-sampai mereka rela bertaruh nyawa untuk memakamkan orang-orang yang mereka cintai di tempat yang mereka anggap terbaik.</p> <p style="text-align: justify;">Lokasi kuburan goa ini ada di daerah Londa, sebelah Selatan Rantepao. Untuk melihat ke dalam goa, kita mesti menyewa lampu petromax seharga Rp25.000,-. Masuk ke goa ini mesti ekstra hati-hati, jalanan agak terjal, sempit, dan licin. Salah-salah bisa terpeleset.</p> <p style="text-align: justify;">Masih ada mayat yang baru dikubur dua tahun lalu. Peti matinya masih utuh. Berbeda dengan banyak peti mati lainnya yang sudah rapuh dan berlubang sehingga tulang-belulang pun sampai terjulur keluar. Sesaji juga banyak sekali diberikan oleh warga yang berziarah. Rokok, bunga, air minum, atau buah-buahan. Semuanya diberikan sebagai bekal yang sudah wafat di alam sana. Sesaji tersebut kian hari kian menumpuk, tak ada seorang pun yang berani mengambil atau sekedar membersihkan. Alasannya klise (atau tidak): karena takut dihantui sepanjang hidup.</p> <p style="text-align: justify;">Naik beberapa anak tangga di sisi bukit dekat goa, Pak John menunjukkan ada kuburan tertinggi yang terletak hampir di puncak tebing terjal. Sudutnya hampir tegak lurus. Tak terbayang bagaimana orang-orang bisa sampai ke sana hanya untuk menguburkan mayat. Ceroboh sedikit malah bisa ikut menjadi mayat. Tapi itulah, kata Pak John, sebuah dedikasi akan sebuah ritual. &ldquo;Mereka yang berangkat ke atas memang harus ahli. Memanjat tebin hanya dengan berbekal bambu sebagai penyangga.&rdquo; Luar biasa!</p> <p style="text-align: justify;">Semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin mewah pula jenazahnya mesti dilengkapi. Seringkali dengan kain-kain mahal dan perhiasan. Oleh karena itu, biasanya jenazah orang-orang seperti itu diletakkan di tebing paling atas agar sulit dicapai orang lain.</p> <p style="text-align: justify;">Bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah sebuah akhir. Justru mati adalah gerbang menuju Puya, dunia yang baru. Dunia di mana arwah-arwah kembali menjalani hidup yang lain bersama dengan para hewan yang dikurbankan. Sungguh sebuah penghargaan yang tinggi pada kematian dan hidup setelah mati.</p> <p style="text-align: justify;">Bagi mereka, mati adalah hidup yang kedua kali.</p> <p style="text-align: justify;">Itulah sekelumit kisah perjalanan saya di Toraja. Memang cuma sehari, tapi saya tak bisa melupakan setiap menit penelusuran budaya unik di sana. Masih banyak yang belum saya saksikan, salah satunya adalah mitos mayat berjalan sendiri. Suatu hari saya pasti akan kembali untuk mencari tahu lebih banyak dan menelusuri lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Toraja yang bersahaja.</p> <p style="text-align: justify;">Seorang jurnalis dan penulis, Patricia Schultz, memasukkan Toraja dalam bukunya, &ldquo;<em>1000 Places to See Before You Die</em>&rdquo;. &nbsp;<em>Well</em>, kini saya tahu benar mengapa dia berpendapat demikian. Dalam hati, saya mengangguk seraya setuju.</p> Pantai Bajul Mati Surga Yang Tersembunyi http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/157/pantai-bajul-mati-surga-yang-tersembunyi <p style="text-align: left;">Tepatnya Senin (H +1 Lebaran) bersama teman-teman di kampung melakukan perjalanan dengan tujuan Pantai Bajul Mati di Malang Selatan. Perjalanan dimulai pukul 22.00 dari Ngabetan-Cerme-Gresik. Beranggotan 8 motor dan 15 personil, perjalanan kami terbilang santai, menembus malam dan sempat beberapa kali istirahat hingga sampailah di daerah Pagelaran, Malang.</p> <p style="text-align: left;"><img src="http://agus.setiawan.web.id/wp-content/uploads/2012/09/P1020060-300x225.jpg" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: left;">Salah satu motor mengalami pecah ban sehingga kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah masjid sambil menunggu pagi dan mencari tukang tambal ban. Sekitar pukul 6 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bajul Mati dengan menggambil rute <em>offroad</em> via Balekambang. Jalur yang kamu lalui melintasi track batu, tanah dan (naik-turun) bukit yang menambah serunya perjalanan. Dengan pemandangan di kanan kiri yang hijau, kami juga sesekali berpapasan dengan petani yang membawa rumput untuk pakan ternak.</p> <p style="text-align: left;">Sekira satu jam lebih (untuk jarak tempuh sekira 12 Km) waktu yang kami habiskan untuk menyusuri jalan bebatuan sebelum menemukan jalan aspal. Rasanya bagai menemukan sumber air di gurun pasir saat melihat jalan aspal yang mulus.</p> <p style="text-align: center;"><iframe src="http://www.youtube.com/embed/Db4XeSWMxYE" frameborder="0" width="420" height="315"></iframe></p> <p style="text-align: left;">Terlebih lagi, hati makin riang saat mulai tampak di sebelah Selatan, hamparan pantai-pantai nan indah hingga akhirnya kami sampai juga di Pantai Bajul Mati. Pantai ini masih sanggat alami kondisi pantainya dan masih sepi pengunjung. Hal ini tentu saja membuatnya terasa seperti pantai milik sendiri saja. Tanpa dikomando, si Bete (baca: Motor Pulsar 200) langsung saja saya tancapkan di bebatuan karang dan pasir.</p> <p style="text-align: center;"><img src="http://agus.setiawan.web.id/wp-content/uploads/2012/09/P1020065.jpg" alt="" width="550" height="733" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://agus.setiawan.web.id/wp-content/uploads/2012/09/P1020075.jpg" alt="" width="550" height="413" /></p> <p style="text-align: left;">Setelah lelah bermain di pantai, saya menuju ke sebuah pelelangan ikan di Sendang Biru, 3 km dari Pantai Bajul Mati. Saya membeli ikan tuna dengan berat 2 kg seharga Rp35.000,-. Karena ikannya sangat besar dan kami cuma membawa pisau kecil akhirnya minta di potongkan oleh penjual ikan. Eh tak hanya dipotongkan, malah disarankan untuk sekalian dibakarkan saja (dengan biaya 5 ribu/kg). Setelah di pikir-pikir, memang lebih baik minta dibakarkan saja. Akhirnya ikan tadi saya bawa ketempat pembakaran. Tapi ternyata biaya bakar ikan Rp15.000,-. Mungkin karena nuansa lebaran. Itu pun belum termasuk bumbu sambalnya. Tetapi karena kami bawa kecap pedas jadi kami cuma minta dibakarkan ikannya saja. Meski begitu, bumbu kecap pedas saja sudah nikmat apalagi karena ditemani nuansa pantai yang indah.</p> <p style="text-align: left;">Saat senja datang, menikmati<em> sunset</em> di Pantai Bajul Mati sangatlah indah. Bersama si Bete, saya mengantarkan sang mentari pulang ke peraduannya. Sebelum gelap datang, kami mendirikan sebuah tenda dengan kapasitas 4 orang. Teman-teman yang lainnya tidur dengan beralaskan tikar dan beratap langit malam.</p> <p style="text-align: left;">Kegelapan malam di pantai cantik itu diterangi kobaran api unggun yang kami buat. Nuansa mistis pun semakin terasa. Seorang penjaga pantai serta pengelola wisata mendatangi kami dan dengan hangatnya menemani kami beberapa saat. Mereka juga menawarkan untuk memetik kelapa muda dan mengambil singkong untuk kami. Tentu saja kami tak mau menolak rejeki. Kami langsung saja menuju TKP untuk mengambil singkong dan membakarnya sebagai teman mengusir kantuk malam itu. Keesokan paginya, kelapa muda pun kami petik; betapa segar dan nikmat rasanya.</p> <p style="text-align: left;">Hari beranjak siang, para nelayan pun sudah mulai menepi dengan hasil tangkapannya yang langsung kami tawar. Seekor ikan kakap, 2 kakap merah dan beberapa ikan kecil lainnya kami beli dengan harga Rp40.000,- saja. Api unggun sisa semalam menjadi tungku untuk membakar ikan-ikan tersebut. Sarapan ikan bakar di pantai sungguh nikmat, sebagai bekal tenaga untuk perjalanan pulang. Pukul 9 kami bergegas membereskan semua perlengkapan untuk bersiap kembali ke Kota Pudak (Gresik).</p> <p style="text-align: left;">Sekian cerita perjalanan saya ke Pantai Bajul Mati.</p> Mt Rinjani, Antara Keindahan Alam dan Badai http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/158/mt-rinjani-antara-keindahan-alam-dan-badai <p style="text-align: justify;">Ketika sampai di Pulau Lombok, yang ada dalam pikiranku hanyalah &ldquo;<em>Aku ingin segera mendaki Gunung Rinjani</em>&rdquo;. Siapa yang tak mengenal Gunung Rinjani Ya, Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua setelah Gunung Kerinci di Sumatera. Gunung Rinjani berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ketinggian Gunung Rinjani mencapai 3.726 mdpl.</p> <p><a class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;" title="to select thumbnail image" href="/manage/ceritanegeriku/publisharticle/id/392"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505b11cbbdf10.jpg" alt="" width="550" height="365" /></a></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hari Pertama, Senin 16 Juli 2012</strong></p> <p style="text-align: justify;">Ditemani seorang sahabat yang memiliki darah asli Pulau Lombok, pukul 09.00 WITA kami mulai <em>packing</em>. Segala perlengkapan logistik dan konsumsi kami persiapkan untuk beberapa hari kedepan. Tepat pada pukul 12.00 WITA kami mulai berangkat dari Kota Mataram. Memasuki pintu gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani, kami dihadapkan pada hutan yang masih alami dengan beragam jenis flora dan fauna. Jalan berliku yang sudah menjadi ciri khas perjalanan gunung namun menjadi kesenangan tersendiri bagi kami. Sesekali Matahari tertutup oleh awan yang membuat udara semakin dingin dari biasanya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Tiga jam perjalanan dari Kota Mataram, sampailah kami di Desa Sembalun. Desa ini berada dibawah kaki Gunung Rinjani, desa yang sedikit polusi, yang penduduknya bergantung pada usaha pertanian dan yang penuh dengan mesjid berwarna-warni. Setelah menyelesaikan registrasi di Basecamp Sembalun, pukul 16.00 WITA kami langsung melakukan pendakian dengan target kemping di Pos 2 yang memiliki mata air. Dua jam perjalanan kami tempuh untuk sampai di Pos 2. Pos ini lumayan besar dan muat untuk sekira 5-6 tenda. Setelah selesai mendirikan tenda, kami segera memasak dan mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api. Suasana yang sunyi dan bintang yang bermilyaran diangkasa menemani kami malam itu hingga kantuk menyerang. Satu persatu dari kami pun memasuki tenda.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hari Kedua, Selasa 17 Juli 2012</strong></p> <p style="text-align: justify;">Keesokan harinya, kami pun dibuat takjub oleh pemandangan puncak Gunung Rinjani yang sangat cerah. Tak berlama-lama, kami langsung masak dan <em>packing</em> untuk melanjutkan pendakian dengan target Pelawangan Sembalun. Pukul 08.30 WITA kami memulai pendakian dengan semangat yang membara karena di depan sudah menanti tanjakan yang diberi nama &ldquo;<em>tujuh bukit penyesalan</em>&rdquo;. Setelah melewati Pos 3 barulah kami di hadapkan dengan bukit yang awalnya cukup menanjak dan akhirnya pun semakin menanjak. Sesekali kami berhenti di tengah perjalanan, mengatur detak jantung dan saling sapa ketika berpapasan dengan turis mancanegara. Suasana menjadi berbeda ketika kabut mulai menyelimuti jalur pendakian. Terik Matahari yang tadinya menyengat mendadak hilang begitu saja. Suhu yang tadinya panas berubah menjadi dingin. Pemandangan yang tadinya menjadi teman ketika beristirahat, kini sudah tertutup oleh kabut.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Pukul 16.00 WITA kami tiba di Plawangan Sembalun, teman sependakianku berkata &ldquo;<em>S</em>e<em>harusnya dari sini kita dapat melihat Danau Segara Anak dan sebagian Gunung Barujari</em>&rdquo;. Tapi, sore itu Gunung Rinjani berkata lain, kabut yang dari awal menemani perjalanan kami lama kelamaan menjadi semakin menyebalkan. Tadinya kami bertekad mengejar <em>sunset</em> di Plawangan namun gagal sebab yang ada hanyalah kabut abadi. Setelah mendirikan tenda, kami langsung masak dan dilanjutkan dengan tidur cepat, karena besok pagi dini hari pukul 02.00 WITA kami harus sudah berangkat agar sampai di puncak Rinjani bersamaan dengan terbitnya Matahari.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hari Ketiga, Rabu 18 Juli 2012</strong></p> <p style="text-align: justify;">Pukul 02.00 WITA, waktu yang kami tunggu-tunggu saat itu, saat dimana kami harus melawan rasa malas. Melawan rasa malas ketika sedang nyaman berselimut <em>sleepingbag</em>, saat dimana suhu menunjukkan titik terdinginnya, saat dimana kami harus menyiapkan perbekalan, saat dimana badan terasa pegal-pegal. Semua itu harus kami lawan dengan semangat yang membara lagi untuk melanjutkan perjalanan. Setelah perlengkapan disiapkan, kami memulai pendakian. Jalan yang berdebu dan menanjak terjal mengharuskan kami memakai masker, mau tidak mau, mending sulit bernafas karena memakai masker daripada bernafas menghirup debu.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Pukul 05.00 WITA suasana menuju puncak pun mulai terasa tak bersahabat, cuaca yang tadinya cerah sekarang menjadi mendung. Bintang yang tadinya bermilyaran di angkasa kini hanya ada satu bahkan sesekali menghilang. Suhu yang dingin menjadi lebih dingin lagi dari biasanya, namun puncak masih jauh dari pandangan mata. Beberapa pendaki mulai turun dengan mengingatkan kepada kami, &ldquo;Mas, diatas lagi badai, mending turun saja. Saya juga nggak sampai puncak kok&rdquo;. Mendengar kata-kata itu temen seperjuanganku dengan cepat mengambil kesimpulan &ldquo;Ayo turun, Bro. Kalau kamu mau muncak aku tunggu di bawah saja&rdquo;. Ya, memang cuaca mulai tidak bersahabat. Angin yang tadinya biasa kini lumayan kencang, yang tadinya rintik embun kini menjadi tetes air yang lama kelamaan membasahi pakaian kami.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Sungguh pengambilan keputusan yang sangat sulit bagi saya, mengingat jarak tempuh yang jauh dari Pulau Jawa menuju Pulau Lombok. Ditambah lagi pendakian yang berat dari pintu Sembalun melewati tujuh bukit penyesalan menuju <em>camp</em> terakhir di Plawangan sangatlah melekat dipikiranku saat itu. <em>&ldquo;Akankah aku mudah menyerah karena kata-kata orang tersebut Bisa saja dia sudah mencapai puncak sebelum kami. Belum lagi puncak di depan mata, paling satu jam lagi aku bisa sampai. Di sisi lain kawanku sudah menyerah dan memilih untuk turun ke basecamp terakhir Apakah aku akan mendaki sampai puncak sendiri &rdquo;</em></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Dengan berat hati dan tanpa rasa ikhlas, aku memilih untuk turun. Kenapa aku berkata demikian Bagaimana tidak kesal ketika memilih untuk turun ke bawah,puncak yang tadinya kelabu dan bahkan menghilang sekarang berubah menjadi cerah. Matahari pun seakan-akan memberikan semangat, &ldquo;Ayo lanjutkan mencapai puncak anak muda,masak gitu aja udah nyerah, mana mental kalian.. &rdquo; Aaarggh, sungguh pilihan yang membingungkan! Akan tetapi aku sudah bertekad memilih untuk turun. Segala resiko sudah aku tanggung dengan memilih jalan itu. Mungkin lain kali aku bisa mencapai puncak Rinjani dengan suasana, kondisi, dan umur yang berbeda.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Pukul 12.00 WITA kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anak; perjalanan ini menghabiskan waktu 5 jam. Tepat pukul 17.00 WITA kami sampai di kemping area Danau Segara Anak. Disini kami tak lagi berdua, tetapi bersama tiga orang pendaki dari Jakarta dan tiga orang pendaki dari Purwokerto. Suasana semakin ramai, yang semula hanya bercanda kecil sekarang menjadi besar. Kami pun mendirikan tenda bersama dan sebelum malam datang aku sempatkan untuk memancing. Tetapi, sore itu sepertinya ikan di danau sudah mulai kedinginan dan masuk ke persembunyiannya.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">Untuk mendapatkan joran pancing dan umpannya sangatlah mudah. Orang-orang asli Desa Sembalun yang sudah berhari-hari tinggal di Danau Segara Anak sangatlah ramah dan baik hati. Mereka meminjamkan kami joran dan memberi umpan. Saat mengetahui kami tidak mendapatkan apa-apa malam itu, mereka menawarkan ikan hasil pancingan mereka. Kebanyakan ikan berjenis nila tetapi mereka menyebutnya<em> &ldquo;ikan Tin&rdquo;</em>. Dinamakan ikan Tin karena pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto telah di lemparkan beribu-ribu bibit ikan dari helicopter. Kami pun langsung menerima tawaran mereka, ikan bakar. Sambil bercerita kami berkenalan, rasa dingin yang sangat menusuk tulang terasa hangat ketika ditemani kopi sambil menunggu ikan bakar dengan bumbu kebesaran yang mereka buat.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hari Kelima, Sabtu 20 Juli 2012</strong></p> <p style="text-align: justify;">Pagi itu setelah mengabadikan foto Matahari terbit dan memasak, kami dikagetkan oleh angin badai yang tiba-tiba datang dan melemparkan semua barang kami ke jurang. Hasilnya matras dan beberapa <em>daypack</em> berterbangan. Aku juga ikut kaget dengan terbangnya satu tenda kami, sedang tenda yang lain sudah tak sanggup berdiri. Beberapa <em>frame</em> patah dan terjadi sobekan pada <em>flysheet</em> akibat angin badai tersebut. Kami pun segera <em>packing </em>barang-barang kami untuk mengantisipasi datangnya angin badai susulan. Pukul 10.00 WITA kami langsung memutuskan untuk turun dan target mencapai Pintu Senaru. Tepat pukul 17.00 WITA kami sampai di pintu senaru dengan kondisi badan yang lemas. Setelah lama istirahat, kami langsung mencarter angkot untuk menuju Mataram. Sungguh perasaan yang senang karena dapat kembali dengan selamat, tetapi disisi lain aku sakit hati karena tidak dapat mencapai puncak Rinjani.