Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
1 November 2011

Ditulis oleh
Stevany Suryaputra

Kategori :
Bangunan Bersejarah

5 Komentar

Ziarah ke-9 Gua Maria

Posted on : 1 November 2011
Categories : Bangunan Bersejarah

Bulan Mei dan Oktober merupakan bulan suci bagi umat Kristen Katolik untuk melaksanakan Ziarah Devosi (penghormatan) kepada Bunda Suci Perawan Maria. Gua Maria banyak terdapat di Jawa Tengah dan banyak dikunjungi Peziarah baik dari kota-kota di Jawa Tengah maupun dari luar Jawa Tengah, selain itu Gua Maria juga banyak tersebar di daerah lain di Indonesia, seperti Kuningan, Medan, Bangka, Lampung, Manado bahkan di Nusa Kambangan.

Salah satu Gua Maria yang berkesan adalah adalah Gua Maria Sendang Ratu Kenya atau Hati Ibu Yang Bahagia di Wonogiri, Semarang. Foto Gua Maria ini pernah saya buat Kuis Satu Lagiii dari IFW Oktober tahun yang lalu tapi belum ada yang bisa menjawab dengan benar waktu itu.

Menurut Bunda Maria dari Maria Tour, banyak permohonan yang dikabulkan di Gua Maria ini. Tentu saja Gua Maria yang lain pasti menyimpan banyak cerita yang menarik ©

Permohonan kita dikabulkan karena kita percaya, yakin dan taat kepada TUHAN.

Lirik lagu gereja, "YESUS mengutus murid-NYA, pergi berdua­dua... keluar masuk kota, menjelajah semua desa..." mewarnai perjalanan Ziarah 9 Gua Maria dan Gereja kami dalam satu hari di Jakarta. "TUHAN ALLAH bersabda, dua atau tiga orang berkumpul atas namaKU, AKU hadir diantara mereka."

Kenapa 9 Gua Maria dan Gereja? Angka 9 identik dengan Novena. Novena adalah berdoa pada waktu yang sama selama 9 hari berturut-turut tanpa putus atau berdoa pada setiap waktu atau hari tertentu yang sama selama 9 kali tanpa putus, misalnya pada setiap hari Jum'at selama 9 minggu berturut-turut tanpa putus. Kami mengadaptasi Novena menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dapat dilaksanakan saat itu.

Berdua dengan Lena, kakak perempuan ketiga saya, kami `ngompreng' bersama Rere, jurangan omprengan langganan, turun naik metro mini, bajaj dan ojek selama seharian. It's... so exciting! Perjalanan spiritual yang menarik dan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Ziarah yang biasanya saya laksanakan selama minimal kurang lebih satu minggu di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sekarang kami padatkan menjadi satu hari... get all in one package.

Ziarah kali ini sangat spesial, karena akhirnya kami bisa mengatur waktu yang tepat untuk bersama-sama menjalankan ziarah. Apalagi saat ini belum ada Gereja Katolik di Sentul city... Waaacksjadi curcol, nih... hehehe...

Syukur kami panjatkan kepada TUHAN atas restu-NYA dan menjadikan kami dapat melaksanakannya dengan baik dan lengkap.

Rencana skedul dirancang dengan perkiraan waktu termasuk kemacetan. Yah, kemacetan yang selalu patut diperhitungkan. Siapa yang suka macet? Suka atau tidak suka dan mau atau tidak mau kami harus mengalaminya. Tetapi kemacetan di Jakarta yang parah tidak menyurutkan dan tidak akan pernah menjadi penghalang. Keyakinan dimana ada niat, pasti ada jalan membuat perjalanan kami bermakna.

Pukul 8.30 pagi:

Ziarah kami ke Gua Maria pertama diawali dengan berdoa di dalam Gereja Santa Theresia yang berlokasi di Jl. Gereja Theresia No. 2, Menteng, Jakarta Selatan (391-7708), www.gerejatheresia.or.id.