</p> Liburan Wisata ke Karimunjawa Jepara http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/159/liburan-wisata-ke-karimunjawa-jepara <p><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-bt1SQ5NHk5M/UEWFIVQH6pI/AAAAAAAAAH8/bdGLHceBvSY/s0/kompak%2Btour%2Bkarimunjawa.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p>Bingung liburan mau wisata ke mana Tidak usah bingung dan ragu untuk menentukan destinasi wisata, tempat wisata di Indonesia bagus-bagus semua kok. Tinggal memilih saja mau wisata alam, religi, budaya, sejarah, dan lainnya.Nah, bagi yang hobi traveling, wajib nih mengunjungi Kepulauan Karimunjawa. Eh dimana tuh Karimunjawa Karimunjawa terletak di provinsi Jawa Tengah, tepatnya wilayah administratif Kabupaten Jepara.Dari tahun ke tahun, Karimunjawa kian ramai di kunjungi wisatawan, baik itu wisatawan mancanegara maupun domestik. Semakin ramai pengunjung yang datang ke Karimunjawa berarti ikut membantu perekonomian Indonesia.</p> <p>Untuk berkunjung&nbsp;ke Karimunjawa&nbsp;tidaklah sesulit yang Anda bayangkan, karena saat ini ada kapal penyebrangan yang membantu untuk berlayar mengunjungi pulau tersebut. Bagi Anda yang mau berkunjung ke Karimunjawa via Kabupaten Semarang, dapat naik kapal cepat Kartini (menempuh 4 jam perjalanan). Jadwal keberangkatan dari Semarang adalah setiap hari Sabtu dan Minggu.Selain itu, dapat pula naik kapal cepat Express Bahari 9 via Jepara (sekira 2 jam perjalanan). Jadwal keberangkatan dari Jepara-Karimunjawa: Senin, Selasa, Jumat dan Sabtu. Sementara jadwal pulang dari Karimunjawa-Jepara: Senin, Rabu, Sabtu dan Minggu. Di Jepara, Anda dapat pula menumpang kapal ASDP Muria (sekira 6 jam perjalanan) dengan jadwal keberangkatan dari Jepara-Karimunjawa: Senin, Rabu dan Sabtu. Sementara itu, jadwal kepulangan dari Karimunjawa-Jepara: Selasa, Kamis, dan Minggu.</p> <p><strong>Ada Apa di Karimunjawa </strong></p> <p>Aktivitas wisata di Karimunjawa kebanyakan bermain dengan air laut. Kegiatan yang dapat dan patut Anda lakukan adalah&nbsp;<em>snorkeling&nbsp;</em>untuk melihat indahnya terumbu karang dan biota laut, berenang dan bermain dengan ikan hiu, mengelilingi pulau-pulau di Karimunjawa (ada 27 pulau), bermain pasir putih, melihat eksotisme batu karang, mincing, dan lain-lain.</p> <p>Selain wisata bahari, kegiatan lain yang menarik untuk dilakukan adalah mengunjungi hutan mangrove, mengunjungi kerajinan khas Karimunjawa, mengintip aktivitas nelayan dan masyarakat karimunjawa, melihat rumah adat Bugis, Madura dan khas Karimunjawa, ziarah ke makam Sunan Nyamplungan, dan lainnya. Jangan lupa untuk mengabadikan keindahan dan kenangan semasa di Karimunjawa dengan kamera Anda.</p> <p><strong>Keunikan di Karimunjawa </strong></p> <p>Hal yang paling unik di Karimunjawa adalah mengenai masalah listrik. Kebutuhan listrik di Karimunjawa tidak dapat dipenuhi selama 24 jam penuh. Jatah listrik di pulau cantik tersebut hanya 12 jam saja, dikarenakan PLN belum mampu menjangkau pulai ini. Listrik di Karimunjawa menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Listrik menyala mulai pukul 18.00 s/d 06.00, sehingga mulai pukul 06.00 - 18.00 listrik mati. Nah, hal ini bagi saya cukup unik dan tak terlupakan.</p> <p>Bagi yang mau wisata ke Karimunjawa, Anda tidak usah bingung. Anda dapat mengatur sendiri perjalanan Anda atau dapat pula pergi bersama rombongan. Apabila ingin menggunakan jasa biro travel ke Karimunjawa juga banyak pilihan paket yang dapat dipertimbangkan.</p> Karimun Jawa: Pesona Bahari di Utara Pulau Jawa http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/148/karimun-jawa-pesona-bahari-di-utara-pulau-jawa <p style="text-align: left;" align="center"><em><strong>Ambilah kenangan dengan fotomu dan jangan mengambil sesuatu di alam sebagai kenanganmu. - Taman Nasional Karimunjawa</strong></em></p> <p>Karena dulu pulau ini <em>kremut-kremut</em> alias terlihat samar-samar makanya pulau ini dinamakan Karimun. Sontak kami semua tertawa mendegar celotehannya. Namanya Rizal, dia adalah pemuda asli Pulau Karimunjawa. Berkulit hitam, berbadan kecil namun berotot, tipikal penduduk pesisir pantai. Seperti penduduk Pulau Karimunjawa pada umumnya, Mas Rizal adalah sosok yang sangat bersahabat dengan para wisatawan.</p> <p>Masih teringat jelas dalam benak saya, bagaimana Mas Rizal ikut membantu kami mencari wisatawan yang tidak terikat dengan travel agen. Bagi <em>backpacker</em> seperti kami, harga sewa kapal untuk mengelilingi beberapa pulau kecil di sekitar Pulau Karimunjawa memang cukup mahal.Satu-satunya cara untuk menghemat biaya adalah dengan mencari wisatawan lain untuk bergabung dengan kami, sehingga harga sewa kapal dapat dibagi dengan lebih banyak orang. Karena bantuan Mas Rizal akhirnya kami dapat melakukan wisata bahari di Kepulauan Karimunjawa, hingga akhitrnya dapat membagikan cerita perjalanan ini.</p> <p>Kami memulai perjalanan dari Pelabuhan Kartini Jepara. Dengan menaiki kapal ferry KM Muria, kami akan menempuh perjalanan selama kurang lebih enam jam menuju Taman Nasional Karimunjawa. Ini kali pertama saya kembali naik kapal setelah 17 tahun lamanya, terakhir saya naik kapal saat berumur 4 bulan. Jadi, bisa dibilang kalau saya itu belum benar-benar merasakan bagaimana sih rasanya naik kapal.</p> <p>Setelah memasuki kapal, saya bergegas menuju bagian atas dek kapal. Kenapa saya ingin sekali berada di dek kapal Karena saya teringat salah satu adegan yang populer di Film Titanic. Pasti sudah tahu kan adegan yang saya maksud--adegan ketika Leonardo dan Kate Winslet bermesraan di atas dek kapal. Nah, saya itu berharap bisa melakukan hal serupa, <em>so sweet</em>... (Melirik teman seperjalanan: cowok semua!).</p> <p>Saya pikir duduk di dek kapal itu nyaman. Sial, ternyata duduk di dek kapal itu semacam <em>zonk</em>! Panasnya! Sengatan Matahari begitu terasa di ubun-ubun, membuat kepala terasa pusing dan perut pun bergejolak, belum lagi laju kapal yang sangat pelan. (Kemudian muntah-muntah)</p> <p>Tahu nggak Sebenarnya jarak dari pelabuhan Kartini ke Taman Nasional Karimunjawa itu hanya sejauh 90 kilometer lho. Dekat bukan Tapi kenapa kapal ini berjalan pelan sekali. Bisa dibilang laju saya mengayuh sepeda roda tiga lebih cepat dibanding laju kapal ini, pantas saja waktu tempuhnya lama sekali&hellip; <em>Huuft</em>.</p> <p>Beruntung saya bersama dengan teman-teman yang sangat baik. Sepanjang perjalanan yang menguras tenaga dan menguras isi perut, mereka begitu perhatian kepada saya: mengambilkan minum, memijat dan senantiasa mengingatkan saya agar tidak menjatuhkan diri ke laut. (Kemudian terharu: berpelukan).</p> <p><em><strong>14.30, Selamat Datang</strong></em><em></em></p> <p>Akhirnya sampai juga. Setelah turun dari kapal, banyak orang yang mengerubuti kami: ditarik ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, di lempar ke atas, di banting dan kami pun bergegas lari meninggalkan mereka. Kabur!</p> <p>Mereka adalah orang-orang yang menyewakan penginapan dan menawarkan jasa transportasi menuju penginapan. <em>Yaelah</em>&hellip; Pulau Karimunjawa itu seluas apa sih ! Pasti tidak lebih luas dari halaman rumah saya. Dari pelabuhan kedatangan ke pelabuhan nelayan saja tidak terlalu jauh, lebih baik jalan kaki lah. (Kemudian kaki keram)</p> <p>Setelah berjalan beberapa meter dari pelabuhan Taman Nasional Karimu Jawa, deretan rumah penduduk mulai terlihat. Penginapan di sini menggunakan sistem <em>homestay</em>, jadi warga menyediakan kamarnya untuk disewa per malam. Jangan terburu-buru dalam memilih, sesuaikan dengan kantong dan fasilitas yang didapat. Kami mendapat penginapan dengan tarif Rp15.000,- rupiah per malam dengan fasilitas tambahan yaitu diesel. Murahkan Sekedar informasi, Karimunjawa itu menggunakan PLTD dan listrik hanya menyala dari pukul 17.00 - 05.00 saja.</p> <p><em><strong>Suatu Malam di Karimunjawa</strong></em></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505c7f4952b8f.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><em>Duar.. Duar.. Duer..</em> Suara petasan terdengar tepat di sebelah kami. Wah ini <em>nih</em>, <em>ngajak</em> perang <em>nih</em>. Kami pun segera membeli petasan dan membalas serangan anak-anak itu. <em>Fire in the hole</em>! Duaaaar..</p> <p>Kata mereka alun-alun ini selalu ramai, apalagi malam minggu seperti sekarang ini. Mulai dari anak-anak hingga orang tua senang berkumpul di tempat ini. Berbagai macam kegiatan mereka lakukan: bermain, berkumpul dengan keluarga, menjual aneka makanan dan minuman, atau menonton film India di balai desa. Alun-alun ini memang menjadi tempat terbaik untuk merayakan malam.</p> <p><em><strong>Pesona Bahari Karimunjawa</strong></em><em></em></p> <p>Pagi hari ini kami akan berwisata bahari, menggelingi beberapa pulau kecil di sekitar pulau Karimunjawa dan&nbsp;<em>snorkeling&nbsp;</em>untuk melihat keindahan bawah lautnya. Berangkat!</p> <p>Wow, ternyata di Pulau Menjangan Besar kita berkesempatan berenang dengan ikan hiu. Awalnya takut juga berenang di dalam kolam penangkaran ini. <em>Bayangin aja</em>, di dalam kolam penangkaran yang lumayan luas terdapat puluhan <em>Blacktip Reef Shark</em>. Tapi setelah diyakinkan oleh pemiliknya, saya memberanikan diri untuk menyeburkan diri. Ternyata hiunya cuek-cuek saja ketika saya berenang, saya pun dengan santainya berenang kesana kemari, yuhuu... Hingga akhirnya, &ldquo;Mas, kakinya berdarah ya !&rdquo; &ldquo;Hah!! Serius ! Tolongggg, Mak!!!&rdquo;</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505c7ddb90aa8.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505c7f9919200.jpg" alt="" width="550" /></p> <p>Ah sudahlah, saya tak perlu menceritakan ke kalian bagaimana perjuangan saya melawan maut, pokoknya kalian harus coba sendiri! Rasakan sensasinya.</p> <p>Perairan di Karimunjawa sungguh menawarkan keindahan alam bawah laut yang luar biasa indah. Ikan, ubur-ubur dan terumbu karang seakan mengajak kita untuk menari-nari bersamanya. Pulau-pulau kecil di sekitarnya pun terawat dengan baik, pasir putih dengan perairan yang dangkal menjadi tempat terbaik untuk bermain air atau sekedar berleha-leha. Selain itu, keramahan penduduk di pulau Karimunjawa sungguh memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang hendak berkunjung.</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505c7fc61d493.jpg" alt="" width="550" /></p> <p>Dan malam terakhir di Karimunjawa kami tutup dengan membakar dan menyantap ikan yang kami beli di tempat pelelangani. Ditemani obrolan dan canda dari Mas Rizal, kami mengungkapkan harapan agar di lain waktu dapat kembali lagi ke pulau ini.</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505c805badfa4.jpg" alt="" width="550" /></p> Kurir Titip Pesan Nusakambangan http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/151/kurir-titip-pesan-nusakambangan <p style="text-align: justify;"><em>&ldquo;Dek, kapan mau ke sini lagi Bulan ini atau bulan depan Gimana kabar Mama sama Bapak Sehat-sehat aja kan R*** di Nusakambangan.&rdquo;</em></p> <p style="text-align: justify;"><br />Itulah pesan 120 karakter, yang langsung saya ketik di telepon genggam, sesaat setelah meninggalkan Pulau Tujuh Lapas, Nusakambangan. Bukan ngeri, tapi haru mengisi. Bukannya ingin menghindar, tapi tak sedikitpun takut berujar. Berbincang dengan dua orang narapidana asal Bandung dan Semarang, sambil menyuguhkan sekotak cemilan yang mungkin sudah dalam jangka waktu tahunan tak mereka makan, rasanya ajaib.</p> <p style="text-align: justify;">Setelah sebelumnya menawari kami bebatuan yang mereka asah sendiri di dalam Lapas, dua penghuni Lapas Permisan di Pulau Nusakambangan ini bercerita tentang tsunami yang sempat melanda selatan Pulau Jawa pada 2007 lalu dan merenggut beberapa nyawa narapidana. Air bahnya pun sempat membanjiri lapas yang paling dekat dengan Pantai Permisan yaitu Lapas Pasir Putih yang terkenal dengan system SMS yakni <em>Super Maximum Secur</em><em>ity.</em></p> <div id="imagebar" style="padding: 5px;"><span class="addtoarticle" style="margin-left: 5px;"><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50549afeeab3c.jpg" alt="" width="550" height="367" /></span></div> <p style="text-align: justify;">Kebetulan, salah satu narapidana yang berbincang bersama saya ketika itu adalah orang Bandung, sontak kami merasa sekampung, sama-sama orang Sunda. Kami pun sedikit berbincang dengan bahasa Sunda yang kemudian bercampur dengan sedikit tawa canggung. Ketika itu saya berusaha sembunyikan takut dan kalut, walaupun keempat teman saya yang lain tetap menjaga jarak dan sepertinya mereka telah bersiap-siap jika beberapa menit kemudian tiba-tiba &ldquo;diterkam&rdquo;.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Serangkaian pertanyaan menyeruak tapi batal, saya tak berani banyak bertanya tentang apa yang sudah mereka lakukan, sampai-sampai kini tinggal di Nusakambangan. Saya takut mereka tersinggung jika saya bertanya. Mungkin mereka pun takut saya lari kocar-kacir karena didekati mereka. Tapi nyatanya, mereka sangat terbuka dan mau bercerita sedikit tentang Pantai Permisan.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Banyak cerita mengenai Pantai Permisan. Di Pantai tersebut terdapat sebuah batu yang sering disebut Batu Sjahrir. Konon, Perdana Menteri pertama Indonesia pernah berenang ke batu di tengah Samudera Hindia ketika sedang surut, kemudian tak bisa kembali ke sebrang karena gelombang meninggi, sehingga harus menunggu beberapa waktu. Ada pula cerita mengenai legenda puteri dari Kerajaan Pakuan Padjadjaran yang terseret ombak ketika sedang beristirahat.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Pantai Permisan yang terletak di Selatan Pulau Nusakambangan bukanlah pantai wisata layaknya Pantai Karang Bolong atau Pantai Pasir Putih. Menurut salah satu petugas, pantai tersebut kini sering digunakan oleh Komando Pasukan Khusus (Kopasus) dalam program pendidikan komando. Pendidikan komando yang diadakan selama 7 bulan ini terdiri dari beberapa tahap, diantaranya <em>long march</em> Bandung-Cilacap sejauh 500 km, tahap basis, gunung-hutan, dan tahap pamungkas pertempuran rawa-laut yang diadakan di Nusakambangan.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Dalam pertempuran rawa-laut ini, para punggawa garis depan pertahanan Indonesia tersebut melakukan serangkaian latihan, disertai hujan peluru dan ledakan bom. Mereka harus berenang menuju ke sebuah batu di tengah Hindia dimana tertancap sebuah pisau komando yang menjadi titik puncak kemenangan.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Ah, rasanya saya ingin sekali diundang dalam peliputan prosesi puncak yang mengharukan tersebut. Mengenakan baju loreng khas Kopassus, menyelinap sambil sesekali mengintip dari balik <em>fox hole</em> menyaksikan perang bintang prajurit terdepan Nusantara, atau terlelap dan seketika dibangunkan oleh dentuman bom dan meriam di sisi <em>landscape</em> Pantai Selatan.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Semula saya tidak pernah membayangkan akan diberi kesempatan berkunjung ke pulau yang sebelumnya saya anggap seram, berbahaya, penuh pengamanan ketat, dan segala tetek bengek yang berhubungan dengan penjagaan. Wajar saja, Nusakambangan sering disebut-sebut sebagai Alcatraz-nya Indonesia.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Bau khas pepohonan dan rawa pun saya rasakan. Ditemani lantunan suara khas Andrea Corr dalam lagu &ldquo;Angel&rdquo;, kami menyebrangi hutan Nusakambangan yang konon sebagian masih perawan. Kesenangan tersendiri pun dapat kami rasakan ketika kami melewati beberapa Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang sempat dihuni oleh beberapa narapidana ternama, seperti Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, Amrozi, dan Imam Samudra yang sempat tersangkuta kasus bom bali.</p> <p style="text-align: justify;"><br /><strong>Hati-hati, Berbahaya!</strong></p> <p style="text-align: justify;"><br />&ldquo;Eh bahaya loh ngasih nomor telepon sama narapidana,&rdquo; ungkap seorang teman yang pernah melakukan <em>study tour&nbsp;</em>ke Pulau Nusakambangan. Ya, teman saya yang merupakan mahasiswa Fakultas Hukum di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bandung ini mengingatkan saya ketika saya bercerita. Saya pun tak sebodoh itu menggunakan nomor saya sendiri. Maklum, sebelum menginjakkan kaki di Nusakambangan, saya terlebih dulu berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng. Di Dieng, hanya satu jenis provider telepon genggam saja yang sinyalnya baik, jadi saya putuskan untuk menggunakannya sementara sebagai cadangan. Jadi, saya mengirimkan pesan singkat pada keluarga narapidana tersebut dengan provider yang tidak saya gunakan lagi. &ldquo;Niat baik itu mulia, tapi saya juga waspada&rdquo; timpal saya.</p> Jatuh Cinta dengan Kepulauan Karimunjawa http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/153/jatuh-cinta-dengan-kepulauan-karimunjawa <p style="text-align: left;" align="center">Rasa penasaran dan ingin tahu akan keindahan Karimunjawa membuatku dan serombongan teman-teman meninggalkan Jakarta. Sedikit mencari tahu ada apa sih di Karimunjawa, ternyata Karimunjawa termasuk kawasan taman nasional wisata bawah laut. Karimunjawa merupakan kepulauan yang terdiri dari 27 pulau di Laut Jawa, Indonesia, sekira 80 kilometer barat laut dari Jepara. Sementara jarak Semarang-Karimunjawa sekira 60 mil laut.</p> <p style="text-align: left;"><span>Pulau utama di kawasan Kepulauan Karimunjawa bernama Karimun&nbsp; seluas 2.700 ha. Karimunjawa adalah salah satu tempat terbaik untuk para pencari pulau. Ini adalah pengalaman pertamaku dalam menjelajah pulau, 1 tahun lalu bersama dengan salah satu kelompok pecinta <em>traveling</em>. </span></p> <p><span>Pesona alam Karimunjawa serta keindahan bawah lautnya ramai sekali di bicarakan di dunia maya, banyak para pecinta <em>blue of Indonesia</em> ingin berangkat langsung untuk membuktikan keindahannya, termasuk aku dan teman-temanku. Keindahan taman bawah laut Karimunjawa yang membuatku tertarik untuk melakukan perjalan ini. Dapat dikatakan, pantai dan laut Karimunjawa-lah, cikal bakal dari kecintaanku terhadap pantai dan laut-laut di indonesia, sejak saat itu kaki ini selalu melangkah dan aku selalu haus akan keindahan pantai-pantai serta laut indonesia.</span></p> <p><strong><span lang="EN-GB">&nbsp;</span></strong></p> <p><strong><span>Perjalanan ke Kepulauan Karimunjawa</span></strong></p> <p><span>Kami memutuskan untuk berangkat menggunakan bus dari Jakarta menuju Semarang. Kami berangkat dari Jakarta sore hari dan sampai di Semarang sekitar subuh. untuk mencapai Kepulauan Karimunjawa bisa di tempuh melalui 2 jalur: melalui Semarang atau Jepara. Masing-masing tempat transit di kedua jalur tersebut mempunyai daya tarik wisata kota tersendiri.</span></p> <p><span>Sedikit informasi, apabila memilih jalur Jepara, perjalanan menuju Karimunjawa menggunakan ferry Muria dengan waktu tempuh sedikit lebih lama, yaitu sekira 6 jam perjalanan. Bagi yang mabuk laut, siapkan stamina Anda dan obat anti mabuk sebagai antisipasi. Kapal ferry ini berangkat pagi dari Jepara sekira pukul 9; tarifnya relatif lebih murah, yaitu sekira 30-40rb untuk kelas ekonomi.</span></p> <p><span>Pada perjalanan kali ini, kami memutuskan memilih jalur via Semarang dengan alasan agar kami dapat menumpang kapal cepat Kartini. Perjalanan menggunakan kapal cepat ini hanya memakan waktu 4 jam. Jadwal keberangkatan kapal Kartini juga sekitar pukul 9 pagi. Sementara untuk harganya, jumlahnya masih bisa diterima untuk para <em>backpacker</em>, yaitu sekira 70-150rb untuk kelas bisnis.</span></p> <p><span>Karena bus yang kami tumpangi dari Jakarta sape di Semarang subuh, kami bisa berkeliling jelajah wisata kota tua Semarang. Kami mengunjungi Lawang Sewu, Gereja Blenduk dan tak lupa menyempatkan wisata kuliner dengan mencicip bakmi jawa sebagai menu sarapan pagi.</span></p> <p><strong><span lang="EN-GB">&nbsp;</span></strong></p> <p><strong><span>Eksplorasi Kepulauan Karimunjawa</span></strong></p> <p><span>Selamat datang di Karimunjawa, begitu lah tulisan yang tertera di gerbang masuk kepulauan ini.&nbsp; Sungguh senangnya hati ini saat perjalanan yang telah lama aku impikan dapat terlaksana juga. </span></p> <p><span>Berbagai macam tempat penginapan tersedia di Kepulauan Karimunjawa. Sebagian besar berupa <em>homestay</em> di rumah-rumah penduduk dengan harga yang cukup terjangkau: sekira Rp70.000-200.000,-. Harga tersebut juga tergantung fasilitas yang disediakan mulai dari pilihan kamar dengan kipas angin atau AC, kamar mandi di dalam atau terpisah, dan lainnya. Para <em>backpacker</em> tidak perlu khawatir, semua biaya yang kita keluarkan akan sesuai dengan keindahan yang dapat dinikmati di Karimunjawa. </span></p> <p><span>Kami memutuskan untuk menginap di wisma terapung. Wisma terapung adalah salah satu fasilitas penginapan yang ada di Karimunjawa yang cukup unik. Wisma ini terdiri dari beberapa kamar yang bisa di tempati 2-3 orang. Tarif menginap di wisma apung per malamnya adalah Rp100.000,--200.000,-. Untuk urusan makan, kami sudah serahkan kepada pengelola wisma apung, hidangan laut tentunya jadi menu utama seharga Rp12.500-Rp15.000,- sekali makan. Di tengah-tengah wisma terapung terdapat sebuah kolam penangkaran hiu. Hiunya banyak sekali.&nbsp; Selain hiu, terlihat pula penyu, bintang laut, dan nemo juga (<em>clown fish</em>).</span></p> <p><span><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50416b69905a0.jpg" alt="" width="550" height="795" /></span></p> <p><span>Tanpa menunggu aba-aba, begitu selesai menyimpan atau membongkan barang bawaan, aku langsung menceburkan diri dan berenang bersama hiu yang jinak serta nemo (<em>clown fish</em>) yang menggemaskan. Akhirnya aku dapat melihat secara langsung bentuk ikan yang fenomenal dari sebuah film. Apabila ingin menginap di wisma apung, dapat menghubungi Pak Joko di 081325110999.</span></p> <p><span><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50416c2903587.jpg" alt="" width="550" height="413" /></span></p> <p><span>Hari pertama kami langsung mengekplorasi atau <em>hoping island</em> di sekitaran Karimunjawa. Cuaca sangat mendukung, langit biru berpadu dengan laut biru adalah pemandangan yang menyejukkan mata. Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Cemara Kecil dan Cemara Besar. Di sepanjang pantai pulau ini memang terdapat pohon&ndash;pohon yang berbentuk seperti cemara. Di pulau tersebut, kami tak melewatkan kegiatan snorkeling. Terumbu-terumbu karang yang masih sangat terjaga keindahannya banyak kami temui di sana.</span></p> <p><span>Setelah puas melihat taman bawah laut, kami melanjutkan perjalanan untuk melihat keindahan Matahari terbenam di Pulau Tanjung Gelam. Di pulau ini, terdapat batu-batu besar di sekeliling pantainya. Batu-batuan di sini memang tidak sebesar batuan di Belitong, namun begitu keindahannya tak kalah cantik. Pantai Tanjung Gelam berpasir putih dan lautnya bersih sekali. Cocok sekali untuk menikmati keindahan sore sambil menunggu senja dan terbenamnya Matahari, seolah tertelan oleh laut. Matahari tenggelam di Tanjung Gelam memang cantik sekali.</span></p> <p><span><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50416bb841cda.jpg" alt="" width="550" height="733" /></span></p> <p><span>Hari kedua kami menuju Pulau Menjangan Kecil dan Menjangan Besar. Di pulau ini juga dapat ditemui penangkaran hiu. Jadi bagi Anda yang ingin uji andrenalin dapat saja berenang bersama hiu tersebut. Selain itu, keindahan bawah lautnya adalah rumah bagi berbagai jenis ikan hias dengan warna-warninya yang menarik. Sungguh sebuah pengalaman tak terlupakan berenang dikelilingi ikan-ikan yang cantik. </span></p> <p><span>Puas bermain dengan ikan-ikan, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Gosong. Dinamakan &nbsp;Pulau Gosong karena di pulau ini jika air laut surut maka akan timbul pulau kecil berpasir putih dengan luas hanya 3/4 meter. Tidak ada pohon atau apapun di atas gosong ini. Percayalah, ini merupakan tempat yang bagus untuk berpose dengan gaya melompat atau berpose ala putri duyung terdampar.</span></p> <p><span><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50416bf0c6b00.jpg" alt="" width="550" /></span></p> <p><span>Di kepulauan Karimunjawa, pulau-pulau wajib yang harus di kunjungi ketika <em>hoping island</em> adalah Pulau Cemara Kecil/Besar, Pulau Tanjung Gelam, Pulau Menjangan Kecil/Besar, Pulau Gosong.&nbsp; Bagaimana tidak jika di sekitar pulau-pulau tersebut taman bawah lautnya luarbiasa cantik; inilah salah satu alasan utama para wisatawan berkunjung ke Kepulauan Karimunjawa, yaitu untuk menyaksikan keindahan bawah lautnya melalui <em>snorkelin</em>g, <em>diving</em> dan berenang.</span></p> <p><strong><span lang="EN-GB">&nbsp;</span></strong></p> <p><strong><span>Selamat Tinggal Karimunjawa</span></strong></p> <p><span>Berat rasanya kaki ini meninggalkan Kepulauan Karimunjawa. Suasana alam dengan angin sepoi-sepoi membuatku betah disini. Ketika membuka jendela kamar, hamparan lautan biru di depan mata membentang. Saat mengalihkan pandangan ke bawah, tampak ikan-ikan cantik berenang dengan asiknya menggoda aku untuk bermain bersama mereka. Pesona laut Karimunjawa membuatku jatuh cinta padanya; kondisi alam yang jauh dari hiruk pikuk membuatku merasa seolah sedang berada di pulau pribadi. Bagi para pecinta belanja, disini dapat ditemukan berbagai macam souvenir bertemakan laut, mulai dari kaos, gantungan kunci, dll. </span></p> <p><span>Tak terasa masa liburanku harus berakhir. Kapal Kartini yang kami tumpangi meninggalkan Karimunjawa pada siang hari dan sampai di Semarang pada sore hari. Kami lagi-lagi memilih Semarang sebagai tempat transit karena Semarang terkenal dengan wisata kuliner dan wisata belanjanya. Oleh karenanya, kami memborong sejumlah oleh-oleh khas Semarang, seperti bandeng presto untuk orang- orang tersayang. </span></p> <p><span>Perjalanan ini adalah pengalaman yang luar biasa untukku, aku akan terus melangkahkan kaki ini untuk melihat pantai-pantai indah lainnya di Indonesia. Aku ingin menyaksikan sendiri keindahan yang ada di Nusantara dan bukan lagi sebatas mendengar cerita dari teman atau pun hanya sekedar menonton tayangan di televisi.</span></p> <p><span>Tips yang paling penting adalah carilah waktu yang tepat untuk mengunjungi Kepulaan Karimunjawa. Pastikan jika berkunjung kesana pada musim panas atau kemarau karena jika musim hujan pastinya kurang menyenangkan. Pastikan juga saat berangkat ombak Laut Jawa sedang bersahabat karena apabila ombak tinggi maka dipastikan kapal-kapal tidak akan bisa berangkat/ beroperasi ke Kepulauan Karimunjawa. Kami mengunjungi Karimunjawa dengan kondisi cuaca yang sempurna tepat pada bulan April 2011 yang lalu. </span></p> <p><span>Happy traveling.</span></p> <p><span><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50416b3bc1384.jpg" alt="" width="550" height="733" /></span></p> Dengan Bunga, Tomohon Menyapa Dunia http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/142/dengan-bunga-tomohon-menyapa-dunia <p style="text-align: left;">Inilah saat-saat yang saya paling tunggu, Tomohon International Flower Festival (TIFF). Event ini adalah salah satu event kebangaan Kota Tomohon, karena dengan adanya Event ini Kota Tomohon dapat dikenal oleh dunia, dalam penyelenggaraan TIFF kita dapat menyaksikan Parade Kendaraan Hias, Kontes Ratu Bunga, Pameran Pariwisata, Festival Seni Budaya. Event ini diselenggarakan untuk memperkenalkan Kota Tomohon sebagai Kota Bunga, pada Parade Kendaraan Hias kita dapat menyaksikan kendaraan-kendaraan yang telah di hias dengan berbagai bunga khas Tomohon.</p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5022fd1f941b1.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5022fd50130a1.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5022fd7ed35c8.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5022fdb4d0e7d.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5022fde19a0dd.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5022fe15b8cce.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5022fe3dca240.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5022fe6657ec1.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5022fe8fb4f8e.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5022feb84667f.jpg" alt="" width="550" /></p> Mendaki Rinjani, Gunung Tercantik Indonesia http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/143/mendaki-rinjani-gunung-tercantik-indonesia <p style="text-align: left;">Rinjani adalah salah satu gunung impian para pendaki di Indonesia. Selain menantang karena jalurnya yang cukup panjang, panorama Rinjani yang memukau akan membuat rasa lelah menjadi hilang. Gunung dengan ketinggian 3726 meter dari permukaan laut ini adalah Gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Terletak di salah satu pulau terkenal di Indonesia, Rinjani semakin menambah eksotisme pulau Lombok. Beribu-ribu wisatawan lokal dan mancanegara kerap mengunjungi gunung yang dianggap suci oleh masyarakat Hindu Bali ini.</p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ce8f23352d.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ce91d4eaad.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ce942bcf53.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ce95f3b477.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ce98a4f2ce.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ce9af272d0.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ce9cc7914f.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ce9ee9bfe7.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501cea06bcda1.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ceccfaddcd.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501cece7ceb6c.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ced08b760d.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ced298f81e.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ced3b360b8.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ced65529dd.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ced78e04ae.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501ceda1d7580.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501cedbfdcbe8.jpg" alt="" width="550" /></p> Bunaken Island, Surganya Pencinta Taman Bawah Laut http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/144/bunaken-island-surganya-pencinta-taman-bawah-laut <p style="text-align: left;" align="center"><em>Semua hanya berawal dari mimpi yang akhirnya menjadi sebuah kenyataan. Mungkin kata-kata motivasi ini tepat menjadi pembuka catatan perjalananku kali ini.&nbsp;</em></p> <p style="text-align: left;" align="center"><em></em>&ldquo;Welcome to Bunaken Sea Park&rdquo;</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5057202d8bd6d.jpg" alt="" width="550" /></p> <p>Perasaan senang, sedih, takut, bingung; semua bercampur aduk saat itu. Aku senang sebab di hari itu aku bisa menginjakkan kaki di Pulau Bunaken. Ya, tempat wisata yang sudah tak asing lagi di telinga para wisatawan lokal bahkan internasional. Sedih, ketika dalam beberapa hari ini aku akan meninggalkan Kota Manado, Sulawesi Utara dan harus kembali ke Yogyakarta. Takut; aku takut jatuh cinta akan keindahan bawah laut Bunaken hingga tak sanggup untuk meninggalkannya (ahaha&hellip; lebay&hellip;). Yang terakhir yaitu perasaan bingung; bingung sebab aku tidak yakin bahwa aku dapat menginjak Bunaken. Bunaken yang selama ini hanya kulihat melalui televisi dan internet namun akhirnya bisa kudatangi. Semua ini bagaikan mimpi---mimpi sesaat yang kini hanya tinggal kenangan.</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5057203ed3f75.jpg" alt="" width="550" /></p> <p>Hari itu, tanggal 23 agustus 2011, cuaca di Kota Manado rasanya tak jauh berbeda dengan cuaca di Yogyakarta. Waktu menunjukkan pukul 08.00 WITA kala itu. Aktivitas pegawai kantor yang memenuhi jalanan Kota Manado dan angkot dengan musiknya yang keras menjadi pemandangan yang membuat kami takjub akan keindahan kota ini.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Tepat pukul 10.00 WITA kami berangkat menuju Pulau Siladen (lho katanya ke Pulau Bunaken ). Tunggu dulu, Pulau Siladen merupakan pulau yang tak kalah cantiknya dengan Pulau Bunaken. Di pulau ini belum terdapat listrik dan bangunan yang ada hanyalah rumah nelayan. Jadi, dapat dikatakan pulau ini masih terbilang perawan, karenanya taman lautnya tak kalah indah dari Bunaken. Setelah 3 jam perjalanan laut dengan <em>speed boat</em> berkapasitas 2 mesin, sampailah kami di Pulau Siladen. Sesampainya di pulai ini kami sempat bingung hendak melakukan kegiatan apa; ingin <em>snorkeling </em>kami tidak menyewa alat, ingin berenang waktunya kurang sebab menurut pemandu kami, makanan sudah menungu di Bunaken. Alhasil, kami pun mengabadikan keindahan di pulau ini, sebagai bukti bahwa kami pernah ke Pulau Siladen dan bukan sekedar <em>hoax</em>.</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505720486dde7.jpg" alt="" width="550" /></p> <p>Pukul 14.00 WITA kami langsung menuju pulau impian: Bunaken! Tampak kapal-kapal yang sedang menunggu para penyelam menikmati indahnya Taman Laut Bunaken. Terumbu karang dilihat dari atas kapal pun sudah sangat menakjubkan. Sesekali tampak penyu berenang di sekitar kapal. Sungguh Bunaken adalah sebuah pulau dengan ekosistem pantainya yang indah.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Setelah beristirahat, kami memulai latihan <em>snorkling</em> tidak jauh dari tempat penginapan. Ya, anggap saja ini pemanasan karena <em>snorkling</em> yang sebenarnya akan dimulai esok hari.<br /> Pagi itu, tanggal 24 agustus 2011 pukul 08.00 WITA, aku sempatkan menikmati indahnya Bunaken di pagi hari. Udara yang sejuk tanpa adanya bising kendaraan menambah indah suasana. Tak lupa aku sempatkan foto di dermaga, pintu masuk menuju Bunaken.</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505720586fa1c.jpg" alt="" width="550" height="413" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5057206fad124.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50572089c3537.jpg" alt="" width="550" /></p> <p>Pukul 08.00 WITA sehabis sarapan dan sewa perlengkapan <em>snorkling</em> kami langsung naik kapal menuju perairan antara Pulau Bunaken dan Pulau Siladen. Alhamdulilah cuaca hari itu cerah; awak kapal beserta kami pun bersemangat memulai petualangan dengan terlebih dahulu mendengarkan intruksi dari pemandu. Setibanya di TKP, kami langsung terjun ke laut. Aku cukup kaget begitu melihat ke dalam, ternyata kami di turunkan di perbatasan atau tebing bawah laut. Aku sedikit panik karena takut tenggelam sebab tidak memakai pelampung. Akan tetapi ketakutan akhirnya teratasi dengan pakaian yang sudah kami sewa, dan akhirnya bisa mengapung.