Suasana hening saat itu, ada beberapa umat dalam gereja dankami pun ikut khusuk bersatu dalam doa bersama dengan mereka.

Setelah kami berdoa Rosario di Gereja, kami melanjutkan Ziarah ke Gua Maria Ratu Para Rasul yang terletak di samping gereja.

Tampak seorang wanita sedang duduk berdoa di sana. Kami menyalakan lilin dan berdoa `Tujuh duka cita Maria' dengan khidmat.

Selesai berdoa di Gua Maria, waktu menunjukkan pukul 8.50 pagi. Perut terasa lapar, kami pun sarapan di kantin gereja. Soto Lamongan yang hangat dan jus sirsak merupakan berkah yang memberikan energi untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang.

Pukul 9.10 pagi:

Perjalanan kami lanjutkan menuju Gua Maria kedua di Kapel Kolese Kanisius yang berlokasi di Jl. Menteng Raya 64 (314-7988), Jakarta Selatan. Dari Gereja St. Theresia menuju Kapel Santo Kanisius hanya sekitar 10 menit naik bajaj.

Bapak sekuriti di Kapel Kolese Kanisius yang berjaga di pos depan mengatakan gereja sudah ditutup, tapi saya penasaran untuk benar-benar mengetahuinya. Bener juga, setelah saya cek, pintu gereja belum dikunci dan kami dapat berdoa Rosario dengan suka cita di dalam Kapel © Saat itu sepi, tidak ada seorang umat dalam Kapel kecuali kami. Biasanya misa untuk umat diadakan pada jam 6.00 pagi di Gereja atau Kapel.

Cahaya lilin menghidupkan suasana sepi dalam gereja dan kami berdoa dengan tenang walaupun dapat mendengar suara anak­anak sekolah yang sedang berolahraga di lapangan samping Kapel. Kapel berukuran lebih kecil dari Gereja.

Yang membuat saya kaget adalah patung YESUS di sana. Baru pertama kali saya melihat patung YESUS berwarna hitam, rasanya gimana gitu... Biasanya patung YESUS berwarna putih kapur atau putih susu, putih kekuningan (broken white) atau coklat muda dan tua.

Pukul 9.50 pagi:

Kami meneruskan Ziarah kami menuju Gua Maria ketiga di Gereja Santa Maria Pelindung Diangkat ke Surga www.katedraljakarta.or.id atau yang kita kenal dengan nama Katedral, yang berlokasi di Jl. Katedral No. 7B (345-7746), Jakarta Pusat dengan naik bajaj lagi.

Gereja Katedral berhadap-hadapan dengan Masjid Istiqlal yang merupakan masjid terbesar di Jakarta.

Kita patut berbahagia dan bersyukur karena selain keragaman suku, adat istiadat dan budaya, keragaman agama yang ada di Indonesia dan toleransi antar pemeluk agama yang berbeda membuat bangsa kita 'unity in diversity.'

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 siang dengan cuaca cukup panas, saya sangat haus dan membeli minuman dingin untuk melegakan tenggorokan di warung yang terletak di dekat pintu masuk. Segaaar rasanyaaa... Rasa hauspun hilang dan kami melanjutkan ziarah.

Dengan semangat, kami masuk ke Gereja Kathedral.Kami menemui banyak umat yang berdoa dalam Gereja Kathedral. Setelah menyalakan lilin, kami berdoa Rosario dan melanjutkan dengan prosesi `Jalan Salib.' Jalan Salib adalah devosi (penghormatan) untuk mengenang peristiwa sengsara YESUS KRISTUS, mulai dari peristiwa YESUS ditangkap sampai dengan YESUS dikuburkan di makam baru.

Berdoa dan bernyanyi sambil berlutut dan berdiri dilaksanakan dalam melaksanakan prosesi Jalan Salib yang terdiri dari 14 (empat belas) Peristiwa.

Peristiwa 1: YESUS Dijatuhi Hukuman Mati oleh Ponsius Pilatus.