<br /> Ini dia yang di tunggu-tunggu, yaitu berlomba-lomba foto narsis meskipun berada di dalam air.</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505720be6e544.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505720d52c028.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505720df754b4.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5057241c71f99.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505724359a490.jpg" alt="" width="550" /></p> <p>Selama <em>sn</em><em>orkling</em> (kurang lebih 2 jam), tiba-tiba ada kejadian yang tidak kami sadari, yaitu adanya arus bawah laut. Kami panik; awak kapal segera menolong kami. Alhamdulilah kami selamat sampai kembali ke penginapan.</p> <p>Sekian dulu catatan perjalanku di Bunaken. Meskipun tidak melakukan <em>diving</em>, tapi paling tidak sudah mengintip Taman Laut Bunaken. Lain kali aku pasti kembali ke Bunaken untuk <em>diving</em>. Meskipun saat ini hanyalah sebuah mimpi, aku yakin akan jadi kenyataan.</p> <p>Sampai jumpa kembali, Bunaken</p> EKSOTISME KARIMUN JAWA http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/145/eksotisme-karimun-jawa <p style="text-align: justify;">Liburan panjang menjadikan Karimunjawa tujuan wisata saya dan 15 teman saya. Kami berangkat sore hari dari Yogyakarta menggunakan bus ekonomi dengan tujuan Semarang seharga Rp 18.000,- dan dilanjutkan ke Jepara dengan bus ekonomi seharga Rp 10.000,-. Dikarenakan bus sudah melewati batas jam operasional maka kami diturunkan di alun-alun Jepara sehingga kami harus jalan kaki menuju pelabuhan Kartini. Dan itu cukup jauh! Sebab hari sudah malam dan besok pagi harus menyeberang maka kami istirahat di halaman sebuah cafe di Pelabuhan Kartini.</p> <p style="text-align: justify;">Keesokan harinya, kami menyeberang menggunakan Kapal Muria yang pada waktu itu seharga Rp28.000,- per orang dengan waktu tempuh 6 jam perjalanan laut. Teriknya Matahari membakar kulit di sepanjang perjalanan kami. Sesampainya di Karimunjawa, kami bergegas mencari <em>homestay </em>yang masih kosong karena kami tidak memakai <em>tour guide</em> dan tidak ikut paket yang ditawarkan agen. Akhirnya kami dapat homestay yang masih kosong didekat alun-alun.</p> <p>&nbsp;</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5044394db4746.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: justify;">Hari berikutnya, kami mulai beraktivitas. Kami menyewa kapal kecil kapasitas 20 orang seharga Rp400.000,- untuk satu hari perjalanan berkeliling menikmati indahnya pantai, laut, terumbu karang, dan penangkaran hiu. Tempat-tempat yang kami kunjungi pada hari ini adalah tempat-tempat yang biasa dikunjungi wisatawan pada umumnya, jadi setiap kita mengunjungi tempat-tempat tersebut pasti bertemu rombongan lain.&nbsp;</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443a437f59f.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><strong>Hari Kedua yang Diluar Rencana</strong></p> <p style="text-align: justify;">Memasuki hari kedua&mdash;tidak seperti wisatawan lain yang masih melakukan aktifitas sama seperti hari pertama namun dengan tujuan yang berbeda&mdash;kami berencana jalan-jalan melihat sisi lain dari pulau utama di Karimunjawa. Perjalanan kami lakukan setelah makan pagi. Perjalanan dimulai dari melewati pemukiman, sekolah, rumah-rumah penduduk, dll.Jalan aspal yang kami lalui semakin menanjak dan semakin jauh kami berjalan semakin renggang jarak antar rumah penduduk yang satu dan lainnya. Kondisi ini berbeda dengan keadaan di daerah alun-alun dan dermaga dimana rumah-rumah penduduknya saling berdekatan. Mata pencahariannya pun berbeda; mereka yang berada di daerah alun-alun dan dermaga mayoritas berprofesi sebagai nelayan, sedangkan yang tinggal di daerah yang kami jelajahi berprofesi sebagai petani.&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: center;"><img title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443a86cdff4.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: justify;"><span>Perjalanan kami lanjutkan hingga memasuki semak-semak yang cukup lebat, lalu memasuki daerah rawa dan berakhir dengan jalan buntu. Pada titik ini, perjalanan terpaksa dihentikan dan kami kembali ke <em>homestay</em>.</span></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443aa99853e.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443ae8d77f5.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443b02866e5.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: justify;">K<span>Ketika melakukan perjalanan kembali ke <em>homestay</em>, kami bertemu dan bertatatap muka dengan penduduk Karimunjawa. Sesekali, kami juga menyempatkan mengobrol santai dengan mereka. Mereka sangat ramah dan murah senyum kepada kami dan ada salah satu penduduk yang dengan baik hati menawarkan perjalanan mengelilingi pulau menggunakan mobil <em>pick up</em> dengan biaya Rp150.000,- (sudah termasuk bahan bakar). Kami yang pada hari itu tidak ada kegiatan lain pun dengan sangat senang hati menerima tawaran tersebut. Perjalanan menggunakan mobil <em>pick up</em> cukup menantang. Lintasan medan melewati tebing dan jurang ditambah dengan kondisi jalan yang penuh lubang sehingga kami harus selalu waspada.</span></p> <p style="text-align: center;"><img title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443b2d89ef6.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443b7e5db46.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: justify;">Ditengah-tengah perjalanan, mobil <em>pick up</em> tiba-tiba berhenti. Ternyata ada ular edors, ular derik endemik pulau Karimunjawa yang cukup berbahaya. Kami dijelaskan sedikit tentang ular tersebut, mulai dari populasinya, habitatnya, dan makanan mereka.</p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443ba637622.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: justify;">Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya kami berhenti di salah satu kampung dan kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ruas jalan yang semakin mengecil membuatnya tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Setelah jalan kaki sekira 5 menit, akhirnya kami melihat pantai yang sangat indah dengan ratusan pohon kelapa, pasir putih, dan air laut yang jernih. Pantai ini masih asri dan jarang dikunjungi, hanya nelayan-nelayan yang lewat dan beberapa menepi dipantai ini. Sulit dibayangkan ini masih di pulau utama Karimunjawa, tempat kami menginap. Pulau ini ibarat tempat yang belum dijamah wisatawan lokal maupun asing, dan suatu keberuntungan bagi kami bisa menikmati keindahannya.</p> <p style="text-align: center;"><img title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443bf66349c.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: center;"><img title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443c28ed9b0.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443c497c3bd.jpg" alt="" width="550" height="367" /></p> <p>Ratusan pohon kelapa di pantai ini sungguh menggoda kami, dan kami diperbolehkan menikmati kelapa muda itu asal kami tidak mengotori pantai. Kami pun memanjat pohon kelapa dan karena tidak ada pisau maka kami menggunakan gigi untuk mengelupas kulit kelapa yang sangat keras dan tebal. Ini adalah pengalaman yang tak terlupakan!</p> <p style="text-align: center;"><img title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443c7ebccff.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443ca45d7bf.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: justify;">Matahari yang membakar kulit kami, angin yang bertiup cukup kencang dan dinginnya air laut membuat kami betah bermain di pantai hingga sore hari. Ketika sudah sore, kami kembali ke <em>homestay</em>, dan keesokan pagi kami pulang ke Yogyakarta.</p> <p style="text-align: center;"><img title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443ccd80ffb.jpg" alt="" width="550" /></p> <p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Hapus gambar ini" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50443cefb23d1.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: justify;"><em>oleh : yasu spade</em></p> Hati Tertambat di Ujung Barat http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/146/hati-tertambat-di-ujung-barat <p style="text-align: justify;"><span>Sejak kecil, saya sudah mengenal dua kota terujung di Indonesia, Sabang dan Merauke. Terima kasih kepada R. Suharjo untuk lagunya, &ldquo;Dari Sabang sampai Merauke&rdquo;. Melalui lagu inilah, saya menjadi tahu bahwa Indonesia adalah negara besar dengan jajaran pulau-pulaunya. Sabang di ujung Barat republik, tepatnya di Pulau Weh, sebelah barat laut Banda Aceh. Sedangkan Merauke berada di ujung timur Papua, bersebelahan dengan negara Papua Nugini.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Sebagai seorang pecinta negeri dan petualang, saya selalu menyimpan hasrat untuk sebisa mungkin menyambangi setiap jengkal negeri ini. Ketika akhirnya menginjakkan kaki di Sabang, sebuah fraktal kecil hasrat tersebut terpenuhi!</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Menikmati desiran angin semilir di Iboih, mengunjungi titik nol, dan menembus gulita jalanan menuju kota Sabang memberikan pengalaman tak terlupakan. Dan tentunya, sangat menyenangkan untuk kembali diceritakan.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Kami kehabisan tiket kapal cepat di Pelabuhan Ule Lheue pagi itu. Hari itu adalah hari Jumat dan memang sedang libur. Banyak orang yang ingin menyeberang ke Pelabuhan Balohan di Kota Sabang, Pulau Weh. Karena membludaknya penumpang, penyedia kapal <em>ferry</em> menambah satu lagi keberangkatan kapal. Saya pun agak lega karena memang agenda aktifitas yang padat, setiap jam yang terbuang pasti berarti.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Kapal terjadwal berangkat pukul 10.00 pagi. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, kapten kapal memutuskan berangkat empat jam kemudian: pukul 14.00 siang! Penumpang yang sudah masuk kapal tak bisa keluar lagi karena gerbang kapal memang sudah dinaikkan. Akhirnya, kami terpaksa menunggu kapal berangkat di geladak kapal dekat parkiran kendaraan. Maklum, tiket ekonomi.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Kapal merapat di Pelabuhan Balohan sekitar jam empat. Kami langsung menaiki becak motor di depan pelabuhan untuk mengantarkan kami ke penginapan yang sudah dipesan di Iboih. Sebenarnya bisa saja kami memilih taksi Toyota Avanza dengan harga yang tak jauh berbeda. Akan tetapi, menikmati perjalanan dengan becak menelusuri jalanan Pulau Weh pasti memberikan kesan tersendiri.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Putra, supir becak motor saya, sepanjang perjalanan tak lepas bercerita tentang tanah kelahirannya. Beliau mulai dari tempat-tempat yang mesti dikunjungi, oleh-oleh khas Sabang, sampai ke tragedi tsunami Aceh di penghujung tahun 2004. Menurut Putra, Pulau Weh tidak begitu terkena imbas tsunami. Hanya pantai sebelah Barat saja yang mendapat efeknya tapi tidak ada korban jiwa di sini. Syukurlah.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Setelah menempuh sekira satu jam perjalanan berkelok-kelok, naik dan turun bukit, kami sampai juga di Iboih. Hati langsung bergejolak ingin segera menikmati pantai yang sudah mahsyur di khalayak pejalan dunia.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Setelah terlebih dahulu menaruh barang bawaan di sebuah&nbsp;<em>bungalow&nbsp;</em>kecil yang kami sewa, kami langsung beranjak ke tepian pantai. Menikmati Matahari terbenam yang biar pun tak begitu terlihat tapi kehangatannya masih tetap terasa. Sambil menikmati sepiring nasi goreng dan es kelapa muda.<em>That was definitely the best way to greet the night</em>.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Keesokan harinya, saya bangun pagi sekali untuk ibadah Subuh dan tentunya menunggu Matahari datang kembali menyapa sang alam. Belum banyak orang di sekitar pantai Iboih, kalau tidak mau dibilang kosong. Warga sekitar belum memulai harinya pagi itu. Entah mungkin mereka masih lelah menjamu para turis semalaman.</span></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><span>Matahari pun mulai menjelang. Ia mengumandangkan pagi akan tiba. Saya tak bisa diam dengan kamera dikalungkan dan ponsel di tangan kanan. Saya sibuk mengabadikan lukisan paling indah Yang Maha Kuasa dengan goresan kuas biru, pirus, kuning, dan oranye yang menyejukkan hati. Lukisan megah pada kanvas langit. Foto dari&nbsp;</span>kamera untuk dokumentasi pribadi, sedang foto dengan ponsel untuk langsung dimasukkan ke Instagram.<img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505880671d22d.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: justify;"><span>Air laut yang jernih terus menggoda saya untuk berenang sambil menikmati pagi. Akhirnya, saya pun melompat tinggi dari jembatan kayu dan&hellip; &ldquo;Byuuur!&rdquo; Rasanya ingin sekali berlama-lama mengitari setiap sudut pantai Iboih dari laut. Akan tetapi, kami harus segera bersiap-siap untuk agenda utama hari itu. Agenda yang sudah diimpikan dari jauh-jauh hari. Menyelam!</span></p> <p style="text-align: justify;"><span><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505880c6454d7.jpg" alt="" width="550" height="356" /></span></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><span>Kami dipertemukan dengan Mica, warga negara Jerman yang sudah 15 tahun tinggal di Indonesia. Dia sudah fasih sekali berbahasa Indonesia. Mica adalah instruktur kami untuk hari itu. Menurut Iskandar&mdash;pemilik Rubiah Tirta Divers, penyedia jasa&nbsp;<em>diving&nbsp;</em>yang kami sewa&mdash;Mica adalah satu-satunya instruktur yang bebas tugas pagi itu mengingat banyaknya turis lain yang sudah punya jadwal menyelam.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Tak masalah. Ternyata Mica adalah penyelam dan instruktur yang fasih. Tempat menyelam kami berada di selat antara Pulau Weh dan Pulau Rubiah. Setelah terlebih dahulu <em>briefing</em>, kami sudah siap terjun belasan meter di bawah permukaan laut.<em>Here we go!</em></span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Mica membawa kami ke sebuah bangkai kapal. Jangan bayangkan kapal besar. Ia hanya sebuah perahu nelayan yang sudah tenggelam bertahun-tahun hingga penuh ditumbuhi karang-karang. Mica mengatakan kalau mau menyaksikan bangkai kapal yang besar di perairan Sabang, minimal harus bisa menyelam sampai kedalaman 30 meter. Wow, saya belum sampai tahap keahlian itu, saya pikir.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Wah, tiba-tiba ada&nbsp;<em>scorpion fish&nbsp;</em>berenang-renang santai di karang landai. Saya dengan sigap langsung membidikkan kamera ke makhluk cantik ini. Mica menepuk tangan saya keras sekali ketika ingin menyentuh sekumpulan karang cantik. Saya sontak kaget. Ada apa gerangan Lalu Mica menunjukkan ada bulu babi yang bersembunyi di balik lubang karang. Untung saja saya tidak sampai terkena jarum beracunnya!</span></p> <p style="text-align: justify;"><span><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50587fca659f0.jpg" alt="" width="550" height="413" /></span></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><span>Segerombolan besar ikan-ikan kecil berkumpul di sisi karang yang lain. Mungkin jumlahnya ribuan. Saya kurang tahu nama jenis ikan tersebut. Yang jelas warnanya oranye dengan besar tubuhnya tak lebih besar dari satu ruas jari kelingking. Mereka berputar-putar tak tentu arah tanpa takut akan kedatangan kami.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Saya dibuat kaget ketika Mica tiba-tiba diserang ikan berukuran agak besar. Rupanya Mica menyelam terlalu dekat ke karang hingga dianggap mengganggu sarang ikan tersebut. Ikan besar itu langsung menyerang Mica untuk mengusirnya agar menjauh dari sarang. Mica pun kewalahan menghadapi ikan yang sedang marah itu dan hanya bisa menahan serangan ikan dengan kaki kataknya. Agak mengagetkan tapi itu pengalaman yang sangat seru. Pertama kali saya melihat ikan menyerang penyelam seperti itu. Saya sempat mengabadikan serangan ikan tersebut meski sebenarnya sedikit was-was juga saat itu.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Karena penunjuk oksigen kami sudah sampai di titik merah, Mica memberikan kode untuk berhenti. Ia memutuskan menyudahi penyelaman itu. Terhitung kurang lebih 45 menit kami berada di bawah laut. Empat puluh lima menit yang sangat-sangat mengesankan!</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Sayang sekali, agenda penyelaman kami berhenti di sana. Sebenarnya saya masih ingin menyelam lebih lama. Namun apa daya, biaya dan waktu belum mengizinkan. Meskipun begitu, saya berjanji akan kembali suatu saat nanti untuk menyelami lebih banyak keindahan bawah laut di Sabang.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Hari itu, kami masih sempat menikmati sisi pantai Iboih yang lain. Terletak di depan sebuah kompleks&nbsp;<em>bungalow&nbsp;</em>Lisa, hamparan laut di depannya mungkin adalah spot terbaik untuk snorkeling. Kami menghabiskan sore sampai lelah menghampiri. Meski pengalamannya tak seindah penyelaman pagi tadi, menyelam hamparan lautan Iboih tak pernah membosankan. Saya selalu lupa waktu.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Sebelum malam menjelang, kami menyempatkan diri melihat <em>sunset</em> di titik nol. Dengan motor sewaan, kami berkendara sejauh delapan kilometer lebih ke Barat untuk sampai di sana. Banyak tikungan tajam dan berbahaya membuat kami harus sangat berhati-hati. Seorang teman tiba-tiba terjatuh setelah tak dapat mengendalikan laju motornya di kelokan tajam. Untung saja tidak terjadi luka serius dan masih bisa melanjutkan perjalanan.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Akhirnya kami sampai juga di monumen titik nol. Sebuah monumen yang membuktikan bahwa kami sudah ada di titik paling Barat di republik ini. Meski agak kecewa karena kondisi monumen yang kurang terawat, lembayung tetap cantik tersaksi di ujung Barat.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Keesokan paginya, kami harus kembali ke Banda Aceh. Jadwal kapal cepat di Pelabuhan Balohan tercatat pukul delapan pagi. Kami tak punya banyak waktu di pagi hari namun beruntung karena masih sempat menjemput terbitnya Matahari sebelum berangkat ke pelabuhan.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Memang berat meninggalkan semua yang mengesankan di Iboih ini. Tidak hanya di Iboih, keseluruhan Pulau Weh pasti akan membuat kami rindu untuk kembali. Keindahan alamnya, kehangatan masyarakatnya, legit kopinya, atau kelezatan sate guritanya. Tak habis hal-hal menarik yang bisa didapati di sini.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span>Karena kesemua pengalaman itulah, hati kian tertambat di ujung Barat.</span></p> <p style="text-align: justify;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50587fed074b7.jpg" alt="" width="550" /></p> Jangan Main-Main di Rinjani! http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/147/jangan-main-main-di-rinjani <p style="text-align: left;"><span>&ldquo;Habis mendaki Rinjani, dik &rdquo; tanya seorang Bapak. &ldquo;Iya pak lagi main ke Rinjani,&rdquo; jawab saya. &ldquo;Ssssttt&hellip; Jangan bilang sedang pergi main-main ke Rinjani, Gunung ini bukan tempat main-main&hellip; ini sakral!&rdquo; ungkap seorang warga. Mungkin ini yang disebut komunikasi antarbudaya. Orang Sunda yang biasanya ingin berkata merendah, kena semprot orang Timur yang menganggap perkataan tersebut termasuk kategori menyepelekan. Ini masalah miskomunikasi saja. Namun, memang bagi masyarakat sekitar, Rinjani memang dianggap sakral, salah satu buktinya adalah upacara yang diadakan di tepi Danau Segara Anak. Waduh, hanya karena bermaksud merendah, saya kena marah.</span></p> <p style="text-align: left;"><span>Sebelum memasuki Desa Sembalun kami naik mobil bak menuju titik awal pendakian. Jalan yang berkelok, ditambah hembusan angin dingin membekap kulit, berhasil mengeringkan kelenjar keringat. Belum lagi kabut dan jalan yang licin sempat membuat kami naik-turun mobil untuk mendorongnya. Malam hari sebelum memulai perjalanan, kami bermalam di Sembalun, setelah menempuh perjalanan darat lebih dari 1000 km ke Timur. Seperti malam-malam biasanya di Sembalun, kami disuguhi jutaan gugus bintang, semacam bentuk apresiasi karena telah sampai di titik awal.</span></p> <p style="text-align: left;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505525ded8037.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: left;"><span>Treknya luar biasa dan tidak membosankan, apalagi bagi pendaki yang ingin menempuh jalur berbeda ketika berangkat dan pulang. Saat berangkat, kami menempuh jalur Sembalun, dan pulang melewati Senaru. Kedua jalur ini memiliki karakter trek yang berbeda, akan sangat menyesal bila tak mencoba keduanya.</span></p> <p style="text-align: left;"><span>Sembalun, lengkap dengan perbekalan untuk seminggu, jalur menuju 3726 mdpl itu kami sapa pukul 08.30 WITA. Pemandangan khas masyarakat Sasak yang membawa hasil panen dan juga perbekalan di sekitar kaki gunung memberi keakraban tersendiri bagi kami. Puncaknya terlihat begitu dekat. Dengan estimasi porter berkecepatan tinggi,<em> basecamp</em> di Plawangan Sembalun konon dapat ditempuh dalam waktu 8 jam. Namun bagi sebagian pendaki yang ingin bersantai, Plawangan dapat ditempuh hingga belasan jam, melewati tiga pos. Sembalun menyuguhkan variasi trek, mulai dari hamparan savanna yang panas membakar, jalan dengan bebatuan besar, jalur lahar, hingga jalan yang mendaki tajam.</span></p> <p style="text-align: left;"><span>Tiba di Plawangan Sembalun, tempat pendaki berkemah dan beristirahat, terlihat Danau Segara Anak sekira 500 meter di bawah kaki berpijak, Gunung Barujari di tengah danau, dan dari kejauhan tampak Gunung Agung di Pulau Bali. Dari Plawangan, semua tampak seperti pameran diorama yang apik.</span></p> <p style="text-align: left;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505528938ff5f.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: left;"><span>Puncak dapat ditempuh dalam waktu sekira 4-5 jam, jalan menuju puncak lebih berpasir dan licin. Para pendaki biasanya memulai perjalanan sekitar pukul 02.00 WITA, sehingga matahari terbit menjadi latar yang menawan. Dari Plawangan Sembalun, kaki beranjak menuju Danau Segara Anak. Trek yang dilewati jauh lebih terjal, licin dan berbatu. Kadang jarak pandang sangat minim disebabkan kabut yang tebal. Perjalanan turun menuju Danau Segara Anak memakan waktu sekira 4-6 jam.</span></p> <p style="text-align: left;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5055262727ba9.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: left;"><span>Suasana kemah sekitar Danau lebih hangat, wajah-wajah sumringah para penyerang puncak lebih semarak. Berendam di mata air panas, memancing, membakar ikan, atau sekedar berfoto di sekitar danau pun rasanya cukup untuk menghabiskan hari.</span></p> <p style="text-align: left;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5055265f4d81d.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: left;"><span>Bagi yang ingin pulang lewat jalur Senaru, mendaki ke Plawangan Senaru adalah syarat. Dalam perjalanan dari Danau Segara Anak menuju Plawangan Senaru, hutan, padang edelweiss, dan jalan kecil dengan bebatuan terjal dan jurang akan dilewati.</span></p> <p style="text-align: left;"><span>Dari Plawangan Senaru, menuju kaki Gunung, trek licin berpasir wajib diterjang. Memasuki kawasan hutan, sergapan akar dari pepohonan rindang sekitar perlu diwaspadai, trek ini dapat ditempuh dalam waktu 3-8 jam tergantung kecepatan. Akhirnya sebuah gapura bertuliskan &ldquo;Taman Nasional Gunung Rinjani, Pintu Senaru&rdquo; terlihat. Bagi kami, ini semacam kongratulasi.</span></p> <p style="text-align: left;"><strong><span>Obat dan Nubuat</span></strong></p> <p style="text-align: left;"><span>Satu hal yang tak akan pernah saya lupa dari Rinjani adalah daya pikatnya. Bagi sebagian orang hanyalah nama sebuah Gunung di Pulau Lombok, bagi sebagian lagi merupakan arena pertarungan dengan diri sendiri, dan selebihnya adalah arena penyembuhan diri. Ya, saya datang ke Rinjani bersama sahabat yang memiliki penyakit tekanan darah tinggi. Akibat dari penyakit itu, bola mata kirinya bergeser dan harus melakukan pengobatan medis dan alternatif berulang kali. Sahabat saya ini merupakan anggota mahasiswa pecinta alam ketika masih kuliah dulu, kini ia merasa rutinitas kota menyita separuh asset inderanya. Ia pun terpaksa berjalan miring selama pendakian.</span></p> <p style="text-align: left;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505527776042a.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: left;"><span>Sejujurnya, kami hanya percaya kepada Tuhan sang pencipta yang dapat menyembuhkan. Namun, kami tak menampik bahwa Tuhan memberikan kuasa atas segala kesembuhan lewat apapun yang diciptakannya, termasuk lewat alam! Mata air panas di kaldera Rinjani menjadi titik awal turunnya kuasa kesembuhan Tuhan kepada sahabat saya ini. &ldquo;Memang tak ada obat yang lebih mujarab dari bersahabat dengan alam,&rdquo; ungkapnya dengan penuh rasa syukur.</span></p> <p style="text-align: left;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505527ef25b06.jpg" alt="" width="550" /></p> <p style="text-align: left;"><span>Dari Plawangan Senaru, menuju kaki Gunung, trek licin berpasir wajib diterjang. Memasuki kawasan hutan, sergapan akar dari pepohonan rindang sekitar perlu diwaspadai, trek ini dapat ditempuh dalam waktu 3-8 jam tergantung kecepatan. Akhirnya sebuah gapura bertuliskan &ldquo;Taman Nasional Gunung Rinjani, Pintu Senaru&rdquo; terlihat. Bagi kami, ini semacam kongratulasi.</span></p> <p style="text-align: left;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/505527365a81d.JPG" alt="" width="550" /></p> Pantai Mandorak, Surga Kecil dibalik tebing http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/141/pantai-mandorak-surga-kecil-dibalik-tebing <p>Saya tidak pernah menyangka akan menemukan pantai seindah Pantai Mandorak. Bermula dari kegiatan pendataan terumbu karang di Sumba, saya harus menyisir pantai - pantai tebing di hampir seluruh Sumba Barat Daya yang diawali dari titik di Desa Pero Batang, Kodi, Sumba Barat Daya. Desa ini sudah tidak asing bagi peselancar manca negara karena terdapat penginapan untuk para peselancar di desa ini. Saya sempat bertemu peselancar dari luar negeri dan alasan mereka datang kesitu adalah ketenangan karena lokasi disana tidak seramai di Bali maupun Lombok.</p> <p>Pantai Mandorak dapat ditempuh dengan menyewa ojek dari Pero Batang sekitar 30 menit perjalanan. Mungkin memang pantai ini tidak ada dalam daftar tempat wisata atau menjadi destinasi bagi pelancong yang berniat menghabiskan waktu untuk berlibur. Pantai ini benar - benar tersembunyi, susah di capai namun begitu menakjubkan. Pantainya hanya selebar 50 meter dengan posisinya berada dibalik tebing yang curam dan dihubungkan dengan laut hanya dengan "pintu" selebar 3 meter. Untuk mencapainya, saya harus melewati jalan setapak menggunakan motor dan harus berhenti 1 km sebelum menyentuh pantai ini karena hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki. Berbekal cerita warga sekitar yang menyebut pantai ini seperti surga, membuat saya terpacu untuk segera mencapai lokasi ini. Dan benar saja, saya dibuat tercengang dengan keindahannya. Pasir putih yang menyala seperti mutiara, deru ombak pecah, dan pemandangan yang luar biasa indahnya membuat saya enggan untuk beranjak dari pantai ini. Sayang pantai seindah ini tidak dikenal oleh masyarakat luas, malah warga asing yang memperhatikan dengan membangun resort diatas pantai ini. Warga sekitar biasa memanfaatkan pantai ini untuk menaruh perahunya setelah selesai mencari ikan di laut. Mereka bergotong royok menarik kapal hingga ke lokasi yang aman dari pasar air laut sehingga kapal tidak terseret gelombang. Pantai ini seperti surga kecil yang susah untuk ditemukan, terbersit keinginan dari hati, biarlah surga - surga kecil ini menjadi hadiah bagi setiap orang yang berpetualang di alam Indonesia. Alam yang kaya raya!</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501859fba0a55.JPG" alt="" width="550" height="819" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50185a215c386.JPG" alt="" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50185a7b539d9.JPG" alt="" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50185aa15316d.JPG" alt="" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50185abd9cf62.JPG" alt="" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50185c5cefeb5.JPG" alt="" /></p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/50185c7420f4a.JPG" alt="" /></p> Ada Cerita Dari Badui: Berkeliling Kampung Menikmati Kearifan Lokal http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/127/ada-cerita-dari-badui-berkeliling-kampung-menikmati-kearifan-lokal <p>&nbsp;</p> <p align="right"><em><strong><span lang="IN">21 Juli 2012</span></strong></em></p> <p style="text-align: center;" align="right"><em><strong><span lang="IN"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/502a4f472db0d.jpg" alt="" width="550" height="256" /><br /></span></strong></em></p> <p><span lang="IN">Hanya ada dua deret kursi<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>di dalam gerbong kereta ini saling berhadapan dengan jarak cukup lebar. Ruang itu menjadiseruas jalan yang lumayan luas bagi mereka yang tidak kebagian tempat duduk dan ruang bagipedagang.Empat jam<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>gerbong usang ini akan melaju dan melintasi beberapa stasiun kecil yang nampak tak terawat. Maklum, ini adalah kereta ekonomi non-AC tujuan Rangkas Bitung, Banten.&nbsp;Gerbong ini lebih terlihat seperti gerbong barang dibanding gerbong penumpang. Sama sekali jauh dari kesan nyaman dan aman namun disinilah saya melihat sisi lain sebuah dinamika kehidupan.</span></p> <p><span lang="IN">Selalu saja ada yang baru di setiap kereta ini berhenti kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Seorang pengamen dengan mata memerah nampak memaksa penumpang untuk memberikan uang, jalannya sempoyongan seirama dengan goyangan gerbong.<a name="_GoBack"></a>Lain cerita dengan puluhan pedagang yang selalu ada di tiap menit, lalu-lalang menjajakan dagangannya, berbagai cara mereka lakukan yang penting terjual dapat uang untuk kelangsungan hidup.Seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental terus saja mondar-mandir dari gerbok satu ke gerbok lain, membersihkan sampah yang terus ada di rangkain gerbong ini. Bukan dengan sapu, melainkan dengan sendal bekas.</span></p> <p><span lang="IN">Kemudian<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>seorang penumpang memaksa saya untuk sedikit mengeluarkan kepala. Mengembangkan hidung, menghirup udara luar dalam-dalam, membiarkan angin semena-mena menghajar muka. Penumpang tadi membuat udara di dalam gerbong semakin tidak bersahabat saja. Aroma sampah yang keluar dari dalam perutnya sungguh menusuk hidung. Membuat kepala semakin pusing dibuatnya.</span></p> <p><span lang="IN">&nbsp;</span></p> <p align="right"><em><strong><span lang="IN">Rangkas Bitung, Banten</span></strong></em></p> <p><span lang="IN">Aw,<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>Awe atau Aweh. Entalah, yang pasti nama terminal ini berkutat di antara huruf-huruf tadi. Hal terpenting tukang ojek di stasiun Rangkas Bitung ini tahu maksud tujuan saya.</span></p> <p><span lang="IN">Di Rangkas terminal ini memang kondang, kata mereka di musim libur banyak orang berdatangan ke sini, karena dari terminal inilah kendaraan menyerupai angkot akan membawa siapa saja yang ingin berkunjung ke desa Ciboleger, pintu gerbang memasuki Badui Luar dan Badui Dalam.</span></p> <p><span lang="IN">Desa Ciboleger merupakan batas akhir kendaraan bermotor, dari desa ini kami akan berjalan kaki sejauh 15 Kilometer menuju Desa Cibeo, satu dari tiga desa dimana suku Badui Dalam bermukim.</span></p> <p style="text-align: center;"><span lang="IN"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/502a50797bf50.jpg" alt="" width="550" height="197" /><br /></span></p> <p><span lang="IN">Perjalanan<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>mengunjungi Badui Dalam tidaklah mudah, apalagi saya tidak sempat istirahat setibanya di Jakarta, alhasil tenaga benar-benar terkuras. Menembus belantara hutan, terus memaksa kaki untuk mendaki dan menuruni jalan setapak, keringat pun begitu deras membanjiri tubuh, air minum yang saya bawa tak memberi arti banyak, saat itu saya benar-benar di puncak lelah!</span></p> <p><span lang="IN">Saya kira<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>kira itu adalah Desa Cibeo, ah ternyata bukan, saya baru akan memasuki desa Kaduketer, salah satu desa dimana suku Badui Luar tinggal. Kata mereka masyarakat Badui Luar berbeda dengan Badui Dalam. Rumah suku Badui Luar memiliki lebih dari satu pintu, kalau Badui Dalam hanya satu pintu saja. Di suku Badui Luar, tanah yang digunakan sebagai rumah boleh diratakan tapi suku Badui Dalam tidak boleh sama sekali. Masyarakat suku Badui Luar menggunakan pakaian bermotif, sedangkan Badui dalam hanya hitam dan putih saja. Emm... semakin penasaran saja melihat langsung masyarakat dan kehidupan suku Badui Dalam.</span></p> <p><span lang="IN">Setelah<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>dirasa cukup beristirahat, saya kembali melanjutkan perjalanan. Semakin lama, semakin masuk ke dalam hutan, selepas dari Badui Luar jalan setapak yang saya lalui mulai berbeda, mulai menyempit dengan kemiringan bisa mencapai 70 derajat, pepohonan semakin lebat, alunan suara berbagai macam binatang terdengar begitu jelasanya, di saat saat seperti ini hanya tekad dan semangatlah yang bisa diandalkan. Senantiasa memberi sugesti diri bahwa saya pasti bisa melalui perjalanan ini dan sampai ke Desa Cibeo.&nbsp;</span></p> <p><span lang="IN">Batang bambu itu terus saja mengalirkan air, tepat satu meter di bawahnya terdapat semacam penampungan yang terbuat dari kayu, disitulah air akan tertampung dan terus meluap. Meluap-luap seperti perasaan kami saat itu, sungguh senang dan bangga bisa tiba di desa Cibeo. Di desa inilah kami akan bermalam, mengakrabkan diri dengan keheningan, menjauhkan diri dari hiruk-pikuk dunia luar, dan menghagatkan diri dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat suku Badui Dalam.</span></p> <p align="center"><em><span lang="IN">''Kami tidak belajar<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>Kalau pintar nanti hanya untuk membodohi orang lain.''&nbsp;Kata Bapak Pulung kepada kami.