"Salib, bagi orang-orang yang akan binasa memang merupakan kebodohan, tetapi bagi kita yang diselamatkan salib adalah kekuatan ALLAH." (1 Kor 1:18)

Peristiwa 2: YESUS Memanggul Salib-NYA.

YESUS memanggul salib menuju tempat yang bernama Tempat Tengkorak, yang dalam bahasa Ibrani disebut Golgota. "Setiap orang yang mau mengikut AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut AKU." (Luk 9:23)

Peristiwa 3: YESUS Jatuh Untuk Pertama kalinya.

"DIA tertikam oleh karena pemberontakan kita, DIA diremukkan oleh karena kejahatan kita; hukuman yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-NYA." (Yes 53:5)

Peristiwa 4: YESUS Berjumpa dengan Ibu-NYA.

"Siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-KU di surga, dialah saudara-KU laki-laku, dialah saudara-KU perempuan, dialah ibu­KU!" (Mat 12:50)

Peristiwa 5: YESUS Ditolong Simon dari Kirene.

"Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Maka kamu memenuhi hukum KRISTUS!" (Gal 6:2)

Peristiwa 6: Wajah YESUS Diusap oleh Veronika.

"Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!" (Rm 12:15)

Peristiwa 7: YESUS Jatuh untuk Kedua Kalinya.

"DIA dianiaya, DIA membiarkan diri ditindas, dan tidak membuka mulut-NYA, seperti anak domba yang dibawa ke tempat pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang­orang yang menggunting bulunya, IA tidak membuka mulut-NYA." (Yes 53:7)

Peristiwa 8: YESUS Menghibur Perempuan-perempuan yang Menangisi-NYA.

"Hai, puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi AKU,melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!"(Luk 23:28)

Peristiwa 9: YESUS Jatuh untuk Ketiga Kalinya.

Beban YESUS makin berat kalau kita sering jat uh kedalam dosa; at au kalau kit a menjat uhkan orang lain. Dengan jatuh dan bangun lagi YESUS mengajarkan kita untuk tidak putus asa. Kalau kita jatuh ke dalam dosa, kita bangun lagi.

Peristiwa 10: Pakaian YESUS Ditanggalkan.

"Ketika AKU telanjang, kamu memberi AKU pakaian, ketika AKU sakit , kamu melawat AKU; ketika AKU di dalam penjara, kamu mengunjungi AKU. Sebab sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk AKU." (Mat 25:36)

Peristiwa 11: YESUS Disalibkan.

"Manusia lama kita telah turut disalibkan bersama YESUS, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri kepada dosa." (Rm 6:6)

Peristiwa 12: YESUS Wafat di Salib.

"Jika kita telah mati bersama KRISTUS, kita percaya bahwa kita akan hidup juga bersama DIA. Maka hendaklah kita semua sadar: Kita telah wafat bagi dosa, tetap hidup bagi ALLAH dalam KRISTUS YESUS." (Rm 6:8-11)

Peristiwa 13: YESUS Diturunkan dari Salib.

"Aku ini hamba TUHAN, jadilah padaku menurut perkataan-MU." (Luk 1:38)

Peristiwa 14: YESUS Dimakamkan.

"Kita semua, yang telah dibaptis dalam KRISTUS, telah dibaptis dalam kematian-NYA. Oleh pembaptisan kita telah dikuburkan bersama-sama dengan DIA, supaya, sama seperti KRISTUS dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan BAPA, demikian juga kita akan hidup secara baru." (Rm 6:3-4)

Gereja Katedral diresmikan pada 21 April 1901, merupakan gereja tertua di Indonesia. Gereja ini memiliki daya tarik yang luar biasa karena interiornya yang indah dan klasik, bergaya neo-gotik seperti gereja Katedral di daerah lainnya. Kami menemui banyak orang asing yang berkunjung ke sini. Gereja Katedral menjadi salah satu daya tarik dan tujuan wisata di Ibukota Jakarta.