</span></em></p> <p><span lang="IN">Kolot Enggak juga, Ya, begitulah cara mereka menyikapi kehidupan. Bagi mereka hanya ada dua cara untuk memperkaya ilmu, menerima dan membagikan kepada sesama. Tidak akan ada yang lebih pintar, dan tidak akan ada yang bodoh.</span></p> <p><span lang="IN">Seperti sore itu, bapak Pulung mengajak kami ke alun-alun desa untuk ikut bercengkrama dengan beberapa masyarakat suku Badui Dalam. Heran, jika memang mereka tidak sekolah lantas bagaimana bisa mereka berbahasa Indonesia ya </span></p> <p><span lang="IN">Itu karena Suku Badui Dalam sangat terbuka dengan pendatang, kecuali pendatang berkebangsaan asing dan keturunan China, entah apa alasan mereka melakukan larangan khusus tersebut. Dari pendatanglah mereka belajar tentang pengetahuan umum hingga Bahasa Indonesia, setelah mereka mendapat ilmu baru, mereka akan membagikan atau mengajarkannya kepada sesama suku Badui Dalam. Tak heran jika masyarakat di desa Cibeo sebagian besar dapat berbahasa Indonesia meskipun dengan kosa kata yang terbatas.</span></p> <p><span lang="IN">Sebelum hari mulai gelap, saya meminta izin kepada Bapak Pulung untuk berjalan-jalan sembari melihat-lihat tiap sudut desa Cibeo. Pak Pulung mengijinkan kami, dengan syarat kami jangan keluar sendirian dari desa ini dan tidak boleh menginjakkan kaki di perkarangan Kepala Suku Badui Dalam.</span></p> <p><span lang="IN">&nbsp;</span></p> <p align="center"><em><span lang="IN">''Bambu itu digunakan sebagai pembatas, pendatang tidak boleh melewati batas, dan yang di sana itu adalah &nbsp;rumah Pu Un.'' Kata bapak Pulung sambil menunjuk rumah Kepala suku yang ternyata tidak ada bedanya dengan rumah masyarakat suku Badui Dalam pada umumnya.</span></em></p> <p><span lang="IN">&nbsp;</span></p> <p><strong><span lang="IN">Badui yaa Badui</span></strong><span lang="IN">. Itulah salah satu prinsip yang dipegang teguh masyarakat suku Badui Dalam. Tidak ada perbedaan antara masyarkat biasa dengan Kepala Suku atau Pu'Un. Rumah mereka sama, terbuat dari bahan yang sama dan tanpa menggunakan paku. Pu Un pun tidak boleh mengenyam pendidikan. Pakaian mereka sama, hanya hitam dan putih, tanpa motif apapun. Sama-sama ke ladang ketika subuh dan kembali ketika sore menjelang.</span></p> <p><strong><span lang="IN">Sekolah kami adalah alam, dan parang alat tulis kami</span></strong><span lang="IN">. Tidak peduli itu laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak sekalipun, berladang adalah kegiatan yang selalu mereka lakukan setiap harinya. Dengan parang terikat dipinggang (pada laki-laki), mereka pun berjalan tanpa alas kaki berkilo-kilometer jauhnya, maka jika kita cermati dengan seksama, telapak kaki suku Badui Dalam terlihat sedikit lebih lebar dibanding dengan telapak kaki pada umumnya.&nbsp;</span></p> <p><span lang="IN">Kebetulan saat kami berjalan-jalan mengelilingi desa Cibeo, masyarakat suku Badui Dalam sudah kembali dari ladang sehingga suasana desa sedang ramai-ramainya. Ada yang beristirahat di depan rumah, menanak nasi, mengambil air, dan aneka kegiatan lainnya.</span></p> <p><span lang="IN">Hap! Desa Cibeo ini seperti desa anak-anak! Buanyak sekali anak-anak disini, perkiraan saya ada empat, emmm lima atau bahkan bisa tujuh anak kecil di tiap rumah! Ternyata anak-anak kecil suku Badui Dalam itu gendut-gendut! Hehehe. Yang laki-laki rata-rata berbadan tinggi, kulit putih bersih dan terlihat gagah, sedangkan yang perempuan cantik-cantik dengan rambut hitam panjang terurai. Oke, mungkin nenek moyang mereka adalah... Dea Imut! *Kemudian Bingung. *Plak!</span></p> <p style="text-align: center;"><span lang="IN"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/502a50304e4e2.jpg" alt="" width="550" height="173" /><br /></span></p> <p><span lang="IN">Aih, saya jadi teringat nih<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>dengan seorang permpuan asli suku Badui Dalam yang saya lihat sore itu. Perkiraan saya&nbsp;umurnya 18 Tahun.Saat berpapasan dengannya, tidak sengaja<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>mata saya melihat ke arah kedua matanya tetapi ia tidak membalas melihat mata saya.Dia menunduk dan&nbsp;<em>ngacir&nbsp;</em>entah kemana! Tidak bermaksud berlebihan, perempuan itu benar-benar elok nan mempesona, saya semakin yakin kalau Dea Imut adalah Nenek Moyang mereka! Sayak yakin itu! Oke, mungkin saat ini saya hanya bisa melihatnya sesaat tetapi besok pagi sebelum saya pulang, saya pasti akan bertemu dia kembali!</span></p> <p align="right"><em><strong><span lang="IN">05:30 WIB (Waktu Indonesia Bagian Badui)</span></strong></em></p> <p><span lang="IN">Seperti biasa, saya selalu<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>lebih mudah bangun pagi dari pada harus bergadang hingga larut malam. Dan pagi ini saya berencana untukkembali berkeliling kampung, menikmati kearifan lokal, melihat aktivitas mereka, ikut ke ladang. Saya pun berjalan ke sungai,<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>mencari tempat yang lumayan jauh, straregis, aman, dan kondusif.</span></p> <p style="text-align: center;"><span lang="IN">&nbsp;<img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/502a4fa84eb38.jpg" alt="" width="550" height="256" /></span></p> <p align="right"><strong><em><em><span lang="IN">''<strong>Lojor teu meunang di potong, Pondok teu meunang disambung, Kurang teu meunang ditambah, Leuwih teu meunang di kurang.''</strong></span></em><strong><span lang="IN">&nbsp;- Badui Dalam</span></strong><br /></em></strong></p> Bangkitkan Cinta Indonesia dengan Travelling, Nikmati Melancong di Negeri Sendiri http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/128/bangkitkan-cinta-indonesia-dengan-travelling-nikmati-melancong-di-negeri-sendiri <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5030471bd742e.JPG" alt="" width="550" height="415" /></p> <p>Melancong. Ya, rasanya ini jadi impian setiap orang untuk menginjakkan kakinya ke luar negeri. Akan tetapi, apa impian setiap orang juga untuk berwisata menikmati mutiara Indonesia Barangkali belum tentu. Mungkin perumpamaan rumput tetangga lebih hijau itu benar teapi rumput tetangga yang lebih hijau itu belum tentu lebih baik, juga bisa benar adanya.&nbsp;</p> <p>Ilustrasi tersebut tampaknya juga sangat pas jika dikaitkan dengan konsep cinta tanah air, terutama dalam merayakan #DirgahayuRI ke-67 ini. Bisa saja kita melihat negara tetangga lebih hijau alias lebih indah namun belum tentu negara itu lebih baik.<em></em></p> <p><em><strong>Keluarga Merah Putih</strong></em><em></em></p> <p>Beruntungnya saya berada dalam keluarga yang begitu membangun rasa kecintaan saya terhadap Indonesia. Topik mengenai wisata, olahraga, sosial budaya, politik, ekonomi, hingga lapangan pekerjaan senantiasa mengisi diskusi keluarga kami. Sederhananya, nuansa merah putih seperti membaur di dalamnya.</p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5030476fce009.jpg" alt="" width="550" height="364" /></p> <p>Begitu pula dengan mencari tempat jalan-jalan. Rasanya Ayah saya mungkin salah satu orang yang cukup langka. Coba saja ajak ayah saya jalan-jalan ke negara-negara terkenal, beliau pasti memilih untuk wisata di dalam negeri saja. Jawabannya pasti sederhana, "Indonesia masih punya begitu banyak tempat wisata yang belum dikunjungi."</p> <p>Saat banyak keluarga melewatkan liburan Natal dengan wisata ke negara yang berisi gemerlapnya dekorasi salju, berkali-kali kami justru berwisata keliling pulau Jawa. Rombongan&nbsp;<em>touring</em>&nbsp;keluarga besar kami bisa mencapai lima mobil. Puluhan tempat-tempat wisata di Pulau Jawa sudah kami kunjungi, dari mulai Gunung Salak, Katulampa, Bendungan Jatiluhur, Malingping, Baturaden, Pangandaran, Garut, Dieng, Ambarawa, Yogya, Bromo hingga mencapai Lombok. Selain berwisata, kami juga kami begitu menikmati wisata sosial, budaya, hingga sejarah kota.</p> <p>Setiap merayakan tahun baru keluarga pun kami selalu mencari tempat baru yang unik dan memberikan pengetahuan menarik akan daerah tersebut. Tanpa jalan-jalan seperti ini kami tidak akan tahu betapa rapihnya kota Temanggung, menikmati indahnya pesisir pantai selatan Jawa hingga melihat proses bertelurnya penyu di Ujung Genteng. Memang begitu menakjubkannya alam Indonesia, tidak ada habis-habisnya destinasi wisata di bumi pertiwi ini.&nbsp;</p> <p>Begitu hebatnya Ayah saya, beliau justru memberikan saya, @riandyyudhika dan @rayudhika dorongan untuk melakukan&nbsp;<em>backpack</em>&nbsp;pertama kalinya ke luar negeri. Dengan bahasa Inggris yang masih&nbsp;<em>belepotan</em>, kami belajar bagaimana melihat dunia baru diluar kehidupan sehari-hari. @rayudhika yang ketika itu belum genap 14 tahun pasti mendapat kesempatan berharga melihat gemerlapnya Singapura, majunya pariwisata Thailand, kentalnya sejarah Kamboja, hingga uniknya perpaduan budaya dan filosofi di Vietnam.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Sekarang, jangan tanyakan apa yang @rayudhika impikan. Berwisata keliling &nbsp;dunia jelas ada di impiannya tetapi menjelajahi Indonesia merupakan misinya. Sambil berpetualang ala <em>backpacker</em>, dia sudah berhasil mencapai dataran Sumba, bahkan Pulau Komodo.</p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/503047dc9a702.JPG" alt="" width="550" height="372" /></p> <p><em><strong>Bekal Kecintaan Terhadap Negeri</strong></em></p> <p>Membangun negeri tidak selesai dalam satu malam, begitu pula untuk membangun kecintaan terhadap negeri. Diusia &nbsp;67 tahun kita merayakan kemerdekaan republik ini. Begitu banyak generasi muda bangsa yang membuktikkan bahwa orang-orang muda ini bisa berkontribusi terhadap bangsa dibalik gelap dan carut marutnya panggung politik serta pemerintahan.</p> <p>&nbsp;Waktu saya kecil, saya begitu menikmati tontonan lomba-lomba antar kampung seperti makan kerupuk, lomba gundu, hingga balap karung. Saat ini, di kota-kota besar khususnya, gairah DirgahayuRI terasa seperti lenyap.</p> <p>Di satu sisi, sudah semakin banyak orang yang merasakan kecintaan terhadap negeri ini. Di sisi lain juga ada lebih banyak orang yang tidak merasa bangga atau bahkan tidak perlu merasa bangga dengan predikat negara pemegang paspor hijau ini.</p> <p>Beruntung saya juga memiliki teman-teman yang "gila" akan Indonesia. Berbagai wisata dalam negeri dari mulai menaiki perahu nelayan ke pulau seribu, menjelajahi lawang sewu dan menginap ala turis di pulau Gili sudah kami jalani. Di kesempatan lainnya, saya, @rendyhartono, @stefansantoso dan @chayadikwok begitu terperangah ketika merasakan pengalaman menjelajahi Teluk Kiluan yang sangat terpencil namun begitu memukau. Begitu indah dan alaminya teluk yang konon memiliki komunitas lumba-lumba terbesar di asia ini.</p> <p style="text-align: center;"><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/503047b5655ba.JPG" alt="" width="550" height="363" /></p> <p>Berbekal dari kecintaan dan&nbsp;<em>passion</em>&nbsp;kami akan travelling ini, kami sedang merumuskan satu kolaborasi kreatif untuk memberikan kesempatan lebih banyak orang untuk bisa menikmati #wisataIndonesia. @rayudhika bahkan sudah bisa menjadi pemimpin komunitasnya mengadakan&nbsp;<em>trip</em>&nbsp;ke Desa Sawarna, sebuah Paradise Indonesia yang masih belum terjamah.<em></em></p> <p><em><strong>Wisata Sebagai Rantai Ekonomi</strong></em></p> <p>Beberapa waktu lalu saya pernah membaca&nbsp;<em>blue print</em>&nbsp;wisata domestik Indonesia yang diutarakan @sandiuno. Saya yakin konsep pariwisata yang beliau impikan akan membawa manfaat yang besar bagi wisata Indonesia dan juga pendapatan nasional. Jadi pahlawan devisa bukan saja wisatawan mancanegara, namun juga wisatawan domestik.</p> <p>Ketika kita melakukan kegiatan wisata, pasti juga akan diikuti oleh perputaran rantai ekonomi. Pendapatan daerah akan bertambah karena banyaknya wisatawan yang berlibur, pembukaan lapangan pekerjaan, hingga bertumbuhnya UKM setempat. Roda ekonomi semakin berputar karena setiap wisatawan membutuhkan konsumsi makanan, akomodasi, transportasi, alat telekomunikasi, hiburan, hingga cenderamata&nbsp;</p> <p>Karena pariwisata, sebuah kota, provinsi atau bahkan negara bisa menjadi begitu terkenal dan mendatangkan pendapatan nasional. Kepulauan Maladewa atau biasa disebut Maldives Island merupakan contohnya. Padahal jika kita membandingkan dengan geografis Pulau Seribu, menakjubkannya rumah apung di Karimun Jawa, atau juga mutiara terpendam seperti Desa Sawana dan Teluk Kiluan, percayalah, rasa cinta terhadap tanah air akan kembali bergelora seperti saat menonton tim Garuda di stadion GBK.</p> <p>Rasanya, kecintaan terhadap konsumsi barang-barang import tidak terlepas dari begitu tingginya antusias warga Indonesia untuk melancong ke luar negeri. Lebih ironis lagi jika ternyata banyak dari kita tidak tertarik untuk berwisata di dalam negeri. Jika kecintaan terhadap negeri menurun, otomatis akan sejalan dengan memudarnya kecintaan terhadap produk dalam negeri.</p> <p>Dalam candaan saya bersama dengan teman-teman traveller @AdiraFOI di #ramadhanGathering, tidak ada satu orang pun diantara kita yang tidak merasa bangga menjadi warga Indonesia. Wajah-wajah yang tampak pemalu sontak berubah menjadi penuh antusias dan gegap gempita ketika berdiskusi mengenai nasionalisme, objek wisata, dan kota-kota menarik di Indonesia. Sambil bercanda kita membuat kesimpulan prematur bahwa jika ada warga negara Indonesia yang belum mencintai negara ini, orang itu harus terlebih dahulu sejenak meluangkan waktu untuk berwisata di Indonesia, menikmati alam serta keindahan pesona Indonesia.</p> <p>Tidak terhitung berapa kali bendera Indonesia berkumandang di puncak gunung ketika para pecinta alam berhasil mencapai titik tertinggi di gunung itu. Hal itu menunjukkan kebangaan pada atribut negara ini. Rasanya saya bisa membuat satu pendapat pribadi, semakin kita melakukan&nbsp;<em>travelling</em>&nbsp;di Indonesia, akan semakin tinggi pula kecintaan pada negara ini.</p> <p>Selalu percaya bahwa setiap orang bisa berkontribusi bagi negara ini, dalam bentuk apapun. Dengan hanya membuang sampah pada tempatnya, kita sudah berpartisipasi utk hal yg baik bagi negeri ini. Dengan hanya menyapa orang dengan senyuman, kita sedang berpartisipasi untuk suasana yang baik bagi negeri ini. Dengan berteman dengan berbagai golongan dan agama, kita sudah berpartisipasi dalam membuktikkan bahwa kita adalah negara bertoleransi.</p> <p>Selesai menempuh studi, saya memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencoba berkontribusi bagi negara ini. Rasanya benar ucapan George Moore, &nbsp;<em>&ldquo;A man travels the world in search of what he needs and returns home to find it.&rdquo; &nbsp;</em></p> <p>Ketika kembali melihat kota Jakarta yang tampak semakin semrawut dari atas pesawat akhirnya saya &nbsp;hampir tiba di bandara Ibukota ini. Bukan tawa kebahagiaan, namun justru air mata yang tiba-tiba meluncur dari mata saya. Untuk pertama kalinya saya meneteskan air mata untuk negara ini. Kerinduan terhadap negeri menjadi sekaligus membantu saya menemukan arti nasionalisme,&nbsp;<em>returns home to find it</em>. Dengan travelling, kita bangkitkan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap Indonesia. <em>Dirgahayu Negeriku, Majulah Pariwisata Indonesia</em></p> <p style="text-align: center;"><em><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/5030481b34423.JPG" alt="" width="550" height="368" /><br /></em></p> <p style="text-align: right;"><em>&nbsp;@ranggayudhika&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em></p> <p style="text-align: right;"><em>www.ranggayudhika.multiply.com &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</em></p> <p style="text-align: right;"><em>Travelling while u r still breathing</em><em></em></p> <p>&nbsp;</p> Menikmati Hutan Kecil di Pangandaran Warisan Residen Priangan Eycken http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/130/menikmati-hutan-kecil-di-pangandaran-warisan-residen-priangan-eycken <p>Ketika lembayung terbenam di tepian horizon, segunduk hutan setia berdiam di hadapan pantai selatan Pulau Jawa. Hutan ini adalah jantungnya Pangandaran dengan lokasi menjorok ke laut dan diapit dua pantai yang hanya terpisah seratus meter saja, yaitu Pantai Barat Pangandaran dan Pantai Timur Pangandaran. Semenanjung kecil ini nyatanya memang tak pernah terhenti untuk terus menjadi tempat berlabuhnya orang-orang yang ingin mengecap segarnya hidangan alam Tanah Pasundan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Pantai Pangandaran adalah salah satu dari sekian banyak pantai di Nusantara dengan keistimewaan dapat melihat Matahari terbit dan terbenam di satu kawasan. Jelasnya ini adalah sebuah lokasi yang sangat unik dan berharga untuk disambangi. Orang-orang berbondong-bondong menyaksikan keindahan terbit dan terbenamnya Matahari di tempat ini. Tentunya Pangandaran juga menyediakan berbagai pilihan untuk menghabiskan waktu liburan. Di pantai ini tersedia banyak penginapan mulai dari sederhana hingga yang berkelas. Ada juga berbagai restoran dan penjual asesoris yang dapat menjadi oleh-oleh.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Untuk keempat kalinya saya menyambangi Pangandaran, sebuah tujuan wisata favorit di selatan Jawa Barat. Masih teringat saat kecil bagaimana puasnya bermain di pantai ini begitu membekas di benak. Akan tetapi, kunjungan kali ini saya benar-benar ingin merasakan suguhan alam hijau di cagar alamnya itu.