Para turis berdoa baik sendiri maupun beramai-ramai dan mengambil foto-foto Katedral.

Setelah kami berdoa dan melaksanakan Jalan Salib dalam Gereja, kami melanjutkan berdoa `Jiwa Maria dan mohon perlindungan Bunda Maria' di Gua Maria yang diresmikan pada 8 Desember 1979, yang terletak di samping gereja.

Ada yang menarik pada Gua Maria Katedral yaitu terdapat batu asli dari Lourdes, Italia yang menjadi bagian dari Gua Maria tersebut.

Cuaca yang cerah sangat mendukung sehingga menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan kami.

Pukul 11.40 siang:

Kami pun melanjutkan Ziarah Gua Maria dan Gereja keempat, yaitu Gereja Paroki Hati Kudus (Vincentius Putra) yang terletak di Jl. Kramat Raya No. 134 (390-9689), Jakarta Pusat 10430, dengan naik bajaj selama kurang lebih 20 menit. Waktu menunjukkan tepat jam 12.00 siang ketika sampai di sana.

Masuk ke dalam Gereja, kami temui ada seorang wanita yang berdoa di depan patung Bunda Maria dalam Gereja. Kami pun berlutut dan berdoa Rosario di dalam Gereja karena belum ada Gua Maria di sana.

Patung Bunda Suci Maria dalam Gereja ini sangat indah, 'Holy Mother Mary with Holy Heart.' Kami tertegun melihat keindahannya yang mempesona seakan memancarkan aura cinta dan kasih sayang Bunda Maria kepada kami saat itu.

Terdengar suara murid-murid sekolah bermain bola di lapangan samping Gereja. Biasanya sekolah dibangun dalam komplek Gereja sehingga kegiatan beribadah untuk murid-murid dapat terlaksana dengan baik dalam kurikulum sekolah Katolik.

Pukul 13.05 siang:

Kami melanjutkan Ziarah menuju Gua Maria kelima, Gereja Santo Yoseph yang terletak di Jl. Matraman Raya No. 129 (856-8417), Jakarta Timur, dengan naik bajaj lagi.

Gereja Santo Joseph sudah berumur lebih dari 100 tahun dan terletak satu komplek dengan Yayasan Marsudirini I. Sekolah Marsudirini I merupakan almamater hampir seluruh anggota keluarga saya sampai saat ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.20 siang, sudah lewat jam makan siang. Syukurlah kami masih dapat berziarah dan menahan rasa lapar. Suasana sepi dan sunyi, tidak ada umat dalam gereja.

Kami berdoa Rosario di dalam Gereja. Setelah itu, kami berdoa '3x Salam Maria' di Gua Maria yang juga berlokasi di samping gereja.

Yang menarik pada Gua Maria ini ada keran air suci yang sudah diberkati, sehingga melengkapi air suci 4 Gua Maria yang sudah kami kunjungi sebelumnya.

Selesai berdoa, makan siang kami santap dengan lahap sebelum melanjutkan Ziarah ke Gua Maria keenam, Kapel Kesusteran Gembala Baik, Jl. Jatinegara Barat 122 (819-28699), Jakarta Timur.

Menuju resto BBT-BaBahTong 'my phenomenale resto,' kami melewati banyak penjual berbagai macam makanan, jajajan, mainan, dan lain-lain yang berada di depan Gereja dan Sekolah Marsudirini 1.

Ada anak yang antusias melihat mainan yang dijual oleh seorang Ibu di sana dan mau bergaya sejenak ketika saya foto. Lucu...

Kami pun makan siang dengan nikmat pada jam 14.00 siang. Menu makan siang saya kali ini Bihun Ayam Pangsit Kuah dan Es Telerrr @ Semoga nanti nggak teler, nih karena harus melanjutkan perjalanan.

Senangnya ada yang menemani saat menikmati makan siang, kami berbincang seru dengan Fanny, sahabat sejak SMP dulu. Tak terasa waktu cepat berlalu dan Gua Maria keenam sudah menunggu...

Pukul 14.40 siang:

Setelah makan siang, kan sudah tambah energi jadi harus tetap semangat. Perjalanan kami lanjutkan dengan... naik apa, ya?

Tidak lain dan tidak bukan, naik bajaj lagiii... Bajaj menjadi transportasi andalan sampai saat ini. Perjalanan selama kurang lebih 10 menit kami lalui menuju Kapel Kesusteran Gembala Baik.

Kapel ini kerap kali dijadikan tempat pengungsian apabila terjadi banjir di wilayah Kampung Melayu dan Jatinegara.

Kami memasuki Gereja dan berdoa Rosario berdua, tidak ada umat dalam gereja saat itu. Komplek Kapel Kesusteran Gembala Baik sangat luas. Langsung kami menyalakan lilin dan berdoa dalam keheningan.

Waktu sudah menunjukkan tepat jam 15.00 siang ketika masih berada dalam Gereja, kami pun berdoa `Koronka Kerahiman Ilahi' dengan khidmat.

Dalam hati, saya bersyukur diberikan kesempatan untuk melaksanakan niat Ziarah di bulan suci Maria, yang disebut juga bulan Rosario pada tahun 2010 ini.

Dalam komplek, terdapat taman dan Gua YESUS wafat di salib yang bertuliskan INRI (YESUS Raja Bangsa Yahudi).

Tamannya cukup luas dan Gua Maria terletak di lokasi khusus yang berbeda, lebih masuk ke dalam komplek dan dekat dengan sekolah.

Gua Maria Kapel Kesusteran Gembal Baik sangat unik, menggambarkan penampakan Bunda Maria kepada 3 (tiga) anak penggembala. Kami mulai merasakan keletihan tapi hati kami damai, penuh syukur dan tetap semangat melanjutkan Ziarah.

Pukul 15:30 siang:

Masih menggunakan bajaj, kami melanjutkan perjalanan menuju Gua Maria ketujuh, Santo Antonius Padua yang berlokasi di Jl. Otista (Otto Iskandar Dinata) Raya No. 76A (819-2305), Jakarta Timur.

Di sini kami tidak dapat menemukan Gua Maria dan we gotpanic... Gua Maria terletak di dalam area sekolah dan sekolah terkunci karena Suster dan Guru-guru rekoleksi. Kecewa sejenak... Langsung memutar otak mencari Gereja yang lokasinya tidak jauh dari Gereja ini. No buffer at all... kami hanya mencatat 9 Gua Maria saja tanpa alternatif Gua Maria atau Gereja sebagai alternatif lainnya.

Sambil berjalan lunglai menyusuri Jl. Otista, saya teringat Gereja Cawang. Paman Kosim, adik Papi, tinggal di Cawang dan beragama Katolik, pastinya ada gereja Katolik di sana! Kami bertanya dengan seorang tukang ojek tetapi tidak mengetahuinya. Karena hari sudah mulai sore, kami memutuskan ngojek ke Cawang untuk memastikannya. Aaaaah... ternyata gereja yang dimaksud bukan gereja Katolik.

Pukul 16.30 sore:

Belum ada bayangan info Gua Maria dan Gereja lain, harus mencari lagi dan kami memutuskan mencari di Jakarta Selatan. Perjalanan selanjutnya menuju Gua Maria ketujuh (yang seharusnya menjadi kedelapan), yaitu Santa Perawan Maria Ratu yang terletak di Jl. Suryo 62, Blok Q (7200-8640), Jakarta Selatan. Kemacetan sudah mulai kami rasakan dan masih ada 2 Gua Maria lagi yang harus kami kunjungi.

Pukul 17.00 sore:

Sampai di gereja Santa Perawan Maria Ratu waktu menunjukkan pukul 17.00 sore. Dengan diantar Bapak sekuriti, kami memasuki gereja dan berdoa Rosario. Rasa letih hilang... yang ada rasa penuh syukur sudah sampai di gereja ini. Gereja ini terkesan modern minimalis.