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Pangandaran rupanya terus berbenah setelah Tsunami pada Juli 2006. Tujuan wisata favorit di selatan Jawa Barat ini semakin komplit saja. Pengunjung saya amati banyak yang menikmati wisata alam ke cagar alam, bersepeda, berenang, bersampan, scuba diving, snorking, hingga melihat peninggalan sejarah. Selain itu, ada pula jelajah gua alam dan gua Jepang.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Setelah berkendara 6 jam dari Bandung dan tiba malam harinya di Pangandaran, Foursqure saya langsung mengarahkan lokasi pada posisi 7&deg;42,366'S 108&deg;39,332'E. Adapun rute yang saya lalui dari Bandung adalah melalui Tasikmalaya kemudian ke Ciamis dan&nbsp; Banjar, lalu mengarah langsung ke Pangandaran. &nbsp;Jarak yang ditempuh saat itu sejauh &plusmn; 223 km. Tempat penginapan yang dituju sudah kami pesan sebelumnya dan berlokasi di Pantai Timur Pangandaran.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Setelah cukup beristirahat semalamam, pagi harinya adalah waktu sempurna saya berjalan-jalan sembari berolah raga di Cagar Alam Pananjung. Perjalanan dari penginapan ke yang lokasinya tidak begitu jauh. Saya memilih berjalan kaki saja ketimbang menggunakan jasa perahu dari Pantai Barat Pangandaran dimana perlu menyewa seharga Rp40.000,-.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Saya begitu bersemangat menyambangi hutan kecil seluas 37,70 hektar yang ternyata sudah ada sejak 1920-an. Pananjung Pangandaran sendiri merupakan semenanjung kecil yang berada di pantai selatan Kabupaten Ciamis. Tak ada yang mengira bahwa sebenarnya dahulu Pananjung merupakan sebuah pulau kecil dan kemudian terhubung dengan daratan Pulau Jawa akibat proses sedimentasi pasir.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Hutan ini terlihat lebih rimbun menghijau dibanding ketika dahulu saya melihatnya belasan tahun lalu. Beberapa jenis tumbuhan laut seperti waru laut, nyamplung, dan ketapang masih nampak belum berubah. Akan tetapi, beberapa hewan tidak saya temukan seperti yang dahulu sempat ada seperti kancil, ular, biawak, landak, ayam hutan, dan banteng. Entah apakah mereka sedang tidur siang di dalam hutan. Di kawasan konservasi flora dan fauna sini dengan mudahnya dapat ditemui rusa menjangan dan kera ekor panjang yang sudah biasa membaur dengan pengunjung. Bahkan, rusa bertanduk lebar pun saat tengah malam keluar dari hutan untuk memasuki kawasan sekitar penginapan dan restoran.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Sebelum tahun 1922 kawasan cagar alam ini merupakan ladang penduduk. Seorang Residen Priangan bernama Y. Eycken mengubah kawasan ini menjadi taman berburu. Saat itu dilepaskan seekor banteng, 3 ekor sapi betina dan beberapa ekor rusa. Seiring waktu berjalan, pada 1934 status kawasannya ini diubah menjadi Suaka Margasatwa dengan luas 530 ha. Secara mengejutkan juga ternyata tahun 1961 ditemukan bunga raflesia padma yang langka sehingga membuat cagar alam ini ditetapkan menjadi Cagar Alam dan tahun 1978&nbsp; diubah menjadi Taman Wisata dengan luas 37,70 ha. Berikutnya pada 1990, luas Cagar Alam ditambah 470 Ha hingga menjadi 1000 Ha, dimana itu meliputi taman laut dan wilayah perairan yang mengelilinginya. Hingga saat ini Cagar Alam Pananjung berada di bawah pengelolaan SBKSDA Jawa Barat II dan untuk Taman Wisata Alam (TWA) dikelola Perum Perhutani Ciamis.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Saat saya menyambangi kawasan konservasi ini rupanya tidak diperkenankan untuk memasuki wilayah Cagar Alam. Pengunjung hanya diizinkan berkeliling di wilayah Taman Wisata Alam, itu demi menjaga kelestarian alam di sana. Akan tetapi hutan hijau dan pegunungan Cagar Alam bisa dinikmati dengan menyewa perahu dan mengelilingi hutan Cagar Alam dari Pantai Barat Pangandaran ke Pantai Timur Pangandaran.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Taman Wisata Pananjung dapat dituju melalui dua pintu masuk, yaitu&nbsp; pintu di Pantai Barat dan di pintu Pantai Timur. Pilihan yang kedua lebih dekat meskipun Pantai Timur adalah kawasan pelabuhan nelayan. Pantai Timur memiliki ombaknya yang tenang dan lautnya yang dalam tetapi jarang direnangi hanya sekadar untuk memancing atau atraksi banana boat. Kawasan ini berbeda dengan Pantai Barat yang merupakan kawasan wisata dengan banyak restoran, penginapan, toko-toko souvenir, dan beragam kebutuhan wisatawan seperti penyewaan papan selancar kecil, sepeda, atv, tatoo, dan lainnya.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>TWA (Taman Wisata Alam) Pangandaran merupakan bagian dari Cagar Alam Pananjung. Taman Wisata Alam memang diperuntukan sebagai tujuan wisata dan juga dimaksudkan untuk memberi batas kepada masyarakat tentang daerah yang boleh dikunjungi dan daerah yang tidak. Cagar Alam Pananjung yang hanya boleh dimasuki jika ada izin tertulis dari BKSDA Jawa Barat II. Pengunjung umum tidak diperkenankan memasuki wilayah Cagar Alam dan hanya sekitar wilayah Taman Wisata saja, itu demi menjaga kelestarian alam di sana. Akan tetapi, hutan dan pegunungan dari Cagar Alam bisa dinikmati dengan menyewa perahu lalu mengelilinginya dari Pantai Barat ke Pantai Timur.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Di kawasan Cagar Alam Pananjung saya melihat binatang-binatang liar dengan mudah ditemui. Nampak rusa menjangan hilir mudik mencari makan, tak jarang monyet ekor panjang serta lutung mencoba mendekat untuk mencari makanan yang barangkali saya buang. Ada juga kelelawar (kalong), banteng, rusa, biawak, tokek, dan ular serta landak. Menurut penjaga hutan, di cagar alam ini ada juga beberapa jenis burung yang sayang tidak saya temui, yaitu cipeuw, cangehgar, tlungtumpuk, dan jogjog.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Selain flora dan fauna, di Pananjung juga terdapat beberapa gua yang menarik dikunjungi, seperti: Gua Panggung, Gua Parat, Gua Lanang, Gua Sumur Mudal dan juga gua peninggalan Jepang saat Perang Dunia II. Tentara Pendudukan Jepang dahulu memang pernah merencanakan kawasan ini sebagai benteng pertahanan mengantisipasi apabila Sekutu menyerang dari arah laut selatan. Hal itu nyatanya tidak terjadi karena Sekutu datang dari utara. Hasilnya gua-gua dan benteng pertahanan itu masih terpelihara dengan baik sampai sekarang.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Selain gua, rupanya kawasan ini juga menyimpan sisa puing-puing peninggalan kerajaan Pananjung, Galuh, yaitu dinamai Batu Kalde. Saya tidak mengetahui cerita di balik peninggalan sejarah tersebut tetapi sudah cukup menjadikan tempat ini memang memiliki beragam daya tarik. Saya juga menyempatkan diri menyambangi Mata Air Rengganis. Konon cerita dari mulut ke mulut mewartakan mata air ini memiliki khasiat awet muda bagi mereka yang mandi di sana.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Menikmati beragam kejutan Cagar Alam Pananjung adalah kesempatan melihat langsung hutan indah di pesisir selatan dengan beragam daya tariknya. Semoga masyarakat dan wisatawan terus menyadari betapa pentingya fungsi hutan lindung dan hidup berdampingan saling menguntungkan dengannya. Dengan begitu hutan pun tetap hijau lestari, hewan dapat mencari makan, wisatawan menikmati keindahan alam dan atraksinya, serta tentunya masyarakat setempat mendapat keuntungan dari datangnya wisatawan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> Pantai Pangandaran, Sang Primadona Jawa Barat http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/131/pantai-pangandaran-sang-primadona-jawa-barat Pantai merupakan salah satu dari sekian banyak wisata alam yang dimiliki Indonesia yang paling banyak dipilih para wisatawan yang ingin hilang sejenak dari kebisingan kota. Begitu juga dengan saya, pantai merupakan urutan pertama yang selalu saya ingin datangi ketika ada kesempatan untuk berlibur. Terletak di Kota Ciamis, Jawa Barat, antara Teluk Parigi dan Teluk Pangandaran terdapat satu zona tempat wisata yang menjadi primadona warga Jawa Barat karena menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, Pantai Pangandaran! Ya, Pantai yang satu ini memang merupakan tujuan wisata paling populer, karena pantai ini dianggap salah satu pantai terbaik yang berada di Jawa Barat. Maka, dengan persiapan yang cukup matang pergi lah kami, saya dan beberapa teman, touring menggunakan sepeda motor untuk mengitari Pantai Pangandaran dan pantai-pantai sekitarnya. Wohooooo! Semenanjung cantik ini dulu hanya dikenal sebagai sebuah kota nelayan kecil loh. Perjalanan menuju Pantai Pangandaran kami tempuh kurang lebih sekitar 6 jam dari Kota Bandung. Panorama alam Pangandaran yang didominasi oleh pantai yang luas, bukit kapur, sungai-sungai berair jernih, perbukitan, hutan , pedesaan, teras-teras sawah dan muara sungai memang menjadi salah satu daya tarik tersediri bagi kami. Di Pantai ini kita bisa menikmati horison samudera Hindia dengan sensasi angin laut yang kencang, dan satu lagi yang biasanya diburu orang.. Ya! Menyaksikan dan mengagumi matahari terbit dan terbenam dari satu tempat. Dan satu hal lagi yang saya suka, mengabadikan momen tersebut ke dalam sebuah gambar, fotografi.     PANTAI TIMUR. Nah, kalau pantai timur adalah surganya para penggila makanan laut alias seafood. Disini kami mencoba berbagai macam olahan hasil laut, baik di restoran maupun di warung-warung kecil. Beraneka ragam olahan ikan, cumi-cumi, kepiting, udang dan hasil laut lainnya sudah merupakan santapan wajib jika datang kemari. Selain banyak pilihan, menurut saya, harga makanan laut yang ditawarkan di kawasan Pantai Pangandaran ini tergolong cukup ekonomis loh jika dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya.                                                                 Oh ya, di sebelah selatan dari pantai ini juga ada pasar tradisional tempat pelelangan ikan yang didapat langsung dari nelayan selepas melaut. Kebetulan sekali saat kemari, kami sempat menyaksikan para nelayan yang baru pulang melaut, dan tebak apa yang saya temukan disini Saat satu kapal nelayan hendak merapat ke pantai, puluhan orang datang berduyun-duyun untuk menarik kapal. Wow! Saat melihat kejadian itu saya sendiri merasa sangat takjub, begitu riuhnya mereka, saling bantu membantu satu sama lain.. Sesuatu yang sangat jarang dapat kita lihat di kota besar, bukan Satu lagi, Pantai timur juga merupakan tempat yang asyik untuk bermain Jet ski dan Banana Boat loh. Sebagian besar penduduk sekitar desa Pangandaran bekerja sebagai nelayan dan petani. Akan tetapi banyak juga penduduk yang bekerja di bidang industri pariwisata dan industri rumahan. Berbagai macam metode juga banyak dilakukan oleh pemerintah setempat untuk membuat Pantai Pangandaran ini menarik lebih banyak lagi wisatawan yang datang, diantaranya dengan mengadakan berbagai perayaan dan festival-festival tahunan. Berdasarkan hasil perbincangan saya dengan pemilik cottage yang saya sewa saat berlibur kemari, di Pantai Pangandaran ini terdapat satu acara tradisional, yakni upacara yang dilakukan para nelayan sebagai perwujudan rasa terima kasih mereka atas kemurahan Tuhan Yang Maha Esa dengan cara melarung sesajen ke laut lepas. Acara ini biasanya dilakukan setiap bulan Muharam, dengan mengambil tempat di sebelah Timur Pantai Pangandaran. Menarik bukan Hanya di Indonesia! Dan event partiwisata yang bertaraf internasional yang dilakukan setiap tahunnya disini adalah Festival layang-layang Internasional (Pangandaran International Kite Festival) yang biasa dilaksanakan pada tiap bulan Juni atau Juli. Sayangnya di Tahun 2012 festival ini tidak dapat diselenggarakan, yang konon dari berita yang saya baca dari salah satu website, tanpa alasan yang jelas. Sayang banget padahal. Oh ya, masyarakat sekitar Pangandaran sebagian bear terdiri dari masyarakat Sunda dan jawa, dan gabungan dari kedua budaya ini menambah satu lagi bukti kekayaan budaya Indonesia loh.   Taman wisata atau Cagar Alam Pananjung. Belum lengkap rasanya jika mengunjungi Pantai Pangandaran tanpa menginjakkan kaki di Taman Wisata Alam Pangandaran atau sering disebut Cagar Alam Pananjung. Tempat ini memiliki kekayan sumber daya hayati berupa flora dan fauna serta keindahan alam yang luar biasa indahnya. Beberapa jenis hutan, seperti hutan sekounder, hutan primer dan hutan pantai ini merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan satwa-satwa seperti halnya monyet, rusa, kerbau, kalong, reptil, beberapa jenis burung, dan hewan eksotis lainnnya. Selain itu juga terdapat beberapa gua-gua, baik yang alami maupun buatan manusia, yang konon di bangun oleh Jepang saat terjadi Perang Dunia sebagai salah satu bunker pertahanan.   Di pantai Pananjung yang terletaK di bagian barat, atau yang lebih sering dipanggil Pantai Pasir Putih, kita bisa melakukan banyak aktifitas loh. Seperti halnya berenang, snorkling, ataupun hanya mencari-cari ikan kecil diantara tumpukan karang laut diatas pasir putih dengan air laut yang jernih. Dan untuk mencapai tempat ini dapat ditempuh denan berjalan kaki melalui jalan setapak yang menghabiskan waktu kurang lebih 1-2 jam, atau memilih naik perahu dari pantai barat yang dikenakan tarif 20.000-35.000 per orangnya. So, which one are you   Saya, kami, memilih untuk menyebrang menggunakan perahu untuk sampai ke Pantai Pasir Putih tanpa melalui Cagar Alam Pananjung. Bukan karena kami malas, tapi berhubung waktu liburan kami hanya 3 hari dan itu pun belum semua spot wisata disana kami datangi. Saya sendiri sebelumnya pernah berjalan mengarungi cagar alam ini beberapa tahun silam, saat berwisata bersama keluarga. Jadi, sudah tidak terlalu penasaran bagaimana pemandangan di dalam cagar alam dan melihat langsung hewan-hewan di dalamnya. Dan pilihan kami saat berada di Pantai ini adalah snorkeling!   Destinasi hari kedua kami adalah Pantai Batu Karas dan Green Canyon. Hanya saja sebelum ke tempat tujuan kami tersebut, kami berencana untuk memasuki beberapa lokasi wisata, diantaranya Pantai Batu Hiu dan Pantai Karang Nini. And here we go….   Pantai Karang Nini. Terletak di Desa Emplak, Kecamatan kalipucang, pantai satu ini menawarkan objek wisata perpaduan antara hutan dan pantai. Dari pantai Pangandaran ke pantai ini menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit. Sepanjang perjalanan dari arah pintu gerbang ke lokasi, kami dimanjakan dengan kesejukan hutan jati dengan irama alamnya. Bukan itu saja, pada beberapa bagian jalan, saya juga bisa melihat panorama pantai di kejauhan. Hamparan hutan jati dan rimba yang lebat berpadu dengan pemandangan laut lepas, diselingin debur ombak dan pemandangan langit biru merupakan pesona alam yang menyimpan misteri dan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Di pantai ini terdapat beberapa pondok wisata dan bale-bale tempat makan. Hanya saja saat kami kemari, di kawasan pantainya masih banyak perbaikan infrastruktur harus yang dilakukan selepas terjadinya peristiwa tsunami beberapa waktu yang lalu. Oh iya, di pantai ini juga terhampar batu-batu karang yang salah satunya menyerupai seorang nenek (nini dalam bahasa sunda) yang konon sedang menunggu si kakek, dan dari situlah asal muasal nama Pantai Karang nini ini berasal. Karena memang Pantainya merupakan kawasan dilarang berenang, maka kamipun kemari hanya untuk foto-foto dan ngobrol sejenak. . Setelah itu kami langsung melanjutkan lagi perjalanan kami ke Pantai Batu Hiu. Selang beberapa lama, tidak sampai 15 menit kami pun sudah melihat patung hiu dari jalanan yang menandakan arah untuk masuk ke lokasi tersebut.   Pantai Batu Hiu. Ketika sampai di lokasi ini kami disambut dengan sebuah patung mulut hiu yang menganga, seolah ingin memakan kami. Padahal patung tersebut adalah jalan masuk menuju ke bukit kecil. Dari atas bukit ini kita dapat melihat dengan jelas tebing yang cukup terjal, kita juga dapat menyaksikan birunya Samudera Indonesia dengan deburan ombaknya yang menggulung putih.   Saat disana juga saya baru menyadari mengapa pantai ini dinamai Pantai Batu Hiu karena ternyata sekitar 200 meter dari pinggir pantai terdapat sebuah batu karang yang menyerupai ikan hiu. Ya, kurang lebih filosofi yang saya tangkap sih begitu, hii. Sayangnya di pantai ini juga kita tidak diperkenankan untuk berenang karena ombaknya yang cukup besar. Oh iya, ditempat ini juga kita bisa melihat penangkaran penyu loh.   Dan inilah, perjalanan di hari kedua itupun kami lanjutkan lagi untuk sesegera mungkin bermain di Pantai Batu Karas dan Green Canyon.. dan tidak sampai 30 menit kemudian sampai lah kami di Pantai Batu Karas! Perjalanan menuju Pantai Batu Karas, kami diiringi oleh aliran air sungai berwarna hijau toscha yang belakangan kami ketahui bahwa itu adalah aliran sungai cijulang yang terhubung dengan Green Canyon. Waaaa, sudah tak sabar rasanya kami untuk bermain-main, dan tanpa banyak ini itu setelah sampai di hotel untuk beristirahat sejenak kami langsung menjajal Pantai Batu Karas.   Pantai Batu Karas. Pantai ini terletak di Desa Batukaras, kecamatan Cijulang dengan jarak kurang lebih 35 km dari Pantai Pangandaran. Pantai satu ini terkenal sebagai surganya para surfer loh. Ya, gelombang laut yang bersahabat dengan pantainya juga membuat para pengunjung kerasan tinggal di kawasan ini, termasuk saya dan kami. Kegiatan wisata yang dapat kita lakukan disini banyak sekali loh seperti bermain perahu di muara sungai, berkemah, berselancar, dan bermain mencari ikan-ikan kecil diantara karang lautnya. Jika saya bandingkan dengan Pantai Pangandaran, pantai ini jelas jauh lebih sepi dan lebih sedikit fasilitas penginapannya.   