Seperti pada Gereja Santo Joseph, terdapat patung Keluarga Kudus (TUHAN YESUS, Bunda Maria dan Santo Joseph) yang posisinya di sebelah kiri altar.

Tulang kering saya mulai terasa pegal dan kulitnya terasa perih. Konsentrasi sudah mulai berkurang karena kami belum menemukan alternatif gereja sebagai pengganti gereja Santo Antonius Padua.

"Ya, TUHANku dan ALLAHku, berilah kami petunjuk satu Gua Maria atau Gereja yang harus kami kunjungi sebagai pengganti Gereja Santo Antonius Padua. Amin," doa saya dalam hati.

Kami berdoa `Persembahan Diri kepada Hati Kudus YESUS KRISTUS dan Hati Maria Yang Tidak Bernoda' di Gua Santa Perawan Maria Ratu.

Setelah kami berdoa, Lena menghubungi Luki, sahabat baik selama bekerja di Kanisatex dulu.

Akhirnya... Girang bangeeet dah... karena mendapatkan informasi gereja Santo Yohanes Penginjil sebagai Gua Maria atau Gereja kedelapan. "Terimakasiiiih, TUHAN karena ENGKAU mendengar dan menjawab doa kami melalui M'bak Luki secara super i.n.s.t.a.n. Amin..."

Pukul 17.20 sore:

Agar jadwal tidak terlalu malam, kami memutuskan untuk charter kedua Mang Ojek yaitu Mang Iwan dan Mang Theo dalam perjalanan ke Gua Maria kedelapan dan kesembilan.

Perjalanan segera bergerak menuju Gua Maria kedelapan, gereja Santo Yohanes Penginjil yang terletak di Jl. Melawai Raya No. 197, Blok B (722-0763), Jakarta Selatan. Waktu menunjukkan pukul 17.50 sore. Banyak umat dalam gereja untuk mengikuti misa sore yang biasanya dijadwalkan jam 18.00 sore.

Kami berdoa `Penyerahan kepada Bunda Maria' dan keluar gereja ingin melanjutkan berdoa di Gua Maria. Ternyata Gua Maria yang berlokasi di area belakang gereja sedang dalam pembangunan. Akhirnya masuk ke gereja kembali dan berdoa Rosario di depan patung Bunda Maria.

Waktu menunjukkan pukul 18.00 sore dan doa `Malaikat Tuhan' pun bergema. Kami tidak dapat konsentrasi untuk berdoa Rosario dan memutuskan mengikuti misa.

Misa biasanya berlangsung selama 1,5 jam, kami memikirkan kedua Mang Ojek yang akan menunggu. Pasrah dan berharap mereka akan mengerti. Untung tadi dalam perjalanan sebelumnya, saya sempat menjelaskan mengenai perjalanan kami kepada Mang Iwan, Mang Ojek yang saya tumpangi.

Sungguh lega karena misa berlangsung dengan lancar, sekitar kurang lebih satu jam. Kami pun segera berdoa doa penutup untuk melanjutkan ziarah kami.

Pukul 18.45 malam:

Mang Iwan sempat menawarkan gereja yang lain yang berada dekat dari Blok B tapi ternyata bukan gereja Katolik. Seperti rencana semula, Gua Maria di Gereja Santo Fransiskus Asisi menjadi Gua Maria kesembilan yang melengkapi Novena kami dalam Devosi kepada Bunda Maria.

Saya dan Mang Iwan duluan sampai di Gereja Santo Fransiskus Asisi. Gereja sudah dalam keadaan terkunci dan hanya lampu­lampu di taman yang menyala. Waktu menunjukkan tepat pukul 19.00 malam. Suasana sunyi dan to be honest saya takut kegelapan! Lena belum sampai-sampai juga... 10 menit menunggu terasa lamaaa betul. Aaah... akhirnya Lena sampai juga @ Rupanya Mang Theo yang membawa Lena nyasar, untunglah tidak terlalu jauh, hanya belok di gang sebelah saja.