Setelah puas bermain-main pantai di pantai, akhirnya hari itu kami tutup dengan istirahat untuk keesokan harinya kami bermain lagi ke Green Canyon. Hari itupun ditutup dengan sajian seafood di salah satu rumah makan di Pantai Batu Karas. Untuk harga makanan di pantai ini, saya rasa harganya sedikit lebih mahal loh dari Pantai Pangandaran. Tapi tak apalah, yang penting perut kenyang ..hati senang!hehehe   Destinasi hari ketiga…   Di pagi hari, tanpa mandi (tapi sikat gigi) kamipun bersiap pergi ke Green Canyon. Yap! Dan ini diaaa…   Cukang Taneuh (Green Canyon-nya Indonesia). Tak perlu jauh-jauh berkunjung ke Grand Canyon yang ada di Amerika sana, karena Indonesia juga memiliki Green Canyon sendiri yang tidak kalah cantiknya loh.   Objek wisata ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, beberapa kilometer sebelum ke arah Pantai Batu Karas. Sepanjang perjalanan menuju kemari juga kita sebenarnya bisa menikmati pemandangan aliran sungai dengan air berwarna hijau tosca.. Objek wisata yang mengagumkan ini sebenarnya merupakan aliran dari sungai Cijulang yang melintas menembus gua yang penuh dengan keindahan pesona stalaktitdan stalakmitnya. Dua bukit yang mengapit aliran sungai disertai engan banyaknya bebatuan dan rimbunan pepohonan menuju ke lokasi membentuk suatu lukisan alam yang luar biasa unik dan menantang untuk dijelajahi.   Nah, begitu telihat jeram dengan alur yang sempit dan sulit dilewati oleh perahu menandakan bahwa kami sudah sampai di mulut Green Canyon. Disinilah petualangan menjelajah keindahan Green Canyon di mulai.. Perjalanan menjelajahi Green Canyon dapat kita lakukan dengan berenang dan merayap di tepi bebatuan. Dinding-dinding terjal di kanan kiri aliran sungai juga menyajikan keindahan tersendiri dan tak henti-hentinya membuat saya takjub. Aliran air sungai yang cukup deras juga terkadang membuat kita sulit melewatinya untuk mencapai ujung jalan karena kita melawan arus. Dan setelah beberapa ratus meter berenang, kita akan melihat beberapa air terjun kecil yang menawan. Kita juga bisa berenang sepuasnya mengikuti arus dari air terjun loh, selain itu juga bagi yang suka menantang adrenalin bisa juga meloncat dari sebuah batu bear daengan ketinggian 5 meter ke dasar lubuk yang cukup dalam. Oya, jangan lupa menggunakan pelampung jika kamu tidak terlalu pandai berenang ya.   Satu lagi, jika benar-benar ingin menikmati keindahan objek wisata Green Canyon kita juga harus paham dengan musim-musimnya. Waktu terbaik untuk dapat menikmati keindahan Green Canyon adalah beberapa saat setelah memasuki musim kemarau, karena saat musim penghujan, dikhawatirkan akan derasnya aliran sungai disertai warna air yang menjadi kecoklatan. Hmm.. Kalau boleh saya sarankan juga, datanglah kemari saat bukan musim liburan sekolah, karena dijamin lokasi akan penuh dan kita tidak bisa sepenuhnya menikmati suguhan alam disini.           Setelah puas bermain seharian di Green Canyon, walaupun rasanya masih betah sekali bermain disana, kami memutuskan pulang ke hotel untuk bersiap-siap pulang ke Bandung. Bersiap-siap melakukan perjalanan panjang lagi. Rasanya tidak ingin pulang deh. Dan begitulah cerita libur lebaran kami di Pangandaran.. Tertarik Ayo berkunjung! Selamat berlibur, traveler!                   Eksotisme Taman Batu Rammang-rammang http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/132/eksotisme-taman-batu-rammang-rammang <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501fe19ad4348.jpg" alt="" width="550" height="367" /></p> <p>Memasuki Dusun Rammang-Rammang, Desa Salenrang Kabupaten Maros, kita akan langsung dihadapkan pada hamparan sawah dengan gugusan batu-batu hitam di belakangnya.Ya! Inilah kawasan Taman Batu Rammang-Rammang. Berada di kawasan ini, kita seakan dibawa ke Halong Bay di Vietnam, hamparan batu berwarna hitam legam dengan tinggi yang bervariasi dari 50 cm sampai puluhan meter, sungguh pemandangan yang luar biasa.</p> <p>Berada di titik koordinat 5&deg;13&rsquo;3&Prime;S &nbsp; 119&deg;29&rsquo;37&Prime;E, Kawasan Rammang-Rammang&nbsp; ini merupakan miniatur dari kawasan karst yang berada di Cina Selatan dan Halong Bay Vietnam. Bentang alamseperti ini hanya ada 3 tempat didunia dan salah satunya berada dekat dari kota kami, yaitu Makassar.</p> <p>Perjalanan saya kali ini ditemani oleh Bapak Badaruddin, laki-laki berusia sekira 50 tahun ini adalah penduduk asli Dusun Rammang-Rammang. Menurut cerita beliau, taman batu ini adalah tempat bermainnyasaat kecil.Salah satu sumur di puncak gugusan batu tersebut adalah tempat mengambil air saat musim kemarau dahulu.</p> <p>Perjalanan kami mulai dengan bercerita santai sambil mereguk kopi yang saya bawa dari rumah di salah satu pondok sawah (saung) yang ada di taman batu Rammang-Rammang. Pak Badaruddin begitu semangat bercerita tentang kampungnya yang indah ini, tentang sawah tadah hujan, tentang masyarakat kampung Rammang-Rammang, tentang kesulitan warga akan air bersih saat musim kemarau, tentang kolam ikan beliau di tengah-tengah gugusan batu&nbsp; dan masih banyak lagi.</p> <p>Setelah menghabiskan secangkir kopi dan beberapa batang rokok perjalanan pun kami mulai. Menyusuri pematang sawah dengan padi yang masih menghijau, menurut pak Badaruddin, akhir bulan maret awal bulan april padi-padi tersebut sudah bisa dipanen.</p> <p>Perjalanan kami agak berat, terhambat oleh air yang banyak tergenang disekitar kawasan taman batu Rammang-rammang sehingga memaksa saya untuk melepas sepatu, saat musim hujan seperti ini air akan menggenangi kawasan ini sampai kedalaman 60 cm atau melewati lutut orang dewasa, belum lagi lumpur didasar air. Pak Badaruddin mengusulkan, untuk mengunjungi Rammang-rammang lebih baik di musim kemarau, saat itu kawasan taman batu Rammang-rammang akan kering sehingga kita akan leluasa untuk menyusuri semua area taman batu ini.</p> <p>Setelah menyusuri bagian luar dari gugusan taman batu, Pak Badaruddin mengajak saya untuk masuk ke bagian dalam taman batu Rammang-rammang.Menyusuri celah batu yang menyerupai lorong-lorong dengan genangan air di bawah. Sampai ke bagian dalam, rupanya ada kolam kecil yang menurut Pak Badaruddin adalah sebuah telagatetapi saat ini hampir semua bagian telaga ini dipenuhi rumput rawa liar, telaga kecil inilah yang disebut oleh masyarakat sebagai&nbsp;<em>&ldquo;panrenyaong&rdquo;</em>. Saya membayangkan, betapa indahnya telaga kecil yang berukuran sekitar setengah hektar ini bila tidak ditumbuhi oleh rumput rawa.</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501fe27ed86e2.jpg" alt="" width="550" height="331" /></p> <p>Perjalanan kami lanjutkan, kembali menyusuri celah-celah sempit diantara bebatuan yang kokoh. Medan semakin berat karena air sudah sampai di lutut dan lumpur yang kami pijak semakin dalam. Celah-celah batu ini mengingatkan saya petualangan actor James Franco dalam film&nbsp;<em>&ldquo;127 hours&rdquo;</em>&nbsp;di kawasan Canyon Park. Lorong-lorong di sepanjang gugusan batu ini semua digenangi air seakan-akan kami sedang menyusuri gua sungai dannampak ikan-ikan kecil berenang di sekitar kaki seakan menyambut.</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501fe2c8148c9.jpg" alt="" width="550" height="367" /></p> <p>Tujuan kami berikut adalah sebuah sumur atau lebih tepatnya mata air. Masyarakat sekitar menyebutnya&nbsp;<em>&ldquo;bubunglabba&rdquo;</em>, berada di puncak batu diketinggian sekitar 20 meter sehingga untuk mencapainya kami harus memanjat dinding batu, melewati lorong kecil dan merangkak. Menurut Pak Badaruddin, sumur ini adalah sumber air bersih bagi masyarakat saat musim kemarau. Saya membayangkan betapa sulitnya warga saat mengambil air di sumur tersebut, saya saja yang hanya membawa kamera DSLR dan daypack 10L sampai terengah-engah dan harus berkali-kali berhenti untuk mengambil nafas, bagaimana dengan mereka yang membawa ember, jirigen dan sebagainya yang berisi air sampai 20 liter.</p> <p>Tiba di sumur&nbsp;<em>&ldquo;bubunglabba&rdquo;</em>&nbsp;saya sempat terhenyak melihat kondisi sumur tersebut, sumber mata air ini hampir tertutupi oleh rumput liar karena lama tidak dikunjungi oleh warga, sumur ini hanya berupa lubang kecil berdiameter sekitar 40 cm, menurut pak badaruddin sumur ini tidak pernah kering meski di musim kemarau dan tiap saat digunakan oleh warga, dan uniknya karena sumur ini berada di ketinggian, saya sempat berpikir tadi kalau sumur yang di maksud Pak Badaruddin di puncak batu ini hanya air tadah hujantetapi setelah melihat langsung kondisinya pikiran saya pun terbantahkan.</p> <p>Kembali perjalanan kami lanjutkan dengan menuruni tebing menuju ke dasar gugusan batu yang penuh dengan air,&nbsp;<em>&ldquo;saat musim kemarau kita bisa berkeliling di lorong-lorong ini sambil lari-lari&rdquo;</em>&nbsp;kata Pak Badaruddin saat kami menuruni tebingtetapi saat ini sungguh terbalik 180 derajat, jangankan berlari, untuk satu langkah saja kami harus bersusah payah mengangkat kaki yang terbenam dilumpur.</p> <p>Medan yang kami tempuh selanjutnya adalah sebuah terowongan dengan panjang sekitar 30 meter dengan kondisi yang sangat gelap, menurut perkiraan saya, ini bukan gua tapi hanya celah batu tapi dengan kondisi batu yang menjulang tinggi sehingga cahaya matahari tidak bisa masuk sampai kedasar. Setelah melewati lorong sekitar 20 meter, didepan sudah mulai nampak cahaya yang masuk lewat celah-celah bebatuan yang artinya sedikit lagi penderitaan ini akan berakhir,&nbsp; sampai di mulut celah batu ternyata kondisi medan semakin berat, kami harus melewati kolam lumpur yang jadi bagian dari sawah warga untuk sampai di pematang sawah.</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501fe1c1eb010.jpg" alt="" width="550" height="367" /></p> <p>Sambil menyusuri pematang, pak Badaruddin kembali bercerita tentang kampung Rammang Rammang ini.Terbentuknya kawasan karst Rammang-rammang terjadi berjuta-juta tahun lamanya melalui proses pengangkatan daratan dari dasar laut. Menyebabkan terbentuknya lorong-lorong gua yang diantaranya dialiri sungai bawah tanah akibat proses karstifikasi. Bentukan khas dari proses pelarutan gamping menimbulkan pemandangan sangat indah dan berbagai macam pohon dicelahnya.</p> <p><img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501fe2645ab9c.jpg" alt="" width="550" height="331" /></p> <p>Inilah keunikan Kampung Rammang-rammang yang menarik untuk dikunjungi karena berada di tengah gugusan bukit karts dengan hamparan persawahan dan tambak serta pemukiman warga yang masih tradisonal. Kampung ini sering dikunjungi wisatawan dari berbagai dunia, seperti Amerika, Australia, Jepang, dan lainnya.</p> <p>&nbsp;<img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501fe299550d7.jpg" alt="" width="550" height="367" /></p> Pasar Terapung di Banjarmasin http://www.indonesia.travel/id/travel-story-detail/134/pasar-terapung-di-banjarmasin <div>Masih ingat dengan iklan televisi swasta (RCTI Oke) tempo dulu Itu loh yang ada ibu-ibu lagi jualan sayur di perahu terus dengan muka ramah sambil tersenyum dia ngangkat tangannya sambil nunjukin jempolnya tanda ok!! Inget Hah, gak inget juga Gak punya tv kali yah! Ya udah nih gue langsung aja mau lanjutin cerita ngegembel gue di Banjarmasin.</div> <div> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501bb5e452fc0.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p align="center"><em>Banjarmasin Malam Hari (Foto)</em></p> <p>&nbsp;</p> <p>Okeh, jadi gini. Melanjutkan perjalanan di Kalimantan Selatan, gue berkesempatan melihat langsung pasar terapung di Banjarmasin, tempat RCTI bikin iklan dulu. FYI, gue adalah tipe seorang pemimpi. Gue selalu nonton TV atau film. Nah, dari situ gue sering liat banyak tempat-tempat keceh yang selalu jadi latar <em>scene</em> mereka. Kalo tempat itu bagus dan menarik, di bawah alam sadar, gue selalu janji sama diri gue sendiri buat bisa mengunjungi tempat-tempat tersebut. Suatu saat nanti. Entah kapan, tapi gue yakin gue bisa datengin tuh tempat. Contohnya berikut ini.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Gue nonton film &ldquo;<em>The Beach-nya Leonardo Di Caprio</em>&rdquo; yang berlatar di Thailand (Maya Bay, Phi Phi Island, On On Hotel). Dari awalnya mimpi pengen ke sana, 2011 awal gue udah bisa mengunjungi tempat tersebut langsung! Bahkan gue sempet nginep di kamar yang si Leo pake buat <em>shooting</em> filmnya di On On Hotel. Lucky me!</p> <p>&nbsp;</p> <p>Gue nonton &ldquo;<em>Tomb Rider</em>&rdquo; Angelina Jolie yang berlatar di Angkor Wat, Cambodia. Lagi-lagi berawal dari mimpi, gue akhirnya bisa mengunjungi tempat tersebut bulan Februari 2012. Bahkan gue kayang di sana.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Gue pernah nonton acara jalan-jalan TV swasta, mereka sedang mengunjungi museum pembantaian di Phnom Penh, Cambodia. Lagi-lagi dari mimpi pengen kesana, akhirnya gue bisa merealisasikannya pada trip gue keliling Asia Tenggara, Februari kemaren.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Gue nonton acara buser yang lagi ngegrebek &ldquo;Gang Dolly&rdquo;. Gue pun berjanji bakalan ke Gang Dolly suatu saat nanti.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Selain tempat-tempat di atas, masih banyak lagi tempat yang gue kunjungi gegara gue <em>terinfluence</em> film atau acara televisi.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Pun, begitu dengan pasar terapung di Banjarmasin berawal dari tv dan bermimpi pengen ke sana, akhirnya gue bisa juga ngerasain langsung suasana pasar terapung.</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501bb5afe23ad.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p align="center"><em>Pasar Terapung Bikin Kembung (Foto)</em></p> <p>&nbsp;</p> <p>Sekitar pukul 4.30 Subuh, gue, Lana dan Dikun udah sampai di daerah Sultan Suriansyah, Muara Kuin, Banjarmasin. Di sini ada dermaga wisata untuk mengangkut wisatawan yang ingin mengunjungi pasar terapung, pulau kembang, dan lainnya.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Tarif menyewa perahu motor (klotok) sebesar Rp150.000,- itu sudah termasuk trip pula ke Pulau Kembang. Kalau hanya untuk mencapai pasar terapungnya doang sih cuma bayar Rp100.000,-</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kelotok yang kami pakai memiliki atap di atasnya, selain berfungsi sebagai penahan panasnya Matahari atau hujan, atap di sini juga berfungsi sebagai pijakan. Jadi kita bisa berdiri diatas atapnya. Keceh!</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kita berangkat dari dermaga muara ini subuh sekali, suasana masih sepi saat kami melintasi rumah-rumah terapung yang ada di pinggiran Sungai Martapura. Kenapa kami memilih <em>nyubuh</em> buat pergi ke pasar terapung Soalnya, apa yang bakal lo liat kalo lo agak subuhan dikit aja datengnya, lo bakal liat pemandangan <em>sunrise</em> yang indah nan mempesona hati menatap langit, mata berbinar, dan terharu.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Entah sejak kapan pasar terapung ini ada namun dari zaman dulu masyarakat suku Banjar memang menjadikan sungai sebagai jalur transportasi mereka bahkan akomodasi kehidupan mereka. Istilahnya sih, mereka hidup dari sungai-sungai yang ada di Banjarmasin. Entah itu untuk mandi, mencuci, bahkan buang air. Selain menggunakan alat transportasi berjenis klotok di sini juga lo bakal nemu perahu kecil yang didayung (jukung).</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kembali lagi ke pasar terapung. Suasana semakin ramai saat Matahari mulai memunculkan utuh wujudnya. Atmosfernya semakin hidup, banyak perahu-perahu yang baru sampai. Mulai terjadi banyak transaksi di pasar terapung ini. Ada yang jual sayuran, buah-buahan, ikan, dan lain-lain. Akan tetapi, yang uniknya adalah selain kita bisa membeli apa yang mereka jual, ternyata kita pun bisa membarter barang yang mereka jual dengan apa yang kita punya. Keren!</p> <p>&nbsp;</p> <p>Sistem jualan di pasar terapung ini juga unik. Jangan bayangin kalo lo mau beli sesuatu, lo harus berenang dari satu perahu ke perahu lainnya. JANGAN! Bisa dimakan buaya lo ntar. Jadi gini, biar gue ajarin, yah. Untuk membeli sesuatu di pasar terapung ini, lo tinggal manggil aja ibu-ibu yang jual, terus abis itu si ibu bakal langsung nyamperin ke perahu lo. Nah, dari situ mulailah bertransaksi. Sebagaimana layaknya pasar lain, lo juga bisa tawar menawar di pasar terapung ini. Usahakanlah menggunakan bahasa Banjar dan jangan nampak seperti turis, karena lo bakal dapet harga yang murah banget!</p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/ceritanegeriku/501bb5696d9cf.JPG" alt="" width="550" height="413" /></p> <p>Satu lagi keunikan di Pasar Terapung Banjarmasin. Akan ada perahu yang menyediakan kue-kue tradisional khas Banjarmasin, lo bisa ngopi-ngopi cantik di atas perahu sambil ngeliatin pemandangan perahu-perahu yang mengambang di sepanjang Sungai Martapura. Gue lupa bahas nih, buat beli kue-kue khas tradisional di pasar terapung, caranya keren parah! Lo harus mancing, guys! Iya, sebutannya mancing, padahal cuma nusuk kue. Jadi karena jarak yang jauh dan sulit untuk mengambil kue-kue tersebut maka si Abang yang jualan kue nyediain semacam batang bambu atau kayu panjang dengan paku di ujungnya. Nah, dengan batang bambu berpaku itulah lo bisa ngambil kue-nya pake cara