Kami bergegas lari menuju Gua Maria... Hati kami bergetar saat berdoa berdoa Rosario di Gua Maria gereja Santo Fransiskus Asisi yang terletak di Jl. Ramli 24, Tebet (830-3111), Jakarta Selatan. Tidak mengapa Gereja sudah tutup, yang penting kami sudah sampai di Gua Maria kesembilan! Dengan penuh syukur kami berdoa Rosario di Gua Maria yang terletak di area komplek Gereja.

Malam kian kelam... Namun dalam hati kami bersinar terang, masih menyala semangat sampai detik-detik terakhir saat kami bersujud dan berdoa `Kepada Hati Yesus Yang Maha Kudus.'

Kami berdua berpelukan dan terharu... Kami sangat bahagia atas karunia dan rahmat TUHAN yang memberikan kemudahan dan kelancaran Ziarah 9 Gua Maria dan Gereja dalam bulan suci Maria di Jakarta hari ini. Thanks GOD, mission accomplished @

Pukul 20.00 malam:

Lagu Air Supply 'I can't wait forever' menemani saat makan malam di sebuah resto dalam mall langganan di Jakarta.

Malam itu kami sangat mensyukuri hidup yang diberikan oleh TUHAN ALLAH. Malam itu kami tersenyum menikmati hidup, menikmati... bisa melonjorkan kaki dan menyenderkan punggung kami di kursi resto.

Yesss... I can't wait to write and share this fantastic and marvelleousjourney to the world!

Tips dalam Ziarah 9 Gua Maria dan Gereja di Jakarta:

  • Membuat skedul dengan estimasi waktu yang baik. Apabila estimasi waktu sudah dapat ditentukan, menghubungi Gereja atau Gua Maria dalam rencana untuk memastikan Gereja atau Gua Maria dibuka saat dikunjungi.
  • Membawa Rosario, buku 'Puji Syukur' dan buku Doa-doa Devosi Bunda Maria (Buku Doa Lengkap).
  • Membawa donasi, lilin putih dan korek api kayuI korek api gas. Bila memungkinkan, membawa bunga mawar segar dan asli untuk dipersembahkan kepada Bunda Maria.
  • Berpakaian yang sopan dan nyaman.
  • Memakai helm sesuai SNI dan jaket apabila... ngojek

Keluarga Indonesia yang saya sayangi, sungguh suatu pengalaman yang luar biasa saat itu. Kesempatan untuk Ziarah pada bulan suci Maria, bulan Rosario diberikan kepada kita dua kali setiap tahun, pada bulan Mei dan Oktober namun demikian Ziarah dapat kita laksakan kapan saja.

Semoga TUHAN memberikan kedamaian dan kesempatan untuk kita, memberikan kesehatan dan kemauan kepada kita untuk mampu melaksanakan Ziarah dengan baik dan lengkap. Yakinlah... dimana ada niat yang tulus pasti akan diberikan jalan.

Selamat menjalankan Ziarah dan merasakan sensasi rasa syukur yang dahsyaaat untuk semua yang diberikan TUHAN kepada kita.

Tema kotbah Romo Mardio dalam misa pagi ini di Kapel Santa Maria Fatima, Sentul city, 'Ora et Labora...' Siapa Santo yang membuat kata-kata tersebut? Dia adalah Santo Benedictus. Ora et Labora... Berdoalah dan Bekerja, tidak hanya berdoa tapi juga bekerja. Berdoa, berdoa dan berdoa saja tidak akan sampai pada tujuan. Bekerja, bekerja dan bekerja demikian juga. Maka sambil berdoa kita juga harus selalu berusaha.

TUHAN memberkati kita semua, INA-tioz

Tag : Gereja Katedral Bogor: Tenggelam dalam Keindahan Neo-Gothik dan Khusyuknya Kebaktian, Gereja Blendug: Gereja Tertua di Jawa Tengah yang Menawan

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

    TULIS KOMENTAR